Disclaimer: SMT Persona 3 & Persona 4 © ATLUS
Tidak sampai lima menit yang lalu, di atas panggung yang berdiri anggun di hadapan penonton, salah satu musik terindah yang pernah didengar Souji menggema dan merambat hingga ke ujung bangunan megah tersebut. Tetapi sekarang musik itu tidak lagi terdengar, para penonton mulai saling berbicara dan berbisik, dan Souji telah berdiri di atas kedua kakinya. Sepasang mata itu membelalak lebar.
Souji ikut berlari ke arah Naoto yang jatuh pingsan di atas panggung dengan ketiga murid lainnya yang kebingungan. Aigis melompat ke atas panggung dan berlari mendekati Naoto.
"Naoto-san!" Aigis segera menghampiri Naoto yang telah kehilangan kesadaran itu dan memposisikan kepala gadis itu untuk berbaring di atas lututnya. Sepasang mata biru gadis itu memancarkan kekhawatiran dan perasaan panik, sementara ia membiarkan satu tangan putihnya menyapu dahi Naoto, kemudian bagian leher—
...Tidak panas...
Aigis kemudian menekan satu tangannya ke dada gadis berambut biru itu, sementara tangan yang lain mengangkat pergelangan tangan sang gadis dan memeriksanya. Gadis berambut pirang itu memejamkan matanya sejenak.
...Denyut nadi... detak jantung...
"Ternyata memang benar... dark tech..." gumam Aigis perlahan.
"Aigis-san, apa yang terjadi padanya?" terdengar suara Souji di sampingnya. Aigis segera mengangkat kepalanya dan memperhatikan Souji.
"Aku tidak dapat menjamin keselamatannya... tapi... ugh—" Aigis segera melemparkan sorot mata tajam pada ketiga pemain musik lainnya, "Apa yang kalian lakukan sejak tadi? Naoto-san pingsan, sementara kalian hanya terlihat panik dan bertingkah seperti seorang amatir! Panggil petugas kesehatan, sekarang!"
"H-he? Ba-baik, Aigis-san!" jawab salah satu murid tersebut. Sebelum ia berlari untuk memanggil petugas, suara Souji menghentikan gerakannya.
"Aku khawatir tidak akan sempat, Aigis-san," Souji menyuarakan pendapatnya, "katakan padaku di mana tempat yang tepat untuk membawanya, aku akan membantumu!"
Mendengar perkataan Souji, Aigis terdiam sejenak. Ia memperhatikan Souji dengan penuh keraguan. Ia kemudian menggelengkan kepalanya perlahan.
"Untuk saat ini saja, aku mempercayaimu... jadi tolong..." Aigis segera berdiri, ia menatap Souji lebih dalam, "Akan kuarahkan kau ke ruang kesehatan."
Souji mengangguk, ia kemudian berlutut di depan Naoto yang pucat pasi, kemudian menyelipkan satu lengan di bawah lutut gadis itu, dan lengan lainnya di belakang punggung, mencengkeram lengan atas Naoto dan mulai mengangkat tubuh lemas itu dengan hati-hati.
Tubuh gadis itu sama sekali tidak berat... ringan, bahkan. Tetapi ini sama sekali bukan saat yang tepat untuk memikirkan itu.
Liebe und Rache
Chapter 5
Bloody Party Part I: Little Trick
"Pengkhia—nat... urgh!"
Suara penjaga itu tercekat, seketika sebuah pisau menusuk lambungnya. Seorang penjaga lain, yang baru saja menusuk lambung rekannya dengan senyuman licik tersungging di bibir keringnya, memperhatikan rekannya yang telah terjatuh ke tanah. Ia kemudian mengeluarkan pistolnya dan mengarahkan benda tersebut ke kepala rekannya yang masih sedikit bergerak-gerak.
Dan ia menarik pelatuk.
"...Bertahun-tahun menyamar menjadi prajurit kepercayaan Letzvetrie memang menyebalkan," penjaga itu tersenyum setelah ia memastikan rekannya telah mati, "tetapi, pesta kecil akan segera dimulai," lanjutnya. Kemudian, di sekitarnya datang beberapa orang berseragam sama dengannya. Mereka semua tersenyum.
"Minato-sama menyatakan sudah waktunya kita bergerak," kata salah satu penjaga, yang segera dibalas dengan anggukan dari rekan-rekannya.
"Cepat, Seta-san!" Aigis berteriak sementara mereka berlari menelusuri koridor dalam gedung sekolah.
