Namaku Taka Honjou, umurku 17 tahun, dan aku adalah seorang 'Fallen Angel', aku mempunyai 2 kepribadian lain yang hidup didalam tubuhku, dan ingatanku dipenuhi oleh ingatan-ingatan palsu, tapi aku tidak mau menceritakan semua itu, lebih tepatnya aku tidak bisa menceritakan masa laluku, sebagian besar ingatanku yang dulu seperti dihapuskan keberadaanya oleh seseorang.

Mungkin orang-orang akan berpikir aku ini sedang bercanda atau sudah menjadi gila, tetapi inilah kenyataan, kenyataan tidak bisa diubah dalam sekejap mata, yang bisa kita lakukan hanyalah menerima kenyataan itu sendiri.

Sebenarnya, aku sudah tinggal disini… di kota Deimon, selama 17 tahun, dan sudah 16 tahun lamanya aku tinggal bersama Sena… atau… reinkarnasi Ibuku… seorang 'Fallen Angel' yang menjelma menjadi Sena… mana mungkin aku bisa menjadikan Ibuku seorang pacarku, mungkinkah karena alasan itu aku mencintai Karin? Alasan yang bodoh…

Sudah entah berapa lama kupandangi pemandangan yang tadinya disinari oleh cahaya mentari yang terbenam itu, sekarang yang ada di kejauhan hanyalah pusat pertokoan yang ramai dan dipenuhi oleh lampu-lampu dan cahaya yang berkelap-kelip.

Sambil membersihkan bajuku dari debu dan kotoran, aku berdiri dan segera pergi menuju pintu masuk tangga darurat, aku diam-diam masuk ke dalam kelas dan mengambil tas dan perlengkapanku, lalu aku pergi ke halaman yang ada di depan sekolah, dan meloncati pagar yang tinggi itu dengan sekali lompat, entah kenapa tubuhku terasa ringan seperti dibawa angin.

Melewati beberapa rumah yang terang benderang, aku melihat keatas dan melihat Megu yang mengeluarkan tubuhnya dari bagian tepat di bawah dadanya sampai ke kepala dan tangan yang sedang disilangkan untuk menutupi bagian atas dadanya dan sepertinya tangan kanannya sedang memegangi sebuah bungkusan plastic berwarna hitam, dia menatapku dengan senyuman yang manis dan melambaikan tangan kirinya, aku mengembalikan senyumannya dan melambaikan tangan.

"Apa yang kau lakukan di hari yang semalam ini dengan baju yang compang-camping Taka-kun?" Megu melempar sebuah bungkusan plastic berwarna hitam kearahku dan dengan hati-hati kutangkap, bisa saja isinya sebuah barang keramat, kulihat isinya dan ternyata sebuah baju sekolah lengkap dengan aksesorisnya.

"Terima kasih Megu-kun." Aku melambaikan tangan untuk pamit, dan tentu saja dikembalikan lagi oleh Megu.

Belum tiga langkah aku berjalan, aku mendengar sebuah suara pintu dibuka dan ditutupkan kembali, lalu dari dalam rumah Megu, seorang laki-laki berambut putih muncul dan melambaikan tangannya "Taka-san!"

Sambil melambaikan tanganku, aku segera meninggalkan mereka berdua dan pergi ke rumahku, melewati beberapa blok yang dikerubungi preman-preman kampong, salah satunya melihat dan menatapku dengan pandangan kebingungan, aku mengerti, memangnya ada orang yang berjalan di malam hari dengan baju yang compang-camping dan berlumuran darah.

Setelah beberapa langkah, aku sampai di depan rumahku, aku berhenti tepat di depan pintu rumahku, tanganku ragu-ragu untuk membuka pintunya, tidak apa-apa Taka, tidak ada yang perlu kau takuti, semua akan baik-baik saja.

Kubuka pintunya dengan pelan, "Tadaima." Aku melihat kedalam dan seorang perempuan berambut coklat sedang menanak nasi, seketika dia menatapku, "Tadaima Taka-kun."

Dengan enggan, aku mengangguk dengan pelan, mataku hanya tertuju pada tangga yang ada di sudut ruangan, aku hanya ingin pergi ke kamarku dan tidur, tidak kurang, tidak lebih, aku menatap wajah Sena dengan wajah stoic milikku dan segera menuju tangga.

