Author's note: heheh, kenapa aq blakangan ini lbh suka ngelanjutin nih fic yach??? Humnnnnn…hahahaha, soalnya saiya pny segudang miteri yg siap dituliskan di fic ini satu per satu. Hehehehehe..oya, kyknya tambah lama tambah OOC nih ya??? Yaaaa.....saiya sendiri sampe ga nyadar (diceburin ke kolam ikan piranha) mukyaaaaa!!!!
__________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Chapter 6: The Missing Mystery
The two of us connect the lines
And soon everyone will reach the ocean
so we can be as one, I'm not scared
oh oh you don't have to accept
everything that happens
our pain now flies away
Utada Hikaru – Deep River
__________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
"Professor! Kondisinya semakin parah!" kata seorang berjubah putih seperti dokter yang sedang berada tepat di samping alat-alat medis yang begitu lengkap. Ia tampak sibuk sekali memperhatikan kondisi pasien.
"Kritis! Cepat lakukan sesuatu, Professor!"
Sementara seorang lelaki yang juga berjubah putih panjang sama seperti asistennya hanya dapat berdiri dengan kaku.
"Professor!!"
#Yosuke's POV#
Yah-yah, terakhir kali aku melihat jalanan di Samegawa River yaitu 10 tahun yang lalu. Lalu sekarang sudah berubah drastis seperti ini. Untung Samegawa river ini jalanannya hanya lurus saja, jika tidak, maka kami semua pasti sudah benar-benar tersesat. Jangankan aku, Yukiko-san dan Chie-chan yang lahir di desa ini saja sampai tidak mengenali jalanan yang dulu pernah mereka lewati. Di Inaba waktu seolah-olah berhenti, langitnya selalu gelap layaknya langit malam. Entah apa yang menyebabkan ini semua, Inaba telah berubah menjadi desa mistis.
"Hei, jadi tujuan kita selanjutnya adalah Yasogami High?" tanyaku memecahkan keheningan di antara kami berenam.
"Ehum," Gumam Chie pelan menandakan iya. Aku dan Chie jalan belakangan, sementara Yukiko-san, Sakura-chan, Kanji dan Teddie berada lumayan jauh di depan. "Ne, Yosuke. Umm...apa kau..."
"Apa?" kataku sambil melipat tangan di belakang kepala. Chie pun menggeleng-geleng saja.
"Ahaha, lupakan saja. Tidak penting kok." Dasar, sudah jelas aku bisa menangkap sinyal-sinyal keraguan dari nada bicaranya. Ingin sekali rasanya mengorek-ngorek apa yang akan ia katakan padaku barusan.
"Sudahlah, katakan saja. Toh tak akan ada yang mendengar kecuali aku." Chie tampak mempertimbangkannya lagi. Mempertimbangkan akan mengatakannya atau tidak. Dalam sekali lirik, sekilas aku melihat wajahnya yang seikit merona merah. Aku semakin penasaran dengan perihal yang ingin ditanyakannya padaku.
"Eh, um...mengenai apa yang shadowku katakan tempo hari....itu....lupakan saja ya?"
"Eh?" aku jadi bingung dengan maksudnya sekarang, aku tahu ini bukan saat yang tepat untuk bercanda, Chie sedang menunjukkan sisi rapuhnya padaku.
"Kau....menyukai...Sakura-chan, kan?" tanyanya kemudian, membuatku terkejut karena pertanyaannya benar-benar di luar pikiranku. Sulit sekali menentukan ia sedang bercanda dan sekedar mengusiliku atau dia serius. Aku bingung. Jika aku menjawab 'ya' hanya untuk sekedar menjaga image, Chie kemungkinan besar akan...
"Apa maksudmu, Ch-Chie?" sekarang aku ikut-ikutan merona merah.
"Ya, lupakan. Hahahaha, sudah-sudah ayo kita lanju-" sepertinya ada yang salah dengan sistem kerja otakku saat ini. Biasanya Chie akan menghajarku habis-habisan bila aku secara berlebihan menjahilinya. Kini aku penasaran dengan apa yang akan dilakukannya jika aku melakukan hal ini kepadanya. Aku menarik lengan kanannya, merangkul pinggangnya dan mendekatkan tubuhnya padaku dan terakhir aku mendekatkan wajahku ke wajahnya hingga bibir kami saling bersentuhan. Chie tampak seperti baru saja terkena sengatan listrik tiba-tiba tepat ketika bibir kami bersentuhan. Tiba-tiba ia melepaskan diri dari rangkulanku dan berbalik memunggungiku sambil tertunduk. Aku pun juga membuang pandanganku ke arah yang lain, saat ini tentunya aku tak mampu melihatnya lurus-lurus seperti biasa.
"Yo-Yosukeeee!!! Kau- kau-....." Chie tampak malu setengah mati, sampai-sampai ia tersandung batu segenggam tangan yang berceceran dan terjerembab ke aspal yang pecah-pecah itu.
"Ch-Chie! Ung...kau...tak apa 'kan?" tanyaku sedikit canggung setelah apa yang kulakukan tadi padanya.
"Oh, aku sangat tidak baik-baik saja!! Lihat, kakiku terkilir!! Dan juga jangan sok baik denganku!" tingkahnya kembali seperti semula.
"He-hei, ayolah, aku hanya ingin menolongmu saja!"
"Oh, merebut ciuman perta- ups....aaaaaaah!!! Sudah-sudah!!" nah, lagi-lagi aku tahu satu rahasia Chie. Si tomboy berjaket hijau ini masih terus merengut dan membuang pandangannya dariku. Aku benar-benar tidak tahu dia ini benar-benar marah atau tidak.
"Hah, kau ini...makanya jangan tomboy-tomboy, ini akibatnya."
#Chie's POV#
Gyaaaaa!!! Yosuke mencuri ciuman pertamaku!!! Tidaaaaaak!!! Apa yang harus kulakukan padanya? Memukulnya?? Membelahnya menjadi dua? Mencincangnya? Graaaaahh!!! Apa sih maksudnya dengan tiba-tiba melakukan hal seperti itu?!! Sekarang karena gugup, aku sampai jatuh terjerembab dan kaki kananku terkilir. Huh, malunya bukan main! Dan gawatnya lagi, aku keceplosan!! Gyaaaaa!!! Hancur sudah rahasiaku!!!
"Hah, kau ini...makanya jangan tomboy-tomboy, ini akibatnya," Tuturnya seperti menuturi anak TK. Aku tetap buang muka, lalu entah apa yang dilakukannya, ia berjongkok di depanku. "Ayo cepat, kita bisa ketinggalan!"
"Cepat apanya?"
"Cepat naik!"
"Tidak mau, nanti kau malah berkomentar kalau aku ini berat! Aku tak suka itu!"
