"Jangan! Sakura-chan, dia...bukan aku!"
"Oni-chan?"
"Dia akan membunuhmu...pergi!"
"!"
Author's note : hwaaaa knapa aq jadi pusing sendiri sama timeline di fic ini yah haduuuu yaaah karena saia suda terlalu pusing di timeline maka saia akan jls kan saja penyebab insidennya di chap ini hwaa saia kapok pakai timeline akibat nya ia begini ini hwa hwa hwa saia usahakan supaya bias nyambung sepenuhnya & tdk membuat readers jadi binun ^^ (dilempar salak )
Oo iaa di awal2 kek nya saia salah tulis iah. Crita ini dimulai 10 tahun sebelum ending, berarti sekitar tahun 2021 an (karena ini sekitar sebelum melawan Ameno Sagiri) berarti Timeline saya salah ketika saya menyebut tahun 2013 di 2 chap sebelumnya. Seharusnya Timeline itu sekitar saat Sakura yang asli berumur 5 tahunan, jadi saat itu Souji umur 15 tahun. Oke itu ralat nya semoga kalian ndak binun iaa _ Hehehehe…ia suda de nanti saia jelas kan di crita saja hohohoho :P slamat menikmati ^^ (dilempar duren)
Chapter 8 : What Caused the Bizzare Incident...
At this very moment, you may be saying to yourself that you have any number of admirable qualities. You are a loyal friend, a caring person, someone who is smart, dependable, fun to be around. That's wonderful, and I'm happy for you, but let me ask you this: are you being any of those things to yourself? ~Phillip C. McGraw
#Normal POV#
"Izanagi!" seru si pemuda rambut abu-abu itu sambil memecahkan kartu yang muncul di telapak tangannya dan menghancurkannya seperti memecahkan kaca menjadi serpihan kecil-kecil. Lalu tak lama sesosok …entah apa namanya….membawa senjata jaman kuno yang sangat besar. Kontan mereka semua kecuali si pemanggil persona tersebut terkejut dan masih kebingungan.
"hei, Sou! Apa yang kau lakukan !"
"minggir, aku tak mengenalimu! Izanagi!" Izanagi pun menebas Yosuke mundur. Walau Yosuke berhasil menghindari serangan fatal itu, tapi ia merasa lengannya tidak baik-baik saja. Akibat serangan tadi, lengannya robek lumayan parah dan darahnya muncrat…pada wajah Yukiko. "agh sial. Jika serangan tadi sudah mengenaimu, aku yakin kau sudah mati. Hahahaha"
"ini….." Yukiko tampak panic, namun ia tidak berteriak atau semacamnya, justru ia malah terdiam.
"Yukiko, ada apa?" Tanya Chie yang segera menghampiri si bando merah itu. "kau kenapa?" namun tak ada respon balasan.
"Teddie, cepat cast Diarahan pada Yosuke-senpai!" seru Rise dari kejauhan untuk memberi backup.
"Sakura-chan, bunuh dia!"
"hah?"
"hemm, sepertinya kakakmu tercinta itu mendukungmu untuk membunuhku ya? Hahaha, tak akan kubiarkan!" Izanagi pun mengangkat senjatanya tinggi ke atas, bersiap-siap menebas Sakura.
"….."
"Sakura-chan !"
"Per…so….na..!" Sakura menebas kartu yang muncul di hadapannya hingga terbelah menjadi dua. Setelah kartu itu terbelah, ada mahluk lain yang keluar di belakangnya. Wujud nya seperti naga, panjang dan mengitari si pemanggil. Leviathan!
"Tsunami!" seru Sakura diikuti semburan air dari personanya yang mengakibatkan tsunami dan menghanyutkan Souji dan memecahkan Izanagi seperti kaca.
"whoa, aku belum pernah lihat persona seperti itu!" kata Kanji kagum. "apa itu persona buatannya sendiri?"
Lalu Leviathan pun lenyap dan kembali berwujud kartu dan menghilang pula.
