Disclaimer: Persona 3 & Persona 4 © ATLUS


Sepasang kristal perak terpaku pada pohon raksasa itu. Angin dingin menusuk tulang menerpa dan gerimis kecil membasuh tubuhnya. Seta Souji kemudian mengalihkan pandangannya ke bawah pohon tersebut, dan mendapati seorang anak kecil—Naoto, duduk bersandar pada pohon sambil memeluk erat kedua kaki di depannya dan membenamkan wajah pada kedua lutut. Gadis kecil itu tengah terisak. Souji dapat melihat satu pergelangan tangannya yang diperban... mungkinkah patah oleh cengkeraman Souji kemarin?

Souji berjalan mendekati sang gadis kecil dan berlutut di depannya, sementara Naoto kecil belum mengangkat wajahnya. Ia masih terisak kecil, dan Souji mengangkat tangan kemudian menyentuh pundaknya pelan. Naoto kecil kemudian mengangkat wajah dan mempertemukan sepasang safir berkilau peraknya dengan Souji. Sang pemuda dapat melihat sepasang mata safir itu berkaca-kaca, kilauannya buram oleh air mata yang menggenang.

"Jangan tinggalkan aku..." Naoto kecil menangis, tetapi ia kemudian melanjutkan dengan suara bergetar, "Aku selalu... menunggumu... begitu lama... jangan tinggalkan aku. Aku takut sendirian... aku ingin bertemu papa..."

Souji membuka mulut untuk berbicara, tetapi tidak sedikitpun suaranya yang keluar. Naoto kemudian melepaskan pelukannya pada kedua kaki dan berdiri lemas, menyandarkan tubuh pada pohon raksasa di belakangnya. Gadis kecil itu tersenyum sementara air matanya masih mengalir.

"Temui aku... oke? Aku akan selalu menunggu di tempat ini... sampai kapanpun." Ia tersenyum lembut. Souji membalas dengan anggukan, dan senyuman gadis kecil itu semakin melebar.

"...Ba...ngun... malas... ker...lembur..."

Terdengar suara samar-samar di sekitar mereka. Naoto kecil mengangkat kepalanya memperhatikan sekeliling mereka, begitu juga dengan Souji.

"...Wajib... bur... malas... Hee-ho."

Suara itu kembali terdengar—suara yang familiar di telinga Souji, dan ia dapat melihat Naoto kecil tampak seperti menahan tawa. Ia memandang Souji lekat-lekat. "Terima kasih... bangunlah, nanti boneka salju akan menghujanimu dengan es." Gadis kecil itu tertawa, kemudian berlari menjauhi pohon itu ke daerah lain hutan musim gugur di sekitar mereka. Ia kemudian menolehkan kepalanya pada Souji.

"Sampai jumpa lagi, Onii-san!"

Itulah kalimat terakhirnya pada Souji sebelum sosoknya mulai memudar dari penglihatan sang pemuda.


Liebe und Rache

Chapter 9

Snowy Autumn


"Ba... las... lem—"

Souji masih memejamkan matanya, ia tampak sedikit terganggu dengan suara-suara itu. Tetapi ia mendengar suara tersebut—yang seperti suara mekanik, terdengar semakin jelas.

"Bangun, bangun."

"Ugh..." Souji menarik selimut lebih lagi untuk menutupi tubuhnya. Mengapa udara rasanya begitu dingin?

"Bangun, bangun. Anggota yang malas akan diberi kerja tambahan. Wajib lembur, wajib lembur. Lapor pada Shinji, lapor pada Shinji. Hee-ho."

Suara mekanik itu kembali terdengar. Souji menggeram pelan. Ia masih ingin beristirahat. Mengapa robot ini mengganggunya?

"Tidak ada yang bangun, tidak ada yang bangun. Peringatan terakhir sebelum laporan disampaikan, peringatan terakhir. Hee-ho."

Peringatan terakhir? Mungkin pemuda itu harus segera bangun dari tempat tidurnya. Tapi cuaca begitu dingin, ia ingin mendekap di dalam selimut. Rasanya hangat... selimut yang membungkus tubuhnya. Hangat sekali... seperti es... yah...

...Seperti es...?

Seketika, Souji merasakan tubuhnya mulai menggigil kedinginan—sangat dingin... dan basah...! Apa—

"Gaah!"

Itu suara Junpei.

Souji membuka kedua matanya dan mendapati tempat tidurnya mulai basah oleh salju yang meleleh. Tetapi di atas semua itu, ia merasa kulitnya mulai membeku. Tubuh dan tempat tidurnya tertutupi oleh butir-butir salju, yang tidak lain berasal dari—

"Robot sialan! Jangan asal menyemburkan salju ke arah kami...! Beku..." terdengar suara bergetar dari Junpei, yang tempat tidurnya berada tepat di samping tempat tidur Souji. Sang pemuda berambut kelabu, yang tengah menahan dingin dengan melingkarkan kedua lengan di sekitar tubuhnya akhirnya duduk di atas tempat tidur, dan mendapati sebuah robot sekaligus maskot UFoNDJack Frost—sedang berdiri di depan deretan tempat tidur di kamar mereka.

"Penggunaan kata-kata kasar, Junpei berbicara kasar. Lapor pada Fuuka, lapor pada Fuuka. Hee-ho." Robot bertubuh putih seperti boneka salju itu kembali bersuara. Robot yang 'manis', memang. Senantiasa memamerkan senyum lebar seperti senyuman khas tokoh kartun Mickey Mouse. Tubuh bulat dan pendek, kaki putih terbungkus sepasang boots. Sepasang mata oval hitam, dengan sebuah topi biru membentuk dua telinga panjang dengan ujung zigzag seperti petir menutupi kepala bulatnya, dan topi itu dihiasi wajah smiley kuning di bagian depan. Robot yang didesain begitu 'lucu', jika Fuuka berpendapat.

"Jangan laporkan...! Aku sudah bangun, oke? Ugh... rasanya aku ingin membungkam mulut lebarnya itu yang terus mengucapkan 'Hee-ho'... membuatmu frustasi di pagi hari." Junpei berkata kesal. Jack Frost kemudian berjalan keluar kamar dengan berlari ceria.

"Hee-ho. Mereka bangun, HO! Tidak perlu dilaporkan, HO! Waktunya membangunkan anggota lainnya, HO!"

Demikianlah suara robot itu sebelum berlari keluar kamar mereka. Junpei mendesah. "Mengapa kamar kita berada paling dekat dengan kamar robot menyebalkan itu? Ugh, aku ingin bertukar kamar dengan Kanji. Terletak paling jauh dari robot itu dan dia tidur sendiri... yah, bukan berarti berbagi kamar denganmu tidak menyenangkan. Aku lebih senang beramai-ramai." Junpei tersenyum pada Souji, kemudian berdiri dengan malas dari tempat tidurnya yang basah oleh salju dan meraih topi baseball di samping tempat tidur. Junpei menatap tempat tidur mereka dengan enggan. "Gara-gara robot itu... tempat tidur ini basah. Kita sendiri yang harus mengeringkan atau mencucinya, kan?"

Souji ikut berdiri dan kelopak matanya masih terasa berat. Ia baru menyadari bahwa setiap hembusan napasnya menghasilkan uap hangat. "Uh... pantas dingin..." Souji menolehkan kepalanya ke arah jendela yang gordennya telah dibuka oleh Jack Frost barusan, "salju telah turun. Sekarang baru awal Desember, rasanya cepat sekali..." Souji berjalan menghampiri jendela, dan Junpei dapat melihat ekspresi pemuda itu tampak tidak terhibur dengan keindahan salju.

