Disclaimer: Persona 3 & Persona 4 © ATLUS


"ID card?"

"Eh...?" itulah reaksi singkat Souji. Ia telah berdiri di depan gerbang Koheitlich,dan seorang petugas mengulurkan tangannya untuk menerima ID card dari pemuda itu.

"Tiket saja tidak cukup, kau tahu, anak muda?" jawab petugas itu, yang adalah seorang pria berkumis pendek dengan kilatan safir terpancar dari kedua matanya.

"...Err... apakah... ID card benar-benar diperlukan? Setidaknya aku telah menyerahkan tiket..." Souji berusaha mengelak... dan berakhir sia-sia.

"Tidak membawa ID card, tidak boleh masuk. Atau mungkin..." pria itu mulai memicingkan mata safirnya. Souji mulai merasakan tatapan penuh kecurigaan terpancar dari wajah pria tersebut. "...Kurasa aku tidak dapat melepaskanmu tanpa memeriksa dirimu lebih jauh..."

"Ah, tentu saja aku membawanya," jawab Souji terburu-buru dengan penuh keraguan, dan terkesan seperti seorang pencuri amatir yang diinterogasi saat tertangkap basah. Pemuda itu mengeluarkan selembar kartu tipis dari saku celananya, sebuah ID card palsu.

Petugas itu segera menyambar benda tipis tersebut sebelum Souji benar-benar menyerahkannya. Ia kemudian memperhatikan ID card itu sementara satu tangannya yang menggenggam sebuah card scanner terangkat dan membiarkan cahaya kemerahan memeriksa setiap detail kartu tersebut.

Bahan, persis.

Format, persis.

Data, error.

Dan Seta Souji menelan ludah.

Pria itu kembali menatapnya, kali ini tidak dapat dipungkiri lagi, tatapannya bagai seekor singa yang akhirnya berhasil mendapatkan mangsa setelah berhari-hari mencari makanan.

"Apakah ini berarti aku menemukan warna lain dalam kehidupanku yang hitam putih?" ujar pria itu perlahan, kemudian mengangkat pistolnya dan mengarahkan benda itu pada Souji, "Koheitlich terlalu damai..." tambah sang pria.

Souji merasa ia berada dalam situasi terdesak. Ia berada di depan gerbang, dan orang-orang mulai memperhatikan mereka, lebih tepatnya, ke arah Souji dengan tatapan penuh kecurigaan. Ia ketahuan, dan mungkin harus memohon pengampunan dari Kanji nanti. Tapi saat ini ia harus mencari cara untuk lolos. Pemuda itu mulai mendesah perlahan, berkomat-kamit tidak jelas dan berharap ia akan mendengar—

"...Apa yang terjadi di sini?"

—seuntaian suara dewi penyelamat.

"...Naoto-sama?" terdengar suara pria yang baru saja berniat menginterogasinya di depan umum tersebut. Souji ikut menolehkan kepalanya ke arah suara seorang gadis yang baru saja menggetarkan gendang telinganya dengan halus.

Di dekat mereka berdiri seorang gadis yang baru saja melakukan perkenalan singkat dengan Souji kemarin. Ia mengenakan seragam sekolahnya, sama seperti kemarin, sementara sepasang safir berkilau kelabu jernih gadis itu juga masih terkesan sama seperti kemarin: tajam. Shirogane Naoto, Souji masih mengingat namanya.

"ID card palsu, Naoto-sama." Pria itu menginformasikan. Souji kemudian merasakan ketajaman tatapan gadis itu sekarang. Gadis itu memang menolehkan kepala ke arahnya, tetapi sepertinya ia tidak mempertemukan sepasang matanya dengan mata berkilat perak milik pemuda itu. Gadis itu sedikit menurunkan perhatiannya ke bagian bawah Souji.

"...Ijinkan dia masuk..." gadis itu bereaksi singkat.

"Naoto-sama! Dia penyusup, tidak mungkin kami membiarkannya begitu saja!" pria tersebut tampak tidak puas.

"Tidak apa-apa, dia... seorang teman. Mohon anda mempercayakan pemuda itu pada saya." Naoto menjawab sopan. Pria itu mengumpat pelan, kemudian menurunkan pistolnya. Souji memperhatikan Naoto dengan curiga.

Apa gadis ini tidak berhati-hati? Jelas sekali Souji penyusup, dan tidak mungkin gadis itu tidak curiga. Apa gadis ini bodoh? Walaupun dari penampilan luar, ia tampak cerdas...

