Disclaimer: Persona 3 & Persona 4 owned by ATLUS
Pemuda itu berdiri diam di depan sebuah ruangan. Ujung kakinya mengetuk-ngetuk lantai dengan tidak sabar. Sementara setiap suara dari dalam ruangan tersebut yang terdengar kerap selalu menghantuinya, sesuatu yang terkadang menjelma menjadi mimpi buruknya.
Suara isak tangis tiada henti yang memohon pengampunan.
Ia menggigit bibir, kemudian menoleh pada temannya, yang juga berdiri di depan ruangan itu. Mereka berdiri bersebelahan, dan ia dapat melihat temannya itu memperkuat kepalan tangannya hingga ia tidak ragu sebentar lagi kepalan tangan itu akan meneteskan darah.
"...Betapa tidak adilnya dunia." Pemuda itu tersenyum pahit, kemudian mengangkat bahu. Namun senyuman pahit itu seketika memudar dan ia menelan ludah ketika mendengar suara isak tangis itu berlanjut membentuk jeritan, tetapi tidak lama kemudian suara itu menghilang... teredam.
"Dan mengapa kita masih berada di tempat ini?"
Ia akhirnya mendengar sang teman di sebelahnya itu berbicara. Ia tertawa kecil, kemudian menjawab, "Sayangnya... ini mungkin memang hidup kita."
"Ini bukan hidupku, sialan!" Temannya itu mengumpat di sebelahnya.
Tetapi pemuda itu tidak berhasil tenggelam dalam percakapan singkat itu. Ia ingin sekali mendobrak pintu di depannya dan membunuh nyaris siapa saja yang ada di dalamnya. Ia menundukkan kepalanya pasrah.
"...Ah... anak malang... malang..." ia bergumam pelan.
"...Naoto-chan..."
Tatapannya teralih ketika ia mendengar temannya menyebut nama itu, dan ia menolehkan kepalanya.
Di sana gadis kecil itu berdiri, menatap mereka dengan mata perpaduan perak dan safir. Sorotan matanya tidak terbaca, tetapi ia dapat merasakan perasaan iri hati, kekecewaan, dan keingintahuan dari tatapan itu. Tubuh temannya bergetar, entah temannya itu ingin mencekik gadis kecil itu, atau justru memeluknya hangat... atau kedua-duanya.
"...Gadis kecil keparat... menjauh dari kami, dan kuharap kau menutup mulutmu... atau aku akan membunuhmu." Ia mendengar temannya langsung bereaksi. Hal ini menyimpulkan bahwa temannya ini ingin mencekik gadis kecil itu.
Sang gadis kecil tidak menjawab apa-apa. Ia hanya berjalan cepat melewati mereka dengan ketakutan yang terpancar jelas dari wajahnya. Dan pemuda itu dapat melihat setitik air mata dari salah satu mata gadis kecil itu.
Tidak lama kemudian, gadis kecil itu tidak lagi berjalan, tetapi berlari cepat meninggalkan mereka, menghilang ke balik koridor.
Liebe und Rache
Chapter 11
Dark Theater: Blur
"Benda apa ini?"
Pria itu hanya tersenyum tipis dan menggeleng pelan menanggapi pertanyaan Naoto. "Anda bisa melihatnya sendiri, itu balon."
"Aku tahu, tapi..." Naoto mengerutkan dahi seraya satu tangannya menggenggam erat tiga benang tipis yang terikat pada masing-masing balon. Ia kembali memperhatikan tiga buah balon yang menggantung di udara. "Dari siapa kau memperoleh balon ini?" tanya Naoto sementara satu tangan lainnya memegang kartu tipis yang terikat pada benang.
"Pemuda misterius. Berambut pirang dan matanya biru. Mengenakan kemeja putih dengan mawar merah pada dada sebelah kiri, dan..." sang petugas tampak berpikir sejenak, "aku tidak tahu apa informasi ini penting... tapi ia mengeluarkan kilau aneh dari tubuhnya."
"...Kilau?" Naoto bertanya balik. Ia berulang kali membaca pesan singkat pada kartu tersebut. 'Teddie... Teddie...' Naoto berusaha mengingat sosok yang mungkin ia kenali. Kedua matanya melebar ketika sepotong ingatan masa lalu kembali menyambar otaknya.
"Naoto-sama?" sang pria kembali memanggil Naoto untuk meyakinkan gadis itu masih bersamanya.
"Oh... ya..." Naoto memperkuat genggamannya pada ketiga benang, "terima kasih telah menyampaikan benda ini padaku. Mungkin akan membantu. Aku akan kembali ke gedung teater."
"Kau mengenal pemuda pirang itu, Naoto-sama?" sang petugas bertanya.
"Mungkin..." Naoto menjawab singkat sebelum ia kembali berjalan memasuki gedung.
Souji masih memperhatikan panggung dengan jeli dan kehati-hatian yang patut dipuji, sementara Junpei seharusnya sudah terlelap di sampingnya.
Tetapi Junpei tidak bisa terlelap.
