Disclaimer: Persona 3 & Persona 4 owned by ATLUS


Capell City, Letzvetrian Empire

"Cuaca mendung seperti biasa... aku berpikir, mengapa selama kejadian itu, gerimis sama sekali tidak turun?" ujar Amagi Yukiko pelan, sementara sepasang mata hitam kelam anggunnya menerawang keluar jendela. Wanita berparas cantik itu tertawa kecil, "Mungkin tanah kita sendiri juga tidak memihak kita..."

"Itu... tidak logis, Yukiko-san..." jawab seuntaian kata dari Shirogane Naoto. Yukiko mengalihkan pandangannya pada sang gadis berambut biru, yang terduduk di atas ranjang. Yukiko dapat melihat perban putih yang masih membungkus bagian bahu dan kedua pergelangan kaki gadis itu. Gaun tidur putih menutupi tubuhnya. Naoto telah selesai menjalani operasi beberapa hari yang lalu. Peluru-peluru yang ditembakkan Seta Souji pada tubuh gadis itu menancap cukup dalam, tetapi berhasil diatasi. Yukiko tersenyum.

"Bagaimana keadaanmu, Naoto-chan? Masih terasa sakit?" Yukiko bertanya lembut, yang dibalas dengan anggukan pelan dari Naoto.

"Sakit... sedikit. Tapi kurasa aku sudah tidak apa-apa. Aku belum bisa berjalan... sayangnya." Naoto terdiam sejenak. "Yukiko-san, bagaimana... dengan Koheitlich High? Apa Akihiko-sama memutuskan sesuatu...?" Naoto tampak khawatir, ia memainkan jari-jarinya dalam kegelisahan.

"Bergembiralah. Akihiko-sama memutuskan untuk membangunnya kembali. Selama proses pembangunan itu, apa yang akan kau lakukan, Naoto-chan? Mitsuru-sama memberimu kebebasan." Yukiko tersenyum lembut. Tetapi Naoto tampak tidak terlalu gembira mendengar berita tersebut. Gadis itu sedikit menundukkan kepala, memperhatikan kedua kakinya yang diperban.

"Walaupun dibangun kembali..." Naoto bersuara pelan, "...mereka... murid-murid—teman-temanku tidak akan kembali..."

Yukiko mengalihkan perhatiannya kembali ke jendela. "Kau harus selalu bersiap untuk perubahan... Naoto-chan..."

"...Semua ini berlangsung terlalu cepat... kehilangan mereka... ini seperti..." Naoto terdiam sejenak, ia menggelengkan kepalanya perlahan, "maaf... lupakan saja. Aku... aku tidak ingin pindah ke sekolah lain."

"Jadi kau memutuskan untuk diam di kerajaan?" Yukiko bertanya, memperhatikan jendela yang mulai buram dan dibasahi gerimis dari luar. Naoto mengangguk menjawab pertanyaan Yukiko. Sepasang mata safir berkilau perak itu menatap bola mata hitam indah dari Yukiko. Naoto tampak berpikir.

"...Yukiko-san, bolehkah aku pergi ke sekolah hari ini? Maksudku—aku ingin melihat keadaannya. Oh—tapi, aku bisa berjalan dengan tongkatku..." Naoto berkata ragu-ragu. Yukiko mengangguk mengijinkan.

"Kau tidak perlu berjalan sendiri, duduklah di kursi roda. Aku akan mendorongnya." Yukiko menawarkan dengan senyuman tulus, yang dibalas dengan senyum kecil penuh terima kasih oleh Naoto.


Liebe und Rache

Chapter 8

Illusion Girl


UFoND base, Training ground

Arena latihan itu dipenuhi oleh bunyi mesin tempur. Hermes, yang dikendalikan oleh Iori Junpei, melaju kencang ke arah War Combat Machine type SS0021 yang dikendalikan oleh Seta Souji. Pemuda bertopi baseball itu menembakkan agi—bola api kecil ke arah WCM di hadapannya. Souji tidak menghindar, melainkan menembak bola api itu dengan senapan raksasa di kedua lengan WCM. Ledakan cukup kencang dihasilkan oleh bola api dengan tembakan api yang saling bertemu. Souji bersyukur Shinjiro bersedia meminjamkan WCM setipe untuk sementara—sementara, yang berarti mungkin Souji harus mengeluarkan uang sendiri untuk mendapatkan WCM baru.

"Woohoo! Harus kuakui, kemampuanmu meningkat cukup baik, Souji!" Junpei memuji dari dalam Hermes, yang dibalas dengan senyuman tipis dari pemuda itu.

"Terima kasih, Junpei, tapi kau masih jauh lebih kuat." Souji membalas, sementara ia mengencangkan genggamannya pada satu tuas, kemudian menarik tuas tersebut. Misil-misil kecil—seukuran sepertiga kali misil Hermes terbang melaju ke arah lawannya. Junpei menghancurkan misil-misil tersebut dengan agi sebelum benda itu menyentuh War Persona Mecha miliknya. Junpei tertawa kecil.

"Heh, tentu saja. Kau tidak akan bisa mengalahkanku, I'm Junpei da Man." Pemuda bertopi itu terhibur dengan pujiannya untuk diri sendiri.

"Yah, kau memang lelaki." Souji tertawa kecil. Junpei mendengus kesal. Souji telah bersiap menyambut serangan Hermes, tetapi gerakan Hermes terhenti setelah WPM itu mulai terbang melaju ke arah Souji.

"Hei..." suara Junpei terdengar, "Shinjiro-san memanggilmu... aku diberitahu lewat alat komunikasi Hermes."


UFoND base

"Kau memanggilku, Shinjiro-san?" Souji bertanya. Ia telah berdiri di ruangan yang sama tempat Shinjiro memberikan misi—atau lebih tepatnya, liburan mereka. Souji dapat melihat dua orang—Shinjiro dan seorang gadis berambut hijau kebiruan sepanjang bahu yang ia kenali sebagai Yamagishi Fuuka. Gadis itu mengenakan jas lab putih di tubuhnya. Bola mata sang gadis yang berwarna coklat keabuan menatap Souji dengan penuh kelembutan. Shinjiro mengangkat kepalanya dan memperhatikan Souji.

"Aku memanggilmu kemari untuk... membicarakan sesuatu..." Shinjiro berkata pelan, ia menatap Souji lebih dalam, "Pertama-tama, bisa kau jelaskan mengapa WCM yang kami berikan untukmu hancur dalam hitungan detik?"

"Itu... um..." Souji tampak ragu sejenak, "WCM milik Letzvetrie menghancurkannya—tepat sebelum aku masuk ke mesin itu. Aku menyembunyikannya dalam sebuah hutan kecil dekat sekolah di balik pohon-pohon. Dan ketika aku berlari ke tempat aku menyembunyikan WCM itu—yeah, tiga tembakan laser merah misterius meledakkannya." Souji bercerita. Shinjiro tampak berpikir sejenak, kemudian ia menghela napas.

"Baiklah... kuterima alasan itu, untuk sementara." Shinjiro mengangguk, "Kedua, apa benar kau bertemu dengan gadis itu—Shirogane Naoto?"

Souji mengangkat satu alisnya ketika ia mendengar ini. Naoto? Ada apa dengan gadis itu? Tidak hanya Kanji, Shinjiro juga? Souji mengangguk pelan, "Ya." Pemuda itu menjawab singkat.

