Disclaimer: Persona 4 & Persona 3 © ATLUS


Kujelaskan sedikit situasi lingkunganku yang (setidaknya) kuketahui sekarang.

Kau boleh mengatakan bahwa aku minim pengetahuan ataupun naif. Ya, aku sadar akan hal itu.

Ada dua negara besar dan berkuasa. Mereka saling bertempur dan menyia-nyiakan darah mereka. Mereka memiliki teknologi lebih canggih, dan dari teknologi itu, mereka menciptakan berbagai peralatan tempur, robot, mesin-mesin, apapun yang dapat menghancurkan dan menghapus jiwa manusia dari muka bumi. Dua negara besar itu bertempur dan menurutku... benar-benar membabi buta. Mereka tidak memperhatikan sekeliling mereka. Mereka menjajah tanah orang lain demi kepentingan pribadi dan perang. Mereka menjatuhkan bom dan merenggut jutaan jiwa manusia yang seharusnya memiliki masa depan cerah.

Apa tujuan mereka?

Tidak ada...? Lebih tepatnya, aku belum tahu! Inilah mengapa aku mengatakan bahwa aku memang minim pengetahuan dan tidak mengerti apa-apa. Ketika kutanyakan hal itu pada rekanku, atau ketua organisasi kami, mereka hanya tertawa, dan berkata 'kau benar-benar naif', 'kau tidak mengetahui apapun', 'kau akan segera tahu semuanya', 'carilah itu sendiri' dan lain sebagainya.

Apa itu salahku? Informasi dalam internet tidak mendukung sama sekali. Hanya dijelaskan bahwa mereka berperang, dan alasannya... tidak ada yang mengetahuinya, kecuali kedua belah pihak. Atau mungkin memang ada yang mengetahuinya selain dari kedua negara itu, tetapi bukan aku.

Baiklah, kulanjutkan. Akibat pertempuran EGOIS dari kedua negara itu, kami, bangsa dari negara yang tidak memiliki standard yang sama dengan mereka, dianggap pion kecil yang tidak berarti. Kami hanya dimanfaatkan, dan ketika kami tidak lagi dibutuhkan, kau hanya perlu menunggu beberapa hari, atau paling lama beberapa minggu, sebelum kau melihat tubuh kami dihancurkan dengan berbagai peralatan mereka.

Bom, misil, rudal, berbagai bahan-bahan peledak atau apapun itu!

Bisa dikatakan, organisasi kecil kami terdiri dari orang-orang nekat yang memiliki tujuan cukup mulia. Kami melindungi negara-negara kecil yang terlibat dalam peperangan dua negara gila itu, dan kami berusaha mendamaikan mereka—lebih tepatnya, menghancurkan mereka.

Tindakan yang bodoh sekali?

Heh, aku tahu itu. Rasanya mustahil, tapi berkat beberapa rekan kami, kurasa organisasi kami dapat menyusun strategi, dan mendapatkan teknologi tercanggih yang sama, atau bahkan lebih dari apa yang mereka miliki. Tidak ada yang mustahil.

Mereka harus kuhancurkan.

O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O

Liebe und Rache

Chapter 1: The Beginning

O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O

Inilah kesalahan Seta Souji untuk yang kesekian kalinya; akibat jemarinya yang masih (di luar kehendaknya) bergetar, dan gerakannya yang kaku, ia tidak sengaja menekan sebuah tombol kecil yang terletak di sebelah kiri.

Dan terluncurlah tiga buah misil bertenaga seperlima kali bom atom dan meledakkan ujung arena latihan mereka.

Bodoh sekali.

"Seta Souji! Apa yang kau lakukan, bocah baru?" di bagian layar yang terpampang di depan tempat duduk (kokpit), ia melihat wajah rekannya, berbicara dengan ekspresi kesal dan tidak sabaran.

