-Restorasi data mencapai 27%-
Sudah berapa lama aku berada disini? Kau tanya?
Meskipun baru sekitar 45 menit, bagiku rasanya seperti 3 jam.
Aku duduk di kursi yang paling dekat dengan ruang operasi, dengan badan yang gemetaran dan pikiran yang kacau, ditemani oleh Shuuma di sebelah kananku, wajah kami terlihat pucat, Sena mengalami sebuah luka yang serius, entah bagaimana, sebuah peluru sudah tertancap di bagian kanan perutnya, padahal tidak ada luka bekas terjadinya sebuah tembakan.
"Shuuma-san, tolong beritahu aku." Aku menatap Shuuma, "Apakah Sena pernah tertembak peluru?
Keringat mulai bercucuran dari dahi Shuuma, apa yang sebenarnya terjadi dengan keluarga ini dimasa lalu? Apa yang tidak kuketahui!
Aku mulai membayangkan berbagai skenario yang sepertinya terlalu rumit untuk dipahami orang-orang, mulai dari Sena adalah mafia, atau dia pernah diincar oleh segerombolan mafia.
"Taka, berjanjikah kamu tidak akan mengatakan apapun?" Shuuma menundukkan kepalanya, wajah cemas terlihat jelas di wajahnya.
"Aku berjanji."
Shuuma menatap mataku, dia tersenyum, "Baiklah Taka, sebenarnya Sena bukanlah anakku." Apa? Dia bukan anakmu?
"Jadi maksudmu, Sena adalah anak angkat!" Aku menatapnya dengan amarah terlihat jelas dimataku, dia sekali lagi menundukkan kepalanya.
"Bukan Taka, dia adalah seorang "Fallen Angel", mahluk setengah iblis dan setengah malaikat."
"Apa kau bilang!"
Aku tidak bisa percaya apapun yang dia katakan, semua ini terdengar terlalu mistis dan jauh dari realita, apakah semua itu ada atau tidak ada? Apakah semua itu nyata atau tidak nyata! Apakah ini semua hanya mimpi buruk? Kalau begitu bangunkan aku sekarang juga!
"Taka, aku ingin kamu menjaga Sena."
"Apa! Untuk apa aku menjaga perempuan seperti dia!" Aku memukul dinding itu sekuat mungkin, seketika dinding itu retak dan remuk menjadi serpihan-serpihan yang kecil, Shuuma berhenti dan memandangi dinding yang remuk.
"Kalau begitu kau harus kupaksa!" Seorang perempuan berusaha menebas punggungku dari belakang, aku segera berguling ke kiri dan dengan cepat, aku melompat dan menonjok kepala perempuan itu, sayangnya pukulanku ditahan oleh sebuah pedang, cih.
Kulihat siapa perempuan itu, perempuan dengan ciri-ciri yang sama dengan malaikat yang memberikanku kekuatan hati itu, mungkin aku akan terkejut bila melihat orang seperti ini, tapi sekarang aku terlalu termakan amarahku untuk bisa kaget.
"Siapa kau sebenarnya!" Aku menjauh dan bersiap-siap menerima serangan berikutnya, dengan santainya perempuan itu melenyapkan pedang itu dan entah darimana dia mengeluarkan sebuah pistol berwarna merah, sekilas aku melihat sesuatu yang ganjal dari pistol itu, tidak ada lubang untuk memasukkan peluru, apa-apaan pistol itu!
"Aku adalah kamu, Taka, aku datang dari dimensi yang lain, namaku Jouka Honta, di dunia asalku, aku dipanggil sebagai Setan Cahaya." Dia berhenti sebentar dan mengarahkan pistol itu kearah kepalaku, "Dan aku ingin kamu menjadi Setan Ketidakadaan."
"Apa!" Jantungku berpacu cepat, kesadaranku bagaikan hilang dari muka bumi ini, dengan segenap tenaga aku segera menerjang musuh dan meninju kepalanya, tapi aku kurang cepat, pelatuk pistol itu sudah ditarik, sebuah peluru berhasil menancap di kepalaku, kesadaranku sekarang benar-benar hilang, pergi entah kemana.
Satu hal yang kusesali, aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Bangunlah, Taka.
