"Huah!"
Mimpi apa itu? Bukankah harusnya aku sudah mati? Ini hari apa? Aku dimana? Tenang Taka, tenang… Mungkin sekarang kamu berada di rumah sakit setelah kepalamu bocor, dan disebelahmu akan ada Sena dan Karin.
Aku menoleh ke samping dan… Hah? Aku berada di kamarku? Sendirian? A-Apa yang terjadi! Ugh, pasti aku bermimpi buruk, kulihat jam wekerku, jam lima kurang limabelas, sempurna, aku segera mengambil seragamku dan pergi ke kamar mandi.
Tapi sebelum kubuka pintu kamar mandi, kuketuk dua kali.
TOK TOK!
Tidak ada jawaban, berarti kamar mandinya kosong, yes!
Aku segera masuk dan mengunci pintunya, berjaga-jaga kalau Sena akan masuk, aku segera—
Hei tunggu dulu! Bisakah kalian memberikanku sebuah privasi?
Setelah mandi yang menyegarkan, aku segera pergi ke dapur, anehnya, tidak ada bekas sesuatu telah terbakar, aku mengangkat bahu saja dan langsung membuat Omelet, kau tahu apa itu Omelet? Semacam telur dadar.
Tidak terasa sudah hari ketiga aku berada di kota Deimon, sejujurnya aku mulai bosan dengan kehidupan ini, tapi untuk Ayahku yang sedang sakit, hal yang bisa kulakukan adalah membawa pulang kemenangan.
"Pagi Taka-kun." Seorang perempuan menuruni tangga, siapa lagi kalau bukan Sena? Kupalingkan wajahku untuk melihat Sena, dia seperti biasa terlihat enerjik, dia juga sudah memakai seragam sekolah, aku akhirnya membuat satu omelet lagi.
"Pagi Sena-san." Kuarahkan pandanganku ke kompor
"Kau memasak apa!" Aku mengarahkan pandanganku ke Sena yang sekarang sedang duduk di kursi, aku tersenyum, "Omelet." Aku mengambil dua buah piring dan menaruhnya disebelah kompor.
Aku berhenti sebentar, "Jadi… Berapa lama aku tidur?" Tanyaku sambil menatap dinding yang kosong.
"Hah?"
"Bukankah kemarin rumah ini terbakar? Dan aku terluka?" Aku membalik kedua Omelet yang sedang kubuat di penggorengan.
"Apa maksudmu? Kemarin kamu tertidur dikamarmu, rumah ini tidak pernah terbakar juga kok."
"A-Apa!" Aku mematikan kompor, "Apa maksudmu! Jadi semua yang kulihat itu—" Aku membalikkan badan dan menatap Sena, Oh tidak, jangan-jangan… semuanya…
"Hanya mimpi, tentu saja." Itu dia yang kutakutkan akan menjadi nyata, "Kamu kelihatan pucat Taka-kun, apakah semalam kamu bermimpi buruk?" Sena menatapku dengan tatapan cemas, aku menggelengkan kepala.
"Tidak, tidak." Aku segera menaruh Omeletnya di kedua piring itu, "Lupakan saja, ayo dimakan Omeletnya." Kuberikan satu piring berisi Omelet dan sendok ke Sena, dan satu lagi untukku.
"Itadakimasu." Ujar kami secara bersamaan.
Selama kami makan, Sena terus menceritakan tentang pengalamannya di SMP, aku tertawa sedikit mendengar cerita-ceritanya, setelah itu kami berdua segera mengambil tas kami berdua dan segera berjalan ke sekolah.
Kami sekali lagi berjalan berdua, cuaca sedikit berawan jadi kami berdua membawa payung untuk jaga-jaga saja, selagi kami berjalan kaki, kami juga mengobrol tentang berbagai hal, bukan hanya sekedar saling berpandangan seperti kemarin.
"Taka-kun! Sena-chan!" Aku menoleh kebelakang dan mendapati Suzuna berlari menghampiri kami, aku berhenti dan melambaikan tangan, begitu juga Sena.
"Ohayou Suzuna-san." Ucap Sena malu-malu, Suzuna menepuk pundakku, "Jadi, semalam kalian berdua ngapain? Fufufu." Apa-apaan sih perempuan ini?
"Aku nggak ngapa-ngapain dia kok." Aku memandang ke langit, berharap hujan akan turun dan membasahi perempuan ini.