"Kuma belum pernah lihat bear-sona yang seperti itu Kuma. Tsunamii~ surfing surfing~"
"ungg….semuanya…" sahut Sakura pelan. Ragu-ragu melingkupinya.
"Sakura-chan? Kau sakit?" Tanya Rise. "Kanzeon mengatakan kalau area di sekitar sini aman. Mungkin kita bias beristirahat sebentar di sini, mengingat luka Yosuke-senpai juga belum pulih sempurna."
"Hei, Yukiko katakanlah sesuatu!" Chie mengguncang-guncang bahunya namun gadis itu tetap tidak bergeming.
"sudahlah, ayo kita beristirahat saja dulu di sini." Saran Naoto.
-*Meanwhile*-
"Replika payah!" maki seorang wanita pembawa kipas yang sedang duduk di singgasananya. Wanita itu kemudian beridiri dan berjalan mendekati bawahannya yang sedang menunduk padanya. "katakan, siapa yang mengalahkanmu?"
"gadis replica itu." Jawabnya lemah.
"sudah kuduga.." wanita itu kemudian berjalan ke lain arah sambil bergumam, "gadis itu…ada yang salah dengan dirinya. Bukan…" lalu wanita ituberhenti dan kembali menoleh pada bawahannya itu. "kehadirannya di sini itu sama seperti air. Air akan terus mengalir sampai ia menemukan jalur yang harus dilaluinya, jika tidak ada jalan lagi maka air akan membuat jalan yang baru. Sungguh mengacaukan rencanaku.."
"…."
"replica sepertimu tak akan benar-benar mampu mengalahkannya. Jadi…bagaimana kalau aku juga membuat replica yang lain? Nyahahahaha.."
-* back to Sakura dkk*-
#Kanji's POV#
Kini kami semua hanya duduk terdiam di ruangan dingin itu. Si kura-kura itu tampak menyendiri di ujung sambil memeluk lututnya. Chie-senpai tampak masih kebingungan dengan tingkah Yukiko –senpai yang tidak seperti biasanya. Rise tertidur pulas di pundak Naoto, begitu juga dengan Naoto. Teddie justru sudah mendengkur di pangkuan Rise. Semuanya tampak lelah sekali. Yosuke-senpai tampak sedang berpikir, lalu ia menoleh padaku. "Hei, Kanji."
"Yep senpai?"
"apa menurutmu…yang tadi itu Souji?"
Aku berpikir sejenak sebelum menjawabnya. Dilihat dari tampang nya sih 100% senpai, tapi entah kenapa tingkah lakunya berbeda seperti itu. Tapi aku percaya Senpai tidak mungkin tega melukai Yosuke-senpai atau pun berencana membunuh adiknya sendiri.
"ermm, aku tidak yakin itu dia, senpai. Oh ayolah, gilakah Souji-senpai tega melakukan semua ini? bagh, sial!"
"aku juga berpikir demikian…" lalu Yosuke-senpai kembali menunduk, "ditambah lagi dengan Sakura-chan yang mengatakan kalau itu bukan kakaknya sendiri. Eh ngomong-ngomong, apa yang dimaksud dengan replica-replikaan itu tadi?"
"mana kutahu, aku sama sekali nggak 'dong' dengan apa yg mereka ucapkan."
"Aku replica, dan pemuda tadi juga replica." Jawab Sakura-chan pelan yang tiba-tiba saja sudah berada di dekat kami.
"whoa, aku nyaris mengiramu hantu, kau tahu."
"aku mengerti sekarang apa yang dimaksudnya dari tadi mengenai aku dan dirinya." Katanya sambil terduduk di sebelahku, kembali memeluk lututnya yang dingin. Di saat itulah Sakura-chan menjelaskan semuanya pada kami, tentang pertemuannya dengan pemuda mirip senpai hingga tentang siapa dirinya. Dan aku rasa….semua itu bukan salah Sakura-chan, justru aku bangga padanya karena ia telah menjadi gadis yang kuat dibalik semua masa lalunya yang pahit.
"kalian sudah mengerti kan, aku bukan Sakura-chan yang asli. Aku tak yakin Onii-chan masih mau bertemu denganku lagi.."
