Author's note: grr….gila sudah!! Udah 2 minggu aq g ngintip fanfic, dan ….sudah ketinggalan jauh. Hummm…gmn yah, SMP 3 ini bner2 deh…bukan sibuk dlm hal belajar2 sih, tapi sibuk karena 5 tugas makalah dalam 1 minggu beserta dgn presentasinya di setiap makalah. Wih, bisa pingsan saiya lama2 klo gni terus modelnya. (ditempeleng krn mlh curhat) gyaboo, aniwei, saiya usahakan untuk sempet nyicil dan updet fanfic, yosh! Doakan saiya bisa melewati semua rintangan di hadapan saiya!!

__________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Chapter 5: Star of The Emperor

Though a thousand words
Have never been spoken
They'll fly to you
Crossing over the time
And distance holding you, suspended on silver wings
And a thousand words
One thousand confessions
Will cradle you
Making all of the pain you feel seem far away
They'll hold you forever

1000 Words - Jade

__________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

#Yukiko's POV#

Aku merasa tak asing dengan kehadiran gadis yang membawa katana itu. Aku yakin sekali pernah melihatnya, tapi di mana? Aku hanya tetap terduduk saja hingga Chie dan Yosuke ada di sisiku dan mulai mengguncang-guncangkan bahuku karena aku terlalu memfokuskan pikiranku pada gadis yang tak kuketahui namanya itu.

"Kau baik-baik saja, Yukiko?" tersirat nada kecemasan yang terselip di antara kata-kata Chie yang mampu kudeteksi.

"Ya, aku lebih mengkhawatirkan gadis itu." Jawabku tanpa menunjuk subjek yang kumaksudkan. Yosuke pun kembali menoleh ke arah gadis itu dan melihatnya berlari keluar ruangan. Chie masih tetap berada di sampingku, sementara Yosuke sudah lari mengejarnya ke luar ruangan. Setelah Yosuke menghilang dari ujung tembok, Teddie kini menghampiriku. Sepertinya Teddie sendiri juga mengkhawatirkanku.

"Teddie khawatir, kuma! Habisnya, diantara shadow Yosuke dan Chie-chan serta Yuki-chan, yang terkuat adalah milik Yuki-chan!"

"Maaf ya sudah mencemaskanmu, Ted, Chie. Dan, mengenai apa yang shadowku bilang tadi," aku pun terdiam sejenak. Kemudian Chie menyahut. "Tak apa Yukiko, aku pun juga sama sepertimu. Mulai sekarang, kita harus saling terbuka, yah?" aku pun balas mengangguk.

"Yukiko, kenapa kau tetap terus mengingat lagu itu? Lagu itu sudah lama sekali tidak dinyanyikan dan kau masih mengingatnya. Kenapa?" Chie menanyaiku dengan nada yang halus, aku tahu kalau ia juga ingin bisa merasakan penderitaanku juga. Siapapun yang kelak menjadi pasangan hidupnya, ia pasti akan sangat beruntung. Aku yakin.

"Chie, kalau aku lupa bagaimana menyanyikan lagu itu, maka itu sama saja dengan melupakan perjalanan pertemuanku dengan dia dulu," kataku mantap dan yakin. "Aku yakin dia masih ada di sekitar kita. Ia tidak pergi kemana-mana."

#Yosuke's POV#

Baik, kalau tadi aku khawatir dengan kondisi Amagi-san, sekarang aku malah khawatir dengan tingkah si kura-kura yang lagi-lagi gegabah. Hanya karena ia punya katana yang dapat memusnahkan shadow hanya dalam sekali tebas bukan berarti dia bisa bertindak seenaknya. Aku melihatnya duduk di atas sebuah bongkahan batu besar yang tadinya menutupi jalan kami kemari. Aku tetap berdiri pada posisiku yang sekarang. Entah kenapa kakiku terasa berat sekali untuk melangkah mendekatinya. Aku pun memutuskan untuk membiarkan diriku tersembunyi di balik reruntuhan di sekitarku.