"Hih, kau ini menyebalkan dan merepotkan sekali!" dengan paksa ia menarik kedua tanganku merangkulnya dari belakang lalu ia segera bangkit berdiri dan berjalan menyusul yang lain. Awas saja yah, berani-beraninya dia menyentuh bagian kakiku seperti itu. Jantungku jadi berguncang keras, semoga saja Yosuke tak dapat merasakan degup jantungku yang menjadi cepat secara drastis ini. Sambil merangkulnya erat-erat aku menyembunyikan wajahku di balik punggungnya, aku benar-benar tak tahu harus bersikap apa lagi di hadapannya setelah kejadian tadi.
"Kukira kau berat, ternyata ringan juga ya! Hahaha dan...."
"Dan apa?"
"Maaf soal yang...err...tadi ...." hahaha, soal ciuman itu? Hummm....aku akan memikirkannya terlebih dahulu mengenai memberi pembalasan atau tidak.
"Baka," kataku masih menyembunyikan wajahku. "Anata wa hontou ni baka. Demo....Je'et Aime!"
#Yosuke's POV#
Hah, Chie marah padaku. Tentunya aku bingung bagaimana harus meminta maaf kepadanya. Aku yakin, jika kakinya baik-baik saja ia pasti akan menendangku seperti menendang sampah. Pikiranku benar-benar buntu, aku tak tahu harus bagaimana. Kuputuskan meminta maaf sebisaku, walaupun kedengarannya kikik sekalipun.
"Maaf soal yang...err...tadi ...." kataku pelan nyaris berbisik. Aku mendengar Chie menyeringai pelan di balik punggungku.
"Baka," hah? Kenapa dia memanggilku seperti itu? Tunggu, bukankah dia memang selalu memanggilku seperti itu dulu? "Hontou ni baka. Demo....Je'et Aime!"
Nah, kata apa lagi itu 'je'et aime'? aku tahu itu bahasa perancis, tapi aku tak bisa menterjemahkannya. Aku tak pernah suka pelajaran bahasa perancis. Hampir di setiap jam pelajarannya aku tertidur pulas tanpa mendengarkan perkataan-perkataan sensei yang sedang berceramah dengan senang hati di depan. Walaupun Souji sering melempariku gumpalan-gumpalan kertas supaya aku segera bangun saat sensei sedang berjalan mendekati lokasi bangkuku, aku tetap saja tertidur. Itu sebabnya aku tak tahu kata terakhir Chie yang dikatakan dalam bahasa perancis itu. Harus kuakui, aku sedikit menyesal dengan kesempatan belajar bahasa perancis yang kubuang begitu saja secara cuma-cuma. Andai saja dulu aku mendengarkan sensei, pasti aku suda tahu apa yang dimaksud Chie. Aku yakin, Chie sengaja mengatakannya dalam bahasa perancis karena dia tahu aku buta bahasa perancis!
"Eh? Apa itu? Aku tak mengerti bahasa perancis!"
"Hah, siapa suruh kau selalu tidur saat jam pelajaran bahasa perancis??"
"Ayolah, beri tahu aku apa itu 'je'et aime'! yah?"
Gadis yang sedang kugendong ini semakin mempererat rangkulannya di pundakku, sepertinya ia takut jatuh terguling ke belakang. Aku dapat mendengarnya meringis geli di sela-sela tawa halusnya.
"Ha! Akan kuberitahu setelah kau tahu! Aku tak mau menyerah semudah itu yah!"
Dasar!! Gadis satu ini...dari dulu sampai sekarang...tetap saja keras kepala!!
#Sakura's POV#
Awalnya kukira Chie-san dan Yosuke-san tertinggal di belakang. Lalu begitu aku menoleh...ternyata....yah...lebih baik jangan dibicarakan. Sementara di sepanjang perjalanan, Kanji-san dan Teddie sedang saling...yah...sepertinya mereka saling berlomba jalan cepat. Aku sih tidak mau ikut-ikutan, dan aku juga tidak mau memimpin terdepan lagi. Kenapa? Oh, itu karena aku tak mau tragedi pingsan karena dijerat kain terulang kembali. Bagiku, cara pingsan seperti itu sangatlah konyol! Padahal saat di sekolah dulu aku tak pingsan-pingsan juga walau sudah lari memutari lapangan parkir sebanyak 10 kali lebih. Lalu kini aku pingsan hanya karena segelondongan kain ajaib?? Konyol!! Kalau teman-temanku ada di sini sekarang juga, mereka pasti sudah menertawaiku sejak tadi.
Ngomong-ngomong, aku rindu juga dengan teman-temanku. Yue-chan dan Rionne-chan sedang apa ya sekarang?? Lalu Okaa-san dan Otou-san juga sedang apa ya?? Mengingat kedua orang tuaku, aku segera mengecek HP-ku dan sial sekali nasibku!! HP ku ternyata sudah tidak aktif!! Kyaaaaa, Otou-san dan Okaa-san bisa cemas!! Nanti kalau sampai mereka mengclaim aku hilang bagaimana??!! Gyaaaa!!! Bodoh!! Bodoh!!! Kenapa aku terlalu bodoh dan malah terbawa rasa penasaranku untuk menaiki kereta misterius itu yah?? Huuuh...nasib...
"Sakura-chan? Kenapa? Kelihatannya kau sedang mencemaskan sesuatu." Nah, kukira Yukiko-san terlalu sibuk dengan tawanya yang susah berhenti itu, ternyata sejak tadi ia sudah berhenti tertawa dan terus mengamatiku. Astagaaaa, aku ini teledor sekali sih?! Kalau aku seorang kunoichi (ninja perempuan) mungkin aku sudah melakukan kesalahan fatal, yaitu jatuh dari atap rumah musuh yang kuincar.
"Ah, bukan. Apa di sini tidak ada charger HP?? HP ku battreynya habis."
"Eh, Sakura-chan, kukira kau sudah tahu kalau mustahil sekali menemukan listrik di tempat seperti ini. Tempat ini sudah nyaris rata dengan tanah."
"Oh, ya. Benar juga." Lalu aku pun tertunduk lesu. Kemudian aku teringat lagi dengan mimpi atau mungkin semacam siluet yang tadi kudapat saat pingsan.
"Ung, Yukiko-san, kau dulu pernah tidak bertemu dengan anak laki-laki berambut abu-abu saat kau berusia sekitar 12-14 tahun??"
Yukiko-san tampak bernostalgia kembali sambil menutup kedua matanya, lalu tiba-tiba berhenti melangkah dan menghadap ke aliran sungai Samegawa.