"Aku sudah berlari secepat yang kubisa, Aigis-san," jawab Souji yang masih mencengkeram Naoto dalam dekapannya. Souji sempat memperhatikan bagian dalam gedung sekolah. Nuansanya mewah, didominasi warna putih, dan memberikan kesan anggun. Sederetan pintu ruangan telah mereka lalui.
Namun daripada itu, kecurigaan Souji semakin tumbuh ketika ia melihat cara Aigis berlari. Agak berbeda dengan biasanya orang berlari... tubuhnya dicondongkan ke depan, kedua lengan mengarah ke belakang...
...Gaya yang agak aneh...
"Kita sampai..." suara Aigis menghentikan langkah Souji. Pemuda itu mengangkat kepalanya dan melihat sebuah pintu ruangan putih di hadapannya. Satu hal yang menguntungkan: mereka tidak perlu menaiki anak tangga demi anak tangga yang di mata Souji, cukup tinggi itu. Ruang kesehatan terletak di lantai pertama.
Aigis segera membuka pintu geser tersebut, dan membiarkan Souji memperhatikan bagian dalam. Sebuah meja warna coklat gelap, beberapa ranjang yang ditutup tirai, dan sederetan lemari kaca berisi obat-obatan; obat cair, jarum suntik, tablet, pil dan lain sebagainya.
"Tidak ada dokter di dalam... di saat seperti ini..." Aigis bersuara singkat. Souji segera melangkah cepat menuju salah satu ranjang, mendudukkan gadis itu dan melepas sepatunya, kemudian membaringkan Naoto di atas ranjang dengan hati-hati. Mungkin hanya perasaan Souji atau bukan, tetapi ia melihat wajah gadis berambut biru itu semakin memucat. Pemuda itu menoleh kepada Aigis yang sedari tadi masih memperhatikan Naoto, tanpa melakukan apa-apa. Ia tampak cemas.
"Apa yang harus kita lakukan selanjutnya, Ai—"
"Agh...!" suara Souji terpotong oleh suara singkat dari Naoto yang terdengar kesakitan. Souji kembali mengalihkan perhatiannya pada Naoto. Gadis itu memejamkan matanya dan tampak menahan sakit, tangan kirinya mencengkeram dada, sementara tangan lainnya mencengkeram untaian halus selimut ranjang itu. Napasnya kembali tidak teratur. Souji tampak kebingungan. Apa yang harus dilakukannya...?
"Keluar, Seta-san..." suara Aigis terdengar di belakangnya. Souji menoleh pada Aigis, dan mendapati gadis pirang itu menatapnya tenang... namun tegas dan tajam.
"Keluar...? Kenapa? Kalau ada yang bisa kubantu—"
"Keluar! Mohon kau keluar sekarang, Seta-san, aku akan mengijinkanmu masuk nanti... cepat keluar!" Aigis tampak sedikit kehilangan kesabaran. Souji semakin kebingungan, namun ia memutuskan untuk menyimpan berlimpah-limpah pertanyaan dalam otaknya itu dan berjalan menjauhi ranjang. Pemuda itu menolehkan kepalanya sekali lagi ke arah kedua gadis itu, kemudian meninggalkan mereka dan melangkah keluar ruangan. Dan Souji menutup pintu ruangan kesehatan itu agak keras... di luar kehendaknya.
Pemuda itu terdiam sejenak... mempertanyakan sesuatu pada dirinya sendiri.
...Mengapa ia membantu mereka? Bukankah mereka musuh? Apa yang membuatnya...?
Souji menggelengkan kepalanya. Wajar jika ia membantu mereka, ada kecelakaan yang terjadi begitu dekat dengannya, dan bukan dirinya jika ia membiarkannya begitu saja...
Tetapi walaupun hanya sekilas dan tanpa pengakuan terang-terangan dari pemuda itu, Souji sempat merasa bahwa ia nyaris menjadi bagian dari Letzvetrie... dan bukan UFoND.
"Akihiko-sama, terjadi kekacauan di luar kerajaan. Beberapa prajurit diduga berkhianat, dan tidak salah lagi, mereka adalah prajurit Verstannia..." seorang panglima perang, yang adalah seorang pria berusia paruh baya dengan tatapan tenang dan terkesan gagah dengan jubah putih berhias emas dan dasi keemasan menyampaikan pesannya pada sang Emperor. Panglima perang tersebut adalah lelaki yang terkesan tidak akan pernah panik oleh maut dan kengerian seperti apapun juga.
Sanada Akihiko, Emperor muda berusia 27 tahun, dengan jubah putih keemasan membungkus jas bagian belakangnya, hanya menutup kedua matanya dan menyunggingkan senyuman. "Mereka bermain-main dengan kita..." gumam pria itu.
