Disclaimer: Persona 3 & Persona 4 © ATLUS


"Ambil ini." Shinjiro mengeluarkan tiga lembar ID card yang di permukaannya tertera nama-nama palsu mereka bertiga. Junpei meraih salah satu ID card tersebut, lengkap dengan fotonya, kemudian memperhatikannya seksama, begitu juga dengan Souji dan Kanji.

"Untuk berjaga-jaga, walaupun kalian datang secara diam-diam dengan WPM ataupun WCM yang disembunyikan, tidak kecil kemungkinan kalian akan dimintai keterangan diri atau semacamnya. ID card ini akan jadi kartu identitas kalian, mereka tidak akan curiga, Fuuka telah membuatnya dengan penampilan, bahan, format, dan tulisan yang sama persis dengan ID card yang dimiliki penduduk mereka." Shinjiro menjelaskan.

Junpei memperhatikan ID card yang dipegangnya tersebut, ID card yang berbeda dengan Souji dan Kanji (karena negara tujuan mereka berbeda). Terpampang foto dan nama palsunya: 'Jun Lori'.

...Nama yang aneh dan... sepertinya norak. Mengapa Shinjiro memilihkan nama seperti itu untuknya? Walaupun hanya nama palsu, tapi tetap saja...

"Satu hal lagi..." suara Shinjiro tiba-tiba mengalihkan perhatian mereka dari ID card masing-masing. "Jika terpaksa, aku tidak memaksa kalian untuk terus menyembunyikan identitas kita, perkenalkan diri kalian sebagai UFoND, nama organisasi kita, tapi usahakan hal tersebut tidak sampai terjadi... walaupun kita memang tidak memiliki maksud sungguh-sungguh untuk menyembunyikan nama itu."


Hermes melayang tinggi dan menembus awan-awan putih, kedua sayap keemasan di pergelangan tangannya terbentang ke samping sementara roket pada kedua telapak kaki WPM itu membara dan menggesek udara dengan hawa panasnya, mendorong Hermes melaju semakin cepat. Jauh di bawah Hermes, terbentang lautan biru yang luas.

Iori Junpei yang mengendalikan Hermes berniat memasuki daerah teritori musuh, salah satu dari dua negara yang merupakan target mereka: Republic of Verstannia. Ia mengemudikan Hermes dengan kecepatan tinggi, kemudian senyum tiba-tiba tersungging di wajah pemuda bertopi baseball itu, ketika ia melihat tempat tujuannya telah terlihat di balik kamera besar yang memperlihatkan dunia luar.

Verstannia adalah negara yang luas dan canggih, yang terletak di atas pulau raksasa di tengah laut yang ia lintasi sekarang.

"Aku pulang..." gumamnya perlahan. Ia kemudian menarik tuas di dekatnya dan Hermes meluncur turun mendekati lautan luas di bawah. Sementara Hermes berada dalam jarak berkilo-kilo meter jauhnya dari pelabuhan, Junpei segera mematikan roket kecil di telapak kaki Hermes dan membiarkan WPM bertopeng sayapnya itu menembus permukaan air laut dan menyelam cukup dalam.

O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O

Liebe und Rache

Chapter 2

Holiday Part I: Twin Phone, Twin Fruit

O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O

Tidak banyak yang berubah semenjak terakhir kali Junpei kemari. Gedung-gedung tinggi, apartemen, orang-orang yang berlalu lalang...

Pemuda itu bahkan masih ingat di mana tempat yang nyaman untuk menginap. Tetapi ia ragu untuk berkunjung ke sana, kalau-kalau ada yang mengenalinya. Pemuda itu kemudian menggelengkan kepalanya, berusaha berpikir positif. Tidak akan ada yang mengenalinya, ia baru menginap di tempat itu satu kali, dan itu bertahun-tahun yang lalu. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Pemuda itu menyandang tasnya dan telah berdiri di tengah kota. Hari pertama—lebih tepatnya, momen pertama kedatangannya di tempat ini terkesan begitu buruk. Ia teringat banyak hal yang tidak menyenangkan. Ia membenci negara ini. Shinjiro seharusnya mengetahui hal itu, tapi tampaknya ia sengaja menugaskan Junpei ke tempat ini.

