Kau tahu apa itu sebuah mimpi?
Mimpi adalah sebuah gambaran sebuah kejadian
Entah itu yang masih berlangsung, yang ada di masa lalu, yang ada di masa depan, atau kejadian yang terjadi diluar dimensi dimana kamu bernapas.
Mimpi adalah kenyataan di dimensi yang lain.
Mimpi adalah jembatan antara dunia ini dan dimensi yang lain.
Nah, apakah kamu berani menyeberangi jembatan itu?
Beranikah kamu meraih tanganku?
Sinar matahari yang terang membuatku terbangun dari mimpiku yang aneh, kulihat jam wekerku, 40 menit sebelum alarm berbunyi, hebat, hari keempatku di kota Deimon, dalam empat hari ini sudah banyak kejadian aneh yang terjadi.
Lebih baik aku segera mandi dan pergi ke sekolah saja, aku sekali-sekali ingin melihat sekolahku di pagi hari, sekaligus menghirup udara segar kota Deimon, siapa tahu aku bisa menemukan sebuah kejadian menarik lagi.
Dan tolong, untuk yang kesekian kalinya, berikanlah aku satu atau dua privasi untuk mandi.
Dalam perjalananku ke sekolah, hal yang paling banyak kulihat adalah kabut putih, dimana-mana ada kabut putih. Seakan-akan aku terbang menembus awan, dengan hati-hati aku berjalan menaiki bukit dimana sekolahku berada, melewati beberapa orang yang memakai jas berkelas, apa yang mereka lakukan disini?
Dalam perjalananku, aku terus memikirkan wajah orang yang memakai jas, sepertinya dia seorang perempuan berambut putih dengan kulit yang pucat, tidak, mungkinkah dia itu Malaikat yang kemarin kutemui?
Tanpa kusadari, aku sudah sampai di gerbang sekolah, aku segera menghilangkan pikiran-pikiranku yang aneh dan berjalan dengan santai menuju kelasku, hmhmhm… aku tidak percaya betapa senangnya bisa berjalan di pagi hari.
Aku masuk ke dalam kelasku, tidak ada orang, terkecuali empat orang yang bisa dibilang sebagai grup yang aneh, empat orang itu adalah seorang perempuan yang wajahnya seperti wajah seorang selebritis, dua orang otaku, satu orang cowok dan satu orang cewek aku bisa mengenalinya karena mereka duduk paling dekat dengan meja penuh dengan tumpukan komik, dan satu orang lagi seperti seorang seniman, dia bahkan memegangi sebuah kanvas putih kosong ditangannya, sepertinya dia sedang menggambar teman-temannya..
Mereka melirik ke arahku, aku melambaikan tangan, mereka melambai balik, sepertinya mereka orang-orang yang baik dan bisa dijadikan teman, jadi aku menarik sebuah kursi dan duduk di samping laki-laki yang seperti seorang seniman itu.
"Salam kenal, namaku Taka, Taka Honjou."
"Nha? Pen-name?" Otaku yang laki-laki sepertinya kebingungan.
"Mana ada teman sekelas kita yang memakai pen-name Kakei-kun." Perempuan itu berusaha menjelaskannya pada Kakei, "Itu pasti nama samaran, mungkin dia itu semacam Agen Rahasia." Apa? Agen Rahasia?
"Nha! Aku tahu! Dia pasti jelmaan seekor elang!"
"Tidak-tidak, dia pasti seorang bajak laut!"
"Sebenarnya itu bukan nama samaran atau pen-name, itu namaku yang sebenarnya." Aku tidak ingin ada seorang yang kebingungan.
"Nama asli?" Aku mengangguk mendengar suara perempuan otaku itu, "Hee, namamu seperti nama seorang yang kalem dan atletis seperti dalam komik-komik." Eh? Apa?
"Ah! Iya! Biasanya dia punya kekuatan melompat yang tinggi!" Eh? Apa?
"Dan dia pasti anak dari seorang atlit professional!"
"Apakah mereka selalu seperti ini?" Dengan pasrah aku bertanya pada perempuan yang dari tadi tersenyum geli, dia mengangguk.