"Masuklah dan selamat menikmati festival kebudayaan kami, Seta-san." Naoto tersenyum tipis padanya. Souji hanya mengangguk dan masih tampak ragu. Pemuda itu merasa sang gadis merencanakan sesuatu dengan membiarkannya masuk.

O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O

Liebe und Rache

Chapter 4

Holiday Part III: Culture Festival

O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O

Festival kebudayaan Koheitlich ternyata tidak jauh berbeda dengan festival kebudayaan pada umumnya. Stand makanan, pertunjukkan, dan lain-lain. Apa festival ini benar-benar bernilai 100.000 untuk satu orang...?

"Apa kau mengharapkan festival yang 'luar biasa'? Sayangnya tidak, beginilah Koheitlich... tapi mungkin aku dapat merekomendasikan beberapa makanan yang dijual di sini. Mereka yang membuat stand makanan adalah koki-koki muda berbakat yang telah menjuarai kontes dan berbagai perlombaan memasak, minimal tingkat nasional, walaupun sebagian besar dari mereka telah menjuarai kontes tingkat internasional," jelas Naoto panjang lebar ketika mereka sedang berjalan bersama menelusuri jalan berukiran yang mengarah pada gedung di area sekolah.

"Oh... begitu..." Souji bereaksi singkat. Mungkin festival ini tidak buruk juga...

"...Naoto-san, siapa dia?"

Langkah Souji dan Naoto terhenti ketika di hadapan mereka berdiri seorang gadis berbola mata secerah biru laut dengan seragam sekolah yang sama dengan Naoto membungkus tubuhnya. Rambutnya pendek sepanjang leher dan berwarna pirang. Souji dapat melihat sebuah... bando? Atau mungkin sebuah headphone yang agak aneh menghias kepalanya.

"...Ah, Aigis? Ya... dia... em... kami bertemu di depan gerbang," jawab Naoto agak terbata-bata.

"Bertemu di depan gerbang? Apa hanya itu...? Kalau memang ya, kusarankan kau menjauh dari pria tidak jelas ini, Naoto-san," ujar Aigis sambil menatap Souji penuh curiga.

"Kau tidak perlu khawatir, Aigis..." jawab Naoto perlahan.

"Aku tidak tahu siapa kau, tapi kuharap kau menjauh dari Naoto-san." Aigis berbicara pada Souji tanpa mengindahkan jawaban Naoto.

"Oh... kuharap sebelum kau memerintahku begitu saja tanpa menunjukkan bahwa kau memang memiliki hak untuk itu, ada baiknya kau memperkenalkan diri?" Souji membalas agak dingin. Gadis berambut pirang yang dipanggil Aigis tersebut terdiam sejenak.

"Namaku Aigis..." jawabnya pelan.

"...Aigis? Hanya 'Aigis'? Bagaimana dengan nama belakang?" Souji bertanya sementara satu alisnya terangkat.

"Hanya itu dan tidak ada pertanyaan tambahan. Katakan siapa dirimu, dan jelaskan mengapa kau bisa berada di dekat Naoto-san." Aigis berkata penuh rasa ingin tahu.

"Aigis, aku bertemu dengannya kemarin, dan aku sendiri yang mengundang pemuda ini ke festival kita..." sebelum Souji sempat menjawab, Naoto lebih dulu membuka mulutnya, "...dan alasan mengapa aku mengundangnya, tidak lebih dan tidak kurang, adalah karena aku ditugaskan untuk menghabiskan tiket dan membagi-bagikannya untuk orang lain," lanjut sang gadis.

"Namaku Seta Souji," lanjut Souji, kali ini sedikit tersenyum.

"...Itu alasan yang sebenarnya tidak dapat kuterima... aku akan mengawasi pemuda ini, Naoto-san..." Aigis menjawab, sementara ia melemparkan tatapan penuh curiga dan ketidakpercayaan pada pemuda berambut kelabu itu, "...jika kau berani bertindak macam-macam pada Naoto-san, kuharap kau tahu apa akibatnya."

Souji hanya mengangguk seadanya. Mengapa ia begitu dicurigai? Wajar sebenarnya, tapi sepertinya Aigis tampak sedikit overprotektif... siapa gadis berambut biru ini sebenarnya...? Dan Souji merasakan sedikit kejanggalan seketika ia melihat Aigis. Sesuatu yang aneh...

