fiuuh...
akhirnya punya waktu untuk buat chapter 4nya...
selamat membaca!
I'm With You
Desclaimer: Riichiro Inagaki dan Yuusuke Murata.. punya saya cuman OCnya.. _ _"
.
.
.
.
.
.
enjoy!
Keesokkan harinya, Riku bertemu Alice di tengah jalan, dan mengajaknya berangkat bareng ke Universitas.
Riku, menyadari bahwa Alice dari kemarin sampe sekarang, mulai murung.
"Alice? Kau ngga apa-apa?" tanya Riku.
"Eh? Oh.. Emm... Ya.. Ngga apa-apa..," jawab Alice tersenyum.
Riku tau kalo ada sesuatu yang disembunyikannya.
"Alice.."
"Apa?"
"Kau tuh kenapa sih?" tanya Riku rada cemas dan pengen tau.
"Dibilang juga ngga kenapa-kenapa kok..," jawab Alice lalu memasang wajah angkuhnya.
Riku berhenti dan menatapnya dengan wajah yang kurang percaya.
"Al..," desah Riku.
"Hah..., aku cuma ngga enak badan kok hari ini..," jawab Alice.
"Yaaaaa ngga enak badannya kenapa?" tanya Riku.
"Pusing.."
"Pusing?"
"Yap.."
"Yakin?" tanya Riku.
Alice yang semakin kesal ditanya Riku, mulai menyerah.
"Oke oke! Aku tuh pusing karena-..., yaaaah karena itu..."
"Karena apa, Al?"
"Karena...-"
Riku menatapnya dengan 'please, kasih tau dong..'nya.
Alice yang melihatnya, hanya bisa mendesah.
"Akan kuceritakan nanti..," jawab Alice menaikkan tas rangkulnya lalu kembali berjalan.
.
.
.
Alice menaruh kepalanya yang pusing ke mejanya dan memasang tatapan bingung.
Barulah ia mengangkat kepalanya kembali, begitu ia mulai mengingat sesuatu.. Sesuatu yang selama ini ia pendam dan lupakan..
"Alice.." panggil Riku dari depan.
"Ng?" respon Alice.
"Kau kenapa sih? Kok bengong melulu?"
Alice yang hendak menjawabnya, mendengar sesuatu..
...
A..lice...
...
"Eh?"
"Kok 'eh' sih? Kau sakit?" tanya Riku lagi.
"Ngga ngga.. Cuma... Pelajaran hari ini memusingkan ya..," jawab Alice dengan penuh kebohongan.
Tiba-tiba, kepala Alice mulai terasa pusing dan mencoba mengingat suara yang memanggilnya itu..
Ia mulai berkeringat deras... dan pandangannya gelap dan...
.
.
.
"Ng?"
Alice melihat seorang gadis kecil berambut panjang, pirang kecoklatan.
Tangan gadis itu, memar-memar semuanya. Ada yang masih berdarah sampai mengotori bajunya, dan ada yang berbekas.
Alice menatap gadis itu dengan penuh kesedihan. 'Siapa gadis itu?' pikir Alice.
Lalu, Alice melihat seorang bapak yang berjalan ke arah gadis itu.
"Alice.. Kau ngga apa-apa? Maafkan ayah ya.. Ngga bisa menghentikan ibumu..," kata bapak itu sambil memegang kedua bahu gadis itu.
'Alice? Gadis itu bernama Alice?' pikir Alice tidak percaya.
Hiks.. Hiks..
"Eh?"
Alice melihat gadis itu menangis tapi tatapannya bagaikan amarah.. Matanya memerah dan tangannya dikepal dengan kuatnya.
"Alice?"
Gadis itu menengok, lalu mundur. Alice mencari asal suara yang memanggil namanya.
Ia melihat seorang wanita cantik berambut hitam panjang dengan poni yang mendatar sambil membawa cambuk.
"I-Ibu?"
'Ibu?' pikir Alice yang sedikit bingung.
Wanita itu, berjalan ke arah gadis yang dipanggil 'Alice' itu dan mengangkat cambuknya.
Lalu, bapak itu berdiri dan menghadang wanita itu.
"Breda! Kau sudah gila ya? Dia ini putrimu! Pikiranmu ke mana sih? Bukankah kau sudah janji, tidak berbuat seperti ini lagi?" teriak bapak itu dengan marahnya.
'Lagi? Apa maksudnya?'
Wanita itu tersenyum dan berkata, "Hanya dengan cara ini ia dapat melindungi dirinya sendiri.."
Sang gadis kecil yang tidak kuat menahan sakitnya cambukan di tangannya, akhirnya jatuh pingsan.