"hei, jangan berkata begitu. Lagipula, adik nya atau bukan, kau tetap kau, Sakura-chan. Tapi hidup mu yang sekarang ini, ingatan-ingatan yang kau punya sekarang ini, semua itu hanya kau sendiri yang merasakannya. Kau bukan orang lain." Sakura pun mendongak menatap Yosuke-senpai yang sepertinya berhasil menghiburnya sedikit.
"Itu benar." Sahut Naoto yang tiba-tiba sudah duduk tegak, "kau adalah kau, Sakura adalah Sakura. Kalian berdua menjalani hidup yang berbeda." Jelasnya.
"h-hei kau membuatku kaget Naoto! Kukira kau hantu gentayangan atau semacamnya.." keluhku.
Naoto pun merogoh kantong celananya dan mengeluarkan sesuatu yang bernama revolver.
"mau merasakan ini, Kanji-kun?"
"w-w-whoaaa!"
"Heiiii kalian bisa tenang tidak sih! Lihat, Yukiko sejak tadi tidak bersuara terus!" Omel Chie-senpai dari kejauhan. "ayolah Yukiko katakana sesuatu!"
"…" Yukiko-senpai hanya membisu.
#Yukiko's POV#
Ya aku ingat. Aku ingat semuanya. Kejadian itu. Kejadian yang mungkin merenggut nyawa Souji-kun di malam itu. Namun tubuhku rasanya sulit sekali untuk digerakkan. Aku takut sekali. Rasanya ingin tidur saja seterusnya takperlu bangun lagi.
"Chie…" kata ku pelan, berharap gadis itu segera mendengar nya tanpa perlu diketahui orang lain.
"Yukiko!" jerit nya antusias sambil memelukku. "Akhirnya kau bersuara juga ! ayolah, katakana padaku, ada apa?"
"Tidak.. tidak ada…"
"kau bohong lagi Yukiko. Ayolah katakana padaku, aku sudah mengenalmu bertahun-tahun, tentu aku tahu kalau ada sesuatu yang tidak benar dengan dirimu. Apa kau sakit?"
"Chie…kau ingat malam yang sangat mengerikan itu?"
Chie pun terdiam, begitu semua dengan yang lain. Kecuali Sakura-chan yang justru malah bertanya-tanya.
"hm? Ada apa dengan kalian? Apa sesuatu terjadi? Ayolah katakan padaku."
"Yukiko, kupikir kau sudah melupakan malam itu." Kata Chie pelan, serasa seperti tak bertenaga.
"Malam berdarah itu.." kata Rise juga pelan.
"Eh?"
"Malam berdarah dimana para shadows berkeliaran di Inaba."
#Flashback with normal POV#
"Senpai! Gawat! Para shadow bermunculan di Inaba! Senpai jawab aku! Aaargghhhhhhhhh…." Jerit Naoto di telepon yang kemudian terputus koneksinya. Saat itu kepala Souji terasa nyeri sekali, seakan-akan segera terbelah begitu saja. Ada 1 hal yang memenuhi kepalanya untuk pertama kali. Paman Ryotaro, Nanako dan Yukiko yang sedang berada di rumah sakit! Souji segera bergegas mengambil Katana yang biasa di simpannya di tempat aman agar tidak ditemukan oleh Ryotaro maupun Nanako, lalu segera beranjak pergi.
Di tengah jalan ia banyak menyaksikan shadows-shadows berkeliaran seperti yang Naoto katakan sebelumnya. Ia hanya bisa berharap Naoto berhasil kabur, begitu juga dengan teman-temannya yang lain. Saat ini yang harus ia utamakan adalah Nanako dan Ryotaro yang tidak bisa bertarung dan tidak mengerti apa-apa tentang bahayanya shadows.