Bagaimana ia bisa terlelap, dengan si Jeruk ini di sampingnya? Betapa Junpei merindukan nasib baik. Mengapa Tuhan tidak memberinya suasana tenang, damai, dan tentram, walau hanya sebentar saja?
"Sialan... apa rencanamu, Apel?" Yosuke mendengus pelan di samping pemuda itu. Junpei tidak dapat menahan kerut frustasi di dahinya.
"Kau sendiri?" Junpei membalas kesal, tetap menjaga suaranya agar tidak mengganggu penonton lainnya.
"Tentu saja aku datang untuk menonton! Kau yang lebih patut dicurigai. Apa tujuanmu datang ke Verstannia?"
"Oh ya?" Junpei mengejek, "Aku tidak bisa melihat sebuah jeruk menonton pertunjukkan seperti ini. Benar-benar bukan mencerminkan Anak Papa sepertimu, man."
Yosuke menelan balasan yang telah disiapkannya. Semakin banyak mereka berdebat, semakin besar kemungkinan Yosuke membocorkan informasi. "Kuulangi sekali lagi, apa tujuanmu datang ke Verstannia?"
"Kenapa aku harus memberitahumu?" Junpei membalas dengan nada mencemooh, sedikit dimaksudkan untuk memancing amarah Yosuke.
Kemudian mereka mulai berdebat, saling mengejek dengan bisikan dan desisan. Dikuasai oleh emosi, Yosuke sendiri bahkan telah melupakan prioritasnya memperoleh informasi dari Junpei. Tanpa kedua pria itu sadari, pertunjukkan telah selesai, sukses menerima tepuk tangan riuh dari penonton. Tanpa musibah, tanpa halangan, tanpa kecelakaan.
Dan hal tersebut membingungkan Souji, juga gadis berambut biru gelap yang berdiri jauh di belakang mereka.
Naoto tidak dapat melihat sesuatu yang terkesan ganjil atau mencurigakan, bahkan setelah ia melepas lensa kontaknya. Ini tidak sesuai dengan yang diduga Naoto sebelumnya. Ketika ia telah melihat dengan matanya, seharusnya tidak ada satu perangkap ataupun keganjilan yang lolos dari penglihatannya.
Apa ia telah dipermainkan?
Naoto mendesah, tetapi tidak mengurangi kewaspadaannya. Satu tangannya masih menggenggam erat balon-balon dari Teddie, sementara tangan lainnya telah mencengkeram revolver, berjaga-jaga dan menjamin tidak ada suatu gangguan dan hal buruk dalam bentuk apa pun yang terjadi. Diam-diam, hatinya berseru lega karena tidak ada sesuatu yang tidak diharapkannya terjadi.
Panggung telah ditutup, dan belum ada keanehan apa pun juga. Hal ini sepertinya tidak sesuai dengan ancaman yang mereka terima. Para penonton bahkan telah berdiri dari kursinya, berjalan teratur keluar dari ruang pertunjukkan. Naoto tetap berada di tempatnya berdiri, tetapi sekarang ia telah mengenakan kembali lensa kontaknya.
Gadis itu tidak dapat mengalihkan perhatiannya dari Souji, ketika sang pemuda ikut berjalan bersama-sama dengan penonton lainnya keluar ruangan. Souji juga menyadari keberadaan Naoto dan menatap gadis itu, sementara ia masih terus berjalan. Souji tampak menilai penampilannya, terutama mata gadis itu. Tatapan bingung terpancar dari mata Souji, tetapi mereka akhirnya saling melepas kontak mata, dan Souji berjalan keluar ruangan.
Naoto terus terpaku pada tempatnya, dan sesuatu tiba-tiba mengingatkan gadis itu. Satu-satunya orang yang paling patut dicurigai justru adalah Seta Souji.
Tanpa pikir panjang, gadis itu langsung bergabung dengan kerumunan orang-orang, berusaha mencari sosok Souji di antara mereka, namun ia tidak berhasil menemukan pemuda itu. Gadis itu menggigit bibir, melepaskan revolver dan membiarkan benda itu menggantung pada tempatnya, kemudian menekan alat komunikasi kecil yang menggantung pada telinga kanannya.
"Aku ingin kalian mencari seseorang. Pria muda dengan tinggi sekitar 180 sentimeter, rambut dan mata abu-abu... penampilannya agak tidak umum. Kuharap kalian menahan sementara setiap pria dengan kriteria yang kusebutkan tadi."
Souji memperhatikan sekelilingnya dengan hati-hati, setengah berharap ia menemukan seseorang yang mencurigakan. Berdasarkan informasi dari Shinjiro, di tempat ini akan terjadi pembunuhan. Tetapi sejauh ini, bahkan hingga pertunjukkan telah selesai, tidak ada kehebohan apa pun yang terjadi. Apa mungkin pembunuhan tidak dilakukan terang-terangan? Apa sekarang para aktor aman dalam ruang ganti mereka masing-masing?
Pemuda itu tidak mungkin membiarkan segalanya berjalan sesuai keinginan calon pembunuh itu, siapa pun dia. Souji telah menyiapkan pistol di balik jas hitamnya. Ia belum melihat Junpei. Mereka terpisah dalam kerumunan. Souji memutuskan akan memeriksa gedung ini lebih jauh, setiap sudutnya...