Ya, ia, Seta Souji, sedang berada di dalam sebuah robot besar... atau dikenal dunia sebagai WPM (War Persona Mecha), sebuah mesin—atau robot raksasa tempur. Dan... yah, WPM yang sedang ia kemudikan ini bukan miliknya, melainkan milik sang rekan (yang sedari tadi mengomelinya karena ia terus melakukan kesalahan).

"Arrgh! Souji, kau baru saja menghempaskan tiga misil dengan SIA-SIA! WPM ini milikku! Pakai dengan sebaik-baiknya, bodoh! Apa kau benar-benar terlatih? Gerakanmu benar-benar kaku! Jika kemampuanmu hanya sebatas itu, aku berani sekali menjamin, kau akan hancur dalam hitungan detik ketika kau terjun dalam medan perang!" teriak rekannya tersebut kesal.

"Um... ehm... Junpei-san, ini pertama kalinya aku mengendalikan WPM, harap maklum..." Souji beralasan. Ia melihat rekannya, Iori Junpei (yang ditampilkan di layar) mengangkat satu alisnya.

"Pertama kali? Kau bercanda, huh? Argh, ternyata aku baru saja meminjamkan WPM satu-satunya dan kesayanganku ini pada seorang bocah tidak berpengalaman yang bodoh! Dewi Fortuna, kapan kau memihak padaku?" itulah reaksi sang pria yang mengenakan topi seperti topi baseball tersebut. Souji merapatkan bibirnya, ia merasa sedikit kesal.

"...Hmm... apa aku pernah mengatakan bahwa aku memang dapat mengendalikan WPM? Dan lagi, ini hanya uji coba, hanya kau sendiri yang pantas menjadi pilot WPM ini, karena memang WPM ini didesain untukmu, kan? Wajar kalau aku—"

"Tetap saja, Souji. Memang benar hanya aku yang dapat menggunakan WPM ini secara sempurna, tapi setidaknya—kau mengetahui dasar-dasarnya! Kulihat kemampuanmu mendekati nol! Sekarang aku mengerti mengapa Shinjiro-san belum menyarankan untuk menciptakan WPM khusus untukmu sendiri. Pertama-tama, kau harus mahir," jawab Junpei sambil mendesah, "sudah cukup kau menghabiskan bahan bakar 'Hermes'... turun dari Hermes, Souji, sekarang. Latihan hari ini kita sudahi. Kalau kau masih ingin berlatih, gunakan 'WCM'."

Souji mendesah pelan. Ia menekan salah satu dari sekian banyak tombol-tombol yang cukup memusingkan, dan sosok Junpei yang ditampilkan layar bergeser ke ujung kanan bawah layar dan mengecil, sementara layar kosong di hadapan Souji sekarang menampilkan tulisan-tulisan kecil.

"...System error... you are not... Iori Junpei... Access denied." Sebuah suara yang tampaknya seperti suara robot terdengar di penjuru ruang kokpit kecil itu. Souji mengerutkan dahinya. 'You are not Iori Junpei'?

"Junpei-san... aku tidak bisa mematikan mesin... 'system error', katanya..." Souji berbicara pada Junpei yang terpampang di layar kecil.

"Ah ya... aku lupa, sebenarnya hanya aku yang dapat menggunakannya. WPM hanya menerima satu 'tuan'. Tadi aku yang menyalakan mesin ini untukmu, kan? Souji, topang 'Hermes' di atas lututnya, kemudian buka kokpit, aku akan masuk."

Souji hanya mengangguk. Ia mencoba perlahan untuk memposisikan 'Hermes' sesuai keinginan Junpei, namun tampaknya ia kebingungan sekarang.

"...Apa yang harus kulakukan...? Err..." Souji memperhatikan sederetan tombol, keyboard seperti pada komputer (namun agak berbeda, lebih rumit dan lebar), dan berbagai alat kemudi lainnya. WPM benar-benar berbeda dengan WCM (War Combat Machine) yang pernah dikemudikannya.

...Kemampuan mendekati nol, Junpei memang benar.