"Kanji yang menginformasikan hal ini padaku, bahwa kau bertemu dengannya." Shinjiro terdiam sejenak, ia kemudian mengalihkan pandangannya pada gadis di sampingnya, "Fuuka."

Yamagishi Fuuka mengangguk mengerti, ia kemudian berjalan ke arah Souji dan menyerahkan secarik kertas seukuran folio ke arahnya. Souji terdiam sejenak sebelum ia meraih benda itu dari tangan Fuuka, kemudian melihat isinya. Souji melihat sebuah foto di kertas itu—di-print dari komputer, sepertinya. "Fuuka menemukannya di internet, di sebuah website tidak ternama, tetapi ada yang memasang foto itu." Terdengar suara Shinjiro, dan Souji memicingkan matanya.

Pada foto tersebut, terpampang sebuah tembok hitam keabuan dari batu dengan coretan-coretan grafiti anak kecil—itu saja. Tetapi yang menarik perhatian Souji adalah coretan-coretan tersebut, yang ditulis bukan dengan kapur atau batu atau apapun, melainkan cairan yang Souji yakini adalah darah—atau mungkin cat merah? Tulisan itu tidak terlalu besar—cukup besar sebenarnya, tetapi tidak rapi ataupun tinggi dari permukaan tanah—setidaknya dalam jarak batas jangkauan anak-anak. Souji memperhatikan tulisan itu.

'Wo bist du (Where are you)?' adalah tulisan paling besar dari coretan lainnya. Tulisan lain—yang juga ditulis dengan cat merah (atau darah?) membentuk serangkaian huruf 'Ich warte auf Sie (I'm waiting for you)'. Tulisan-tulisan lain juga ditulis dengan material yang sama, 'Ich habe acht Menschen getötet (I've killed eight people)', 'Warum kommst du nicht (Why don't you come)?', 'Sind Sie wütend (Are you angry)?', 'Es tut mir leid (I'm sorry)'. Souji mengerutkan dahi ketika ia melihat tulisan-tulisan tersebut, 'Bitte verlass mich nicht (Please don't leave me)', 'Ich habe Angst (I'm scared)'.

Pemuda itu terdiam, ia sulit mempercayai penglihatannya ketika ia melihat kata-kata terakhir, 'Ihre kleine Puppe (your little doll)', 'Naoto'.

"Foto itu diambil..." terdengar suara Fuuka di dekat Souji, "tidak lama setelah seseorang menemukan delapan mayat bersimbah darah bergelimpangan di permukaan tanah depan tembok itu, tahun 2043."

"Dan kau boleh menyimpan foto itu..." Shinjiro menimpali. Souji hanya terdiam. Mungkinkah 'Naoto' di foto ini adalah Shirogane Naoto yang ia temui beberapa hari lalu? Tahun 2043... sementara Naoto sekarang adalah murid kelas satu Koheitlich High, berarti sekitar usia enam belas tahun—sepuluh tahun lalu... enam tahun? Gadis kecil enam tahun membunuh delapan orang? Hal tersebut tidak terdengar logis di otak Souji. Pemuda itu menggelengkan kepala. Mungkin saja orang yang berbeda—walaupun grafiti itu ditulis dengan tulisan seperti anak kecil.

Sebelum Souji sempat membuka mulutnya untuk bertanya, suara Shinjiro terlebih dahulu memutus kalimat yang akan Souji lontarkan, "Hal ketiga..." pria dengan topi musim dingin itu terdiam sejenak, "aku akan memberitahumu... bahwa hari kau akan menjalankan ujian untuk menilai potensi dalam dirimu—kelayakanmu menggunakan WPM."


Letzvetrie, Capell city, Koheitlich High

Shirogane Naoto masih terpaku pada apa yang dilihatnya. Sekolah yang dicintainya sekarang tidak lebih dari reruntuhan hitam belaka. Kayu-kayu hitam—bercak darah di tanah hingga tembok, pepohonan dan daun-daun gosong dan mati. Mayat-mayat manusia telah dibersihkan dari tempat itu, tetapi masih menyisakan banyak sekali bercak-bercak darah. Naoto memejamkan matanya sejenak ketika ia melihat satu mayat gosong manusia yang ia kenali sebelumnya—senior yang membimbing Naoto untuk music performance di festival kebudayaan beberapa hari lalu—diangkat oleh petugas dan dibawa dengan ambulance. Beberapa petugas lainnya masih mencari mayat-mayat manusia yang mungkin tertimbun reruntuhan.

Naoto melemaskan tubuhnya pada kursi roda. Ia mengangkat kepalanya dan menatap langit mendung yang tengah menumpahkan rintik hujan ringan. Gadis itu berharap hujan turun sedikit lebih deras, jadi ia bisa menangis tanpa ada yang menyadari. Yukiko, yang berdiri di belakang kursi roda, memeluk leher dan bahu gadis itu dengan lembut. Yukiko berbisik pelan, berusaha menghibur sang gadis berambut biru gelap yang tidak menyadari bahwa dirinya tengah menangis.

"Kau ingin kembali ke kerajaan? Melihat keadaan sekolah ini terlalu lama mungkin dapat membuatmu semakin depresi..." Yukiko menyarankan dengan berbisik lembut. Tetapi Naoto menggelengkan kepalanya.

"Tidak—aku... ingin berada di sini lebih lama..." Naoto menjawab. Yukiko melepaskan pelukannya, kemudian mendorong kursi roda itu pelan dan mulai menelusuri jalan menuju gedung—yang berwujud reruntuhan sekarang. Naoto terdiam ketika ia melihat tempat air mancur di tengah jalan berukiran itu telah hancur dan terbelah. Air tidak lagi dihasilkan. Gadis itu tersenyum pahit.

"...Aku ingat... air mancur ini—Senpai yang mengukirnya sendiri sewaktu aku kelas delapan. Dia hebat—dan bangga akan karyanya. Senpai memang luar biasa..." gadis itu tertawa pahit, "sayang sekali ia tidak ada lagi di dunia ini. Aku akan selalu menghormati dirinya." Naoto terdiam sejenak, ia kemudian mengangkat tangan kiri dan menyentuh pipinya. Ia tersenyum tipis, "Ah... sejak kapan... aku menangis...?" gadis itu bertanya pelan, kemudian berusaha menghapus air matanya dengan tangan kiri. "Menangis seperti ini... memalukan..."

"Sama sekali tidak..." Yukiko membalas, ia memperhatikan reruntuhan itu. Ekspresinya juga menunjukkan kesedihan, "lagipula, kita perempuan. Laki-laki bebas menangis, apalagi perempuan?"

"Itu... sedikit merendahkan perempuan..." Naoto menjawab agak dingin, tetapi ekspresinya melembut, "...maafkan aku. Rasanya... pikiranku kacau. Kau sangat baik, Yukiko-san. Aku tidak berhak menerima kebaikan kalian, tapi... terima kasih..."

Yukiko tersenyum pada Naoto, "Kita kembali ke kerajaan, oke? Naoto-chan?"

Naoto membalas dengan anggukan, dan ucapan terima kasih yang sungguh-sungguh dari dalam lubuk hatinya.


