"Agh!" Junpei menggertakkan giginya ketika ia merasakan Hermes berguncang karena serangan dari Jiraiya. Di bawah mereka, lautan api melalap setiap sudut pekarangan dan tembok-tembok, menyisakan gedung sekolah yang tidak lama lagi akan terbakar seluruhnya. Junpei berusaha menghubungi Chie yang terjatuh ke bawah mereka. Garula dari Jiraiya berhasil menjatuhkan Tomoe. "Chie! Jangan berbaring saja di situ! Bisa kau padamkan apinya?"

"Tidak mungkin...! Apinya terlalu besar! Terlalu banyak menyia-nyiakan 'bufu' akan melemahkan Tomoe." Suara Chie terdengar panik.

"Oh yeah, bagus sekali..." Junpei mendesah. Ia kemudian melihat Jiraiya terbang melesat ke arahnya. Pemuda itu secara refleks mengendalikan Hermes untuk terbang ke belakang dan menghindari lemparan shuriken dari Jiraiya. Hermes terhenti tepat di samping gedung sekolah yang menjulang tinggi.

"Ck... sudah cukup, kau akan kuhancur—"

"Dangerous object detected." Kalimat Junpei terputus ketika ia mendengar suara mekanik di dalam Hermes. Junpei mengangkat satu alisnya.

"'Dangerous object'? Apa...?" Junpei bergumam sementara ia melihat layarnya menampilkan satu kotak kecil lagi di samping wajah Chie. Dan Junpei melihat lantai empat gedung sekolah. Pemuda itu mengerutkan dahinya. "Ada apa di lantai empat...? Oh..." kedua mata Junpei melebar ketika kamera Hermes memperlihatkan apa yang ada di balik gedung tersebut, "oh... oh man... aku tidak pernah menyukai ini..."

"Ada apa?" terdengar suara Yosuke dari jalur komunikasi Junpei. "Kau melihat benda menarik? Hm? Mungkin itu salah satu spesialisasi WPM milikmu, eh?" suara Yosuke menunjukkan suatu kegembiraan tersendiri, sementara Jiraiya langsung menerjang Hermes dengan dua pisau raksasa di tangannya.

"Ya... Hermes mendeteksi benda semacam itu." Junpei menjawab kesal, sementara Hermes menahan serangan Yosuke dengan lengan bersayap emasnya. "Ck, aku harus segera menginformasikan hal ini pada Souji..." ucap Junpei seraya satu tangannya meraih sebuah radio komunikasi dari saku celana.

Namun kegiatannya terganggu dengan serangan Yosuke. Pemuda yang masih mengenakan headphone di lehernya itu tampak terus menerus berusaha menusukkan salah satu senjata yang dimiliki Jiraiya ke arah kokpit. Junpei mendengus kesal. "Chie! Sampai kapan kau akan berbaring?"

"Aku tidak berbaring, bodoh! Masih ada beberapa orang yang hidup... aku harus menolong mereka." Chie menjawab dari ujung komunikasi.

"Masih ada?" Junpei tampak kaget. Sementara ia melihat Jiraiya terbang sedikit menjauh darinya dan terdiam sejenak.

"...Masih ada yang hidup...?" Junpei dapat mendengar Yosuke bergumam.

'Si-sial... aku lupa si Jeruk itu juga masuk dalam jalur komunikasi!' Junpei mengutuki dirinya sendiri. Ia kemudian memanfaatkan kesempatan yang ada dengan menyalakan radio. "Souji, dengarkan aku!"


Liebe und Rache

Chapter 7

Bloody Party Part III: Destruction


"Tidak boleh ada yang hidup... kecuali prajurit kami..." Yosuke bergumam pelan. Ia kemudian mengeluarkan radio dari saku celananya, berusaha menghubungi salah satu bawahan. "...Pasang masker kalian..." pemuda itu memerintah.


"Shirogane-san! Sekarang bukan saatnya! Lompat dari jendela ini bersamaku sekarang!" Souji mengulurkan satu tangannya, sementara tangan lainnya bertumpu pada ujung jendela.

"...Ti-tidak..." gadis itu menjawab pelan. Naoto, yang telah berdiri dari tempatnya, mendekap erat benda-benda miliknya: jarum suntik, obat, revolver, cutter berlumuran darah... juga WCM key card milik Souji. Gadis itu berjalan mundur menjauhi Souji, air mata masih membasahi pipinya.

.

"Souji, Hermes mendeteksi bom waktu di gedung itu! Keluar dari gedung bagaimanapun caranya, waktumu satu menit empat detik!"

.

'Dari perkiraanku, 22 detik telah berlalu...' Souji tidak memiliki banyak waktu lagi. Pemuda itu langsung berlari ke arah Naoto dengan cepat dan mencengkeram erat kedua lengan atasnya. "Bodoh! Kau ingin mati, ya?" Souji tampak marah sekarang, namun Naoto justru tersenyum tipis.

"...Ya..." gadis itu menjawab, "aku tidak layak hidup." Naoto tertawa pahit ketika ia mengatakan ini, meskipun ia masih menangis. Souji menggeram.

"Cukup omong kosong ini..." Souji menarik napas, ia merasa udara di sekitar mereka semakin panas. Api telah menjalar hingga ke lantai empat. Tapi daripada itu, sesuatu yang jauh lebih berbahaya menanti mereka. Tanpa memberikan kesempatan pada Naoto untuk menjawab lebih, Souji langsung mengangkat tubuh kecil gadis itu dan menempatkannya di bahu dengan kedua lengan. Naoto tersentak kaget.

"A—apa yang—turunkan!" Naoto berteriak marah. Satu tangannya memukul-mukul punggung Souji dengan kuat sementara lengan lainnya masih mempertahankan benda-benda yang dibawanya. Souji tidak mempedulikan pukulan yang menurut pemuda itu, ternyata cukup menyakitkan di punggungnya, dan dengan Naoto di bahunya, ia berlari ke arah jendela.

"Ah—" ia mendengar Naoto bersuara, dan ia menoleh cepat. Botol obat cair milik Naoto jatuh dari dekapan gadis itu. Tangan sang gadis terulur pada botol obat itu, tetapi Souji tidak mempedulikannya dan kembali memfokuskan pandangan ke depan. Ia melompati mayat pria berseragam yang dibunuh Naoto beberapa menit lalu.

'Tiga detik...' ketika angka itu sampai di otak Souji, pemuda itu telah menggunakan satu tangannya untuk bertumpu pada ujung jendela dan kakinya telah siap berpijak di ujung. Tanpa berpikir apa-apa lagi, Seta Souji melompat turun dengan Shirogane Naoto yang ia dekap dengan kuat di udara.

Seketika, ledakan kencang memekakkan telinga terdengar di dekat mereka, gedung sekolah tersebut hancur dengan serpihan-serpihan tembok, kaca dan bagian-bagian lain yang runtuh, berjatuhan ke udara di sekitar mereka. Api mengamuk di keseluruhan gedung. Souji memberanikan diri untuk membuka matanya sekilas, dan pemuda itu merasa mereka tidak akan hidup. Tanah keras menunggu di bawah mereka.

"SOUJI-KUN!"

Souji mendengar suara Chie berteriak padanya. Tomoe terbang melesat ke arah mereka dan mengayunkan double blade naginata miliknya di dekat mereka. Souji menggunakan kesempatan tersebut untuk meraih bagian tengah naginata itu dengan satu tangannya. Sementara lengan lainnya mendekap pinggang Naoto dengan erat pada tubuh Souji. Gadis itu sedikit gemetar mendapati kakinya masih belum berpijak dengan tanah.

