fiiuuuh...

semoga hari ini bisa langsung full chapternya..

yak! lanjut!


Valentine's Day

Desclaimer: Riichiro Inagaki dan Yuusuke Murata.. punya saya cuman OCnya.. _ _"

.

.

.

.

.

.


Sudah 3 bulan..

Alice sudah tidak mendengar bisikan tersebut, dan dirinya sudah kembali normal. Ia menjadi normal kembali sejak ia mendapat sebuah boneka kelinci putih yang memakai rompi biru dengan membawa jam di sakunya dan bermata merah di gudang rumahnya dulu. Tentu saja.., boneka itu boneka milik Alice ketika ia masih kecil!

Saat ia mendapatkan boneka itu, ia melihat sebuah surat kecil yang berwarna merah muda di dalam sebuah kotak di sebelah boneka kelinci itu. Isinya:

Dear, Alice

Maafkan Ibu yang selama ini menyakitimu..

Ibu tidak mau kau menjadi korban selanjutnya seperti ibu,

Karena itu, ibu melakukan itu supaya kau membenci ibu..

Jangan pernah menyayangi ibu..

Maaf,

Ibu hanya ingin melindungimu..

Mom..

P.S

Jika di samping surat ini ada boneka kelinci, harap dibuang..

"Dibuang? Boneka ini milikku! Dia juga membuatku menjadi normal kembali! Ah, sudahlah!" kata Alice merobek surat tersebut.

Yaah.. Walau Alice sudah tidak dihantui lagi, tapi sejak ia memelihara boneka kelinci itu, Alice sering mengalami luka-luka. Luka-luka itu, misalnya seperti saat ia mengendarai sepedanya, ia nyaris ditabrak mobil dan menghasilkan luka yang lumayan serius, yaitu luka di kepala dan sebagian luka di kaki dan tangannya. Tapi Alice tidak memusingkan kecelakaan tersebut. Baginya itu hanyalah kebetulan.

.

.

.

On the Street, 14 Februari, 20xx

"Ngomong-ngomong, ini hari apa, ya?" tanya Suzuna yang berjalan di sampingnya.

Maklumlah, pulang kuliah.

"Entahlah.. Aku ngga ngeliat tanggal hari ini..," jawab Alice. "Memang kenapa, Suzu?"

"Habis, sekarang 'kan sudah bulan Februari.. Aku khawatir kalau sekarang tanggal 14 Februari.."

"14 Februari? Kenapa harus dikhawatirkan?" tanya Alice sambil memberi tampang heran ke cewek rambut biru itu.

"Ya ampun.., Al-chan, masa ngga tau sih? 14 Februari itu Hari Valentine!" kata Suzuna.

Alice menghentikan langkahnya. Lalu sambil melanjutkan langkahnya lagi, ia menjawab, "Oh... yang ngasih coklat ke cowok?"

"Yap!"

"Emang kamu mau ngasih ke siapa?" tanya Alice.

Suzuna hanya terdiam. Kemudian, pipinya merona.

"Oh.. Biar kutebak.. Sena?" tanya Alice.

Dengan terkejut, Suzuna menjawab, "Kok tau?"

"Tentu... kelihatan kok.."

"Kalau Al-chan bakal ngasih ke siapa?" tanya Suzuna dengan senyum menggoda.

"Kata siapa aku bakal ngasih coklat?" tanya balik Alice.

"Ayolah... aku 'kan cuma pengen tau.. Apa jangan-jangan..."

"Jangan-jangan apa?"

"Jangan-jangan... Rikkun lagi?"

Alice, saking terkejutnya dengan perkataan Suzuna, pipinya jadi merah.

"Eaaa... Merah tuh pipinya..." goda Suzuna.

"Ka-kata siapa merah?"

"Tuh.. pipinya.."

"Ng-ngga ah! Paling demam gara-gara ini nih, sinar matahari.."

"Ah! Bohong!"

"Ngga!"

"Bohong.. Denger ya, katanya kalau orang lagi suka sama seseorang, pipinya bakal merah lho..." kata Suzuna.

"Apaan siih, Suzuna?"

"Sudah..sudah.. nih, udah aku cek tanggalnya.. Sekarang tanggal... 13 Feb...ru...a...rii..." kata Suzuna yang lama-lama melemas badannya.

"Kenapa sih?"