"Selamat malam Taka-kun, selamat tidur."

"Ya, kau juga."

Kalian pasti bingung kenapa Sena bisa ada disitu, aku lebih memilih memanggilnya 'Sena.' Daripada 'Ibu.', bukannya aku ini sombong, bukan, tetapi aku masih meragukan kenyataan kalau dia Ibuku.

Dan bagaimana dia bisa mendapatkan kembali tubuhnya? Aku tidak tahu, yang pasti dia memang sudah dipulangkan dari rumah sakit karena sembuh lebih awal, mungkinkah karena kekuatannya sebagai 'Fallen Angel'

Setelah aku sampai di pintu menuju kamarku, aku segera membukanya dan melempar diriku ke tempat tidur, kutatap langit-langit kamarku yang gelap, kudengar suara air hujan diluar, sepertinya hujan sedang turun.

Mungkinkah ini sebuah rasa simpati tuhan yang ada diatas sana?

Aku menggelengkan kepalaku dan segera memejamkan mata, mencoba untuk melupakan semua yang terjadi.


"Taka! TAKA!"

Sambil menguap, aku membuka mataku, saat kubuka mataku, kulihat dua orang perempuan menatapku dengan antusias, Jouka, dan Sena, muka mereka berdua dihiasi dengan senyum.

"Syukurlah kau bangun Taka-kun, aku mencemaskanmu, sangat-sangat mencemaskanmu." Sena dengan berlinang air mata menatapku dengan wajah penuh rasa syukur dan senyum kebahagiaan.

"Tenanglah Sena-san, aku belum ma—" Aku segera menutup mulutku, sadar kalau orang itu adalah Ibuku sendiri, Sena menahan tawanya, "Apa yang lucu?"

"Tidak-tidak, ternyata kamu sungguh-sungguh mengira aku ini Ibumu? Hahaha, lucu sekali." Sena tertawa terbahak-bahak, diikuti oleh Jouka.

"Adakah yang mau menjelaskannya padaku?"

"Sebenarnya, aku ini hanya reinkarnasi Ibumu, bukan berarti aku ini benar-benar Ibumu, kau tahukan kalau aku ini setahun lebih muda darimu?" Jelas Sena, tetapi aku masih tidak terlalu mengerti.

"Jadi yang dibawah tadi itu…"

"Benar Taka, itu aku, karena pikiranmu dan pikiranku sudah bersatu, kita bisa memakai telepati dan memakai Artefact satu sama lain, contohnya adalah Sabit Hitam milikku dan Dua pedang Hitam Putihmu itu." Ah, aku paham sekarang.

"Yak, sudah cukup penjelasannya, sekarang kau harus bangun Taka, ada empat iblis yang menyerang kota ini." Jouka menepuk kedua tangannya dua kali dan sebuah layar raksasa muncul entah darimana diikuti dengan munculnya asap-asap misterius, aku seprti sedang menonton pertunjukan sihir.

Dari layar raksasa itu muncul sebuah peta kota deimon, dan di beberapa tempat ditempatkan empat titik merah yang berkelap-kelip, tanda bahaya akan segera datang.

"Kalau begitu tunggu apalagi." Sena menjentikkan jarinya dan tubuhku diselubungi oleh cahaya berwarna putih, dan setelah itu, aku menemukan diriku berada di distrik pertokoan dengan baju yang diberikan oleh Megu.

"Ini dimana ya?" Kulihat seorang laki-laki berambut biru memakai jas berwarna merah tiba-tiba bertanya padaku.

"Deimon, Kota Deimon." Jelasku pendek.

"Jadi begitu? Berarti aku berada di tempat yang tepat." Laki-laki itu lalu mengeluarkan sebuah pedang yang lebih mirip disebut sebagai jangkar, digenggamnya dan diayunkan ke atas dan sebuah pilar air muncul dan menrbangkanku ke langit yang hitam.

"Ugh." Jadi dia mengontrol air? Kalau begitu aku tinggal membelah pilar air ini kan!

Dengan cepat, kukeluarkan Artefact milikku yang merupakan dua buah pedang hitam dan putih, dan dengan gerakan memutar mulai membelah pilar air itu tepat ditengah-tangah dan dengan sukses pilar air itu terbelah menjadi dua.