"Maaf, tuan..." sebuah suara nyaris membuat Souji terlonjak dan meraih pistolnya, namun pemuda itu segera menjauhkan tangannya dari jas ketika menyadari seseorang yang memanggilnya adalah seorang petugas keamanan.
"Ya?" Souji merespon hati-hati. Mengapa petugas keamanan itu hanya mendatanginya? Apa ia berbuat kesalahan? Pemuda itu berharap sang petugas tidak menanyakan ID card-nya sekarang. Ia tidak memilikinya.
"Maaf, tapi untuk sementara kami tidak akan mengijinkan Anda meninggalkan tempat ini..."
Apa?
"Tunggu, atas dasar apa Anda menahan saya seperti ini?" Souji bertanya tidak percaya. Sebelum sang petugas sempat membalas, terdengar suara seorang gadis yang familiar di telinga Souji.
"Cepat sekali... orang pertama yang kita temukan langsung sesuai dengan keinginanku. Kerja bagus."
Souji segera menoleh dan mendapati Shirogane Naoto berjalan ke arahnya, dengan tiga buah balon yang ia genggam erat benang-benangnya dengan satu tangan. Naoto tersenyum sopan padanya, suatu reaksi yang tidak diduga Souji. "Senang berjumpa dengan Anda, Seta Souji. Saya harap Anda masih mengingat siapa saya."
Naoto berbicara lebih sopan dibanding saat mereka pertama bertemu.
"Ya... tentu saja saya ingat, Shirogane-san..." Souji berusaha menahan nada ketus dalam suaranya.
"Bagus sekali. Bukankah itu akan mempersingkat urusan kami?" Naoto melebarkan sedikit senyumannya. Gadis itu menghadap sang petugas keamanan dan menyerahkan balon-balon yang digenggamnya. "Pegang ini sebentar..."
Sang petugas menerima balon tersebut tanpa bertanya lebih lanjut, dan Naoto berbalik ke arah Souji. "Saya berharap Anda bersedia mengikuti saya."
"Bagaimana kalau saya menolak?" Souji balas tersenyum menantang.
"Maka kami mungkin harus menggunakan sedikit kekerasan..." Naoto menjawab, tatapannya serius dan tidak ada nada main-main atau bergurau dalam ucapannya.
Souji mendesah, kemudian menggelengkan kepalanya pelan. Ia memperhatikan sekilas sekelilingnya. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Junpei. Pemuda berambut abu-abu itu mengangkat bahunya. "Baiklah... saya tidak memiliki pilihan, bukan?"
Naoto mengangguk menjawab pertanyaan Souji, dan pemuda itu berjalan mengikuti Naoto.
Gadis itu membawanya ke bagian belakang gedung, menuju sebuah koridor yang sepi. Tidak ada tanda-tanda pekerja atau pelayan yang melewati mereka, ataupun tamu. Langkah gadis itu terhenti di tengah koridor, dan Souji juga ikut menghentikan langkahnya. Hanya mereka berdua yang berada di tempat itu sekarang. Gadis itu tiba-tiba menarik revolver dari sarungnya dan menodongkan senjata itu padanya.
Dan dengan kecepatan yang sama, dan sesuai dugaan sang gadis, Souji melakukan hal serupa.
Mereka saling menodongkan senjata masing-masing. Souji mencengkeram pistolnya lebih erat. Naoto menyunggingkan senyum penuh arti. "Aku sudah menduga kau bereaksi sama cepatnya."
"...Apa tujuanmu sebenarnya, dan mengapa kau ada di sini, Shirogane?" Souji adalah yang pertama melontarkan pertanyaan.
"Itulah yang ingin kutanyakan juga padamu, Seta." Senyum gadis itu menghilang.
"...Mengapa aku harus memberitahumu?"
"Karena jika tidak, salah satu dari peluru dalam revolver ini akan bersarang di kepalamu."
"Aku juga bisa melakukan hal serupa denganmu, ingat?" Souji tertawa kecil, tanpa sedikitpun menurunkan senjatanya. Souji, sama halnya dengan Naoto, juga menaruh kecurigaan pada gadis di hadapannya. Sang pemuda mencurigai keberadaan gadis itu, dan apakah ia terlibat dalam usaha pembunuhan. Dan Souji sendiri cukup yakin Naoto juga mencurigainya.
"Apa hubunganmu dengan Kujikawa Rise?" Naoto bertanya tiba-tiba, dan itu adalah pertanyaan yang sedikit tidak diduga Souji. Pemuda itu mengangkat bahu.
"Aku sedang berbaik hati padamu sekarang, Shirogane-san, maka aku akan menjawab jujur..." Souji tersenyum, "sejujurnya, aku tidak tahu apakah aku sungguh-sungguh berhubungan dengannya."
