Author's note: mugigi….apa yah kira2 yg bikin nih fic jadi…mengerikan kira2?? Soalnya di chap sebelum2 nya kok kyknya…malah saya campurin humor yah?? Yah meskipun humor garing. Hng….Sakura kecemplung got? Alah, itu mah humor jadul. Teddie gelundung dari bukit??? Klo itu saiya bkl ketawa. Yosuke kebelet. Ini mah hentai. Sedangkan saiya ga suka hentai. Muki….susahnya bikin misteri…
__________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Chapter 4 : Priestess and Her Chariot
Even though it hurts (to make a wish)
I received the courage to fight from you, so I will go
If I awaken (from a dream), I'll be able to see you again
Memories of You – Yumi Kawamura
__________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
'Once you pick this path…..'
Gadis serba ceroboh yang tertidur lelap untuk beberapa saat di bawah tumpukan box-box mulai bergerak-gerak. Kepalanya menggeleng perlahan, mencari tempat yang lebih nyaman untuk dijadikannya bantal. Sayangnya ia tak dapat menemukan benda yang pas. Diputuskannya kemudian untuk bangun dari tidur. Sakura duduk, masih dengan kardus-kardus bekas di sekelilingnya. Kedua tangannya terulur ke atas, kemudian ia menguap.
"Hoaaaammmm..."
Matanya yang masih terasa berat untuk dibuka ia paksakan untuk terbuka. Ia melihat Teddie masih sedang asyik mendengkur di ujung ruangan. Lalu pemuda yang baru saja ia tolong itu juga masih sedang terlelap dalam dunia mimpinya. Karena tak ada hal apa-apa yang bisa dilakukannya di sana, ia memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar. Sakura berjalan menyusuri jalan raya di shopping district. Tak lama berjalan ia berhenti di depan sebuah pagar kuil yang sepertinya hampir ambruk. Beberapa minit selanjutnya ia sudah kembali berjalan menyusuri jalan raya itu. Kali ini Sakura berhenti di depan sebuah tembok dengan pintu berwarna biru yang tidak menempel dengan tembok tersebut. Pintu itu terlihat bercahaya diantara benda-benda di sekitarnya. Tiba-tiba pintu biru itu terbuka dan menyerap masuk kesadaran gadis itu.
Sebelum Sakura membuka matanya ia dapat merasakan aroma yang pernah ia rasakan sebelumnya saat sebelum ia pindah ke Okina. Detik berikutnya ia mendapati Igor dan Margareth yang memandanginya. Kali ini buku tebal yang disebut 'persona compendium' milik kakaknya itu sudah kembali ke pangkuan asisten Igor. Igor pun kembali menanyai Sakura berbagai hal.
"Jadi bagaimana? Kau bersedia menandatangani kontrak anatara kita berdua?" Tanya Igor to the point.
Sakura berpikir sejenak dengan kepala tertunduk. "Igor-san," katanya pelan.
"Ya, anakku?"
"Di buku tebal tersebut, kenapa tidak ada catatan mengenai insiden terakhir pada tanggal 21 Maret 10 tahun yang lalu? Kenapa halaman terakhir itu kosong?"
"Well, itu karena kakakmu belum menyelesaikan misi terakhirnya." Kata Margareth dengan nada datar seperti sebelum-sebelumnya. "Kakakmu sekarang sudah menyatu dengan kabut. Itu sebabnya halaman itu kosong, sebab buku itu tak bisa melihat pemiliknya jika kabut tebal sedang menghadangnya."
Igor kemudian mengangguk kepada Margareth. "Benar sekali, asistenku."
"Kalau aku menandatangani kontrak ini…apa aku bisa menemukan Onii-chan?"
"Itu tergantung padamu, anakku ." jelas Igor berhenti sejenak. "Segala sesuatu yang ada di masa depan selalu berubah-ubah. Tidak ada satu hal pun yang pasti. Semua itu tergantung padamu, tugas kami hanya membantu kepada siapa kami membuat kontrak tersebut."
Perlahan-lahan Sakura meraih buku tebal yang sudah tergeletak di atas meja di hadapannya. Ia membaca dan mempertimbangkan kembali sebelum pena bulu bertinta milik Igor benar-benar menyentuh lembaran kertas tersebut. Ia ingin sekali bertemu dengan kakaknya yang selama ini hilang di dalam kabut seperti apa yang Margareth katakan, ia ingin merasakan dekapan hangat kakaknya lagi yang selama ini tak ia rasakan sejak perpisahannya di bandara. Tangan kanan Sakura pun terulur dan tergerak menandatangani kontrak tersebut tepat di bawah persis tanda tangan kakaknya yang tidak terlihat luntur sedikitpun.
"Baiklah anakku, kita telah sepakat. Mulai saat ini adalah tugas kami untuk membantumu melewati kabut tebal tersebut. Tapi ingat, kami juga memerlukan bantuanmu dan teman-temanmu. Tak seorangpun mampu hidup seorang diri di dunia yang penuh penderitaan seperti ini, anakku." Kata Igor sambil menyeduh kopi hangatnya yang terletak di meja. Margareth pun meraih buku compendium yang telah tertutup dan kembali melanjutkan apa maksud yang ingin disampaikan tuannya.
"Persona yang kau miliki sekarang sedang tertidur jauh di dalam dirimu, menunggu saat yang telah ditentukan untuk bangkit. Tapi ingatlah, persona merupakan cerminan dari personality seseorang. Jadi, kuat lemahnya persona itu bergantung pada 'will power' yang dimiliki seseorang tersebut. Persona juga dapat dipengaruhi oleh 'social link' yang kau milikin dengan teman-temanmu. Semakin besar rasa percaya tumbuh di dalam hatimu pada teman-temanmu, semakin besar pula kekuatan yang dihasilkan personamu."