Ia semakin memacu larinya supaya segera sampai di Inaba Municipal Hospital. Tak lupa ia juga menebas beberapa shadows yang menghadang jalannya. Sesampainya ia di sana, tanpa perlu pikir panjang ia segera menaiki anak tangga menuju ke kamar Nanako terlebih dahulu. Disana ia mendapati Yukiko yang sedang tidur terlelap di sebelah ranjang Nanako. Nampak nya mereka berdua belum mengetahui kondisi di Inaba. Souji pun mengamati sekitarnya, aman! Ia memilih membangunkan Yukiko terlebih dahulu.
"Yukiko! Bangun!"
"nmgg…Souji-kun? Ada apa? Kenapa kau membawa Katana?" gadis itu terbelalak ketika melihat leader nya sedang membawa Katana, hal yang sulit ia percaya.
"Sshhh, Inaba dalam bahaya. Para shadows berkeliaran di luar sana. Kumohon, jagalah Nanako sebentar. Aku akan menge-cek paman Dojima."
Yukiko pun langsung siap siaga dengan kipas Boundless Sea yang selalu ia bawa kemana-mana. "baik"
Souji pun meninggalkan kamar Nanako dan menuju ke kamar Dojima yang terletak satu lantai di atas kamar Nanako. Ketika ia membuka pintu kamar itu, Dojima sudah tidak ada. Pikirannya galau saat itu, sehingga ia memutuskan untuk kembali ke kamar Nanako. Di tengah kabut yang semakin tebal itu Souji memutuskan untuk memakai kacamata yang biasa ia gunakan. Dengan begini ia bisa melihat dengan mudah.
Sementara di tempat lain…
Malam itu Chie, Rise, dan Kanji menginap di rumah Yosuke yang luas. Mereka memutuskan untuk membahas tentang misteri yang sedang berlangsung ketika mereka dikejutkan oleh kabut tebal yang memasuki kamar mereka. Yosuke pun terbangun oleh pintu yang di dobrak oleh tenaga Godzilla milik Chie hingga pintunya terlepas dan jatuh ke lantai dan berdebum keras, membangunkan si pemilik kamar.
"he-hei apa yang kau lakukan dengan pintu kamarku!" keluh Yosuke masih setengah sadar.
"arrghh, urusi saja pintumu nanti Yos! Lihat jendelamu!" Jerit Chie kalang kabut.
Yosuke pun melakukan seperti apa yang dikatakan Chie sambil mengeluh. "Hoamm.. apaan sih yang… kau…. WHOAAAAA!" ketika ia membuka korden, nampak seeokor Shadow sedang menempel di kaca jendelanya.
"Bangunkan yang lain! Aku akan menghubungi Souji!"
Dengan sigap Chie berlari dan melaksanakan perintah Yosuke.
Sementara Souji…
Ia tiba di kamar Nanako tepat pada waktunya. Karena di depan pintu kamar Nanako sudah ada 2 ekor shadows yang akan mendobrak masuk. Dengan segera Souji memanggil personanya .
"Kohryu! Ziodyne!" satu shadow tersisa. Shadow itu menyerang, namun masih belum cukup gesit untuk menyentuh Souji yang menghindar dan menebas Shadow itu dari samping hingga musnah. Ia pun masuk ke dalam dan mendapati Yukiko sedang panik ketika melihat Jendela kamar Nanako.
"gasp!"
"Yukiko, awas!" Yukiko pun menyingkir tepat ketika kaca jendela itu pecah dan beberapa ekor shadow jatuh di antara pecahan kaca itu.
"Metatron! Megidolaon!" BUM dan shadow itu musnah.
"Souji-kun, apa yang harus kita lakukan sekarang?"
"aku tak tahu. Aku tak bisa menemukan paman Dojima. Aghh, andai saja kita menangkap Adachi hari ini! Semua ini tak akan terjadi!"
"apa maksudmu?"
"semua ini karena kita tidak menangkap Adachi. aku bisa merasakannya, sesuatu yang sangat kuat melebihi kekuatan kita sedang memenuhi Inaba. Kupikir itulah penyebabnya." Jelas Souji sambil menebas shadow yang mendekati mereka.
"bagaimana dengan Nanako? Aku takut kalau kita membawanyapergi, ia tidak bisa bertahan tanpa alat-alat medis itu!"