Di tengah kerumunan orang-orang yang berlalu lalang dengan kesibukan sendiri-sendiri, sebuah suara dari layar televisi raksasa yang ditampilkan di tengah kota menarik perhatiannya. Junpei mengangkat kepalanya, begitu juga dengan orang-orang lain. Raut wajah pemuda bertopi baseball itu tiba-tiba berubah... menunjukkan amarah dan kebencian.

Ia melihat seorang pemuda terpampang di layar itu. Orang-orang berkerumun mengelilingnya, mereka mengambil foto pemuda tersebut dan menanyainya banyak hal. Pemuda tersebut tampak sebaya dengan Junpei. Rambutnya biru gelap dengan kristal biru kelabunya yang tampak tenang. Ia mengenakan jas hitam yang rapi, lengkap dengan dasi hitam yang terlipat rapi dan melingkar di kerah putih kemejanya.

"Baiklah, bagaimana perasaan anda diangkat sebagai presiden negara ini? Anda adalah salah satu pemimpin termuda yang dimiliki negara kita ini." Seorang reporter mencoba mengajaknya berbicara, diikuti kamera-kamera yang berusaha mengambil fotonya.

Mendengar itu, Junpei tampak terkejut, ia nyaris menjatuhkan tas yang disandangnya.

Dia...? Dia? Diangkat sebagai pemimpin negara?

Tanpa Junpei sadari, tangannya membentuk kepalan yang kuat di samping tubuhnya.

"Tidak ada yang khusus..." jawab pemuda tersebut tenang, nyaris tanpa ekspresi. Junpei menggertakkan giginya. Ia tampak kesal dan marah. Ia segera menunduk dan meraih ujung topi baseball yang dikenakannya, menurunkan topi tersebut lebih lagi untuk menyembunyikan matanya yang memancarkan amarah.

"Waah, itu Arisato-sama! Dia pemimpin termuda di negara kita! Usianya tidak jauh berbeda dibanding kita, loh!" terdengar suara seorang gadis di telinga Junpei. Gadis tersebut mengenakan seragam sekolah.

"Yah, tidak hanya tampan, dia diangkat karena memiliki kemampuan yang menakjubkan, dia jenius!" ujar teman sang gadis berseragam.

"Ya, dia orang pertama yang dapat menggunakan lebih dari satu WPM, dia luar biasa, jenius sejati," balas gadis berseragam tersebut.

"...Cih..." Junpei menggeram pelan, ia kemudian membalikkan tubuhnya membelakangi kedua gadis itu dan mengalihkan perhatiannya dari layar lebar tersebut. Tanpa sadar pemuda bertopi itu mempercepat langkahnya. Rasanya ia ingin sekali segera sampai ke penginapan yang ditujunya.

Pemuda itu berjalan cepat dan mulai memperhatikan jalan di depannya, sementara otaknya terus bertanya-tanya dalam hati. Hatinya dibakar berbagai macam emosi. 'Minato... kau... pemimpin negara? Bukankah kau telah—ugh, sialan...'

Pemuda yang sedang kesal itu akhirnya menendang sebuah sampah kaleng di jalanan dengan kuat, membuat kaleng tersebut terpental dan mengenai kepala salah seorang pejalan kaki di sana, yang adalah seorang wanita berusia paruh baya.

"Wah, maaf!" Junpei yang menyadari kesalahannya segera meminta maaf pada wanita yang sedang meringis kesakitan tersebut. Seraya wanita itu mengangkat kepalanya dan mempertemukan mata jernihnya pada Junpei, wanita itu tampak terkejut, begitu juga dengan Junpei.

