-Restorasi Data mencapai 87%-
Cinta itu sesuatu yang gampang hancur.
Entah karena dibakar habis oleh api kecemburuan.
Atau dihancurkan oleh perasaan kebencian.
Cinta tidaklah abadi.
Dan cinta bisa membuatmu menjadi sinting.
Mereka… Keren.
Aku harus mengakuinya, meskipun berisiko kalau datang di saat yang paling terakhir bisa mengakibatkan orang yang akan diselamatkan akan mati dan terkulai ditanah dengan tubuhnya bermandikan darah dan penuh dengan luka bakar di ambang batas hidupnya yang tentram dan damai, tapi mereka tetap keren!
"Kamu bicara apa sih Taka? Panjang lebar begitu."
Ng… maaf.
"Hei, Kakei-kun, mau diapakan setan yang membeku ini?" Kulihat Mizumachi memencet kepala Karin beberapa kali, aku hanya bisa menggelengkan kepalaku.
"Bagaimana kalau dia kita bawa pulang?" Sahut Kakei yang menggondol es dimana Karin terperangkap di bahunya, Aku tidak menyangka dia sekuat itu.
"Hei, Kakei-kun." Rinko membidik panahnya ke arah es yang ada di bahu Kakei, Kakei yang masih dengan muka stoic miliknya, menatap bingung akan perbuatan Rinko.
"Memangnya kenapa Rinko-san?" Kakei menaruh es itu dilantai, tetapi segera mundur saat mengetahui es itu perlahan-lahan menguap.
Jujur, aku juga kaget, bagaimana denganmu Diriku yang satu lagi?
"Sama, aku juga kaget."
Dan kau pernah melawan Setan-setan ini dan tidak mengetahui kalau mereka bisa melakukan hal-hal seperti ini?
"Hei, jangan salahkan aku, dulu setan apinya itu seorang laki-laki yang gagah, berani, dan perkasa!"
Jadi… kamu dulu mencintainya?
"Tentu saja tidak! Itu kenyataan yang tidak bisa diubah!"
"Hei! Daripada kamu bengong, lebih baik kita segera pergi dari sini!" Aku dengan panik mengalihkan pandanganku dan melihat ke-empat pahlawanku itu sudah berdiri di depan pintu tempatku naik tadi, benar-benar heroik.
"Dan kau mengoceh tidak jelas tentang bagaimana hebatnya mereka."
Berisik.
"Kau tahu? Aku sepertinya pernah melihat mereka."
Kita baru saja makan bersama mereka…
"Aku tahu, tapi sepertinya aku pernah melihat mereka jauh-jauh sebelumnya."
Tunggu! Sekarang bukan saatnya berdebat tentang itu, aku segera berlari ke pintu yang menuju tempat yang selamat—
"Tidak akan kubiarkan kau lari… Taka-kun…"
-Oh sial…
Aku berbalik kebelakang dan melihat Karin yang sudah siap membelahku dengan sebuah pedang yang diselimuti api berwarna biru, itukah Artefact miliknya? Benar-benar mengerikan.
"Cemburu, Dengki, dan Cinta, mereka dililit oleh sebuah benang yang bernama "Takdir", sebuah Takdir tidak bisa diubah, kalian hanya bisa meminta takdir itu berakhir dengan cepat, karena itu, aku akan mengakhiri ini sekarang juga, bersiaplah Taka-kun, aku akan memberikan sebuah takdir yang akan segera mengakhiri kehidupanmu."
Aku segera memfokuskan seluruh kekuatanku di lengan kananku, dan muncullah sebuah…
Pedang!
Tunggu dulu! Seseorang jelaskan padaku apa yang terjadi disini!
"Mungkinkah?"
Ada apa?
"Mungkinkah kalau kau… mempunyai Artefact yang mirip dengan Hollo?"
Tidak mungkin! Aku mempunyai kekuatan sehebat itu? Tapi… aku tidak mau memakai kekuatan seperti ini untuk menyakiti Karin… apa yang harus kulakukan… hei… Jouka…
"Keputusan ini… hanya bisa dijawab olehmu seorang… Taka…"
Aku mengerti… aku yang membuatnya seperti ini…
"Karin-san…"
"Apa Taka-kun?" Kutatap Karin yang menatapku balik dengan mata yang kosong, seperti jiwanya dikendalikan melalui remote control, dikendalikan oleh seorang pengendali boneka dibalik layar.
"Apa yang… membuatmu menjadi seperti ini?"