Igor pun meletakkan secangkir kosong yang isinya telah habis ia minum setelah mendengar dan menyimak penjelasan panjang asisitennya mengenai persona.
"Namun, kekalahan di dalam pertarungan dapat mengakhiri petualanganmu juga anakku, karena itu berhati-hatilah selalu." Pesan Igor meluncurkan tetuah-tetuah dan nasihat-nasihat bijaksananya seperti seseorang yang sudah belajar dari pengalaman.
"Nah, sekarang saatnya kau kembali ke duniamu. Teman-teman yang menerangi jalanmu sedang menantimu di dalam kabut, anakku." Ahli persona itu tertawa pelan sebelum Sakura benar-benar meninggalkan velvet room. "Di sinilah segalanya akan dimulai kembali…"
___________________________________________________
# Sakura's POV #
Detik berikutnya aku sadar kalau apa yang ada di hadapanku bukanlah suasana velvet room, Igor, dan Margareth lagi. Apa yang ada di hadapanku saat ini adalah sejumlah shadow yang sudah siap menyantapku menjadi makanan mereka, entah makan malam atau makan pagi, atau bahkan makan siang. Di Inaba yang benar-benar berbeda ini aku tak tahu waktu. Shadow-shadow itu mengaum-ngaum seperti singa kelaparan yang baru saja menemukan mangsanya yang tak berdaya serta terpojokkan. Dengan sekuat tenaga aku berlari kembali ke jalanan yang mengarahkanku pada toko Liquor tadi. Aku harap Teddie dan pemuda yang baru kutolong itu dapat menyelamatkanku dari kejaran shadow-shadow yang haus akan darahku ini.
Tepat di depan Marukyu shop aku tersandung kerikil kecil, jatuh, dan terjerembab ke aspal yang masih tetap keras. Siku dan lutut kakiku memar, tidak, berdarah karena tergores aspal tajam yang pecah-pecah. Ditambah lagi, sepertinya kaki kananku terkilir. Bagus! Tamat sudah riwayatku! Kenapa aku selalu ceroboh seperti ini sih?! Saat menoleh ke belakang aku mendapati sebuah shadow berbentuk …entahlah…bentuknya seperti pasangan dansa membawa pedang yang siap menghujamkan pedangnya padaku. Hal yang secara refleks kulakukan adalah menjerit dan menutup mataku rapat-rapat.
"Kyaaaaaa!!!!!"
"Izanagi!!" seru seseorang dengan lantang entah dari mana arahnya yang jelas ia jauh sekali.
Begitu aku membuka mataku, shadow yang tadi mengejarku musnah, seluruhnya musnah! Tak satu pun tersisa, sepotong shadow pun tidak! Hal selanjutnya yang agak mengejutkanku adalah pemuda bertopeng serta mengenakan jubah hitam yang tiba-tiba turun dari atas dan mendarat dengan sempurna tepat di hadapanku! Pemuda itu hanya melihatku saja, aku tak bisa mengartikan arti tatapan matanya, jadi aku hanya diam saja. Aku berusaha memberanikan diri untuk bertanya padanya.
"Ka-kau si-siapa?" usahaku untuk tidak terlihat gugup gagal. Pasalnya pemuda itu menarik katananya dari balik jubahnya dan mengayunkannya padaku. Aku hanya diam, tidak tutup mata, tidak teriak, maupun lari. Aku hanya diam saja di tempat. Entah apa sebabnya, aku memiliki perasaan dia tak akan melukaiku…dan perasaan seperti pernah bertemu dengannya.
"Kenapa tidak lari?" nada suaranya berat dan terkesan angkuh serta dingin dengan katana yang ada di genggamannya nyaris membelahku menjadi dua jika ia tidak segera berhenti. Benar-benar ciri khas pembunuh dan pembantai.
"Aku tak mungkin bisa lari. Lagi pula, aku juga tahu kau tak akan berniat melukaiku." Kali ini segala ketakutanku telah kutelan dalam-dalam.
Pemuda itu kemudian berjongkok di hadapanku, lalu meraih pergelangan kaki kananku dan menariknya kuat-kuat.
"YEOCHHH!!! Sakit!!! Kau ini keterlaluan!!!" tanpa sengaja aku menendangnya sebagai refleksku. Pemuda itu jatuh terduduk di seberangku dengan kedua tangan menopang di belakang punggungnya. Baiklah, sebenarnya aku salah kalau malah menendangnya, karena ditariknya barusan kakiku sembuh.
"Anu…etoo…terima kasih sudah…eumm…menolongku tadi dan juga…menyembuhkan kakiku." Kemudian ia bangkit berdiri sambil menatap bangunan runtuh di hadapannya.
"Lain kali jangan harap aku akan menolongmu, bocah. ini akan menjadi terakhir kalinya aku menolongmu." Sial! Dia menyindirku!! Si 'pahlawan bertopeng' itu kemudian menyerahkan katananya padaku secara Cuma-Cuma. Biar kutebak, mungkin dia adalah penjuat senjata di kota ini??
"Ambil!" serunya memerintah.
"Kalau kuambil, nanti kalau bertarung kau mau pakai apa?" tantangku balik. Sebenarnya di sini yang ceroboh itu aku atau dia sih?
"Tak perlu cemas, aku tidak seceroboh kau. Tentu saja aku punya satu lagi." Samar-samar aku dapat melihat katana yang terselip di balik jubah hitamnya tersebut. Yah, lagi-lagi aku dipermainkan.
Aku mengambilnya dengan ragu-ragu. Setelah kuterima katananya, ia mulai berjalan berlawanan arah, meninggalkanku. Sebelum ia sempat pergi, aku menahannya dengan menarik lengan kanannya kuat-kuat. Ia pun berhenti, tapi tidak menoleh padaku.