"Tes pertama adalah tes gelombang otak. Souji-kun, berbaringlah di meja operasi itu." Fuuka menginstruksikan. Souji dan Fuuka telah berada di dalam salah satu ruangan markas rahasia UFoND—yang adalah laboratorium, sekaligus ruang operasi dan penelitian. Souji menolehkan kepala ke arah yang ditunjukkan Fuuka, melihat sebuah meja putih... tanpa alas, cukup menyedihkan rasanya. Souji berjalan ke arah meja tersebut dan mendapati keempat sisi meja dilengkapi dengan rantai pengikat. Pemuda itu tersenyum tipis.

"Wow... rantai dan meja operasi... sepertinya mengerikan." Pemuda itu tertawa kecil.

"Aku yakin kau tidak membutuhkan itu, Souji-kun. Tetapi benda seperti itu dibutuhkan untuk orang seperti Junpei," Fuuka ikut tertawa kecil, "kami tidak membius 'pasien' ketika melakukan operasi tertentu... dan tes gelombang otak ini tidak membutuhkan obat bius. Tidak menyakitkan dan memang orang yang dites harus dalam keadaan sadar."

"Baiklah, jadi apa yang harus kulakukan?" Souji bertanya.

"Cukup berbaring dengan tenang di atas meja itu... dan aku akan mengurus semuanya." Fuuka tersenyum lembut. Souji hanya mengangguk perlahan dan mulai membaringkan tubuhnya di atas meja. Sinar lampu lab itu benar-benar menyilaukan... entah kenapa. Permukaan meja tersebut keras—sudah dapat diduga. Tiba-tiba, pandangan Souji seperti terhalangi dengan cahaya di sekitar matanya yang berwujud seperti hologram—berwarna-warni, warna-warna cerah yang membuat kepalanya pusing. "Jangan bergerak dari tempatmu, dan jangan pejamkan matamu. Terus perhatikan cahaya itu." Souji mendengar Fuuka berbicara.

Cahaya itu benar-benar buruk. Cukup menyilaukan dan warna-warna cerah itu—kuning terang, biru terang, merah terang, hijau terang—warna apapun yang terang, saling berpadu dan menjadi warna yang tidak keruan—tidak seindah pelangi... dan di atas semua itu, membuat kepala pemuda itu sedikit berkunang-kunang.

Souji beranggapan tes gelombang otak ini cukup menyiksa. Jika pemuda itu memperkirakan, sudah sekitar dua puluh menit ia berbaring tanpa memejamkan mata (kecuali untuk berkedip sesaat), dan cahaya-cahaya itu semakin lama semakin membuatnya ingin pingsan kapan saja.

"Selesai. Kau boleh memejamkan mata untuk beberapa menit. Kau pasti pusing, ya?" suara Fuuka terdengar—suara yang bagaikan anugerah. Souji tidak menunggu-nunggu apapun lagi, pemuda itu langsung memejamkan kedua matanya dan masih dapat merasakan cahaya-cahaya terang tidak keruan itu berputar-putar di tengah kegelapan penglihatannya.

Souji mulai merasa nyaman. Cahaya itu telah pudar dari penglihatannya setelah beberapa lama. Tetapi tidak lama setelah itu suara Fuuka kembali terdengar, "Kita langsung jalankan tes kedua."

Oh tidak... pemuda itu masih ingin beristirahat. Mengapa cepat sekali?

"Berdirilah, Souji-kun."

Souji membuka matanya perlahan, tidak lagi melihat cahaya-cahaya terang memusingkan itu. Ia terduduk di atas meja dan segera berdiri. Kepalanya terasa sakit. Pemuda itu bertanya sementara satu tangannya menekan-nekan dahi dan kedua mata terpejam, "Apa yang lain juga... langsung menjalankan tes kedua tanpa ada jeda lebih lama?"

"Ya. Jangan membuang terlalu banyak waktu." Itulah jawaban Fuuka. Baiklah, Souji hanya bisa menuruti. Fuuka, dengan senyuman masih menghias bibirnya, menunjuk ke salah satu pintu di lab tersebut. "Masuklah ke dalam ruangan itu," ucap Fuuka. Souji mengikuti arah telunjuk Fuuka dan melihat sebuah pintu. Pemuda itu berniat melangkah, ketika suara Fuuka menghentikannya.

"Souji-kun, gunakan ini..." Fuuka menyodorkan sebuah benda keras berwarna keemasan yang berbentuk seperti penutup mata. Souji mengangkat alisnya.

"Ini... memory visor?" Souji bertanya ragu, dan dibalas dengan anggukan dari Fuuka.

"Gunakan ini dalam ruangan itu."

Dan Souji tahu ia tidak menyukai tes kedua—tidak akan menyukainya.


Souji telah berada di ruangan tempat ia akan menjalani tes kedua. Tidak ada apapun di ruangan yang cukup sempit itu—seukuran kamar standard anak kecil. Lantai dan tembok serba putih dengan lampu yang juga terang. Souji mulai merasa kelelahan dengan cahaya terang. Satu tangan pemuda itu menggenggam penutup mata keemasan—memory visor.

Setahu Souji, memory visor adalah alat yang ketika dikenakan, sang pengguna akan melihat kembali memori masa lalunya. Seburuk apapun kenangan masa lalu yang ia lihat, tidak akan mempengaruhi ataupun dipengaruhi olehnya. Jika ia melihat api, maka api tersebut tidak akan membakar tubuhnya, ataupun tidak akan terasa panas. Dan apa yang ia lihat juga tidak akan bereaksi atas tindakan Souji. Segala yang ia lihat nanti hanya ilusi—hanya ilusi. Karena itu Seta Souji berusaha menenangkan diri. Apa yang harus ia lakukan hanyalah melihat. Anggap saja seperti menonton sebuah film—film tentang dirinya. Menarik... bukan? Berapa banyak orang yang ingin masuk televisi? Walaupun untuk 'televisi' satu ini penontonnya hanya satu: diri kita sendiri.

Tetapi melihat kembali masa lalu—kematian ayah dan ibunya, akan terasa cukup menyakitkan. Terkadang Souji merasa kesal dengan keberadaan manusia-manusia jenius yang menciptakan benda semacam ini... maksudnya, untuk apa? Apa WPM membutuhkan syarat semacam ini—ingatan masa lalu?

Pemuda itu menarik napas, dan dapat mendengar Fuuka berbicara padanya melalui speaker berukuran kecil di sudut ruangan. "Kau siap, Souji-kun? Jangan pejamkan matamu, sama seperti tadi—seburuk apapun ilusi yang kau lihat. Tugasmu hanya melihat, tidak bertindak apa-apa lagi. Kau paham, Souji-kun?"

Souji mengangguk pelan. Ia telah menyiapkan hatinya. Ketika Fuuka memberikan aba-aba dari speaker kecil, Seta Souji memejamkan matanya sejenak sebelum ia meletakkan memory visor tersebut di sekitar matanya, menghalangi penglihatan sang pemuda akan ruangan putih tempat ia berada sekarang—dan mengantarkan pemuda itu ke dunia penglihatan masa lalu.


Souji's vision, memory visor

Souji membuka kedua matanya perlahan. Pemuda itu menyadari ia berada di depan sebuah... gubuk kecil dekat hutan. Tidak, sesungguhnya ia masih berada di UFoND base, tetapi ia merasa seakan-akan ia berada di dunia luar, meskipun hembusan angin yang menerpa pepohonan di penglihatannya itu sama sekali tidak menerpa dirinya. Segalanya hanya ilusi—tetapi... ini lebih terkesan nyata dibanding menonton film... yeah.