"Junpei..." Souji kembali bersuara, "sepertinya kita benar-benar mendapat tugas tambahan... kita tidak akan menyukainya..."

Junpei mengangkat alis matanya ketika mendengar kalimat Souji, ia kemudian berjalan mendekati Souji dan ikut menerawang keluar jendela. Pemuda itu melebarkan kedua matanya ketika menyadari apa yang dimaksudkan Souji, kemudian menyunggingkan senyum pahit. "Padahal hari ini hari Minggu... hari libur untuk anggota UFoND, eh? Aku tak percaya kita benar-benar harus bekerja seperti ini."


"Seperti yang kalian lihat..." Shinjiro berdeham, kemudian memperhatikan keempat orang berwajah enggan di hadapannya, "salju tebal menutupi jalan tepat di depan pintu masuk... kita bisa membuka pintu... itu pintu otomatis, tetapi akan rusak jika dipaksakan... dan kita tidak bisa keluar dengan nyaman jika harus lewat jendela, bukan? Keluarlah lewat jendela dan... yah, aku tidak meminta kalian membersihkan semuanya. Lakukan dengan kerelaan... bersihkan dengan sekop. Kuharap kalian bisa bekerja sama." Shinjiro menoleh pada Fuuka yang telah berdiri dengan empat sekopdua sekop di masing-masing tangan. Fuuka tersenyum lembut.

"Kerja yang rajin, oke? Ini tempat tinggal kita sekaligus markas kecil kita bersama... mari urus masalah 'rumah', Jack Frost akan membantu kalian. Ya kan, Jack Frost?" Fuuka menolehkan kepala pada robot putih setinggi pinggang di hadapannya. Jack Frost membungkuk.

"Siap bekerja, Hee-ho. Siap membantu, HO!" robot itu berkata dengan suaranya yang ceria.

"Baiklah... kerja yang rajin. Anggap saja kerja tambahan untuk kenyamanan bersama. Oh, dan jangan berpikir hari libur satu-satunya kalian akan digantikan dengan hari lain. Hari lain tetap harus berlatih dan bekerja seperti biasa." Dengan kalimat itu, Shinjiro berjalan keluar ruang pertemuan. Fuuka berjalan mendekati Souji dan berbisik pelan.

"Maaf ya... aku dan Shinjiro-san ingin melanjutkan pembicarakan fenomena aneh memory visor itu. Selamat bekerja." Sesuai membisikkan itu dan dibalas dengan anggukan tanda terima kasih dari Souji, Fuuka berjalan keluar ruangan, meninggalkan keempat orang anggota lainnya dan Jack Frost.

"Aku tidak bisa mempercayai robot bulat satu ini..." Junpei bergumam agak kesal ketika pintu ruangan telah tertutup dan tinggal mereka berlimaChie, Kanji, Junpei, Souji... dan Jack Frost.

"Sudahlah, Junpei. Di atas semua itu... aku benar-benar malas bekerja. Ini seharusnya menjadi hari libur kita..." Chie mulai mengeluh. Ia menoleh pada Kanji, "Ya kan, Kanji?"

"...Oh... yah, tapi..." Kanji tampak tidak setuju, "kebersihan dan kerapihan juga... dibutuhkan untuk menciptakan suasana yang nyaman, kan? Yah... begitulah... dan tidak ada salahnya kita sedikit menghias bagian luar pintu masuk UFoND base... sebentar lagi Natal, kalian tahu? Uh... seperti... boneka salju?" Kanji tampak ragu dan berpikir. Chie mendesah.

"Oh yah... kau memang agak berbeda... agak sulit dipercaya dengan penampilanmu..." Chie membalas, "Yang seperti preman itu... tapi justru gemar merajut... langka sekali..." Chie melanjutkan dalam hati. Kanji tampak kurang senang mendengar pernyataan Chie.

"Baiklah... kurasa waktunya kita bekerja. Pegang sekop ini..." Souji menyodorkan sekop itu masing-masing pada Chie, Junpei, dan Kanji. Keempat orang itu kemudian menolehkan kepala pada robot putih yang tengah berdiri di depan mereka.

"...Tanpa sekop? Aku curiga kau sungguh-sungguh membantu kami bekerja, Jack Frost..." Junpei berkomentar.


"Ini...!"

Kedua mata Junpei membelalak lebar setelah mereka berempat berhasil keluar dari jendela. Tumpukan salju setinggi lutut menutupi pintu masuk UFoND base. "Apa-apaan ini? Tidak mungkin salju yang baru turun selama satu hari bisa jadi setebal ini!"

"Oh... kurasa kita tidur terlalu lelap. Tapi pagi tadi aku mendapat informasi dari Fuuka... semalam terjadi badai salju." Kanji memberitahu. Junpei memandangnya tidak percaya.

"Badai salju? Sepertinya cuaca di daerah ini cukup buruk... ya? Ini awal Desember..." Junpei mendesah. Ia merasa tubuhnya menggigil meskipun telah dibungkus sweater biru hangat. "Ugh... ini yang tidak menyenangkan dari membangun UFoND base di daerah dekat pegunungan. Tapi rasanya kita cukup beruntung memiliki penduduk kota kecil ini yang menyediakan tanah untuk kita membangun markas kecil ini..." Junpei tersenyum.

"Yap. Bagaimanapun, tujuan UFoND adalah melindungi bangsa-bangsa kecil. Mereka memihak kita! Tenang saja, kuantitas akan menang melawan kualitas... eh?" Chie berkata ceria, "Puluhan negara kecil melawan satu atau dua negara besar... dibantu kita juga. Sebenarnya, ini sepertinya mudah!"

"...Lebih mudah berbicara daripada bertindak." Souji berkomentar pahit, "Sesungguhnya, kuantitas kita bisa dikatakan tidak ada artinya dibanding kekuatan dan teknologi mereka... negara-negara dan kota-kota semacam ini tidak dapat bertindak apa-apa, karena itu mereka bergantung pada kita."

"Uh... sudahlah. Kita harus berpikir positif, bukan?" Chie berusaha menceriakan suasana. "Baiklah. Kita mulai kerja sekarang!" Gadis berjaket hijau itu menusukkan sekop, menembus permukaan tebal salju di bawahnya. Gadis itu mulai menyingkirkan dan mengumpulkan salju itu menjadi tumpukan cukup besar di pinggir. Kegiatannya diikuti ketiga anggota pria yang bersamanya.

Sebuah bangunan yang tidak terlalu tinggi—UFoND base, setinggi dua lantai dan tidak terlihat menonjol, dibangun dengan keamanan cukup ketat dan tembok besi. Walaupun UFoND base tidak terlihat jauh berbeda dengan rumah-rumah lain dari luar (kecuali tembok besi dan alat-alat pengaman di balik pagar dengan kamera rahasia), bagian dalam ruangan itu terdapat satu lantai lagi yang terletak di bawah tanah—tempat dimana mereka mengadakan pertemuan dan penelitian mesin. Elevator yang digunakan untuk menuju ke ruangan bawah tanah itu tersembunyi letaknya dan hanya terbuka untuk anggota UFoND yang membawa key card.

UFoND base terletak di sudut sebuah kota kecil yang terpencil dekat pegunungan. Kota itu cukup luas, sebenarnya. Dua puluh tahun yang lalu, daerah ini hanya sebuah desa yang dapat dikatakan cukup kumuh, tetapi sekarang telah berkembang dan dibangun sebuah kota 'rahasia'—tidak merupakan bagian dari negara manapun. Dipimpin oleh seorang walikota yang merupakan keturunan dari kepala desa, kota ini cukup damai dan jauh dari jangkauan penyerangan. Aragaki Shinjiro—pria muda berusia 27 tahun, adalah pendiri UFoND yang berteman dekat dengan sang walikota.