"...A-apa yang... ini?" Souji mencoba menekan kombinasi beberapa tombol kecil dari keyboard rumit dan besar di hadapannya. Ia ingat kombinasi ini, setidaknya mungkin akan mirip dengan WCM. Namun apa yang dihasilkan WPM ternyata memang berbeda. Tindakan mencoba-coba memang cukup bodoh (setidaknya di saat seperti ini).

Seketika bagian bawah, lebih tepatnya, bagian telapak kaki dari 'Hermes' mulai mengeluarkan api yang membara seperti api roket, membakar permukaan arena latihan tepat di bawah Hermes hingga mengubah warna permukaan arena menjadi dihiasi dua bundaran hitam akibat gosong.

Namun daripada itu, tampaknya dorongan api seperti roket itu justru sedikit menerbangkan robot raksasa itu.

"E-Eh? T-tunggu... terbang? Kenapa...?" Souji berusaha mengendalikan mesin besar itu, namun ia tidak mengetahui caranya. Kedua kaki Hermes yang telah melayang dengan ketinggian beberapa meter di udara ternyata tidak diimbangi dengan kontrol yang baik, sehingga Hermes terjungkal ke belakang dan terjatuh dengan bagian bahu terlebih dahulu, menghasilkan suara tubrukan kencang sementara kedua kaki dengan roket panas itu terangkat ke udara. Selang beberapa lama kemudian, api roket itu padam dan kedua kaki robot raksasa itu terjatuh menyusul bagian atas tubuhnya yang sudah terlentang di atas tanah. Souji tersentak saat Hermes terjatuh di atas punggung besinya.

"S-Souji, apa yang kau lakukan?" Junpei tampak frustasi sekarang.

"A—Junpei-san, aku tidak mengerti bagaimana memposisikan Hermes untuk berdiri di atas lututnya," jawab Souji seadanya, sambil berusaha mencari-cari tombol untuk membuka pintu kokpit. Junpei menghela napas.

"Bagus sekali, Seta Souji, sekarang buka kokpit, aku akan masuk..." jawab Junpei mulai tidak sabar. Souji segera menekan satu tombol (setidaknya, ia tahu caranya) dan bagian depan kokpit pun terbuka ke bawah dan membentuk garis datar untuk menopang kaki, memperlihatkan dunia luar. Souji kemudian berusaha keluar dari kokpit yang posisinya kurang mengenakkan itu (terlentang) dan akhirnya berhasil keluar. Ia sekarang tengah berada di arena latihan organisasi mereka, merasakan lembutnya desahan angin yang membelai rambutnya. Hari telah gelap, dan ia melihat Junpei berlari ke arahnya, memanjati Hermes miliknya dengan gesit.

Pemuda berambut tipis dengan topi baseball di kepalanya tersebut segera sampai ke tempat Souji di depan kokpit. Ia mendesah, kemudian Junpei segera melangkah dan melompat memasuki kokpit dan duduk di atas kursi pilot (mungkin bisa dibilang berbaring). "Souji, cepat masuk juga, aku tidak bisa mematikan mesin jika kau di atasku," ujar Junpei dengan tidak sabar. Souji segera melangkah masuk dan berdiri di atas salah satu lututnya di dekat kursi pilot.

Seketika permukaan dinding kokpit di depan mereka kembali menutup, dan tertampang layar dengan tulisan-tulisan kecil. Souji melihat sebuah 'sensor' kecil yang di dekat layar tiba-tiba menyala dengan cahaya kemerahan, kemudian meng-scan seluruh tubuh Junpei yang duduk di kursi pilot.

"Scan... complete." Suara mekanik itu kembali terdengar. Layar di hadapan mereka menampilkan sebarisan tulisan, 'Iori Junpei, current pilot, match...'

Junpei kemudian segera menekan kombinasi tombol-tombol keyboard di hadapannya. Dan Souji merasakan Hermes mulai bergerak, kemudian berdiri tegak. Gerakan tiba-tiba itu membuat Souji berusaha mengatur keseimbangan kakinya. Setelah Hermes kesayangannya itu berhasil berdiri, Junpei mendesah sekali lagi dan kembali menekan kombinasi tombol dan menarik tuas di dekat tempatnya duduk. Seketika, mesin pun mati total, dan permukaan dinding dalam kokpit di hadapan mereka kembali terbuka lebar. "Ayo." Junpei menarik tangan Souji seketika ia berdiri dari kursi pilot, mereka kemudian turun dari Hermes menggunakan tangga dari tali.

