Disclaimer: Persona 3 & Persona 4 © ATLUS


Geraman guntur menggema halus hingga ke sudut kota, menggetarkan gendang telinga orang-orang yang tengah mempercepat langkahnya, berniat melindungi diri dari ketajaman butir-butir air yang telah siap ditumpahkan kawanan awan hitam yang menyelubungi langit. Beberapa orang telah menyiapkan payung untuk melindungi mereka, beberapa telah bersiap mencari tempat berteduh, dan Seta Souji, beserta Tatsumi Kanji, sedang mempercepat langkah mereka untuk segera sampai ke penginapan. Kedua pria muda itu menyandang tas berisi perlengkapan dan keperluan mereka masing-masing.

"Inilah Capell city, pusat negara Letzvetrie, kota dimana sang Emperor dan Empress berdiam..." Kanji memperkenalkan nama tempat dimana mereka menginjakkan kaki sekarang, "tetapi kita tidak dapat menyerang tanpa strategi, tentu saja... hal itu benar-benar bodoh. Penjagaan di sekitar kediaman sang Emperor terlalu ketat," lanjutnya lagi, sementara Souji yang berjalan di belakang Kanji memperhatikan sekelilingnya.

Hampir setiap bangunan di sekeliling mereka dibangun bergaya klasik. Struktur dan penataan bangunan-bangunan yang tengah mereka lalui sangat indah, Souji mengakui itu. Didominasi warna coklat kalem hingga putih, bangunan-bangunan tersebut memang enak dipandang mata. Daerah sekitar bangunan-bangunan yang berbaris rapi itu juga tampak terawat dengan tumbuh-tumbuhan hijau yang segar.

"Kudengar... Capell adalah kota yang memiliki curah hujan cukup tinggi," ujar Souji tiba-tiba. Ia dapat melihat Kanji yang berjalan di depannya mengangguk sebagai jawaban. "Tanaman tumbuh subur, langit senantiasa cukup gelap, namun suasana seperti ini... menenangkan hati," lanjut Souji sementara ia merasakan napas angin yang berhembus menerpa wajahnya.

"Dan terasa cukup dingin, kurasa aku akan bahagia tinggal di kota ini. Tapi... heh, kau lihat para penduduk di sini, mereka sering terlihat pucat. Kulit mereka berwarna cerah, yang semakin tampak pucat di bawah awan mendung dan langit yang berkilau kelabu seperti ini," jawab Kanji, yang kemudian merasakan tetesan butir air dingin menyentuh kulitnya. "Gerimis mulai turun, tapi untunglah... kita sampai di penginapan."

Mereka telah berdiri berhadapan dengan sebuah bangunan bergaya klasik yang cukup besar. Jalan setapak dari bebatuan kelabu yang terukir indah terbentang lurus di depan mereka. Di sebelah kanan dan kiri jalan setapak yang mengarah pada pintu bangunan tersebut, rerumputan hijau segar menyelimuti tanah dan membungkus batang bunga-bunga yang berwarna-warni. Kelopak-kelopak bunga berterbangan di sekitar mereka, mengikuti alunan hembusan angin dan menari di udara. Kanji melangkah tanpa banyak memperhatikan sekitarnya, sementara Seta Souji melangkah menelusuri jalan tersebut dan sepasang kristal peraknya menikmati sekeliling mereka.

...Pemandangan yang agak mirip dengan apa yang pernah ia lihat di masa lalunya... suasana yang menemaninya tatkala ia bermain dengan teman-temannya—dan dengan seorang sahabat... sebelum keindahan itu lenyap oleh bara api dan asap hitam.

O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O

Liebe und Rache

Chapter 3

Holiday Part II: City of Rain

O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O

"Waw..." itulah suara singkat yang keluar dari mulut Seta Souji ketika ia memasuki bangunan tempat mereka akan menginap sepanjang 'liburan' mereka. Tumbuhan hijau segar tertanam dalam pot yang berbaris rapi di sudut ruangan yang lantainya beralaskan karpet merah tersebut. Sebuah sofa yang tampaknya sangat empuk berdiri di ujung ruangan membelakangi tembok, dilengkapi dengan sebuah televisi plasma besar yang tampak mahal menggantung di atas. Lampu-lampu yang terlihat mahal menghiasi langit-langit ruangan, dinding ruangan terlukis warna nila yang indah. Sementara di samping ruangan itu, terpisahkan dengan kaca besar yang berkilau transparan, Souji melihat ruangan dengan meja-meja makan terbungkus taplak putih yang tampaknya adalah tempat para tamu menikmati hidangan mereka.

"Satu kamar tidur, satu kamar mandi, dengan dua tempat tidur terpisah," kata Kanji menyampaikan jenis kamar yang ingin mereka sewa. Ia telah berdiri di dekat meja resepsionis dan berbicara dengan seorang pria berpakaian rapi yang adalah salah satu pekerja di sana.

"...Bagaimana dengan satu kamar tidur, satu kamar mandi, dengan satu tempat tidur untuk dua orang?" tanya pria tersebut. Kanji memandang pria di hadapannya tajam.

"Kubilang dua tempat tidur terpisah! Aku akan menginap dengan seorang lelaki, bodoh!" Kanji mulai tidak sabaran.