"Jadi kamu juga seorang pengguna Artefact? Sepertinya kota ini begitu spesial, apakah Karena Hollo bersembunyi disini ya?" Laki-laki itu lalu menerjangku dengan pedang jangkarnya, tapi dengan mudah kutahan dengan satu pedang.

"Siapa namamu?" Aku menatapnya dengan geram, tengan kiriku sudah siap mengayunkan pedangku yang satu lagi dengan sekuat tenaga, dia menatap balik dan tersenyum.

"Kine, Kine Shauk, Iblis Air."

"Taka, Taka Honjou, senang berkenalan denganmu."

"Senang berkenalan denganmu juga!" Tiba-tiba pedangnya bergetar dan aku bisa merasakan tanganku gemetar, dengan cepat kutebas badan Kine menjadi dua dengan pedangku yang satu lagi, tapi ternyata itu hanyalah sebuah ilusi.

"Apa-apaan?" Kebingungan, aku melihat keatas dan awan hitam berada tepat diatasku, petir mulai mengggelegar, dan angin kencang mulai bertiup, sekan-akan sebuah kekuatan yang mistis akan segera diluncurkan dari titik teratas langit menembus awan-awan hitam itu ketanah.

"Jangan bengong!"

"Sial!" Aku melihat ke kiri dan Kine sedang menerjangku dengan dua pedang jangkar, dasar gila! Dua pedang sebesar itu diayunkannya semudah itu! Orang ini seorang monster!

Tapi dengan mudah kutangkis dengan pedang di tangan kananku, entah kenapa rasanya ringan sekali, orang ini bagaikan sebuah ilus—tunggu dulu.

Dengan cepat, kubalikkan badanku dan menebas Kine yang mencoba menebas kepalaku dengan pedang jangkarnya, dan dengan sukses membuat goresan di bagian dadanya, dan darah bermuncratan dari bagian itu, serta merta, Kine mundur sambil memegangi perutnya yang berdarah.

"Guh!" Rontanya dengan satu mata tertutup, sepertinya dia begitu kesakitan, kulihat tempat orang itu kubelah tadi, dan lukanya menutup dengan sendirinya, jadi dia mempunyai kekuatan untuk regenerasi secepat kilat, berarti dia harus kutebas dengan kekuatan penuh.

"Maaf, tapi aku belum menggunakan kekuatan penuhku." Itu benar, aku bahkan belum menggunakan seperempat dari kekuatanku.

"Kalau begitu gunakanlah setengah kekuatanmu untuk menangkis serangan yang akan terjadi dalam lima…" Dia berdiri dan pedangnya diarahkan ke langit.

Spontan, aku memandangi langit yang gelap, tanda sebentar lagi sebuah hujan akan turun.

"Empat…"

Aku segera mencari sebuah tempat untuk melakukan pertahanan, meskipun aku menebas Kine sekarang, dia pasti tetap akan menggunakan kekuatannya untuk melancarkan serangan akhir.

"Tiga…"

Aku menemukannya, ditengah-tengah tempat bertempurku.

"Dua…"

"Satu…"

Tiba-tiba, langit mulai bergemuruh, hujan rintik-rintik mulai turun, jangan-jangan… dia akan memanipulasi hujan ini!

"Nol." Dia mengayunkan pedangnya dan dari segala arah, pilar-pilar air bermunculan, begitu juga dibawah kakiku, dengan cepat, aku mengelak ke kiri dan berhasil menghindarinya, lalu aku mengelak ke kiri untuk menghindari pilar kedua, dan meloncati pilar ketiga yang muncul dan membelahnya menjadi dua dengan pedangku.

"Hyah!" Aku melempar pedangku yang berwarna hiram ke arah Kine dan berhasil memotongnya menjadi dua bagian, tapi serpihan tubuhnya menjadi air dan menguap di udara, sudah kuduga, ternyata hanya ilusi.

"Kau sudah selesai? Kalau begitu mari kita mulai lagi!"

Dan, setelah suara Kine terdengar, tiga buah pilar air datang dari tiga arah yang berbeda dan berusaha untuk menerbangkanku ke udara, dengan cepat kuhindari ke satu arah yang tidak mempunyai pilar yang merambat ke arahku, lalu kuambil pedangku yang tergeletak di tanah dan segera melompat ke udara, tapi sepertinya aku akan melakukan ini lama sekali.