"K-kau!" wanita itu langsung menunjuk Junpei, ia tampak kaget, namun tiba-tiba ekspresi terkejut wanita itu segera tergantikan oleh amarah.

"Bi-bibi?" Junpei tampak kaget. Dewi Fortuna benar-benar tidak memihak padanya. Di saat seperti ini—

"P-PEMBUNUH! Kau pengkhianat negara, pembunuh! Tolong! Dia pembunuh! Tangkap, dia—dia telah membunuh suamiku!" wanita itu berteriak kencang seraya telunjuknya menunjuk Junpei, menarik perhatian orang-orang di sekitar mereka.

"G-gawat..." Junpei segera berlari kencang, sementara ia dapat melihat beberapa petugas keamanan mengejarnya. Wanita itu masih ingat padanya.

:-:

"A-a-a..." wanita itu tidak dapat berkata-kata. Air mata membanjir keluar dari pelupuk matanya. Ia baru saja pulang setelah belanja, namun seketika ia membuka pintu apartemennya, ia menjatuhkan kantung belanjanya dan kedua mata jernih itu menatap seorang anak laki-laki di dalam apartemennya...

...dengan seorang pria yang adalah suaminya, telah terbaring di atas lantai apartemen sementara darah segar mengalir keluar dari tubuh pria itu... Ia... ia masih hidup. Pria itu masih bergerak lemah.

Wanita itu melihat pistol yang digenggam anak laki-laki itu, sementara anak laki-laki itu menatapnya hampa. Ketika pria yang telah terluka parah itu kembali bergerak, pria itu meraih kaki anak laki-laki yang berdiri di sampingnya, membuat anak laki-laki itu tersentak.

Dan anak laki-laki itu kembali menarik pelatuk, dan ia berhasil meninggalkan peluru bersarang di kepala pria itu... kepala suami sang wanita yang sedari tadi tidak dapat bergerak karena shock.

Dan pria itu mati...

"...Maafkan aku..." ujar anak lelaki itu, yang adalah Junpei, Iori Junpei. Sang wanita mengenali anak laki-laki itu. Bagaimana tidak? Anak lelaki muda itu tetangganya sendiri.

:-:

Junpei berlari sekuat tenaga, menabrak orang-orang yang berlalu lalang, sementara di belakangnya, para petugas keamanan mulai mengejarnya. 'Mereka merepotkan saja...' batin pemuda tersebut kesal. Hari pertama 'liburan'nya hancur sudah.


"Wah, pengkhianat negara, katanya? Siapa ya? Dia harus ditangkap, dan Yosuke-chan, jelas-jelas kau mendengar teriakan wanita itu, tapi kau masih belum bergerak dari tempatmu?" seorang wanita paruh baya berpakaian rapi menegur seorang pemuda berambut coklat dengan headphone jingga menggantung di lehernya.

Pemuda itu masih terus memperhatikan beberapa keping CD yang dipajang di toko itu. Wanita itu mendesah. "Yosuke-chan, apa kau lupa apa posisimu? Kejar orang itu!"

"Ah, bibi, santai saja. Para petugas keamanan sudah bergerak, dan lagi... huwah, rasanya aku ingin membeli CD yang ini! Kudengar musiknya sangat indah ketika mengalun di telinga," jawab pemuda yang dipanggil Yosuke itu santai.

"Kau boleh mendapatkan CD itu setengah harga," ujar wanita itu, menarik perhatian Yosuke saat itu juga.

"Ha? Wah, bibi, kau benar-benar baik!" Yosuke tampak bersemangat.

"...kalau kau bisa menangkap 'pengkhianat negara' yang baru saja kabur itu," lanjut wanita itu. Yosuke tampak cemberut sesaat, namun tiba-tiba senyum tersungging di wajahnya.