Pemuda itu memperhatikan gubuk kecil di depannya, yang jelas sangat Souji ingat. Gubuk itu adalah tempat ia tinggal bersama ayahnya setelah peristiwa itu—pengeboman terhadap kota kecilnya. Langit berwarna biru gelap, matahari tengah membaringkan tubuh untuk beristirahat, bulan hendak menggantung dirinya untuk menyinari tanah bumi. Tidak terjadi apa-apa selama beberapa menit... dan pemuda itu juga tidak bergerak dari tempatnya (bergerak pun juga percuma... ilusi itu tidak akan berpengaruh terhadap gerakannya).

"Ayah! Aku pulang membawa buah-buahan untuk makan malam!"

Souji tersentak kaget terhadap suara itu—suara yang sangat mirip dengan dirinya sewaktu kecil, dan memang dugaan sang pemuda tidak salah ketika ia menolehkan kepalanya ke belakang, mendapati Souji kecil—berusia tiga belas tahun, berlari ke arahnya dengan wajah riang dengan beberapa buah apel dan sebuah pisang didekap di kedua lengannya. Souji nyaris refleks menghindar ketika ia melihat dirinya sendiri (yang lebih kecil dan muda) berlari lurus ke arahnya tanpa ada niatan berbelok. Tetapi sesuai dugaan sang pemuda, Souji kecil berlari menembus tubuhnya.

Ilusi... yeah. Ingat itu selalu—segalanya hanya ilusi.

Kedua bola mata perak Souji mengikuti gerakan anak kecil berambut kelabu itu, yang menghambur masuk ke dalam gubuk. Souji ingat hari itu. Ia berteriak memanggil ayahnya (yang sesungguhnya percuma, sang ayah telah tuli), mereka makan buah-buahan itu bersama dengan tawa pada malam hari, dan saat itulah... prajurit Verstannia—sahabat sang ayah... datang ke gubuk mereka.

Selang lima belas menit kemudian, angin malam berhembus lebih kencang (meskipun Souji tidak merasakannya sama sekali), dan apa yang telah ditunggu sang pemuda tiba juga. Ia melihat pria itu—sahabat ayah... yang sayang sekali, wajahnya tidak terlihat jelas karena langit malam. Terkadang Souji kesal terhadap diri sendiri. Mengapa ia tidak mengingat wajah pembunuh ayah? Ingatannya samar-samar. Pria itu membawa senapan, dan pemuda itu tahu apa yang ia rencanakan.

Tanpa disadari oleh sang pemuda, Souji berlari ke arah pria tersebut, berniat menghentikannya (walaupun ia tahu—percuma). Souji mengangkat satu tangan dan berusaha meraih punggung pria tersebut... tetapi tangannya tembus begitu saja... ilusi.

Sang pria mengetuk pintu gubuk itu dengan hati-hati, dan Souji menggertakkan gigi ketika ia melihat ayahnya membuka pintu kayu kecil itu dari dalam. Ekspresi sang ayah terlihat gembira, tetapi tidak membutuhkan waktu lebih dari lima detik dan ekspresi pria itu—ayah Souji—berubah menjadi ketakutan... seperti melihat hantu. Dan sekali lagi Souji sangat ingin memejamkan matanya—karena untuk kedua kalinya, ia melihat sang ayah ditembak pada beberapa bagian tubuhnya, persis seperti apa yang ada di ingatannya. Ia melihat Souji kecil berlari ke samping tubuh ayahnya dan menangis keras. Pembunuh itu meninggalkan gubuk tanpa melakukan apa-apa pada Souji kecil. Souji segera menolehkan kepala untuk mengikuti gerakan sang pembunuh. Apakah ia memiliki kawan? Kemana sang pembunuh itu akan melangkah...?

Tetapi dalam sekejap mata, seketika Souji menolehkan kepalanya, apa yang dilihatnya bukanlah suasana daerah gubuk dekat hutan itu... melainkan kota kecilnya yang tengah terbakar—teriakan-teriakan minta tolong, kobaran api yang mengamuk, mayat-mayat bergelimpangan... peristiwa yang menimpa dirinya ketika ia berusia tujuh tahun. Souji benar-benar tidak menyukai tes kedua ini.

Ia mendapati dirinya berdiri di depan rumah kecil tempatnya tinggal. Rumah itu tengah terbakar, tetapi apa yang sulit dilihat Souji adalah bayangan sang ibu—ibu yang melahirkan Souji dan sangat dikasihinya—masih bergerak-gerak sementara tubuhnya terbakar. Sang ibu mengulurkan tangan dan menangis keras, memanggil nama Souji dan ayahnya. Souji mengangkat tangan dan mengulurkannya pada sang ibu, tetapi apa yang dilihatnya hanyalah ilusi. Souji tidak dapat menggapai tangan itu—tembus begitu saja, meskipun seharusnya mereka saling bersentuhan. Ia menarik kembali tangannya, dan berbisik pada Fuuka... bahwa sebentar saja, ia ingin memejamkan mata... setidaknya sampai sang ibu berhenti berteriak, terbaring tidak bernyawa dan tertimbun reruntuhan rumah kecil yang terbakar.

Sang pemuda menolehkan kepala ke arah lain. Jika ia tidak boleh memejamkan mata, mungkin sebaiknya ia melihat hal lain di sekitarnya—tanpa harus melihat penderitaan sang ibu, meskipun teriakan kesakitan wanita itu masih terdengar jelas di telinganya. Souji ingin sekali mencabut memory visor yang melingkar di sekitar matanya. Sampai kapan ia harus menggunakan benda penyiksa itu?

Apa yang dilihat Souji di sekitarnya tidak jauh berbeda—hanya kobaran api, teriakan penderitaan orang-orang, tubuh manusia yang terbakar (hidup ataupun mati), rumah-rumah dan gedung kecil yang mulai runtuh, dan... siluet hitam?

Perhatian Souji terfokus pada objek itu—siluet manusia—yang tengah berdiri di balik salah satu rumah yang terbakar. Siluet itu kemudian mulai bergerak, menghilang di balik kobaran api, dan secara refleks, Seta Souji mengejar siluet itu.


Letzvetrian Empire

"Sudah malam, Naoto-chan. Istirahatlah..." Yukiko tersenyum lembut ketika ia mengatakan ini. Naoto mengangguk pelan, kemudian mulai membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur—yang berada di dalam sebuah ruang kesehatan dalam kerajaan, dengan Amagi Yukiko sebagai seorang dokter yang dipercayakan untuk mengawasi kesehatan anggota kerajaan.

Naoto mulai memejamkan mata, tetapi gadis itu tahu ia tidak bisa tidur—mungkin hingga pagi merekah. Ia membuka lagi kedua matanya dan menatap langit-langit ruang kesehatan yang hanya diterangi oleh sinar rembulan. Yukiko menyadari hal ini, kemudian berjalan ke samping tempat tidur Naoto dan tersenyum penuh makna. "Ingin kubawakan Teddie kemari?" Yukiko bertanya pelan.

Paras manis sang gadis berambut biru seketika dihiasi oleh rona merah. Gadis itu terdiam sejenak, kemudian membuka mulutnya, "A-aku akan merepotkan..."

"Tidak apa-apa, kalau ada Teddie di sampingmu, kau pasti bisa tidur, kan?" Yukiko tertawa kecil. Naoto merasa wajahnya semakin panas.

"I-itu—terlalu... kekanak-kanakan... dan... feminin—" kalimat gadis itu terputus-putus.