Aku pun tetap bersembunyi sampai 3 orang yang lainnya menjumpaiku.

"Hei, Yos, apa yang kau lakukan? Menguntit?" bisik Chie pelan nyaris persis seperti semilir angin yang berlalu di telingaku.

"SShhh…jangan berisik. Aku ingin tahu apa yang sedang dilakukannya."

"Oh, maaf. Tapi, siapa namanya?" Tanya Yukiko-san kali ini. Mau-tak mau aku tetap harus menjawab. Masih dengan suara yang pelan. "Seta Sakura. Adik kandungnya Souji, seharusnya kau sudah menyadarinya sejak pertama kali kau melihatnya 'kan, Yukiko-san?"

"Ah, iya. Aku hanya memastikan saja. Kalau begitu…" Lalu Yukiko-san pun bangkit berdiri dari persembunyiannya dan berjalan mendekati Sakura yang masih berada di tempatnya. Pelan-pelan aku menepuk dahiku sendiri, apa sih yang sedang dipikirkan Yukiko-san detik itu?!

Aku baru saja akan menyusul Yukiko-san, namun Chie menahan pundakku. Aku pun menoleh dan menatap ekspresi wajahnya yang masih sama seperti dulu, lalu ia menggeleng.

"Biarkan dia. Sekarang ini, mungkin hanya Yukiko yang bisa paham perasaan Sakura-chan."

"Kau yakin Yukiko dapat mengatasi perasaan Sakura-chan sekarang?" tanyaku lagi karena aku merasa sedikit ragu dengan kondisi yang seperti sekarang ini.

"Ya. Sekarang kita tinggalkan mereka berdua dulu yah. Yuk, Ted. Kau juga harus ikut dengan kami."

"Tapi Teddie juga mencemaskan Sakura-chan, kuma!"

"Ayolah, Ted. Ini adalah urusan antar perempuan." Kata Chie sambil menggeret Teddie ke area lain. Dan aku memutuskan untuk mengikuti Chie.

#Yukiko's POV#

"Sakura-chan, apa yang kau lakukan di sini?"

hening. Ia pun tak membalas- "Aku hanya…berpikir sejenak." Oh, ternyata ia masih mau membalas pertanyaanku. Aku pun melangkah mendekat hingga sampai tepat di sebelahnya.

"Boleh aku duduk di sebelahmu?"

"Tentu." Balasnya singkat. Sesuai izin yang diberikannya, aku duduk di sebelahnya. Kulihat tatapan matanya tertuju ke langit malam yang penuh dengan bintang berkilauan yang menghiasinya.

"Kata Onii-chan, setiap kau merasa sedih, pandanglah bintang yang ada di atas kepalamu…hitunglah jumlahnya. Maka dengan begitu beban yang ada di hatimu akan sedikit terangkat," katanya dengan tangan yang terulur ke atas seperti akan menggapai bintang-bintang itu. "Tapi aku tak merasa begitu sekarang."

"Sebuah bintang tak akan mampu mengangkat begitu banyak penderitaan sekaligus. Sebuah bintang tak akan cukup memberi petunjuk ke arah mana kita harus melangkah. Menyimpan berbagai penderitaan seorang diri pun juga tak akan membantu. Perlahan-lahan kau akan hilang ditelan oleh penderitaan itu sendiri." Kataku panjang lebar berdasarkan pengalaman. Aku mampu merasakan perpindahan arah pandang Sakura yang kini tertuju padaku.

"Maksudnya?" nadanya terdengar jelas sekali menunjukkan ia masih belum paham.

"Sakura-chan, kau tahu kenapa sebabnya di langit sana selalu ada berbagai bintang?"

Ia pun menggeleng pelan, lalu kembali menatap ke langit hitam.