Benar saja, datanglah tiga buah pilar air lagi di tiga arah yang berbeda, lalu setelah aku menghindarinya, muncul bola-bola air yang sepertinya diarahkan kearahku dengan kecepatan super cepat, mungkin lebih cepat dari kecepatan cahaya.

'Tetap tenang Taka, kau bisa menghindarinya.'

"Hyaaaah!" Dengan kecepatan kilat aku mengubah Artefact milikku menjadi sabit hitam milik Sena dan kuputar-putar sabit hitam itu dan mengikis bola-bola air yang ditujukan kearahku, ini benar-benar menyusahkan dan menggunakan terlalu banyak tenaga, tapi setidaknya aku selamat…

"Jangan pikir kalau kau sudah selamat!" Dan dari bawah kakiku muncul sebuah naga air, kurubah lagi Artefact milikku menjadi dua buah pedang dan dengan sedikit gerakan membelah secara diagonal, naga itu terbelah menjadi dua dan menguap diudara.

Kelelahan, aku menundukkan kepalaku menatap tanah selagi menjongkok, masih menggenggam kedua pedang yang ada di tanganku dengan kuat, aku menengok kebelakang dan mendapati Kine sedang menahan tawanya, tanpa pikir panjang, kulempar pedang hitam yang kugenggam di tangan kiri kearahnya, tetapi dengan mudah dia hindari.

"Apa cuma segitu staminamu?" Kine lalu mengeluarkan Artefact miliknya dan menerjangku dengan cepat, dengan mudah kubelah tubuh orang itu menjadi dua, tetapi tubuhnya menguap di udara, sepertinya hanya ilusi.

'Sial, kalau begini terus aku akan dibuatnya menjadi uap dan dijadikan awan… tunggu, awan… ah, benar juga, kenapa tidak terpikirkan olehku ya?' Setelah itu, aku mengambil ancang-ancang untuk melempar pedang putih yang ada di tanganku ke langit.

"Hei, mau apa kau!" Suara Kine terdengar panik, berarti dugaanku sudah tepat.

Setelah membidik, kulempar pedang putihku dan dengan sukses mengenai awan hitam dan menghilang di kegelapan, tapi aku bisa melihat bayangan seorang manusia jatuh dari langit, menatapku dengan tangan yang patah, aku bisa melihatnya karena pandangan mataku yang benar-benar seperti elang.

"Selamat Taka Honjou, hanya sedikit orang yang tahu trik ini." Kine tersenyum dengan pandangannya dipusatkan padaku, sepertinya dia ini seorang gentlemen.

"Huh, aku tidak punya waktu untuk dihabiskan pada setan sepertimu." Dan setelah itu, aku membelah Kine menjadi 4 bagian dengan dua pedangku, Kine tersenyum, dan tubuhnya menguap di udara, seketika hujan mulai reda, aku menatap langit yang gelap itu hilang dimakan angin.

"Matilah dengan tenang, Kine Shauk."

Dan setelah itu, aku pergi meninggalkan distrik pertokoan yang sudah diporak-porandakan oleh aku dan Kine, berharap tidak ada yang melihat pertarungan gila-gilaan tadi.


-Megu's POV-


"Megu-san, aku mendeteksi kalau ada 4 buah setan sudah turun! Kita harus cepat Megu-san!"

"Sebentar lagi." Aku segera mengenakan bajuku sehari-hari, sebuah jaket lengan panjang berwarna hitam dan rok pendek berwarna putih, dan segera membuka pintu depan rumahku, "Kemana Rukai-kun?"

"Aku bisa merasakan dua setan yang paling dekat berada di tempat yang sama, ikuti aku Megu-san!" Rukai keluar melewati jendela kamarku dan terbang menggunakan kekuatan Artefact miliknya—delapan buah tombak yang melayang dan mengitarinya.

"Oke." Aku memunculkan Artefact milikku untuk berjaga-jaga dan mengikuti Rukai yang melayang di udara, kulihat dikiri dan kananku, lampu-lampu di dalam rumah yang kulihat sudah mati, bagus, berarti orang-orang sudah tidur semua, ini mempermudah misi.