"Jangan hiraukan mereka berdua Taka-kun, mereka selalu seperti ini apapun yang kau lakukan." Dia tertawa kecil, "Namaku Julie Sawai, panggil aku Julie saja." Dia lalu mengarahkan tatapannya ke arah kedua orang otaku itu, "Yang perempuan namanya Rinko Kumabukuro, dan yang laki-laki namanya Kengo Mizumachi."
"Salam kenal, panggil aku Rinko saja." Dia menjabat tanganku.
"Nha, senang bertemu denganmu, panggil aku Mizumachi saja." Cengirannya seperti kuda, aku tidak percaya kalau itu bisa dilakukan oleh manusia biasa.
"Hei Julie, tolong ambilkan cat warna biru itu." Laki-laki itu menunjuk sebuah cat biru yang ada di dekat Julie, Julie melemparnya dan dengan sukses ditangkap olehnya.
"Ah! Aku lupa, dia Kakei Shun, hobinya banyak dan bervariasi, tapi dia lebih menyukai melukis dari semua hobinya." Julie menjelaskan.
"Salam kenal Taka-kun, panggil aku Kakei saja." Dia berhenti sejenak dari melukisnya, dia membalik lukisan itu dan memperlihatkan muka tiga orang yang sedang duduk berdekatan dan tertawa dengan riang, di kana nada Mizumachi, di tengah ada Rinko, dan di kiri ada Julie, gambarnya sangat detil dan pewarnaanya bagus.
"Kakei-kun! Gambarmu sangat bagus seperti biasanya!" Rinko menepuk tangannya, sepertinya dia sangat menyukai lukisan itu.
"Tapi sayangnya ketampananku tidak bisa dilukiskan oleh lukisan yang setingkat itu." Mizumachi membusungkan dadanya.
"Apa maksudmu ha? Aku sudah capek tahu membuat lukisan ini selama 3 hari, dasar bodoh." Kakei lalu menjitak Mizumachi, aku tertawa bersama Rinko dan Julie, lalu Kakei dan Mizumachi juga tertawa.
Benar-benar sekumpulan orang-orang aneh, tapi entah kenapa, mereka semua sepertinya sangat baik.
Aku tidak sadar bel sudah berbunyi, dan ada seorang laki-laki yang meminta kursinya dikembalikan, jadi aku segera mengembalikan kursiku ketempat semula dan duduk di tempatku dan segera menatap papan tulis.
Hari ini pelajarannya sangat-sangat menarik, tidak terasa sudah waktunya aku harus pulang, hari ini rabu, jadi tidak ada kegiatan di klub literatur.
"Taka-kun!"
Aku melihat kebelakang, seorang perempuan berambut pirang sebahu mendatangiku dengan sebuah pedang bambu di tangan kanannya, tepat waktu, aku sudah merasa bosan.
Aku ingat dia, dia perempuan yang membangunkanku dulu, dulu sekali, tepatnya dua hari yang lalu, tetapi dua hari yang lalu serasa bagaikan dua tahun, halah, gombal.
"Konichiwa, namaku Megu, Tsuyumine Megu, aku sekelas denganmu, kau ingat?" Aku mengangguk, "Apa yang membuatmu datang sepagi itu?"
Aku bertanya-tanya di dalam hati, apa yang dilakukan gadis ini pagi-pagi sekali tadi, sepertinya aku melihat dia deh, tapi dimana ya? Tapi mungkin untuk lain kali saja aku tanyakan padanya, "Aku ingin melihat suasana sekolah ini dipagi hari." Jelasku singkat, Megu tersenyum, sepertinya jawabanku diterimanya dengan baik.
"Tidak akan kuizinkan!" Eh? Apa-apaan perempuan ini?
"Memangnya ada apa di sekolah ini?"
Kulihat wajah Megu yang merasa tidak nyaman, sepertinya benar ada yang disembunyikan di sekolah ini.
"Kau janji tidak akan bilang siapa-siapa?" Aku mengangguk, "Kemari." Dia melambaikan tangannya, aku dengan hati-hati mengikutinya, dengan perasaan cemas dan ragu-ragu, kami pergi ke belakang sekolah dan masuk ke sebuah hutan yang lebat.
Hutan ini tidak terlalu besar, tapi dalamnya tidak bisa dilihat, hutan yang aneh, hutan ini seperti sarang monster di novel-novel fantasy, tapi kudengar udara di hutan itu segar, jadi aku masuk saja.