"Apa kau tahu…seseorang yang bernama…Seta Souji?" tanyaku terputus-putus karena sedikit ragu ia akan tahu. Barulah pemuda itu menoleh menghadapku dengan-- lagi-lagi tatapan mata yang tak bisa kuartikan.
"Pemuda itu sudah lama hilang, mustahil kau menemukannya." Singkat sekali balasannya. Aku sedikit curiga dengan cara bicara, suara, dan gayanya yang sepertinya disengaja olehnya untuk menutupi sesuatu. Aku masih tidak melepaskan genggamanku, pemuda itu masih belum boleh lepas dari genggamanku saat ini sebelum ia menjelaskan apa maksudnya!
"Apa maksudmu?!"
"Kau tak akan pernah bertemu dengannya lagi. Sebentar lagi…dia pasti sudah…"
"Sudah apa?! Katakan!!"
"Dibunuh…"
Jawabannya benar-benar di luar dugaanku, tega-teganya ia mengatakan hal seperti itu padaku! Tunggu dulu! Jangan-jangan dia…
"Onii-chan!! Kau Onii-chan, kan?!" tebakku asal setelah menyadari kemiripan postur tubuh serta…warna rambutnya.
"Apa maksudmu memanggilku dengan sebutan yang asing di telingaku itu? Kusarankan, pulanglah! Jangan mencampuri urusan dunia Inaba!" lalu ia menghilang dari balik kabut tebal yang tiba-tiba muncul entah dari arah mana. Setelah kabutnya reda, pemuda tadi sudah hilang. Aku hanya tertunduk lesu sambil memandangi katana pemberiannya tadi. Kutarik katana itu dari sarungnya dan terlihat jelas betapa tajamnya senjata itu. Tak lama aku mendengar suara-suara yang menyebut-nyebut namaku dari kejauhan. Saat aku menoleh, kudapati Hanamura-san dan Teddie sedang berlari ke arahku dengan napas tersengal-sengal. Mereka pasti khawatir karena aku meninggalkan mereka tanpa sepengetahuan mereka.
"Kura-kura-chaaaan!!" Teriak si beruang bulat itu sambil berlari menghambur ke arahku dengan bibir maju beberapa senti, bersiap menciumku! Tanpa berpikir lagi segera kulayangkan tendangan maut ku tepat di wajahnya. Semacam serangan telak. Hanamura-san yang terkagum-kagum malah tepuk tangan.
"WOW!! Kau mengingatkanku pada seseorang, Sakura-chan!" katanya antusias. Aku penasaran, siapa yang dimaksudnya yah?
"Aku mirip siapa?? Teman lama Senpai?" tanyaku sok lugu. Padahal kalau ia memanggilku sama seperti apa yang Teddie lakukan, ia juga akan melayang dengan cara yang sama seperti beruang itu!
"Hahahaha, namanya Satonaka Chie. Yah, tomboynya hampir sama sih. Tapi sepertinya Chie lebih tomboy sedikit darimu." Jelasnya singkat hanya dalam 3 kalimat sementara aku hanya bisa ber 'oh' ria saja. Hanamura-san kemudian mengamatiku dari ujung kaki sampai ujung rambut, lalu tatapannya kembali kepada katana yang sedang kugenggam.
"Hei, aku tidak ingat kau membawa senjata kemarin. Katana siapa itu?" tanyanya sambil melipat tangan di depan dada.
"Um, aku diberi….pemuda misterius. Entahlah, yang jelas ia bertopeng dan mengenakan jubah hitam. Kau kenal pemuda misterius itu??" kataku menjawab sekaligus bertanya. Hanamura-san tampak berpikir keras, mencoba mengingat-ingat sesuatu yang mungkin mirip dengan deskripsiku tadi. Hanamura-san kembali menatapku dan geleng-geleng pelan dengan mata terpejam.
"Sayang sekali, aku tak tahu pemuda yang kau maksud. Tapi dia baik sekali mau memberikan katananya padamu. Tak kusangka masih ada yang hidup di kota ini selain kita," Cerocosnya keceplosan. Aku menarik lengannya sehingga wajahnya menghadapku. "A-ada apa, Sakura-chan?"
"Hanamura-san, apa kau…kenal dengan orang yang bernama Se-"
"Sakura-chan!! Yosuke!!! Wait for mee!!!" teriak Teddie yang nampaknya berhasil berdiri setelah terguling-guling karena tendangan telakku tadi. Hanamura-san kemudian kembali berbalik menghadapku dan menanyakan apa yang ingin kutanyakan tadi. Aku menggeleng dan melanjutkan perjalanan kembali.
+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+
Aku sekarang berada tepat di sebuah…bangunan tua yang cukup besar. Bangunan tersebut terbuat dari kayu yang sudah keropos karena rayap dan termakan usia. Papan namanya saja terbelah menjadi beberapa bagian sampai-sampai aku tak bisa membacanya. Hanamura-san kemudian berjalan mendahuluiku mendekati pintu masuk bangunan keropos itu. Sepertinya ia tahu bangunan apa itu. Aku hanya mendengar helaan napas panjangnya sesaat setelah mengamati pintu masuknya.
"Di sinilah kita, The Famous Amagi Inn. Yang telah bertransformasi tentunya." Katanya bagaikan seorang Tour leader. Aku bisa melihat raut sedih yang sengaja ditutup-tutupinya dariku dan Teddie. Apapun yang dilakukannya, ia tetap tak pandai berakting.
"Sakura-chan, mulai sekarang bisa kau panggil aku 'Yosuke-kun' saja?"
"Tapi…" jujur, aku merasa sedikit keberatan. Bukankah ia jauh lebih tua 10 tahun dariku?!
"Tak apa. Aku tak suka formalitas. Lagi pula, aku yakin kita akan menjadi sahabat dekat. Yuk masuk."