"Heh, ini mudah, bibi. Baiklah, Hanamura Yosuke akan membereskan setiap penyusup di negara ini," ujar Yosuke bersemangat. Sebelum ia keluar toko musik, ia melanjutkan perkataannya lagi, "Bibi, jangan sampai ada orang lain yang membeli CD itu, aku duluan yang telah—"

"Ya, ya, pergilah," jawab wanita paruh baya itu. Yosuke segera mengangguk penuh semangat dan berlari keluar toko musik langganannya.

Setelah Yosuke berlari keluar toko musik untuk menangkap sang 'pembunuh' itu, sang wanita paruh baya menarik napas kemudian menghembuskannya perlahan.

"Ah... anak muda jaman sekarang..."


"Hei, tunggu!" para petugas berteriak, namun Junpei tidak mengindahkan mereka. Salah satu petugas tersebut kemudian merasakan radionya bergetar.

"Yo! Butuh bantuan?" terdengar suara seorang pemuda dari radio tersebut.

"Ah! Hanamura, sir... tentu saja, kami sedang mengejar seseorang yang diduga kriminal, atau bahkan pengkhianat," jawab salah satu petugas itu.

"Ho... apa teroris? Yah, siapapun dia. Kalian berada dimana? Aku akan segera ke sana," suara tersebut berkata lagi.

"Sekarang dia sedang berlari menuju taman kota, sir! Kami sedang mengejarnya," jawab petugas tersebut. Sementara orang di seberang hanya terdiam sejenak.


"Hmm... taman kota, ya? Ceroboh sekali... aku tahu jalan pintas menuju ke sana," gumam pemuda itu perlahan. Sang pemuda dengan headphone jingga menggantung di lehernya, yang tidak lain adalah Hanamura Yosuke, segera menoleh ke salah satu jalan dan berlari kencang menelusurinya. Jalan pintas menuju taman kota.


Bunyi tembakan terdengar berkali-kali. Para petugas keamanan dan kepolisian yang mengejar Junpei telah berkali-kali mencoba menembak sang pemuda, namun Junpei bergerak lincah dan tidak ada satu pun tembakan mereka yang kena. Pemuda bertopi baseball itu kemudian melompat ke setumpukan kotak kayu berisi buah-buahan di dekat sebuah toko kecil, kemudian menendangnya kuat ke belakang tanpa sadar dan buah-buahan tersebut jatuh. Orang-orang di sekitar masih terus memperhatikan mereka, dan tentu saja, sang pemilik toko buah.

"Heei! Kau, apa yang kau lakukaaan! Ganti rugi! Pemuda tidak tahu malu!" pemilik toko tersebut berteriak. Junpei tidak mengindahkan suara pemilik toko itu, perhatiannya terfokus pada sekelompok petugas kepolisian dan keamanan yang mengejarnya.

'Aku harus mengalihkan perhatian mereka... jarak mereka cukup jauh, tapi...' Junpei kemudian memperhatikan jalan di depannya, ia telah sampai di taman, dengan pepohonan tinggi besar yang tumbuh rindang dan teratur. Pemuda berambut tipis gelap itu tersenyum seketika ia teringat akan sesuatu, kemudian ia mengeluarkan sesuatu dari tas yang disandangnya.

"HEI!" Junpei kemudian menolehkan kepalanya ke belakang seraya kakinya masih terus berlari. "KALAU KALIAN INGIN KOTA KECIL KALIAN SELAMAT, JINAKKAN BENDA INI DULU!" Junpei kemudian melemparkan benda misterius yang baru saja ditarik dari tas tersebut ke udara.

"J-jinakkan? Bom waktu?" salah satu petugas berteriak. Mereka memperhatikan benda yang sedang terlempar ke arah mereka tersebut... dan benda tersebut mendarat di salah satu wajah petugas.

...Sebuah boneka Jack Frost...

"B-boneka? Cih, jangan main-ma—"

Sebelum petugas tersebut menyelesaikan kalimatnya, boneka kecil itu meledak dan menghasilkan gas di sekitar mereka, membuat mereka tampak seperti orang-orang yang sedang berduka cita.