Beberapa gang sudah kulewati, sepertinya aku tahu ini mengarah kemana, aku melewati beberapa pertokoan dan tiga orang yang sedang mabuk-mabukan di trotoar, tidakkah mereka tahu undang-undang dilarang minum-minum di tempat-tempat khusus? Aku yakin mereka akan dihukum penjara besok pagi.

"Kita sudah sampai Megu-san, ternyata mereka ada di dalam gedung sekolah kita." Rukai dengan diam-diam mendekati pagar gedung sekolah dan mengintip dari balik pagar sekolah.

"Sudah menemukan mereka?" Aku ikut mendekat dan mengintip dari balik pagar sekolah, jika ada orang yang melihat kami berdua, kami ini mungkin seperti orang yang sedang berpacaran dan mencari tempat untuk 'mojok' untuk istilah kerennya…

Memikirkan itu membuat kepalaku panas, apa yang sebenarnya terjadi padaku?

"Megu-san? Kamu kenapa? Mukamu merah, kau sakit?" Tiba-tiba Rukai menatap wajahku, ini orang benar-benar muncul di saat yang paling tidak tepat, bagaimana aku bisa menyembunyikan wajahku yang merona ini?

"Eh, ng, tidak apa-apa, j-jadi, dimana Iblis-iblis itu?" Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku, Rukai masih menatapku dengan bingung, lalu dia menunjuk dua buah sosok di atap sekolah, ternyata mereka berdua ada disitu ya?

"Ayo Megu-san." Rukai dengan sukses melompati pagar itu, aku harus menyusulnya dengan cepat, "Tunggu aku!" Teriakku sambil meloncati pagar yang tinggi itu.

Secara sembunyi-sembunyi, kami berhasil sampai di pintu yang menuju atap sekolah, aku member sinyal untuk membukanya di hitungan ketiga, Rukai mengangguk.

"Tiga… dua… satu…" Kami menyiapkan Artefact milik kami berdua dan menendang pintu atap sekolah, "Diam di tempat kalian!" Teriakku selagi mengambil ancang-ancang untuk menerjang musuh… "Kemana semua orang?" Bingung, aku menggaruk kepalaku.

"Megu! Atas!" Aku melihat keatas dan dua Iblis sudah siap menghantam kepalaku dengan Artefact milik mereka, sebuah palu, dan sebuah cambuk…. Tunggu dulu, cambuk! Aku menahan serangan mereka berdua dengan Artefact milikku—sebuah pedang katana yang panjang—dan berhasil menepis serangan mereka berdua.

Kedua Iblis itu dengan gampangnya mendarat di lantai atap, padahal itu mustahil jika dilakukan manusia biasa, kupandang dua iblis itu, satu laki-laki berbadan besar, botak, dan kulitnya hitam, yang satu lagi seorang laki-laki yang kurus yang wajahnya lebih mirip seperti seorang perempuan daripada seorang laki-laki.

"Halo Rukai, sepertinya kau senang sekali tinggal di dunia manusia." Laki-laki yang berbandan besar itu menatap Rukai dengan geram, sepertinya dia bisa kapan saja mengamuk, aku langsung mengambil ancang-ancang untuk menebas raksasa itu menjadi dua.

Kutatap Rukai, wajahnya penuh dengan ketakutan, "Barmu… Anomab…" Samar-samar kalimat itu terdengar, siapa Barmu Anomab? Aku sudah siap menebasnya, tetapi saat aku melihat kalau Iblis yang kurus sudah tidak ada di tempatnya, langkahku seperti dihentikan oleh sesuatu.

"Lupakan saja, kau tidak akan bisa menebasnya menjadi dua." Suaranya terdengar dari belakang, dia secepat itu? "Oh, asal kau tahu saja, meskipun kau seorang perempuan yang cantik, tapi aku hanya suka perempuan yang kuat, dan kau? Tidak begitu…" Sebuah pisau kecil tiba-tiba berada di depan leherku, siap menggorok leherku.

"Maaf saja, aku tidak boleh mati disini." Dengan cepat, aku sudah ada dibalik laki-laki itu dan sudah siap menebasnya, tetapi dia menghilang dari pandanganku, kemana dia?

"Disini." Aku menengok ke kiri dan laki-laki itu mengubah pisaunya menjadi semacam cambuk dan mulai mencambuk tubuhku di bagian lengan dan kaki, aduh, itu sangat menyakitkan, tapi di sela-sela cambukan yang beruntun itu, aku mengayunkan pedangku ke arahnya, kemenangan untukku.