"Itu karena di dunia ini tak ada yang sendirian. Tak seorang pun akan mampu mengangkat penderitaannya sendirian, tak akan ada seorang pun yang mencapai tujuannya jika ia sendirian. Jika penderitaan itu kau simpan sendirian tanpa membiarkan orang lain ikut merasakan penderitaanmu, maka penderitaan itu perlahan-lahan akan menghancurkanmu," kataku menolehkan kepalaku menghadapnya, lalu tersenyum lembut. "Itulah yang pernah diajarkan Souji-kun kepadaku."

Senyum pahit yang penuh dengan kesedihan pun mulai terlukiskan di wajahnya. Tatapan yang telah lama menyimpan kesedihan dan penderitaan pun juga keluar bersamaan dengan senyum sedihnya itu. Sebagai sesama wanita, tentu aku tahu perasaan itu. Perasaan takut kehilangan, perasaan putus asa, dan rasa rindu yang besar.

"Sejak berpisah dengan Onii-chan, aku telah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak menangis. Walaupun Onii-chan bilang tak apa menangis bila aku sedih. Tapi…kalau aku menangis…itu artinya aku telah mengaku kalah pada penderitaan ini. Itu sebabnya, aku terus percaya, suatu saat pasti ada waktunya untuk sedih dan senang." Aku pun mengelus-elus rambutnya yang panjang dengan penuh kelembutan. Aku yakin Souji-kun pasti bangga sekali punya adik seperti Sakura-chan. Gadis yang benar-benar kuat. Gadis yang tak mau menyerah begitu saja kepada kenyataan.

"Ya. Aku bangga padamu, Sakura-chan." Kataku kemudian merangkulnya.

_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+

#Chie's POV#

Sebenarnya aku sedikit heran dengan tingkah Sakura-chan yang sekarang mendadak berubah ceria lagi. Dia ini gadis apa sih, bisa secepat itu mengubah suasana hatinya dalam sekejap? Yukiko memang hebat dalam menenangkan perasaan seseorang. Sementara Yosuke dan Teddie terlihat seperti orang blo'on yang sedang memandangi tingkah-tingkah Sakura-chan yang menurut mereka berdua normal. Tidakkah aku salah lihat? Sakura saat ini sedang bejalan riang memimpin kami semua entah ke mana arah tujuannya sambil bersiul-siul ria.

"Eh, apa saja yang kau katakana padanya, Yukiko? Kenapa dia tiba-tiba bisa jadi ceria begitu?" jujur saja, aku jadi penasaran berat. Kulihat Yukiko hanya terkikik pelan, lalu tersenyum jahil ke arahku. "Rahasia! Hihi!"

"Bah, kau tetap sama saja seperti dulu. Tak pernah berubah. Hyena aneh ya tetap hyena aneh…" ledekku sengaja memancing tawanya yang sudah lama kurindukan ini.

"Grkh…Chi-Chie…ahaha…Hy-Hyena aneh? Huhu..srk….hee-hee….ahaha…ahahaha..hee-hee….ahahahahahahahaha!!!" nah 'kan, berhasil sudah aku mengembalikan suasana tegang menjadi ceria.

Sakura pun menoleh ke arah kami diikuti Teddie dan Yosuke yang geleng-geleng pelan sambil memijati keningnya. Tampaknya Yosuke masih belum kebal dengan tawa Yukiko yang satu ini.

"Astaga, kukira penyakit lamanya sudah hilang. Ternyata…"

"Ah, ternyata Yukiko-san suka tertawa seperti itu toh. Ahaha…tertawa itu se- GYABOO!!" maki Sakura tiba-tiba ketika ia dijerat oleh…..er….segelondong kain? Ia dibuntal-buntal oleh kain itu erat-erat. Katananya pun terjatuh. Nah sekarang sudah terlihat jelas ia tak bisa berkutik lagi. Aduh…aduh….belum sempat kita beristirahat sudah didatangi shadow baru. Tapi shadow apa ini? Aku belum pernah melihat yang bertipikal kain sebelumnya. Anehnya lagi, kain ini tidak dapat dirobek oleh Pisau milik Yosuke ataupun cakar milik Teddie. Apa mungkin pisau dan cakar mereka berdua yang memang tumpul yah?