"...! Gas air mata? Sial..." ujar salah satu petugas yang berusaha menghapus air mata yang terus membanjir keluar dari wajahnya.

Sementara itu, Iori Junpei melanjutkan larinya dan ketika gas itu mulai menipis dan menyatu dengan udara di sekitar mereka, ia segera bersembunyi di balik pohon besar di taman itu.

"Gaah, dia hilang! Cari!" para petugas tersebut mulai berpencar. Junpei mendesah lega.

'Haah... liburan terburuk yang pernah kurasakan... hari pertama benar-benar tidak lancar... apa aku harus kembali di hari pertama liburan dan tidak sempat menikmati apa-apa? Bohoooong...' batin pemuda itu penuh sesal. Setelah memastikan keadaan cukup aman, Junpei segera berdiri di balik pohon tersebut dan berniat melangkah keluar.

Namun seketika gerakannya terhenti.

"...Angkat tangan dan balikkan tubuhmu secara perlahan..." sebuah suara tidak diharapkan terdengar dari belakangnya. Junpei mengumpat kesal, ia benar-benar ceroboh.

Pemuda itu kemudian menuruti perintah dari suara di belakangnya tersebut. Ia membalikkan tubuhnya dan mendapati seorang pemuda berambut coklat dengan headphone jingga menggantung di leher sedang menodongkan pistol ke arahnya.

"Siapa kau? Jawab!" perintah pemuda ber-headphone itu, ia masih belum menurunkan tangannya yang mengarahkan pistol pada Junpei.

"Aku... aku penduduk negara ini! Wanita tua itu salah paham, ia salah orang..." Junpei masih berusaha mengelak.

"Hmm... benarkah? Identitas? Mana ID card milikmu?" pemuda berambut coklat itu mengulurkan tangannya, seakan-akan ingin meminta sesuatu.

Junpei segera menurunkan satu tangannya perlahan, mengeluarkan ID card yang diberikan Shinjiro, kemudian melempar benda tipis itu ke arah pemuda berpistol di hadapannya. Pemuda itu menangkap ID card yang dilempar Junpei dengan gesit, kemudian memperhatikan benda itu sementara pistolnya masih terarah pada Junpei. Pemuda berbola mata coklat itu kemudian menurunkan ID card tersebut di samping saku celananya. Junpei dapat melihat sebuah benda... seperti kamera berukuran kecil mencuat keluar di saku celana pemuda di hadapannya, yang kemudian mengeluarkan cahaya kemerahan yang menerangi ID card tersebut.

"...Error... Data not found..." suara mekanik keluar dari benda kecil yang mencuat di saku celana pemuda itu.

"Hmph... Jun Lori? Nama yang aneh... dan palsu." Pemuda ber-headphone itu tersenyum. Junpei tampak sedikit terkejut. ID card tersebut telah didesain sama persis, tapi mengapa—

"Setiap penduduk kami terdata... tidak ada nama 'Jun Lori' di sini. Kau tidak dengar suara mekanik barusan? Ceroboh sekali, kurasa kau penyusup yang bodoh," ujar pemuda itu mengejek. Junpei merasa kesal. Apa Shinjiro tidak tahu tentang hal ini? "Baiklah... bisa kau sebut siapa kau sebenarnya? Mengapa wanita itu berkata bahwa kau pengkhianat? Dari mana asalmu?"

"...Cih..." Junpei menggertakkan giginya setelah pemuda di hadapannya menyelesaikan pertanyaannya.

"Jika terpaksa, aku tidak memaksa kalian untuk terus menyembunyikan identitas kita, perkenalkan diri kalian sebagai UFoND, nama organisasi kita, tapi usahakan hal tersebut tidak sampai terjadi..."

Itulah yang dikatakan Shinjiro sebelum keberangkatan mereka. Tapi apakah...?

Junpei kemudian menyunggingkan senyuman. Tidak ada lagi yang perlu disembunyikan, mungkin...