WPM yang baru saja mereka gunakan (sekaligus WPM milik Iori Junpei) diberi nama 'Hermes'. Robot tersebut tampak agak kurus pada bagian pinggang, dengan sayap besi kekuningan bagai emas yang menghiasi kedua pergelangan tangan. 'Sayap' tersebut membentang ke samping dan tersambung pada bagian kaki, sementara pada bagian kepala, 'Hermes' memakai semacam topeng emas dengan besi berbentuk sayap kekuningan kecil yang terbentang ke belakang. Bagian badan, berwarna kehitaman dan tampak kokoh pada bagian dada dan kaki.

...Bentuknya agak aneh, memang. Sebagian besar WPM memiliki bentuk yang aneh, berbeda dengan WCM (menurut pendapat Souji). Namun pemuda itu tidak berpikir banyak. Setelah ia turun dari 'Hermes' dan masih berada tepat di depan kaki besi robot raksasa itu (yang terasa panas akibat nyala roket kecil barusan), Junpei segera turun menyusul Souji, kemudian menginjakkan kakinya ke tanah.

"Berapa ganti rugi yang harus kubayar untuk hancurnya ujung arena latihan itu, kira-kira?" tanya Junpei sambil mendesah seraya ia menunjuk ke arah kepulan asap hitam yang berasal dari ujung arena latihan mereka yang agak mirip dengan bagian tengah lapangan sepak bola, dengan tempat duduk seperti tangga yang berjejer rapi. Misil dari 'Hermes' tampaknya menghancurkan sisi kanan 'tempat duduk penonton' itu.

"Maaf, aku akan membantumu membayar ganti rugi," jawab Souji yang merasa tidak enak.

"Sebaiknya kau memang melakukan itu..." itulah reaksi Junpei, yang tampaknya tidak banyak berharap.


Ruangan kecil itu dicat putih, dengan tempat tidur di salah satu sudut ruangan dan terhias oleh beberapa tumbuhan hijau di pot yang barbaris rapi di sudut lainnya. Ruangan tersebut tidak berjendela, hanya sebuah pintu bercat putih yang menghubungkan ruangan tersebut dengan bagian luar. Tampak dua orang gadis, gadis pertama sedang berbaring di atas tempat tidur dan kelihatan letih, dengan gaun putih polos yang membungkus tubuhnya. Gadis itu sesekali melirik gadis kedua yang duduk di sampingnya yang mengenakan jas putih panjang seperti pakaian dokter. Gadis kedua tampak sedang mempersiapkan jarum suntik besar berisi cairan transparan.

Gadis pertama, yang potongan rambutnya pendek berwarna biru gelap, dengan bola mata biru kelabu jernihnya, tiba-tiba terlihat tampak kesakitan dan menekan satu tangannya ke dada. Napasnya berat dan tidak teratur.

"N-Naoto-chan, bertahanlah, hampir selesai," ujar gadis kedua, yang berambut lurus berwarna hitam legam yang panjang, paras cantiknya tampak khawatir. Ia segera menghadap gadis bertubuh kecil yang terbaring di dekatnya itu dengan jarum suntik yang telah siap di tangannya.

"M-maaf, Yukiko-san..." jawab gadis yang dipanggil Naoto tersebut. Gadis anggun dengan jas putih yang dipanggil Yukiko tersebut segera membasahi lengan atas Naoto dengan alkohol dengan menggunakan kapas, kemudian mulai menekankan jarum suntiknya itu, menembus permukaan kulit halus sang gadis yang terbaring lemah di depannya. Seraya Yukiko menyuntikkan cairan transparan dalam jarum tersebut, ia membuka mulutnya perlahan.