Alice yang menatap benci ke wanita itu, melihat tatapan wanita itu.
Tatapan sedih..
Tidak bermaksud untuk menyakiti putrinya yang pingsan..
Walaupun begitu, Alice tetap benci dan berniat menolong gadis itu.. Sayangnya, tangannya tembus pandang.. Dirinya... tembus pandang..
"Alice! Alice!"
.
.
.
.
"Alice! Alice"
Alice terbangun. Ia berada di ruangan bersama Riku.
"Enng? Riku? Di-dimana ini?" tanya Alice pada Riku yang ada di sampingnya sambil mencoba duduk.
"Hei.. Kau ini gimana sih? Sudah tau dirinya lagi ngga sehat, malah mencoba maksain diri. Sudahlah, istirahat saja..," jawab Riku sambil menidurkan Alice.
"Ini dimana?"
"UKS.. Di tengah pelajaran, tiba-tiba saja kau ambruk. Aku disuruh untuk membawamu ke UKS deh..," jelas Riku, singkat, padat, dan jelas.. (hah?)
"Oh.."
Alice terkejut dan bertanya, "Selama aku tidur, kau ngga... itu kan?"
Riku yang mengerti maksud Alice, langsung menjawab, "Eh... enak aja.. Ngga lah.." sambil merona.
"Baguslah kalo begitu," kata Alice lalu duduk.
"He-hei! Kondisi-"
"Aku sudah baik kok.."
Alice lalu mengingat mimpinya tadi.. Sambil penasaran, ia membuka lengan jaket hitamnya dan melihat beberapa bekas luka cambukan.
'Apa... gadis itu.. aku ya?' tanya Alice dalam hati.
Riku yang melihat Alice memasang tatapan sedih, langsung mendesah.
"Al.."
"Eh, ya?"
"Kau kenapa sih?"
Alice mendesah dan bingung.
Riku memegang tangannya.
"Hei.."
"A-Aku..."
"Alice.."
Alice menatapnya begitu Riku memanggilnya.
"Maaf, Riku.. Aku... ngga bisa beri tahu..," kata Alice memalingkan pandangannya.
Riku tentu saja sedih.. Riku berdiri menuju pintu dan membukanya.
"Kalau sudah baikan, masuk ke kelas.. Aku ngga mau ketinggalan pelajaran..," kata Riku lalu keluar dan menutup pintunya.
Alice hanya dapat memegang kepalanya yang kebingungan.
.
.
.
.
Akhirnya, bel pulang sekolah.
Alice berusaha mencari Riku yang dari tadi diam saja..
"Riku!" panggilnya.
Riku menoleh dengan wajah 'apa lagi?'
"Soal di UKS tadi..., maaf ya..." ujar Alice menunduk.
Riku terdiam dan menatapnya kasihan.
"Hei, yang salah aku.. Harusnya aku tahu, kalau aku ngga boleh maksa orang untuk melakukan sesuatu..," kata Riku kemudian.
Alice menggeleng.
"Bukan.. Ini salahku.. Kau temanku dan...aku ngga mempercayaimu..," kata Alice menatap Riku.
"Lalu, kenapa kau ngga mempercayaiku?"
Alice terdiam.. Lalu menjawab, "Karena..., dari waktu kukecil, aku bingung pada kehidupanku sendiri.. Selama ini, tidak pernah ada yang mau berteman denganku.. Yaaah aku pernah sih... tapi pada akhirnya, aku dikhianati.."
Riku tersenyum dan menepuk pundak Alice.
"Alice, kuberi kau satu nasehat..," katanya.
"Ng? Apa?"
"Jangan menyerah di tengah jalan.. Masalahmu itu ngga perlu kamu pikul sendiri.., bagikan juga ke temanmu.. Dengan begitu, pasti rasanya sudah enakan, deh..," jelas Riku.
"Ta-tapi-"
"Hei..., aku ngga tau banyak tentangmu, tapi..."
"?"
"Aku akan terus bersamamu...," kata Riku lalu pulang.
Alice terdiam di situ dan menyadarinya.. Bahwa perkataan Riku memang benar.
"Ri-Riku! Tunggu!" panggil Alice.
"Apa?"
"Mau pulang kan? Pulang bareng.."
"Yaaah...dikirain apaan.."
"Memang kau kira apa?" tanya Alice dengan tatapan tajamnya.
"Eng... Ngga ada..," jawab Riku.
"Aku tau kok.."
"Ng? Emang apa?"
Alice tersenyum lalu menjawab, "Terima kasih.."
.
.
.
A/N: hosh-hosh.. akhirnya chap.4nya selesai juga... hehe.. jgn lupa review ya!
\(^o^)/.
.
.