"Hei, ngomong-ngomong, kalian tahu tujuh misteri sekolah kita?"
"Tujuh misteri apa?" Sena terlihat ketakutan.
"Katanya ya, dimusim panas, saat kita sedang liburan, banyak yang melihat keajaiban-keajaiban di sekolah kita." Suzuna tertawa cekikikan, Sena memeluk erat tasnya, selamat Suzuna, kamu telah berhasil membuat Sena ketakutan.
Dan kami mendiskusikan tentang tujuh keajaiban sekolah sampai kami tiba di gerbang sekolah, setelah itu Aku dan Sena pergi ke kelas kami.
Saat pelajaran dimulai, aku mulai memimpikan mimpiku lagi, semakin kuingat-ingat, semakin kabur gambarnya, yang bisa kuingat dengan jelas adalah dapur yang terbakar, lalu, lalu… Tunggu dulu, kalau begitu, yang mananya yang mimpi! Tidak, tidak… tidak mungkin…
TAK!
"Taka! Berhenti melamun dan jawablah soal di papan tulis!" Guru itu melempar sebuah kapur dan sukses mengenai kepalaku, meskipun sakit, aku tidak peduli, aku melihat soal yang diberikan guru, itu soal tergampang yang pernah kulihat.
"-2a + 3y" Aku tersenyum melihat wajah guruku yang tercengang, sepertinya jawabanku benar, kulihat ke arah teman-temanku dan beberapa orang tersenyum padaku, mungkin karena ini adalah guru matematika yang paling sok tahu yang pernah ada, dan rumusnya yang ajaib tidak mungkin bisa dipecahkan berhasil dipecahkan dalam waktu singkat.
Setelah semua pelajaran telah selesai, aku segera pergi ke klub literatur, disana aku menemui Karin yang sedang mengetik sesuatu di laptop putih, pasti itu chapter baru untuk novelnya, aku segera mendekar dan melihat layarnya, betul saja, sebuah program mengetik sudah terbuka, dan beberapa huruf sudah diketik didalamnya, "Karin-san, itukah chapter baru novelmu?"
Dia memalingkan wajahnya kearahku, hal pertama yang kulihat adalah sebuah kantung mata yang sangat besar, "Oh, halo Taka-kun." Dia menguap, "Kalau kau bertanya tentang kantung mataku, kemarin aku tidak tidur."
"Bermimpi buruk?"
"Tidak, semalam ada kecoa masuk lewat jendela dan aku berperang semalam suntuk untuk—" Dia mengedipkan matanya beberapa kali, sepertinya dia kesulitan untuk tetap bangun.
"Untuk?"
BLUGH
Dan… Dia tertidur begitu saja di kursi, aduh, bagaimana caranya aku membawanya pulang? Ah, sudahlah, lebih baik aku lihat chapter novelnya yang baru, hm... Seorang anak yang tersesat di hutan ingin mengambil sebuah bunga ajaib untuk, hm... menarik...
"Taka"
"S-Siapa! Siapa disana!" Aku berbalik, tidak ada siapa-siapa, suaranya seperti suara seorang perempuan, suara perempuan itu serak dan sepertinya sudah diambang batas hidupnya, aku merasakan bulu kudukku merinding.
"Kau… Adalah Aku… Kemarilah…"
"Tunjukkan dirimu!" Aku mengambil sebuah sapu yang ada disudut ruangan dan memegangnya seperti memegang sebuah pedang, aku melirik ke kanan dan ke kiri, tidak ada siapa-siapa.
"Sepertinya kita belum bisa menyatu… Aku lebih baik pergi saja."
"A-Apa maksudu! Hei!" Aku mengayunkan sapuku ke arah langit-langit, tidak mengenai apa-apa, ugh… Mungkinkah aku berhalusinasi!
"Tidak Taka, kamu tidak sedang berhalusinasi, fufufu."
"J-Jangan membaca pikiranku seenaknya!"
"Oh, tidak bisa~"
"Sudah cukup!"
"Taka-kun?"
Kaget, aku melihat ke belakangku dan menatap Karin yang memandangku setengah mengantuk, masih duduk dengan santainya di kursinya, "Y-Ya Karin-san?" Keringat mulai bercucuran dari dahiku, jangan-jangan dia pikir aku sudah gila.
"Berapa sendok gula yang dibutuhkan untuk pergi ke bulan?"