"Sepertinya demikian..." jawab suara anggun seorang wanita berambut merah gelap. Akihiko menolehkan kepalanya pada wanita itu, dan mempertemukan kedua matanya pada sepasang bola mata yang bersinar penuh keanggunan dari wanita itu. "...Tetapi kita tidak tahu alasannya, Akihiko. Ini bisa menjadi perangkap..." lanjut wanita itu.
"...Mungkin saja..." balas Akihiko singkat. "Kupikir ini bukan sesuatu yang sulit, mereka sepertinya tidak serius. Bagaimana kalau kau membersihkan mereka? Aku percaya kalian sama sekali tidak membutuhkan uluran tangan dari royal family of Letzvetrie, benar?" pria berambut keabuan cerah itu berkata pada panglima perang di hadapannya.
"Sama sekali tidak, my lord... Kami tidak akan mengecewakan kalian," balas panglima tersebut, dan ia berjalan meninggalkan mereka berdua.
Tidak lama setelah Souji meninggalkan Aigis berdua dengan Naoto di ruang kesehatan itu, Aigis berjalan dengan tenang ke arah gadis yang tampak kesakitan tersebut. Tatapannya tenang, sangat kontras dengan ekspresinya ketika ia melihat Naoto jatuh pingsan. Gadis itu kemudian duduk di atas kursi dekat tempat tidur gadis itu, dan ia mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan transparan dari saku jaket sekolahnya. Gadis itu membuka laci yang terletak di dekat tempat tidur itu, yang dihiasi dengan vas bunga yang tidak berisi, dan ia meraih sebuah jarum suntik dari laci tersebut.
"...Kau terlalu memaksakan diri... Naoto-san..." gumam gadis itu pelan. Ia memasukkan cairan transparan itu ke dalam jarum suntik, kemudian mulai meraih kancing jaket sekolah Naoto dan melepas jaket tersebut dari tubuh gadis itu. Kemudian, Aigis meraih satu lengan Naoto dan menggulung lengan kemejanya ke atas hingga sedikit di atas siku, dan gadis itu menusukkan ujung jarum suntik itu perlahan di lengan Naoto. Aigis melakukannya dengan sangat hati-hati, kemudian menarik jarumnya kembali (syukurlah Yukiko telah mengajarkan bagaimana menggunakan jarum suntik pada Aigis).
Seketika, napas gadis itu mulai teratur, tetapi ia masih menutup matanya... tampaknya masih belum sadar. Dengan cepat keadaannya telah membaik. Aigis menghela napas lega. "Syukurlah..." gumam gadis itu, mengelus lembut wajah Naoto yang mulai terpulihkan kembali warnanya dan tidak lagi tampak sepucat sebelumnya. Aigis tersenyum, lalu menyimpan kembali botol cairan transparan itu ke dalam saku jaket sekolahnya, kemudian menarik selimut ranjang untuk menutupi tubuh Naoto hingga ke atas dada. Aigis berdiri dari kursi dan meletakkan jaket sekolah Naoto di atas kursi tersebut, kemudian gadis pirang itu berjalan mendekati wastafel dekat meja dan mulai menyalakan keran, membiarkan air jernih itu mencuci setiap sisa obat dalam jarum suntik.
Seusai mencucinya, ia segera meletakkan jarum tersebut ke laci, dan berjalan ke pintu ruang kesehatan. Ketika ia membuka pintu, ia melihat Seta Souji telah berdiri di hadapannya, menyandarkan tubuh pada dinding koridor tepat di depan pintu ruang kesehatan. Pemuda itu mengangkat satu alisnya.
"Bagaimana?" tanya pemuda itu dengan satu kata singkat, tetapi mengandung berlipat kali ganda makna.
"Kau boleh masuk... dan tidak ada lagi yang perlu kau lakukan, Seta-san. Ia sudah membaik," jawab Aigis sambil tersenyum lega. Pertama kalinya Souji melihat Aigis tersenyum padanya seperti itu.
"Oh..." pemuda itu menjawab singkat. Tentu saja, ia mungkin tidak sebahagia Aigis. Naoto tidak berarti apa-apa baginya... bukan? Pemuda itu kemudian berdiri tegak dan berjalan melewati Aigis memasuki ruang kesehatan, diikuti Aigis dari belakang. Ia melihat Naoto telah tertidur cukup pulas di atas ranjang, dan sedikit membuat pemuda itu bertanya-tanya. Apa yang dilakukan Aigis pada Naoto hingga gadis di hadapannya dapat pulih secepat itu?