"Kau tidak pantas meminta maaf, ini di luar kehendakmu, bukan?" gadis berambut hitam itu berkata lembut. Seusai ia menyuntik, ia segera menarik jarum suntiknya dan mendapati goresan luka kecil di pergelangan tangan Naoto. Gadis itu segera mengangkat pergelangan tangan gadis di hadapannya dan memperhatikan luka goresan tersebut.

"...Kau mencoba bunuh diri lagi?" gadis itu tiba-tiba bertanya, nada suara lembutnya mulai mendingin.

Naoto, yang napasnya mulai teratur dan rasa sakitnya mulai menghilang, segera menatap Yukiko dengan ekspresi sedikit menunjukkan ketakutan. "...Maaf... aku tidak akan mengulanginya, ini—ini bukan—a-aku..."

Di luar dugaan Naoto, Yukiko kemudian memeluk tubuh kecil gadis di hadapannya yang masih berusia 16 tahun tersebut. "Kau tidak boleh melakukan itu... Naoto-chan, kau tidak sendiri... jangan takut, jangan pernah takut. Kami sungguh menyayangimu, tidak seperti 'mereka', kau akan segera pulih, aku janji, dan aku tidak ingin kehilangan dirimu, begitu juga dengan Mitsuru-sama dan Akihiko-sama. Mereka akan sedih ketika mengetahui apa yang kau lakukan pada dirimu sendiri."


Di sebuah ruangan yang cukup luas, dilengkapi sebuah layar besar, sebuah meja panjang di tengah dengan barisan kursi-kursi berpunggung tinggi, tampak dua orang sedang berdiri di dekat meja di tengah ruangan. Perhatian mereka teralih seketika pintu ruangan tersebut terbuka dan menampilkan sosok dua orang yang mereka kenal.

"Ah... kalian sudah datang, lama sekali." Seorang pria berambut kecoklatan panjang menuruni leher membuka mulutnya. Ia mengenakan jaket merah dan sebuah topi, yang tampaknya seperti topi musim dingin. Matanya menatap mereka dengan hampa.

"Oh... m-maaf, Shinjiro-san! Soal arena latihan, itu kecelakaan! Bisakah aku dilepaskan dari kewajiban mengganti rugi?" orang pertama yang memasuki ruangan, yang tidak lain adalah Junpei, segera menunduk penuh harap.

"Aku akan ikut membayarnya juga, ini salahku," ujar orang kedua, yang adalah Seta Souji, dengan ekspresi penuh penyesalan. Pria bertopi musim dingin di hadapan mereka hanya mengangkat satu alisnya, begitu juga dengan pria satu lagi yang berwajah sangar dan berpenampilan seperti preman.

"Arena latihan? Kecelakaan? Ganti rugi? Bicara apa kalian? Aku memanggil kalian untuk misi..." jawab pria berjaket merah yang dipanggil Shinjiro tersebut. Junpei segera mengangkat kepalanya.

"H-he? Misi...? O-oh... yeah, misi! Benar juga, ahaha, lupakan perkataan kami barusan!" Junpei menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sementara pria berwajah sangar menatapnya heran.

"Memang apa yang kalian lakukan dengan arena latihan?" tanya pria tersebut.

"Oh... bu-bukan apa-apa, Kanji-san..." Souji menjawab kaku, sambil sesekali mengalihkan pandangannya ke arah lain, berusaha menghindari tatapan kedua pria di hadapannya. Orang yang dipanggil Kanji tersebut masih terus menatap Souji, membuat pemuda berambut abu-abu di hadapannya merasa tidak enak. Kanji mengenakan pakaian hitam berlengan panjang dengan gambar tengkorak pada bagian dada, dengan sebuah sarung tangan kemerahan membungkus kedua tangannya, juga celana panjang sepergelangan kaki yang langsung tertutup juga dengan sepatunya. Hanya bagian kepala yang terbuka.