"aku akan menjaga kalian di sini…"
#End Flashback#
"lalu? Apa yang terjadi?" Sakura-chan tetap terus bertanya. Sementara Yukiko terdiam. Yang lain pun juga tampak tak sabar menanti lanjutan cerita dari Yukiko.
"Kami dikepung para shadows. Saat itu baik aku maupun Souji-kun sudah kehabisan tenaga. Sementara saat itu kami masih harus melindungi Nanako-chan."
"senpai.."
"….."
"Yukiko, jika kau tak kuat menceritakannya, hentikanlah!" saran Chie sambil merangkul Yukiko.
"Tidak Chie. Aku harus cerita." Yukiko pun menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Ia menahan tangis nya sekuat tenaga.
"Darahnya.." kata Yukiko pelan.
"Darah apa senpai?" Tanya Naoto berhati-hati.
"Darah Souji-kun muncrat ke wajahku…" Yukiko segera menggeleng-gelengkan kepalanya dengan mata terpejam. Memori yang sangat menyiksa itu menyeruak begitu saja kedalam ingatannya.
"Sh-Shadows… sa-saat itu aku hanya bisa terbaring lemas di lantai karena kehabisan tenaga, kesadaranku pun juga mulai pudar. Ada seekor shadow ingin menebasku…lalu…Souji-kun…" Yukiko tak mampu melanjutkan kata-katanya lagi, tangis nya pun pecah. "AAAAAAAAAAAA, Sakura-chan maafkan aku! Semuaa maafkan aku! Maafkan akuuu!"
Hening, tak ada yang mampu berkata apa-apa. Chie hanya bisa memeluk Yukiko lebih erat lagi, pundak nya pun juga bergetar. Ia menangis. Yosuke merasa dirinya seperti dihantam palu ah tidak, lebih dari itu. Rasanya seperti rasa bersalah yang tidak akan pernah habis. Andai waktu itu ia lebih cepat dan segera tahu untuk pergi ke rumah sakit. Kenapa ia tidak bisa lebih pintar lagi sih?
Sakura-chan tampak syok berat. Di tengah tangisan Yukiko, Rise dan Chie, Sakura hanya terdiam saja. Ia menyandarkan kepalanya yang terasa sangat berat ke pundak Kanji.
"He-hei, kura-chan! Jangan pingsan! Kura-chan!"
#Sakura's POV#
Kepalaku terasa pening sekali. Rasanya sudah tidak bisa berpikir lagi. Aku hanya bisa merebahkan kepalaku di pundak Kanji, berharap tidak ada orang yang tahu apa yang terjadi sesungguhnya. Lalu kesadaranku hilang…
Ketika aku bangun, aku sudah berada di velvet room. Aku terduduk di sofa yang empuk yang berhadapan dengan Igor dan Margareth. Tatapan mereka berduapun tak kalah nanar nya denganku.
"jadi kau sudah mengerti sekarang nak?"
"ya."
"itulah yang terjadi pada pendahulumu. Seta Souji huh? Apa kau yakin masih mamou melanjutkan perjalanan nak? Kabut yang sedang menghadangmu semakin tebal, perjalananmu selanjutnya tak akan semudah yang sudah kau lalui sekarang," Igor pun berhenti sejenak. "apa kau masih sanggup?"
"mungkin. Entahlah aku tak tahu. Selama ini tujuanku kemari hanyalah mencari Oni-chan. Ternyata tindakan ku selama ini sia-sia, bukankah begitu?"
Margareth pun ikut menunduk, lalu berkata. "di dunia ini tidak ada yang namanya kebetulan. Segala sesuatu yang terjadi itulah takdir yang sudah tersusun rapi di setiap perjalanan hidup setiap orang. jadi segala kejadian itu memiliki makna tersendiri."
"bukan kebetulan huh? Takdir? Ya mungkin memang begitu."
"kembalilah anakku, teman-temanmu menunggumu. Till we meet again.."
Kali ini aku terbangun, namun bukan di ruangan itu lagi. Aku terbangun dan menyadari bahwa aku berada di punggung Kanji.