"O-oh, baiklah. Saya hanya menawarkan... baiklah. Tersedia suite rooms di sini, anda tertarik?" tanya pria tersebut lagi, sebelum ia mencatat kamar yang diinginkan Kanji.

"Regular, dan aku tidak ingin mendengar tawaranmu lagi," jawab Kanji tegas. Pria itu hanya mengangguk, kemudian membalikkan tubuhnya dan mengeluarkan sebuah kunci dari saku celana. Ia kemudian membuka lemari kaca di belakangnya dan memeriksa sederetan kunci-kunci kamar yang tergantung rapi di lemari tersebut. Souji, yang akhirnya berdiri menghampiri Kanji, membuka mulutnya.

"Kanji-san... apa kau yakin kita akan menginap di tempat ini? Tempat ini agak terlalu... 'mewah'. Apa uang kita cukup?" tanya Souji khawatir.

"Oh, man... Shinjiro telah menyediakan uang untuk kita. Tidak perlu ragu memakainya, dan lagi, Shinjiro mengatakan 'lakukan apapun sekuka kalian' dan semacamnya," jawab Kanji, masih memperhatikan pria yang sekarang telah meraih salah satu kunci kamar, yang kemudian segera membalikkan tubuhnya menghadap mereka.

"Ini kunci kamar kalian," kata pria tersebut, menyodorkan sebuah kunci kamar dengan gantungan dari kayu yang terukir kombinasi angka 210. Kanji segera meraih kunci tersebut. Souji merasa sebaiknya ia tidak perlu tahu berapa uang yang harus mereka keluarkan untuk menginap satu malam saja di tempat seperti ini.


Butiran-butiran air yang halus dan ringan telah ditumpahkan selimut gelap yang tengah berenang di bentangan langit. Sepasang iris kelabu jernih itu menerawang keluar kaca jendela kamar, memperhatikan gerakan gemulai pohon-pohon yang terhembus alunan napas angin, helai-helai daun berputar dan melayang ke angkasa gelap, bunyi gemerisik dari nyanyian pepohonan di dekatnya menyentuh gendang telinga sang pemuda. Matahari telah bersemayam di peraduannya, dan langit berawan gelap telah bersiap menyambut kedatangan sang bulan. Souji menyembunyikan iris kelabunya dengan kelopak mata, senyum tersungging di wajahnya. Ia menikmati keindahan ini...

...menikmati keindahan yang dimiliki musuh, dan nyaris melupakan kehancuran yang melanda sahabat-sahabat dan keluarganya...?

Pemuda itu segera membuka kembali kedua matanya, senyuman itu memudar dari mulut sang pemuda. Ia tidak bisa menikmati keindahan ini. Keindahan teritori musuh yang menjatuhkan bom di kota kecilnya, menelan habis dan merampas segala kebahagiaan yang Souji miliki dalam hidupnya. Pemuda itu menggeram perlahan. Ia membalikkan tubuhnya dan menutup gorden hijau jamrud jendela itu, sementara Tatsumi Kanji yang tengah terduduk di atas tempat tidur tampak sedang berbicara lewat ponsel. Suara-suara berat pemuda tanpa poni itu memang agak mengganggu kenyamanan Souji tatkala ia menikmati bunyi pepohonan.

"Ya...? Mungkin Shinjiro sengaja melakukannya? Aku tidak percaya orang seperti dia akan seceroboh itu... baiklah, kami akan berhati-hati. Terima kasih atas informasinya, Junpei," jawab Kanji, merespon perkataan yang diterima otaknya dari ponsel tersebut. Souji mengangkat satu alisnya seusai Kanji memutus hubungan ponsel dan melemparkan benda kecil itu ke atas tempat tidur.

"Apa yang dikatakan Junpei-san?" tanya Souji penasaran.

"Junpei nyaris tertangkap di Verstannia, untungnya ia berhasil kabur ketika dikejar. ID card ketahuan palsu, katanya. Setiap penduduk terdata dan ID card akan di-scan. Aku percaya Letzvetrie memiliki sistem yang sama. Ia pulang di hari pertamanya berlibur, dan mengatakan 'tidak masalah, sepertinya aku mendapatkan seorang saingan. Ternyata sebuah jeruk tidak dapat diremehkan begitu saja, eh?' dan semacamnya. Aku tidak mengerti maksud perkataannya tentang 'sebuah jeruk'." Kanji menjelaskan panjang lebar. Souji mengangguk perlahan.

"Kalau begitu... kita harus berhati-hati," jawab Souji seraya sepasang matanya teralihkan pada dua lembar ID card yang terbaring di atas meja, dengan dua nama palsu, 'Souta' dan 'Kansumi'. "...Terlintas di benakku ketika aku melihat ID card milik kita. Apa Shinjiro-san memilihkan nama kita dengan asal-asalan?"

Dan Kanji menjawab pertanyaan Souji dengan mengangkat bahunya. "Kita akan melewati malam ini dengan... istirahat. Kemudian," kata Kanji seraya ia mulai mengistirahatkan seluruh tubuhnya di atas tempat tidur berwarna nila yang empuk, "besok, kau dan aku memiliki urusan yang berbeda-beda. Pergilah kemanapun sesuai keinginanmu, dan aku juga akan pergi kemanapun sesuka hatiku, asalkan jangan sampai kau berbuat bodoh dan tertangkap." Kanji menutup kalimatnya sembari satu tangannya yang masih terbungkus sarung tangan menarik selimut di atas tempat tidur tersebut, membiarkan selimut itu menutupi hampir seluruh tubuhnya.