"Namaku Iori Junpei, dan kami adalah... UFoND," jawab Junpei dengan senyum masih terhias di wajahnya. Pemuda ber-headphone di hadapannya mengangkat satu alisnya. Satu tangannya kemudian menyimpan ID card Junpei ke dalam saku celana, kemudian bergerak ke samping telinganya, seperti orang yang sedang berbicara di ponsel.

"Ha? 'You Phone'? Nama apa itu? Apa kalian semacam grup lawak? Maaf saja, tapi di negara kami—"

"UFoND." Junpei mengulang nama organisasinya dan memandang pemuda berambut coklat itu tajam. "United Forces of Nation Defender. Kami melindungi mereka yang dirugikan, dan kami... akan menghancurkan kalian..."

"Cih... 'You Phone', I phone produksi Apple sekalipun, kau ditangkap," jawab pemuda itu, tampak tidak terlalu memperhatikan kepanjangan nama organisasi yang Junpei sebutkan. Tampaknya perkataan pemuda di hadapannya membuat Junpei merasa kesal.

"Huh, coba saja kalau kau bisa menangkapku, 'orange-phone'..." Junpei tersenyum. Pemuda di hadapannya mengerutkan dahi.

"A-apa? 'Orange-phone'?"

"Yah, lihat saja headphone yang menggantung di lehermu itu. Warnanya jingga! Norak sekali, orange-phone..." ejek Junpei.

"Apa? Ini headphone yang kuperoleh dari ayahku! Jangan sembarangan, dan lagi, namaku Hanamura Yosuke, 'Apple'." Yosuke kembali mengejek Junpei.

"Heh, aku tidak peduli namamu. Tapi... waw, kau memperolehnya dari ayahmu? Kau sangat menyayangi benda itu ya, father complex?" senyum Junpei makin melebar.

"Cukup basa-basi tidak berguna ini, kau ditangkap, Apple, diam di tempat," perintah Yosuke sementara ia masih terus mengancam Junpei dengan pistolnya. Satu tangannya mengeluarkan sebuah borgol.

"Oho, kalau kau bisa menangkapku... orange-phone!" dengan sangat cepat, satu tangan Junpei segera meraih sebuah benda hitam kecil dari saku celananya. Ia kemudian membanting benda tersebut ke tanah. Benda tersebut meledak dan menghasilkan asap. Yosuke segera terbatuk-batuk dan pandangannya terhalang.

'...Bom asap? Aku ceroboh...' batin Yosuke kesal. Sementara Yosuke terbatuk-batuk dan berusaha mengibas-ngibas asap di sekeliling mereka, Junpei segera berlari melesat menjauhi Yosuke. "Jangan harap kau bisa kabur, Apple!" Yosuke berhasil keluar dari kepulan asap dan matanya menangkap Junpei telah berlari jauh darinya. Yosuke ikut berlari cepat dan terus mengikuti Junpei. Berusaha menembak kaki pemuda itu juga tampaknya percuma, Yosuke memiliki perasaan kalau Junpei bukan penyusup biasa.

Setelah beberapa menit mereka berkejaran, Yosuke mulai mengetahui ke mana Junpei mengarah.

Pelabuhan...


Mereka telah sampai di tepi dermaga, dan laut biru terbentang luas di depan mereka. Junpei, tanpa mempedulikan orang-orang yang memperhatikannya juga Yosuke, segera mengeluarkan sebuah benda tipis berwarna hitam yang menyerupai kartu, tetapi sedikit lebih tebal. Yosuke segera mengenali benda itu.

'WPM blood code card?' batin pemuda itu tidak percaya.

Junpei mengeluarkan pisau kecil, kemudian menyayat permukaan kulit di jari tengahnya, menghasilkan beberapa tetes darah. Junpei membiarkan benda hitam yang dibawanya itu dibasahi dengan tetesan-tetesan darah sang pemuda.