"Oh... kekanak-kanakan dan feminin... jadi itu pendapatmu terhadap apa yang bisa Teddie lakukan untukmu?" Yukiko memalingkan wajahnya, ia tampak sedih dan terlihat serius.

"...Yu-Yukiko-san... bu-bukan... aku senang dengan keberadaan Teddie, sungguh. Ba..." Naoto terdiam sejenak, "ba-bawakan Teddie kemari... untukku... aku ingin tidur bersamanya..."

Yukiko tertawa, "Oh, Naoto-chan, kau benar-benar manis! Ahaha...ahahahaha~" wanita anggun itu mulai tertawa hingga berusaha menahan perutnya, "'tidur bersama'? Kau tahu berapa orang yang bisa salah sangka jika mendengar itu darimu! Srnk... ahahahaha~ kyahahaha~ Oh—yaah~ baiklah, jadilah anak manis dan tunggu di sini, aku akan membawakan Teddie untukmu~ ahahaha~"

Naoto mendesah pelan. Mengapa wanita secantik dan seanggun Amagi Yukiko memiliki kebiasaan tawa yang 'unik'? Jika dipikir-pikir, setiap manusia memang unik. Untungnya tidak ada anggota kerajaan yang akan merasa ketakutan mendengar suara tawa seperti milik Yukiko di kegelapan malam—mereka semua mengetahui kebiasaan dokter kepercayaan mereka.


Souji's vision, memory visor

Souji masih berusaha mengejar siluet misterius itu. Jaraknya dengan siluet itu cukup jauh dan membuat sang pemuda tidak dapat melihat siapa yang tengah ia kejar, apalagi di tengah kobaran api seperti ini. Sejauh ini mereka berlari menelusuri kota kecil Souji—dan berkali-kali pemuda itu melihat kenalan-kenalannya yang tidak lagi bernyawa dengan tubuh mereka yang gosong.

Tiba-tiba, suasana di sekitar Souji berubah. Bukan lagi kota kecil yang terbakar—tetapi suatu tempat indah yang ia telusuri selama perjalanannya di Letzvetrie—sebuah hutan kecil dengan daun-daun musim gugur. Masih dengan keindahan yang sama—daun-daun emas yang menari dan belaian angin yang tidak dapat dirasakan Souji.

Yang membuat Souji terkejut adalah siluet yang ia kejar masih berdiri jauh di depannya, meskipun suasana ia berada telah berganti. Souji berlari mengikuti siluet itu, menelusuri jalan setapak satu arah. Souji kembali mendengar bunyi itu—bunyi gesekan biola, dan jika pemuda itu tidak salah menebak, siluet yang tengah ia kejar sedang berlari ke arah tempat pohon besar dengan daun-daun emasnya yang tidak kering, berdiri di tengah hutan kecil itu dengan tinggi sekitar dua setengah kali pohon biasa.

Dan dugaan Souji bisa dikatakan tepat.

Ia berada di tempat itu—pohon raksasa dengan daun musim gugur yang hidup... tempat ia bertemu dengan Naoto. Siluet yang ia kejar sejak tadi telah berhenti tepat di bawah pohon itu. Kedua mata Souji melebar ketika ia melihat sosok siluet itu... yang adalah seorang anak kecil. Dari penampilan anak kecil itu, usianya mungkin tidak lebih dari lima tahun.

Anak itu mengenakan kaus putih tanpa lengan dengan celana pendek berwarna sama yang menutupi tidak sampai lututnya. Tetapi daripada itu, Souji sempat mengira bahwa anak kecil di hadapannya adalah Naoto. Rambut biru gelap pendeknya, tatapan mata safir berkilau perak yang tajam... anak kecil itu sangat mirip dengan Naoto, bahkan Souji merasa yakin dengan hal itu. Namun Souji merasa ada yang aneh—sesuatu yang terkesan janggal—bahwa... anak kecil di hadapannya tengah menatap ke arahnya.

Ilusi tidak akan dipengaruhi dengan keberadaan Souji... bukan?

Sesuatu yang sangat di luar dugaan Souji adalah... anak kecil itu membuka mulutnya, dan seakan berbicara padanya.

"Kau orang kesembilan..." anak kecil itu berkata pelan, matanya menatap Souji. Pemuda itu mengangkat satu alisnya. Apa anak kecil itu—yang jelas adalah ilusi, tengah berbicara padanya? "Karena itu... aku tidak akan membunuhmu... tidak perlu—delapan orang sudah cukup..."

"...Kau... berbicara padaku?" Souji bertanya untuk memastikan. Tidak mungkin ia dapat berinteraksi dengan apa yang ia lihat dalam memory visor. Tetapi tampaknya anak kecil itu membalikkan teori tersebut.

"Ya. Tidak ada orang lain selain dirimu... Onii-san." Anak kecil itu menjawab pelan. Souji mengerutkan dahinya.

'Onii-san'?

Anak kecil itu tampak ragu sejenak, "Oh... bukankah itu panggilan untuk orang yang lebih tua? Kau laki-laki, kan?"

Souji menelan ludah, "...Ya."

Apa sungguh anak ini berbicara padanya?

Daun-daun pohon raksasa di atas anak kecil itu mulai berguguran, dengan angin yang mulai berhembus. Souji tidak merasakan angin itu, tetapi...

"Jika aku membunuh delapan orang..."

Suara sang anak kecil memecah lamunan singkat pemuda itu. Ia kembali memfokuskan pandangan pada anak kecil berambut biru gelap di hadapannya—yang juga tengah menatap tepat ke arah mata pemuda itu. Anak kecil itu melanjutkan, "ayah akan memberiku kebebasan selama satu hari—dan boleh melakukan kegiatan sama seperti anak-anak lainnya. Bukankah itu menyenangkan?" anak kecil itu tersenyum, tiba-tiba ekspresinya terlihat gembira.

Souji mencoba menanggapinya sekali lagi, "Oh... yah... menyenangkan. Kebebasan... ya? Memangnya apa yang biasa ia lakukan kepadamu? Kau tidak bebas?" pemuda itu bertanya, merasa khawatir ia kelihatan seperti orang bodoh—bertanya pada ilusi yang dihasilkan memory visor. Tapi kalau dipikir-pikir... memory visor hanya menghasilkan ilusi tentang ingatan... bukan? Souji tidak ingat ia pernah bertemu bocah seperti yang ada di hadapannya sekarang.

"Ya, aku tidak bebas..." anak kecil itu berkata, ekspresinya berubah sedih.

Oh, benar-benar ditanggapi. Hebat, fenomena ajaib. Kecuali ada yang namanya suatu kebetulan beruntun... Souji bertanya sendiri dan anak itu berbicara sendiri, tetapi secara kebetulan seakan-akan pembicaraan mereka saling menyambung.

"...Ayah..." anak kecil itu kembali berbicara, "biasa merantaiku... memasangkan benda yang seperti ikat pinggang itu di sekitar mulutku. Aku tidak dapat berbicara, lidah dan mulutku tertahan. Itu sangat tidak menyenangkan..." anak kecil itu memalingkan pandangannya sejenak, "Ayah akan melepaskan aku jika sudah waktuku untuk bekerja—ayah akan terlihat senang jika aku membunuh. Jika aku berhasil membunuh delapan orang, ayah tidak akan merantaiku selama dua hari." Anak kecil itu tersenyum ketika ia menceritakan hal ini. Souji menelan ludah.