"Bagaimana kau bisa—" kalimat Naoto terpotong dan ia tersentak kaget ketika bunyi ponselnya terdengar, bergetar-getar dalam saku kecil roknya. 'Di saat seperti ini? Siapa yang—'
Pikiran Naoto buyar ketika ia mendengar bunyi ponsel lainnya, dan itu bukan miliknya. Dering ponsel itu berasal dari saku celana pemuda di hadapannya. Souji tampak sama bingungnya. 'Seseorang juga menghubunginya?' batin Naoto bertanya-tanya.
Ia melihat Souji mengeluarkan ponsel yang bergetar itu dari saku celananya, tanpa mengalihkan pandangannya dari Naoto ataupun menurunkan pistol yang ia genggam. Naoto melakukan hal yang sama. "Biarkan aku mendengar percakapanmu dengan siapa pun di sana."
"Kau tidak bisa memerintahku..." Souji balas menantang, "aku juga menodongkan senjata ini padamu dan bisa menembakmu kapan saja."
Naoto mengumpat sangat pelan, kemudian menyempatkan matanya melirik sekilas nomor ataupun nama yang ditampilkan layar ponselnya. 'Unknown number'.
Gadis itu dapat melihat Souji mengerutkan dahi ketika ia juga melirik sekilas ponselnya. "...Unknown number?" Naoto bertanya pelan, tidak benar-benar ditujukan pada pemuda itu.
Namun Souji mendengar pertanyaan itu, dan ia tersenyum sinis. "Wow... hebat... tebakanmu tepat sekali, Miss." Tatapan pemuda itu terpaku padanya, sementara kedua ponsel mereka masih berdering dan bergetar. "Jadi, kita sepakat?" pemuda itu tiba-tiba bertanya, dan Naoto mengerti apa yang ia maksudkan.
"...Baiklah..." Naoto menjawab, dan mereka bersama-sama menekan tombol jawab dan menekan ponsel mereka masing-masing ke telinga. Kedua orang itu masih saling menodongkan senjata.
"Waktumu tujuh puluh menit." Itu adalah kalimat pertama yang didengar Naoto ketika ia menekan ponselnya ke telinga. Ia masih mengawasi Souji, tetapi gadis itu tidak lagi dapat membaca ekspresi sang pemuda yang juga tengah mendengarkan sesuatu dari ponselnya.
"Temukan petunjuk, jika kau berharap akan menghentikan aku. Aku akan membunuh mereka, kemudian aku mungkin akan menghancurkan tempat ini, kemudian aku akan membunuh diriku sendiri." Suara di ponsel itu tidak jelas, bahkan Naoto tidak yakin apakah itu suara laki-laki atau perempuan. Ia kembali melirik Souji, menduga-duga apakah Souji juga mendapatkan pesan yang sama dari seseorang yang menghubunginya.
"Tu-tunggu, siapa kau?" Naoto akhirnya merespon. Ia merasakan tatapan kebingungan dari Souji. Mulut pemuda itu juga terbuka, seperti hendak berkata-kata.
"Kau akan tahu..." suara dalam ponsel itu menjawab, "Mungkin seharusnya hanya kau di tempat ini yang mengetahuinya, kecuali ada sesuatu atau seseorang yang memberitahukan pemuda di hadapanmu itu siapa aku."
"Apa...?" Naoto tidak bisa menghentikan hatinya terus bertanya-tanya. Ia menatap Souji setengah tidak percaya. "Bagaimana kau tahu bahwa di depanku—"
Naoto tidak sempat menyelesaikan kalimatnya karena sambungan segera terputus.
Souji merasa cukup yakin Naoto juga mendapatkan pesan yang sama.
Sang penelepon yang menggunakan 'unknown number' itu melontarkan ancaman padanya begitu Souji menekan ponsel ke telinga. Suara sang penelepon sama sekali tidak jelas, seperti dihalangi bunyi seperti mesin rusak. Sang pemuda diberitahu bahwa ia memiliki waktu tujuh puluh menit. Ia harus menemukan petunjuk, atau sang penelepon akan melancarkan aksinya. Dan kalimat terakhir dari pesan itu agak mengejutkan Souji.
'Satu-satunya orang di tempat ini yang mengetahui siapa aku begitu menemukanku, hanyalah gadis yang berdiri di hadapanmu sekarang... tetapi kau dapat mengetahui siapa diriku jika sesuatu—atau seseorang selain gadis itu memberikan petunjuk padamu.'
Jadi Souji dapat mengetahui siapa sesungguhnya sang penelepon dengan bantuan petunjuk dari sesuatu atau seseorang... selain gadis di hadapannya? Sudah jelas suara di ponsel itu berkata bahwa hanya gadis di hadapannya—tidak lain adalah Naoto, yang mengetahuinya. Tetapi justru ia harus meminta petunjuk dari orang lain?
Apa maksudnya ini?
Souji meletakkan kembali ponselnya, dan melihat Naoto juga mengembalikan ponsel miliknya ke saku. Gadis itu memperhatikan Souji lekat-lekat, dan pemuda itu tahu bahwa Naoto tengah memutar otak untuk berpikir tindakan apa yang harus mereka ambil selanjutnya. Ancaman pembunuhan itu kemungkinan besar memang sungguhan, dan Souji semakin yakin dengan ancaman dari ponsel yang baru saja ia terima.