Mereka memperhatikan Naoto yang telah tertidur itu sejenak, kemudian Souji menolehkan kepalanya ke arah jendela yang ditutupi gorden keemasan dekat ranjang Naoto. Ia berjalan ke arah jendela dan menyibak gorden tersebut. Hari telah gelap, awan-awan hitam menari di atas langit, bulan memamerkan pesonanya samar-samar, tetapi Souji masih dapat mendengar keramaian festival kebudayaan Koheitlich.
"Festival Koheitlich berlangsung hingga subuh..." suara Aigis terdengar dari belakangnya. Souji hanya terdiam tanpa merespon perkataan Aigis. Tetapi akhirnya ia membuka mulutnya.
'Begitu?' adalah reaksi singkat pemuda itu. Hening membungkus udara di sekitar mereka, keheningan yang mirip ketika Souji bertemu dengan Naoto kemarin. Sama seperti kemarin, akhirnya Souji membuka mulutnya untuk menyampaikan satu dari sekian banyak pertanyaan dari otaknya.
"Shirogane-san... apa dia sering jatuh pingsan seperti itu?" tanya Souji pelan. Aigis tidak langsung menjawab, tetapi akhirnya ia membuka mulutnya.
"...Ya..." jawabnya jujur. "...Karena itu aku tahu cara menanganinya," lanjut gadis itu. Souji terdiam lagi.
"Apa tubuhnya lemah? Ia sering sakit?" tanya Souji lagi. Untuk pertanyaan kali ini, ada jeda beberapa saat. Ia melirik ke arah Aigis tanpa menolehkan kepalanya, dan mendapati Aigis tampak sedikit berpikir.
"Benar... tubuhnya lemah," jawab Aigis. Souji merasakan sedikit keraguan. Apa Aigis berbohong? Sebelum Souji membuka mulutnya lagi untuk menyampaikan pertanyaan ketiga, ia melihat Aigis mulai melipat kedua lengannya di depan dada dan terlihat kurang nyaman. Pandangan matanya teralih ke lantai, dan ia tampak cemas.
"...Aku merasakan sesuatu... yang ganjil..." Aigis tiba-tiba berkata, "perasaanku tidak enak..." lanjut gadis itu. Souji menolehkan kepala pada gadis itu.
"Apa maksudmu...?" tanya Souji pelan. Aigis terdiam sejenak, ia tidak menjawab apa-apa, tetapi ekspresinya menunjukkan ia semakin khawatir. Setelah beberapa detik, terdengar derap langkah kaki tergesa seseorang yang semakin lama semakin terdengar jelas. Souji mengalihkan pandangannya ke pintu ruang kesehatan, begitu juga dengan Aigis.
Pintu ruang kesehatan tersebut terbuka dari luar, memperlihatkan seorang gadis yang tampak terengah-engah. Rambut coklat gadis itu tampak sedikit melingkar ke samping menuruni lehernya yang dilingkari choker. Gadis itu terbalut seragam sekolah Koheitlich, tetapi yang membedakan adalah jaket bergaris vertikal berwarna merah muda yang membungkus bagian atas tubuhnya. Aigis tampaknya langsung mengenali gadis itu.
"Yukari-san, ada apa?" tanya Aigis pada gadis itu, yang masih sedikit berusaha mengatur napasnya.
"Aigis, aku mencarimu sedari tadi! Aku membutuhkan bantuanmu. Ini darurat! Hanya kau saja, ikut aku!" Yukari berkata di sela-sela napasnya. Aigis terdiam sejenak, ia kemudian memperhatikan Souji sekilas, lalu mengalihkan kembali perhatiannya pada gadis yang dipanggil Yukari tersebut.
"...Aku... tidak bisa meninggalkan ruangan ini..." Aigis menjawab sambil sedikit mengalihkan pandangannya ke bawah.
"Aigis, ini darurat, mengertilah!" Yukari tampak memaksa. Aigis semakin ragu.
"Aku... tidak bisa meninggalkan pria mencurigakan ini berdua saja dengan Naoto-san—"
"Kumohon, Aigis!" Yukari memotong perkataan Aigis.
"Pergilah..." suara Souji tiba-tiba terdengar. Aigis mengalihkan pandangannya ke belakang, tatapannya sangat menunjukkan ia benar-benar curiga.
"Saranmu itu membuatku semakin tidak mempercayaimu, Seta-san..." Aigis menjawab dingin. Ia kembali mengalihkan perhatiannya pada Yukari, "Katakan padaku hal apa yang darurat itu."
"A-aku tidak bisa mengatakannya jika ada pria ini...! Dan tidak ada waktu lagi," Yukari langsung berjalan mendekati Aigis dan menarik tangannya.