"Di sana!" lalu ia seperti terburu-buru sekali menuju ke pinggiran sungai yang sedikit berumput. Aku pun mengikutinya, sementara yang lainnya menunggu di atas, kalau Yosuke-san dan Chie-chan aku tak tahu mereka sedang apa sementara kami berdua sedang berada di pinggiran sungai. Yukiko-san kemudian menyusuri pinggir sungai beberapa langkah, seperti mencoba mengingat-ingat sesuatu. Kemudian ia beranjak mendekati sebuah pohon yang cukup tua di sana. Setelah tepat berada di bawah pohon yang kini daunnya telah tiada dan batang kayunya yang rapuh dan nyaris roboh, Yukiko-san meraba-raba permukaan rumput liar kering yang menutupi akar-akar pohon yang besar itu. Kemudian seperti sulap, tiba-tiba ia sudah berbalik ke arahku dengan sebuah kotak kayu tua di kedua tangannya.
"Dulu kami pernah bermain-main di sini. Sayang sekali aku tak pernah tahu namanya. Yang jelas tatapan matanya menenangkan, kehadirannya selalu membawa canda tawa sesedih apapun seseorang saat itu. Dia...err, kami berdua sering main bersama-sama di sini."
"Lalu, isi kotak itu apa?" tanyaku kembalipenasaran dengan isinya. Maklum, aku mudah penasaran. Semakin tidak diperbolehkan, semakin ingin tahu.
"Pada hari terakhir kami bertemu, ia terlihat sedih sekali. Dia bilang kita akan terpisah jauh untuk waktu yang sangat lama. Lalu sebuah ide muncul di kepalaku. Aku mengusulkan ide 'wish-promise' padanya dan ia setuju," Yukiko-san kemudian membuka kotak itu pelan-pelan, takut merusak kotak yang sudah umur di genggamannya. "Kami menuliskan keinginan dan janji kami di sini."
Aku pun menerima sodoran kertas-kertas yang sudah menguning darinya. Kemudian aku membacanya dan mulai tertengun...
"Apa Yukiko-san saat pertemuan terakhir itu juga masih tidak tahu nama anak laki-laki itu?"
"Begitulah. Meskipun di surat itu tertulis nama kami masing-masing, tapi aku tidak ingin melihatnya sekarang. Aku ingin melihat isinya bersama dengannya." Katanya dengan bibir yang semakin melebar karena senyum yang tak dapat ditahannya. Senyum orang yang sedang jatuh cinta...
"Jadi...anak laki-laki itu merupakan...cinta pertama Yukiko-san??" dan sekarang ia tampak tersipu-sipu malu. Lalu mengangguk-angguk pelan. Aku pun ikut-ikutan tersenyum mendengarnya. Kedua senyuman kami dibuyarkan oleh suara teriakan Kanji dari atas sambil melambai-lambai ke arah kami, menandakan agar kami segera menuju ke tempat di mana mereka berada. Aku pun mengembalikan kotak tua tersebut ke tempat asalnya beserta isinya lalu kembali ke pada yang lainnya bersama Yukiko-san.
#Kanji's POV#
Yeah, setelah dimintai menunjukkan jalan ke Yasogami High, aku malah dipukuli adik Souji-senpai yang sangat bandel dan menyebalkan ini! Apakah seperti ini caranya berterima kasih?!
"Hei, aku sudah menunjukkan jalannya, kan?! Kenapa malah dipukuli?!! Berterima kasihlah padaku!!"
"Apa?! Apa aku tidak salah dengar?!! Berterima kasih?!! Baiklah, aku amat sangat berterima kasih padamu karena KAU malah membuat kami semua tersesat!!!" kata si tomboy number 2 sambil menekankan kata 'kau' menunjukkan ia benar-benar menyalahkanku.
"Hey, mana kutahu kalau bangunan uang di hadapan kita ini sekolah atau bukan?!! Menurutku bangunan itu mirip sekali dengan Yasogami High dulu, karena itu aku menuntun kalian ke sini!" aku berusaha membela diriku. Tentu saja, sebagai lelaki aku tak ingin harga diriku dijatuhkan oleh cewek setengah cowok ini. Sakura-chan tampak menepuk dahi berkali-kali sambil menghela napas panjang.
"Kaaaaaanjiiii-san!!! Bisa tidak sih kau membaca plang yang masih menempel di pintu gerbang bangunan itu??!!! Rumah sakit tau!!!! Inaba Municipal Hospital!!! Apakah itu yang kau maksud dengan sekolah??!!" Gawat...aku benci rumah sakit!!
"A-apa?! Mustahil!! Aku benci rumah sakit!!!" teriakku panik. Ingat, aku punya phobia rumah sakit. Sejak dulu aku selalu benci rumah sakit karena, ayahku meninggal di rumah sakit karena mengalami kecelakaan saat menjalankan pekerjaannya.
#Teddie's POV#
Astaga!! Teddie rasa penyakit lama Kanji kembali menghantuinya, kuma! Hanya saja, pemandangan di hadapan Teddie saat ini berbeda jauh sekali dengan pemandangan sepuluh tahun yang lalu mengenai Kanji. Kanji terlihat panik dan gemetaran serta memeluk Sakura-chan erat-erat seperti guling, hanya saja kedua kakinya masih berpijak di tanah.
"GYAAAAH!! Aku benciiiii rumah sakiiit!!!!" Phobia Kanji kambuh lagi, kuma!!
"Aaaaaah!!! Lepaskan!! Lepaskan!!!" seru Sakura-chan sambil mendorong-dorong Kanji agar terlepas darinya. Yosuke hanya menghela napas panjang saja sambil menonton kejadian 'konyol' itu tanpa bisa berbuat apa-apa, sebab saat ini ia sedang 'terikat' dengan Chie, ditambah lagi kedua tangannya yang memberi support agar Chie tidak jatuh ke belakang, kuma. Lalu Yuki-chan terlihat sedang menahan tawanya mati-matian, kuma. Kini tinggal Teddie yang tidak sibuk dengan sesuatu, kuma.
"Kanji! Kanji! Stop, kuma!!!" kata Teddie sambil ikut-ikutan membantu Sakura-chan menarik Kanji darinya. Dan untunglah, akhirnya terlepas juga, kuma!! Yeahhh!! Dan sayangnya kata 'yeaah!!' itu tak berlangsung lama karena kini Kanji malah menempel pada kostum beruang Teddie yang imut nan lucu ini, kumaaa!!
"Ewww...Kanji...apa kau ingin jadi 'gay' lagi, kuma???" sekejap Kanji sudah melepaskan tubuhnya dari Teddie, kuma. Tampang wajahnya terlihat horor sekali! Andai saja Teddie bawa kamera, pasti akan Teddie foto dan cetak sebanyak-banyaknya, kuma!! Yippeee!!
"Yikeesss!!! NO WAY!!!" nah, dia sudah menentangnya dengan keras.