"Naoto-san, sebentar lagi..." suara Aigis membuyarkan lamunan Souji. Gadis berambut biru yang berdiri di sebelah Souji hanya mengangguk perlahan.

"Baiklah, aku pergi dulu, Aigis... dan Seta-san tampak masih baru dengan sekolah kita, bagaimana kalau kau menemaninya?" jawab Naoto sambil menyunggingkan senyuman kecil.

Aigis membalasnya dengan anggukan kecil, dan Naoto segera berlari meninggalkan mereka.

"...'Pergi'? Apa yang akan dilakukan Naoto?" tanya Souji, akhirnya membuka pembicaraan setelah sekian menit mereka terdiam.

"...Music performance..." Aigis menjawab singkat.

"Music... oh..."

"Naoto-san akan memainkan biola, kau ingin mendengarkan juga?" tanya Aigis pada Souji.


"Yo, silahkan mencicipi," ujar salah seorang murid lelaki yang menjaga stand udon. Ia menyodorkan semangkuk kecil udon pada Souji dan Aigis. Mangkuk tersebut hanya sebesar telapak tangan, yang berisi udon beserta kuah yang akan habis hanya dalam satu hingga dua suap. "Kalau kalian ingin mendapatkan lebih banyak, sebaiknya kalian membeli." Murid lelaki tersebut tersenyum.

"Terima kasih banyak, Takeshi-san," jawab Aigis sopan sambil menyunggingkan senyuman, dengan sikap yang sangat berbeda dengan sikapnya pada Souji barusan. Setelah Souji mengucapkan terima kasih juga, mereka segera meraih mangkuk tersebut dari Takeshi.

"Tak kusangka kau akan berjalan dengan lelaki, Aigis-san," kata pemuda bernama Takeshi tersebut. Ekspresi wajah Aigis mendingin.

"Aku harus mengawasi pria ini..." jawab Aigis sambil melirik Souji dengan penuh kecurigaan. Tatapan yang sejak tadi sangat mengganggu kenyamanan Souji.

"'Mengawasi'? Bukankah kau selalu mengawasi Naoto-san?" tanya Takeshi dengan senyuman kecil.

"Tugasku adalah melindungi Naoto-san, tetapi untuk pemuda ini, aku mengawasi karena aku mencurigainya, kurasa kau tahu apa perbedaannya..." jawab Aigis agak dingin. Ia kemudian mulai mengambil sumpit dan mencicipi udon tersebut sedikit.

Souji melakukan hal yang sama, dan tanpa disangkanya, udon tersebut terasa sangat lezat. Souji memperhatikan mangkuknya yang sekarang telah kosong.

"Bagaimana? Kau ingin makan lebih banyak?" Takeshi menawarkan.

"A—bagaimana kau dapat membuat mie seperti ini? Maksudku... banyak yang ingin kutanyakan sebenarnya, mulai dari kuahnya hingga mie. Tapi, bersediakah kau memberitahuku rahasia kekenyalan udon ini? Rasanya sangat pas dan... luar biasa..." Souji mengemukakan pendapatnya dengan kagum. Ia biasa memasak sendiri, dan memang pandai memasak. Karena itu Souji merasa cukup tertarik dengan rahasia masakan yang menarik perhatiannya. Berada di festival ini dapat membantunya memperluas wawasan, Koheitlich dianugerahi murid-murid berbakat, termasuk koki.

"Oh... sayang sekali, resep bisa menjadi salah satu rahasia koki, tapi biar kuberi petunjuk jika kau benar-benar penasaran..." Takeshi terdiam sejenak, "rahasianya adalah kacang kedelai," lanjut pemuda itu.

"...Kacang kedelai? Bagaimana—"

"Seta-san, sudah waktunya... Pertunjukkan musik akan segera dimulai." Suara Aigis memotong perkataan Souji.

"Baiklah... maaf, mungkin aku akan kembali," kata Souji pada Takeshi.

"Kembali untuk makan, ya. Tetapi jika kau masih mengharapkan resep rahasia, sebaiknya urungkan harapanmu itu," komentar Takeshi dengan senyum simpulnya. "...Dan selamat menonton... sebenarnya aku sendiri ingin menonton music performance itu, tetapi Senpai sungguh curang! Dia menempatkanku untuk menjaga stand pada jam tiga sore begini. Pertunjukkan dimulai pukul 15.30, dasar senior licik..." lanjut Takeshi dengan sedih.