"Ta-tapi, Yukari-san...! Uh..." Aigis menolehkan kepalanya pada Souji yang tersenyum tipis. Aigis dapat melihat senyuman Souji tampaknya tidak menyembunyikan apapun... senyum palsu... atau...?
Sementara Yukari menariknya, Aigis membuka mulutnya cepat, "Jika kau melakukan sesuatu pada Naoto-san... kau akan tahu apa akibatnya, Seta-san..." ucapnya dengan nada mengancam, "...dan... tolong jaga dia..."
Itulah pesan terakhir Aigis sebelum ia dan Yukari meninggalkan ruang kesehatan itu, pesan yang agak kurang disangka oleh Souji.
Sekarang, hanya Seta Souji yang sedang berdiri dengan berbagai pikiran-pikiran masih menghantui otaknya, dan Shirogane Naoto yang terbaring tidak sadarkan diri di atas ranjang. Souji kemudian berjalan ke samping ranjang Naoto dan meraih jaket sekolah gadis itu. Ia duduk di atas kursi dan meletakkan jaket sekolah tersebut ke pangkuannya. Pemuda itu memperhatikan Naoto.
Semakin lama Souji memperhatikannya, rasanya Souji semakin merasakan sesuatu yang familiar dalam diri gadis itu, tetapi Souji tidak mengetahui apa itu. Selang beberapa lama, ia mendengar suara lemah dari gadis itu, dan tubuhnya yang sedikit bergerak dari ranjang.
Gadis berambut biru itu perlahan-lahan membuka kedua bola mata safir berkilau kelabu jernihnya, memperhatikan langit-langit ruangan putih itu. Ia sekilas menutup kedua matanya lagi karena silau dari lampu ruangan tersebut, mengedipkan kedua matanya berkali-kali, dan mulai memperhatikan sekelilingnya.
Seta Souji tidak mengatakan apa-apa, atau bergerak dari kursinya hingga Naoto menyadari keberadaan pemuda itu di sampingnya.
"...Seta...san?" Naoto bertanya. Souji hanya mengangguk perlahan.
"...Aigis... di mana Aigis...?" gadis itu bertanya lagi, suaranya masih terdengar lemah.
"Ada sedikit urusan, jadi dia tidak bisa menemanimu di sini..." Souji menjawab. Ia melihat gadis itu kembali mengalihkan perhatiannya pada langit-langit ruangan. Gadis itu memejamkan matanya sebentar, kemudian membukanya lagi dan mulai berusaha memposisikan dirinya untuk duduk. Souji hanya tampak mematung sejenak, kemudian akhirnya meraih satu lengan gadis itu, yang terbungkus lengan kemeja tergulung ke atas sikunya dan membantunya duduk di atas ranjang.
Ketika gadis itu duduk, ia baru menyadari ada sesuatu yang hilang. "Ja-jaket sekolahku...?" tanya gadis itu, yang langsung melingkarkan kedua lengannya di sekitar kemeja putih yang dikenakannya. Dengan senyuman tipis, Souji mengangkat jaket sekolah itu dan menyerahkannya pada Naoto.
"Percayalah, bukan aku yang melepasnya. Sepertinya Aigis-san yang melakukannya. Jangan berpikir macam-macam..." jawab Souji, tanpa menyadari sedikit rona merah di wajahnya. Naoto segera menyambar jaket sekolah itu dari tangan Souji. Ia mengenakan jaket itu setelah memperbaiki kembali posisi lengan kemejanya yang tergulung.
"...Apa maksudmu dengan 'macam-macam'?" tanya gadis itu polos. Souji menghela napas.
"Lupakan saja..." jawab pemuda itu sedikit lega. Naoto terdiam sejenak.
"...Apa kau... ada bersama dengan Aigis ketika ia melepas jaketku ini?" tanya gadis itu pelan. Souji mengangkat satu alisnya.
"Tidak... Aigis-san menyuruhku keluar ruangan," jawab Souji jujur. Naoto hanya mengangguk, tetapi tidak memberikan respon lain. Gadis itu mengalihkan pandangannya ke jendela.
"...Sudah gelap..." ia berkata pelan. "Aku harus meminta maaf pada Senpai nanti... karena telah mengacaukan pertunjukkan musik... aku tahu kalau—musik bukan tempat dimana aku seharusnya berada..." gadis itu tiba-tiba berkata, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Souji.
"Musik yang kau mainkan indah... lagipula, setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan, bukan?" Souji mencoba menghiburnya, dan tidak mengetahui mengapa ia menghiburnya.