"...Aku yakin... kita sama-sama tidak memiliki banyak waktu..." Naoto tiba-tiba berkata, dan Souji menyunggingkan senyum tipis.
"Benar..."
Hening menyelimuti mereka. Kedua orang itu kemudian dikejutkan oleh suara deringan ponsel. Kali ini hanya ponsel milik Naoto yang berdering. Gadis itu menggumamkan sesuatu yang tidak jelas di telinga Souji, dan cepat meraih ponselnya sambil terus memperhatikan Souji dan menodongkan senjata.
Naoto terlibat dalam percakapan singkat dengan sang penelepon. Gadis itu tampak sedikit terkejut ketika mendengar kalimat yang dilontarkan dari sang penelepon. "Benarkah...? Aku akan segera ke sana."
Gadis itu memutuskan hubungan, dan ia menatap Souji dengan penuh pertimbangan. Souji tidak dapat menahan senyumannya. "Dari penelepon tadi? Sepertinya bukan."
"...Petugas keamanan..." Naoto menjawab jujur, sedikit tidak disangka Souji. "Aku harus kembali..." Gadis itu menatap Souji hati-hati, "untuk sementara, kurasa aku harus melepaskanmu." Sang gadis pelan-pelan menurunkan senjatanya, dan Souji mengikuti gerakan tersebut. Naoto tidak akan menurunkan senjatanya jika ia tidak melakukan hal yang sama.
Souji merasa lega karena akhirnya ia bisa menurunkan pistolnya. Lengannya mulai sedikit pegal, walaupun pemuda itu tidak ingin mengakui hal tersebut. Naoto mulai berjalan menjauhi pemuda itu sambil terus memperhatikan setiap gerakan Souji dengan hati-hati. Souji akhirnya mengangkat kedua tangan, membiarkan pistolnya tergantung pada sarung, untuk meyakinkan Naoto bahwa ia tidak akan menembak begitu ada kesempatan.
Selang beberapa menit, Souji telah berdiri seorang diri di koridor itu.
Naoto berlari secepat yang ia bisa ke tempat petugas keamanan tadi berdiri. Petugas tersebut menghubunginya dan memberitahu bahwa ia secara tidak sengaja memecahkan balon berwarna-warni yang Naoto titipkan kepadanya. Tetapi bukan hal itu yang memicu sang gadis terburu-buru berlari, tetapi hal lain... tentang apa yang ada di dalam balon tersebut.
Gadis berambut biru itu telah sampai pada tempatnya, dan sepasang kristal kelabu birunya terkunci pada sisa-sisa pecahan balon. Beberapa orang masih berlalu lalang, tetapi tempat itu mulai sepi. Petugas keamanan tadi berdiri di dekatnya, dan menyerahkan sisa pecahan balon itu pada Naoto. "Sedikit kejutan, Naoto-sama..."
Naoto meraih pecahan balon itu dengan hati-hati. Tiga balon itu berwarna biru, merah, dan hijau. Gadis itu akhirnya menyadari ada sesuatu yang tertera pada pecahan-pecahan balon itu. Sebuah tulisan... mungkin pesan.
"...Bantu aku menyusun pecahan-pecahan balon ini. Ada susunan huruf-huruf samar di dalamnya..."
Souji tidak tahu harus berbuat apa sementara ia masih berdiri di koridor tersebut. Ia tidak dapat menghubungi Junpei. Ponselnya tidak diangkat. Apa yang sedang Junpei lakukan? Apa Junpei tidak mencari di mana Souji?
Ataukah rekannya itu juga mendapat masalah?
Souji memutuskan ia harus mencari Junpei. Waktu yang dimilikinya memang hanya tujuh puluh menit, tetapi Souji benar-benar tidak mendapatkan petunjuk lebih. Ia bahkan tidak tahu apa yang harus dilakukannya untuk mencari petunjuk. Bertanya pada sesuatu... atau seseorang? Siapa yang bisa ia tanyakan? Junpei tidak terlihat dapat diandalkan... entah kenapa.
Ponselnya berdering. Souji terburu-buru mengeluarkan benda itu dari sakunya, berharap melihat nama Junpei di sana. Tetapi yang ia lihat pada layar bukanlah nama Junpei... melainkan nama seseorang yang belum ia duga sebelumnya.
Shinjiro.
Jika harus jujur, sejak pertama kali ia bergabung dalam UFoND, Aragaki Shinjiro bukanlah seseorang yang benar-benar dikenal Souji sampai sekarang. Pemimpin mereka bisa dikatakan misterius, berbicara apa adanya, dan terkadang agak terlalu pendiam. Ia hanya memberikan perintah-perintah misi secara langsung atau melalui Fuuka, tetapi tidak pernah memberikan rincian tentang tujuan atau detail tentang apa yang harus mereka lakukan. Junpei, Kanji, ataupun Chie yang memang lebih berpengalaman dibanding Souji, sepertinya telah menyadari bahwa mereka harus percaya sepenuhnya kepada sang pemimpin, seaneh apa pun misi yang diberikan.