"Ng… Dua setengah?"
"Oh." Dia lalu tertidur lagi di kursi, apasih yang Karin pikirkan? Tunggu dulu, aku tidak mendengar suaranya lagi, syukurlah—
"Jahat, aku belum pergi loh."
"GAAAAH!" Aku segera keluar dan membanting pintu, napasku terengah-engah, seprtinya aku baru saja melihat hantu.
"Bagaimana kau tahu aku ini hantu? Aku bukan hantu!"
Suaranya sekarang datang dari ujung lorong, tertangkap kau sekarang! Aku segera berlari dan berbelok di ujung koridor dan melihat—
Tidak bisa dipercaya… Aku melihat seorang wanita berambut putih sama sepertiku, keindahannya bagaikan bidadari, dengan pakaian putih tanpa noda, dan sebuah lingkaran putih bersinar yang melayang diatas kepalanya, kulitnya yang seputih salju membuat hatiku tenang.
"Kamu… Siapa?"
"Aku? Aku adalah Kau, dan Kau, adalah Aku." Malaikat itu mendekatiku, cahayanya yang murni membuatku tidak bisa bergerak, takjub akan keindahannya.
"A-Apa tujuanmu kesini!"
"Tujuanku?" Malaikat itu menatap jendela yang ada di kiriku, sebuah cahaya yang indah datang dari jendela itu dan menyelimuti diriku, dadaku berdegup kencang, apa ini? Aku merasa… Senang… Sepertinya, rasa bosanku sudah hilang, entah kemana.
"Cahaya apa ini?"
"Ini adalah cahaya kebenaran, bagimu yang telah disinari cahaya ini, diberikanlah kepadamu senjata hati, gunakanlah dengan baik dan benar, jangan hanya untuk membuatmu tenar."
"Senjata hati? Bagaimana aku membuatnya muncul?"
"Senjata hati hanya bisa digunakan jika kamu mempunyai hati yang besar." Aku baru sadar kalau sosok malaikat itu memudar.
"T-Tunggu dulu!" Aku berusaha meraihnya dengan tanganku, tapi sepertinya tidak sempat.
Senjata Hati… Apa maksudnya?
"Taka-kun?" Aku berbalik dan mendengar suara Karin, benar saja, dia keluar dari ruang klub dan menghampiriku, "Sudah mau pulang?"
"Yah, begitulah." Aku segera pergi ke ruang klub dan mengambil tasku, disusul dengan Karin yang mengambil tas miliknya dan memasukkan laptop putih kedalamnya.
"Ayo Taka-kun, aku ingin cepat-cepat tidur." Dia merentangkan tangannya, dan diapun keluar dari ruang klub, disusul denganku, aku mulai bertanya-tanya, apakah dia melihatku bersama Malaikat itu? Tidak, dia pasti akan berpikir kalau itu hanya khayalan belaka.
Kami tidak mengobrol sepanjang perjalanan pulang, tanpa sadar, aku sudah tiba dirumah, aku segera masuk sebelum malam tiba, "Tadaima." Aku menutup pintunya dan pergi ke kamarku.
"Taka-kun, kau sudah pulang." Sena membuka pintu kamarnya dan menyapaku, "Bagaimana kalau kita bermain?"
"Maaf Sena-san, aku ingin tidur, aku merasa lelah sore ini." Aku segera membuka pintuku dan menutupnya, kupandang langit-langit kamarku, melamun tentang hal-hal yang sudah terjadi selama 3 har ini, aku segera berbaring di tempat tidur dan memejamkan mataku.
-Restorasi Data Mencapai 12%-
Aku pernah bermimpi, aku tidur di sebuah awan diatas langit, disinari mentari yang cerah, burung yang berkicau merdu, serta harumnya air laut yang tidak bisa kulupakan.
Entah kenapa, sepertinya aku pernah melihat semua ini.
Tapi dimana?
Kapan?
Bagaimana?
Aku Taka Honjou, seorang siswa di SMA Debiru Batou, dan aku tidak pernah sekalipun tidur diatas awan.
Jadi…
Apa maksudnya mimpi ini?
Halo, update Chapter 3 dari A Simple Story.
Aku sempet bingung mau nulis apa buat chapter ini, jadi saya tambahin sebuah twist deh XD
Mungkin Chapter ini terlalu pendek ya?