"Konohana Sakuya! Agidyne!!" Yukiko nampak sibuk memanggil personanya. Kain itupun masih tidak terbakar walaupun diserang oleh Agidyne milik Yukiko. Sekarang kain macam apa lagi ini yang tak bisa dibakar?

"Yosuke, coba kau potong kainnya dengan Garudyne!" kataku memberi usul sambil melompat sedikit menjauhi gelondongan kain ganas itu.

"Tidak bisa!" balas Yosuke yang juga sibuk menghindar dari sabetan kain aneh. "Nanti bisa mengenai Sakura-chan! Aku tidak se-ahli Yukiko-san yang bisa mentarget serangan magic begitu tepat!"

perlu kuakui, kadang-kadang Yosuke ini memang tidak bisa diandalkan di saat-saat tertentu.

'Aku benci dunia ini….'

Suara siapa itu?! Dari mana suara itu berasal?! Aku refleks mencari arah sumber suara itu. Kedua mataku bertemu pandang dengan kedua mata hitam Yukiko yang sepertinya juga sibuk mencari sumber suara berasal.

'Hidup adalah penderitaan, sementara penderitaan adalah hidup…'

Dari nada bicaranya aku tak bisa menentukan shadow siapa ini yang sedang berbicara. Kanji? Rise? Naoto? Seingatku tak ada yang bermasalah dengan hidup sampai-sampai membenci dunia ini.

'Orang-orang selalu menilaiku dari segi penampilan saja! Padahal aku tak seperti apa yang mereka bayangkan! Aku telah berubah! Tapi mereka tak menghargai perubahan yang telah mati-matian kuperjuangkan itu!'

Aha! Sampai di sini aku tahu milik siapa Shadow ini. Tak perlu kuberi tahu sekarang pun nanti pasti muncul juga siapa pemilik shadow kain ini.

"Teddie, scan area sekitar! Sekarang!"

"Siap! Kuma!"

Yukiko dan Yosuke bersama-sama menyerang dengan elemen mereka masing-masing, berusaha semaksimal mungkin agar tidak mengenai tawanan yang tidak lain adalah gadis ceroboh keturunan Seta itu. Aku baru sadar kalau aku telah melakukan kesalahan besar yang cukup fatal. Semakin gencar Yukiko dan Yosuke menyerang, maka semakin erat juga lilitan kain itu membungkus Sakura-chan.

"STOP!! Jangan teruskan serangan!"

#Sakura's POV#

Aku merasa sedikit lega mengetahui Chie-san sadar kalau kain yang melilitku ini semakin erat tiap kali diserang. Begitu serangan dihentikan, perlahan-lahan kain mulai sedikit mengendor. Apa-apaan ini?! Aku dijadikan sandera?! Kurang ajar! Aku tak bisa berkutik di tengah bungkusan kain ini. Katanaku terjatuh cukup jauh dari posisiku dililit sekarang. Mustahil untuk menggapainya. Padahal aku yakin sekali kalau kain ini bisa dipotong dengan katanaku itu. Aku ingin memberitahu mereka, tapi napasku sudah cukup sesak untuk mengucapkan beberapa kata. Untuk bernapas saja susah, apa lagi untuk berteriak.

"Sakura-chan, kau baik-baik saja?!" Tanya Yosuke dari kejauhan. Aku hanya bisa menggeleng-geleng lemas, berharap ia bisa mengerti arti isyarat yang kuberikan disamping kata tidak.

"Teddie, bagaimana hasil scannya?" Tanya Yukiko cepat. Bahkan Yukiko masih belum sadar dengan keadaanku yang sudah sesak ini. "Cepatlah, Ted! Sakura-chan sedang dalam bahaya!!"