Dalam UFoND, yang paling banyak berkomunikasi dengan Shinjiro adalah Yamagishi Fuuka, walaupun gadis berambut biru kehijauan itu juga sepertinya tidak benar-benar mengenal Shinjiro. Setahu Souji, tidak ada anggota UFoND yang mengenal Shinjiro cukup dalam untuk mengetahui sifat-sifat sesungguhnya ataupun tentang masa lalunya.
Souji tidak berpikir panjang. Sangat jarang Shinjiro menghubungi langsung ponselnya, apalagi dalam misi. Pemuda itu langsung menekan tombol jawab dan menunggu suara Shinjiro keluar dari ponsel tersebut.
Dan suara itu memang terdengar.
"Seta Souji... kurasa kau sudah maju selangkah untuk mencegah pembunuhan yang mungkin terjadi di tempat itu?" suara Shinjiro terdengar sangat tenang, dan cukup tegas. Souji merespon hati-hati.
"Aku tidak benar-benar tahu..." Souji menjawab jujur, "tapi, sepertinya aku mendapat penelepon gelap." Souji menambahkan dengan sedikit gurauan.
"...Ya, aku tahu itu." Jawaban tersebut tidak disangka Souji. Shinjiro mengetahui sesuatu tentang ancaman telepon itu? "Karena itu aku menghubungimu. Catat kata-kataku ini dalam otakmu, Seta Souji. Tanyakan petunjuk apa pun yang mampu mengarahkanmu pada calon pembunuh. Dan mungkin kau harus menggunakan sedikit kekerasan."
"Pesan yang mirip dengan apa yang kuterima dari si pengancam." Souji menjawab murung, "Masalahnya, aku tidak tahu dengan siapa aku harus bertanya. Bahkan aku tidak dapat menemukan Junpei—"
"Tanyakan pada 'gadis kecil itu'. Dia mengetahui lebih banyak dari yang dikiranya. Periksa apa yang tersimpan dalam WCM milikmu. Kata kunci untukmu... 'burung biru.' Selamat berjuang."
"'Gadis kecil'? Siapa—" Kalimat Souji terhenti ketika Shinjiro memutuskan hubungan begitu saja. Souji mendesah. 'Periksa WCM milikmu?'
Sang pemuda segera berlari secepat kakinya bisa membawa, ke arah di mana ia menyembunyikan War Combat Machine.
Selama perjalanannya menuju tempat WCM milik Souji disembunyikan, pemuda berambut abu-abu itu terus mempekerjakan otaknya untuk merenungkan kata-kata Shinjiro.
Jika Shinjiro mengatakan sesuatu tentang 'gadis kecil', otaknya tidak mengarah ke gadis kecil lain selain ilusi... atau program itu. 'Naoto' kecil yang dilihatnya melalui memory visor. Apa Shinjiro tahu dan bahkan juga dapat melihat gadis kecil itu? Souji memang pernah memberitahu tentang gadis kecil itu pada Fuuka, tetapi...
Pemuda itu telah sampai di tengah hutan kecil yang rindang, dan putih tertutup salju. Pohon-pohonnya menggundul, dan beberapa yang hijau tertutupi salju. Waktu itu malam hari, dan bulan bersinar memamerkan keputihan salju di bawahnya. Hutan itu berada dekat hotel tempat mereka menginap. Souji telah membuang waktu sekitar lima belas menit untuk berlari ke tempat itu hingga ia terengah-engah. Souji melihat WCM miliknya, dan tanpa banyak berpikir pemuda itu segera meraih WCM key card dan membuka mesin tempur itu secepat yang ia bisa. Souji melompat masuk dan meraba-raba sekitar kokpit. Seharusnya tidak lama ia memeriksa kokpit tersebut. Tempat itu lumayan sempit.
Dan Souji menemukannya. Tergeletak di bawah tempat duduk pilot adalah benda penutup mata keemasan yang ia kenali sebagai memory visor.
Souji ingat jelas ia meninggalkan memory visor itu di UFoND base. Seseorang tampaknya menyusup masuk WCM miliknya dan menyelipkan benda itu. Tidak salah lagi... ini adalah memory visor yang selama ini digunakannya, karena UFoND hanya memiliki satu alat seperti itu.
Souji langsung mengenakan benda keemasan itu di sekitar matanya. Waktunya tinggal sekitar lima puluh menit.
"...Ah..."
Souji membuka matanya dan mendengar suara halus itu agak jauh di depannya. Gadis kecil itu berdiri di sana, di bawah pohon besar tempatnya biasa. Tanpa tertahan, 'Naoto' kecil menyunggingkan senyum senang. Wajahnya memerah gembira ketika ia melihat Souji. Salju di sekitar mereka sudah semakin banyak. "Onii-san..." gadis kecil itu memanggilnya, dan ia mulai berlari kecil dengan kaki-kaki mungilnya yang tidak beralas menembus salju di sekitar mereka.