"Yah... apapun itu, akan kuperiksa nanti," jawab Shinjiro santai. Junpei menelan ludah. "Tapi aku memanggil kalian untuk menjalani misi pertama kalian," lanjutnya. Ketiga pria di hadapannya segera memperhatikan sang ketua kelompok, Aragaki Shinjiro.

"Belum banyak orang yang tahu tentang kelompok kita, dan ini waktunya kita menampakkan diri. Bersembunyi terlalu lama juga melelahkan, bukan? Tatsumi Kanji dan Iori Junpei, kalian telah kupercaya sebagai pilot WPM, sedangkan kau, anak baru, Seta Souji, gunakan WCM, kau masih belum layak menggunakan WPM." Shinjiro berkata sambil memperhatikan mereka bertiga. "Tapi misi pertama kalian bukanlah bertempur... sesuatu yang mungkin lebih mudah, namun kalian harus cukup berhati-hati. Kalian kutugaskan sebagai mata-mata. Hmm... atau lebih tepatnya, aku membiarkan kalian berlibur dan melakukan apapun sesuka kalian, tapi tempat liburan kalian adalah..." Shinjiro kemudian memperhatikan Souji dan Kanji.

"Untuk kalian berdua, Empire of Letzvetrie... yang dipimpin sang Emperor Sanada Akihiko dan Empress Kirijo Mitsuru, selamat bersenang-senang di sana. Kuharap kalian membawa kabar baik." Shinjiro kemudian memandang Junpei, "Iori Junpei, kutugaskan kau untuk mengawasi negara yang satu lagi."

Mereka terdiam sejenak, kemudian mereka mengangguk.

"Roger," jawab Junpei bersemangat.

"Apapun itu," jawab Kanji.

"Em... baik." Souji menjawab agak ragu.


"Mereka menganggap kita hanya negara konyol dan canggih yang bertempur secara membabi buta, namun mereka mengatakan hal itu karena mereka tidak mengetahui apa-apa." Sebuah suara menggema hingga ke sudut aula besar itu. Di depan aula, di atas sebuah panggung, berdiri seorang pria dengan jubah putih panjang, lengkap dengan jaket putih berhias keemasan, dasi, dan celana panjang berwarna sama.

Orang-orang, yang adalah sebagian anggota militer, mulai dari sersan hingga para pejabat tinggi dan orang-orang penting dalam kekuasaan saling berkumpul di ruangan luas itu.

Seusai sang Emperor menyelesaikan kata terakhir pidatonya di ruangan itu, orang-orang mulai bersorak dan bertepuk tangan. Salah seorang pejabat mengangkat tangannya.

"Hidup Emperor Akihiko! Hidup sang Empress! Hidup Letzvetrie!" orang itu berteriak keras, dan segera disusul sorakan orang-orang lain.

"All hail Letzvetrie!" Akihiko membentuk kepalan tangan dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Sorakan di ruangan itu semakin menggema. Sang Emperor muda itu tersenyum.

'Kau dengar itu? Akan kutunjukkan bahwa kau telah mengambil jalan yang salah, Shinji...'


Nafasnya tersengal. Ia telah berpakaian rapi, dan seharusnya Yukiko menunggunya di aula, namun gadis itu tidak juga keluar dari kamar mandi. Ia dapat mendengar sorakan orang-orang dari aula. Yukiko menunggunya...

Tetapi apa yang harus dilakukannya?

Ia terduduk di lantai, sementara tubuhnya gemetar. Ia bersuara lemah, sementara seluruh tubuhnya mulai terasa sakit dan mati rasa, kepalanya berkunang-kunang. Ia kemudian menarik sebilah pisau dari sakunya, kemudian meletakkan benda tajam itu di atas pergelangan tangan, tempat urat nadinya berada. Tangannya yang menggenggam pisau itu gemetar, sehingga pisau itu perlahan-lahan, tanpa disengaja, mulai menyayat permukaan kulitnya, menghasilkan percikan-percikan kecil darah dari pergelangan tangannya.

Apa yang harus dilakukannya...? Apa yang...? Apakah ini pilihan yang tepat?