Mataku yang tertutup kubuka pelan-pelan, di depan mataku terdapat wajah diriku yang lain, kalau tidak salah namanya Jouka Honta, seorang setan cahaya, ini benar-benar diluar batas kemampuan berpikir manusia, rasanya aku disisipkan disebuah novel fantasi, berperan menjadi pemuda yang akan menyelamatkan dunia.
Taka, kau bisa mendengarkanku?
"Mau apa kau denganku sekarang?" Perempuan itu mengulurkan tangannya padaku, dengan perasaan kesal, aku menepis tangannya dan aku langsung berdiri dan menatap mata gadis itu, penuh dengan ketakutan dan putus asa.
"Sepertinya kesadaran kita telah bergabung menjadi satu."
"Jadi kita harus berbagi tubuh? Ugh, ini semua menjadi semakin rumit dan rumit."
Jujur, aku tidak suka berbagi tubuh dengan seorang perempuan, kalau begini privasiku saat mandi hilang sudah.
"Tunggu, sebenarnya kita ada dimana? Semuanya gelap disini."
"Kita ada di dalam hatimu Taka, atau bisa dibilang hatiku dan hatimu." Perempuan itu bermain-main dengan jari telunjuknya, oh tidak, jangan-jangan dia… oh tidak, ini sangat buruk!
Aku selalu melihat ini di manga-manga dan novel-novel ternama, kalau perempuan bermain-main dengan jari telunjukknya, artinya dia suka pada seorang laki-laki.
Tapi kenapa harus aku yang dia cintai? Kenapa tidak orang lain saja!
"Ah! Kita tidak punya banyak waktu disini! Kita harus bersiap-siap! Dia akan datang menyerang!"
"Dia?"
"Dia adalah setan kegelapan yang mengontrol setan api, air, petir, tanah, angin, dan es!" Wajahnya seperti orang yang baru melihat hantu, "Setan petir sudah datang!"
"Secepat itu?"
"Ya! Setan kegelapan tidak akan berlama-lama menunggu untuk menyerang! Tapi jangan khawatir, aku sudah menyiapkan beberapa orang untuk menghadapi Setan petir." Ujarnya dengan santai, dengan sekali ayunan tangan kanannya, sebuah layar muncul di langit-langit dan menampilkan seorang perempuan berambut pirang panjang sedang bertarung dengan seorang laki-laki.
"Megu!"
"Oh, kau sudah bertemu dengannya ya? Baguslah kalau begitu." Kupandang terus layar yang ada di langit-langit.
"Hei, bisakah kau tambahkan sebuah Speaker raksasa? Tidak seru kalau tidak ada Speakernya." Aku tertawa kecil, kutatap wajah diriku yang satu lagi yang sedang tersenyum kecil, "Tentu saja ada." Dia menepuk kedua tangannya dan dua speaker raksasa tiba-tiba muncul, aku tersenyum dan menatap layar itu sekali lagi.
Mungkin tidak apa-apa jika aku berbagi tubuh dengannya.
"Tunggu, bukankah kita seharunya membantu Megu!"
"Apakah kamu bisa mengeluarkan Artifact milikmu?"
"Apa itu Artifact?"
"Senjata hatimu."
"Belum."
"Kalau begitu, kau harus tetap disini sampai kau bisa mengeluarkannya."
"Bagaimana caranya aku mengeluarkannya?"
"Apakah kau ingat saat kau meremeukkan dinding ruang tunggu itu?"
"Ya, memangnya kenapa?"
"Ingatlah perasaan saat kau melakukan itu dan kau pasti bisa mengeluarkan Artifact milikmu."
Jadi begitu? Kalau begitu ini adalah sesuatu yang mudah! "Bersiaplah diriku yang satu lagi! Hea!" Aku segera menerjang diriku yang satu lagi dan memukulnya di bagian wajahnya.
BUK
-Megu's POV-
Tengah malam seperti ini mungkin lebih enak kupakai untuk tidur, tapi sepertinya aku harus mengalahkan Setan petir ini dulu, seperti yang dikatakan oleh Jouka-chan, tapi bagaimana caraku mengalahkannya?
Saat ini aku sedang dalam perjalanan menuju sumber semua masalah tidurku, sebuah awan petir yang terus menyambar di dekat distrik pertokoan yang berada tepat di sebelah rumah tetanggaku, benar-benar menyusahkan, kenapa mereka tidak menyerang saat sore-sore saja, atau hari libur?
Aku hanya bercanda.