Dengan sedikit mengoceh, Junpei dengan ketiga rekannya mulai mengeruk salju. Ketika ia bekerja, pemuda dengan topi baseball itu menyadari bahwa Jack Frost tidak melakukan apa-apa untuk membantu mereka. Junpei menghentikan pekerjaannya sejenak. "Hei... kau bilang kau akan membantu kami. Ayo bantu! Mengapa kau diam saja?" Junpei berbicara pada robot putih di hadapannya.

"HO! Tugasku adalah mengawasi pekerjaan berjalan lancar, HO! Fuuka tidak memberiku sekop, Hee-ho." Robot putih bulat itu menjawab dengan nada ceria. Ia bergerak-gerak ke depan dan ke belakang sambil mengayun-ngayunkan kedua lengannya.

"Ck... sudah kuduga kau memang tidak bisa diharapkan." Junpei mendesah, kemudian melanjutkan pekerjaannya.

Dengan hati-hati, Souji mengumpulkan salju-salju pada sekop kemudian menumpukkan salju tersebut tepat di bawah pohon yang tumbuh di sudut pagar besi UFoND base. Pemuda itu terdiam sejenak ketika ia menumpuk salju tersebut dan menengadahkan kepalanya. Tatapan mata Souji terpaku pada pohon yang cukup tinggi di hadapannya.

Pohon yang tinggi...

Hal itu mengingatkan Souji pada gadis kecil ilusi itu—Naoto—jika Souji tidak salah mengingat. Kalau dipikir-pikir... tadi pagi ia baru saja bermimpi tentang gadis kecil itu. Ia tengah menangis di bawah pohon... dengan perban terbungkus di satu pergelangan tangan. Kemudian gadis itu berdiri dan tersenyum pada Souji... dan ia berkata... 'Temui aku'? Dan... apa Souji mengangguk ataupun menanggapi gadis kecil di mimpinya itu tadi? Menemuinya...? Bagaimana caranya? Lewat mimpi...? Sepertinya bukan. Tetapi Souji sepertinya mengetahui satu cara.

Benda itu—memory visor—mungkin adalah satu-satunya benda yang dapat mempertemukan Souji dengan Naoto kecil. Souji tampak berpikir. Memangnya mengapa ia harus menemuinya? Menemui ilusi? Berinteraksi dengan ilusi? Ingat itu... ilusi. Souji merasa ia benar-benar membuang waktu dengan hal tidak berguna sama sekali, dan mungkin kelihatan bodoh. Tetapi kemudian Souji kembali teringat perkataan gadis kecil itu di mimpinya barusan.

'Aku selalu menunggumu...'

Menunggu Souji? Atau gadis kecil itu tidak berbicara padanya? Setelah itu ia berkata... bahwa ia ingin bertemu ayahnya... bukan? Mungkin ia menunggu ayahnya... bukan ditujukan pada Souji.

Dan mengapa Souji memikirkan hal itu? Ia benar-benar membuang waktu. Gadis kecil itu hanya ilusi tidak berarti... yang secara kebetulan, ia memimpikannya. Mungkin saat tidur ia masih teringat dengan fenomena aneh memory visor, karena itu ia memimpikannya. Sama sekali bukan hal penting yang perlu dipikirkan. Ia harus berkonsentrasi sekarang.

"Yo, Souji-kun! Mengapa kau diam saja di sini? Pekerjaan kita belum selesai, kau tahu?" terdengar suara Chie di dekatnya. Souji segera tersadar dari lamunannya dan menolehkan kepala pada Chie yang telah berdiri di sampingnya.

"Oh... maaf. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu." Souji menjawab, kemudian memperkuat cengkeramannya pada sekop.

"Memikirkan apa?" Chie bertanya sambil melemparkan salju di sekopnya ke tumpukan besar salju di bawah pohon.

"Bukan sesuatu yang penting." Souji menjawab singkat.

"Oh... benarkah? Baiklah," balas Chie, ia kemudian memperhatikan tumpukan salju di hadapannya yang sudah cukup tinggi—setinggi pinggang Souji. Gadis berambut coklat susu itu tersenyum, "Salju ini sudah cukup tinggi untuk kita membuat boneka salju. Bagaimana? Menurutku Kanji pasti dapat membuat boneka salju yang manis dan cantik."

Sebelum Souji sempat menjawab, ia mendengar teriakan kesal Junpei di belakangnya. Mereka berdua menolehkan kepala ke belakang dan mendapati wajah Junpei yang seperti siap menghancurkan apa pun di sekitarnya. Tampaknya Jack Frost menyemburkan salju ke daerah yang telah ia bersihkan.

"Robot keparat! Aku sudah membersihkan daerah ini! Apa maumu, ha?" Junpei berteriak frustasi.

"Karena mengeluh selama pekerjaan. Terlalu banyak berbicara akan memperlambat laju pekerjaan. Penggunaan kata kasar, lapor pada Fuuka. Hee-ho." Jack Frost menjawab riang... dan selalu riang.

Dengan 'bantuan' Jack Frost, tampaknya pekerjaan mereka—lebih tepatnya Junpei, justru menjadi dua kali lebih berat.


Shirogane Naoto bersusah payah berjalan menelusuri jalan di tengah pepohonan dengan daun-daun kering dan mati yang menemani mereka. Napasnya terengah, dan langkahnya sangat gontai. Ia merasa sudah cukup baik untuk berjalan sendiri dengan menggunakan tongkat di kedua lengannya, tetapi perjalanannya tergolong jauh dan ia kelelahan. Tiga bekas luka tembakan di tubuhnya membaik dengan cepat... dan memang lebih cepat dibanding 'manusia biasa'. Bisa dikatakan, ia keluar diam-diam dari kerajaan. Naoto berkata pada Yukiko dan Aigis untuk tidak mendampinginya dan ia hanya ingin sedikit berjalan-jalan sendirian. Mereka berpesan untuk tidak pergi terlalu jauh, tetapi tampaknya Naoto mengabaikan pesan mereka.

Butiran salju lembut telah turun dan mulai menyelimuti sebagian warna-warna kuning keemasan hingga coklat yang mewarnai alam di sekitar gadis itu. Meskipun salju telah turun, dedaunan pohon itu tetaplah dedaunan musim gugur. Kering... kuning kecoklatan... dan mati.

Naoto menyunggingkan senyum tipis penuh kepuasan ketika kedua mata safir itu telah menemukan pohon raksasa di tengah hutan kecil itu. Ia mengerahkan tenaga terakhirnya untuk berjalan mencapai tanah tepat di bawah pohon itu, kemudian ia memejamkan mata sementara kedua lengannya melepaskan tongkat dan tubuh mungil itu mulai terjatuh menubruk tanah berselimut salju di bawahnya.

Dinginnya salju seakan menusuk-nusuk tubuhnya dan berdesis di kulitnya. Tetapi Naoto terlalu lelah dan lemah untuk berdiri sekarang.

Setelah sekian waktu berlalu dan angin mulai berhembus, Naoto semakin menggigil kedinginan di hamparan salju dan memutuskan untuk berusaha bangun. Gadis itu menggunakan tangan kiri untuk menopang tubuh dan bangkit dari tempatnya berbaring. Naoto kemudian duduk bersandar pada pohon raksasa di belakangnya, melemaskan dan mengistirahatkan tubuhnya. Napasnya terengah-engah, sementara kilauan perak dari sepasang mata safir itu merefleksikan apa yang ia lihat di sekitarnya. Naoto memandang pepohonan itu dengan ekspresi kesedihan.