Teddie melompat-lompat dengan kesal di belakangku, merasa dicueki dari tadi. Aku pun menawarinya untuk ikut bersamaku dan Yosuke-kun masuk ke dalam.
Di dalam isinya sama berantakan seperti tampilan luar bangunannya. Lemari-lemari yang berjatuhan dan saling tumpang tindih, pecahan-pecahan kaca yang berserakan, dan beberapa bagian kayu yang sudah lapuk runtuh ke tanah. Yosuke-kun menghampiri meja penerima tamu yang sudah usang dan berdebu, ditambah dengan beberapa bercak darah tergenang di sana.
"Yosuke-kun, tempat ini penginapan atau rumah sakit sih? Menurutku lebih mirip rumah sakit dari pada sebuah…benginapan terkenal." Yosuke-kun tertawa kecil. Sepertinya ia sadar akan rasa takutku yang mulai menjadi-jadi.
"Yah, dulu di sini memang ada kasus pembunuhan juga sih. Makanya berkesan sedikit angker." Haha, terima kasih atas penjelasan tambahannya Yosuke-kun! Kau membuatku semakin takut dan panik!!
"Ngomong-ngomong, Sakura-chan," aku pun menoleh ke arahnya. "Apa yang ingin kau tanyakan tadi?"
"Eh, itu…"
"Tak apa. Katakan saja."
Kalau boleh jujur lagi, aku merasa sedikit canggung dan…sedikit tak mampu menahan emosiku mengenai apa yang akan kutanyakan padanya.
"Apa kau kenal…dengan orang yang bernama…Seta Souji?" aku dapat melihat perubahan ekspresi wajahnya yang berubah drastis. Yosuke-kun terlihat seperti orang yang telah kehilangan jiwanya beberapa saat yang lalu. Tanpa menjawab pertanyaanku, ia kembali melanjutkan langkah kakinya menuju ke tumpukan lemari yang saling tumpang tindih. Wajahnya terlihat serius dambil mencari-cari sesuatu dari tumpukan buku yang berserakan dibawah tindihan lemar-lemari lapuk itu.
"Apa yang kau cari, Yosuke-kun?" tanyaku ekstra hati-hati, takut menyinggung perasaannya. Teddie pun juga ikut-ikutan berwajah serius serta sedih ketika ia membantu Yosuke mencari sesuatu yang dicari oleh mereka berdua, entah apa yang mereka cari aku tak tahu.
"Seta Souji, murid pindahan tahun 2012 dari Tokyo, hanya menetap selama setahun, pendiam namun kecerdasan di luar rata-rata, pandai memasak, bergolongan darah O, dan…" katanya terputus setelah menemukan buku yang dicari-carinya.
"Dan?"
Yosuke-kun membuka buku tebal itu. Nampaknya itu sebuah album foto. "Dan menghilang 10 tahun yang lalu." Aku hanya terpekur mendengar jawaban Yosuke. Teddie juga diam. Yosuke kemudian mebolak-balik halaman album tersebut, setelah menemukan halaman yang diincarnya, ditunjukkannya isi album yang isi kertasnya telah menguning karena termakan waktu itu padaku.
Aku mendapati foto Onii-chan bersama seorang gadis berambut hitam legam nan panjuang di sebelahnya sedang tersenyum bahagia. Di samping Onii-chan ada Yosuke yang sedang merangkul Teddie, di sebelah gadis berambut hitam tadi ada perempuan yang tampaknya tomboy dengan jaket hijau yang dikenakannya. Dibelakang Onii-chan ada seorang pemuda yang sedikit lebih tinggi dari Onii-chan dan bertampang preman sedang merangkul si idola popular Risette, dan juga si Detective Prince yang tersenyum misterius sambil membenarkan posisi topi detektifnya. Semuanya tertawa bahagia. Ini baru pertama kalinya aku melihat senyuman Onii-chan yang benar-benar tulus kepada orang lain selain diriku.
Selain foto itu, ada berbagai foto Onii-chan yang lain bersama dengan gadis berambut hitam panjang itu. Onii-chan terlihat sangat bahagia sekali, berbeda jauh saat ia berada di lingkungan yang tak akan permanen untuknya. Kalau mencoba mengingat-ingat masa lalu, hatiku teriris-iris rasanya. Ayah dan ibu selalu jarang berada di rumah. Hanya ada aku dan Onii-chan saja, serta paman Dojima yang selalu menjaga kami berdua saat kami sendirian di rumah. Lalu setelah Onii-chan berusia 10 tahun paman pindah ke Inaba bersama Istrinya, Chisato-san.
Aku tersadar kembali setelah hilang dalam ingatan-ingatan lamaku berkat tepukan halus dari Yosuke-kun yang tampaknya cemas dengan raut wajah yang tak sadar kuekspresikan.
"Kau baik-baik saja? Sepertinya kau kurang istirahat," Tuturnya, sementara aku hanya menggeleng pelan. "Nah, aku sudah menjawab pertanyaanmu. Sekarang giliranku bertanya."
"Ya?"
"Apa kau adik kandunnya Souji?"
Yah, cepat atau lambat dia pasti akan tahu juga. Lagi pula tak ada salahnya juga mereka tahu, toh mungkin malah lebih baik.
"Ya. Kenapa kau bisa dengan yakin menebak seperti itu? Apa Onii-chan pernah cerita padamu?"
seulas senyum tipis mulai tampak di bibirnya. "Hungg…begitulah, mungkin Yukiko lebih banyak diceritai Souji tentang dirimu. Ditambah dengan fotomu saat masih kecil, wajah kalian berdua benar-benar mirip! Kecuali tingkah kalian berdua." Cerocosnya panjang lebar. Yah…yah…perbedaanku dengan Onii-chan yang paling nampak di sisi tingkah. Onii-chan amat teliti, tegas, disiplin dalam menyelesaikan sesuatu. Sementara aku beroboh, kebalikannya.