"W-whoa... maaf... aku terlalu kaget sampai bingung apa yang harus kulakukan! Akhirnya aku hanya mengulurkan naginata milik Tomoe... ahaha..." suara Chie terdengar dari dalam WPM tersebut. Souji hanya tersenyum sementara ia masih berusaha menggenggam naginata itu.

"Tidak apa-apa, Chie... tapi... aku tidak bisa terus seperti ini..." Souji merasa tangannya mulai kelelahan sementara tubuhnya dan tubuh Naoto masih menggantung di udara.

"O-oh! Maaf! Naiklah ke telapak tangan Tomoe..." Chie menjawab. Ia kemudian mengendalikan Tomoe untuk membuka satu telapak tangannya yang tidak menggenggam naginata ke arah mereka.

Souji segera meraih ujung jari Tomoe dan berusaha naik. "Shirogane-san, pegang erat ujung jari WPM ini..." Souji mengarahkan pada Naoto. Gadis itu hanya mengangguk dalam diam dan menuruti perkataan Souji. Pemuda itu telah berhasil naik ke telapak tangan Tomoe dan berniat membantu Naoto untuk naik juga.

Tetapi ia merasakan Tomoe menyentak tubuhnya ke belakang secara tiba-tiba. Souji nyaris kehilangan keseimbangan sementara tangan Naoto terlepas dari pegangannya pada mesin itu. "Ah!" Naoto bersuara kaget, gadis itu terjatuh dari mesin raksasa tersebut.

"Shirogane-san!" Souji berteriak dan mengulurkan tangannya, tetapi ia terlambat. Tangannya tidak berhasil menangkap tangan Naoto yang terulur padanya. Sang gadis terjatuh dari ketinggian beberapa meter dengan tangan yang masih terulur pada Souji.

Hal terakhir yang dilihat Naoto sebelum kesadarannya memudar adalah Souji yang terlihat semakin jauh darinya di atas, meneriakkan nama kecil gadis itu dengan mata yang menunjukkan suatu ketakutan.

:-:

Gadis kecil itu terus terisak, air mata tidak juga berhenti membasahi kulit halusnya. Darah mengaliri kedua tangan mungilnya yang terikat di belakang punggung, dan sebuah ikat leher hewan diselipkan ke dalam mulut dan diikat di sekitar mulutnya. Bagian tengah ikat leher di belakang kepala gadis kecil itu tersambung dengan rantai yang menyatu dengan jeruji kandang tempat bocah malang itu dikurung.

...Tidak ada bedanya dengan binatang.

Seorang pria berjubah putih berjalan mendekati kandang kecil itu. Ia kemudian membuka pintu jeruji kecil kandang dan melepaskan ikat leher hewan di sekitar mulut anak itu. Ia kemudian menarik keluar anak itu dengan kasar, mendekatkan wajahnya pada sang gadis kecil. Hembusan napas pria itu terasa jelas di leher sang gadis kecil, dan membuatnya merinding ketakutan dan tubuhnya bergetar. Pria itu membisikkan sesuatu di telinganya.

"...Kau... melanggar perintah yang ayah berikan. Siapa yang mengajarimu untuk menentang perintah ayah, Naoto...chan...?" ucapnya pelan sementara satu tangannya menjambak rambut halus biru gelap anak kecil itu. Isak tangis gadis kecil itu semakin kencang.

"B-Bitte verzeihen Sie mir... (Mohon ampuni aku)" gadis itu berkata di sela-sela isak tangisnya, "Es tut mir leid... (maafkan aku)"

Tetapi sang pria tampaknya tidak puas hanya dengan permintaan maaf, ia membanting tubuh kecil gadis itu dengan kuat hingga menabrak tembok di ruangan itu. Darah segar mengucur keluar dari kepala sang gadis kecil.

"Ich werde dich bestrafen... (aku akan menghukum dirimu)" Anak itu mendengar sang 'ayah' berkata, sebelum sang pria mengikatkan ikat leher dengan rantai di sekitar leher gadis kecil itu dan menariknya keluar ruangan. Darah gadis kecil itu tercecer di lantai sementara ia terseret keluar, sesekali tercekik ketika pria itu menarik rantai tersebut dengan kuat.

:-:

"Naoto—" suara Souji terputus, kemudian digantikan oleh tarikan napas penuh kelegaan ketika ia melihat tubuh Naoto ditangkap dari bawah dengan sigap oleh seorang pria yang tampak cukup kekar, walaupun ia tidak tahu siapa. Pria tersebut tampaknya bukan prajurit biasa Verstannia. Jubah putih berhias emas membungkus jasnya yang berwarna selaras.

Souji dapat melihat pria itu menengadah pada pemuda itu, dan dengan Naoto dalam dekapannya, ia menganggukkan kepala pada Souji. Entah kenapa, meskipun dari kejauhan, Souji merasakan suatu aura dari pria itu yang dapat membuat sang pemuda mempercayainya. Aura penuh wibawa dan kegagahan seakan memancar dari pria tersebut. Souji kemudian mengalihkan pemandangannya sekilas dan menoleh ke arah Tomoe.

"Chie, kenapa kau tiba-tiba menyentakkan Tomoe ke belakang?" Souji tampak kesal. Entah kenapa, pemuda itu agak sulit mengendalikan emosinya. Beberapa detik yang lalu, ia merasakan suatu ketakutan tersendiri.

"Ka—ka..." suara Chie terpatah-patah. Souji mengangkat satu alisnya.

"Chie, aku tidak dapat mendengar...mu...?" kedua mata Souji membelalak ketika ia menyadari seekor—bukan, lima ekor katak seukuran telapak kaki berada di dekat kakinya, atau di atas telapak tangan Tomoe yang terbuka.

"Ka-kataaakk!" Chie berteriak panik. Souji tampak kebingungan sekaligus kaget.

"Tu-tunggu, katak dari mana ini?" Souji langsung berdiri di tempat. Pemuda itu kemudian menyadari beberapa ekor katak lagi turun dari langit, terjatuh dengan suara halus pada permukaan Tomoe hingga ke tanah. Souji tersentak dengan seekor katak yang ikut terjatuh ke pundaknya. "Hwa—" Souji melompat kaget, tetapi masih mengatur keseimbangannya.

"Ka-katak...! Aku memBENCINYAAAA!" Chie berteriak histeris dari dalam Tomoe. WPM raksasa itu mulai terbang mundur dengan panik. Souji berpegangan pada telapak tangan Tomoe agar tidak kehilangan keseimbangan. Souji merasakan suatu keanehan pada katak-katak tersebut.

"Tunggu, ini—bukan katak sungguhan, ini robot!" Souji mengumumkan. Ia kemudian menengadahkan kepalanya ke atas dan dapat melihat satu tangan Jiraiya yang menampung katak-katak tersebut.

"Ahaha! Kau kaget? Dalam legenda Jepang, Jiraiya dapat membentuk tubuhnya menjadi katak besar... WPM milikku memiliki anak-anak semacam ini." Terdengar suara Yosuke dari dalam WPM miliknya.

"Ka-katak? Ternyata WPM milikmu memang unik, mulai dari penampilan hingga spesialisasi khusus... khas 'Orange' sekali..." Junpei menanggapi tanpa senyuman dari dalam Hermes.