"...Maaf ya..." gadis itu berbisik, "sepertinya aku... tidak berhasil... untuk mendatangkan kehidupan bagi kalian... atau mungkin... tidak akan pernah berhasil—karena aku tidak memiliki kuasa apa-apa, kekuatanku terbatas..." Naoto menengadahkan kepala dan memperhatikan tarian daun-daun hidup pohon raksasa tempat ia bersandar dan dedaunan mati pohon-pohon di sekitarnya.

Gadis itu kembali berbicara di tengah napasnya yang terengah. "Aku gagal... festival kebudayaan lalu... aku... memainkan The Four Seasons... tetapi aku hanya menyelesaikan musim gugur... dan 'merusak' musim dingin. Mungkinkah keadaan itu sama seperti sekarang ini? Aku tidak dapat mendatangkan musim dingin yang sesungguhnya. Kalian akan tetap berwujud suatu 'pemakaman'." Pandangan Naoto mulai terhalang oleh genangan air yang asin itu di pelupuk matanya. "Aku mencintai kalian... karena papa juga mencintai kalian."


Pemuda itu mengetuk-ngetukkan kaki pada permukaan lantai, menghitung tiap ritme rangkaian nada yang saling bertubrukan dalam gendang telinga halusnya. Hentakan musik yang begitu memukau... ritme yang melompat-lompat, petikan gitar listrik yang sungguh profesional, paduan nada-nada ini terkesan begitu... sempurna...! Ia tidak akan berkeberatan mendengarkan musik ini terus... terus mendengarkan—tuntas hingga satu CD, yeah!

"Ouch!"

Musik itu berhenti menyentuh gendang telinganya. Seseorang telah menarik headphone kesayangannya dengan kasar...! Siapa yang berani melakukan hal seperti ini pada seorang Sir Hanamura Yosuke?

Pikiran angkuh itu lenyap seketika dari otak Hanamura Yosuke ketika ia menolehkan kepala ke belakang, dan mendapati seorang wanita paruh baya dengan tatapan yang seakan ingin menerkamnya tengah berdiri dengan satu tangan pada pinggang dan tangan lainnya mencengkeram kuat headphone yang masih menggantung di sekitar leher pemuda itu. "Kau sadar berapa lama kau mengetes CD itu tanpa membelinya?" wanita itu bertanya, suaranya terdengar seperti geraman macan di telinga Yosuke.

"Uh... ahaha... baru saja, kan? Aku belum mengetesnya lama, Bibi..." Yosuke menjawab ragu, dengan keringat dingin mengaliri punggungnya.

"Apakah 58 menit itu 'belum lama'?" sang pemilik toko bertanya dengan senyuman penuh aura hewan buas yang kelaparan. "Kau berencana untuk mendengarkan CD ini hingga tuntas tanpa membelinya, bukan?"

Yosuke memaksakan senyuman sementara rasa takut mulai menghantuinya, "Oh Bibi, kau ada-ada saja. Tidak mungkin aku melakukan itu, kan? Baiklah, aku... membelinya. Berapa harganya?" Yosuke berusaha menyelamatkan nyawa. Jika ada beberapa orang yang dapat membuat Hanamura Yosuke gentar, salah satu orang itu adalah sang wanita paruh baya di hadapannya.


Selang beberapa menit kemudian, terdengar bunyi dentingan kasir, dan Hanamura Yosuke berjalan keluar toko dengan CD yang ia genggam. Pemuda itu mendesah pelan dan memutuskan untuk beristirahat hari ini. Ia ikut bergabung dengan sekumpulan orang-orang yang berlalu lalang di jalanan modern dengan kesibukannya masing-masing, kemudian kakinya mengantarkan Yosuke ke taman kota.

Yosuke melewati air mancur di taman kota itu. Di tempat inilah ia bertemu dengan Apple... jika dipikir-pikir, sebenarnya Apple itu siapa? Dari pihak mana dia? Dan—

Lamunan Yosuke buyar ketika ia melihat seorang gadis yang tengah duduk di tempat duduk dekat air mancur itu. Gadis itu cantik, rambutnya berwarna merah elegan dan terurai begitu indah. Untaian rambut di depan tubuhnya dibalut menyilang dengan pita-pita berwarna merah muda terang yang manis. Sepasang mata jernihnya berwarna coklat keemasan yang kalem, dan tubuhnya terbalut gaun gothic-lolita putih yang anggun dengan renda manis. Yang agak aneh mungkin adalah bando berenda yang menutupi kepalanya terhias oleh pisau, membuat kepalanya tampak seperti tertancap pisau yang menyamping. Kedua tangan gadis itu memegang sebuah buku sketsa dan sebuah pensil.

Untuk Yosuke yang tidak pandai berpuisi, 'cantik' dan 'memukau' adalah dua kata pertama yang muncul di otaknya. Rasa penasaran menyambar otaknya ketika ia melihat gadis misterius ini. Penampilannya sungguh tidak umum di Verstannia. Setelah terpukau sekian menit oleh gadis itu, Yosuke memutuskan untuk berjalan mendekatinya dan mengajaknya berbicara sedikit. Ia juga memiliki tugas untuk menjaga keamanan Verstannia, bukan? Mungkin ini bisa menjadi alasan bagus.

Yosuke berjalan mendekati gadis itu dengan langkah ragu, dan mendapati gadis tersebut, yang tampaknya tengah menorehkan ujung pensilnya di atas kertas polos buku sketsa itu, tidak merespon kedatangannya. Ketika ia telah berada dalam jarak yang cukup jauh namun masih merupakan zona yang nyaman untuk berbicara, pemuda itu berdeham. "Permisi... Miss?"

Gadis anggun itu menghentikan pekerjaan tangannya, kemudian mengangkat kepala dan memperhatikan Yosuke. Sangat cantik... Yosuke berpendapat demikian. "Hm?" gadis itu merespon.

"Uh... maaf, saya tidak pernah melihat anda di daerah ini. Yah, bukan berarti saya bermaksud menuduh atau apa, tapi... bersediakah anda memperlihatkan ID card anda...?" Yosuke bertanya sopan. Untuk menjalankan kewajibannya, tetapi juga untuk berbicara dengan gadis secantik ini... sambil menyelam minum air. 'Kau sungguh cerdas, Yosuke,' pemuda itu memberitahu dirinya sendiri.

Untuk sesaat, gadis itu memandang Yosuke seperti sang pemuda baru saja melontarkan suatu pertanyaan bodoh dan aneh. Namun akhirnya sang gadis menjawab tanpa ekspresi, "Oh... silahkan." Gadis itu meraih saku rok panjangnya dan mengeluarkan benda tipis itu: ID card Verstannia.

Yosuke meraih benda itu perlahan dan tangan sang gadis, kemudian mengeluarkan scanner dari sakunya dan membiarkan cahaya merah memeriksa setiap detail kartu tersebut.

"Data found."

Terdengar suara mekanik dari scanner, dan Yosuke menyunggingkan senyuman tipis. "Baiklah... maaf saya sempat mencurigai anda... Miss..." Yosuke mendesah lega. Ia akan sedikit kecewa jika gadis secantik ini ternyata adalah penyusup atau siapapun seperti Apple itu. "Anda tahu... penampilan anda... tidak umum di Verstannia ini. Oh, bukan... saya tidak bermaksud mengomentari penampilan anda. Hanya saja... penampilan anda tidak seperti Verstannia, tetapi lebih mengingatkan saya pada Letzvetrie, musuh negara ini." Yosuke berusaha beralasan.