"Apa-apaan? Artefact macam apa itu?" Bekas luka itu entah kenapa semakin lama semakin sakit, apa kekuatan spesial dari cambuk itu?

"Kau pasti bertanya-tanya apa kekuatan spesialku?" Aku mengangguk, Iblis itu tersenyum, "Kekuatan spesialku adalah es, saat cambukku mengenai tubuh lawan dan menciptakan sebuah luka cambuk, didalam luka itu terdapat partikel es yang membekukan sirkulasi darahmu, jadi kalau kau sampai kena serangan cambukku sekali saja, kekalahanmu sudah dipastikan." Dia tertawa kecil, "Tapi aku kagum saat melihat tanganmu terlihat sedikit kabur saat kau mengayunkan pedangmu kearahku."

"Haha, terima kasih, tapi aku yang menang." Aku tersenyum penuh kemenangan.

"Apa maksudmu?" Sekarang laki-laki itu sudah bingung, bagus.

"Mungkin lebih baik kujelaskan untukmu karena aku tidak tega melihatmu mati kebingungan." Aku tertawa sedikit, "Kau ingat saat aku mengayunkan pedangku kearahmu beberapa saat yang lalu? Sebenarnya aku mengayunkannya seribu delapan puluh kali, tapi karena terlalu cepat, jadi tidak bisa dilihat dengan mata biasa." Aku berusaha berdiri, untungnya tubuhku masih menurut, "Aku tahu itu terkesan tidak mungkin untuk standar manusia, tapi Artefact milikku mempunyai kekuatan untuk mengubah kecepatan waktu, jadi aku bisa melambatkan, mempercepat, dan menghentikan waktu sesukaku."

"Tu-tunggu, aku tidak bisa bergerak, ada apa ini?"

"Sudah kubilang, itu salah satu dari kekuatan Artefact milikku" Dia menatapku dengan bingung, "Pedang ini benar-benar unik, setiap kali kutebas musuh, gerakannya bisa diperlambat sebanyak 0,2 kali, karena kau sudah kutebas sebanyak seribu delapan puluh kali, kau menjadi sangat lambat sampai-sampai kau tidak bisa bergerak."

"Kekuatan yang menakutkan." Iblis itu tertawa kecil, "Maukah kamu memberitahuku sesuatu sebelum kau menebasku menjadi dua?" Aku mengangguk, "Siapa namamu?" Iblis itu menatapaku dengan pasrah.

"Megu, Tsuyumine Megu."

"Giirom Khasirai, itu namaku, senang bertemu denganmu."

"Senang bertemu denganmu juga Giirom-kun." Aku berjalan dengan santai, meskipun tubuhku sudah seperti ditusuk pedang yang banyak, aku kagum aku masih berjalan dengan santai, dan setelah beberapa langkah, aku mengayunkan pedangku satu kali saat aku sudah ada di samping kirinya, dan tubuh Iblis itu menguap perlahan-lahan di udara.

"Tsuyumine Megu… akan kuingat nama itu di kehidupanku selanjutnya." Aku menengok kebelakang dan Giirom sudah menguap dengan sempurna, tidak ada bagian dari dirinya yang tersisa.

"Aaaah, aku sudah tidak kuat lagi." Aku menyandarkan diriku di pagar pembatas atap sekolah, jujur, rasa sakit itu sangat-sangat parah, ditambah lagi aku tidak bisa bernapas dengan benar, perlahan-lahan rasa sakit itu hilang dan aku mulai bisa bernapas lagi, saat rasa sakitnya hilang, aku mencari keberadaan Rukai, kulihat dia melayang di udara, dengan laki-laki raksasa itu sudah terkapar di lantai, sepertinya dia sudah menang.

Perlahan-lahan aku memejamkan mataku, aku tahu ini masih di atap sekolah, tetapi aku tiba-tiba mengantuk, jadi aku mulai memejamkan mataku, dan tidak sampai sedetik kemudian, aku sudah tertidur.


Continued in Chapter 9


Hore~ Chapter Delapan XDD

Mau ngegaje disini, tapi nggak usah ah, buang-buang tempat XP

Tolong di review ya *ngasih duit ke pembaca* #Ditabok rame-rame.