Gadis kecil itu berhenti di depan Souji, dan sang pemuda refleks melakukan pelukan singkat dengan gadis kecil itu. Tubuh gadis kecil itu terasa dingin, tetapi semakin Souji memeluknya, ia merasakan kehangatan. Souji tidak dapat tidak mengindahkan bahwa ia benar-benar bisa menyentuh tubuh mungil ini dan merasakannya sebagaimana manusia. Walaupun nyatanya gadis kecil ini mungkin hanyalah program. "Kau sudah kembali... bagaimana misimu?" 'Naoto' kecil bertanya lembut ketika mereka melepaskan pelukannya.
Souji tersenyum tipis. "Sayangnya... misiku belum berakhir."
"Eh?" sang gadis kecil memiringkan sedikit kepalanya, ia tampak kebingungan.
"...Aku harus menanyaimu sesuatu... ini sangat penting bagiku, dan menyangkut nyawa beberapa orang... bahkan banyak orang." Souji kembali terlihat serius, dan 'Naoto' kecil tampak khawatir.
"Melibatkan nyawa banyak orang?" gadis kecil itu bertanya kaget. "Onii-san, tanyakan apa pun. Aku akan berusaha menjawab sebisaku." 'Naoto' kecil berkata sungguh-sungguh. Pemuda itu kembali tersenyum.
"Aku lega kau berkata begitu..." Souji menghela napas lega. Beberapa detik pertama, Souji harus berpikir. Jujur saja, ia tidak benar-benar tahu apa yang harus ditanyakannya pada gadis kecil ini. Dia tidak bisa mengatakan, 'berikan petunjuk apa pun yang mengarah pada calon pembunuh'. Gadis kecil ini tidak akan mengerti.
"Err... kau tahu sesuatu tentang... National Theater Verstannia?"
Naoto kecil tampak kebingungan. "...Tidak. Apa itu?"
"Baiklah, lupakan." Souji mendesah. Sialan, apa yang harus ia tanyakan? Souji ingin berteriak begitu dalam hati. Sang pemuda berusaha mengingat-ingat kembali kata-kata Shinjiro.
'...Kata kunci untukmu... 'burung biru'.'
Ia ingat Shinjiro pernah mengatakan itu saat menghubunginya tadi. Souji kembali memutar otaknya, sementara Naoto masih menunggu pertanyaannya. Gadis kecil itu menyembunyikan kedua tangannya di belakang punggung, memperhatikan Souji dalam-dalam.
Burung biru... burung biru... bluebird... Blauvogel... Hüttensänger?
"Naoto-chan..." Souji memandang Naoto serius, dan gadis itu tampak menunggu apa yang dikatakan Souji. "...Hüttensänger... kau ingat sesuatu tentang itu?"
"...Hüttensänger...?" Gadis kecil itu tampak berusaha mengingat-ingat. "...A-aku..." Naoto kecil memejam dan menekankan satu tangannya ke dahi. "...Aku... sepertinya ingat sesuatu yang berhubungan dengan itu..."
Souji merasakan lega tak terkira ketika mendapat pernyataan itu dari gadis kecil di depannya. "Benarkah? Apa? Apa yang kauingat? Cepat beritahu aku."
Namun gadis kecil itu mulai gemetar, ia tampak ketakutan. "...A-aku tidak begitu ingat apa itu..." gadis kecil itu mengaku. "Itu... um..." ia menggeleng. "Aku hanya tahu itu sesuatu yang sepertinya familiar... tapi..."
"Itu bluebird."
"Aku tahu. Tapi rasanya aku ingat sesuatu..." Naoto kecil menjawab lirih.
Lima menit mereka berdiam diri. Souji mengumpat pelan. Ia tidak memiliki waktu terlalu lama. Nyawa manusia menjadi taruhannya. "Si-sialan! Cepat katakan apa yang kauingat!" Souji nyaris lepas kendali, dan mencengkeram kedua lengan atas gadis kecil itu kuat hingga ia tersentak kaget. Waktunya hanya sekitar empat puluh menit.
"L-lepaskan...!" Gadis kecil itu menjawab panik, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Souji yang terasa menusuk di kulit lengannya yang tidak terlindungi dengan apa pun. "Aku ti-tidak ingat, Onii-san...!"
Souji melonggarkan cengkeramannya. Kepalanya sakit. Waktu yang tersisa mungkin sekitar 35 menit. Kalimat Shinjiro kembali menyambar otaknya. 'Gunakan kekerasan.'
Souji tidak menyangka ia harus benar-benar melakukannya. Itu sesuatu yang sulit... tetapi pemuda itu berusaha berpikir realistis. Gadis kecil ini program... ilusi... bukan sesuatu yang benar-benar hidup dan berarti... tetapi hanya karena keragu-raguan, Souji bisa saja melayangkan nyawa banyak manusia... yang nyata dan hidup.
...Pengorbanan harus dilakukan... benar bukan?
"...Maaf... tidak memiliki banyak waktu..." Souji akhirnya bergumam. Naoto kecil menatapnya bingung, kemudian kedua mata biru kelabunya melebar ketika gadis kecil itu melihat Souji mengeluarkan sesuatu dari balik jas hitamnya.
"...Onii...san...?" suara gadis kecil itu terdengar ragu dan bergetar.