"Hm..." gadis itu bersuara singkat untuk merespon penjelasan panjang lebar dari Yosuke. Ia kemudian angkat bicara, "Aku tidak peduli dengan masalah kalian... Verstannia dan Letzvetrie." Gadis itu berkata tidak peduli, dan kembali memfokuskan perhatiannya pada buku sketsa di tangannya.

"Oh... ya... tidak masalah..." Yosuke menjawab. Ia tidak tahu ingin membicarakan apa lagi. Pemuda itu kemudian menunduk pelan, "Baiklah... saya tidak bermaksud mengganggu aktivitas anda..." Yosuke berkata pelan, kemudian berjalan meninggalkan gadis itu. Gadis itu tidak merespon apa-apa.

'Hmm... Yoshino Chidori... gadis yang cantik dan elegan, namun misterius...' batin pemuda itu pelan, kembali mengingat nama yang ia lihat terpampang pada ID card gadis itu.


"Sudah gelap... kita mengeruk salju hingga langit gelap... semuanya gara-gara robot bulat itu...!" Junpei mengoceh sambil menunjuk-nunjuk Jack Frost yang ikut duduk santai di atas sofa dengan keempat anggota lainnya.

"Melelahkan... ugh, ini juga salahmu, Junpei. Kau tidak berhenti mengeluh! Kau tahu Jack Frost diprogram untuk 'menghukum' anggota yang bersungut-sungut..." ujar Chie sambil memijat-mijat bahunya. Ia juga tampak lelah seperti anggota lainnya.

"Ugh... aku sedang tidak ingin memikirkan bagaimana kita menghias bagian luar pintu untuk hari Natal nanti. Aku butuh istirahat..." Kanji menimpali.

"Ahaha... kau benar-benar menunggu saat-saat itu, ya? Hari Natal... oh benar juga! Apa yang akan kita lakukan untuk hari Natal? Hari Natal adalah hari libur juga, kan?" Chie tampak bersemangat.

"Kita tidak tahu. Mungkin memang libur, tetapi jika ada misi dadakan dan tidak dapat lagi ditunda... itu lain soal." Souji akhirnya membuka mulutnya.

"Hah... sungguh kalimat yang mematahkan semangat..." Junpei mendesah.

"Kerja bagus, semuanya." Terdengar suara yang familiar dari arah pintu ruang tamu tempat mereka berada. Keempat orang dan satu robot itu menolehkan kepala mereka dan mendapati Fuuka tengah tersenyum dan menatap mereka satu persatu dengan lembut. "Aku telah melihat kerja keras kalian. Meskipun berat, tetapi kalian tetap berusaha melakukannya dengan ikhlas."

Junpei spontan berdiri dari sofa dan tersenyum, "Tentu saja. Kau selalu bisa mengandalkan Junpei the Hero!" Junpei berseru semangat.

"Wow... kau cepat sekali berubah-ubah... bukankah kau yang paling banyak mengeluh?" Kanji berkomentar. Junpei menatap Kanji kesal.

Fuuka tertawa kecil melihat mereka, kemudian melanjutkan kalimatnya, "Junpei-kun, Shinjiro ingin menemuimu." Fuuka menginformasikan.

"Ha? Menemuiku? Jangan katakan misi lagi... oh tidak..." Junpei tampak enggan. "Baiklah, aku pergi sekarang...?"

Setelah menerima anggukan dari Fuuka, Junpei tersenyum tipis dan berjalan meninggalkan ruangan itu. Setelah Junpei menutup pintu ruangan dari luar, Fuuka mengalihkan perhatiannya pada Souji.

"Kau juga ikut denganku, Souji-kun... untuk Chie dan Kanji-kun, kalian boleh beristirahat sekarang." Fuuka tersenyum pada mereka.

"Ah, leganya! Aku tidak sabar untuk segera masuk ke kamar dan mengistirahatkan tubuhku di atas ranjang empuk." Chie berkata ceria.

"Tepat sekali. Aku merasa tulangku sudah berteriak-teriak meminta permukaan ranjang empuk." Kanji menimpali dengan senyuman. Setelah mengucapkan selamat malam, Chie dan Kanji berjalan keluar ruangan dan meninggalkan Fuuka sendirian dengan Souji.

"Souji-kun..." Fuuka membuka mulut, berniat menyampaikan kalimat yang telah ia siapkan di lidahnya, "Shinjiro-san mengatakan... bahwa kau boleh meminjam ini..." Fuuka kemudian mengeluarkan benda berbentuk seperti penutup mata keemasan—memory visor—dari balik jas lab putihnya. Souji mengangkat satu alisnya, dan Fuuka kembali melanjutkan, "Aku menyerahkan benda ini padamu... tentu saja, benda ini masih milik UFoND, tapi kau punya hak khusus untuk meminjamnya kapan saja."

"...Kenapa?" Souji akhirnya bertanya. Fuuka tersenyum tipis.

"Karena Shinjiro-san mengatakan demikian... mungkin karena fenomena aneh yang terjadi pada dirimu di WPM test kemarin." Fuuka menjelaskan. "Aku juga tidak mengerti..."

Souji lama memperhatikan memory visor di tangan Fuuka yang telah disodorkan gadis itu padanya, dan akhirnya sang pemuda meraih benda itu. "...Terima kasih." Pemuda itu tersenyum, walaupun otaknya terus berputar, memikirkan alasan mengapa Shinjiro meminjamkan benda ini padanya.

Apa Shinjiro ingin agar Souji menemui gadis ilusi itu lagi? Apakah ini berarti Shinjiro mengetahui sesuatu?


"Ugh..." Naoto membuka kedua matanya perlahan. Gadis itu tersentak kaget ketika menyadari ia masih berada di bawah pohon raksasa itu. Hari telah gelap dan bulan tengah berkuasa di bentangan langit kelam Letzvetrie. Gadis itu tertidur...!

"Hua...cih...!" gadis itu bersin, sementara tubuhnya menggigil kedinginan—sesuatu yang wajar karena ia tertidur di atas hamparan dingin salju, meskipun punggungnya bersandar pada batang pohon raksasa di belakangnya. Angin malam musim dingin menerpa tubuh kecil gadis itu, membuatnya semakin kedinginan.

Yukiko dan Aigis akan marah padanya. Ia belum kembali hingga hari gelap, dan Naoto akhirnya memutuskan untuk meninggalkan tempat ini sesegera mungkin dan kembali ke kerajaan. Gadis itu tidak berani membayangkan ekspresi murka Aigis dan Yukiko—yang tentunya akan sangat... mengerikan.

Naoto meraih kedua tongkat itu dan berusaha berdiri. Napasnya yang terengah segera menghasilkan uap yang menguar dalam udara membekukan yang membungkus tubuhnya. Begitu mudahnya ia merasa lelah. Sang gadis telah berdiri dengan bantuan kedua tongkat di masing-masing lengan dan ia mulai melangkahan kaki, meninggalkan pohon raksasa itu semakin jauh dari belakangnya. Langkahnya gontai, namun ia terus berusaha mempercepat langkah. Ia membutuhkan waktu cukup lama untuk menempuh jarak dari hutan kecil itu ke kerajaan. Dan itu akan sangat menguras tenaganya. Ia berharap masih memiliki kekuatan untuk menghadap anggota kerajaan.