Seketika, benda hitam yang digenggam Junpei itu mengeluarkan sebuah tombol kecil tipis, yang juga berwarna hitam dan nyaris menyatu dengan permukaan benda tersebut, sebuah 'tombol pemanggil'.

"Waktunya bangun, Hermes!" teriak Junpei seraya ia menekan tombol tersebut. Seketika, dari dalam laut, keluar sosok robot raksasa dengan sayap keemasan yang terbentang, berada beberapa meter dari tepi dermaga tempat Junpei berdiri.

Yosuke tampak terkejut. "A-apa? Ternyata memang benar... WPM?" ucap Yosuke tidak percaya. Junpei segera melompat tinggi ke arah WPM kesayangannya tersebut yang telah menyediakan jalan lurus dari besi yang mengarah ke kokpit. Ketika Junpei berhasil menginjakkan kakinya di besi datar itu, ia segera berlari ke dalam kokpit dan kokpit tersebut tertutup otomatis.

"Tidak mungkin—kami memasang alat pendeteksi di dalam laut...!" Yosuke masih sulit mempercayai penglihatannya.

Junpei, yang masih dapat mendengar suara Yosuke dari luar (ia menyalakan alat komunikasi dengan dunia luar), hanya tersenyum. "Hermes... tidak akan terdeteksi..." ucap pemuda bertopi baseball itu seraya ia menyalakan roket kecil pada kedua telapak kaki Hermes, menerbangkan WPM itu semakin tinggi meninggalkan Yosuke di bawahnya.

"Apa kau pernah membaca kisah dalam mitologi Yunani? Hermes adalah pencuri. Seorang pencuri meninggalkan lokasi targetnya diam-diam... secara tidak terdeteksi..." Junpei kemudian menekan kombinasi keyboard rumit di depannya. "Dan inilah salah satu spesialisasi Hermes..." lanjut pemuda itu.

Setelah Junpei menekan kombinasi keyboard di hadapannya dan menarik salah satu tuas, kedua bagian pergelangan tangan Hermes terbuka di satu sisi, kemudian mengeluarkan gelombang kuat.

Yosuke, yang berada di bawahnya, berusaha menahan tubuhnya agar tidak terhempas angin dan gelombang misterius dari Hermes, namun tampaknya gelombang yang dihasilkan Hermes membawa dampak buruk.

Seluruh alat pendeteksi, alat komunikasi, sensor dan kamera di pelabuhan tersebut mati total.

"Ahah! Sampai bertemu lagi, Orange!" suara Junpei terdengar dari dalam WPM tersebut. Yosuke hanya bisa memandang kesal ke arah Junpei, lebih tepatnya, Hermes yang semakin jauh dari pelabuhan tersebut dan terbang tinggi meninggalkan mereka. Tiba-tiba, para petugas lain sampai di pelabuhan.

"Sir! Jadi penyusup itu ada di sini tadi? Kami bisa mengejarnya, dengan WCM!" salah satu petugas membuka mulutnya.

"Seluruh alat komunikasi dan pendeteksi mati total! Tampaknya disebabkan gelombang misterius barusan!" petugas lain melanjutkan.

Yosuke, tanpa membalikkan tubuh menghadap mereka, dan masih memperhatikan laut biru yang terbentang di depannya, hanya menjawab singkat, "Sudah cukup. Kalian tidak akan bisa mengejarnya... bahkan aku saja tidak bisa..."

"A-apa?" petugas tersebut tampak bingung.

"Dia menggunakan WPM... dan gelombang barusan dihasilkan WPM miliknya... dan lagi—" Yosuke menghentikan perkataannya sesaat, kemudian melanjutkannya lagi, "Jiraiya milikku tidak akan dapat mengejarnya... tetapi boleh juga, siapapun namamu, Apple, kau lulus sebagai sainganku... Sampai bertemu di medan perang." Yosuke menutup kalimatnya dengan senyum kepuasan dan tantangan.


Di dalam Hermes yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan negara di belakangnya, Iori Junpei mendesah.