"oh kau sudah sadar rupanya? Kau sudah merasa baikan huh?" Tanya nya masih dengan gaya punk nya.
"hu'u. turunkan aku, aku bisa berjalan sendiri."
"nah sudahlah, dari nada bicaramu aku tahu kau masih lelah." Sahut Kanji sambil terus berjalan bersama dengan anggota IT yang lain.
"kau mengingatkanku pada Oni-chan. Dia suka menggendongku seperti ini duluentah itu ingatan Sakura yang asli atau bukan aku tak tahu."
"hmm.." Kanji hanya bergumam pelan. "aku merasa Senpai masih hidup."
"apa?"
"ermmm kau tahu kan, err biasanya kalau kau sudah berteman dekat dengan seseorang, kau akan merasakan firasat yang buruk ketika seuatu terjadi pada temanmu itu. Tapi aku merasa Senpai masih hidup di suatu tempat."
"mustahil.." kataku pelan.
"ermm, aku juga merasa begitu, Kura-chan." Timpal Yosuke. "leader kami tidak semudah itu dikalahkan. Souji selalu lebih baik dari kami semua, nyaris dalam segala hal. Ah, memang dalam segala hal sih. Kalau kami saja masih hidup, ia tentu juga masih hidup kan?"
"aku setuju dengan Yosuke-senpai" lanjut Naoto. "malam itu aku juga diserang oleh para shadow, aku tak ingat apa saja yang mereka lakukan padaku, tapi aku masih hidup saat ini, itu bukan suatu kebetulan. Rasanya seperti….ada yang merencanakannya."
"kuharap begitu."
"Senpai, bukan orang yang mudah dikalahkan. Aku percaya pda senpai. Kuatkan dirimu Sakura-chan!" hibur Rise dengan mata sembab setelah banyak menangis tadi.
"Terima kasih Rise-san, tapi ngomong-ngomong…wajah sembab mu itu jangan dipakai untuk menghibur orang. Yaah walau agak lucu sih. Hahahaha…"
"hei kau mulai tertawa! Ayoo semangat semuanya, Kuma akan beraksi!"
"aah tutup mulut mu Ted, aku yakin kau akan jatuh tak lama lagi jika kau melanjutkan cara berjalanmu seperti itu."
GUBRAKKK! Yap seperti yang Yosuke katakan.
"awww, Yosuke! Kata-katamu membawa sial padaku!"
Semuanya tertawa, Yukiko sekalipun mulai tersenyum.
"baiklah, ayo kita masuk ke TV world dan mencari si bedebah Adachi itu! Biang kerok itu harus segera dibasmi!" kata Kanji bersemangat sekali.
"ya, aku yakin jika kita tidak segera menghentikannya, kabut nya akan segera menyebar ke Okina."
"Erm, aku lebih khawatir lagi kalau Junes department store masih berwujud atau tidak." Kata Chie spontan.
"err… mari berharap masi berwujud."
To be Continued
Olaa olaaa XD. Huehehehehehe, saya cuman melanjutkan insiden di P4 dengan imajinasi amburadul saia . Tapi mengenai "kiamat di inaba" itu beneran lhoo, coba aja jangan lawan Adachi sampai waktunya habis. Nanti shadow akan bermunculan di real world A_A. ada koq video di youtube :D hehehehehehe okeee tq bgt buat The God Emperor of Mankind yg suda mau kasi review (betapa girang nya saya masi ada yg mau review hehehee) (makasih sarannya sudah saya perbaiki ^^ hehehehehe ^^ternyata klo ngetik di Ms word "katakan" malah diubah jadi katakana sama kek nulis "bisa" jadi "bias" )
Okeeee, ide buat selanjutnya saia msi g punya
Tapi saya usahakan dapet hehehehe…. Okaii, sampai ketemu di chap selanjutnyaa ^^
Mohon maap apabila ada kesalahakn kata atau blab la bla (di tempeleng readers. Readers: emank nya pidato apah? Syuh syuh syuh)
Hehehehe ….^_^V