"Cerewet..." Yosuke membalas kesal, "tetapi berhati-hatilah... 'anak-anak' Jiraiya itu beracun..." ucapnya dengan nada suara kepuasan.

"Racun?" kedua mata Souji membelalak. Satu kesimpulan berhasil ditarik oleh otak sang pemuda. Ia kemudian menggunakan kedua tangannya untuk melempar katak-katak di telapak tangan Tomoe ke bawah. "Chie, katak-katak ini mengandung gas beracun!"

"A-apa?" nada suara Chie terdengar kaget.


"Um..." Naoto membuka kedua matanya perlahan. Gadis itu melihat sosok yang familiar sedang memandangnya lembut. Sosok itu adalah seorang pria dengan kumis cukup lebat di sekitar bibirnya, juga rambut coklat gelap yang dipotong rapi menghiasi kepalanya. Bola mata kelabu jernihnya menatap tegas, tetapi juga lembut dan penuh perhatian. "...Panglima perang... Masahiro Satoshi-sama...?" Naoto bertanya untuk memastikan. Benda-benda yang dibawanya telah terjatuh ke tanah di bawah mereka.

"Ya... ini aku, Naoto-sama..." jawabnya lembut. Naoto merasakan dekapan pria itu terasa cukup lemah untuk tidak menyakitinya walau hanya sedikit, tetapi cukup kuat untuk membuat Naoto merasa nyaman dalam perlindungannya. Gadis itu memejamkan matanya sejenak, lubuk hati kecilnya menikmati keberadaan pria paruh baya gagah itu.

"Kau masih kuat berjalan, Naoto-sama? Masih ada benda-benda asing yang harus dibereskan di sekitar kita..." suara sang panglima perang terdengar kembali. Naoto langsung membuka matanya, wajahnya merona merah.

"Ma-maaf... silahkan turunkan aku... aku sangat—kekanak-kanakan..." Naoto menjawab malu. Pria itu tertawa kecil, kemudian menurunkan Naoto perlahan.

"Beberapa prajurit Letzvetrie akan menuju kemari," ucap sang panglima perang ketika gadis itu telah berdiri mantap. Naoto kemudian meraih revolver miliknya yang terjatuh ke tanah, mengarahkan benda itu pada katak-katak misterius yang disebarkan oleh Jiraiya.

"...Katak-katak apa ini...?" Naoto tampak berhati-hati.

Tetapi sang gadis merasakan pundaknya disentuh dengan lembut dari belakang, dan mendapati sang panglima perang memandangnya lembut, "Jangan kau tembak katak-katak itu... gas beracun..."

"...Gas beracun...?" kedua mata Naoto membelalak lebar. Gadis itu langsung menurunkan revolver miliknya.

"Akan meledak dalam kurun waktu tertentu... hal pertama yang harus dilakukan adalah—oh tidak, ada jalan pintas..." pria itu tersenyum ketika seorang berseragam Letzvetrie berlari menghampiri mereka. Masker gas telah menutupi wajahnya.

"Masahiro Satoshi-sama, anda harus bergegas mencari masker juga! Kami mendapatkan persediaan lebih dari prajurit Verstannia, kami baru saja membasmi mereka dan mereka mengenakan masker ini, silahkan ikuti saya..." prajurit Letzvetrie tersebut kemudian menolehkan kepalanya pada Naoto, "Anda juga, Naoto-sama! Katak-katak ini mengandung gas beracun! Anda harus mengenakannya juga!" ucap pria tersebut sementara ia membalikkan tubuhnya dan mulai berlari untuk diikuti mereka berdua.

Ketika sang gadis mulai melangkahkan kakinya untuk mengikuti sang prajurit, ia merasakan sentuhan Masahiro di pundaknya. Gadis itu menoleh dan mendapati Masahiro menggelengkan kepala pada gadis itu, kemudian mengeluarkan pistol dari balik jubahnya. Masahiro Satoshi mengarahkan pistol tersebut pada prajurit Letzvetrie yang masih berlari, dan telah berlari cukup jauh dari mereka, sekitar dua puluh meter.

Dan pria itu menembak sang prajurit tepat pada bagian kepala, ketika prajurit itu bahkan telah menghilang dari pandangan karena api membara yang menghalangi ketika prajurit itu berbelok, tetapi masih dalam zona tembakan sang panglima perang.

"A—apa?" Naoto tampak kaget dengan tindakan Masahiro.

"Itu prajurit Verstannia," pria di sampingnya menjawab singkat. "Dia sama sekali tidak tahu tentang dirimu... ia tidak tahu tentang hal 'itu'. Lagipula, aku telah mengenal para prajurit seperti mereka adalah anak-anakku sendiri... Akihiko-sama dan Mitsuru-sama, Yukiko, Aigis, seluruh prajurit dan penghuni kerajaan... mereka adalah keluargaku..." pria itu tersenyum pada Naoto. "Dan kau bagaikan putri kandung yang sangat kukasihi, Naoto-sama..."

Naoto merasakan wajahnya memerah sekilas. Tetapi suatu ingatan masa lalu justru terbesit dalam otaknya. Tubuh gadis itu mulai terguncang dengan ingatan-ingatan yang jauh lebih buruk dari setiap mimpi buruk yang pernah dilihatnya. Masahiro Satoshi menyadari hal itu, dan ia meletakkan satu tangannya di atas kepala Naoto dan membelai halus rambut sang gadis. "...Jangan kau ingat-ingat lagi masa lalu, Naoto-sama... Kami ada di sampingmu."

Naoto mengangkat kepalanya dan mempertemukan matanya dengan sang panglima perang dalam-dalam. Gadis itu tersenyum kecil, kemudian mengangguk. Masahiro menyunggingkan senyuman, pria itu kemudian melepaskan tangannya dari Naoto, dan dengan cepat dan sigap, berdiri tepat di depan gadis itu dengan posisi membelakangi Naoto, dan mengeluarkan dua senapan sekaligus dari balik jubah putih emasnya. Senapan tersebut adalah senapan yang pegangannya dibuat khusus. Ia menggenggam satu senapan di tangan kiri dan senapan lainnya di tangan kanan.

Sebelum Naoto mulai menyadari apa yang terjadi, Masahiro Satoshi—sang panglima perang, menembakkan senapan itu ke berbagai arah. Suara-suara kesakitan mulai terdengar, dan gadis itu dapat melihat mayat-mayat mulai berjatuhan ke tanah; beberapa dari semak-semak, dari balik pepohonan, atas pohon, dari balik kobaran api... semuanya adalah prajurit Verstannia yang mengenakan masker—mati tertembak dalam hitungan detik oleh senapan milik sang panglima perang. Satu prajurit satu peluru. Tembakan-tembakan Masahiro semua mengenai titik vital. Naoto hanya dapat memandang kagum pada sang panglima perang yang berdiri gagah di hadapannya... selalu kagum, setiap kali ia melihat pria itu beraksi dalam peperangan atau hanya dalam latihan... setiap kegiatannya dalam melatih para prajurit ataupun berlatih sendiri secara pribadi.

"Mereka tidak pandai bersembunyi..." ucap panglima perang tersebut, "Sepertinya memang benar Verstannia bermain-main dengan kita. Pilot WPM yang mereka utus tampak bermain-main, sementara prajurit-prajurit mereka hanya ikan-ikan teri. Jika prajurit Verstannia hanya seperti ini, Letzvetrie akan kehilangan muka bertempur selama bertahun-tahun melawan mereka." Pria itu melanjutkan, berjalan ke arah mayat terdekat, kemudian menarik masker yang dikenakan sang prajurit dan mengenakannya pada kepala. "Aman..." pria itu mengumumkan, dan Naoto mengerti apa yang dimaksud. Entah kenapa, Naoto mengetahui bahwa pria itu tersenyum padanya di balik masker tersebut. Sekumpulan katak mulai meledak dan beberapa melompat ke arah mereka.