"...Kota ini terasa dingin, ya?" itulah kalimat terakhir Kanji sebelum ia menutup sepasang mata dan membiarkan dirinya melangkah ke dunia mimpi.


Second day in Capell

08.14 A.M

Sinar lembut dari sang surya menembus kaca jendela dan menyibak kamar itu melalui celah-celah gorden hijau jamrud yang menaungi kamar. Seta Souji membuka sepasang iris kelabunya yang segera kembali dilindungi seketika cahaya matahari menembus masuk. Pemuda berambut abu-abu itu segera terduduk di atas tempat tidur berwarna nilanya, sementara mulutnya terbuka cukup lebar tatkala ia menguap. Pemuda itu menolehkan kepala ke tempat tidur sebelah kanan, dan mendapati Tatsumi Kanji telah tiada lagi berada di ranjangnya.

'Berjalan sendiri-sendiri... ya?' batin pemuda itu seraya ia menginjakkan kakinya di atas lantai kamar yang dingin. Ia berjalan ke kamar mandi, dan mendapati kamar mandi tersebut telah basah oleh air. Tampaknya Kanji telah memakainya terlebih dahulu. Pemuda itu kemudian melihat sebuah notes kecil di dekat wastafel yang tergolong mewah itu.

'Aku akan kembali agak larut... mungkin kau sudah tidur terlebih dahulu. Kau bebas ke mana saja hari ini. Baiklah, jangan mengacau.'

Itulah pesan singkat yang tampaknya ditulis oleh Tatsumi Kanji. Souji menarik napas, kemudian menghembuskannya perlahan. Ia segera melangkahkan kedua kakinya untuk bersiap-siap melakukan aktivitasnya di negara musuh yang subur ini.


Siang hari itu di Capell cuaca cukup cerah. Tidak benar-benar bisa dikatakan cerah. Awan kelabu tipis masih bergulung-gulung di langit biru, sinar matahari yang cukup menerangi kota. Tidak terasa terik, sementara angin berhembus lembut.

Seta Souji melangkahkan kakinya menelusuri jalanan berukir indah dengan deretan toko-toko di samping jalan tersebut. Sebagian besar—atau bahkan semua orang yang beraktivitas di tempat ia berada sekarang adalah pejalan kaki. Tampaknya daerah ini bukan tempat untuk kendaraan. Sepasang mata pemuda itu sesekali memperhatikan sebuah peta yang dibawanya. Daerah pertokoan, taman, perusahaan, gedung, stasiun kereta, halte... sekolah. Souji membaca sebarisan tulisan kecil pada peta.

'Koheitlich High School'

"...Sekolah... ya?" gumam pemuda itu perlahan. Seketika, satu lembaran memori terbuka dari otaknya. Ia ingat sekolah tempat ia belajar dulu. Sekolah yang cukup sederhana, dua tingkat dengan sebuah halaman yang asri di sekitar sekolah. Ia ingat seketika ia menginjakkan kakinya ke halaman sekolah, ia akan bertemu dengan seorang sahabat yang telah menunggunya untuk bersama-sama masuk ke kelas.

Pikiran Souji sempat melayang pada kenangan masa lalunya, namun ia segera kembali memfokuskan pandangan pada jalan yang ditempuhnya. Seketika ia mengangkat kepala, tampak sekolah yang ia lihat di peta.

Koheitlich High... sebuah sekolah dengan bangunan putih yang megah, luas dan tinggi. Souji dapat melihat kemewahannya walaupun dari balik tembok batu putih berukir indah. Souji dapat melihat lebih jelas ketika ia telah berjalan mendekati gerbang sekolah.

Gerbang sekolah tinggi yang terukir indah itu terbuka, dan Souji dapat melihat gedung sekolah tersebut dengan lebih jelas. Gedung sekolah tersebut sangat luas, dengan satu gedung tinggi yang tampak dibangun dengan sangat hati-hati dan terukir sangat indah. Di tengah-tengah jalan bebatuan putih yang juga berukir, sebuah air mancur besar berdiri. Di sekitar gedung, sebentangan rumput, tetumbuhan hijau, pepohonan dan bunga berwarna-warni menghiasi tanah. Halaman sekolah tersebut sangat luas dan... rindang. Souji bahkan sempat berharap ia dapat bersekolah di tempat seperti ini... dan... menjadi warga negara ini. Di depan gerbang, Souji melihat sebuah spanduk tergantung di gerbang sekolah.

'Koheitlich Culture Festival'

"...Culture Festival? Sepertinya menarik... apa terbuka untuk umum...?" gumam Souji perlahan.

"Ho... kau tertarik, anak muda? Kau tidak akan menyesal datang ke Culture Festival yang diadakan sekolah terbaik di Letzvetrie ini, percayalah," ujar seuntaian suara berat dan serak dari belakang Souji.

Souji tersentak, ia kemudian menolehkan kepalanya ke belakang, mendapati seorang pria tua, yang kira-kira berusia enam puluh tahun sedang tersenyum padanya. Rambut pria itu telah memutih, dengan tatapan mata yang masih bersinar kekanakan. Souji membalas tersenyum.