"Oh, ayolah, sebaiknya kita beri kunjungan saja bangunan reyot tua itu. Lagi pula, aku juga membutuhkan perban dan obat-obat yang lainnya sekarang untuk mengobati kaki Chie-chan yang terkilir." Jelas Yosuke panjang lebar yang mampu menghentikan kehisterisan Kanji.
#Yukiko's POV#
Ea, apa aku tidak salah dengar barusan??? Seorang Yosuke memanggil Chie ditambah dengan embel-embel 'chan'?!! ehm, aku yakin pasti ada apa-apa di antara mereka berdua. Kami pun melanjutkan perjalanan kami menuju ke pintu masuk rumah sakit yang sudah benar-benar roboh total. Di pintu masuknya, hanya ada sebuah celah yang tingginya hanya setengah dari tinggiku dan kira-kira lebarnya hanya selebar kostum beruang Teddie.
"Oya, Yosuke-kun, kenapa Chie tidak disembuhkan dengan Diarama saja? Kan lebih cepat dan efektif?" nah, aku mulai curinga dan penasaran dengan apa yang akan menjadi balas dari Yosuke-kun.
"Errr, itu, eh, yah, karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi sebaiknya kita menghemat SP, kan? Aku benar-benar tak ingin 'tragedi pelilitan kain' itu kembali terulang. Kalau Souji di sini, aku berani bertaruh kepalaku sudah melayang karenanya."
"Hahaha...ehehehe...ahahahaha...."
"Ayolah, Yukiko-san, jangan sek- ADAAAWW!!" aku pun berhenti tertawa ketika melihat Sakura-chan yang sudah berdiri tegap-tegap di sampingku sambil menginjak kaki Yosuke-kun dengan sepenuh hati sampai-sampai si pemilik kaki menjerit seperti itu.
"Huuuh, bukankah sudah kubilang, jangan ungkit-ungkit soal itu lagi!" protes gadis yang lebih muda 10 tahun ini pada si penggendong Chie. Setelah puas ,elihat ekspresi kesakitan Yosuke-kun, Sakura-chan pun melangkah memasuki lubang di pintu masuk mendahului kami bersama dengan Kanji serta Teddie.
Ternyata isi bangunan sangatlah horror. Siapa pun yang kemari, pasti pada malam itu juga tak akan bisa tidur dengan tenang, alam mimpi indah akan menjadi alam mimpi buruk. Isi dari rumah sakit ini sudah mirip sekali dengan rumah sakit-rumah sakit yang angker dan biasa dipakai untuk syuting film horror, atau mungkin bahkan lebih.
"Aduh, kuharap tak ada yang mati gentayangan di sini..." kataku sedikit gemetar sambil mencoba membangun keberanian diri secara perlahan-lahan. Aku melihat ada tumpukan-tumpukan atap yang telah roboh menimpa sofa-sofa dan...dan....saat aku melihat ke bawah, kudapati banyak sekali genangan darah di lantai yang sedang kami pijak.
"KYAAAAAAA!!!!!! AKU TAK INGIN MELANJUTKAN MASUUUUKK!!!!" teriak Kanji yang sudah benar-benar histeris karena phobianya. Sementara Teddie yang dipeluk erat-erat oleh Kanji tampak seperti mencium bau sesuatu walaupun terlihat jelas Teddie sendiri juga gemetaran.
"Ada 2 bau yang sangat aneh, kuma!!" nah, aku baru ingat kalau Teddie juga masih 'capable' dalam hal meng-scan lingkungan. Yah, meskipun hasil scannya tidak sebaik Rise-chan. Namun, kalau Teddie sudah bilang seperti itu, itu berarti memang ada sesuatu di dalam gedung mengerikan ini.
"Hahaha, jangan bercanda, Ted! Di-di-di-di sin-sini tidak mungkin a-a-ada orang lain se-selain ki-kita, kan?" Sakura-chan juga tampaknya jauh lebih pucat dariku maupun Chie. Warna kulitnya kini benar-benar berubah menjadi putih, ditambah dengan kedua kakinya yang gemetaran dan gerakan tubuhnya yang menjadi kaku.
"Apa mungkin kedua bau yang dicium Teddie itu...bau mayat??" kata Chie asal menebak. Lalu suara gemuruh dari dalam gedung terdengar keras diiringi dengan suara teriakan Kanji yang semakin menjadi-jadi. Aku merasa..mentalku saat ini sama seperti mental ayam...
"Yosuke!! A-a-a-aku be-be-benar...hiiiiiiihhhh....ta-ta-ta-tak-kut!!!" rangkulan Chie terlihat semakin erat saking takutnya. Aku baru ingat kalau Chie amat sangat takut dengan hantu.
"Chi-Chie-chan, tenanglah. Tak akan terjadi apa-apa. Tenanglah."
"Ehm, sebaiknya kita cari obat-obat yuk di sini. Siapa tahu berguna nantinya." Kataku entah kenapa tiba-tiba berani masuk ke dalam. Langkahku diikuti oleh Sakura-chan, dan Yosuke-san beserta Chie. Di korridor yang kami lalui, kami menemukan sebuah kotak P3K yang tergeletak begitu saja di depan sebuah pintu tua setengah hancur. Yosuke-san mendudukkan Chie di kursi yang dulunya pasti kursi tunggu lalu mengobrak-abrik isi kotak P3K. Sementara aku dan Sakura-chan mendorong pintu setengah hancur itu pelan-pelan untuk memastikan tidak ada shadow dalam ruangan di balik pintu tersebut.
#Chie's POV#
Hauh, kursi yang kududuki sekarang terasa amat sangat kasar dan berdebu sekali. Aku melihat sekitar dan tak mendapati siapa pun selain Yosuke yang sedang mengobrak-abrik isi kota P3K. Yukiko dan Sakura-chan meninggalkanku sendirian bersama Yosuke. Huh, seharusnya mereka tetap bersamaku! Padahal Yukiko tahu kalau aku paling takut dengan yang namanya hantu. Coba dihitung, kira-kira ada berapa macam hantu ya? Sadako misalnya, dan...arrgghhh, sudah-sudah!! Aku tak mau mengingatnya!!
"Chie? Kenapa setegang itu? Kheh, tomboy-tomboy begitu ternyata takut hantu yah...hmmm, setidaknya aku tahu 1 rahasiamu lagi." Sahut seorang manusia yang sedang menemaniku ini. Hih, kalau saja kakiku tidak terkilir....sudah kutendang dia.
"Ow!! Pelan-pelan, Yosuke-kun!!" jeritku tak sengaja menarik telapak kakiku darinya. Cara mengobatinya sama sekali tidak lembut, justru malah kasar. Dasar laki-laki.... (author dibelah jadi 2 ama para lelaki....)
heran, kenapa Yosuke berhenti memutar-mutarkan perbannya di pergelangan kakiku??? Ohh...ternyata....TERNYATA....!!!!