Gadis itu lagi-lagi tidak merespon perkataan Souji. Ia hanya terdiam, dan tidak mengatakan apa-apa lagi. Namun setelah beberapa lama mereka dibungkus keheningan, Naoto akhirnya membuka mulutnya, "Kembang api..."
"Eh?"
"Kembang api... dan bukan kembang api hologram seperti yang sering kau lihat di tempat-tempat biasa. Koheitlich masih terdiri dari murid-murid yang menghargai budaya masa lampau... beberapa dari mereka adalah pengrajin kembang api. Kuharap kau akan menyukainya..." Naoto menyunggingkan senyuman tipis.
Souji balas tersenyum, "Dengan senang hati aku akan menontonnya," jawab pemuda itu. Ia kemudian melihat Naoto mencoba berdiri. "Hei... apa kau bisa berdiri? Jangan memaksakan diri..."
"Aku tidak apa-apa," gadis itu menjawab. Gadis itu menurunkan satu kakinya ke lantai ruang kesehatan yang dingin, kemudian kaki lainnya. Ia mencoba berjalan, namun di langkah kedua, Souji melihat gadis itu tersandung kakinya sendiri dan nyaris terjatuh, kalau saja Souji tidak langsung berdiri dan menangkap satu lengan gadis itu dengan tangannya dan menyelipkan lengan lainnya di pinggang sang gadis.
Sekilas, wajah Naoto tampak merah padam, seketika ia menyadari betapa dekat dirinya dengan tubuh Souji di belakangnya. Ia kemudian segera melepaskan pegangan Souji dan menunduk perlahan. Kedua tangannya disembunyikan di belakang punggungnya, sementara wajahnya masih sedikit memerah. "Terima kasih..." gadis itu berkata pelan dan agak sedikit terburu-buru.
"Anytime..." jawab Souji sambil menyunggingkan senyuman. Gadis itu tidak balas tersenyum, ia mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Se-sebentar lagi... kembang api akan diluncurkan, pergilah..." gadis itu tiba-tiba berbicara.
"Em... kurasa aku tidak dapat meninggalkanmu sendiri." Souji berkata. Namun, perkataan Souji sepertinya membuat gadis itu tampak sedikit kesal.
"Aku bisa mengurus diriku sendiri... pergilah, aku tidak apa-apa. Jangan takut Aigis akan marah padamu—"
"Dia meminta padaku untuk menjagamu." Souji memotong perkataan Naoto. Gadis itu kembali memandang Souji... tatapan yang sangat tajam... selalu tajam, mungkin.
"Aku tidak apa-apa... jangan sampai kau tidak menikmati festival kebudayaan ini hanya gara-gara hal sepele seperti menjagaku atau apapun... tapi aku berterima kasih atas kebaikanmu... pergilah." Itulah kata-kata terakhir dari Naoto dan Souji memiliki firasat gadis itu tidak menerima 'tidak' sebagai jawaban. Souji hanya mengangguk, kemudian berjalan meninggalkan Naoto sendiri di ruangan itu. Sepertinya ia telah memilih jalan bijak... karena Souji telah melihat sebuah revolver menggantung di balik jaket sekolahnya, sesaat ketika ia meraih jaket itu dari atas kursi tadi.
"Yukari...san...?"
Aigis bersuara pelan. Yukari menodongkan pistol ke arahnya, dan ia dapat melihat beberapa murid lain yang juga membawa pistol dan beberapa senjata tajam.
"Kau android yang menyebalkan, Aigis..." Yukari bersuara, dengan sedikit senyuman menghiasi bibirnya.
"Jadi begitu... memilih festival kebudayaan untuk memeriahkan pesta pembebasan kalian, Verstannia?" Aigis bertanya perlahan, tatapan matanya tetap tenang, dan sedikit sedih.
"Aku menikmati hari-hari kita menjadi sahabat, Aigis... tapi jika harus memilih sahabat atau negara... aku memilih negara," jawab Yukari, masih menodongkan pistolnya pada Aigis.
"Begitu juga dengan diriku..." Aigis tiba-tiba mengarahkan kedua tangannya ke depan, dan jari-jari tangannya mulai terbuka... sama sekali bukan jari tangan manusia. Aigis adalah android, dan Seta Souji memang sudah memiliki dugaan itu.
"...Apa kau tidak khawatir dengan Naoto-san? Akan kuberitahu sedikit rahasia, Aigis..." Yukari menurunkan pistolnya sekarang, sementara Aigis masih mengarahkan kedua lengannya lurus ke arah Yukari. "...Di dalam gedung itu ada sesuatu yang akan menjadi klimaks..."