"Hm... ya, begitulah," jawab Souji singkat. Pria tua itu masih tersenyum.

"Anak muda, diperlukan tiket untuk masuk ke festival kebudayaan ini. Dan tiketnya terbatas, nak. Saya sendiri tidak berhasil mendapatkannya, sayang sekali," jawab pria tua itu, raut wajahnya berubah sedih. Souji mengangkat satu alisnya.

"Tiket? Terbatas? Berapa harga satu tiket itu, kira-kira?" tanya Souji sopan. Pria tua itu kemudian memandang Souji, kemudian memperhatikan sang pemuda sejenak.

"Tidak terlalu mahal, sebenarnya... hanya 100.000 yen," jawab pria tua itu santai. Souji merasa harapannya hancur seketika.

"...100.000...? Tidak terlalu mahal...? Ahaha," jawab Souji kaku sambil memaksakan tawa. Ia kemudian menunduk perlahan pada pria di hadapannya. "Terima kasih atas informasi yang anda berikan, saya permisi," lanjut Souji, kemudian meninggalkan pria itu dengan pikiran-pikiran lain memenuhi otaknya.

Mungkin ia memang memiliki uang untuk membeli tiket, namun... menggunakan uang sebanyak itu untuk keperluan 'kurang penting' membuat niatnya buyar. Pemuda itu menggelengkan kepala, kemudian kembali memperhatikan peta yang dibawanya, berharap ia akan menemukan sebuah tempat menarik lain yang dapat ia kunjungi.


Seharian itu, Souji telah menjelajahi cukup banyak tempat-tempat menarik di Capell. Taman tengah kota yang indah dan asri, bangunan klasik yang menyimpan karya-karya seni, dan lain-lain. Senja telah tiba, dan berbeda dengan senja yang dialami Souji di kota kecilnya dulu, senja di Capell tidak menyemburatkan sinar jingga dan mewarnai langit dengan warna emas, tetapi langit berwarna biru kelabu. Matahari tertutupi awan-awan. Kota senantiasa ditemani cuaca mendung, hujan dan gerimis. Badai bukanlah sesuatu yang jarang terjadi.

Pemuda itu sekarang tengah berjalan menelusuri daerah yang cukup terpencil di kota itu. Jalan setapak di tengah-tengah pepohonan yang tumbuh rindang dengan daun-daun mereka yang merah membara. Jelas sekali di daerah ini musim gugur sedang berlangsung... yang anehnya, setahu Souji, Letzvetrie tidak sedang mengalami musim gugur.

Souji memperhatikan peta di tangannya. Sepertinya tempat indah yang misterius ini tidak memiliki nama, atau bahkan tercantum di peta. Pemuda itu melihat jalan setapak di dekat pertokoan, yang kemudian ditelusurinya terus (karena jalan setapak ini hanya memiliki satu arah), dan tanpa ia sadari kapan, ia telah berdiri di tengah-tengah naungan pepohonan dengan daun-daun kering kemerahan yang berguguran tertiup angin.

Souji berniat membalikkan tubuhnya untuk segera kembali ke penginapan. Hari mulai gelap, dan tidak ada alasan untuk melanjutkan perjalanannya. Sejauh ini ia tidak menemukan apa-apa di tempat misterius ini selain pepohonan dan dedaunan kering berwarna keemasan, jingga, hingga merah.

Ketika pemuda itu baru berjalan dua langkah untuk kembali, kedua kaki sang pemuda terhenti ketika ia mendengar sesuatu yang menyentuh gendang telinganya.

Bunyi alunan musik.

Jika Souji mendengarkan lebih seksama, bunyi itu mungkin dihasilkan gesekan biola. Bunyi tersebut tidak terdengar terlalu jelas di telinganya, hanya terdengar samar-samar. Gerimis ringan mulai membasahi tanah Capell saat itu.

Sang pemuda membalikkan kembali tubuhnya, kemudian melanjutkan perjalanannya menelusuri daerah itu. Ia tertarik dengan bunyi itu, entah kenapa. Semakin ia mendengarnya, ia semakin merasa dedaunan keemasan di sekitarnya menari mengikuti alunan musik itu, yang dibantu oleh sang angin. Lagu yang mengalun di telinganya cukup simpel, bukan sesuatu yang rumit ataupun membutuhkan jari-jari professional untuk memainkannya, tetapi lagu tersebut terdengar begitu merdu dan menghibur.

Souji masih terus melangkah, sementara bunyi gesekan biola itu terdengar semakin jelas, yang semakin menarik perhatiannya. Tanpa disangka sang pemuda, jalan setapak di hadapannya hanya terbatas sampai di mana kakinya telah menginjak, yang kemudian langsung tersambung dengan rerumputan keemasan dan pepohonan-pepohonan lain. Namun yang menarik perhatian Souji adalah apa yang dilihatnya ketika ia menginjakkan kakinya di rerumputan, yaitu sebuah pohon raksasa yang tumbuh di tengah-tengah pohon lainnya. Sama dengan pohon lainnya, daun-daun pohon itu berwarna jingga keemasan hingga merah, tetapi yang membedakannya adalah daun-daun tersebut tidak terkesan kering, melainkan tumbuh subur dan permukaannya halus.