"Oh..." itulah jawaban singkat Souji. Ia kembali teringat pada foto yang diberikan Shinjiro padanya. Untuk memperoleh kepastian terakhir—"Siapa namamu?" itulah pertanyaan Souji, ingin melihat apakah sosok yang tercipta dari memory visor itu akan menanggapinya atau tidak, dan memastikan apakah apa yang ada di foto tersebut memang sesuai dengan dugaannya.

"Aku tidak tahu namaku..." anak kecil itu menjawab, tetapi ia kemudian melanjutkan, "orang lain biasa memanggilku... 'Na-o-to-chan'..." gadis itu menyebutkan nama panggilannya seperti sedang belajar membaca, "...Naoto-chan. Tetapi papa memanggilku 'Nao-chan'."

Baiklah. Dugaannya tidak salah. Bagus sekali. Souji benar-benar bingung dengan situasi yang tengah mengelilinginya sekarang. Apa sungguh ilusi dapat berinteraksi dengannya? Dan yang lebih parah, ia bahkan tidak ingat anak kecil ini memang berada dalam ingatannya. Siapapun yang menciptakan memory visor... entah berapa rahasia benda ini yang tidak diketahui orang-orang—atau setidaknya, Souji sendiri?

Souji melihat anak itu tiba-tiba melangkah mendekatinya. Anak itu berjalan pelan, dengan tatapan matanya yang tiba-tiba kosong dan terus menundukkan kepala ke tanah tempat ia melangkah. Sementara ia berjalan ke arah Souji, 'Naoto' kecil mulai bernyanyi, melantunkan serangkaian nada-nada halus. "Blut... Blut~ süßes Blut~" demikianlah nyanyian anak itu. Suara anak kecil itu terdengar manis, tetapi liriknya membuat keringat dingin membasahi tubuh sang pemuda. Anak itu mengangkat kepalanya dan menatap Souji dalam-dalam ketika ia telah berdiri dekat di depan Souji. Wajahnya mungil dan manis memang, tetapi tatapan itu seakan-akan menunjukkan kehausannya akan darah.

Senyuman tiba-tiba tersungging di bibir mungilnya. Pancaran matanya sungguh familiar—polos dan kekanakan, sementara ia tertawa kecil—tawa kekanakan itu, yang sangat mirip dengan Shirogane Naoto dalam peristiwa penyerangan dari Verstannia beberapa hari lalu. Anak itu tiba-tiba berbicara pelan, "Bersediakah kau berlutut di depanku? Jadi aku bisa melihat wajahmu lebih dekat."

Souji terdiam sesaat, kemudian menuruti anak itu. Pemuda itu berlutut hati-hati dan menyamakan tingginya dengan anak kecil—yang Souji yakini sekarang adalah anak perempuan (diperhatikan dari suara dan paras manisnya... kemiripan paras itu dengan Shirogane Naoto) di hadapannya. Rona merah mewarnai paras manis gadis kecil di hadapan Souji. Anak kecil itu kemudian mendekatkan wajahnya dengan Souji, sementara kedua tangannya ia sembunyikan di belakang tubuh mungilnya. Anak kecil itu berbisik pelan, "Ihr Blut... (darahmu)"

Souji mengerutkan dahinya, kemudian tersentak kaget ketika tangan kanan gadis kecil itu menggenggam dua jari tangan kirinya secara tiba-tiba—dua jari tangan Souji yang cukup besar untuk digenggam telapak tangan mungil gadis kecil itu. Apa yang paling sulit dipercaya Souji adalah ia dapat merasakan genggaman tangan itu—hangat, halus dan cukup kuat. Anak kecil itu berbisik pelan di telinga Souji. Pemuda itu dapat merasakan setiap hembusan napas anak kecil itu—yang seharusnya adalah ilusi, tetapi terasa begitu nyata. "Süß... (manis)" anak itu tertawa kecil, "süß und köstlich... (manis dan lezat)"

Sedikit terkejut dengan kata-kata sang gadis kecil, pemuda itu refleks menarik tangannya dari genggaman anak itu—agak terlalu keras dan kasar. Seketika, ekspresi keputusasaan terlihat dari paras mungil gadis kecil itu. Dan tanpa disangka sang pemuda, air mata mulai menggenang di pelupuk mata anak kecil itu. "Jangan..." 'Naoto' kecil terisak, "jangan tinggalkan aku... sendiri..."

"...Apa...?" Souji tampak kebingungan. Pemuda itu melihat gerimis mulai membasahi tanah itu dan anak kecil di hadapannya, tetapi tidak membasahi Souji. Tampaknya 'ilusi nyata' itu hanya gadis kecil ini. Entah kenapa, pemuda itu merasa ia perlu menghibur anak kecil yang tengah menangis di hadapannya, "Aku tidak meninggalkanmu..." Souji membalas, walaupun sedari tadi hatinya bertanya-tanya.

"Benarkah...?" gadis kecil itu bertanya untuk memastikan, isakan tangisnya terhenti. Souji hanya mengangguk, meskipun ia ragu. Apa yang ada di hadapannya hanya ilusi. Tidak perlu takut kau akan menyakitinya atau membunuhnya sekalipun. Gadis kecil ini tidak nyata. Hanya sesuatu yang dihasilkan memory visor. Souji sulit mempercayai betapa cepat ekspresi gadis kecil itu berubah. Ia tertawa kecil dengan wajahnya yang merona merah. Sebahagia itu...kah?

"Kalau begitu, bersediakah kau membagikan sedikit darahmu?" 'Naoto' kecil bertanya ceria. Souji ingin melepaskan memory visor ini sekarang juga. "Mungkin dengan orang kesembilan... ayah akan datang." Gadis kecil itu tersenyum. Dalam sekejap mata, tangan kanan anak kecil itu tiba-tiba telah memegang sebuah cutter—yang mirip dengan milik Naoto (Shirogane). Ia mulai tertawa ketika menusukkan cutter tersebut secara tiba-tiba di tangan kiri Souji. Pemuda itu tersentak kaget sekaligus meringis kesakitan. Darah mengalir keluar dari tangannya. Rasa sakitnya terasa begitu nyata. Souji khawatir ia tidak lagi menggunakan memory visor, melainkan apa yang ada di hadapannya memang nyata.

Pemuda itu menggertakkan giginya ketika ia melihat 'Naoto' kecil telah siap menusukkan cutter itu ke bagian lain tubuhnya—jantung. Tetapi sebelum ilusi keparat itu benar-benar membunuh Souji, sang pemuda refleks mencengkeram tangan kecil anak itu yang menggenggam cutter dengan sangat kuat, nyaris tanpa keraguan ia akan mematahkan pergelangan tangan gadis kecil itu. 'Naoto' kecil berteriak kesakitan dan butiran air mata jernih membasahi pipinya, sementara cutter itu terjatuh dari genggamannya dan menubruk permukaan tanah yang mulai basah.

"Pintar sekali kau mengenakan topeng manismu itu untuk membunuhku, 'Naoto-chan'?" Souji mendesis pelan. Rasanya lucu sekali—berbicara dengan ilusi. Semoga segala tindakan dan gerakan Souji tidak terlihat oleh Fuuka. Ia tidak ingin dianggap tidak waras. Souji kemudian meraih tangan kiri sang gadis kecil dan mencengkeram keduanya sangat kuat. Anak kecil itu menangis semakin keras, tetapi Souji tidak peduli. Gadis kecil di hadapannya hanya ilusi tidak berarti. Souji kemudian mendorong tubuh kecil anak itu dengan kasar menjauhinya, dan 'Naoto' kecil terjatuh di atas tanah dengan pergelangan tangan yang tampaknya telah dipatahkan oleh Souji.