Kedua mata Aigis membelalak lebar. Ia kembali teringat pada sensasi kurang mengenakkan yang ia rasakan ketika ia dan Souji berdiri di dalam ruang kesehatan. "Jadi begitu...? Naoto-san..." Aigis tampak sedikit panik sekarang, ia membalikkan tubuhnya, berniat meninggalkan Yukari, namun murid-murid lain yang adalah rekan-rekan Yukari menghalangi jalannya dan menodongkan senjata mereka masing-masing pada Aigis.
"Kau kira aku akan membiarkanmu begitu saja, Aigis? Tenanglah, kau masih memiliki waktu... tapi kami akan mengusahakan agar waktu itu segera habis sebelum kau sempat menyelamatkannya... jadilah anak baik dan lihat apakah 'sang putri' mengambil tindakan penyelamatan diri..."
Sulit mendeskripsikan apa yang dilihat Seta Souji malam itu. Segalanya terasa begitu nyata, sangat berbeda dengan kembang api hologram yang biasa dilihatnya. Bunga-bunga api berwarna-warni menari di langit, seakan ingin merebut tahta bintang untuk menerangi dan menghias langit kelam. Souji sulit melepaskan pandangannya dari langit. Kembang api yang keindahannya begitu luar biasa... dan semakin membuatnya merasa seperti ia berada di 'rumah'.
Di sela-sela kenikmatan pemandangan di hadapannya, Souji baru teringat dengan ponselnya. Sedari tadi ia mematikan ponselnya karena tidak diperbolehkan untuk menyalakan ponsel di gedung pertunjukkan musik barusan. Ia segera mengeluarkan ponsel tersebut dari saku celana kirinya dan menyalakannya, kaget ketika mendapati bahwa ia telah menerima dua belas miss call yang semuanya berasal dari nomor yang sama... nomor milik Tatsumi Kanji.
Ponselnya kembali bergetar dan berbunyi, dan Souji melihat nama Tatsumi Kanji terpampang pada layar. Ia segera menekan satu tombol dan menekankannya ke telinga... dan tindakannya cukup salah.
"HEI! BERAPA KALI AKU HARUS MENGHUBUNGIMU, HAH? PONSELMU TIDAK AKTIF!" Kanji berteriak keras dan Souji merasa teriakan Kanji mungkin menyaingi bunyi ledakan bom yang pernah ia dengar di masa kecilnya, pemuda itu segera menjauhkan ponsel tersebut dari telinganya.
"Ma-maaf, Kanji-san..." Souji menjawab kaku.
"Cih, di mana kau sekarang?" volum suara Kanji mengecil... hal yang bagus.
"Koheitlich High, festival kebudayaan..." Souji menjawab.
"Koheitlich... oh... kebetulan yang luar biasa... tetap di sana, di situlah target utama 'mereka'," ucap Kanji lewat ponsel. Souji tampak bingung.
"'Mereka'?"
"Penyerangan di kerajaan hanya pengecoh... Seta Souji, bersiap untuk pertarungan, sekarang! Shinjiro-san telah mengirimkan bala bantuan untuk kita, mereka akan datang nanti... walaupun aku masih belum tahu siapa yang dia kirim. Jangan tinggalkan tempat itu, sampai nanti."
"Tunggu, apa maksudnya—Kanji-san?"
Souji tidak sempat menyuarakan pertanyaannya. Kanji telah memutus hubungan. Pemuda itu menghela napas. Bersiap untuk pertarungan? Apa akan ada sesuatu yang terjadi...?
Souji berpikir daripada terus memikirkan hal itu, sebaiknya ia menuruti perkataan Kanji. Ia segera berlari meninggalkan sekerumunan orang-orang yang masih menikmati pemandangan kembang api di langit, dan ia merogoh sakunya, mencari-cari sesuatu.
Namun pemuda itu tidak dapat menemukannya.
Souji tampak kebingungan. Langkahnya terhenti, kepalanya tertunduk ke arah saku celananya, mencoba merogohnya kembali, kemudian ia memeriksa jaketnya... namun nihil. Ia tidak dapat menemukan apa yang dicarinya.
Bagaimana mungkin...? Apa benda itu jatuh? Ia sangat membutuhkan benda itu sekarang...! Tidak mungkin ia membiarkan kecerobohan yang konyol merusak segalanya. Pemuda itu kembali memeriksa saku celananya, kemudian melepaskan jaketnya dan tangannya terus meraba-raba apa yang bisa ia temukan. Tetapi ia tidak dapat menemukan benda itu.
"...WCM key card milikku... hilang..." Seta Souji bergumam. Keringat dingin sedikit membasahi wajahnya.