Aku, Teddie, dan Yosuke-kun tertawa sejenak karena pembahasan antara aku dan Yosuke-kun yang akhirnya buyar karena kami sama-sama dikejutkan para Shadow yang tiba-tiba muncul tepat di belakang kami. Di antara segerombolan para shadow itu ada seorang wanita berambut hitam yang sama seperti di foto. Tak lama muncul sesosok wanita lagi dari kejauhan, aku hanya dapat melihat warna pakaiannya saja, yaitu hijau. Yosuke langsung segera membelakangiku dan menyiapkan 2 pasang Malakh nya, sementara Teddie mulai meng-scan.
"Yukiko-san dan Chie?! Apa yang mereka lakukan di sini?!! Jangan-jangan…"
"Hei-hei, yang namanya Yukiko itu yang mana, Yosuke-kun?" bisa-bisanya aku bertanya seperti itu pada saat genting begini!
"Yang seragamnya serba merah Itu Yukiko. Yang pakai jaket hikau itu-"
"Ya ..ya aku sudah paham. Teddie, back up kami dari situ! Aku akan menghadapi Yukiko-san!" tanpa pikir panjang lagi aku sudah melepaskan diri dari belakang Yosuke menuju ke segerombolan shadow itu. hal yang kuharapkan saat ini adalah semoga katana ini berhasil menebas shadow-shadow itu. wow, katana pemberian pemuda missy(misterius) tadi bermanfaat!! Sekali tebas, walaupun hanya segores saja sudah memusnahkan shadow. Aku penasaran, dari bahan apa katana ini dibuat??
# Yosuke's POV #
Bagus sekali! Lagi-lagi si kura-kura itu bertindak seenaknya! Belum sempat aku bicara dia sudah menorobos begitu saja ke kerumunan shadow-shadow busuk nan sialan itu! dan lebih bagusnya lagi, aku dibuatnya berhadapan dengan orang yang benar-benar…erghh!!!! Dia benar-benar seorang kura-kura ketika sedang berpikir. Tapi untunglah, aku tak perlu terlalu cemas setelah melihat bagaimana ia memusnahkan shadow di hadapannya hanya dengan sekali tebas saja. Tapi tetap saja aku harus tetap mengawasinya, aku tak ingin sahabatku ngomel-ngomel ketika melihat adik kandungnya sudah tak bernyawa saat bertemu dengannya. Dan..WHOOSSHH-
"Wow!! Kau terlalu cepat Chie!!" makiku tak sadar karena terlalu focus pada Sakura yang sedang baik-baik saja itu. justru malah aku yang tidak sedang baik-baik saja!!
"Hee-hee…sudah lama aku ingin berkelahi satu lawan satu denganmu, cintaku!" sahut shadow Chie yang semakin ganas itu. tentu saja aku nyaris muntah mendengar kata 'cintaku' dari mulut shadow Chie. Seumur hidup aku tak pernah sekalipun mendengar Chie memanggilnya seperti itu.
"Geez, kau ini Chie bukan sih? Naïf sekali kau dengan memanggilku 'cintaku'. Sampai kapanpun aku tak akan sudi bersamamu! Karena kau bukan orang yang kusuka!!" aku perjelas lagi si shadow aneh itu dengan beberapa kata pedas yang meluncur begitu saja. Entah apa sebabnya atau mungkin karena ucapanku yang terlalu magis, shadow itu tiba-tiba menangis di hadapanku!! Apa-apaan ini?!!
"Kau…kau…kau tak mencintaiku! Seperti apa yang selama ini telah kuduga! Kau tak pernah mencintaiku!! Lalu kau anggap apa aku ini?!" tangis shadow Chie itu semakin meledak-ledak. Aku hanya bisa melongo dengan mulut menganga lebar saja. Yah, satu lagi sisi gelap Chie yang kuketahui. Yah, sepertinya lumayan lama juga menunggunya berhenti menangis, jadi kuputuskan untuk mengamati gerak-gerik si kura-kura itu sebentar. Dia tampaknya baik-baik saja, mungkin dia malah sedang bersemangat sekali jadi pembasmi shadow di sekitarnya. Sepertinya aku saja yang terlalu khawatir tentangnya.
Ketika aku kembali menoleh kepada shadow itu, aku sudah tertampel dan menabrak dinding rapuh yang nyaris ambruk di sisi barat bangunan. Teddie yang ikutan terkejut langsung membantuku berdiri. Dasar, kenapa Teddie tidak menginformasikan padaku kalau shadow sialan itu akan menyerangku?!
"Aduduh…punggungku…pantatku…ternyata sama saja dengan tendangan maut Chie…" keluhku sejenak. Lalu shadow itu mendekatiku.
"Kalau aku tak bisa memilikimu di dunia ini, maka aku akan memilikimu di dunia kematian!!" seru shadow itu mulai berevolusi. Yah, tak perlu terkejut, aku sudah tahu ini akan terjadi. Yang kuherankan adalah, di mana Chie dan Yukiko-san sekarang? Jika shadow mereka berdua ada di sini, seharusnya mereka berdua juga ada di dekat sini.
"Hell no! aku hanya ingin mati bersama orang yang aku cintai saja! Tidak bersama denganmu!" kataku semakin memanas-manasi shadow emosional nan bodoh itu. dia telah jatuh dalam perangkapku!
"MATI!!!"
# Sakura's POV #
Aku sempat mendengar suara benturan yang cukup keras dari sisi barat bangunan, dan setelah aku menoleh ternyata Yosuke lah yang menghantam tembok tua itu. hah, dia itu selalu saja membuatku cemas! Kenapa sih dia tidak bisa mempercayakan shadow yang satu ini kepadaku? Toh aku tak merasa kesulitan saat membasmi shadow-shadow kecil ini. Kecuali shadow wanita yang berjarak 12 meter dariku ini, aku sedikit tak yakin bisa dengan mudah membasminya sama seperti shadow-shadow yang sudah kukirim ke hell!! Akhirnya aku selesai juga membasmi shadow-shadow kecil di sekitarnya, aku berhenti sejenak dan mulai memikirkan taktik selanjutnya.