"Sekarang tanggal 13! 13! 13!" teriak Suzuna sambil mengguncang Alice.

"I-iya.. terus kenapa?" tanya Alice heran.

"Masih ada waktu untuk buat coklat, Al-chan.. tulalit banget"

"Terus?"

"Kamu ngga buat coklat?"

"Entahlah..."

"Terserah sih, tapi kalau coklatnya ngga dibuat sama Al-chan terus dikasih ke Rikkun, kasian Rikkunnya lho.." kata Suzuna mengingatkan.


Alice's residence, 14 Februari, 20xx, 5 A.M

"Fuuh... akhirnya!" girang Alice sambil mengelap keringatnya.

Dilihatnya sebuah cupcake coklat yang atasnya dihiasi dengan hiasan berbentuk bola American Football. Lalu cup-nya, berwarna seragam amefuto Enma Fires. Di tengahnya, ia tulisi nomor '29' dengan warna putih.

Alice yang tersenyum atas keberhasilannya atas membuat cupcake indah ini, jadi kehilangan senyumnya dan kebingungan.

'Tunggu.. Ini kubuat untuk apa?' pikir Alice.

Tapi, begitu ia melihat cupcake buatannya, ia ngga peduli dan berpikir, 'Sudahlah, kuberikan Riku saja...'. Lalu, Alice mengambil ponselnya dan berniat menelpon Riku. Baru saja ia mau menekan tombol 'Call', Riku menelponnya. Segeralah ia angkat.

"Moshi-moshi, Riku," sapa Alice.

"Emm... Alice?"

"Ya?"

"Naann..ti ada waktu ngga?" tanya Riku.

"Ada.. Kenapa?"

"Gimana kalau kita ketemuan di Starbucks Coffee?"

"Tentu.. jam berapa?" tanya Alice.

"Jam 3 sore.."

"Oke.. nanti aku ke sana.."

"Oke... Selamat malam, Al.."

"Selamat malam, Riku.."

Begitu Alice menutup ponselnya, ia tersenyum.


Sunday, 14 Februari, 20xx, at Starbucks Coffee, 3.50 P.M

"Di mana Riku?" gumam Alice mencari seseorang yang ia tunggu dari tadi. Yaa.. si cowok rambut putih yang ngajak Alice ke Starbucks Coffee. Baru Alice ingin menelponnya, Riku sudah datang.

"Alice!" panggil Riku, lalu pergi menuju ke tempat duduk yang Alice duduki.

"Kenapa lama sih?"

"Sori.. Lagi bingung..."

"Bingung kenapa?"

"Ngga kenapa-kenapa..."

"Lalu.. Apa alasanmu manggil aku ke sini?" tanya Alice.

"Emmmm... Itulah alasan kenapa aku terlambat.." jawab Riku.

Alice bingung, tapi kemudian ia terkejut begitu melihat Riku mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah, loreng-loreng hitam dan diikat dengan pita berwarna merah.

"Enng.. Apa itu?" tanya Alice.

"Untukmu.." kata Riku sambil memberikannya pada Alice.

"Untukku?"

"Ya.. bukalah.."

Alice membuka kotak tersebut dan dilihatnya sebuah gelang perak yang berhias gambar coklat hati dan bola amefuto dipinggarnya. Ditengahnya tertulis 'Valentine' berwarna hitam dengan tepinya yang berwarna merah.

"Ge-gelang?" tanya Alice ngga percaya.

"Iya.. Aku tadi ke Mall sebentar untuk membeli gelang ini untukmu.." jelas Riku tersenyum.

"Untuk apa?"

"Merayakan Valentine's Day.. Kalau kau?"

"A-aku.."

"Tidak apa kalau kau ngg-"

"A-aku bawa kok.." kata Alice segera mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah dengan pita merah jambu.

"Ng?"

"I-ini.. hadiah Valentineku.. untukmu.." kata Alice menyodorkan kotak itu ke Riku.

Riku, dengan penasaran, membuka kotak itu perlahan dan-

"Woow!" takjub Riku.

-Riku melihat sebuah cupcake di dalamnya.

"Kau membuat cupcake? Keren! Boleh kucoba?" tanya Riku.

"Tentu saja.. Itu kan kuberi untukmu..," jawab Alice.

Riku mengigit cupcake itu dan berkomentar..