"Zerstören (hancurkan)." Sang panglima perang memerintah, dan Naoto mengangkat revolver miliknya dan menembak katak-katak tersebut dengan lincah. Setiap kali katak tersebut ditembak ataupun meledak, gas beracun yang mematikan mulai memenuhi udara.


"Katak-katak ini mulai meledak...!" Souji tampak sedikit panik. Pemuda itu masih belum berhasil 'membuang' katak-katak tersebut, karena mereka terus berdatangan dari Jiraiya. Pemuda itu menutup hidungnya dengan jaket ketika gas beracun mulai menyebar di sekitarnya.

"O-oh tidaaak..." Chie mulai kebingungan. "Apa yang harus kita lakukan—Ah! Jangan, jangan keluar!" Chie terdengar panik.

"Apa...?" Souji mengangkat satu alisnya, sementara ia masih berusaha untuk tidak menghirup gas di sekitarnya.

"Mereka! Orang-orang yang kuselamatkan! Aku menempatkan mereka di bangunan dekat sekolah yang terletak paling jauh dari kobaran api, mengapa mereka keluar?" Chie menjawab panik.

"Karena gas beracun itu telah menyebar hingga daerah luar sekolah... setiap manusia yang menghirupnya akan mati dalam hitungan detik... sayang sekali, usahamu sia-sia, 'Chie'." Suara Yosuke terdengar dari dalam Jiraiya. Chie melihat orang-orang yang berhasil ia selamatkan sebelumnya mulai berjatuhan dengan gas beracun di sekitar mereka.

"Ka-kau...!" nada suara Chie menunjukkan kemarahan.

"Chi—e," Souji mulai kesulitan bicara, ia harus berhati-hati agar gas beracun tersebut tidak ia hirup, sementara ia mengencangkan cengkeraman jaketnya untuk menutup hidung, "terbang menjauh—keluar dari jarak gas beracun ini—ijinkan aku masuk ke dalam kokpit..." Souji menyampaikan keinginannya sementara ia menendangi katak-katak tersebut agar jatuh ke bawah. Pemuda itu mulai terengah. Ia membutuhkan udara—udara segar!

"A-aku mengerti, bertahanlah, Souji-kun!" Chie menjawab, amarahnya hilang seketika. Bagaimanapun ia harus menyelamatkan sang rekan yang berada paling dekat dengan dirinya terlebih dahulu. Gadis berambut coklat itu mulai mengendalikan WPM miliknya untuk terbang tinggi menjauhi wilayah tersebut. Souji merasakan hembusan angin sementara Tomoe terbang menjauh dengan gesit. Ketika gas beracun mulai menipis dan hilang dengan angin, Chie langsung membuka kokpit.

"Souji-kun, cepaaat!" Chie berteriak. Souji segera berlari cepat ke arah Chie yang mengulurkan tangannya dari dalam kokpit yang terbuka. Souji meraih tangan Chie dan masuk ke dalam kokpit tersebut, Chie berdiri sejenak kemudian melancarkan tendangan pada seekor robot katak yang melompat ke arah mereka. Kokpit segera tertutup kembali tanpa memberikan sedikitpun celah untuk gas.

"Woh... aku benar-benar lega..." Chie mengelus-elus dadanya. Sementara Souji berdiri di samping kursi pilot. Ia dapat melihat Hermes dan Jiraiya saling bertempur di udara. Pemuda itu kemudian teringat sesuatu.

Bagaimana dengan Naoto... dan Aigis...?

"Chie, bisa kau cari Naoto—Shirogane-san, dan Aigis? Err... kau tidak mengenali mereka..." Souji tampak berpikir, "Bisa kau mencari seseorang yang berada di bawah dengan kamera Tomoe?" Souji bertanya. Chie tersenyum mendengar pertanyaan Souji.

"Oh, Souji-kun, tentu saja bisa! Aku akan malu jika WPM milikku bahkan tidak dapat mendeteksi manusia di tempat terbuka seperti itu," jawab Chie mantap. Gadis itu kemudian mulai mengetik kombinasi keyboard dan layar di depan mereka mulai terfokuskan pada suasana di bawah. Kobaran api... dan... dua orang, yang Souji kenali sebagai Naoto, dan seorang pria yang menyelamatkan gadis itu barusan.

"Itu dia... fokuskan pada mereka..." Souji meminta. Chie hanya mengangguk, kemudian memfokuskan kamera pada dua orang tersebut.

"...Hei, gadis itu yang kau selamatkan tadi? Dia terjatuh karena kebodohanku... ahaha... maaf..." Chie tampak khawatir dan tersenyum meminta maaf. "Tapi... tunggu, dari ketinggian itu, bagaimana ia dapat bertahan hidup?"

"Seseorang menangkapnya..." Souji menjawab singkat, sementara ia memperhatikan Naoto dan sang pria. Naoto tampak sibuk menembaki robot-robot katak tersebut, dan katak-katak itu meledak. Pemuda itu mengerutkan dahinya.

...Ada yang kurang...

Souji tampak kebingungan setelah ia menyadari apa yang berbeda. Sang pria paruh baya itu mengenakan masker anti gas beracun, hal itu sangat menjelaskan mengapa ia tidak apa-apa selagi membasmi robot-robot katak itu, tapi Naoto...? Gadis itu tidak mengenakan masker atau apapun yang dapat melindunginya dari gas beracun itu. Tetapi gas beracun itu tampak tidak memberikan efek apapun padanya.

Di tengah kebingungannya, bibir Souji terhiasi oleh senyuman, "Aku... penasaran apa lagi yang kau sembunyikan di balik tubuhmu itu, Shirogane-san... menarik..." ucapnya pelan. Keringat mengaliri wajahnya. Apa-apaan yang dilihatnya ini?

'Racun tidak efektif pada tubuhnya...? Hasrat membunuh...?' Souji kembali teringat pada kata-kata pria yang dibunuh Naoto beberapa waktu lalu, dimana sang gadis kehilangan kendalinya. Ia kembali berpikir, 'Apa yang dikatakan pria itu barusan? 'Boneka pembunuh'? Ada yang lebih menarik... 'Dunkel Technologie'... jika dikaitkan dengan Aigis yang bergumam pelan waktu itu... 'Dark tech'...? Kedua kata ini dapat diartikan sama. Lalu, Naoto berkata untuk menghentikan 'monster' dalam dirinya... Gadis itu menangis tetapi ia membunuh dengan tawa...'

Tanpa sadar, Souji menajamkan pandangannya pada Naoto di balik kamera Chie. "...Siapa kau sebenarnya—tidak, mungkin lebih bisa dikatakan 'apa' kau sebenarnya, Shirogane Naoto?" gumam pemuda itu pelan, nyaris mendesis. Chie kebingungan melihat ekspresi Souji.

"Uh... Souji-kun...? Kau tidak... apa-apa...? Heeei..." Chie tampak ragu. Gadis itu mengalihkan pandangannya pada kamera. "Gadis itu manis... oh... kau menyukainya...? Ahaha... sampai-sampai pandanganmu tidak teralihkan darinya..." Chie mencoba menebak. Souji segera tersadar dari lamunannya ketika ia mendengar kata-kata terakhir Chie. Wajahnya merona merah tanpa ia sadari.