Souji berjalan mendekati pohon raksasa itu, mengangkat kepalanya untuk melihat betapa tingginya pohon itu telah tumbuh. Pohon tersebut adalah pohon yang tertinggi yang ia lihat sejauh perjalanannya kemari. Tingginya dapat mencapai sekitar dua setengah kali pohon biasa, dan Souji dapat mendengar musik itu terdengar jelas di telinganya. Bunyi itu tampak berasal dari... pohon itu sendiri?

Di luar dugaan Souji, musik itu segera terhenti sementara lagu yang dimainkannya belum selesai. Souji menolehkan kepalanya dan memeriksa sekitar daerah itu. Mengapa musik itu terhenti?

Selang beberapa lama, Souji kembali memusatkan perhatiannya pada pohon tinggi di hadapannya. Entah kenapa, pohon itu kembali mengingatkannya pada masa lalunya.

:-:

"Hei, Souji! Kita lihat siapa yang lebih dulu mencapai puncak pohon tinggi ini, kau siap?" salah seorang sahabat Souji tersenyum pada bocah berambut keabuan itu.

"Uh... baiklah, tidak masalah," jawab Souji agak ragu. Ia tidak terlalu pandai memanjat pohon.

"Oke... dalam hitungan ketiga... satu, dua... tiga!" teriak sahabat Souji tersebut. Dengan lincah, ia segera menekan satu kakinya ke batang pohon dan mulai memanjat dengan gesit. Souji mengikuti gerakannya. Sahabat-sahabatnya yang lain mulai menyoraki mereka. Ada yang mendukung Souji dan ada yang mendukung sang saingan.

:-:

Souji menggeram perlahan. Tempat ini... tempat yang ia benci! Mengapa tempat ini terus mengingatkannya pada masa lalu? Seakan-akan ini adalah tempat kelahirannya. Souji menggelengkan kepalanya dan entah kenapa, ia merasa tertipu. Tanpa pemuda itu sadari, tatapan matanya yang mengarah ke pohon raksasa di hadapannya berubah menjadi tatapan kemarahan dan kebencian.

"...Mengapa kau memandangnya seperti itu?"

Souji mengedipkan kedua matanya, ketika sebuah suara menyadarkan pemuda itu dari lamunan. Ia menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, tetapi ia tidak menemui siapa-siapa... selain dirinya sendiri.

"Apa kau membenci pohon ini? Setahuku, tidak pernah ada yang memiliki alasan untuk membenci pohon ini. Ini salah satu pohon tertua di Letzvetrie..."

Suara itu kembali terdengar. Souji akhirnya membuka mulutnya, walaupun ia bahkan tidak yakin apa benar ada orang lain di tempat ini. "...Siapa?" ujar pemuda itu perlahan.

Souji kemudian mendengar suara gemerisik pohon raksasa di hadapannya yang terdengar semakin kencang. Tidak lama kemudian, pandangan pemuda itu teralih pada bagian sebelah kiri pohon yang tengah dipandangnya.

Seorang gadis berambut biru pendek baru saja melompat turun dan menginjakkan kakinya di samping pohon tersebut, sementara bunyi gemerisik mengiringi gerakan sang gadis. Tangan kiri sang gadis menggenggam ujung sebuah biola, sementara jari-jari tangan kanannya memegang ujung bow untuk menggesek biola tersebut dengan hati-hati. Bola mata kelabu jernih Souji bertemu dengan sepasang kristal biru kelabu jernih yang dimiliki gadis itu. Souji merasakan tatapan sang gadis, entah kenapa, terasa begitu tajam, walaupun gadis itu tidak sedang memelototinya atau apa.

Gerimis masih terus membasahi tanah itu, dan butir-butir air tampak sedikit membasahi pakaian sang gadis yang tampaknya adalah seragam sekolah perempuan. Souji dapat melihat sebuah lambang sekolah dengan tulisan Koheitlich pada seragam gadis itu. Ternyata gadis itu adalah murid sekolah yang akan mengadakan festival kebudayaan yang ia lihat siang tadi. Seragam tersebut berupa kemeja putih yang terbungkus dengan jaket putih keemasan sepanjang pinggang pada bagian depan dan sepanjang pinggul pada bagian belakang, berlengan panjang menutupi pergelangan tangan sang gadis. Sementara rok selutut sang gadis juga berwarna putih. Kerah kemeja putih gadis itu dilingkari dasi biru gelap yang terlipat rapi dan ujungnya tertutupi dengan jaket sekolah putih yang terkancing. Kaus kaki hitam panjang yang membungkus bagian kaki nyaris menyentuh lutut dan sepatu putih melindungi kakinya.

Souji membutuhkan waktu beberapa saat untuk memperhatikan gadis di hadapannya sekarang. Gadis itu, yang tampaknya mulai merasa tidak nyaman dengan tatapan mata sang pemuda, akhirnya kembali membuka mulutnya, berniat menarik perhatian pemuda itu sejenak, "Hei... ."

Souji segera tersadar, "Oh... hai... ehm..." Souji berdeham perlahan sebelum melanjutkan kalimatnya, "Siapa kau?" tanya pemuda itu. Gadis di hadapannya mendesah perlahan, sementara ia sedikit mempererat genggamannya pada biola di tangan kirinya.

"Aku yang lebih dulu bertanya..." jawab gadis itu singkat.