"WCM type... SS0021... Seta Souji... UFoND..."
Shirogane Naoto membaca kartu tipis yang keras itu perlahan. "UFoND... aku tidak pernah mendengar organisasi semacam itu, apa mereka semacam organisasi rahasia Verstannia? Atau yang lain...?" gadis itu berbicara sendiri. Ia sekarang duduk di atas ranjang ruang kesehatan itu, memperhatikan WCM key card yang baru saja diam-diam dia curi dari saku celana pemuda berambut abu-abu yang tidak lain adalah Seta Souji.
Ia telah melihat benda itu mencuat dari saku celana Souji siang tadi, ketika Souji nyaris tertangkap karena ID card palsu miliknya. Naoto terus memperhatikan benda itu.
"Type SS0021... sepertinya aku bisa mengemudikannya..." gadis itu berbicara pelan. Ia kemudian melangkahkan kakinya berjalan keluar ruang kesehatan. Namun seketika ia berjalan keluar, gadis itu tersentak kaget ketika satu tangan yang kasar dan kuat membungkam mulutnya dari belakang, sementara tangan lainnya mencengkeram tubuh kecilnya.
"Hmph...!"
Gadis itu tidak lagi mencoba bersuara, ketika sebuah pistol diarahkan tepat di samping kepalanya. Dua orang...?
"Jika anda ingin diberi lebih banyak waktu sebelum menemui ajal, sebaiknya anda jangan memberontak ataupun bersuara, Naoto-'sama'..." ujar suara yang familiar di telinga Naoto, sedikit menekan kata 'sama' yang dapat berarti penghormatan tersebut. Gadis itu hanya terdiam, menuruti perkataan orang tersebut. "Gadis pintar..." lanjut orang itu, kemudian menjatuhkan Naoto dengan kasar dan menekan tubuhnya ke lantai. Pistolnya masih diarahkan ke kepala gadis itu, sementara seorang lagi mulai mengikat kedua pergelangan tangan Naoto ke belakang dengan seutas tali.
WCM key card milik Seta Souji terjatuh di atas lantai dekat gadis itu.
"Tak kusangka semuanya akan bergerak secepat ini..." keluh seorang gadis berambut coklat susu. Bola matanya yang selaras dengan rambutnya terus memperhatikan dunia luar di balik kamera. Langit sangat gelap dan hujan menikam permukaan laut. Ia duduk di sebuah mesin raksasa, WPM, yang tengah melaju sementara gadis itu sibuk mengunyah-ngunyah daging panggang tusuk yang dibawanya. "...Ah... hwadha pweshan... (ada pesan)," ujar gadis itu, yang masih sibuk mengunyah. Ia menekan sebuah tombol, dan ia melihat pada layar yang memperlihatkan dunia luar tersebut muncul wajah rekannya di kotak kecil di pinggir kanan bawah layar: Iori Junpei.
"Yo, Chie! Aku di sebelahmu!" sapa Junpei tampak bersemangat. "...Oh man! Di saat seperti ini kau sempat-sempatnya makan!"
"Yo, Junpei," jawab Chie, setelah ia berhasil menelan daging tersebut dan menyalurkan makanan itu ke dalam tubuhnya yang tampak cukup kurus, padahal porsi makannya mengerikan. Ia kemudian memperhatikan layar besar di hadapannya dan dapat melihat Hermes terbang melaju di dekatnya. Hujan masih menghantam WPM raksasa itu. "Cuaca sungguh buruk, eh?"
"Beginilah Letzvetrie..." jawab Junpei. "Lihatlah laut yang diterpa hujan—badai, mungkin... di bawah kita ini. Aku merasa kita benar-benar tidak disambut oleh sang samudra Letzvetrie..."
A/N: Hello! :D
Saya berhasil apdet dalam seminggu, yey! XDD -ga penting banget- tapi lagi" buru"... haduh =_=
Baiklah... kekurangan? kekurangan? pasti banyaaaakk... duh, apalagi pengulangan kata, ga usah ditanya, pasti banyak banget ya ya ya? -diinjek-
Terima kasih untuk pembaca, dan special thanks untuk reviewer: NeeNao, Kuroka, Hayato Arisato Wisel Infinity, Aquadark Leaf, toganeshiro-chan :D terima kasih banyaak~ kalo ada review belom dibales, saya akan bales secepatnya...! (sekarang agak ga memungkinkan... diomelin mulu saya.. =_=" -curhat gaje-)
Seperti biasa, bersediakah anda menyampaikan komentar, pertanyaan, pendapat, dll dst dsb lewat review? :D
Best Regards,
Snow Jou