"Di saat yang paling terakhirpun…aku tak bisa menyelamatkannya," kata Shadow berambut hitam legam itu dengan nada penuh penyesalan. Aku sedikit tak mengerti dengan apa maksud shadow cantik yang menjadi lawanku ini. "Kenapa justru dia yang berkorban untukku? Hahahaha…betapa bodohnya dia."
"Hei! Apa maksudmu? Siapa orang yang kau maksud itu?!"
"Seseorang yang sangat berarti buatku…seseorang yang penting di hidupku…" katanya nyaris berbisik. Baik, sebagai sesama wanita aku tentu paham perasaannya ditinggal kekasihnya atau entah siapanya, yang baginya orang itu sangat penting di hidupnya.
"Aku tak akan memaafkan…siapapun yang telah melukai dia!!" kemudian shadow itu mulai berevolusi menjadi burung phoenix raksasa berwarna merah. Nah, pertanyaan bagus. Bagaimana aku harus mengalahkan shadow yang skalanya 1:10 ini?!! (kok jadi mat?? Gomen, pdhl saiya plg benci mat)
"Aku adalah Shadow…diri yang tersembunyi namun yang sebenarnya…"
# Yosuke's POV #
Hahahaha, sekarang aku yakin Sakura pasti akan sangat panik karena kecerobohannya sebelum mengetahui seperti apa shadow milik Yukiko yang sebenarnya. Baiklah kura-kura-chan, selamat berjuang! Kudoakan kau selamat menghadapi shadow yang satu it- WHOOOSHH!!
"Whoaaa!!" ternyata aku juga harus mendoakan diriku sendiri agar bisa hidup setelah melewati yang satu ini. Sebanyak apapun aku menyerangnya, semuanya tak berguna! Hanya Chie saja yang benar-benar bisa mengalahkan shadownya sendiri, bukan aku, bukan Sakura, bukan Teddie, tapi dia!
"Chie! Lakukan sesuatu terhadap shadowmu ini!! Aku tahu kau sedang bersembunyi!!" teriakku sambil menghindari beberapa serangan bufudyne yang nyaris membuatku mati beku. Berkat keberadaan Shadow Yukiko itu aku tak perlu mencemaskan temperatur sekitar. Toh ada penyeimbangnya.
"Jiraiya! Garudyne!!" Shadow yang kuserang barusan hanya terpukul mundur beberapa langkah. Sial! Kuat sekali sih dia! Aku yakin pasti selama ini Chie terlalu banyak menyimpan semua ini sendirian. Harus kuakui, dia benar-benar wanita yang kuat.
"Yosuke! Aku mencium bau Chie dan Yukiko! Tapi aku tak tahu di mana mereka berada sekarang!" kata Teddie. Bagus, ternyata ia mulau pintar juga.
"Teddie, usahakan kau menemukan di mana mereka berada sekarang sementara Sakura-chan dan aku menghadang Shadow ini! Cepat!" Teddie pun kembali memonyong-monyongkan ujung hidungnya untuk mencari jejak Chie dan Yukiko.
"Buaaaah!!"
BRUGGHH…
Aduh…aduh…lagi-lagi….pantatku….lagi-lagi shadow itu menendang perutku sampai aku terpental jauh. Sial, kalau aku hanya terus-terusan begini, bisa-bisa aku yang dikirim ke dunia kematian olehnya! Ayolah Chie…kumohon…muncul! Sekarang juga!!
"Sekarang…waktunya mati, sayangku! Mari kita mati bersama setelah aku membunuhmu. Huahahahahahah!!!" dari mana sih shadow satu inibelajar tawa maun Yukiko-san?? Hah, tamat sudah riwayatku! Tentunya dia bisa menyerangku sesuka hati saat aku sedang down begini! Terakhir kali kulihat, Shadow itu menghujamkan tombaknya tepat ke wajahku sebelum aku menutup mataku rapat-rapat.
"Hentikan," teriak seseorang yang tentunya sangat familiar di telingaku. "Hentikan semua ini. Cukup sudah."
"Kau…kenapa kemari sekarang?" Tanya shadow itu bagaikan orang dungu.
"Tak perlu kuberitahu pun kau sudah tahu, bukankah kau adalah bayanganku? Bukankah kau adalah perasaanku yang selalu tak bisa kuceritakan kepada siapapun? Bukankah kau adalah potongan dari diriku yang ingin sekali kuhilangkan? Seharusnya kau tahu apa yang kupikirkan saat ini!"
"Tapi kau selalu menolakku! Kau hanya ingin melihat dan merasakan apa yang ingin kau tahu!" kata shadow Chie yang sudah mulai kembali ke bentuk semulanya.
"Itu benar. Kau telah mengatakannya. Karena itulah aku ada di sini. Aku ingin kau mengatakan semua hal yang bahkan secara tak sadar telah kusembunyikan dari diriku sendiri sampai-sampai aku tak tahu apa itu. Katakanlah semuanya padaku!"
"Aku ingin sekali menjadi kuat, aku ingin melindungi semua orang yang kusayangi. Aku benci orang yang meremehkanku, aku benci orang yang telah menyakiti hatiku. Aku tak ingin merasa terbuang, namun lambat laun orang-orang tak membutuhkanku lagi! Tak satupun dari mereka membutuhkan kehadiranku lagi! Aku yang hidup dengan kepintaran pas-pasan, aku yang tomboy, aku yang emosional, semua orang meninggalkanku karena aku tak berguna! Aku benci mereka! Aku benci!!" teriak shadow itu dengan penuh emosi yang meluap-luap sampai-sampai shadow itu menangis. Kalau diingat-ingat lagi, aku tak pernah melihat Chie menangis selain saat Nanako koma. Selain itu aku tak pernah melihatnya menangis, sekalipun tidak. Walaupun ia mendapat nilai jelek, walaupun ia kesepian, sekalipun ia tak pernah menangis.