Naoto berjalan gontai dengan susah payah menelusuri jalan di depannya—ketika bunyi gemerisik pelan dari semak-semak menyentuh gendang telinga gadis itu. Langkah sang gadis terhenti. Naoto memperhatikan sekelilingnya. Bunyi gemerisik itu... terdengar 'aneh'.

Mungkinkah bunyi gemerisik yang dihasilkan hembusan angin? Tetapi Naoto merasakan suatu 'aura' misterius di dekatnya. Bunyi gemerisik itu tidak terdengar 'alami'. Ia telah biasa mendengar gemirisik dan nyanyian pepohonan... tetapi yang satu ini...

Sang gadis refleks mempercepat langkahnya, meskipun gontai. Ia merasa tubuhnya bergetar karena rasa takut. Ia dapat merasakannya dengan sangat jelas—'sesuatu' tengah mengawasi dirinya, entah dari dekat atau dari jauh. Bunyi gemerisik dari semak-semak itu kembali terdengar, kali ini semakin jelas dan membuat tubuh sang gadis merinding. Naoto yakin itu bukan bunyi yang dihasilkan hembusan angin... tetapi seseorang yang mungkin tengah mengawasinya.

"Ha-halo...?" Naoto akhirnya bersuara pelan, sementara ia masih berjalan pelan dengan bantuan kedua tongkat yang menopang tubuhnya. "Ada... seseorang di sana...?" gadis itu berhasil melanjutkan, walaupun suaranya terlampau agak terlalu kecil.

Tidak ada jawaban, tidak ada suara yang merespon, hanya bunyi gemerisik semak-semak di dekatnya yang terdengar semakin jelas dan semakin ganjil. Rasa panik mulai menyelimuti gadis itu. Bunyi gemerisik itu berbeda dengan bunyi gemerisik 'alami' yang biasa didengarnya. Naoto sudah sangat sering meluangkan waktunya di tempat ini, pagi hari hingga malam, tetapi baru kali ini ia merasakan suatu ketakutan seperti ini. 'Sesuatu' jelas sekali mengikuti langkahnya dan mengawasi gadis itu.

Naoto memperkuat cengkeramannya pada kedua tongkat dan melangkah berusaha melangkah semakin cepat. Pertama kalinya ia sangat ingin meninggalkan tempat ini. Ia merasa takut. Dengan suara pelan dan bergetar, Naoto mencoba kembali bersuara, "...Ada seseorang...? Kumohon, jawablah...!" gadis itu berhasil mengencangkan sedikit suaranya, meskipun masih gemetar. Ia setengah berharap ada jawaban dan setengah berharap tidak ada jawaban. Gadis itu takut mendengar jawaban dari 'sesuatu' yang sangat tidak ia harapkan.

"—aaan..."

Naoto tersentak kaget dengan suara itu. Ia mendengar sesuatu, yang mungkin merespon perkataannya. Suara itu hanya terdengar samar-samar. "Si-siapa...?" gadis itu bertanya, berhasil memperkencang suaranya. Tubuhnya mulai bergetar hebat.

"...to...chaaann..."

Suara itu kembali terdengar, dan Naoto merasa semakin takut. Ia ingin berlari meninggalkan tempat itu dan menutup telinganya, tetapi gadis itu tidak dapat melakukannya. Kedua kakinya masih belum sembuh sepenuhnya dan kedua lengan memegang tongkat penopang tubuh. Untuk ke sekian kalinya, Naoto berhasil menarik suara dan memaksakan pita suaranya untuk bergetar. "Siapa...? Kumohon, jawab...!"

"Naoto-chaaaan..."

Naoto terlonjak mendengar suara tersebut memanggil nama sang gadis. Tubuhnya merinding ketika suara itu sampai di telinganya. Suara itu halus dan lembut, seperti seseorang yang memanggil kucing kesayangannya.

"Bermainlah... denganku... Naoto-chaaan... kucing kecil..."

Suara itu seakan menggema dan berbisik begitu jelas di telinga gadis itu. Suaranya terdengar begitu dekat, tetapi bagaimanapun Naoto menolehkan kepala dan memperhatikan sekelilingnya, ia tidak menemukan siapa-siapa. Sang gadis merasa tenaganya terserap oleh rasa ketakutan yang mengalir deras dalam dirinya. Suara itu—entah kenapa—terdengar familiar, tetapi ia tidak mengetahui suara siapa... atau apa.

Naoto menelan ludah, berusaha mengumpulkan keberaniannya. Angin dingin masih berhembus dan sinar samar rembulan membelah kegelapan malam. "...Siapa? Suara siapa barusan—!"

Kalimat gadis itu tergantikan oleh jeritan kecil sang gadis. Ia terlonjak kaget, jantungnya berdegup kencang dan tubuhnya melemas, menjatuhkan kedua tongkat dan terduduk di atas jalan setapak tempatnya berdiri barusan. Naoto yakin ia baru saja melihat siluet hitam, melintas cepat tepat sekitar satu meter di depan gadis itu.

Bunyi gemerisik semak-semak—kali ini dari semak yang berbeda, kembali terdengar—semak yang berada di arah yang sama dengan arah siluet hitam itu melintas. Gadis itu merasakan ketakutan... ketakutan yang familiar dan pernah ia rasakan—tetapi bukan di tempat ini. Napasnya terengah dan tubuhnya semakin bergetar.

"Naoto-chaaan... ayo bermain denganku..."

Terdengar suara yang tampaknya berasal dari semak-semak itu, dan terdengar sangat jelas... seakan dibisikkan langsung di telinga sang gadis—suara lelaki. Naoto memejamkan kedua mata, tanpa benar-benar menyadari air mata mulai berlinang. Ia berusaha mengangkat kedua tangan untuk menutup sepasang telinganya. Tubuhnya masih terduduk dan gadis itu berusaha merapatkan kedua kakinya dengan tubuh.

"Naoto...chaaann... bermainlah... denganku... aku sangat menginginkanmu... darahmu..."

Suara itu memanggilnya dengan 'manis', dan Naoto berusaha untuk tidak mendengarkan. "Hentikan..." gadis itu mulai menangis ketakutan, "hentikan... jangan lakukan itu... lagi..." gadis itu berbicara di luar kesadarannya. "Kumohon... seseorang... tolong... Aigis... Yukiko-san... aku takut..."

"Apa kau... takut padaku? Naoto-chan... kau boneka kecilnya... kau selalu tahu itu..."

Suara misterius itu semakin terdengar halus. Tubuh gadis itu masih bergetar, "Bukan... bukan...! Menjauh...! Menjauh dariku! Aku tahu siapa kau! Menjauh dariku...! Jangan menyeretku ke dalam tempat itu lagi...!" gadis itu berteriak. Naoto tidak menyadari ia tengah berbicara seperti itu, tetapi tubuhnya seakan mengenal suara itu, juga perasaan yang menyelimutinya sekarang, dan refleks memberikan reaksi.

"Naoto—"

"Jangan mendekat! Jangan mendekaaat!" gadis itu berteriak sangat kencang, air matanya mengalir deras.

"Naoto-san...! Ini aku, Aigis...!"

Naoto merasakan hentakan kuat pada bahunya. Gadis itu membuka mata, dan mendapati Aigis tengah menatapnya dengan khawatir. "Naoto-san, apa yang terjadi padamu? Kau berteriak-teriak sendiri... kau tidak apa-apa?"

"A-Aigis..." Naoto menjawab pelan. Ia tampaknya telah mendapati kembali kesadarannya. Ia tidak lagi mendengar suara gemerisik semak yang aneh itu ataupun suara misterius yang memanggilnya halus barusan. Naoto masih menangis.