Seta Souji nyaris menyesal dengan dirinya yang mudah terlena dengan kenyamanan teritori musuh... tapi ia tidak dapat menyangkal bahwa musik yang didengarnya seakan menghipnotis pemuda itu. Pertama kali dalam hidupnya, Souji mendengar musik yang mengalun seindah ini.

Untaian dan rangkaian setiap nadanya dibimbing oleh ayunan baton sang konduktor yang seakan menyihir. Gesekan violin, viola, cello, dan contra bass seakan saling beradu bagai deburan ombak. Alunan flute dan oboe yang terdengar begitu manis dan menggoda... setiap alat musik dalam orkestra ini terpadu dengan sangat baik. Souji merasa para siren tengah bernyanyi untuk menarik perhatian pemuda itu, dan ia hanyalah manusia biasa yang dapat dengan mudah tertarik dengan nyanyian mereka dan melupakan segalanya... melupakan bahwa mendengar sama dengan kematian... seperti halnya musik ini, menikmati apa yang dimiliki musuh adalah pengkhianatan. Ia terlena dengan Beethoven symphony no 7, yang tengah dipertunjukkan.

Souji dapat melihat Naoto, duduk di barisan kedua posisi first violin, menggesek biolanya dengan penuh konsentrasi dan memusatkan perhatiannya pada ayunan baton sang konduktor.

Segera setelah Beethoven symphony no 7 selesai dimainkan, para penonton berdiri dari tempat duduk mereka dan menghadiahi mereka dengan tepuk tangan riuh. Aigis, yang duduk di samping Souji juga ikut berdiri dan bertepuk tangan, dengan senyuman kebanggaan menghiasi bibirnya. Souji juga akhirnya ikut bangkit dan bertepuk tangan, walaupun ia tidak tersenyum... ia tidak ingin tersenyum, sebenarnya. Memberikan tepuk tangan saja sudah membuatnya merasa berkhianat. Ia dapat melihat Naoto, di antara pemain-pemain first violin yang tengah duduk tersenyum dengan kepuasan di wajah mereka, sedang memetik-metik keempat senar biolanya... mungkin berusaha memperbaiki nada yang masih terdengar fals.

Beethoven symphony no 7 bukanlah musik terakhir yang dipertunjukkan setelah sedikit komposisi Mahler, Rachmaninov dan Bach, tetapi penutupnya adalah The Four Seasons karya Vivaldi.

"Berbeda dengan sebelumnya, The Four Seasons dimainkan dengan string quartet," Aigis menjelaskan, "dua pemain violin, satu viola dan satu cello, dan Naoto-san adalah salah satu pemain violin di antara keempat orang itu... dia telah berlatih sangat keras, aku tahu itu. Kedua belas movement dalam empat musim yang berbeda itu bukan lagu yang mudah... Naoto-san telah berlatih lama sekali untuk menguasai keempat musim itu, sekitar dua tahun penuh untuk memainkannya dengan baik, dan beberapa hari sebelum festival ini ia bahkan berlatih tengah malam..." Aigis bercerita singkat.

"Nao—Shirogane-san telah memainkan biola sejak kecil?" tanya Souji agak penasaran. Aigis terdiam sejenak, kemudian mengangguk.

"Sebenarnya, kemampuan gadis itu hingga saat ini memang lumayan, ia tipe pekerja keras... namun aku mengetahui bahwa musik bukanlah bidang yang sebaiknya diutamakan Naoto-san... aku tahu ia lebih cocok dengan hal-hal yang menguras otak, menyelidiki, science, puzzle, dan ia cukup kreatif dalam menciptakan benda-benda menarik... menciptakan benda didasarkan dalam prinsip-prinsip Fisika... Semua itu dicapainya berdasarkan usaha keras yang digabung dengan bakat dan kecerdasan... tetapi tidak untuk musik, modal gadis itu hanya usaha keras... posisi barisan kedua first violin ini digapainya dengan sangat susah payah, berbeda dengan benih-benih berbakat di Koheitlich yang dengan mudah dapat meraih kualitas seorang concert master di orkestra biasa... tentu saja, orkestra Koheitlich memiliki standar lebih tinggi, selevel internasional," Aigis mulai bercerita panjang lebar, yang berhasil menarik perhatian Souji.

"Kau tampak tahu banyak tentang Shirogane-san... sebenarnya apa hubunganmu dengan Shirogane-san? Teman masa kecil? Atau bahkan saudara...?"