"A-aku tidak menyukainya...! Maksudku, bukan membencinya juga... biasa saja..." Souji menjawab kikuk, "lagipula, dia musuh."

Chie tertawa kecil, "Tidak apa-apa Souji-kun. Ooh... musuh, yeah, api yang berkobar... api cinta yang terlarang, bukankah itu manis?" Chie tertawa dengan candaannya.

Souji menghela napas. "Baiklah... aku juga harus mencari orang lain lagi—tunggu..." Souji tiba-tiba teringat sesuatu. Pemuda itu kemudian mengalihkan pandangannya pada Chie. "Chie, tolong bantu aku. Turunkan aku ke bawah... aku akan menarik masker dari salah satu mayat-mayat prajurit Verstannia."

Chie mengangkat alisnya ketika mendengar itu. "Oh tidak, tidak. Jika aku menurunkanmu, itu berarti aku membukakan kokpit untukmu, kan? Gas beracun itu akan masuk ke dalam kokpit! Terlalu berbahaya..."

"Cari bangunan tertinggi yang setidaknya belum terbakar sepenuhnya... ke daerah luar sekolah juga boleh. Cukup turunkan aku di atasnya dan aku akan mengurus sendiri semuanya." Souji berusaha meyakinkan. Chie menarik napas.

"Oh... baiklah, aku tidak bertanggung jawab jika sesuatu terjadi padamu..." Chie tampak khawatir, "...jangan mati, kumohon," ucapnya lagi. Souji tersenyum mantap.

"Tidak akan... aku tidak akan mati konyol hanya karena hal seperti ini."


"Naoto-sama! Robot-robot katak ini telah menyebar sampai ke bagian luar arena sekolah! Berlarilah dan bersihkan robot-robot itu di sana, aku akan mengurus katak-katak beracun itu di sini!" teriak Masahiro Satoshi ketika kedua orang itu masih sibuk menembaki robot-robot itu satu persatu.

"Serahkan padaku." Naoto menjawab mantap, kemudian berlari meninggalkan Masahiro Satoshi yang masih menembak katak-katak itu. Masahiro menggertakkan giginya. Jumlah katak-katak ini tidak terhitung, tetapi hal baiknya adalah WPM raksasa milik Verstannia itu tidak lagi menjatuhkan lebih banyak katak.

Pria penuh wibawa itu mengangkat kepalanya ke atas dan dapat melihat dua WPM yang saling bertempur. Lelaki itu tampak berpikir sementara kedua tangannya seakan-akan secara refleks menghancurkan setiap robot katak tanpa satupun peluru yang meleset.

WPM itu... WPM dengan sayap emas di kedua lengannya—Masahiro tidak pernah melihatnya. Ia yakin WPM itu bukan milik Letzvetrie—dan WPM itu bertempur melawan WPM milik Verstannia, itu bisa jadi pertanda WPM tersebut juga tidak memihak Verstannia. Apa WPM itu dimiliki kelompok lain selain kedua negara itu? Organisasi rahasia yang mungkin memiliki sejarah yang berhubungan dengan kedua negara? Karena teknologi semacam War Persona Mecha tidak pernah meluas hingga ke negara lain selain mereka. Itu mesin tempur yang dibuat khusus dan mendetail—dan hanya dimiliki beberapa orang—bukan mesin tempur sembarangan yang menyebar hingga ke pihak lain.

'Walaupun aku tidak tahu mereka... tapi sepertinya mereka memihak Letzvetrie sekarang... atau semua ini hanya jebakan...?'


Naoto berlari secepat yang ia bisa, sambil sesekali menarik pelatuk revolver yang ia genggam untuk menghancurkan robot-robot katak yang menghalangi jalannya. Gadis itu berlari sedikit lebih kencang ketika ia menyadari bahwa ia dikejar oleh seseorang. Naoto segera menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuh menghadap seseorang yang mengejarnya di tengah gas beracun yang belum menyatu dengan udara. Gadis berambut biru gelap itu mengarahkan revolver-nya pada orang tersebut, yang jika dugaannya tepat—adalah Seta Souji, yang mengenakan masker di kepalanya.

"Yo, Shirogane-san..." Souji menyapa pelan di balik masker gas tersebut, satu tangannya telah siap dengan sebuah pistol yang juga diarahkan pada Naoto. "Aku ingin mengambil kembali benda milikku yang kau curi itu..." ucap Souji, mengangkat satu tangan seakan ingin meminta sesuatu.

"...Tidak..." Naoto menjawab pelan, ia mempererat sedikit jaket sekolah yang ia gunakan untuk menyimpan key card milik Souji. Ia dapat mendengar Souji tertawa kecil.

"Jika kuperhatikan, kurasa kau gadis yang cukup terhormat. Gadis seperti dirimu mencuri? Rendah sekali tindakanmu itu, Shirogane Naoto..." Souji mengejek, '...mungkin aku dapat memancingnya lebih banyak... dan mendapat penjelasan tentang tubuhnya yang dapat menangkal gas beracun mematikan,' lanjut pemuda itu dalam hati.

"Aku tidak peduli dengan pendapatmu..." Naoto menjawab singkat, ia melangkah mundur.

"Sungguh sifat yang menyedihkan dari seorang... putri? Hm?" Souji menyeringai di balik maskernya.

"Apa aku pernah mengatakan bahwa aku seorang putri?" Naoto tersenyum, "Aku bukan salah satu dari mereka—tuan-tuan putri yang hanya duduk diam dan dilindungi."

"Ho... jadi benar kau adalah sang putri mahkota Letzvetrie?" Souji bertanya kembali.

"Aku tidak mengatakan demikian, Seta Souji..." Naoto melangkah mundur sekali lagi. Souji merasa mungkin ia tidak perlu lagi mengulur waktu. Baiklah, pemuda itu menyerah untuk sekarang ini dalam memancing lebih banyak informasi dari gadis itu.

"Cukup basa-basi ini, eh? Bagaimana kalau kau mengembalikan key card itu, 'Tuan Putri yang tidak dapat dibunuh oleh racun'?" Souji bertanya. Naoto tersenyum tipis.

"Bicara dengan siapa kau, Seta-san? Jangan berharap..." gadis itu membalas. Souji mendesah pelan.

"Baiklah kalau itu maumu..." Souji tersenyum tipis, pemuda itu kemudian dengan cepat menarik pelatuk pistolnya dan peluru yang dihempaskan pistol sang pemuda tepat mengenai revolver milik Naoto. Gadis itu tersentak kaget dan revolver yang ia genggam terlempar cukup jauh ke belakangnya.

"Ck..." Naoto berniat membalikkan tubuh untuk meraih revolver tersebut, tetapi sebelum ia sempat melakukan itu, Souji kembali menembakkan pistolnya. Naoto berteriak kesakitan ketika peluru yang ditembakkan Souji melukai pergelangan kaki kanannya. Gadis itu langsung terjatuh, dan Souji kembali menembakkan peluru ke pergelangan kaki kiri dan bahu kanan gadis itu. Naoto meringis kesakitan, ia tidak dapat menggerakkan kedua kaki ataupun lengan kanannya. Darah segar mengalir dari tubuhnya yang terluka, dan Seta Souji berjalan mendekati Naoto.