"Naoto-san... tenanglah... aku bersamamu sekarang..." Aigis menjawab, berusaha menghibur gadis di hadapannya meskipun ia tidak tahu mengapa Naoto tengah menangis dan tubuhnya gemetar hebat seperti itu. Aigis mencari-cari Naoto sejak sore, dan akhirnya berhasil menemukan Naoto—yang tengah terduduk di jalan setapak dan menutup kedua telinganya.

"Aigis... aku..." Naoto tidak berhasil memaksa mulutnya untuk berbicara. Gadis itu terisak, dan Aigis memeluknya hangat untuk menenangkan sang gadis.

"Sudahlah... tidak apa-apa. Jangan takut... tidak ada apa-apa..." Aigis mengelus pelan punggung gadis itu.

"Aku... mendengar suara..." Naoto berusaha berbicara, "Aku... aku takut... aku mengenal suara itu... tapi aku juga tidak ingat... yang bisa kurasakan hanya—aku... takut..."

Aigis mempererat pelukannya. Mungkin Naoto hanya berhalusinasi...? Ataukah mimpi buruk? Aigis tidak mendengar suara 'aneh' itu, dan tidak merasakan ada keberadaan manusia hidup lain ketika ia menemukan Naoto. "Kita kembali ke kerajaan... Mereka semua mengkhawatirkan dirimu. Kau tidak apa-apa sekarang, Naoto-san. Aku menemanimu..."


Seta Souji duduk di atas ranjang di kamarnya. Junpei masih berbicara dengan Shinjiro, dan pemuda itu duduk sendirian. Langit telah gelap, walaupun mungkin masih tergolong sore hari. Udara terasa semakin dingin dan tubuh pemuda itu menggigil. Ia memperkuat genggaman pada memory visor yang diberikan Fuuka padanya. Souji mengangkat memory visor itu dan memperhatikan benda tersebut. Tubuhnya lelah... mungkin bukan saat yang benar-benar baik untuk mengenakan memory visor, apalagi jika ia harus melihat kembali kematian kedua orang tuanya. Tetapi...

Mungkin sekarang adalah waktu yang justru tepat.

Souji menarik napas, bersiap melihat kembali masa lalunya yang begitu pedih dan menyayat hati sang pemuda. Tetapi ia ingin memastikan sesuatu. Pemuda itu menyiapkan hatinya, kemudian menutup kedua mata dan melingkarkan memory visor itu di sekitar matanya.


Souji mendengar gemerisik pepohonan... bukan bunyi yang berasal dari kamar tidurnya dan Junpei, tentunya. Hal itu menjelaskan bahwa memory visor telah bekerja dan ia bisa membuka kedua matanya sekarang.

Pemuda berambut kelabu itu membuka sepasang perak jernihnya untuk melihat keadaan sekitar. Di luar dugaannya, ia tidak melihat gubuk kecilnya lagi ataupun api yang melalap habis kota kecilnya, melainkan tempat pertemuannya dengan Naoto—hutan musim gugur Letzvetrie, tepat di depan pohon raksasa. Angin berhembus dan dedaunan melambai-lambai, sementara bentangan langit di atasnya mendung dan tertutupi awan-awan hitam. Tetapi yang membedakan penampilan hutan itu dengan kemarin adalah bentangan tipis salju yang menyelimuti tanah dan sebagian pepohonan, termasuk pohon raksasa di hadapannya.

Apa memory visor mengikuti waktu nyata? Salju telah turun... dan dalam memory visor, salju juga turun...? Cuaca mendung dan gelap memang membuat penampilan hutan itu seperti sore hari menjelang malam. Souji tidak merasakan dinginnya salju ataupun hembusan angin, sesuai dugaannya. Souji memperhatikan sekelilingnya. Pemuda itu tidak melihat siapa-siapa. Hanya pepohonan musim gugur dengan dedaunan matinya yang terhiasi keputihan salju.

"...Apa itu kau...?"

Perhatian Souji teralih oleh suara pelan yang familiar itu. Ia menolehkan kepala ke arah asal suara tersebut, dan mendapati anak kecil yang ditemuinya kemarin tengah memperhatikan pemuda itu dengan tatapan waspada, sementara setengah tubuhnya bersembunyi di balik batang pohon raksasa yang menjulang.

Souji terdiam sejenak. Nama anak itu... Naoto... bukan? Ia menelan ludah sebelum menjawab, "Ya... ini aku..."

Gadis kecil itu segera memperlihatkan sosoknya tanpa bersembunyi lagi di balik pohon, kemudian berlari ke arahnya dan berhenti sekitar satu meter tepat di depan Souji. Ia menengadahkan kepala untuk melihat wajah Souji yang jauh lebih tinggi dari tubuh mungilnya. Pakaian maupun penampilan gadis kecil itu masih sama seperti kemarin Souji melihatnya, kecuali satu pergelangan tangannya yang diperban.

"...Onii-san..." gadis itu bersuara pelan, dan Souji membalas dengan mempertemukan kristal peraknya tepat ke arah sepasang mata safir perak sang gadis kecil. 'Naoto' kecil menyunggingkan senyuman tipis, "Aku selalu menunggumu... dan kau datang..." gadis itu berkata, tatapannya menunjukkan kelegaan dan kebahagiaan tersendiri.

"Oh... ya..." Souji tidak tahu harus membalas apa. Banyak pertanyaan yang ingin ia lontarkan, sebenarnya. Jadi benar ia dapat melihat gadis kecil ilusi ini terus selama ia mengenakan memory visor? Dan gadis kecil ini tidak melupakannya. Ilusi yang terkesan begitu nyata.

Souji melihat tubuh Naoto kecil mulai menggigil. Gadis kecil itu melingkarkan kedua lengan di sekitar tubuhnya, tampak berusaha menahan dingin yang menusuk. Souji membuka pembicaraan, "Kau... kedinginan? Hmm... dengan pakaian tipis tanpa lengan seperti itu... juga celana pendek... itu benar-benar menjelaskan—tunggu, kau bahkan tidak mengenakan alas kaki." Souji menyadari satu hal.

"Aku tidak apa-apa..." gadis itu berbicara dengan susah payah. Setiap hembusan napasnya menghasilkan uap yang menguar singkat. Walaupun Naoto kecil berkata demikian, tubuhnya semakin menggigil kedinginan.

"Ehm... sebentar..." Souji berkata singkat. Pemuda itu tampak berpikir sejenak. Apa perbuatannya terkesan bodoh jika ia melakukan itu...? Bagaimanapun juga, gadis kecil ini halusinasi belaka. Namun melihat Naoto kecil semakin menggigil, Souji memutuskan untuk melepaskan jaketnya dan mencoba membungkus tubuh gadis kecil itu dengan jaket. Setidaknya, jaket sang pemuda cukup panjang untuk menutupi keseluruhan tubuh Naoto kecil.

Dan Souji dapat melakukannya. Tidak tembus... gadis itu benar-benar seperti manusia yang nyata. Souji nyaris berpendapat bahwa gadis kecil di hadapannya mungkin sungguh nyata dan sama sekali bukan ilusi, tetapi sang pemuda berusaha menghapus pikiran yang menurutnya tidak terdengar masuk akal itu. Gadis kecil itu mencengkeram jaket Souji kuat di sekitar tubuhnya. Senyum manis tersungging di bibirnya.

"Rasanya hangat... Onii-san," gadis itu berkata ceria, "terima kasih."

"...Ah... ya..." Souji menjawab singkat. Gadis kecil ini tampak sangat bahagia... jadi... apa salahnya...?