"Ah... begitu... pertanyaanmu tadi? Aku tidak tahu mengapa, pohon ini mengingatkanku pada masa lalu, itu saja. Aku tidak membencinya atau apa..." jawab pemuda itu, yang masih mengingat pertanyaan sang gadis barusan. Gadis itu mengangkat satu alisnya.

"Begitu...?" gumam gadis itu perlahan, menundukkan kepalanya sedikit. Gadis itu kemudian kembali mengangkat kepalanya dan mempertemukan matanya dengan mata sang pemuda. "Namaku Shirogane Naoto... dan kalau boleh kutahu, siapa namamu?" gadis itu bertanya balik setelah ia menyebutkan namanya.

"Seta Souji." Pemuda itu menjawab sambil tersenyum, yang langsung dibalas dengan anggukan sang gadis di hadapannya.

Hening menyelimuti mereka. Hanya suara gemerisik pohon, suara air yang menyentuh permukaan bumi dengan halus, dan tiupan angin yang mengisi keheningan mereka. Souji kemudian memaksakan sedikit senyuman dan berpikir sebaiknya ia membuka sedikit pembicaraan.

"Uhm... kau yang memainkan biola barusan?" tanya pemuda itu. Gadis di hadapannya hanya mengangguk singkat. Sedari tadi, Souji tidak melihatnya tersenyum, namun ia dapat melihat rona merah yang samar... sangat samar, menghiasi pipi sang gadis ketika Souji menanyakan hal itu. "...Err... lalu... menurutku, bunyi gesekan biola yang kau mainkan terdengar begitu... indah," lanjut Souji, mengutarakan pendapatnya dengan jujur.

"...Aku tidak berpikir demikian, tapi... terima kasih," jawab gadis itu, nyaris tanpa ekspresi. Souji masih merasakan atmosfer yang tidak nyaman di sekitar mereka. Ia kembali berdeham.

"Lagu apa yang baru saja kau mainkan, err... Shirogane-san?" tanya Souji lagi.

Gadis itu kemudian kembali menatap Souji. Memang benar, tatapannya benar-benar terkesan... tajam. "Jesus Bleibet Meine Freude... aku diajari lagu itu di gereja..." jawab gadis itu.

"O-oh... baiklah..." Souji menjawab singkat. Ia sedikit kehabisan kata-kata. Terus mengajaknya bicara mungkin justru akan mengganggunya. "Hei... tadi kau sedang berlatih? Maaf kalau aku ternyata mengganggu..." lanjut Souji.

"Tidak... aku juga harus segera kembali... dan..." gadis itu terdiam sejenak, memperhatikan Souji, "maukah kau... err..." wajah gadis itu memerah sesaat, sementara tangan kanannya meletakkan bow ke tangan kiri yang masih menggenggam ujung biola, kemudian meraih saku jas sekolahnya, "datang ke festival kebudayaan sekolahku?" lanjut gadis itu sambil mengeluarkan selembar tiket. Souji nyaris tidak mempercayai apa yang dilihatnya. "Aku ditugaskan untuk membagi-bagikan tiket, dan aku tidak tahu harus diberikan kepada siapa lagi... harganya 100.000 yen." Naoto menyodorkan benda tersebut.

"Ehm... maaf, tapi... uang sebanyak itu—"

"Terima saja, gratis kalau begitu." Suara sang gadis memotong perkataan Souji. Pemuda berambut abu-abu itu mengangkat satu alisnya.

"...Gratis? Tunggu, tapi—"

"Tidak apa-apa, terima saja... ini tiket terakhir dan harus dihabiskan..." jawab gadis itu semakin mendekatkan selembar tiket itu di depan Souji. Pemuda itu tampak berpikir sejenak, kemudian satu tangannya terangkat dan meraih tiket tersebut.

"Maaf dan... terima kasih," jawab Souji sambil tersenyum. Gadis di hadapannya tidak juga tersenyum. Ia hanya menundukkan kepalanya sedikit.

"...ID card..." ujar gadis itu. Souji mengangkat satu alisnya.

"Eh?"

"Tunjukkan ID card milikmu."

Souji baru menyadari bahwa ia telah melakukan kesalahan. Nama yang tercantum di ID card miliknya adalah nama palsu, dan baru saja... dengan sangat ceroboh, ia memperkenalkan dirinya dengan nama asli. Pemuda itu menelan ludah.

"Err... s-sepertinya, ID card milikku tertinggal di penginapan... dan sudah malam, terima kasih tiketnya, kuharap kita dapat bertemu besok di festival kebudayaan. S-selamat tinggal!" Souji segera berlari meninggalkan sang gadis yang tampak kebingungan sekaligus terkejut.

Shirogane Naoto terdiam sejenak ketika ia melihat Souji mulai menghilang dari pandangan. Gadis itu kemudian mengangkat kepalanya dan memandang langit kelam terbentang di atasnya. 'Mungkin aku akan mengetahuinya besok...' batin gadis itu.

Gadis itu memperhatikan salah satu pergelangan tangannya yang tidak membawa apa-apa. Bekas luka goresan itu masih terlihat, walaupun perbannya telah dilepas. Ia menghela napas. "...Aigis-san tidak akan senang jika aku pulang terlalu malam..." gumam gadis itu, kemudian meraih tas biola beserta tas sekolahnya, merapikan alat musik itu dengan menyimpannya dalam tas, kemudian berdiri dan berlari meninggalkan pohon raksasa itu di belakangnya.