"Kau tahu," kata Chie melangkah mendekati diri terpendamnya, aku dapat melihat beberapa tetes air mata yang jatuh di selah langkah-langkahnya. "Bagiku wanita itu tidak boleh menangis. Jika seorang wanita menangis, itu artinya ia lemah. Jika wanita itu lemah, ia akan mudah sekali diinajk-injak harga dirinya oleh kaum lelaki hanya karena wanita lebih lemah. Aku benci lelaki yang tak menghargai wanita! Karena itulah…*sob* kuputuskan aku tak boleh menangis apapun yang terjadi…*hiks* aku tak boleh menangis…*hiks*…"
Jujur, baru pertama kali aku melihat Chie berkata jujur di depanku. Ternyata itu sebabnya ia sangat tomboy, suka kung-fu dan selalu berlagak kuat. Semua itu karena ia benci kekerasan kaum lelaki terhadap kaum wanita. Ternyata Chie begitu tertutup rapat selama ini.
"Karena itu," Chie menggenggam kedua tangan bayangan kembarnya erat-erat. "Aku butuh kau untuk membantuku untuk melengkapi bagian hatiku yang telah hilang. Aku butuh kau untuk melunakkan hatiku lagi seperti sediakala. Aku butuh kau supaya aku bisa menangis lagi seperti dulu di saat aku merasa sangat sedih."
Shadow itupun mengangguk setuju sambil tersenyum kemudian mulai memudar dan berubah menjadi kartu berwarna biru yang berputar-putar di atas Chie hingga akhirnya kartu itu pecah menjadi serbuk dan mengitari Chie. Dengan begini Chie telah menghadapi bayangannya sendiri dan memperoleh persona Tomoe The Chariot.
"Chie!" otomatis aku berlari menghampirinya tanpa memperdulikan rasa sakitku lagi. Aku jauh lebih mencemaskan kondisi Chie yang pasti lemas karena baru saja berperang dengan bayangannya sendiri.
"Hah, aku tak apa-apa Yosuke. Sungguh."
"Kau tak pernah tidak apa-apa! Kau selalu saja membuatku khawatir, Chie," tanpa sadar kedua lenganku telah mendekapnya kedalam pelukanku. "Dan jangan pernah lagi mengatakan kalau kau tak berguna lagi! Kalau kau tak ada…kalau kau tak ada…" sial! Kenapa ganti aku yang mulai terisak sih?!!
"Yosuke, aku senang kau masih peduli padaku."
"Kalau kau tak ada…maka hidupku pun juga terasa tak ada. Aku pasti akan merasa kurang lengkap tanpa adanya dirimu." Nah, apa lagi ini…kenapa aku bisa jadi sepuitis ini.
"Haha, aku benar-benar beruntung kau ada di dekatku selama ini, Yosuke. Arigatou."
Tak lama aku memeluk Chie, sesaat kemudian aku mendengar teriakan yang juga familiar di telingaku.
"Yosukeeeeeee-kuuuunn!!! Toloooooong!!!!" siapa lagi kalau bukan si kura-kura itu?
Aku dapat menangkap pandangan penuh selidik Chie yang menghujam lurus-lurus ke mataku.
"Siapa gadis itu?"
"Yah, adik Souji. Ayo cepat kita tolong dia. Jika tidak, aku pasti akan dicincang-cincang Souji nanti!"
# Sakura's POV #
Yosuke-kun menyebalkan!! Sempat-sempatnya sih dia berpelukan mesra begitu di saat aku nyaris di sikat habis oleh shadow burung raksasa satu ini?! Gawat, aku tak bisa memanggil persona, yah lebih tepatnya aku tak tahu bagaimana caranya memanggil persona. Pheonix raksasa itu kembali menyergapku dengan cakar-cakarnya yang tajam, namun tak sampai menyentuh pucuk bajuku, ia sudah kutebas duluan. Aku mundur beberapa langkah saat ia mulai meng-cast agidyne. Phoenix itu sudah tahu pasti kalau aku tak akan bisa menangkis serangan magic, karena itu dia sengaja meng-cast agidyne. Dan-
QUAAAACKKK
Hah? Apa aku tidak salah dengar?? Barusan aku mendengar suara pekikan phoenix itu. apa dia salah cast dan malah mengenai dirinya sendiri?? Oh, ternyata Yosuke-kun meng-cast garudyne kepada phoenix itu. sementara aku sudah diseret oleh wanita yang dipeluk Yosuke-kun tadi.
"Kau baik-baik saja?" katanya dengan sorot mata mencemaskanku.
"Ya. Sangat baik-baik saja."
"Bagus! Kita butuh bantuanmu untuk-" kata-katanya terpenggal begitu ia melihat sesosok wanita berambut hitam panjang se pinggang muncul di belakang phoenix yang roboh itu. "Yukiko?"
Aku pun ikut menoleh ke arah sorot mata itu tertuju. Kulihat wanita yang bernama Yukiko itu sedang mengelus-elus bulu phoenix itu walaupun ukurannya jauh lebih besar darinya. Ia pun mulai mengucapkan…bukan…menyanyikan sesuatu. Dan lagu itu! lagu itu…rasanya aku pernah mendengarnya…aku yakin pernah mendengarnya!