"GYAAAAA!!!!!! HENTAAAAII!!!!" teriakku sambil menendang wajahnya yang tadi sempat memerah sekuat tenaga kaki badakku. Terdengar suara keras seperti 'klek' dari pergelangan kakiku. Oh, tidak! Jangan bilang kakiku malah patah. Tidaaaaaakkk!!! Tapi...kenapa sekarang aku bisa berdiri tegak dengan normal?? Hah, pasti secara tidak sengaja saat menendang Yosuke tadi kakiku sembuh seperti sediakala. Hehehe, sedangkan Yosuke....
#Yosuke's POV#
Yeoch....ternyata nasibku tetap saja sial saat dekat dengan Chie. Aduh..aduh...dia pikir kepalaku ini bola apa ditendang seenaknya. Haaahh...kepalaku serasa pusing tujuh keliling....walaupun kakinya terkilir, ternyata tenaga bantengnya tidak berkurang sedikit pun.
"Yosuke!!! Kau ini sengaja mengambil kesempatan ya?!! Terlalu!!"
"He-hei, aku cuma tidak sengaja melihat-"
"Sudah-sudah!! Kau ini memang terlalu!!!" kulihat, kaki kanannya sudah akan segera terayun untuk menendangku seperti dulu, namun entah kenapa tiba-tiba saja dia berhenti. Aku heran, apa maksudnya. Lalu ketika kupandang wajahnya, wajahnya yang imut dengan rambut potongan bob itu bersemu merah.
"Kenapa?? Kenapa tidak menendang??? Kau aneh!" dan...
JLEEEPPPP...
"Wadaaaaaaaww!!! Kenapa kau injak kakiku??!!! Aduh-aduh....kakiku hancur...." tentu saja aku mengerang keras sambil mengangkat sebelah kaki sambil mengelus-elusnya. Aduh....beginilah Chie kalau enrginya sudah pulih benar. Apapun yang ditendangnya bisa hancur sekejap!! Contohnya, kakiku ini!!
"Aku bosan menendangmu, makanya kuinjak saja sampai....hahaha nyaris gepeng seperti itu!" dasar, setelah apa yang barusaja diperbuatnya Chie masih saja menunjuk-nunjuk kakiku yang diinjaknya dengan muka tak berdosa bak bayi innocent yang baru lahir!!
"Baik ditendang dan diinjak sama saja!! Sama-sama menghancurkan!! Tenagamu itu..."
"Berbeda tentunya."
"Oya, beda huruf dan kata, itu yang kau maksudkan?!"
"Bukan! Salah!"
"Kalau begitu beri tahu aku!"
"tidak mau, tebak saja sendiri!"
"Huh, bilang saja kau ingin menghancurkan hidupku!"
"Tidak! Kalau kau kutendang, itu sama saja dengan merusak masa depank-" Chie langsung menutup mulutnya rapat-rapat. Hahaha, akhirnya dia jatuh ke dalam jebakan rentetan kalimatku. Sudah dua kali lho! Hehehehehe, jadi itu alasannya ya??
"Merusak masa depan siapa?" ulangku ingin tahu reaksi selanjutnya apa.
"Aaaaargghh!!! Sudah-sudah!! Kenapa hari ini kau tiba-tiba jadi pintar dan aku yang jadi bodoh sih?!"
"Bukankah sejak dulu kau memang lebih payah dariku? Hahaha.." sekilas saat aku tertawa, terdengar suara geraman dari Chie. Sepertinya ia akan bersiap-siap menginjak badanku kali ini...
"Kalau kau lebih pintar dariku, aku akan kerepotan. Bukankah si lelaki harus lebih pintar dari pada si perempuan??" hehehe, aku sangat suka melihat wajah Chie yang bersemu merah. Ia tampak imut dan lucu seperti tomat merah yang telah matang.
"Tidak setuju!! Dasar Yosuke-kun nakal!!!" nah, lagi-lagi keceplosan memanggilku dengan 'kun', kan?? Memang mudah sekali membuat Chie keceplosan, hehehehe.
#Sakura's POV#
Ketika aku dan Yukiko-san sedang asyik-asyiknya memeriksa ruangan yang penuh dengan lemari-lemari obat yang berjatuhan di sana sini dengan obat-obat yang tercecer di mana-mana, tiba-tiba langit-langit ruangan runtuh. Aku segera mendorong Yukiko-san jauh-jauh agar ia tidak tertimpa langit-langit yang roboh. Tidak tanggung-tanggung, getaran yang dahsyat pun juga muncul berbarengan hingga merobohkan sebagian tembok sehingga kini aku dan Yukiko-san terpisah oleh reruntuhan batu-batu dan tembok itu.
"Yukiko-san?! Yukiko-san?!! Kau tak apa-apa?!! Jawab aku, Yukiko-san!!" teriakku dari balik tembok runtuh.
"Ya, aku baik-baik saja. Sakura-chan, kau tunggu di sana ya, aku akan mencari yang lainnya untuk membantu memindahkan batu-batu ini! Kau tunggu aku!!" terdengar derap langkah kaki Yukiko-san yang semakin menjauh dari tempat di mana aku berada sekarang. Sendirian di tengah reruntuhan bangunan rumah sakit yang sudah seperti candi-candi kuno. Ketika aku berjalan ke pinggir ruangan dan meraba-raba tembok karena tak ada cahaya sedikit pun yang membantu pemandanganku, tiba-tiba aku merasa seperti menekan sesuatu ketika meraba tembok. Tak lama terdengar seperti suara mesin yang disusul dengan pintu rahasia di lantai yang menuju ke bawah terbuka. Lebarnya selebar pintu biasa dengan anak tangga yang menuju ke bawah. Di bawah sana aku melihat sedikit cahaya kebiru-biruan yang redup. Kupikir, lebih baik berada di tempat yang lebih bercahaya dari pada tempat yang gelap total seperti ini. Jadi kuputuskan untuk mengikuti kemana arah anak tangga itu akan menuntunku.