"...Kaulah yang membuatku melakukan ini, Shirogane-san..." Souji tersenyum, kemudian menggenggam kuat tangan kiri gadis itu dan tangan lainnya diselipkan ke balik jaket sekolah sang gadis. Souji tersenyum puas ketika ia berhasil menarik WCM key card miliknya. "Kau harus berterima kasih, Shirogane-san. Aku tidak membunuhmu. Bagaimanapun aku telah membantumu, kita adalah musuh." Souji tersenyum penuh kemenangan, kemudian berlari meninggalkan Naoto yang terluka akibat tiga tembakan pada tubuhnya.

"Ugh—kembali, Seta Souji!" Naoto mengerahkan tenaganya yang menipis untuk berteriak. Gadis itu menggunakan tangan kiri untuk menekan luka di bahu kanannya. Naoto berusaha bangun, tetapi tubuhnya tidak menuruti. Ia mulai merasa pusing. Gadis itu tidak bisa terus seperti ini, ia bisa mati karena pendarahan.

"Naoto-san!"

Terdengar teriakan yang familiar di telinga gadis itu, dan Naoto berusaha menolehkan kepala ke arah sumber suara. Ia dapat melihat Aigis tengah berlari ke arahnya.


Souji tengah berlari ke arah tempat ia menyembunyikan WCM miliknya. Pemuda itu membasmi robot-robot katak yang ia temui dalam perjalanannya, dan merasakan gas beracun itu mulai menipis. Mayat-mayat bergelimpangan di sekitarnya, termasuk orang-orang yang sebelumnya berada di luar sekolah. Di tengah kesibukannya, pikiran kecil terlintas di otak pemuda itu.

Souji tidak ingin mengakui bahwa sesungguhnya ia khawatir tiga tembakan beruntun itu benar-benar membunuh Naoto melalui pendarahan. Sebagian hatinya berpendapat ia tidak peduli apakah gadis itu berakhir hidup atau mati, tetapi sebagian hatinya lagi merasa ketakutan Naoto akan mati. Pikiran itu—entah kenapa—terkesan begitu buruk bagi Souji. Kalau dipikir-pikir, mengapa ia merasa ketakutan ketika ia melihat Naoto terjatuh dari telapak tangan Tomoe? Ia mengalami perasaan seperti... takut kehilangan.

Pemuda itu memejamkan matanya sejenak, berusaha mengusir pikiran-pikiran semacam itu. Ia menyerahkan semua itu pada logika sekarang. Mereka adalah musuh, dan hal yang baik jika Naoto berakhir mati. Ya, begitulah seharusnya ia berpikir. Ia bukanlah Verstannia, tetapi ia juga bukan Letzvetrie... ia adalah UFoND. Souji menyunggingkan senyuman tipis ketika ia melihat WCM miliknya berdiri tegak di antara pohon-pohon rindang di hutan dekat sekolah itu.

Souji berlari ke arah mesin raksasa miliknya—War Combat Machine type SS0021, yang bercirikan warna hitam pada bagian badan dan putih pada kepala, lengan dan kaki. Dua silinder masing-masing di kedua bahu untuk menghasilkan roket yang mendorong tubuh ke udara, dengan senapan raksasa yang dipegang dua tangan WCM itu. Ukuran mesin itu sekitar setengah kali Hermes.

Tetapi tiba-tiba senyuman pemuda itu memudar dan kedua matanya membelalak, ketika ia melihat WCM miliknya ditembak oleh sesuatu seperti laser berwarna merah—tiga tembakan—dan mesin milik Seta Souji meledak dengan bunyi cukup memekakkan telinga dan menghasilkan angin yang membuat Souji tersentak kaget dan terhempas mundur. Pemuda itu kemudian mengangkat kepalanya ke langit dan menemukan beberapa WCM dengan tipe yang berbeda-beda terbang di atas hutan kecil itu. Salah satu WCM itu menembak WCM milik Souji. Souji menggeram pelan.

"WCM milikku—cih, siapa mereka...?" Souji bergumam pelan sementara tubuhnya mulai bergerak mencari tempat persembunyian di hutan kecil itu. Ia tidak boleh ketahuan. Pemuda itu bersembunyi di bawah pohon besar dan rindang, sementara matanya terfokus pada beberapa WCM yang melintas di atas hutan kecil—dan tampaknya semua mengarah ke sekolah. Souji tampak berpikir. "Mereka... prajurit Verstannia, atau Letzvetrie...? Apapun itu—" Souji mengalihkan pandangannya pada WCM miliknya yang sekarang berwujud tidak lebih dari ampas mesin belaka, "apa yang harus kulakukan tanpa WCM?" pemuda itu mendesah.

Souji tiba-tiba merasakan radionya bergetar halus. Ia segera meraih benda itu dan tanpa ia sadari, ia membalas dengan nada suara seperti orang yang tidak makan berhari-hari (kehilangan WCM ternyata begitu menyakitkan). "Ya...?" Souji menjawab lemas.

"Aku tidak percaya WCM milikmu meledak begitu saja... err... cerialah sedikit..." terdengar suara Tatsumi Kanji dari radio tersebut. Souji mendesah.

"Err... ya, terima kasih. Aku tidak pernah menyangka kehilangan WCM yang telah kau gunakan selama beberapa bulan saja terasa begitu menyakit—ha?" Souji menganga layaknya idiot. "Tunggu, Kanji-san, bagaimana kau tahu WCM milikku diledakkan?"

"...Err... itu... yeah, tentu saja... aku berada di belakangmu sekarang... yah... semacam itu..." Kanji terdengar ragu, tetapi itulah khas Kanji... mungkin.

"A—pa...?" Souji menolehkan kepala ke belakangnya, dan mendapati sebuah mesin raksasa, kira-kira satu setengah kali Hermes dan Tomoe berdiri beberapa meter di belakangnya. "Whoa...!" Souji tersentak kaget dan membalikkan tubuh, melihat Take-MikazuchiWPM milik Tatsumi Kanji berdiri tegak di hadapannya sekarang.

Mesin raksasa hitam dengan perak membentuk kerangka manusia dari kaki hingga kepala itu tidak mungkin salah dikenali. Dada, bahu, dan lengannya yang besar dan kekar, tetapi menyisakan kepala yang justru paling kecil di atasnya, dengan kaki berbentuk seperti peluru. Kedua tangan raksasa itu berwarna putih bergaris-garis hitam. Satu tangan raksasa itu menggenggam senjata berwarna emas yang berbentuk seperti petir. Senjata yang digenggamnya memiliki ukuran yang sama dengan WPM itu. Sejauh yang Souji lihat, WPM milik Tatsumi Kanji adalah yang paling besar.

"Baiklah... tidak ada alasan untukku menelantarkanmu tanpa mesin apapun... naiklah ke dalam Take-Mikazuchi, Souji." Suara Kanji terdengar dari radio komunikasi.


Junpei merasa napasnya mulai terengah-engah, sementara ia melihat Chie—yang masih dengan semangat dendamnya (tidak lain karena membunuh orang-orang yang telah diselamatkan Chie), melancarkan tendangan kuat dan mengayunkan double blade naginata milik Tomoe ke arah Jiraiya. Junpei merasa kesal.