Ia kemudian memejamkan matanya, ia teringat perkataan Yukiko tadi, yang memeluknya hangat dan ia merasakan setetes air mata sang gadis anggun itu di bahunya. Ia kemudian segera menjatuhkan pisaunya dan membiarkan benda tajam itu menubruk permukaan lantai. Di tengah tubuhnya yang mulai berkeringat dan napasnya yang masih tidak teratur, ia melingkarkan kedua lengannya di tubuhnya sendiri.

"M-maafkan aku... maafkan aku... aku nyaris melakukannya lagi... maafkan aku..." ia terus berkata.

"...Naoto-chan...?"

Suara Yukiko terdengar di belakangnya.


A/N: Ahah, saya bener-bener ga yakin nulisnya ^^" -ditabok-

K-kesulitan deskripsi, mungkin, tapi saya akan berusaha :'D A-apa abal...? E-eh? Gaje...? A-aneh...? TT_TT maaf -dilempar-

Dan, tidak terlalu sulit untuk membayangkan sebuah WPM bukan? Bisa juga dianggap bahwa WPM itu mirip dengan persona, readers bisa membayangkan Hermes cukup mirip dengan persona milik Junpei, hanya saja tentunya ada perbedaan :) yaitu Hermes satu ini adalah sebuah mecha dengan tubuh sekeras baja, juga... ada beberapa yang bentuknya mungkin berbeda, bukan sesuatu yang alami seperti halnya persona, tetapi suatu ciptaan manusia (ha?) tapi apa ini hanya perasaan saya aja, ato kayaknya beberapa persona emang udah kayak robot? :/ -digiling ATLUS-

Terima kasih bagi yang telah meluangkan waktunya untuk membaca ^^ special thanks untuk: NeeNao, naotoshirogane-chan, Tetsuwa Shuuhei, Mecha Kuro, DeathCode, heylalaa atas sumbangan reviewnya yang sangat berharga, penyemangat, juga membangun :)

Penjelasan teknologi yang ditampilkan suatu chapter tertentu akan dijelaskan di Tech Data di bagian paling bawah chapter, dan nanti juga akan ditampilkan character profile jika reader berkenan -?-

Jika ada pertanyaan, komentar, saran, kritik dan lain sebagainya, silahkan tekan tombol review di bawah! S-saya siap terima flame, asalkan flame tersebut diberikan dengan tujuan baik dan membangun ^^

Best Regards,

Snow Jou


Tech data:

WPM (War Persona Mecha): Teknologi hasil penelitian 32 tahun Professor Amagi. WPM adalah mesin/robot tempur yang memiliki spesialisasi yang berbeda-beda, tergantung dari siapa sang 'tuan'. WPM diciptakan berdasarkan karakter, ego, emosi, dan jalan pikiran seseorang. Untuk menentukan WPM seperti apa yang akan diciptakan untuk seseorang, orang tersebut harus menjalani berbagai macam tes, yang meliputi tes gelombang otak (alat untuk tes ini diciptakan Professor Yamagishi 23 tahun yang lalu). WPM didesain khusus dan merefleksikan sang pemilik yang hanya terbatas satu orang saja. Di chapter ini, Hermes hanya bisa dikendalikan sepenuhnya oleh Iori Junpei, karena berdasarkan sosok, jalan pikiran, dan refleksi seorang Junpei lah, Hermes didesain dan diciptakan. WPM cenderung memiliki bentuk yang 'unik' dan berbeda dengan kebanyakan mecha lainnya.

WCM (War Combat Machine): Robot/mesin tempur produksi massal. Tidak dibatasi siapa saja yang memakainya, selama orang tersebut memang memiliki kemampuan mengemudikan mesin tempur tersebut. WCM memiliki bentuk lebih umum dan banyak digunakan dalam peperangan. Berbeda dengan WPM, WCM tidak meng-scan siapa pemiliknya. Hanya sebuah mesin/robot tempur biasa yang tidak memiliki spesialisasi khusus.