"Sakit... sakit... tolong aku—papa..." gadis kecil itu terisak di atas tanah. Souji merasa bersalah sekarang. Tetapi bagaimanapun juga, untuk kesekian kalinya, Souji terus memberitahu dirinya bahwa anak kecil itu ilusi. Ilusi... ilusi... ilusi. Souji terus mengulang kata itu dalam otaknya. Ilusi... ilusi... ilu—

"Kau berbohong dan mengkhianatinya, eh? Souji-kun?"

Seuntaian suara yang familiar terdengar di telinga pemuda itu. Tidak mungkin...! Sial... kapan pemuda itu dapat melepas memory visor itu? Ketika Souji mengedipkan matanya, anak kecil itu telah hilang dari pandangan, meskipun pohon musim gugur hingga gerimis itu masih terlihat. Tetapi sepertinya ada seorang lagi yang tengah berdiri di belakangnya. Souji menolehkan kepalanya. Pemuda itu tidak salah ketika ia menebak suara siapa barusan.

Shirogane Naoto—sosok enam belas tahun itu—berdiri menatap Souji dengan sepasang mata safir tajamnya. Gadis itu mengenakan seragam sekolah, persis seperti yang ada di ingatan Souji, dan tengah tersenyum tipis. "Segalanya hanya omong kosong... biar kukatakan satu hal, Souji-kun..." gadis itu, yang juga adalah ilusi, menyeringai padanya, "bahwa aku sangat membencimu... tetapi juga menyukaimu... bukankah itu aneh?" Naoto tertawa kecil. Souji merasa ada yang aneh dengan gadis itu—bukan kalimatnya, tetapi bagaimana sang gadis memanggilnya.

'Souji-kun'?

"...Aku sungguh membencimu... rasanya aku tidak tahan untuk tidak membunuhmu... aku ingin membunuhmu." Naoto tertawa kecil—tawa itu lagi... hasrat membunuh. Gadis itu kemudian mengeluarkan revolver dari balik jaket sekolahnya dan mengarahkan senjata itu ke kepala pemuda itu. "Selamat tinggal... 'Sou-ji-kun'..."

Dan 'Shirogane Naoto' menarik pelatuk revolver itu.


"Argh!" Souji secara refleks melepaskan dan melemparkan memory visor tersebut hingga benda keemasan itu menabrak dinding putih di depannya. Souji merasa jantungnya berdegup dan napasnya berat. Ia memperhatikan sekelilingnya. Ia tengah berada di ruangan putih tempat ia melakukan tes kedua—UFoND base. Ia memeriksa tangan dan kepalanya. Tidak ada darah... tidak ada lubang. Pemuda itu mendesah lega, ketika suara Fuuka terdengar dari speaker kecil di ruangan itu.

"Souji-kun! Aku sudah mengatakan padamu, seburuk apapun penglihatan dalam memory visor, kau tidak perlu"

"Fuuka... aku bisa berinteraksi dengan ilusi itu..." Souji langsung membalas, ia kelihatan lelah.

"Eh? Tidak mungkin, Souji-kun. Apa yang kau lihat tidak akan dipengaruhi ataupun mempengaruhi dirimu, kau tahu?" suara Fuuka terdengar tidak percaya.

"Ya... itu memang benar. Tapi aku melihat... ada satu ilusi—seorang gadis kecil. Ia berbicara padaku dan aku bersentuhan dengannya. Rasanya terlalu nyata... sungguh." Souji menjelaskan sementara ia menyeka keringat yang mengucur di pelipisnya. Ternyata menggunakan memory visor dapat membuatnya sedikit lelah.

Tidak ada jawaban dari Fuuka. Souji mengangkat satu alisnya dalam kebingungan. Mengapa Fuuka diam saja? Tetapi selang sekitar dua menit kemudian, suara gadis pendiam dan pemalu itu kembali terdengar dari dalam speaker. "Sudah cukup, Souji-kun. Tes kedua selesai. Tes selanjutnya akan kuserahkan pada Shinjiro-san... dan akan dilaksanakan beberapa hari ke depan... keluarlah dari ruangan itu."

Souji tampak kebingungan sejenak. Apa Fuuka tidak menanggapi 'keluhan'nya? Mengapa memory visor itu terkesan begitu nyata atau—sudahlah. Pemuda itu berjalan keluar ruangan, sesuai apa yang dikatakan Fuuka. Ia perlu beristirahat sekarang, tubuhnya sangat merindukan permukaan ranjang empuk. Ia segera berjalan memasuki lab dan mendapati Fuuka masih berdiri di tempatnya.

"Bolehkah aku beristirahat sekarang, Fuuka?" Souji bertanya, dan Fuuka mengangguk.

"Istirahatlah. Anggota lainnya juga telah beristirahat di kamar mereka masing-masing. Ada yang ingin kubicarakan sedikit dengan Shinjiro-san tentang 'peristiwa' yang menimpamu hari ini—memory visor itu." Fuuka berkata dengan senyuman.

"Terima kasih untuk hari ini, Fuuka. Maaf merepotkan dan selamat tidur..." Souji tersenyum sopan pada gadis itu, kemudian berjalan keluar lab. Kedua mata peraknya mulai terasa berat dan ia menguap cukup lebar. Souji kembali teringat akan foto yang diberikan Shinjiro padanya. Pemuda itu mengeluarkan foto tersebut dari jaketnya dan memperhatikan apa yang terpampang di tempat itu. Dan pemuda itu kembali teringat pada Naoto—gadis kecil yang lahir dari ilusi.


Yukiko membuka matanya perlahan ketika ia mendengar hembusan napas yang tidak teratur dari gadis yang seharusnya tengah beristirahat di samping ranjangnya. Wanita anggun itu terduduk di atas ranjang dan mendapati Naoto masih terbaring di atas ranjang di samping gadis itu, tetapi napasnya terengah-engah.

"Naoto-chan, apa 'penyakit' itu kambuh?" Yukiko bertanya khawatir.

"Bukan... aku tidak apa-apa, Yukiko-san... kurasa, aku hanya mendapat mimpi buruk... itu saja. Maaf membuatmu khawatir..." Naoto memaksakan senyuman sementara ia menolehkan kepalanya pada Yukiko. Tangan kiri Naoto mendekap erat sebuah boneka beruang berwarna coklat dengan pita biru yang manis melingkar di leher teddy bear itu.

"Benarkah? Jika terjadi sesuatu, jangan ragu untuk membangunkan aku..." Yukiko menyarankan, ia kemudian tersenyum, "terus dekap Teddie seperti itu, Naoto-chan. Mungkin beruang kecil manis itu mampu mengusir mimpi buruk." Gadis itu tertawa kecil, "Kau manis tidur dengan boneka itu... sangat... feminin..."

Naoto, yang napasnya mulai teratur, merasa wajahnya memanas dan merona merah... untungnya lampu telah dimatikan dan Yukiko tidak dapat melihat rona merah itu. Gadis itu tanpa sadar mendekap Teddie—sang boneka beruang, lebih erat dengannya. "Teddie... adalah pengecualian. Aku mendapatkannya dari... seseorang yang sangat kusayangi."