"Tidakkah kau merasa bahwa kau telah bertanya terlalu jauh dan mulai menyangkut privasi, Seta Souji-san?" tanya Aigis tiba-tiba.

"...Kau sendiri yang memulai pembicaraan menyangkut privasi ini..." gumam Souji perlahan, dan sepertinya tidak didengar oleh Aigis. Pemuda itu mulai mendengar alunan musik lagi... Spring, first movement...

Souji memperhatikan panggung, yang sekarang hanya terdiri dari empat kursi. Naoto duduk di antara ketiga murid lainnya, yang semuanya adalah lelaki. Souji baru memperhatikan ini... seragam lelaki memiliki warna sama dengan seragam perempuan, tetapi jas seragam lelaki sedikit lebih panjang dan longgar, disertai celana panjang putih semata kaki. Musik mengalun dengan indah, dan Souji menikmatinya, tetapi ia merasa ada yang terkesan janggal. Pemuda itu menoleh pada Aigis, yang berbeda dengan musik yang dimainkan sebelum-sebelumnya, Aigis tampak sedikit tegang mendengarkan Spring dari Vivaldi ini.

"...Naoto-san belum menguasainya dengan baik..." Aigis berkata pelan. Entah kenapa, Souji ikut merasa khawatir. Beberapa lama kemudian, ketiga movement Spring telah selesai dimainkan. Souji nyaris bertepuk tangan, namun mengurungkan niatnya itu ketika menyadari para penonton masih menunggu Summer. Entah kenapa, walaupun musik tersebut indah, Souji merasa semakin tegang, ia melihat sesuatu yang tidak beres... pada Naoto.

Gadis itu masih tampak berkonsentrasi ketika ia memainkan Summer, tetapi apakah ini hanya perasaan Souji atau bukan... ia merasa gadis itu mulai tampak kelelahan... lebih lelah dibanding pemain lainnya. Ekspresi Aigis juga mulai menjelaskan bahwa sesuatu memang mengganjal.

"...Bukan penguasaan tehnik..." Aigis kembali bergumam, ketika mereka mulai memasuki Autumn. "A-aku punya firasat buruk..." lanjut gadis berambut pirang itu. Souji kembali memperhatikan Naoto, para penonton tampak masih tersenyum, ketiga pemain musik itu masih tampak bersemangat dan berkonsentrasi... tetapi tidak untuk Naoto, permainan gadis itu terdengar kian lemah dan terdengar sedikit kacau.

Winter adalah yang paling buruk. Para penonton bahkan mulai menyadari penurunan kualitas musik yang mereka dengar. Ketiga pemain lainnya mulai sesekali melirik ke arah Naoto ketika mereka hampir menyelesaikan first movement dari Winter. "...Gawat..." Aigis bergumam, gadis itu tampak panik kali ini. Souji mulai tampak kebingungan.

"A-apa yang terjadi...?" bisik Souji perlahan.

"...Tidak... di saat seperti ini..." Aigis semakin bergumam tidak jelas, yang membuat Souji semakin kebingungan. Ia mulai memperhatikan Aigis, yang sedari tadi tampak berkomat-kamit nyaris tanpa suara. "...ini sungguh... bukan saat yang tepat... celaka... dark tech..." gumam gadis itu, dan walaupun hanya sekilas, dua kata terakhir diucapkannya dengan nada monoton... agak terlalu monoton... seperti robot... dan ia merasa tertarik dengan dua kata terakhir itu.

...'dark tech'...?

Souji merasakan sesuatu yang berbeda...

Musik seketika terhenti.

Orang-orang tampak terkejut, beberapa dari mereka berdiri, ketiga pemain musik itu menghentikan permainan mereka dan berdiri dari kursinya.

"NAOTO-SAN!" Aigis berteriak, melompat dari tempat duduknya dan berlari ke arah panggung. Souji melihat biola dan bow milik sang gadis terjatuh dengan bunyi tubrukan pada lantai, dengan Shirogane Naoto telah terjatuh dari kursinya, terbaring dengan wajah pucat pasi dan napas tidak teratur. Gadis itu tidak sadarkan diri.


"Jadi... aku meminta kalian mengantarkan ini pada Mitsuru-sama, obat yang beliau pesan," pinta Amagi Yukiko kepada dua orang penjaga istana.

