Tahukah kau apa itu Kastil Kegelapan?
Itu adalah kastil dimana semua masalah ini berasal.
Dan Kastil itu akan segera datang ke dunia manusia.
Tepat di malam Jum'at tanggal Tiga Belas.
Bloody Friday Thirteen (Jum'at Berdarah)
Taka's POV
Aku memandangi langit sore diatas gedung sekolah, tepatnya matahari yang terbenam, entah kenapa itu mengingatkanku kepada Karin, mungkinkah karena dia seelok langit sore? Atau secantik matahari terbenam? Ataukah… karena wajahnya bersinar dengan keindahan murni? Atau semuanya?
"Taka-kun."
Ah, Jouka-san, kau tidak berbicara padaku sejak kemarin, ada apa?
"Tidak… aku baru mengingat sesuatu."
Apa itu Jouka?
"Tanggal berapa sekarang?"
Jum'at tanggal tiga belas, memangnya kenapa?
"Jum'at tanggal tiga belas! Oh tidak, ini gawat, ini sangat-sangatlah gawat."
Memangnya ada apa dengan Jum'at tanggal tiga belas?
"Kastil kegelapan akan turun! Dan perang selama 4000 hari akan terulang kembali!"
Perang selama 4000 hari?
"Itu benar, perang antara Iblis dan Malaikat terjadi di Bloody Friday tahun ke 902 Angel Time, atau sekitar 18 tahun yang lalu."
Ah, aku mengerti, kalau begitu kita harus cepat mengabari Megu-san dan Rukai-kun.
"Setuju, dan kita harus cepat! Kastil kegelapan akan datangsekitar jam Sembilan atau sepuluh, kita masih punya waktu!"
Haruskah kita mengajak Kakei, Rinko-san, Julie-san, dan Mizumachi? Mereka juga pengguna Artefact.
"Tidak usah, lebih baik kalau mereka tidak tahu."
Aku mengerti, kalau begitu kita akan berkumpul satu atau dua jam lagi di rumah Megu, maukah kau menyampaikan ini ke Sena-san Jouka-san?
"Tentu, sampai nanti."
Sampai nanti.
…
Kau tahu? Semenjak pikiranku dan Sena terhubung satu sama lain, Jouka menjadi kurir menyampaikan informasi, terutama masalah strategi, ah, sudahlah, sebaiknya aku segera pergi ke rumah Megu.
Karena aku malas untuk turun dari tangga, aku loncat saja dari atap sekolah, kalian pasti berpikir aku sudah gila, tapi tidak, entah sejak kapan, aku mendapatkan kekuatan untuk 'terbang' di udara, kedengarannya gila, tapi itulah kenyataanya.
Setelah mendarat di tanah, aku berjalan sampai ke depan rumah Megu, kulihat sepertinya Megu sudah menunggu kedatanganku, karena aku malas membuka pintu, aku meloncat saja sampai jendela kamarnya, dan masuk melewati jendela itu, "Konbanwa." Sapaku.
"Konbanwa." Megu menyapaku balik.
"Ah, Taka-san, Konbanwa." Sahutnya.
"Aku lihat semua orang sudah berkumpul disini." Sena-san tiba-tiba masuk dari pintu masuk kamar Megu membawa beberapa makanan ringan.
"Jadi apa rencana kita Sena-san?" Tanyaku sambil mengambil sebuah makanan ringan.
"Serang langsung."
"Kau yakin?"
"Ya, sangat yakin, kita bertemu lagi 4 jam lagi."
"Baiklah."
Sudah empat jam berlalu, dan sekarang Aku, Rukai, Sena, dan Megu sudah berada di gerbang kastil kegelapan… kau ingin tahu bagaimana kami bisa sampai ke kastil kegelapan? Gampang, Sena-san memindahkan kami kesini dengan kekuatan teletransportasinya.
"Sudah siap!" Sena-san mengeluarkan Artefact miliknya, sebuah sabit berwarna hitam, melihat itu aku juga mengeluarkan Artefact milikku—dua buah pedang hitam dan putih.
"Serang!" Aku memotong gerbang itu menjadi beberapa bagian, lalu meneruskannya dengan memotong raksasa yang menjaga gerbang itu menjadi empat bagian.
Alarm kastil kegelapan berbunyi, beribu-ribu iblis lowclass, midclass, dan highclass mulai bermunculan, tetapi dengan kekuatan kita sekarang, tidak ada yang bisa kami kalahkan dalam sekejap!
"Hiyaaaah!" Aku berhasil membelah sekitar dua puluh lowclass, saat aku melihat sebuah portal hitam, aku segera masuk.
Kulihat di dalam portal hitam itu ada seorang perempuan berambut pirang yang menatapku dengan pandangan bingung, sedang duduk di sebuah kursi yang menyemburkan api.
"Karin…"
"Taka?"
"Benar Karin, ini aku! Taka! Kau masih mengingatku!"