Suara-suara aneh di hutan itu sama sekali tidak membuat Megu ketakutan, mungkinkah dia sudah biasa dengan lingkungan-lingkungan seperti ini? Aku membayangkan dirinya sebagai kloningan Indiana Jones, tentu saja Kloningan yang lebih cantik.
"Kita sudah sampai." Jelasnya, aku bisa melihat sebuah gudang berwarna hitam yang sepertinya sudah tidak lama digunakan," Bagaimana? Aku menemukan tempat ini beberapa hari yang lalu dan menjadikannya klub rahasia.
"Klub Rahasia?" Aku menatapnya dengan curiga, "Memangnya apa yang bisa dijadikan rahasia?"
Megu tersenyum, sepertinya dia sudah tidak sabaran ingin menunjukkan sesuatu padaku, dia memperlihatkan tangannya yang kosong, "Lihatlah tangan kananku." Aku mengangguk.
Beberapa saat kemudian, cahaya dan kegelapan menyelimuti tangan kanannya, lalu dengan sekali ayunan, sebuah pedang katana terbentuk, katana itu mengeluarkan aura berwarna putih dan bersinar terang layaknya lampu dimalam hari.
Aku tercengang, tidak mungkin ada hal seperti ini di dunia ini—eh, tunggu dulu, kalau dipikir-pikir lagi, harusnya malaikat yang kemarin juga tidak ada di dunia ini.
"Bagaimana? Kerenkan?" Aku ingin bilang keren, tapi hal ini bisa dibilang jauh dari keren, ini lebih keren daripada keren.
"Bagaimana kamu melakukannya?" Aku bertanya dengan antusias, "Gampang, aku cukup memanggil kekuatan yang ada di dalam hatiku." Jelasnya, "Hei, mungkin kamu punya kekuatan yang sama." Aku mengangguk.
Aku mencoba memanggil kekuatan yang ada di dalam hatiku, tapi berapa kalipun kupanggil, tidak keluar apa-apa, yang ada aku yang capek.
Aku mencobanya lagi, kali ini aku bisa memanggil sebuah aura putih untuk berkumpul ditanganku, tapi hanya itu yang bisa kulakukan! Tidak seperti Megu yang bisa membentuk sebuah Katana, aku benar-benar payah, aku segera duduk karena kecapekan
"Tidak apa-apa kok, nanti kamu juga terbiasa." Megu berusaha menyemangatiku, dia lalu duduk disebelahku, aku tersenyum lalu menatap langit, Megu juga ikutan menatap langit, kami menatap langit sore bersama-sama. "Sepertinya sudah sore, ayo kita kembali." Aku mengangguk dan berdiri.
Beberapa menit kemudian, aku dan Megu keluar dari hutan itu, aku ingin segera pulang kerumah, badanku berkeringat, aku ingin mandi air panas seperti kemarin, benar-benar menyegarkan.
Di perjalananku pulang kerumah, aku bertanya-tanya tentang apa yang baru saja kulihat, kalau Megu mempunyai senjata seperti itu, darimana datangnya.
Apakah Megu akan menggunakan senjata itu untuk kebaikan…
Ataukah dia itu berpihak pada kejahatan?
Ataukah dia itu yang memberikan kekuatan hati itu padaku dengan berpura-pura menjadi malaikat yang kemarin?
Apakah mungkin aka nada sesuatu yang terjadi disini? Dikota yang tidak ada apa-apanya ini?
Dan apa tujuanku di kota ini?
Selain mencoba mendapatkan hati perempuan tentunya.
Saat aku sampai kerumah, sebelum aku sempat menggeser pintunya, ada sebuah ledakan yang dahsyat yang menghancurkan seluruh rumah dan mementalkanku ke tembok di depan rumahku, apa-apaan!
Aku segera mengambil sebuah pipa panjang dan segera mencari Sena dipuing-puing rumahku, aku berhasil menemukan Sena dalam keadaan pingsan, apa yang terjadi disini?
Benar! Aku harus memanggil ambulans! Aku segera mengambil HP-ku di kantong celanaku dan menelpon Rumah Sakit.
"Ayolah Sena! Jangan mati!" Ujarku terus menerus sambil memencet 3 nomor untuk menelpon Rumah Sakit.
Hei, hei! Chapter 4!
Please R n' R! ^^