"Serahkan saja pada kami," jawab salah seorang penjaga itu. Ia dan rekannya kemudian meninggalkan Yukiko sendiri di ruangan putih penuh peralatan dan botol, tabung, mikroskop, serta peralatan kimia dan penelitian lain. Setelah kedua orang itu menghilang dari pandangannya, Yukiko mendesah perlahan. Ia kemudian berjalan ke arah jendela kecil di ruangan itu, membuka segel penutup jendela dengan sebuah tombol, dan memperhatikan dunia luar. Langit tampak mendung dan gerimis siap ditumpahkan.

"...Kuharap semuanya baik-baik saja... Naoto-chan..."


"Hei... tidakkah kau berpikir suatu kehormatan bahkan untuk mengantarkan obat ini secara langsung pada sang Empress Mitsuru-sama?" tanya salah seorang petugas yang baru saja diminta Yukiko untuk mengantarkan sebotol obat cair untuk Mitsuru kepada rekannya.

"Apa kau agak terlalu melebih-lebihkan? Hmph, tapi memang... Emperor dan Empress memiliki posisi sangat penting. Jika sesuatu terjadi pada mereka, atas nama Letzvetrie, aku akan mengorbankan diriku," jawab sang rekan. "Dan jikalau kau berkhianat, rekanku, maka aku juga tidak akan segan-segan menghabisimu, kau tahu? Setiap orang yang berani, akan kuberi pelajaran," sang rekan kemudian mengeluarkan pistolnya, berpura-pura menodongkan benda tersebut ke sekitarnya. Ia kemudian mengarahkan pistol tersebut pada rekannya.

Dan ia tersenyum sejenak, "...seperti ini..."

Pria itu menarik pelatuk, dan peluru yang ditembakkannya berhasil menembus kepala rekannya sendiri, yang segera menjatuhkan botol obat cair tersebut dan menodai karpet mahal di kerajaan itu dengan obat cair tersebut... dan darahnya.

Pria itu tersenyum, kemudian menginjak kepala rekannya yang bersimbah darah dan tak lagi bernyawa. "Kalian sungguh naif, Letzvetrie terdiri dari orang-orang bodoh. Menganggap Akihiko bodoh itu terhormat? Bah. Asal kau tahu, aku hanya memiliki satu tuan, dan ia adalah Arisato Minato, presiden Verstannia. Kau dengar itu, rekanku tercinta?"


"Sir Hanamura! Kau sudah siap?" tanya salah satu petugas dari alat komunikasi. Hanamura Yosuke, yang masih mengenakan headphone miliknya menyunggingkan senyuman penuh semangat.

"Tentu saja! Inilah saat-saat yang kutunggu... waktunya menghadiri pesta kecil di Letzvetrie..." pemuda berambut coklat itu menjawab antusias. "Baiklah, partnerku... Jiraiya, launch!" teriak Yosuke, sementara ia merasakan mesin-mesin dan tombol di sekitarnya mulai menyala setelah tubuhnya di-scan.

WPM raksasa milik pemuda itu bergesekan dengan permukaan tanah, dan tidak lama kemudian terbang menembus langit.


A/N: halo :D

Saya ngerasa ada yang gimanaaa gitu sama chapter ini. Err yaaah, gimana dengan alur? Apa ceritanya terkesan terburu-buru atau alur terlalu cepat? O_o dan tentunya masih banyak kekurangan lain, haha :'D akhir" ini jadwal saya penuh... bikin pusing aja -ditimpuk- oh ya, dan maaf kalo saya banyak nyotoy di chap ini!

Terima kasih bagi yang telah membaca hingga chapter ini! Terima kasih banyak bagi yang telah menyumbangkan reviewnya, special thanks, yaitu: Hayato Arisato Wisel Infinity, Tetsuwa Shuuhei, Kuroka, nao only -from neenao, Deal Fallen, toganeshiro-chan, heylalaa, neraraaa- :D

Maaf, saya belom sempet bales reviewnya, atopun RnR fic" laen, maaf.. Dx saya uplod ini aja udah dikejer" waktu, tapi besok, ato lusa akan saya sempatkan beraktivitas -?- di FFn :) Dan kalo ada PM belom kebales, maaf T_T bener" maaf beribu maaf apalagi saya pikun.. -diinjek-

Ehm, seperti biasa, saya sangat membutuhkan pendapat, komentar, kritik, saran dll dll dari anda sekalian yang membaca fic ini :'D jika berkenan, mind to review?

Well, sampai bertemu di chap selanjutnya! XD

Best Regards,

Snow Jou