"Ya, aku mengerti, Naoto-chan." Yukiko tersenyum penuh makna. "Kau yakin tubuhmu tidak apa-apa? Apa ada yang sakit?"

"...Tubuhku tidak apa-apa... dan... sejujurnya, mungkin karena mimpi buruk itu... kepalaku terasa sedikit pusing..." Naoto menjawab sementara ia kembali mencoba memejamkan matanya. Gadis itu mendekap Teddie lebih erat lagi ketika ia merasa udara pengisi kekosongan di sekitar mereka semakin dingin.

"Oh..." terdengar suara Yukiko, "...Salju telah turun..." bisik gadis anggun itu pelan.


"Jadi inilah kami... nyaris berhasil, tetapi tetap saja gagal melaksanakan misi." Yosuke mendesah pelan, ia mengangkat kepalanya dan memperhatikan seorang lelaki berambut biru gelap dengan tatapan tenang dan dewasa. Lelaki itu kemudian berdiri dari tempat duduknya dan berjalan membelakangi Yosuke, mempererat sedikit jas hitam yang ia kenakan.

"Bagaimana kalian gagal?" lelaki itu bertanya pelan, pandangannya terfokus ke luar jendela kaca yang luas dan memperlihatkan hampir keseluruhan kota dari ketinggian gedung tempat mereka berdiri.

"Gagal membunuh satu target utama, dan gagal menghancurkan target lainnya. Kami mengutus dua prajurit untuk menangkap dan melemparkan gadis itu ke dalam ruangan dimana Yukari memasang bom waktu. Memang benar, bom itu meledak... tetapi seseorang mengganggu rencana. Ia menyelamatkan target dan sebaliknya dua prajurit kami yang terkena ledakan bom itu dalam gedung sekolah." Yosuke menjelaskan, ia kembali menghela napas. Lelaki di hadapannya hanya terdiam, memperhatikan butiran halus salju di luar jendela yang mulai turun perlahan-lahan dari bentangan langit kelam. Ia kemudian membuka mulutnya.

"Target kalian adalah anggota dari royal family..." lelaki itu berkata.

"Benar." Yosuke menjawab singkat. "Dari informasi para prajurit yang diutus bertahun-tahun lalu ke sana... anggota royal family di sekolah itu hanya seorang gadis... Mereka yang tahu siapa gadis itu, karena itu aku memerintahkan dua prajurit yang telah menyamar sekian lama di sana untuk mengurusnya."

"...Seorang gadis?" Lelaki itu bertanya.

"Uh... ya." Yosuke mengangkat satu alisnya, "Memang... kita bahkan tidak mengetahui siapa saja anggota royal family of Letzvetrie selain sang Emperor dan Empress itu sendiri, bukan?" Yosuke berkata, ia mencoba mengingat-ingat. Seperti apa sosok gadis yang diselamatkan pemuda berambut abu-abu itu? Dan pemuda itu... sepertinya ia adalah rekan Apple. Yosuke menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Gadis itu berambut pendek... biru gelap... dan mereka memanggilnya... uh, aku tidak tahu namanya."

"...Baiklah. Kerja bagus, Hanamura..." lelaki itu tiba-tiba berkata, "...dan soal gadis itu, sepertinya mulai sekarang... jangan sampai kau membunuhnya. Itu saja. Kegagalan misi kalian tidak sepenuhnya gagal."

Yosuke tampak kebingungan. 'Jangan membunuhnya'? Pemuda itu hanya mengangguk pelan, "Baiklah... urusanku di sini sudah selesai?"

Lelaki itu hanya mengangguk, kemudian Yosuke tersenyum dan membalikkan tubuhnya. "Selamat malam, Minato-sama." Pemuda itu berkata sebelum ia berjalan keluar ruangan.


A/N: Hallooo XDD

Pertama", w kira chapter ini bakal pendek... tapi tanpa sadar tau"nya panjang sendiri... XDD ada" aja -ditimpuk-

Sedikit curhat gajelas, saya sempet mengalami kebingungan karena mulai chap 8 hingga ke depannya ada semacem 2 jalur -?- storyline yg berbeda (istilahnya... A dan B lah) dan setelah saya pikir" dari kemaren", w memutuskan untuk ngambil storyline 'A', yang nanti bakal diperjelas :D (apa sih ngomong gajelas dari tadi *plak*) saya juga kadang" masih ga 'ngeh' sama penggunaan 'Ihr' dan 'Ihre'... (_ _") singular dan plural... tapi dalam kasus tertentu juga beda... ==a lalu, panggilan buat org yg lebih tua...? 'Onii-san'? itu buat sodara, tapi bisa juga buat org yg lebih tua... eh? -ditimpuk-

Ehm... lupakan rambling gaje saya di atas, dan intinya, maafkan juga kesotoyan saya ini :)

Kayak biasa, w selalu khawatir dan ga yakin... chapter ini apa rada" gaje ato apa? ==a dan w tau betapa sotoy dan kemungkinan cukup besar... salahnya w ini.. (_ _") maksudnya... saya... (kebiasaan pake 'w') oh kay... cukup kebanyakan basa-basi gaje dari saya, saya mau mengucapkan terima kasih banyak untuk reviewer: Kuro, Aquadark Leaf, toganeshiro-chan, CaNiNeZ, Hayato Arisato Wisel Infinity XDD dan terima kasih untuk pembaca yg telah membaca hingga chapter ini ^^

Review reply untuk CaNiNeZ: terima kasih banyak untuk review dan pendapat anda XD ahaha, yap. Yosu di sini bisa dikatakan kuat dan berpengalaman... sedangkan Souji hanyalah sesosok 'anak baru'... Junpei dan Chie juga akan jelas ntarnya -?- terima kasih, saya senang anda enjoy membacanya :D thank you, again!

Ehm... mohon reviewnya~ kritik, saran, komentar dan kawan-kawannya sangat diharapkan! :)

Thank you and see ya again at the next chap :D

Best Regards,

Snow Jou

(Additional note: tech data -hampir kelupaan.. lagi =_=-)


Tech Data:

Memory visor: alat keemasan berbentuk seperti penutup mata yang berfungsi untuk 'merekam' ataupun 'mengulang kembali' masa lalu pengguna ini melalui ilusi. Penglihatan yang dilihat pengguna memory visor terkesan sangat nyata, meskipun apa yang mereka lihat adalah ilusi. Yang dapat melihat apa yang ditampilkan memory visor hanya satu orang, yaitu penggunanya sendiri. Ilusi-ilusi dan penglihatan yang dihasilkan memory visor tidak dapat mempengaruhi ataupun dipengaruhi penggunanya, seperti sebuah film dan seorang penonton, tetapi dalam kasus Souji di chapter ini, memory visor menunjukkan suatu fenomena dan keanehan lain dimana Souji dapat berinteraksi dengan salah satu sosok ilusi. Entah rahasia apa yang ditanamkan dalam memory visor oleh penciptanya yang adalah seorang professor tidak ternama, yang berdasarkan sumber informasi terbatas, dia adalah professor yang bekerja di bawah sang pencipta WPM pertama, professor Amagi. Memory visor digunakan sebagai salah satu alat tes pengguna WPM. Memori ingatan dan masa lalu juga adalah pembentuk kepribadian, yang merupakan unsur penting dalam sebuah War Persona Mecha.