"Kau mau tahu kenapa?" Aku mengangguk, "Karena kau mirip seseorang yang aku cintai, dulu sekali, dulu-dulu-duluuuuu sekali, aku masih bisa mengingat wajahnya, rambutnya yang berwarna putih keperakan, sama seperti wajahmu, hahaha…"
Aku tidak tega mendengar tertawanya yang menyedihkan, aku tidak bisa menghentikan setetes air mata yang mengalir dari mata kiriku.
"Kau… menangis?"
"Ya, aku menangis karena kau sudah kehilangan akal sehatmu Karin, aku berjanji, aku akan mengembalikan akal sehatmu Karin!" Aku mengarahkan pedangku ke arah Karin, ternyata kita memang ditakdirkan untuk bertarung, padahal lebih baik kalau aku tidak bertarung denganmu… Karin…
"Apa maksudmu akal sehatku! Aku belum gila dan tidak akan pernah menjadi gila!" Dia memunculkan satu lagi sebuah pedang yang diselimuti api berwarna biru, dan memandangiku dengan senyuman setan, "Kalau kau mati, aku akan bunuh diri dan kita akan bersama-sama selama-lamanya di surga."
"Setan tidak bisa masuk surga."
"Kalau begitu kita akan bersama-sama di neraka, selama-lama-lama-lamanya."
"Aku tidak ingin pergi ke neraka, nanti semua bacaanku terbakar habis."
Kami saling bertukar tatapan serius, sebuah kilatan petir seperti menyambar dari tatapan kami berdua dan beradu di tengah-tengah jarak yang memisahkan kami berdua, tanganku gemetaran, ketakutanku semakin banyak.
Apakah aku bisa menang dari Karin?
Apakah aku akan selamat dan hidup dengan damai setelah mengalahkannya dan disusul dengan mengalahkan setan kegelapan?
Dan apakah… akal sehat Karin bisa kembali?
"Hiyaaaah!" Karin melompat ke udara dan mengayunkan kedua pedangnya di udara sehingga membuat sebuah bayangan naga yang berwarna merah di sekelilingnya dan mengarahkannya ke arahku.
"Aku yakin kamu pasti bisa menang Taka."
Terima kasih diriku yang satu lagi, kita akan segera mengetahuinya sebentar lagi!
Aku mengarahkan tenagaku ke pedang yang kugenggam dengan erat dan mengayunkannya ke arah naga api itu, dengan sekali ayunan, naga itu terbelah menjadi dua dan serpihan nagaku itu berubah menjadi batu dan menghilang menjadi debu di udara.
Aku berbalik dan segera menahan serangan dua pedang yang diberikan oleh Karin dengan pedangku dan menendang setan gila itu menabrak pagar pembatas yang ada di atap, maaf Karin, aku juga tidak mau mengataimu sebagai seorang yang gila, tetapi apa yang kau lakukan itu dihitung sebagai perbuatan yang gila!
"Taaaaa-kaaaa-kuuuuuun." Karin menyeringai dan mengayunkan kedua pedang yang ada di tangannya secara sembarangan, dan bola-bola api meluncur ke arahku setiap kali dia mengayunkan pedangnya, ini gawat!
"Jangan panik Taka! Gunakan kekuatan Artefact milikmu!"
Hei, ide yang bagus.
"Uwoookh!" Aku mengalirkan tenagaku kepada pedang yang ada ditanganku dan pedang itu dengan sukses berubah menjadi sebuah perisai, dan dengan perisai itu juga, aku menahan semua serangan bola api itu.
"Taaaaaaaa-kaaaaaaaa-kuuuuuuuuun, jangan menghindar teruuuuuuus, ayoooooo kemarilaaaaaaaaaah, setelah ituuuu, kita akan hidup berdua selama-lama-lama-lama-lamanyaaaa, hahahahaaa." Hentikanlah cara tertawamu itu Karin… aku tidak suka melihatmu seperti ini…
"Taka…"
"Taka-kuuuuuun jangan menghindar dan terimalah serangan cintaku, hahahahahahaaaa!" Karin menerjangku dan mencoba menebas leherku, aku dengan cepat menahannya dengan tamengku, dan berhasil memukul balik Karin.
"Heee… Kamu keras kepala ya? Cepatlah mati agar kita bisa hidup selamanya di dunia sana, hahaha, hahahahaha!" Dua buah sayap keluar dari punggungnya dan badannya mulai diselimuti oleh api berwarna biru, dengan sekali ayunan tangan kirinya, sebuah burung phoenix raksasa muncul entah darimana dan mengepakkan sayapnya seperti burung yang baru bisa terbang.