Bayangkan—dua lawan satu...! Tetapi pertempuran mereka seakan-akan tidak memiliki akhir. Junpei merasa terlalu lama bertempur justru membuatnya kelelahan dan menghabiskan bahan bakar Hermes. Pertarungan seperti ini mungkin semacam pertarungan dimana kedua belah pihak tidak akan berhenti hingga mereka hancur sendiri (bahan bakar habis, misil habis dihempaskan, seluruh kekuatan mesin dikerahkan—hingga menyisakan WPM tak berguna yang bahkan tidak lagi dapat bergerak). Jika telah mencapai tahap yang disebutkan tadi, berarti ke ronde dua: pertarungan langsung antar pilot. Heh, seperti siapa yang lebih dulu berhasil menembakkan peluru mereka—jika peluru habis, gunakan senjata atau lebih simpel, saling menghajar secara fisik langsung.

Tetapi Junpei merasa harapan bisunya tiba-tiba dikabulkan. Gerakan Jiraiya maupun Tomoe terhenti. Ia melihat beberapa WCM mulai berdatangan ke area sekolah—prajurit Letzvetrie, jika Junpei tidak salah.

"Ck... mereka sudah sadar sepertinya..." terdengar suara 'Orange' dari radio komunikasi Junpei. "Sayang sekali, Apple. Permainan hari ini kita sudahi... aku juga cukup tertarik dengan kemampuanmu... 'Chie', namamu, bukan? Sampai bertemu di medan peperangan yang lebih 'serius'. Aku menikmati permainan hari ini." Dengan suara itu, Junpei melihat Jiraiya terbang mundur, tetapi Tomoe justru mengejarnya.

"Hei, jangan harap kau bisa kabur!" Chie terdengar tidak terima, tetapi Junpei justru mencegah gadis itu.

"Chie, cukup. Jangan memicu pertempuran lebih lagi... lepaskan dia untuk hari ini—kalau tidak, itu sama saja kita membuang-buang tenaga..." Junpei sudah tampak kelelahan. Ia melepas topi baseball miliknya dan meletakkannya di permukaan lantai kokpit di samping tempat duduk. Satu tangan Junpei menghapus keringat yang mengucur di pelipisnya.

"Uh... baiklah..." Chie menuruti, kemudian menerbangkan Tomoe ke samping Hermes. Junpei dapat melihat Jiraiya yang telah membalikkan tubuhnya dan terbang menjauhi mereka. Dengan Jiraiya yang masih berada dalam jarak penglihatan mereka, Junpei mendesah.

"Kira-kira, apakah kita harus menghadapi prajurit-prajurit Letzvetrie itu sekarang? Bisa saja mereka yang mengira kita adalah biang keladi semua ini..."


"...Melawan mereka memang melelahkan... aku tidak bisa mengatakan kemampuan mereka tidak menyamaiku... mereka cukup hebat..." ucap Hanamura Yosuke, yang juga terlihat kelelahan sekarang.

Yosuke kemudian meraih radio komunikasi dan menyalakannya. "Hei... kita mundur sekarang. Tidak ada lagi alasan untuk melanjutkan ini." Yosuke memberi komando singkat, tetapi ia tidak mendengar jawaban dari radio tersebut. Yosuke mengangkat satu alisnya, kemudian mendesah. "Jadi mereka semua tewas...? Aku tidak habis pikir mengapa Minato-sama mengerahkan prajurit-prajurit kelas bawah untuk mendampingiku dalam misi ini... mereka tidak bisa diandalkan. Ternyata aku yang harus mengakhiri pesta kecil ini sendirian—"

"Yosuke! Kau dimana? Jawab...!"

Yosuke tersenyum, setidaknya ia tidak sendiri, ada orang lain yang dapat diandalkan selain dirinya di misi ini. "Hei, Yukari! Oh, kau berada di bawahku. Yah, aku menduga kau pasti hidup."

"Jangan samakan aku dengan prajurit-prajurit kelas teri yang dikirim bersama kita," balas Yukari, yang masih mengenakan masker, terpampang di layar kokpit dalam Jiraiya. "Kau benar-benar bodoh, kurasa tidak perlu kau sampai menunjukkan salah satu spesialisasi WPM milikmu di misi seperti ini! Baiklah, ijinkan aku masuk..."

"Oh Madam, you wound me." Yosuke menjawab dengan tawa kecil, "Tentu saja... naiklah," lanjut Yosuke sementara ia menurunkan Jiraiya di depan sang gadis berambut coklat tersebut, yang masih menekan bahunya yang terluka dengan satu tangan. "Kita tinggalkan tempat ini dengan cepat. Aku tidak ingin memicu pertempuran lebih lagi untuk sementara. Misi nyaris berhasil dilaksanakan... tapi kita tidak berhasil membunuh 'gadis itu', dia salah satu objek utama."


"Masahiro Satoshi-sama!" terdengar teriakan Aigis yang masih berusaha memberikan pertolongan pertama pada Naoto. Masahiro berlari ke arah mereka, ia telah melepas masker yang dikenakannya. Gas beracun di area itu telah menipis dan hilang tertiup angin, tetapi api masih berkobar sementara petugas pemadam kebakaran telah berdatangan masih berusaha memadamkan api. Sederetan WCM berbaris rapi di depan sekolah, dengan beberapa prajurit Letzvetrie yang bersenjata.

Masahiro berlutut di depan Naoto. Gadis itu masih sadar, tetapi tampaknya terlalu lemah untuk bergerak atau berbicara. Kedua pergelangan kaki dan bahu kanan sang gadis terluka dan telah diperban oleh Aigis—luka tembakan, Masahiro menebaknya. "Aku masih berusaha menghentikan pendarahannya... kita harus bergegas..." Aigis berkata.

"Masahiro-sama! Ada tiga WPM misterius di dekat kita! Silahkan berikan perintah anda pada kami apa yang harus kami lakukan!" teriak salah satu prajurit bersenjata.

"Ma-Masahiro... Satoshi...sama..." suara Naoto tiba-tiba memotong kata-kata yang hampir dilontarkan oleh Masahiro. Pria itu menolehkan kepala pada gadis itu, yang masih terluka parah dan berbaring di pangkuan Aigis. "Tolong... jangan..." Naoto berusaha berbicara, gadis itu kemudian berbisik pelan, dan Masahiro mengangguk mengerti. Pria itu kemudian mengalihkan pandangannya pada para prajurit.

"Dengarkan aku!" Masahiro bersuara lantang, "Jangan serang mereka!"


"Huft... aku benar-benar lelah..." Junpei memijat bahunya. "WCM-WCM itu tidak menyerang kita... sepertinya mereka memberikan tanda positif di mataku... haha..." lanjut pemuda itu. Ia kemudian memperhatikan layar lebar di hadapannya yang menampilkan WPM yang tidak asing terbang di dekatnya sekarang. Api masih berkobar di bawahnya. "Oh hei... itu Kanji..."

"Junpei... sudah berakhir. Penyerangan di kerajaan juga sudah mereda. Seluruh prajurit Verstannia mundur. Tugas kita selesai untuk misi ini." Terdengar suara Kanji yang memasuki alat komunikasi mereka.

"Woohoo..." Junpei berusaha terdengar gembira, tetapi ia terlalu lelah. "Heeei... di mana Souji...?" tanya Junpei dengan suaranya yang seperti menunjukkan ia akan pingsan kapan saja.

"Dia bersamaku sekarang. Ayo tinggalkan tempat ini..." Kanji menjawab.

"Ide bagus..." Chie menimpali, "aku merasa tubuhku benar-benar butuh istirahat sekarang..."