Untunglah, sepertinya dugaanku yang sebelumnya salah. Yah, cukup sudah. Aku tak ingin melanjutkan menyaksikan peperangan mereka lagi. Perlahan-lahan apa yang ada di sekitarku semuanya berubah menjadi gelap total.

Hal pertama yang kurasakan ialah perasaan hangat yang mengitariku, lalu ketika aku membuka mata aku sedang berbaring di sebuah ranjang. Langit-langit ruangannya berwarna putih cerah, tipikal rumah sakit pada umumnya. Kemudian aku menoleh ke kanan dan kekiri, mendapati Onii-chan sedang tertidur tepat di sebelahku.

"Onii-chan? Onii-chan?" yang mengherankan, aku berbicara sendiri di luar kendaliku. Tanganku pun juga terulur dengan sendirinya mengelus-elus pundak Onii-chan. Kenapa? Kenapa aku merasa seperti dikendalikan? Kenapa aku merasa hanya seperti menonton saja?? Kenapa bisa???

"Sakura-chan, kau sudah bangun? Hoamm….," Onii-chan menguap lebar. Terlihat jelas sekali wajahnya yang menampakkan kelelahan yang amat sangat di wajahnya. Lalu aku melihat jas sekolah yang tersampir di kursi yang didudukinya. Jas itu…aku tak pernah melihat Onii-chan memakai jas itu sebelumnya. Dan aku juga tak pernah ingat pernah berada di rumah sakit sebelumnya. Ketika aku menghadap jendela rumah sakit yang berada tepat di sebelahku, aku melihat bayangan wajahku terpantul di sana. Aneh, pikirku.

"Onii-chan, sekolahnya bagaimana?" tanyaku lagi-lagi di luar kendali. Onii-chan tampak lelah, namun berusaha menyembunyikannya dariku. Dengan lembut ia mengelus-elus rambutku yang berwarna sama dengannya. Sambil tertawa ia menjawab pertanyaanku.

"Baik-baik saja. Ceritanya panjaaaang sekali. Kapan-kapan kau mau mendengarnya?"

"Sakura-chan tak mau kapan-kapan! Sakura-chan maunya sekarang."

"Eits, tapi kau kan harus banyak istirahat. Kalau sakit lagi gimana?"

"Tapi Sakura-chan sudah sembuh kok. Lihat!" aku tak ingat pernah sekeras kepala itu dengan Onii-chan. Tentu saja Onii-chan langsung dengan sigap menggendongku kembali begitu ujung ibu jari kakiku nyaris menyentuh permukaan lantai rumah sakit. Ia kembali menidurkanku di ranjang seperti semula, lalu menggeleng-geleng.

"Dasar anak nakal." Keluhnya sambil berpura-pura memasang tampang marah. "Siapapun yang memiliki adik sepertimu memang harus lincah. Kalau tidak…"

"Kalau tidak?"

"Kau sudah kabur duluan." Katanya kemudian sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Aku pun tertawa-tawa melihat gaya acting Onii-chan yang benar-benar buruk sekali. Hahaha, pantas saja nilai kelas dramanya selalu merah. Ahahaha, Onii-chan selalu terlihat kikuk setiap kali berakting.

"Hee-hee, Onii-chan aktingnya jelek sekali. Ahahaha, siapapun pasti tahu kalau Onii-chan tidak sedang benar-benar marah. Ahahahaha."

Tak lama setelah kami sama-sama tertawa, Otou-san dan Okaa-san datang beserta dengan…seorang lelaki yang sedikit lebih muda dari ayah dan seorang wanita yang sepertinya sebaya dengan lelaki yang tak kukenal itu. Si lelaki memakai kemeja berwarna abu-abu tua dengan sebatang rokok yang terselip di bibirnya. Dengan segera wanita yang berada didekatnya itu menarik batang rokok itu lalu membuangnya ke tong sampah terdekat.

"Tu- Chisato!" kata si pemuda itu mau protes, namun batal karena melihat tampang si wanita yang bernama Chisato itu yang akan segera mengomelinya sesaat lagi.