"Hentikan semua ini Karin-san!" Aku memusatkan seluruh tenagaku pada perisai yang kugenggam dan perisai itu berubah menjadi dua pedang yang berbeda, satu berwarna hitam yang dihiasi warna putih dan satu lagi berwarna putih yang dihiasi berbagai warna hitam.
"Taka, bagaimana caranya kamu mendapat Artefact semacam itu!"
"Aku tidak peduli Artefact macam apa yang muncul, prioritas utamaku adalah mengembalikan akal sehat Karin!" Aku menerjang Karin secara langsung, beberapa bola api raksasa dimuntahkan oleh Phoenix yang ada dibelakangnya, secara ajaib, aku berhasil mementalkan balik bola-bola raksasa itu.
"Ayo Taka-kun! Serang aku dengan tebasan cintamu! Hahahahahaha!"
"Diamlah…"
"Apa?"
"Diamlah! Aku tidak suka caramu tertawa!"
"Tung—"
Dengan sebuah gerakan yang tidak kuketahui bisa kulakukan, aku secepat kilat berhasil memotong phoenix yang ada dibelakangnya menjadi delapan bagian, dan tentu saja semua itu berubah menjadi debu yang hilang tertiup angin.
Aku menatap wajah Karin yang terlihat ketakutan melihatku, tubuhnya gemetaran dan matanya berlinang air mata, apa yang terjadi dengannya?
"Ta… ka…-kun…"
"Eh?" Aku mendarat dengan selamat dan segera mendekati Karin yang tampak aneh, wajahnya ketakutan melihatku, "Ta… ka… kenapa ada pedang di tanganmu, apa yang terjadi? A-Aku dimana?" Kulihat wajahnya yang ketakutan, kupeluk Karin agar dia sedikit tenang.
"Sudah… aku ada disini… tenanglah…" Aku mengelus rambutnya yang lembut dengan tanganku, "Aku melepaskan pelukanku dan menatap matanya, "Aku… baru menyadarinya sekarang… tapi… ternyata aku lebih mencintaimu, hahaha."
Wajah Karin memerah, "A-Aku tidak terlalu mengerti, tapi… kau tertipu dengan mudah…"
Apa maksud—
CRAT
-Eh?
Aku melihat bagian kanan dadaku yang ditembus oleh sebuah pedang dari belakang, "Ka…rin… apa maksudnya ini…?" Karin tersenyum licik.
"Hahahahaha! Aku hanya pura-pura dasar bodoh, bodoh! Hahahahaha!" Karin memunculkan dua bilah pedang dan mengarahkannya ke leherku.
"Monster…" Dengan sisa tenagaku, aku berhasil mengeluarkan beberapa patah kata, Karin menyeringai bagaikan setan, bermain-main dengan pedang yang ada di tangannya, lalu Karin menancapkan pedangnya di bagian kiri perutku.
Inikah… akhirnya?
Kalau di buku-buku, mungkin ini yang dinamakan sebagai 'Bad Ending' ya? Padahal aku lebih suka 'Happy Ending'
Sialan...
Aku merasakan sebuah cahaya yang hangat menyelimuti diriku, kubuka mataku perlahan-lahan, tapi segera memejamkannya kembali karena terangnya cahaya itu;
"Bangunlah Taka…"
Dimana… Aku? Aku membuka mataku perlahan-lahan dan melihat seorang gadis cantik berambut coklat dan dari apa yang bisa kulihat, dia seperti seorang malaikat yang anggun dan suci.
"Kau sekarang berada di dimensi diantara dua dimensi, setidaknya jiwamu berada disini."
Kau… Siapa? Suaramu terdengar… mirip dengan seseorang yang kukenal baik…
"Ini aku Taka-kun, Sena! Aku akhirnya berhasil mengkontak jiwamu setelah sekian lama."
Se…na…?
"Oh… aku lupa… ingatanmu akan memudar jika kau melakukan ini, tapi tidak apa-apa, ada urusan yang lebih penting sekarang, Taka-kun, aku punya permintaan, maukah kau mendengarkannya?"
Tentu…
"Saat ini, tubuhmu dibagi menjadi 5, Akalmu, Tubuhmu, Akal Jouka, Ingatanmu, dan Ingatan Jouka."
Siapa Jouka?
"Nanti kujelaskan, sekarang kita ke urusan yang lebih penting dulu."
Baiklah.
"Aku ingin… Kau berbagi tubuh dengan jiwaku."
Untuk apa?
"Agar aku bisa mengendalikan Hollo yang ada ditubuhmu."
Hollo? Ditubuhku?
"Benar, maukah kau bergabung denganku dan menambahkan beberapa bagian yang hilang, yaitu kunci spiritual dan akalku."
Kunci Spiritual?