"Aku kira kau sudah mati, syukurlah kau masih hidup Taka… tapi kau harus membunuhku sekarang…"
"Apa! Kenapa!"
"Karena Iblis api yang dulu bersemayam di dalam tubuhku, aku mohon Taka, bunuhlah aku, kalau tidak, sebentar lagi dia akan bangun dan… ugh…"
"Karin!"
"…"
"Kalau itu maumu, akan kulakukan!" Aku segera menebas Karin menjadi dua bagian, tapi itu hanya ilusi yang diberikan oleh Karin… atau sang Iblis Api…
"Aku disini Taka-kun…" Aku menengok ke kiri dan perempuan itu sudah siap menebasku menjadi dua bagian dengan dua pedang apinya, tapi dengan mudah kutangkis kedua pedang itu dengan kedua pedang dan berusaha memotong kepalanya, tapi sepertinya tidak berhasil.
"Ayo Taka-kun~ serang aku lagi-lagi dan lagi!" Aku melakukan tebasan berputar 360 derajat dan berhasil membuat satu pedangnya patah, bagus, setelah itu aku mengarakan kedua pedangku ke arah Karin, dan sebuah sinar muncul di ujung pedangku dan sinar itu kutembakkan dan menembus tubuh Karin.
"Uaaaaargh!" Sekarang tubuh Karin dan Iblis api itu sudah terpisah, aku segera menggendong Karin dan segera keluar dari ruangan itu… tetapi portal itu sudah keburu hilang ditelan angin, Karin sadar dan menyuruhku menurunkannya, aku menurutinya dan menurunkannya.
Kulihat ketempat sang Iblis itu dan tubuhnya sudah menghilang, sudah kuduga, aku melihat ke arah Karin yang ketakutan, kutatap matanya agar dia tidak takut lagi, "Tenang saja, aku akan melindungimu." Ketakutan Karin seketika menghilang dia tersenyum dan mengeluarkan Artefact miliknya—dua buah pedang yang diselimuti api berwarna merah, "Aku juga akan membantumu… Taka…"
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita menghabisi Iblis api ini bersama-sama?" Karin mengangguk setuju dan tersenyum.
"Kau ingin menghabisiku? Sang Iblis kegelapan?" Tiba-tiba dari dalam kegelapan muncul sebuah raksasa dengan beribu-ribu kepala naga muncul dari belakang punggungnya, kepalanya ditutupi oleh tulang-belulang manusia yang membentuk sebuah tulang kepala raksasa, beribu-ribu mata mayat itu bersinar dan menatapku, tangan dari raksasa itu menggenggam sebuah pedang raksasa, ini gila.
"Jangan takut Taka, kita bisa mengalahkannya."
"Kau benar Karin, tapi ternyata yang merasukimu itu Iblis Kegelapan, bukan iblis api."
"Maaf, aku lupa." Karin menundukkan kepalanya, "Tapi kita harus menghabisi Iblis ini dulu."
"Aku setuju."
Aku dan Karin langsung menyerang kepala tengkorak itu dengan kekuatan penuh kami, dan tengkorak itu bersinar dan iblis kegelapan itu mulai mengeluarkan cahaya yang dahsyat.
"AAAAAAGHH! AKU MELELEEEEH, MELELEEEEEEEEEH!" Iblis itu lalu menghilang ditelan cahaya, untuk badan yang sangat besar, kekuatannya benar-benar hampir dibawah nol… disaat iblis itu musnah, sebuah portal cahaya muncul.
"Heeei! Bagaimana kalau kita segera keluar dari kastil kegelapan ini! Sebentar lagi akan runtuh!" Kepala Sena muncul dari dalam portal cahaya itu, aku mengangguk.
"Ayo Karin… Sena, Rukai, dan Megu sudah menunggu kita." Aku berpegangan tangan dengan Karin dan masuk ke dalam portal cahaya itu.
Inilah Happy Ending…
Esoknya…
Aku berdiri di samping kereta yang siap melaju kapan saja, di sebelah kananku ada Karin yang tersenyum padaku, karena aku sudah mendapatkan Karin, sudah sepantasnya aku kembali ke Teitoku, benar kan?
"Kami akan merindukanmu." Sena menjabat tanganku, lalu diikuti oleh Shuuma dan Rukai, Megu hanya memberikan salam biasa.
"Terima kasih teman-teman." Aku melambaikan tanganku ketika aku masuk ke dalam kereta bersama Karin, dan sedetik kemudian, kereta itu mulai melaju.
"Hei Taka."
"Ya Karin?"
"Seperti apa Teitoku?"
"Tempat yang asik."
TAMAT
Mau tahu kenapa endingnya gaje dan parah banget? Ditambah pendeeeeeek banget!
Karena saya udah bosan sama ceritanya :p *Minta digamparin orang*
Anyway~ Review dong XD #Digebuk masal.