"Ryo! Di rumah sakit dilarang merokok!" dengan sekali teguran, lelaki yang bernama Ryo itu langsung menggaruk-garuk kepalanya. Menandakan ia mengaku kalah.

"Okaa-san! Hari ini bawa buah apa lagi?" tanyaku berseri-seri. Berharap Okaa-san membawakanku buah apel kesukaanku. Okaa-san kemudian meletakkan sebuah keresek plastik yang berisi buah di atas pangkuanku. Begitu aku membukanya, harapanku pupus sudah.

"Buah Pear!!" kataku senang untuk yang kesekian kalinya di luar perkiraan dan kendaliku. Bibir ini rasanya seperti berbicara sendiri. padahal aku tak suka buah pear.

Lalu Otou-san yang sedang mengenakan baju putih mirip professor mendekatiku dengan sebuah statoskop di genggaman tangan kanannya.

"Nah, kalau mau makan buah Pear, diperiksa dulu ya. Setuju?"

Aku pun menggerutu pelan, namun mengangguk-angguk saja. "Aku benci diperiksa. Ini mengingatkanku kalau aku sakit!" ternyata Okaa-san sengaja membawa buah pear sebagai pancingan agar aku mau diperiksa. Sementara Onii-chan dan lelaki yang dipanggil Ryo itu keluar kamar. Meninggalkan Otou-san, Okaa-san dan Chisato-san di dalam ruangan.

"Huu, tapi Sakura-chan tidak mau disuntik ya!" Otou-san langsung tertawa.

"Haha, tentu tidak, Sakura-chan. Lihat, ayah tidak membawa satu jarum pun." Lalu Chisato-san pun membuka tasnya dan mencari-cari sesuatu. Setelah menemukan barang yang dicarinya, ia mengeluarkannya dan menyodorkannya padaku.

"Nah, kalau mau diperiksa, Sakura-chan juga akan mendapat buku ini." Katanya dengan senyum indah yang mengembang. Lagi-lagi pancingan agar aku mau diperiksa.

"Tapi kau harus mau diperiksa dulu, Sakura-chan. Kalau tidak Bibi Chisato mu ini tak akan mau memberi buku itu." Bibi? Aku tak pernah tahu kalau aku punya bibi yang bernama Chisato. Lelaki yang bernama Ryo itu pun aku juga tak pernah tahu sebelumnya.

Beberapa saat setelah pemeriksaan aku sudah memegang sebuah pear di tangan kananku sambil menggigitnya dengan lahap. Saat ini yang menemaniku hanyalah Onii-chan saja. Bibi Chisato, Otou-san, Okaa-san dan lelaki yang bernama Ryo itu sedang makan malam di kantin rumah sakit.

"Hunn…Ooishi! Oya, cerita dong mengenai kejadian di sekolah Onii-chan hari ini. Sakura-chan mau dengar!"

Onii-chan yang sedang bertopang dagu pun tampak seperti masih mempertimbangkannya lagi secara cermat sebelum asal ceplos.

"Humm..cerita tidak ya???"

"Ayolah, Onii-chan! Onegai!" kataku memohon sambil memasang tampang puppy eyes.

"Iya-iya. Sudah, aku tak tahan melihat tatapan maut mu itu." Hahaha, tak butuh waktu lama untuk membuat Onii-chan mengaku kalah.

"Tadi pagi, Onii-chan bertemu dengan eum…eh.."

"Seorang gadis!" kataku kemudian sambil mengunyah-ngunyah pear yang baru saja kugigit.

"Dasar tukang ngintip!"

"Hahaha, tebakan Sakura-chan benar!! Yaaay!!!"

"Kecil-kecil sudah memikirkan hal-hal yang romantis. Heh, berbahaya memiliki adik sepertimu."

"Sudah-sudah, lanjutkan saja lagi!"