Setelah menuruni sekitar 25 anak tangga, aku tiba di depan sebuah pintu besi yang pasti dulunya adalah pintu otomatis seperti di mal-mal, hanya saja pintu ini terbuat dari besi. Pintu di hadapanku ini terlihat utuh dan tidak rusak sedikitpun. Saat kuketuk-ketuk, pintu tak terbuka. Entah kenapa tiba-tiba ada suara mesin lagi yang sepertinya bertugas meng-scan orang-orang yang akan masuk ke dalamnya. Kurasa, ruangan di balik pintu ini sepertinya merupakan labolatorium, sehingga tak sembarang orang bisa masuk seenaknya. Seusai mesin scan di depan pintu selesai meng-scan keberadaanku pintu pun terbuka lebar. Tanpa perlu pikir panjang aku langsung masuk saja. Pada korridor pertama, tampak susunan rak-rak buku-buku dan dokumen-dokumen yang tertata rapi, berbeda dengan rak-rak yang tadi kujumpai sebelum masuk ke ruangan ini. Walaupun tertata rapi, namun buku dan dokumen-dokumen itu diselimuti oleh debu dan sarang laba-laba yang cukup tebal karena telah lama tidak dibersihkan. Aku penasaran buku-buku apa itu yang sepertinya benar-benar dijaga ketat sampai-sampai disimpan di dalam ruangan rahasia ini. Kuambil salah satu buku yang di sampul depannya terdapat tulisan 'Data Pasien Penderita Penyakit Serius Tahun 2013'. 2013? Lama sekali. Dan herannya, buku itu merupakan buku laporan data pasien yang dibuat oleh Seta Shinichi. Otou-san? Otou-san pernah bekerja di sini?
Aku tak akan kaget mengenai Otou-san pernah menjadi dokter, Otou-san memang berprofesi sebagai .dokter. tak mengejutkan buatku. Yang kuherankan, kapan Otou-san pernah bekerja di sini? Tahun 2013?? Kenapa aku tak pernah ingat berada di Inaba? Inaba benar-benar terasa asing bagiku saat pertama kali menginjakkan kaki di stasiun Inaba. Apakah karena saat itu aku terlalu kecil?
Karena penasaran, maka bukun itu kubuka-buka. Tercatat kondisi beberapa pasien yang tak kuketahui namanya seperti Mariota Kyoko, Hojo Yuki, Mashiro Yusuke, Hyuuga Ryo, dan....
Seta Sakura....
Mu-mustahil!!! Kapan??!!! Aku pun mengamati sekitar, mendapati sebuah pintu besar lagi yang sama terbuat dari besi seperti pintu sebelumnya dan juga terdapat mesin scanner entah di bagian mana pintunya. Dari ujung penglihatan mataku, aku melihat seperti sebuah siluet putih yang baru saja berjalan melewatiku. Aku semakin merinding, aku sempat lupa kalau ini rumah sakit...jadi yang tadi itu....
GYAAA!!!! Ha-ha-ha-ha-ha-ha-ha-ha-ha-HANTUUU!!!!
'Akhirnya....kita bertemu kembali....'
oh tidak. Siapa saja, tolong pukul kepalaku hingga aku pingsan atau apalah, yang penting aku tak perlu berurusan dengan hantu!!!!
'Karena kau....kami merasa kehilangan yang teramat-sangat....'
GYAAAAA!!!! Apalah lagi ini??!!!
Kesal!!! Kenapa aku harus takut di saat-saat seperti ini sih?! Kuberanikan diriku menghadap hantu putih aneh yang sedang MENGHANTUI aku sekarang dengan penuh amarah sambil berharap wajah marahku dapat memukul balik hantu itu. Semoga saja hantunya juga ketakutan melihatku!!
Setelah berbalik aku melihat bayangan halus seorang anak umur 8 tahunan mengenakan baju pasien berwarna biru muda yang nyaris aku pingsan di tempat....
"Si-siapa kau??!!!! Jawab!!"
'Siapa aku? Lalu siapa kau?'
"Berhentilah bercanda! Aku tak mengerti maksudmu!"
'kami telah menantimu sekian lamanya, hanya ingin mengungkapkan perbuatan yang tak adil pada kami bertahun-tahun yang lalu.' Muncul suara lain yang berasal dari seorang anak laki-laki sekitar 9 tahunan berbusana sama dengan gadis di hadapanku, namun bedanya ia berdiri di depan sebuah pintu besi yang satu lagi. Pintu besi yang disandarinya itu sepertinya adalah ruangan isolasi.
"Lalu apa hubungannya denganku?!"
'bukankah sudah kukatakan? Kami mendapat perlakuan tak adil karenamu. Dan juga, tahukah kau kenapa kau tak ingat kami?'
"Baiklah, beritahu namamu dan aku akan coba mengingatnya!"
gadis yang berdiri di dekatku beranjak sedikit menjauh dariku dan kemudian kembali berputar balik menghadapku. 'Aku Mariota Kyoko. Aku yakin kau tak akan ingat, Sakura-chan.'
Aku kembali membuka buku laporan itu dan membolak-baliknya, lalu menemukan namanya yang masuk dalam daftar 'Pasien Penderita Penyakit Serius'. Lalu aku menoleh menghadap si anak laki-laki. Ia menghilang dan sudah berada tepat di belakangku sambil berkata, 'Aku Mashiro Yusuke. Bagaimana? Kau ingat kami? Aku yakin tidak. Karena selamanya kau bukan 'dia'.'
"Aku tak tahu. Aku tak tahu apa-apa!"
'Perlu kuingatkan beberapa hal yang pernah kita lakukan bersama, Sakura-chan?'
#End Sakura's POV#
~FLASBACK~
"Sakura-chan!" panggil seorang anak laki-laki kecil dengan rambut kecoklat-coklatan yang bergerak kesana kemari karena hembusan angin dan gerakan larinya yang semakin ia percepat menuju ke seseorang yang baru saja dipanggilnya. Laki-laki itu kemudian duduk di sebelahnya, tepatnya mereka berdua duduk di bawah pohon ek yang besar yang meneduhkan mereka berdua dari sengatan matahari siang yang sedang terik-teriknya.
"Ada apa, Yu?" ternyata laki-laki itu bernama Yusuke.
"Main petak umpet yuk! Kyoko-chan dan yang lainnya sudah menunggumu!"
"Tapi..."
"Tapi??"
"Aku sedang tidak ingin bermain. Lagipula-"
"Tak apa, dokter tak akan memarahimu! Yuk!" belum sempat Sakura mengeluarkan perotesnya yang lain, bocah itu sudah menarik kedua tangan Sakura agar berdiri dan mengikutinya menuju ke tempat di mana teman-teman yang lain berada. Dari kejauhan Sakura dapat melihat Kyoko, Ryo, dan Yuki sedang berdiri di tengah-tengah lapangan.
"Sakura-chan, kau telat! Lihat! Kulitku mulai menghitam karena menunggumu!" keluh Kyoko yang hanya menggoda saja, ia yakin kulitnya masih putih dan belum sepenuhnya menghitam. Sementara Ryo yang tersenyum sinis pada Sakura yang lelet hanya berdiri di tempat sambil melemparkan pandangan pura-pura kesal tanpa berkata apa-apa. Sementara Yuki yang sedang duduk langsung berdiri dan mencoba membela Sakura yang wajahnya sudah merengut.
"Sudahlah, kita semua ini kan bersahabat, tidak pantas kita menyalahkan satu sama lain, benarkan, Yu?"