"Ouchi wasuretta kohibati wa…hi no hi hatake no mugi no naka…" nyanyiannya berhenti sejenak lalu berlanjut kembali. "Kaasan tazunete naita kedo…Kaze ni omugi ga naru bakati." Dan nyayiannya pun berhenti saat phoenix raksasa itu kembali ke wujud semulanya berupa bayangan yang sama persis seperti Yukiko.
"Lagu itu," kata Shadow itu dengan suaranya yang berat. "Kau mengingat lagu itu? kau masih ingat? Bukankah kau ingin sekali melupakannya dari hidupmu? Bukankah kau mencoba untuk menghapus semua kenangan-kenanganmu bersamanya?" suaranya masih terdengar berat.
"Aku tahu kau akan menjawabnya dengan benar. Aku ingin sekali menghapusnya dari hatiku semenjak hari itu. Aku ingin merasa seperti tak pernah bertemu dengannya sebelumnya. Tapi aku selalu tak bisa. Kami telah berbagi banyak hal. Dan…*sob* aku tak mungkin semudah itu lupa padanya…karena dia (sob) aku bisa terus bertahan melewati hari-hari yang penuh dengan penderitaan ini. Dia telah mengajarkanku banyak hal…(sob) aku tak mungkin bisa memusnahkannya dari hatiku seumur hidup."
"Lalu kenapa kau tetap menyakiti hatimu? Bukankah kau sudah lelah tersakiti? Bukankah lagu itu justru akan semakin menyakiti hatimu?"
"Ya. Maaf karena memaksamu ikut menderita bersamaku. Selama 10 tahun ini aku selalu bertindak seolah-olah aku telah memusnahkan penderitaan itu, tapi justru aku malah membuang diriku yang satunya lagi supaya aku merasa lebih baik. Aku membuang dirimu karena ketidak jujuranku pada diriku sendiri dan yang lain. Karena aku selalu menutup-nutupinya rapat-rapat agar tak ada satu celah sekecil apapun bagi orang lain untuk melihat bahwa di dalam hatiku sedang menangis. Dengan tindakanku yang seperti itu, tentu saja dengan begitu aku telah menolakmu. Tapi aku tahu pilihanku salah. Lagu itu mengingatkanku pada dirimu, bagian dariku yang selama ini selalu kututupi."
"Tidakkah kau kesepian semenjak hari itu?" suara shadow itu pun semakin melunak. "Tidakkah kau bosan dengan kesepian itu sejak ia tidak disampingmu?"
"Tentu aku merasa kesepian. Tapi, yang membuatku kesepian bukanlah dia, melainkan diriku sendiri yang terlalu banyak menutupi dirimu sehinggak aku tak bisa lagi mengenali diriku lagi," katanya dengan senyum yang mulai mengembang, namun tatapan matanya masih sedih. "Dan aku yakin dia selalu ada di mana pun aku berada. Dia selalu ada di sini." Jari telunjuk Yukiko-san menekan dadanya yang mewakili hatinya.
"Bisakah kau menyanyikan lanjutan lagu itu untukku?" pinta shadow itu lagi, kali ini dengan senyum yang mengembang di bibirnya. Kulihat Yukiko-san balas seyum dan mengangguk.
"Ouchi wasureta mayoigono…Imaniwa hitori umi no naka… Oyakono kitsune wa nakanaikedo…fuukei samishii tsukiwa kawati…." Shadow Yukiko pun pudar dan membentuk sebuah kartu dan pecah menjadi serbuk mengitari Yukiko-san. Menandakan Yukiko-san telah menghadapi bayangannya serta mendapat persona Konohana-Sakuya The Priestess.
Baik Yosuke maupun Chie langsung menghambur ke arah Yukiko-san. Sementara aku hanya berjalan santai menyusul mereka sambil memenuhi pikiranku untuk mengingat-ingat di mana aku pernah mendengar lagu itu. rasanya familiar sekali dan aku pernah mendengarnya sekian tahun silam. Lagu yang nyaris saja kulupakan jika Yukiko-san tidak menyanyikannya.
'There's no turning back…'
To be Continued
__________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Fyuh, oya, bagi para pembaca cowo di chap ini saiya minta maaf sebesar-busarnya mengenai apa yang ada di dlm fanfic. Saiya bnr2 ga bermaksud apa2. itu semua karena sinetron Indonesia yang banyak aksi cowok nampar cwe lah, yang cerai lah, yang tengkar lah, yang apalah. Sungguh, kalo saiya menyinggung perasaan pembaca sekalian, saiya minta maaf sebesar-besarnya! Dan maaf juga krn saiya updetnya lama dikarenakan tugas makalah numpuk dlm 1 minggu di kls 9. plus arigatou buat para pembaca dan reviewers yg udah bersedia meluangkan waktu buat fic ini kyk: Fukuta Neko, Black-Cat-Yoruichi, ai emma, lalapyon, separated union, 'T-800' MacTavish, Hihazuki, WindPurpleDragon, dll. Krn saiya bkl sibuk2nya nih, bisa tolong Bantu beri ide2…saran dan kritik?? Pleasee?? Onegai???(diceburin ke lahar krn ngerepotin mulu) ^_^
Btw, lagu yg dinyanyiin Yukiko tuh sbenernya aq ambil dari Jigoku shouji episode 16. huahaha, yg punya dvd-nya bisa taw kyk apa lagunya. Hee-hee
Ouchi wasuretta kohibati wa
The larks that forgot their way home
hi no hi hatake no mugi no naka…
In the wheat fields day to day
Kaasan tazunete naita kedo
I cried after asking my mother
Kaze ni omugi ga naru bakati
The wheat are crying to the wind
Ouchi wasureta mayoigono
The lost child who forgot his/her home
Imaniwa hitori umi no naka
By now he/she is alone in the sea
Oyakono kitsune wa nakanaikedo
The family of foxes doesn't cry
fuukei samishii tsukiwa kawati
The scenery gets lonely as the moon changes