Onii-chan pun membetulkan posisi duduknya dan melanjutkan ceritanya mengenai apa yang dialaminya hari ini. Onii-chan bercerita, ia bertemu seorang gadis berambut hitam yang sebaya dengannya di dekat Samegawa River. Onii-chan bilang ia sedikit tertarik dengan gadis itu saat pertama kali melihatnya karena warna baju dan pita rambutnya berwarna sama, yaitu merah.

"Lalu, Onii-chan tahu namanya tidak? Ungg…atau alamat rumahnya begitu??" tanyaku antusias. Onii-chan tampak sedikit murung saat itu. "Kenapa? Onii-chan dilempari batu oleh gadis itu?" kemudian Onii-chan tertawa terbahak-bahak.

"Tentu saja bukan. Entahlah, kami hanya berbicara sedikit saja. Yang Onii-chan tahu tentangnya, ia tak suka salju. Dia sangat feminine dan ramah. Kami tidak sempat memperkenalkan diri masing-masing." Cerocosnya panjang lebar sambil bernostalgia mengenai kejadian yang menimpanya hari ini. Tunggu, sepertinya deskripsi Onii-chan….mirip sekali dengan seseorang. Tapi siapa ya?

"Syuuu….Onii-chan sedang jatuh cinta!! Yeeee!!!" sekilas aku dapat melihat semburat merah di wajah Onii-chan . Ia tampak kikuk, segala sangkalannya terbata-bata.

"Ahahaha, sudahlah jangan mencoba menya- *cough*….*cough*…." Dan akupun mulai terbatuk. Sementara Onii-chan langsung menekan bel yang ada di sebelah ranjangku begitu batukku tak kunjung henti. Napasku perlahan-lahan mulai terasa sesak.

"Sakura-chan!!" dan pintu kamar terbuka lebar, tampak Otou-san dan beberapa suster yang segera mendekati ranjangku. Okaa-san segera menyeret Onii-chan yang tampaknya masih kaku melihatku seperti ini.

Ya, aku ingat! Gadis yang dikatakan Onii-chan itu tak lain adalah Yukiko-san! Tunggu, kalau Onii-chan pernah bertemu Yukiko-san, itu artinya ia pernah ke Inaba sebelumnya. Tapi kenapa aku tak ingat pernah pergi ke Inaba? Kenapa aku tak ingat pernah masuk rumah sakit sebelumnya? Rasanya seperti….aku tak memiliki kenangan masa kecil sebelumnya. Aku tak pernah ingat pernah bertemu dengan bibi Chisato dan lelaki itu. Aku juga tak ingat Otou-san pernah berprofesi sebagai dokter.

#Yukiko's POV#

"Bear-sona!! Diarama!!" seru Teddie memanggil personanya untuk meng-heal Sakura-chan yang sedang tidur di pangkuan Yosuke-kun saat ini. Teddie pun akhirnya jatuh terduduk, sepertinya kelelahan. Sampai saat ini Sakura-chan belum bangun-bangun juga. Untunglah tak lama setelah Sakura tak sadarkan diri, Kanji muncul dengan katana milik Sakura-chan menebas gelondongan kain yang melilit erat-erat Sakura-chan hingga robek. Tak lama muncul sebuah shadow beruang di dekat shadow gelondongan kain. Tentu saja shadow beruang itu shadow milik Teddie. Yah, memang cukup sulit juga sih mengalahkan kedua shadow itu sekaligus, kami semua nyaris saja tewas di tempat kalau tidak diselamatkan oleh seorang pemuda misterius dengan skill katana yang luar biasa. Dalam sekali gores, kedua shadow besar yang sulit dikalahkan itu lenyap dan berubah menjadi shadow yang menyerupai Kanji-kun dan Teddie. Setelah menyaksikan proses penerimaan Shadow Kanji dan Teddie, pemuda itu menghilang ditelan kabut.

"Teddie caphe, Kuma! Kura-kura-chan!!! Banguuuuun!!!"