"Benar, itulah sesuatu yang tidak kau punya, kau tidak bisa mengendalikan dengan penuh seluruh kekuatan Artefact milikmu karena jiwamu digabungkan dengan jiwa seorang malaikat dan seorang iblis."
Maksudmu?
"Kau sama sepertiku Taka, seorang mahluk setengah malaikat dan setengah iblis, atau 'Fallen Angel' untuk lebih gampangnya, jadi, maukah kamu menggabungkan jiwamu dengan jiwaku?"
Aku… mau.
"Bagus, bersiaplah untuk bertemu dengan dirimu yang baru, sampai bertemu lagi… Anakku."
Aku… Anakmu? Ugh… Ingatanku semakin pudar…
"Bertahanlah Taka!"
Sebuah kilatan cahaya berkelap-kelip di depan mataku, beberapa ingatanku mulai kembali, namaku Taka Honjou, 17 tahun, dan aku seorang 'Fallen Angel'.
-Restorasi Data mencapai 100%, Selamat, jiwamu dan jiwaku sudah bersatu sepenuhnya.-
Aku bisa merasakan kehangatan mengalir di dalam tubuhku, dengan santainya aku berdiri seakan-akan tidak ada luka serius ditubuhku, aku memandangi langit biru yang ada diatasku, burung-burung berkicau dengan riangnya, matahari yang tenggelam di kejauhan membuat jiwaku tenang, kekuatan mengalir kembali ke seluruh tubuhku.
Hei, Jouka, Sena, kau ada disana?
...
Tidak ada jawaban, apakah mereka sedang dalam mode hibernasi?
"Hei lihat, orang itu berdiri lagi."
"Ya, bagaimana kalau kita habisi saja mereka."
"Setuju."
Aku menoleh ke arah suara yang berisik itu, dan mendapati 3 orang yang rupa-rupanya mencurigakan, dan mereka sepertinya menggenggam Artefact milik mereka masing-masing.
"Hei, tumben ada yang tidak takut pada kita."
"Iya, kita beruntung."
"Ayo cepat kita singkirkan dia sebelum Karin mengetahuinya."
"Kalian kenal Karin?" Aku menatap mereka bertiga dengan tatapan yang bisa membuat seseorang takut dan kabur, tapi sepertinya mereka mempunyai mental yang cukup tinggi.
"Apa pedulimu dengan Karin?"
"Ya, dia itu Iblis terdua yang terkuat di kerajaan iblis kami!"
"Ya, dan tentu saja Setan Kegelapanlah yang paling kuat!"
"Aku peduli dengan Karin karena cintaku belum diterima olehnya, namanya membuatnya seperti yang terlemah, dan Setan kegelapan pasti sangatlah lemah karena selalu bersembunyi dibalik bayang-bayang kegelepan."
"Kamu pacarnya Karin!"
"Karin itu tidak lemah!"
"Setan Kegelapan itu tidak lemah!"
"Kalau begitu, kenapa kita tidak berdiskusi saja, aku punya waktu sampai matahari terbit." Sepertinya aku berhasil memprofokasi mereka, satu orang sudah terlihat sangat geram dan ingin mencoba membunuhku.
"Hei, bagaiamana kalau dia kita bunuh saja?"
"Setuju."
"Seraaaang!"
"Aku tidak suka kekerasan, bisakah kita mengganti dengan adu hompimpah saja?" Aku menjelaskan pada mereka, tetapi sepertinya mereka terlalu emosi untuk mendengarkanku.
"Gempa Bumi!"
"Angin Topan!"
"Hujan Badai!"
"Berisik!" Aku mengeluarkan Artefact milikku, dan sesuai dugaanku, Artefact ini mengambil bentuk sebuah sabit hitam raksasa, kugenggam dengan santai sabit itu dan mengayunkannya, dan sekali serang, ketiga iblis itu terbelah menjadi dua dan berubah menjadi debu, lalu hilang diterpa angin.
Aku berbalik ke arah pemandangan matahari senja itu, memandangi pemandangan yang sangat singkat itu dengan konsentrasi penuh, mencari sebab kenapa pemandangan itu begitu indah.
Dalam benakku, terlintas wajah ceria Karin, aku mengerti, aku sebenarnya merindukan Karin, ternyata aku lebih mencintainya daripada Sena, mungkin karena Sena itu ternyata Ibuku yang asli, tapi kalau dia itu ibuku.
Bagaimana rupa ayahku?
[Continued on Chapter 8]
Fweh, selesai juga, maap ya, saya kena WB singkat, jadi nggak kayak biasanya, maap ya ^^
Tolong di-review, di flame, kritik juga boleh ^^