"Heh... di sini ya?"

Tatsumi Kanji telah berdiri di sebuah bangunan... atau rumah kecil di balik hutan dekat kota. Daerah rumah itu cukup terpencil dan mungkin tidak banyak dikunjungi orang lain, atau bahkan tidak diketahui keberadaannya. Kanji telah mengunjungi rumah kecil kayu itu pada siang hari. Dilihat dari luar hanya rumah kecil yang angker dan tak berpenghuni, tetapi pemuda itu telah mengetahui bahwa pada malam hari, rumah itu akan terlihat berbeda.

Lampu yang cukup terang terlihat dari dalam rumah, dan tawa para pria menggema dari dalamnya. Mungkin kata 'rumah' kurang bisa menjelaskan, tetapi Tatsumi Kanji tahu bahwa bangunan yang ada di depannya adalah sebuah bar, yang menjual minuman keras, tempat para penjudi, dan tentunya, obat-obatan terlarang.

Pemuda itu melangkahkan kakinya untuk masuk ke bar, yang kemudian segera dihadang orang seorang pria bertubuh kekar, bahkan lebih kekar dari Kanji. Pria itu mengangkat satu tangannya dengan gerakan seperti ingin meminta sesuatu. Kanji mengangkat alisnya.

"Member card? Kami tidak mengijinkan orang asing datang ke tempat kami, tempat ini rahasia," kata pria bertubuh kekar itu. Kanji menyunggingkan senyuman.

Pemuda itu meraih saku celananya dan mengeluarkan sebuah kartu, yang kemudian ditarik sang pria bertubuh kekar itu dengan kasar, memeriksa kartu yang diserahkan Kanji. Selang beberapa detik, sepasang mata pria itu membelalak kaget. Ia kemudian segera menunduk dan mengijinkan Kanji untuk masuk.


Kanji memperhatikan bagian dalam bar itu. Meja judi, bar, botol-botol minuman keras, pil, jarum suntik... obat-obat terlarang... dan sekian banyak pria yang wajahnya merah sedang tertawa-tawa keras... mabuk, sepertinya.

Tanpa banyak memperhatikan sekeliling dan tidak mempedulikan pria-pria itu, Kanji segera melangkah cepat menuju bar. Ia menduduki salah satu kursi kosong yang menghadap meja pemilik bar itu, dan menghela napas. Pemilik bar tersebut, yang adalah seorang pria berusia sekitar 40an tahun dengan kumis pendek menyambut Kanji.

"Lama tidak bertemu, bocah..." ucap pria itu. Kanji mendengus.

"Kau tidak lagi dapat memanggilku 'bocah', Pak Tua..." balas Kanji. Pria di hadapannya hanya tersenyum.

"Kau semakin tidak sopan pada pria yang lebih tua, bocah..." ucap pria itu seraya kedua tangannya sedang membersihkan gelas-gelas. "Apa yang kau inginkan untuk malam ini?"

"Martini... itu saja sudah cukup," jawab Kanji, memijat-mijat satu tangannya yang terbungkus sarung tangan. Pria di hadapannya hanya mengangguk.

"Hei, selamat datang," pria itu tiba-tiba berkata, menarik perhatian Kanji. Pemuda sangar itu segera menolehkan kepalanya ke belakang, dan melihat seorang gadis berjalan ke arahnya... lebih tepatnya, ke kursi di sebelahnya.

Gadis itu duduk, rambut hitam kelam panjangnya menyentuh punggung sang gadis. Sepasang mata itu berwarna selaras dengan rambutnya. Pakaian yang dikenakannya berwarna merah dengan hiasan hitam dan syal merah melingkari lehernya. Gadis itu cantik, Kanji dapat menilai itu. "Bourbon. Beberapa gelas saja..." gadis itu membuka mulutnya dan berkata pada pria di hadapannya.

"Bagaimana dengan 'menu tambahan' yang biasa?" tanya pria itu. Gadis itu terdiam sejenak, kemudian mengangguk.

Ketika pria di hadapannya berjalan menyiapkan pesanan mereka, gadis anggun di samping Kanji kemudian memperhatikan pemuda itu. "Hei... aku tidak pernah melihatmu di sini, kau masih baru? Minor?" tanya gadis itu.

Kanji mengangkat satu alisnya, baru menyadari bahwa gadis itu tengah berbicara padanya. "O-oh... yeah..." jawab Kanji singkat.

"Hmm..." gadis itu hanya bersuara singkat, kemudian kembali memfokuskan perhatiannya pada segelas bourbon yang telah tersedia di atas mejanya. Pria itu memang cukup cepat mengantarkan pesanan. Begitu juga dengan segelas martini yang telah ada di depan Kanji. Kanji melihat sang gadis mengangkat satu tangannya, meraih gelas itu dan meminumnya perlahan.

"...Berapa usiamu?" tanya gadis itu, menolehkan kepalanya pada Kanji.

"Heh... jangan khawatir, 20 tahun." Kanji menjawab singkat. Gadis di sampingnya hanya tertawa kecil.