"Wow! Enak banget! Resep darimana nih?" girang Riku.

"Resep simpanan nenekku (ibu dari ayah Alice). Tadi dari pagi sampai siang, aku buat cupcake banyak-banyak untuk anak-anak Enma.." kata Alice.

"Benarkah? Tunggu.. Dari pagi? Sampai siang?" tanya Riku ngga percaya.

Alice mengangguk.

"Gila.. Kuat banget.. Ngga capek tuh? Ayo, kuantar pulang dulu" kata Riku.

"Ng? Ngga! Ngga usah.."

"Ayolah.."

"Huff... Fine.."


Sunday, 14 Februari, 20xx, at Starbucks Coffee, 4.50 P.M

Begitu sampai di depan apartemen Alice, Riku dan Alice melihat seorang bapak-bapak yang tengah berdiri di depan pintu.

'Ng? Siapa itu? Pernah ngeliat..' pikir Riku.

"Lho? Ayah?" kaget Alice.

'A-ayah?' kaget Riku dalam hatinya.

"Ah! Alice! Sudah lama ngga ketemu.. Hohoho.. Siapa ini? Temanmu?" tanya bapak Alice.

"Ya, namanya Riku. Riku... ini Smith, Ayahku.." kata Alice malas.

"Nice to meet you, Sir.."

"Nice to meet you too.. Kau temannya, nak Riku?" tanya Smith.

"Y-"

"Bukan.. Dia pacarku.." sahut Alice.

Riku saking terkejutnya, mulai merona.. (apalagi Alice).

"Your boyfriend, huh?"

"Kenapa? Keberatan?" tanya Alice tajam ke ayahnya.

Alice membuka pintu lalu mempersilahkan ayahnya dan Riku masuk.

"Kalian tunggu ya.. Aku buatkan teh dulu.." kata Alice lalu masuk ke dapur.

"Ya.." sahut Smith dan Riku.

Begitu Alice pergi, Smith memecah keheningan.

"Hei, nak.." panggil Smith.

"Ng?" respon Riku.

"Bagaimana keadaannya selama ini?" tanya Smith.

"Cukup baik.. Kenapa, pak?"

"Kau sudah tau tentang ibunya? Apa kau tau tentang boneka kelincinya?"

"Lumayan,pak.."

"Bisa aku minta tolong padamu?"

"Apa itu?"

"Jaga dia dari si 'Red Queen'.."

"'Red Queen'? Siapa itu?" tanya Riku.

"'Red Queen' hanyalah kode namanya. Kau tau.. nama samaran?"

"Oh.."

"Ibu Alice bernama Breda Liddell.. Dulu ia mantan pembunuh di Kanada.. Sekarang ia dibebaskan dan akhirnya ia menikah denganku.."

"Lalu?"

"Code namenya 'Card'. Ia dinamakan begitu, karena ia kaki tangan si pembunuh yang masih aktif sampai sekarang dan telah membunuh Breda.." jelas Smith.

"Siapa nama asli si 'Red Queen' itu?" tanya Riku penasaran.

"Gwendolyn Chaster.."

"Tunggu.. kurasa aku pernah membacanya di koran saat aku masih berumur 10 tahun.. Kalau ngga salah, dia-"

"Buronan.."


Riku berjalan pulang ke apartemennya. Ia jadi teringat kata-kata begitu ia melihat ponselnya yang wallpapernya foto Alice.

Flashback

"Jadi.. apa yang harus kulakukan?" tanya Riku.

"Jagalah dia.. boneka kelincinya harus dibuang.."

"Kenapa?"

"Itu sudah dikutuk oleh Chaster.."

"Dan?"

"Kalau sampai si Alice bertemu Chaster gara-gara boneka itu, maka.."

"Maka? Apa yang akan terjadi, pak?"

"Maka Alice akan dibunuh olehnya seperti ia membunuh istriku.."

End Flashback

Riku mampir ke Starbucks Coffee lagi dan memesan 1 Hot Choco sambil duduk, berpikir tentang bagaimana caranya ia melindungi Alice.

"Apa yang harus kuperbuat?" tanya Riku pada dirinya sendiri.


A/N: yaaah.. ini masih tengahnya.. nanti di chap.7, udah tamat deh.. #plaak.. #tidaksopan!

Yauda,, gimana kalau

Review?