Ketiga WPM itu mulai terbang keluar gerbang sekolah. Keempat orang di dalam mesin raksasa itu tidak melihat tanda-tanda prajurit Letzvetrie akan menyerang. Sederetan WCM itu diam pada tempatnya seperti tidak melihat mereka. Souji, di dalam Take-Mikazuchi, melihat pria berwibawa yang menyelamatkan Naoto barusan berdiri di antara para prajurit. Ia tampak seperti bersiap memberi komando.

Ketika mereka telah terbang melewati area sekolah dan berjarak cukup jauh dan tinggi dari mereka, pria itu berteriak memberi komando pada para prajurit, dan Souji melihat para prajurit, termasuk Aigis dan pria itu sendiri memberikan tanda hormat pada mereka—tangan kanan diangkat di sebelah pelipis. Souji dapat mendengar suara Junpei tertawa kecil.

"Heh... sepertinya Letzvetrie tidak se'keparat' yang kuduga. Setidaknya mereka tahu berterima kasih." Junpei tertawa puas.

Souji dapat melihat Naoto dari kamera dalam Take-Mikazuchi. Gadis itu terduduk lemah, dibantu oleh salah satu prajurit. Luka-luka tembakan dari Souji telah diobati, walaupun sang gadis masih harus menjalani operasi nanti. Hati kecil Souji merasa sangat lega Naoto berhasil diselamatkan.

"Hei..." terdengar suara Kanji di dekat Souji. Pemuda itu menolehkan kepalanya pada pria berwajah seperti preman yang duduk di kursi pilot di sampingnya, "gadis itu... yang berambut biru gelap—yang terluka... kau tahu siapa namanya?"

Souji sedikit bingung dengan pertanyaan Kanji. Mengapa tiba-tiba Kanji menanyakan hal itu? Dan mengapa Kanji memperhatikan gadis itu—bukan yang lain? Aigis misalnya...

"...Dia... Shirogane Naoto." Souji memberitahu. Sesaat, Souji dapat melihat Kanji nyaris terlompat dari kursi pilotnya. Pemuda itu melihat matanya yang membelalak lebar.

"A-apa? Naoto-chan?" Kanji bertanya tidak percaya. Souji tampak lebih bingung sekarang.

"H-ha? 'Naoto-chan'? Tunggu—kau mengenalnya?" Souji ikut terkejut.

"Dia..." Kanji terdiam sejenak, ia menghindari tatapan Souji, "tidak mungkin—tidak... itu mustahil," Kanji sepertinya berbicara pada dirinya sendiri, "Maaf, lupakan saja, Souji. Aku... salah orang, kurasa."

Souji terdiam, sementara pikirannya terus bertanya-tanya, 'Jadi benar Kanji mengenal gadis itu? Tapi siapa dia...? Cih, semua ini membingungkan...' Souji menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Hei guys..." terdengar suara Chie di dekat mereka, "barang-barang kalian sudah dibawa? Atau masih tertinggal di penginapan?"

"Eh...? Ya, benar juga..." Kanji baru teringat sekarang, begitu juga dengan Souji.

"Kuharap kita tidak tertangkap dan ketahuan dengan ID card palsu kita..." Souji berkata pelan, "Dan kalau kuingat-ingat, sepertinya ID card palsu milikku disita oleh petugas keamanan sekolah tadi. Baiklah Kanji-san, sepertinya kita harus kembali sebentar ke penginapan..."

"Jadi kami pulang lebih dulu? Oh baiklah, kerja bagus, guys..." terdengar suara Junpei, "Walaupun harus kuakui... misi pertama kita gagal."


"...Masahiro Satoshi-sama..." Naoto bersuara pelan, ketika gadis itu menyadari ia tengah digendong oleh Masahiro. Gadis itu mengistirahatkan tubuhnya di punggung sang panglima perang yang telah melepas jubahnya, "maafkan aku... aku kelepasan... dan... membunuh dua orang..."

"...Begitu...?" Masahiro tersenyum pahit mendengar pernyataan sang gadis yang tengah digendongnya seperti menggendong anak kecil. "Tidak apa-apa... kau tidak mampu menahan hasrat itu... itu bukan salahmu."

"Itu salahku..." Naoto membalas lemah, gadis itu sedikit menolehkan kepalanya ke belakang mereka. Aigis berjalan mengikuti mereka, dengan para prajurit di belakangnya dan beberapa WCM yang juga berjalan pelan. Tetapi fokus penglihatan Naoto terletak pada area sekolah yang semakin menjauh dari pandangan, dengan api yang masih berkobar kecil—petugas pemadam kebakaran berhasil memadamkan sebagian besar api. Gadis itu memejamkan matanya, kemudian melemaskan kepalanya di pundak Masahiro.

"Akihiko-sama dan Mitsuru-sama akan terkejut melihatmu terluka seperti ini... bertahanlah, kau akan menjalani operasi setelah sampai di kerajaan. Peluru-peluru itu masih bersarang di tubuhmu." Masahiro berkata pelan.

"Ya... aku tidak apa-apa... Kau tidak perlu terlalu terburu-buru. Aku... lebih kuat." Gadis itu menjawab, "Perlakukan aku seperti aku hanya terluka di satu pergelangan kaki."

"Ya... memang begitulah yang kulakukan sekarang." Masahiro tersenyum.

"...Sayang sekali... sekolah ini..." Naoto berbisik pelan, ia tampak sangat sedih, dan Masahiro dapat merasakan beberapa butir air mata jernih mulai membasahi pundaknya, "aku... aku mencintai sekolah ini..." Naoto berbisik pelan.


A/N: pa-panjang... ya? padahal gw-saya (=_=) udah men-delete beberapa scene" yang menurut saya (mungkin) kurang penting, biar ga terlalu panjang.. lalu apa alurnya terlalu cepat dan terkesan nge-rush? mengkemas -?- cerita sampe sini dalam satu chapter kadang" malahan bikin cerita jadi terkesan nge'rush' :'D tapi semoga ngga... kalo iya, maaf.. -ditabok-

Lalu, Masahiro Satoshi itu... walopun nama 'Masahiro' itu sama kayak kakeknya Naoto di fic saya yang laen, dia bukan kakeknya nao... anggep aja namanya kebetulan sama =)) (bilang aja ga kreatif mikir nama) dia panglima perang yang muncul di chapter 5 :) yang ngomong sama aki dan melaporkan soal kekacauan di luar kerajaan... (yang baca juga udah tau ya?) Masahiro berarti 'Justice prospers' dan Satoshi berarti 'clear-thinking, quick-witted, wise' (terima kasih untuk sumber informasi ini... di... w lupa websitenya (_ _") *plak* ada di internet...)

Terus... saya tau chapter ini banyak kekurangan... (kayak biasa) dan detail dan deskripsi... semakin lama semakin sedikit (w takut kepanjangan)... jadinya yah... :) yah... yah... gitu deh *plak* kalo ada detail yang gajelas (karena penjelasan w yang mungkin terlalu nge'rush' boleh ditanya :)

Thanks for reading until this chapter~ terima kasih banyak untuk reviewer: Kuro, NeeNao, toganeshiro-chan, Machine Emperor Wisel Infinity, heylalaa~ XDD review" kalian membakar -?- semangat saya lebih lagi dalam menulis fic ini x)

Ehm... mohon reviewnya~ :D boleh sampaikan saran, kritik, komentar, pertanyaan, dan kawan"nya lah -ditimpuk- lewat tombol di bawah :)

Till the next chap! :)

Best Regards,

Snow Jou