"21 tahun... itu usiaku. Pertama kali aku mencoba minum arak, cukup satu kali teguk dan aku telah mabuk..." gadis itu tiba-tiba bercerita. Gadis itu kemudian mengeluarkan sebuah bungkusan kecil dari sakunya. Ia membuka bungkusan itu dan menuangkannya ke dalam bourbon.

"...Apa yang kau masukkan ke dalam minumanmu...?" tanya Kanji penasaran. Gadis itu hanya tertawa kecil.

"Jangan khawatir... kau boleh mengatakan aku memasukkan obat terlarang... atau narkoba ke minuman ini. Bukankah obat semacam ini nikmat?" gadis itu menjawab. Kanji dapat melihat wajah gadis itu mulai memerah dan tampaknya... ia telah mabuk... dengan sangat cepat.

"O-obat-obatan? Kau tahu benda itu dapat membunuhmu—"

Sebelum Kanji menyelesaikan kalimatnya, gadis itu meminum bourbon bercampur narkoba dengan cepat.

"Kyahahah~ nikmatnya... hmm..." wajah gadis itu semakin memerah. "Hei~ mana menu tambahannya?" tanya gadis itu yang tampak mulai lunglai.

"Ini dia, Amagi-san," jawab pria tua itu, menyodorkan bungkusan pil... obat-obatan terlarang, Kanji tahu itu.

"Ahah! Terima kasih banyak... You made my day~" gadis itu tampak semakin mabuk setelah ia kembali menelan segelas lagi bourbon (yang telah dicampur narkoba).

"Hei, Tua Bangka! Apa dia—"

"Amagi-san? Tenang saja... gadis itu tidak pernah mengalami masalah kesehatan walaupun ia minum seperti itu. Ia sudah sering berkunjung kemari," jawab pria tua itu.

"Hei, aku kembali dulu ya~ ugh..." gadis itu segera berdiri dari tempat duduknya. Kanji memperhatikan gadis itu dengan sedikit penasaran, sekaligus khawatir. Kanji tiba-tiba dapat mendengar suara ponsel dari saku celana sang gadis. Gadis itu segera mengeluarkan ponselnya, memperhatikan layar tersebut dan menekankannya ke telinga. "Oh... Naoto-chan? Ahaha, tenang saja, aku akan kembali... jangan khawatir~"

Gadis itu dengan cepat segera menutup kembali ponselnya. Suara Kanji terdengar di telinga sang gadis. "Kau memiliki saudara atau keluarga? Mereka seharusnya bersedih mengetahui anggota keluarga mereka datang ke tempat seperti ini."

"Mereka tidak tahu, dan tidak masalah," jawab gadis itu singkat sambil tertawa. Ia kemudian melangkahkan kakinya dan berjalan keluar bar. Langkahnya gontai dan ia masih tampak sedikit mabuk. Kanji memperhatikan kepergian gadis itu.

"...Siapa nama gadis itu?" tanya Kanji penasaran pada pria di hadapannya.

"Amagi Yukiko... dokter yang dipercayakan sang Emperor dan Empress... bukankah negara ini cukup kacau?"


A/N: banyak yang ngaco/aneh/kurang di sini ya? ehm... boleh beritahu yang mana? -diinjek-

Oh yeah, saya lupa terus untuk memberi tahu soal nama" negara dan tempat yang saya pakai... berikut sedikit penjelasan (maksa) dari saya ^^"

Letzvetrie: dari bahasa Jerman Letzte, Vermieter, dan untuk trie berasal dari patria (Itali), artinya kurang lebih ultimate, landlord, homeland

Verstannia: dari Verstand, kurang lebih 'judgment' adalah penjelasan paling mudah -diinjek- atau sedikit lebih tepat adalah mind

Koheitlich: Koniglich (bisa dikatakan royal), Hoheitlich (bisa juga sovereign).

Capell: Capella/Cappella (chapel)

haduh cacad... saya sotoy pula... =_= kira" gitu deh... saya tau ini ga akurat -digampol-

Terima kasih banyak bagi yang telah membaca, special thanks untuk mereka yang menyumbangkan review: NeeNao, Kuroka, toganeshiro-chan, Dark Hayato Arisato, Tetsuwa Shuuhei, heylalaa, Secret Admirer ^^

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang disumbangkan:

untuk Kuroka & Dark Hayato Arisato: WPM tidak dapat berubah atau berevolusi, Hermes tetaplah Hermes, begitu juga dengan WPM yg lain :) untuk bentuk WPM, bentuknya mirip persona mereka (sesuai kepribadian) namun akan ada perubahan untuk WPM" tertentu... dan ga sama persis ^^

untuk toganeshiro-chan: WPM blood code card dapat dipakai berkali-kali... tetapi hanya akan terbuka dengan darah segar dan baru -?- bukan dengan darah yang sudah ditumpahkan ke kartu :D Segel tidak akan terbuka jika darah tersebut telah digunakan sebelumnya untuk diperiksa. Dan yah, bisa dibersihkan (dicuci). Bahan kartunya waterproof kok ^^ -digiling- dan ga akan lecek, bentuknya seperti kotak kaca/plastik tipis.

Seperti biasa, kritik, komentar, saran, pertanyaan dsb dst silahkan sampaikan lewat tombol review di bawah ^^ dan tidak ada tech data untuk chap ini.

Best Regards,

Snow Jou