Lebih baik mereka menyerang malam-malam, aku lebih gampang menghabisi mereka di kegelapan malam yang hanya disinari oleh sinar rembulan.
Aku bisa membayangkan kekerenan diriku sendiri 'Gadis Samurai memotong Iblis dengan pedangnya yang sakti dibawah sinar rembulan', cukup kerenkan?
Tapi sepertinya 'pedang' bukan kata-kata yang tepat, mungkin lebih tepat dibilang sebagai 'Artifacts', atau lebih gampangnya adalah sebuah senjata yang diproyeksikan oleh hati, mungkin masih susah dimengerti ya?
Saat aku berbelok di pertigaan, aku melihat segerombolan manusia bersayap yang memenuhi gang sempit itu, mereka memandangiku dengan tatapan kosong, itukah yang Jouka sebut sebagai "Lowrank?", atau lebih tepatnya iblis kelas bawah yang menuruti segala permintaan iblis kelas atas.
"Minggir! Aku tidak punya banyak waktu!" Teriakku dengan kencang, kukeluarkan Artifact milikku dan mulai menebas para Lowrank itu satu persatu, dengan cepat aku membuat jalan ditengah kerumunan Lowrank itu, dengan cepat aku berhasil mencapai pusat distrik pertokoan itu dan melihat seorang laki-laki melayang diatas air mancur.
"Hm? Kau mau apa perempuan?" Sepertinya Iblis itu bisa dengan cepat merasakan keberadaanku, sial, padahal aku mau menebasnya secara diam-diam.
"Apakah kamu sang Iblis petir?"
"Itu benar."
"Siapa namamu?"
"Rukai Taniki, salam kenal."
"Megu Tsuyumine, senang bertemu denganmu."
Iblis itu tiba-tiba menghilang, kemana perginya dia? Aku menoleh ke kiri dan ke kanan, tidak ada siapa-siapa, aku memasang kuda-kuda kendo untuk berjaga-jaga, tenanglah Megu, biasanya dia ada di belakangmu, aku memantapkan semangatku, kugenggam erat-erat pedang milikku dan kuayunkan kebelakang.
Dan benar saja, disitu ada Rukai yang menahan serangan pedangku dengan enam buah tombak yang melayang dan mengitari tubuhnya seperti planet-planet yang mengitari matahari, dia tersenyum licik, aku bisa merasakan sebuah hembusan angin dibelakangku, celaka! Aku berguling ke sebelah kiri dengan cepat, menghindari serangan sebuah tombak yang hampir menusuk punggungku.
"Kau hebat juga cewek." Iblis itu menggerakkan tangann kanannya dan tombaknya melayang ke arah tangannya seperti ditarik oleh angin, dia lalu menggenggam tombak itu dengan erat dengan tangan kanannya dan di tangan kirinya digenggam erat tiga buah tombak, sisanya melayang mengitari tubuhnya.
"Tentu saja aku hebat, aku seorang samurai!" Aku menggenggam erat pedangku dan dengan cepat, menerjang Iblis yang melayang di udara itu, dengan sasaran tusukanku langsung menembus jantung, "Terimalah ini!" Dengan sukses, aku berhasil menusuk jantung Iblis itu, wajah Iblis itu seperti tidak percaya kalau dia kalah, tapi beberapa detik kemudian berubah menjadi senyuman licik, sekali lagi aku berbalik dan melihat Rukai melemparkan tombak-tombaknya ke arahku, aku secara ajaib berhasil menahan ke-delapan tombak-tombak itu dengan pedangku.
Segera setelah kakiku menyentuh tanah, aku segera menjaga jarak dengan Rukai, bisa gawat kalau aku sampai diserang seperti itu lagi.
"Hei! Jangan bengong!" Aku menoleh ke arah kiriku dan sederet petir menyambar ke arahku, apa-apaan ini? Ini gila! Tapi aku bisa melihat sebuah celah di deretan petir yang menyambar itu dan dengan lihai, aku berhasil menghindari petir-petir yang menyambar itu.
"Aku disini." Saat aku menoleh ke kiri, Rukai menerjang dengan 3 buah tombak yang dialiri oleh listrik yang siap menusuk sate tubuhku, aku menghindar ke kiri dan berusaha menebasnya, tapi dia terlalu cepat, kemana dia?