Souji sekarang berdiri di depannya dengan sebuah tongkat tipis dan runcing dari besi, dengan tombol pada ujungnya. Souji tersenyum pahit pada gadis kecil itu. "Apa kau tahu benda ini, Naoto-chan?"
Gadis kecil itu menggeleng. Souji mendesah.
"...Benda ini... adalah pilihan terakhir untuk memeras informasi dari seseorang yang sangat keras kepala. Orang yang memilih lebih baik mati daripada membocorkan informasi yang ia miliki. Atau seseorang yang sesungguhnya tahu suatu informasi, tetapi otaknya telah melupakan informasi tersebut. Dekatkan ujung besi ini pada kepala seseorang... tekan tombol di ujungnya..." Souji memperagakan tanpa sungguh-sungguh menekan tombol itu, "...dan kepalamu akan mengalami sakit yang luar biasa. Ada sedikit kemungkinan ingatanmu akan informasi yang dibutuhkan akan muncul, dan sangat besar kemungkinan benda ini hanya membunuh. Resiko kematian 90%."
"...Apa...?" Naoto kecil terlihat ketakutan, dan tubuhnya refleks mundur ketika Souji mulai berjalan mendekatinya dengan benda tersebut di tangannya. "...Onii-san, kau..."
"Maaf." Hanya itu jawaban Souji, ia tersenyum pahit pada gadis kecil itu. "...Lagipula... kau hanya program."
Souji menangkap ekspresi tidak percaya gadis kecil itu, dan sorot matanya menunjukkan suatu kekecewaan yang tak terbendung. "...Hanya... program...?"
Sang pemuda tidak membalas dua kata itu lagi. Souji berjalan semakin mendekat, dan ia melihat air mata mulai mengalir menggenangi kristal perpaduan safir dan perak yang terpaku padanya.
"Ja-jangan..." Gadis kecil itu menggelengkan kepalanya, sambil terus berjalan mundur. Gerakan mundurnya semakin cepat, dan sang gadis kecil tergelincir salju yang diinjaknya. Gadis kecil itu terjatuh, tubuhnya membentur cukup keras permukaan tanah di bawahnya. Air mata mengalir semakin deras. "Onii-san... jangan gunakan benda itu padaku... kumohon..." gadis itu menangis, "a-aku akan me-membantumu... aku akan berusaha membantumu... berikan aku waktu... jangan membunuhku..."
"Kau tidak akan mati..." tatapan Souji tetap terpaku pada gadis kecil itu. "...Kau bukan..." Souji menelan ludah, kemudian melanjutkan, "...manusia, atau mahluk hidup lainnya."
Gadis kecil itu memandangnya tidak percaya. Souji membungkuk di depannya dan mencengkeram lengan gadis kecil itu erat. Sang gadis kecil meronta-ronta putus asa, berusaha melepaskan dirinya. Sorot mata gadis kecil itu berkilat marah, ketika ia menyerah dan berhenti meronta. "...Kau tidak berbeda dengan mereka..."
"Mereka?"
"Orang-orang itu juga menganggapku tidak bernilai sama sekali. Aku tahu mereka memang benar... tapi..." gadis kecil itu menggeleng, "jika memang mereka membenciku, seharusnya langsung saja mereka membunuhku! Karena aku benci lingkunganku. Aku benci kalian semua...! Aku..." gadis kecil itu menangis terisak, "aku benci ayahku!"
Pengakuan gadis kecil itu, sekaligus emosi yang terkandung dalam nada bicaranya berhasil membuat Souji tercengang. Pemuda itu menelan ludah, dan sang gadis kecil melanjutkan kalimatnya lebih lagi.
"...Kau pernah mengatakan bahwa kau menyukaiku, Onii-san..." gadis kecil itu terisak. Sorotan mata itu memancarkan beragam emosi. Pengkhianatan, kebencian, dengki... dan yang paling terlihat jelas adalah kekecewaan. "...Kau pembohong."
Souji tidak merespon kalimat itu lebih jauh dengan kata-kata, tetapi dengan mendekatkan tongkat tersebut ke kepala sang gadis kecil.
A/N:
Happy New Year, all XDD
aku apdet ini pas taon baru (kurang kerjaan) aku jamin chapter ini pasti sangat gaje dan mohon yang menemukan kesalahan, silahkan beritahu orz
Saya ingin berterima kasih banyak buat mereka yang berbaik hati menyumbangkan reviewnya. Machine Emperor Hayato Arisato, Ich bin. Mystery (ato langsung Kuroka aja?), toganeshiro-chan, MelzZz, dan heylalaa. :D karena berkat mereka jugalah saya bisa lanjutin dengan semangat lebih! ;)
...maaf gaje banget orz
maksud saya chapter ini... diliat berapa kali tetep aja gaje, pengulangan kata, dll dll... T_T
Nah... back to topic, makasih juga buat yang telah membacanya hingga chapter ini XDD silahkan sampaikan komentar dan kawan-kawannya (kayak biasa) lewat review! oh, sekali lagi, Happy New Year. Wish you all the best for the year :)
-Snow Jou