"Yah, aku setuju sekali. Walaupun kita baru berkenalan di rumah sakit, tapi aku yakin kita bisa menjadi sahabat yang baik. Benar begitu, Sakura-chan?"
"Uh, iya. Suatu saat kita akan saling tolong menolong."
Nampaknya anak-anak itu tidak merasa panas walaupun mereka jelas-jelas berdiri di atas permukaan yang disoroti matahari siang. Mereka pun berlarian ke sana kemari, tertawa lepas seakan-akan mereka baru saja terbebas dari jajahan penjajah. Suatu hari, mereka kembali bermain-main di lapangan di sore hari.
"Sakura-chan, mau berjanji padaku?" Sakura termenung mendengarnya.
"Janji?"
"Kita akan terus bersama. Sampai kapan pun. Janji?"
"Kenapa tidak dengan yang lainnya juga?"
"Aku paling ingin terus bersamamu!"
"Kenapa?"
"Karena aku-"
"TOLOOOOONG!!!!!" teriakan itu membuyarkan percakapan antara Yu dan Sakura. Yuki berlari secepat kakinya dapat membawanya walaupun ia tahu beberapa langkah lagi ia akan jatuh karena kelelahan berlari. Yu dan Sakura segera menghampiri gadis itu dan menanyakan apa yang terjadi.
"Ada apa?apa yang terjadi?" tanya keduanya bersamaan.
"Kyoko! Dia-dia...dia terjatuh dari atas pohon! Kumohon, sejak tadi ia tidak sadarkan diri! Aku khawatir terjadi apa-apa dengannya! Yu-kun, kumohon, tolong Kyoko-chan!!" Yu segera pergi ke pohon yang menyebabkan Kyoko terjatuh dan mendapati Kyoko yang sedang terkulai di bawah pohon besar yang rindang itu. Yu segera mengecek keadaannya, merasa ia lebih tua dari yang lainnya karena usianya yang di atas yang lainnya 1 tahun. Kyoko masih tetap diam dan tak bergeming, Yu yang mulai panik mendekatkan telinganya pada dada Kyoko, ingin memastikan kalau Kyoko masih hidup. Namun entah bagaimana Kyoko mengarahkan wajah tampan nan imut Yu mendekat ke wajahnya. Yu pun menjadi kaku, ia tak mampu berkata-kata. Ia segera menjauh dari Kyoko yang ketahuan jelas ia hanya bercanda saja!
"Kyoko-chan! Apa yang kau lakukan?! Kau membuat kami khawatir!"
"Haha, kau terjebak dalam jebakanku! Aktingku hebat,kan?"
"Ini tidak lucu, Kyoko-chan!"
"Yu-kun, kenapa kau malah marah? Aku hanya ingin tahu reaksimu saja."
"Bercandamu kelewatan, Kyoko-chan!"
"Kau memang tak memahamiku! Seharusnya kau tak marah padaku!" kini Kyoko ikut-ikutan marah. Terjadilah pertengkaran di antara keduanya.
"Bagaimana aku tidak marah, kau berbohong dan membuatku panik seperti orang gila saat mendengar kau jatuh dari pohon sebesar itu!"
Kyoko diam dan tidak membalas ucapan Yu. Ia hanya diam termenung sambil menatap tanah yang diinjaknya.
"Yu-kun, aku melakukan ini karena ada sesuatu yang ingin kukatakan."
"Apa?"
meanwhile....
"Shhhh, Sakura-chan, jangan kesana!" bisik Yuki yang sepertinya juga pura-pura jatuh.
"Kenapa?! Aku khawatir pada Kyoko-chan!" Ryo pun ikutan menahan lengan Sakura yang hendak membebaskan diri dari keduanya.
"Ayolah, itu semua hanya sandiwara tahu!" jelas Ryo yang disusul dengan tolehan dengan tanda tanya besar di atas kepala Sakura.
"Maksudnya?"
Yuki pun mengacak-acak rambut Sakura hingga lumayan berantakan. "Kau ini, masa kau tak tahu sih?"
"Kyoko-chan menyukai Yu-kun." Sambung Ryo tanpa ekspresi, sementara Sakura hanya ternga-nga mendengarnya.
"Benarkah? Aku tak pernah tahu itu."
Back to Yu and Kyoko...
"Jadi, bagaimana? Apa balasanmu?"
"Aku tak bisa. Ada orang lain yang kusuka. Maaf, Kyoko-chan." Kata Yu dengan ekspresi benar-benar meminta maaf. Di hadapannya, Kyoko sudah bersiap-siap menangis. Tetapi ditahannya. Setidaknya ia tak ingin Yu melihatnya menangis. Ia kepalkan kedua tangannya kuat-kuat, mencoba mengimbangi perasaannya sekarang ini yang sedang galau.
"Siapa yang kau suka,l Yu-kun?"
"Itu.."
"Katakan padaku!"
"Sakura-chan."
"Sudah kuduga," Kyoko pun berbalik memunggungi Yu. "Cepat pergilah, katakan perasaanmu pada Sakura-chan. Cepat pergi, kau semakin membuatku ingin manangis tahu?"
Yu pun mengangguk pelan lalu berbalik dan berlari menjauh. Setelah yakin Yu sudah jauh, Kyoko jatuh terduduk dan menutupi matanya yang ia yakin nantinya pasti akan sembab. Yu yang merasa tertipu kembali mencari Sakura-chan untuk melaksanakan apa yang disarankan Kyoko. Namun pemandangan di hadapannya saat ini melebihi malapetaka yang tak pernah dibayangkannya. Ryo dan Yuki tergelepar tak berdaya di tengah lapangan, keduanya berlumuran darah tepatnya di bagian kepala. Seperetinya seseorang telah memukul mereka dengan suatu benda yang keras hingga menyebabkan pendarahan seperti itu.
"Ryo-kun, Yuki-chan?! Siapa yang melakukan ini?!"
"Tak ada waktu lagi....cepat tolong Sakura-chan...kumohon.." kata Ryo lemas dikarenakan banyak darah yang mengalir ke atas permukaan tanah yang kering.
"Lalu bagaimana dengan kalian?!"
"Tak apa, Sakura-chan dalam bahaya sekarang...kumohon...Yu.." napas Yuki terlihat semakin sesak. Sepertinya penyakit asma akut Yuki kambuh kembali. Sementara Ryo memegangi perutnya yang terasa sakit melebihi rasa sakit perut biasa.
"Ryo-kun, jangan-jangan penyakitmu..." Yu bingung mau berbuat apa saat itu. Dari kejauhan ia melihat Kyoko yang menyusulnya dengan langkah panik. Sepertinya Kyoko sendiri pun sedang dikejar-kejar oleh seseorang di belakangnya yang mengenakan jubah hitam, wajahnya tak terlihat jelas karena terkena bayangan pohon-pohon besar. Ryo yang setengah mati meraih lengan Yu mengatakan sesuatu.