"Onii-san..." Naoto kecil membuka mulutnya dan menatap Souji lebih dalam, tatapannya terkesan begitu serius, "aku ingin bertanya padamu..." gadis kecil itu berkata. Souji mengangkat alisnya, dan gadis kecil itu melanjutkan, "Apa aku telah melakukan kesalahan dengan membunuh delapan orang?"

"Apa...?" Souji tampak kaget dengan pertanyaan itu. Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan perkataannya, "Tentu saja kau salah."

Gadis kecil itu mengalihkan perhatiannya ke tanah tempat ia berpijak, "Jadi begitu... karena aku melakukan suatu kesalahan... ayah tidak juga datang. Mungkinkah aku harus membunuh sembilan orang... bukan delapan?"

Souji menghela napas. "Bukan itu maksudku..." Souji angkat bicara. Anak itu menatapnya bingung.

"Lalu kenapa? Kenapa ayah... papa tidak juga datang?" Naoto kecil mengeraskan sedikit suaranya.

"Aku tidak tahu." Souji menjawab, "Yang kutahu adalah, kau melakukan kesalahan besar dengan 'membunuh'..." pemuda itu menjelaskan.

"...Apakah..." Naoto kecil terdiam sejenak, "membunuh itu salah?"

"Tentu saja..." Souji menutup mata dan meletakkan satu tangan di dahinya, "Sesungguhnya, kita tidak boleh membunuh orang lain... sama sekali tidak."

"...Aku bingung..." gadis kecil itu tertunduk, "ayah mengatakan untuk membunuh... kau mengatakan sebaliknya..."

"Ayahmu salah..." Souji langsung menjawab. "Sangat salah. Naoto-chan..." pemuda itu merasakan sesuatu yang aneh ketika ia menyebut nama itu dengan cara yang berbeda. Tenanglah, gadis kecil ini bukan Shirogane. Yah, mungkin bukan... setidaknya dia hanya ilusi. Souji melanjutkan, "Tidakkah kau melihat betapa mereka takut akan kematian? Mereka takut kau membunuhnya? Kau telah merenggut nyawa mereka, sementara kau sama sekali tidak memiliki hak untuk itu." Souji berkata. Ia sedikit merasa bahwa ia tengah berbicara pada dirinya sendiri. Bagaimanapun, ia juga pernah membunuh... dan lebih dari satu orang.

"Mereka selalu berteriak ketakutan... mengataiku 'monster'..." Naoto kecil menjawab, "mengapa aku tidak memiliki hak?"

"Karena bukan kau yang memberi mereka nyawa." Souji menjelaskan, "Tuhan yang memberi mereka nyawa. Sesungguhnya kita... tidak memiliki hak untuk merenggut nyawa itu. Tuhan yang memiliki hak untuk itu."

"Jadi... selama ini aku salah...?" gadis itu bertanya, ia tampak bersedih dengan kenyataan tersebut.

"Ya." Souji mengangguk, sedikit menegur dirinya sendiri.

Naoto kecil terdiam cukup lama, ia tampak berusaha mencerna dan mempertimbangkan perkataan Souji. Namun setelah Souji membiarkannya beberapa menit, gadis itu kembali menatap Souji dan ia tersenyum ceria. "Onii-san... aku tidak ingin lagi membunuh... meskipun ayah yang memerintahkan demikian... karena itu 'salah', bukan?"

Souji membalas dengan anggukan, kemudian pemuda itu ikut tersenyum. Gadis kecil itu berjalan semakin dekat dengan Souji, kemudian mengangkat satu tangannya yang tidak diperban, kemudian mengangkat jari kelingking. "Bantu aku untuk memegang teguh tekad ini... kau mau, kan, Onii-san? Dan maukah kau berjanji untuk terus menemuiku?"

"...Oh... ya, tentu saja..." Souji menjawab ragu. Membentuk perjanjian dengan ilusi... apa ia terkesan sangat bodoh sekarang? Souji kemudian menggunakan satu lutut dan satu kaki untuk menopang tubuhnya, kemudian mengangkat jari kelingkingnya juga. Ia dapat melihat senyum gadis kecil itu melebar, kemudian mereka mengaitkan jari kelingkingnya masing-masing. Jari kelingking gadis kecil itu agak terlalu kecil dengan milik Souji.

"Aku berjanji tidak akan membunuh orang lagi... jika aku membunuh, aku akan menelan seribu jarum." Naoto kecil berkata lembut, kemudian senyum lebar menghiasi wajahnya.

"...Aku berjanji... untuk terus menemuimu... jika aku tidak menemuimu... aku akan..." Souji benar-benar merasa bodoh melakukan ini, tetapi pemuda itu berhasil melanjutkan, "...menelan seribu jarum."

Naoto kecil melepaskan jari kelingkingnya dari Souji dan tersenyum ceria. Paras manisnya memerah dan ia tampak bahagia. "Aku senang... Onii-san tidak akan meninggalkan aku."

Segalanya hanya omong kosong... bukan? Gadis kecil itu hanya ilusi. Tidak berarti apa-apa, tidak sungguh-sungguh nyata. Bukan manusia dan tidak memiliki jiwa. Mungkin ia hanya berupa... program? Bagaimanapun ia menunjukkan perasaannya, bagaimanapun ia tersenyum... segalanya hanya rekayasa... program... tidak nyata... dan tidak memiliki perasaan.

Kehidupan nyata adalah yang perlu ia pikirkan lebih. Ia menghadapi peperangan... melindungi negara-negara, bertempur dan menghancurkan dua negara besar. Ia harus melakukan itu... dan apa gunanya menghiraukan ilusi kecil yang tidak berarti apa-apa?

Jadi perlukah Souji berusaha memegang teguh janji ini? Bahkan perlukah ia peduli dengan gadis kecil di hadapannya sekarang?

Seta Souji menjawab tidak.


A/N: Salam :')

Saya bener" ga yakin sama chapter ini dan selalu ga yakin... haha... pasti gaje -ditimpuk- oh ya, dan saya usahakan untuk mengupdate fic ini sekitar seminggu sekali. Apa agak terlalu cepat? :')

Kayaknya ga terhitung lagi banyaknya pengulangan kata ya...? kayak biasa gitu. *plak* Dan kekurangannya makin lama makin nambah ajaaaa :'D dan apa deskripnya terkesan deja vu? oh lupakanlah :') lagi error saya... apa pengaruh mid test? ato gara" sekarang saya lagi sakit kepala? rasanya saya begitu mengidam-idamkan dan selalu mengidam-idamkan yang namanya libur. -dihajar- kapan liburan~? XDD saya bener" nungguin libur! Holiday please come soon! X'DD -dicekek-

Okay, tentunya saya ingin mengucapkan terima kasih banyak untuk readers yang telah membaca sejauh ini! Special thanks untuk para reviewer: Kuro (kenapa ditulis Ikan Teri? =_= tapi moga" saya ga sotoy dalam menebak... emang udah sotoy sih.. -diinjek-), toganeshiro-chan, Machine Emperor Hayato Arisato, dan namieh :D Thanks a bunch! Author lebih bersemangat dengan keberadaan kalian ^w^ dan terima kasih untuk mereka yang memasukkan cerita ini dalam list favorite~ XD Hope you keep enjoy this fic till the end! (grammar hancur?)

Maaf segala basa-basi ga penting saya dan sekali lagi maaf atas segala kesalahan kata"... tetapi akhir pesan ini, seperti biasa... bersediakah anda menyumbangkan review? :D

And... see ya soon on the next chap XD

Best Regards,

Snow Jou