"Haah... baiklah, tidak mungkin aku kembali lagi ke sana, kuharap Shinjiro-san tidak membunuhku karena ini... tapi aku tidak berhasil berlibur satu hari saja di sana." Pemuda itu berbicara sendiri. Ia kemudian terdiam sejenak, mengingat kembali sosok pemuda ber-headphone yang mengejarnya tadi.

"Sepertinya... si orange-phone itu bukan orang sembarangan." Ia tersenyum, kemudian tiba-tiba senyumnya memudar seketika ia kembali teringat tentang seorang pemuda yang dilihatnya di layar lebar tengah kota tadi.

'...Minato...' batin pemuda itu. Junpei menutup kedua matanya, kemudian membukanya lagi, senyuman kembali menghiasi wajah Junpei.

"Ayo pulang, Hermes," ucapnya sementara Hermes terbang melintasi awan-awan yang mulai menggelap.


A/N: Ah, seperti biasa, pasti banyak kekurangan ya? :'D

Bagaimana chapter ini? Yah, tidak perlu ditanya, minus di mana-mana, ahah -ditimpuk- di sini ditampilkan salah satu spesialisasi Hermes, saya kepikir gini setelah mengingat posisi Hermes, tukang nyolong -digiling- gelombang Hermes dapat menon-aktifkan setiap alat pendeteksi dan komunikasi (bukan listrik ataupun WPM) hanya untuk bersembunyi dan kabur tanpa meninggalkan jejak, kayak pencuri professional kali? -sotoy- -disirem air-

ah, maaf T^T saya tau betapa saya sotoy dimana" di fic ini TT_TT

Terima kasih banyak bagi yang telah membaca, dan special thanks untuk: NeeNao, heylalaa, Kuro, toganeshiro-chan, AkiraRaymundo yang telah menyumbangkan reviewnya ^^

Seperti biasa, jika ada yang tidak jelas, atau ingin menyampaikan kritik, saran, komentar, pertanyaan dan lain sebagainya, silahkan sampaikan lewat review!

Best Regards,

Snow Jou


Tech Data:

WPM blood code card: hasil penelitian Professor Amagi beberapa lama setelah ia menciptakan WPM pertama. WPM blood code card adalah sebuah 'tombol' kecil yang tersembunyi dalam kotak tipis yang nyaris setipis kartu. Tombol ini digunakan untuk 'memanggil' WPM yang berada dalam jarak maksimal sekitar dua kilometer. Digunakan dengan cara membasahi benda tersebut dengan beberapa tetes darah sang 'tuan'. Ketika darah tersebut diteteskan, sebuah detektor berukuran mikro dalam WPM blood code card akan memeriksa apakah darah tersebut memang milik sang 'tuan' melalui instant check DNA. Ketika micro-detector dalam WPM blood code card menunjukkan reaksi positif, maka 'segel' tombol di kartu itu akan terbuka. Tombol tersebut akan menyalakan mesin WPM yang dituju dari luar, tanpa harus ada seseorang yang menyalakannya dari dalam kokpit, dan secara otomatis menarik WPM itu untuk mencari sumber tombol tersebut (jaraknya hanya berkisar dua kilometer). Setiap WPM memiliki WPM blood code card masing-masing. Jadi WPM code blood card milik Hermes hanya akan menerima darah dan DNA dari Iori Junpei. WPM blood code card biasa digunakan sebagai alternatif dalam keadaan terjepit. Setelah seseorang menggunakan WPM blood code card dan masuk ke dalam kokpit, WPM akan tetap melakukan scan terhadap seluruh tubuh pengguna, untuk memastikan WPM blood code card tidak dimanfaatkan atau dimanipulasi oleh musuh. Kekurangannya adalah, scan WPM masih menerima 'tubuh mati'. Sebagai contoh, jika musuh membunuh sang pemilik WPM, ia dapat memanfaatkan mayat sang 'tuan' WPM tersebut untuk mengaktifkan WPM.