Mataku tidak bisa mengikuti gerakannya, dia sepertinya bisa melakukan teletransportasi, pantas saja aku tidak bisa mengikuti gerakannya, dengan hati-hati, aku berjalan mundur beberapa langkah, bersamaan dengan melacak keberadaan Rukai.
"Sekarang aku ada diatasmu." Aku menoleh ke atas dan mendapati Rukai sedang meluncur dengan cepat, aku tersenyum, ku arahkan ujung pedangku ke langit dan kedua tanganku kuputar searah dengan jarum jam, mengambil ancang-ancang untuk melakukan sebuah jurus yang turun temurun diajarkan dari master dojo ke calon master dojo berikutnya.
Namanya adalah
"NAGA MENCAKAR LANGIT!"
Aku berputar-putar dengan cepat dan menghasilkan sebuah angin puyuh, aku segera naik ke angin puyuh itu dan sampailah aku tepat dibelakang Rukai, "Hea!' Aku mengayunkan pedangku dari titik teratas yang bisa dicapai lenganku dan dengan cepat kuayunkan kebawah, menebas angin yang berhembus dari bawah ke atas, sayangnya, Rukai mengetahui taktikku dan menahan seranganku dengan dua dari delapan tombaknya, aku tersenyum.
"Apa yang lucu?" Geram Rukai, aku hanya bisa tertawa.
"Kau mau tahu kenapa Rukai? Karena jurus ini bisa menghancurkan semua benda yang menahannya!" Di bagian yang ditebas oleh pedangku, terlihat retakan-retakan, dan akhirnya, kedua tombak itupun hancur dan seranganku mengenai Rukai dengan sukses.
Suara benturan pertanda bahwa aku sudah dinyatakan menang terdengar dengan jelas, diikuti oleh geraman Rukai yang sepertinya sedang menahan sakit yang luar biasa, aku segera berdiri dan meninggalkan Rukai sendirian.
"Tunggu!"
Aku menoleh kebelakang dan melihat Rukai berusaha berdiri tegak, memegangi salah satu tombak petirnya dengan erat, aku tidak menghiraukannya dan segera pergi meninggalkannya.
"Aku bilang tunggu! Kau belum menghabisiku!"
"Untuk apa aku menghabisimu? Aku yang menang, aku yang menentukan hidup dan mati seorang yang kalah." Aku melenyapkan Artefact milikku dan berjalan pergi.
"Huh, aku memang payah, sampai harus dikasihani oleh musuh."
Aku berbalik dan melihat wajah Rukai yang berlinang air mata, aku merasa agak kasihan, jadi aku menghampirinya, dan kupeluk Rukai dengan erat.
"Apa yang kau—"
"Sudah cukup, aku mengerti, kalau kau sampai kalah, pasti Iblis Kegelapan akan memusnahkanmu, iya kan?" Aku mengelus rambutnya yang berwarna putih, sepertinya dia merasa sedikit lebih tenang.
"Tolong aku."
"Ya, aku akan menolongmu, jadi tenanglah." Aku tersenyum, lalu membantunya berdiri, "Ayo, kamu boleh tinggal dirumahku untuk sementara waktu ini." Aku mengangkat bahunya yang sebelah kanan, kami seperti sedang bermain lomba lari dua orang tiga kaki, meskipun dia seorang Iblis, entah kenapa perasaanya bisa sama seperti seorang manusia.
Aku jadi bertanya-tanya, apakah mereka semua yang akan menyerang kita itu benar-benar Iblis?
Taka's POV
BUK
Aku terjatuh setelah berhasil diberikan bogem mentah oleh diriku yang satu lagi, aku berusaha untuk berdiri, tetapi tubuhku sudah terlalu lelah, "Cukup… sampai sini dulu…" Aku meronta kecapekan.
"Kau ini, kau bahkan belum bisa mengeluarkan Artefact milikmu."
"Semua dalam waktunya…"
"Baiklah, untuk sementara waktu ini, aku akan menceritakan tentang masa lalu Sena."
"Untuk apa kau menceritakannya sekarang?"
"Shuuma menyuruhku."
"Baiklah, aku siap mendengarkan."
To be Continued on Chapter 6
Kok jadinya keluar dari tema aslinya ya? Ah biarin deh, kayaknya lebih seru kayak begini XD
Padahal saya pertamanya cuman mau bikin kehidupan normal seorang anak SMA, tapi ujung-ujungnya malah jadi fic kayak begini =="
Please Read n' Review