JEDOAK!!!! NGUUUIIIIIIINGGG….GEDEBUKKK!!!

"Grrr, siapa itu tadi yang memanggilku 'kura-kura'?!" nah, baru saja Teddie terkena serangan maut Sakura-chan yang secara tiba-tiba sudah berdiri sambil berkacak pinggang dan toleh kanan kiri mencari mangsanya yang terkena tinju telaknya tadi. Kadang aku sempat berpikir, Sakura-chan ini manusia asli atau bukan sih? Kenapa dia bisa pulih secepat itu dan berdiri dengan sekejap seperti orang yang sehat-sehat saja.

"Ouch…senpai, jadi inikah adiknya Souji-senpai itu? Bah, anak kecil ini berbeda sekali dengan senpai!" komentar Kanji-kun dengan memasang muka tak berdosa. Aduh, Kanji-kun….bersiap-siaplah menjadi sansak tinju Sakura-chan yang berikutnya.

"Heh, aku tak minta pendapatmu, preman!" kata Sakura-chan penuh keberanian, tak sedikitpun rasa takut terlihat di sorotan matanya.

"Heh, aku bukan preman, bocah!" balas Kanji tak kalah kasar, kupikir itu wajar sekali kalau Sakura-chan memanggilnya preman. Kanji-kun sih, penampilan luarnya memang benar-benar mirip preman…mau bagaimana lagi? Sementara Kanji-kun dan Sakura-chan bertengkar, aku melihat Chie-chan dan Yosuke-kun sedang…err….sepertinya mereka berdua sedang mendoakan agar roh Teddie tenang di alam lain sana. Dasar…

"Yosuke!! Apa-apaan kalian berdua, kuma?!"

"Oi, preman! Tunjukkan arahnya ke Yasogami High dong!"

"Sudah kubilang, aku bukan preman, bocah! Namaku Kanji!! K-A-N-J-I, Kanji!"

"Iya-iya, tepung! Cepat tunjukkan jalannya!"

kira-kira seperti itulah kegaduhan di sekitarku saat ini.

To Be Continued

__________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Wahahahahahaha, akhirnya bisa saiya updet juga! Weh, udah berapa zaman yah saiya g ngliat2 fanfic??? Begitu saiya buka fanfic megami tensei pas saya nganggur dan BOOM…ledakan terjadi akibat banyak fanfic yg belon saiya baca. Lah2, kok malah jadi reporter. Aniwei, di sini saiya gak munculin peristiwa penerimaan shadow Kanji & Teddie, jadi mohon maaf yah…karena wkt ngarang chap ini author lagi males dan kehabisan ide mau seperti apa waktu ngelawan shadownya 1 orang dan 1 beruang itu. Makanya saiya skip dan saiya gantikan dgn **h***a**k*r*. hehehehehe, masih disensor dulu yach, klo udah saiya bocorin di sini ntar ga seru dunks. Hahahaha, saying tuh sensor bocor beberapa huruf, silahkan menebak apakah tulisan yang disensor itu??? Heheheheh (diculik trus dipaksa ngomong ama pembaca plus dicekik2 karena merepotkan pembaca) gyabooo!!! Tatsukete!!! Dareka tasukete!!!

Dan ucapan hontou ni arigatou gozaimasu kpd para pembaca dan reviewers seperti : Tetsuwa Shuujin, Black-Cat-Yoruichi, Iwanishi Nana, ai emma, sora45, lalapyon, fukuta neko, Shina Suzuki, 'T-800' MacTavish

Hehehehe, setelah absen selama 2 zaman lebih (ditabok pake sandal) akhirnya saiya dapet ide cemerlaaaaaaaang!!! Yeah!!!!! Senangnya hati q dapet ide cemerlang (ditabok pake papan kayu karena mlh promosi obat demam) hehehehe, see you next chap. Oya, lagi2 gomen yach klo updetnya lama. Hehehehe (ditabok pake wajan panas) GYABOOOOO!!!! ,