"Cepat lari, Yu-kun! Dia pembunuh! Cepat lari!!" lalu tangan Ryo terkulai lemas di atas tanah. Yu pun segera berlari mencari Sakura-chan sesuai dengan permintaan kedua sahabat yang ditinggalkannya itu. Yu merasa kepalanya berdenyut-denyut, pandangannya mulai kabur. Ia berlari tak tentu arah, yang tanpa sadar justru ia menemukan Sakura di ujung tebing bersama dengan penjahat yang akan segera melempar gadis itu. Sakura sendiri terlihat terbatuk-batuk sambil memegangi dadanya.
"Beh, ternyata temanmumasih hidup. Biar kutebak, sisa berapa yang masih hidup?" ejek si penjahat dengan senyum meremehkan dan semakin mempererat lengannya yang melingkari leher Sakura. Gadis itu jadi kesulitan bernafas.
"Lepaskan Sakura-chan!"
dan tiba-tiba ada seorang gadis mendorong si penjahat menjauhi Sakura-chan, namun pisau yang dibawa oleh si penjahat itu juga sempat tertancap di perut si gadis. Setelah Yu mencoba memfokuskan siapa gadis itu, ternyata ia sadar gadis itu adalah Kyoko!
"Kyoko-chan!!"
"Hehe...bukankah melihat orang yang dicintai senang dengan orang yang dicintainya dari pada melihat orang yang kucintai tak bahagia ketika bersamaku?" kemudian ia menutup kedua matanya, merasa ajalnya akan segera menjemputnya. "Yu-kun, jaga Sakura-chan.... baik-baik. Kita...kita ber....lima....akan selalu....bersama....wasurenai..." dan kepalanya terkulai ke samping, menandakan Kyoko telah menghembuskan nafas terakhirnya.
"KYOKO-CHAN!!!!! JANGAN!!! JANGAN PERGI!!!"
Sakura yang menyaksikan ini jadi histeris. Di pikirannya saat ini hanyalah Yu dan Onii-chan. Ia berharap mereka dapat menyelamatkannya saat ini. Sakura melihat si penjahat akan segera mencekik Yu dari belakang. Ia pun berteriak sekuat tenaga.
"YU-KUN!!! AWAS!!!"
Yu yang terlambat menghindar sudah dicekik oleh si penjahat berjubah hitam.
'Onii-chan....Onii-chan...ONII-CHAN....!!!!!'
"Ergh...akg....ergh..." tak lama kedua tangan Yu yang kaku menarik tangan si jubah hitam mulai melemas. Sakura tahu ini hal yang buruk. Beruntung ia melihat sepapan kayu yang ada di sekitarnya. Diambilnya papan kayu itu dan dipukulkannya keras-keras tepat di dahi si jubah hitam. Si Jubah hitam mengerang kesakitan dan terpukul mundur. Sakura tak peduli walaupun ia tahu setelah ini dialah yang akan dibunuh karena telah memukul si penjahat. Ia menggerak-gerakkan bahu Yu, tapi laki-laki itu tak kunjung bergerak.
"Yu-kun! Yu-kun! Bangun!!"
"Heh, kau! Kurang ajar! Kubuat hari ini adalah hari kiamatmu!!" si jubah hitam menghunuskan pisaunya ke arah sakura.
JRESSHH.....
Cairan kemerahan yang dinamakan darah itu muncrat ke segala arah. Yu jatuh menimpa Sakura yang tak mampu berkata-kata lagi saking shocknya. Ya, darah itu bukan milik Sakura. Melainkan orang yang sangan mencintainya, Yu.
"Yu-kun...Yu-kun....YU-KUN...!!!!"
"Sakura-chan!!!" teriak seorang lagi yang ada di sana. Rambutnya sama seperti Sakura, dan tak salah lagi kalau itu Souji. Penjahat itu mengacung-acungkan pisaunya yang sudah ternoda namun masih tajam di hadapan Souji, memerintahkan agar ia tidak mendekat. Souji yang tak peduli lagi akan bahaya di depannya dengan cepat berlari dan menghindari hunusan pisau si jubah hitam, berbutar ke baliknya dan menendangnya. Si jubah hitam yang jatuh tersungkur itu segera dipukul kembali oleh Souji tepat di belakang lehernya, sehingga si penjahat pingsan. Setelah memastikan si penjahat benar-benar pingsan, ia berlari mendekati adiknya yang sudah tertidur melingkar sambil terbatuk-batuk.
"Sakura-chan! Sakura-chan!!"
"Onii-chan...(cough)...tolong...Yu-kun..(cough).."
Hari itu merupakan masa terburuk yang pernah diingat Sakura seumur hidupnya sebelum ia sendiri menghembuskan nafasnya yang terakhir karena penyakitnya sendiri yang semakin parah diakibatkan oleh kejadian pada hari itu. Di hari itu, ia tak menyangka ia akan mati di hari yang sama bersama dengan keempat sahabatnya. Sebelum meninggal, ia melihat Yu, Kyoko, Yuki, dan Ryo berdiri di sekitar ranjuangnya, menatapnya dengan tatapan menyesal. Sementara Sakura menatap balik mereka dengan tatapan memohon maaf sebesar-besarnya, lalu matanya terpejam dan ia kembali ke asal dari segala asal dan arah dari segala tujuan bagi mahluk-mahluk yang ada di dunia.
~END FLASBACK~
To Be Continued
__________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
GYABOOO!!! Melenceng lagiiiii!!!! Gyaaaaa, kenapa jari ini selalu bergerak tanpa pikir sih??!!!! Noooo, nangis benmeran nih waktu baca nih chap.....huhuhuhuhuhu....salah satu penyebab saiya lama updet yaitu perhitungan waktunya juga. hahahahaha...pusing mikirin tahun...
Oya, mohon maaf sebesar2nya karena saiya luamaaaaa bgt updetnya, mengingat belakangan ini saiya ketiban banyak masalah yang membuat m9ood saiya hilang. Nah, untuk fic saiya yang berjudul 'The Last Remaining Days' mungkin untuk sementara akan hiatus sebentar selama beberapa minggu. Tenang saja, tuh fic akan saiya selesaikan secepatnya.
Terimakasih untuk para reviewers dan pembaca yang telah menyempatkan diri dan berbaik hati untuk membaca dan mereview fic saiya yg bner2 lelet ini.
Yah, kiranya kalian msh maw mereview chap ini??? (dicincang terus dijadiin umpan ikan piranha di seaworld ancol.) MUKYAAAA......huhuhuhuhuhuhuhuhu, sekali lagi ARIGATOU GOZAIMASU!!^_^
