Disclaimer: ATLUS owns Persona 3 & Persona 4
Genre: War/Tragedy/Mecha/Romance/Sci-Fi
Ini bukan pertama kalinya aku merasa kecewa dan dikhianati.
Aku ingat waktu pertama kali aku membuka mataku. Aku melihat seorang pria dengan pancaran mata puas dan senyum kasih sayang. Dia menggenggam tanganku yang agak terlalu kecil itu erat dengan telapak tangannya yang besar dan kuat. Dia menyemangatiku waktu aku pertama kali belajar berjalan, dan siap menangkapku dalam dekapannya yang hangat ketika aku terjatuh. Dia selalu ikut tersenyum tatkala aku tersenyum.
Dia mengerti seperti apa diriku... dia mengetahui hampir segalanya tentang diriku. Pria itu orang yang paling kusayangi... satu-satunya orang yang memperlakukanku sebagaimana anak-anak lain. Walau aku tahu bahwa diriku paling berbeda dengan anak-anak lain, dia selalu memandangku dengan mata yang seolah-olah mengatakan bahwa perbedaan dalam diriku adalah sesuatu yang paling indah dan berharga, bukan sesuatu yang dibenci.
Dia adalah segalanya bagiku... dan aku berpikir bahwa aku adalah milik Papa, dan Papa adalah milikku.
Pemikiran itu bertahan selama beberapa tahun, hingga aku bertemu dengannya.
Dia adalah seorang anak kecil, yang memiliki ciri-ciri yang berhasil membuatku terkejut dan memandangnya tidak percaya. Kupikir, perkenalan pertamaku dengannya tidak akan berarti apa-apa. Aku akan melupakan pertemuanku dengan anak itu, dan ia akan melakukan hal yang sama.
Tapi ternyata tidak.
Kedua mata Papa mulai tertuju sepenuhnya pada anak kecil baru itu, dan dia meninggalkanku sendirian.
Rasanya sulit mempercayai ini, tetapi sebelum aku menyadari segala sesuatunya... hidupku berubah 180 derajat.
Liebe und Rache
Chapter 12
Hidden Messages
Sang gadis kecil memejamkan matanya, mendorong air mata itu mengalir lebih cepat menelusuri kulit pipinya. Tubuhnya gemetar ketakutan, menunggu sengatan rasa sakit luar biasa pada kepalanya.
Tetapi ia tidak merasakan apa-apa. Ia justru mendengar suara pemuda di hadapannya mengumpat berkali-kali. "Sialan... sialan... sialan..."
Maka sang gadis kecil membuka mata. Dan dikejutkan oleh cahaya kebiruan cantik sekaligus menyilaukan yang menyambar kedua matanya. Cahaya itu bersinar indah bagai kilauan berlian, membuat sang gadis kecil terpana beberapa saat dan melupakan rasa sakit pada lengannya yang dicengkeram oleh sang pemuda.
Dan cahaya itu berasal dari tongkat yang digenggam Seta Souji untuk menguras informasi darinya.
"...A-apa...?" 'Naoto' kecil akhirnya berhasil bersuara lirih, jelas-jelas kebingungan dengan cahaya itu. Ia sama sekali juga tidak merasakan sakit pada kepalanya.
Ia merasakan tangan yang mencengkeram lengannya mulai gemetar, kemudian melonggarkan cengkeramannya perlahan-lahan hingga akhirnya melepaskannya.
"...Dasar bodoh..." ia mendengar Souji akhirnya membuka mulut, dan pemuda itu mendesah. Ia melemparkan tongkat yang mengeluarkan cahaya itu ke samping mereka, kemudian meraih tubuh gemetar sang gadis kecil itu dalam dekapan menenangkan. "...Aku hanya mengujimu... apakah kau sungguh-sungguh lupa. Mungkin lebih tepatnya, aku hanya ingin sedikit menakut-nakutimu."
Sang gadis kecil melebarkan kedua kristal biru kelabunya dengan ketidakpercayaan. "...Apa?"
Ia tidak dapat melihat wajah Souji, karena pemuda itu memeluknya erat. Tubuh pemuda itu memberikan kehangatan padanya. Sesungguhnya, ia merasa kedinginan. Tetapi seringkali melupakan keadaan itu jika Souji berada di dekatnya.
Souji melepaskan pelukannya, kemudian memandang sang gadis kecil dengan mata yang bersinar jenaka. Ia meraih tongkat itu, yang tidak lagi mengeluarkan cahaya kebiruan. Sang pemuda menekan tombol di ujungnya, dan cahaya itu kembali muncul. "...Tongkat ini semacam lampu." Souji akhirnya tertawa kecil, "Aku tidak memiliki tongkat siksaan, Naoto-chan. Itu benda yang lebih pantas dipegang orang lain daripada diriku."
Dengan air mata masih menggenang, gadis kecil itu menatap Souji dengan ekspresi tak terbaca. Ia akhirnya berhasil berbicara dengan bibirnya yang gemetar, "...Kau... kau mempermainkan aku? Kau tidak sungguh-sungguh... ingin membunuhku...?" gadis kecil itu bertanya, ia nyaris terisak.
Souji mulai merasa bersalah, dan akhirnya ia mendesah. "...Tidak. Tidak... kupikir kalau aku menakut-nakutimu sedikit, kau akan ingat. Tetapi memang usahaku gagal."
Gadis kecil itu tidak lagi menanggapi perkataan Souji, tetapi ia justru mengangkat satu tangannya. Tangan mungil itu membentuk kepalan, dan gadis kecil itu tiba-tiba meninju dada sang pemuda.
"Ouch!" Pemuda itu bersuara pelan, tidak menduga reaksi itu dari sang gadis kecil. "Na-Naoto-chan...?"
"...Kau jahat, Onii-san!" Naoto kecil memukul-mukul dada pemuda itu berkali-kali. Kepalan tangan mungil itu tidak terasa sakit menurut Souji, tetapi tetap saja rasanya kurang nyaman. Di luar dugaan sang pemuda, gadis kecil itu justru menangis semakin keras dan terisak.
"Baiklah! Maafkan aku... maafkan aku..." Souji menenangkan gadis kecil itu dengan kembali memeluknya hangat. Pemuda itu kemudian tersenyum pahit, "Tapi... pada akhirnya aku tidak berhasil menemukan petunjuk.
Sang gadis kecil telah berhenti memukuli Souji, dan ia mendorong tubuh pemuda itu untuk melihat wajahnya. Matanya bersinar penuh simpati dan menyesal. "...Maafkan aku, Onii-san. Ini bukan salahmu, ini salahku. Aku tidak mampu mengingat, padahal kau sudah memberiku kata kunci."
Souji tersenyum penuh pengertian. "Tidak apa-apa." Ia berkata lembut, "Kita berdamai sekarang, kan?"
Naoto kecil terlihat bingung, air matanya telah berhenti mengaliri pipinya. "Apa kita pernah bertengkar?" gadis kecil itu bertanya khawatir.
"Tidak... tidak pernah." Souji menjawab puas, kemudian mendesah. Sang pemuda segera berdiri dari tempatnya. Ia tidak lagi menghitung waktu. Sudah berapa lama ia berdiri di sini? Tetapi ia juga tidak berhasil mendapatkan petunjuk.
"Onii-san, maafkan aku." Gadis kecil itu terlihat tidak nyaman.
"Hei, aku sudah mengatakan ini sebelumnya. Tidak apa-apa." Sang pemuda tersenyum lembut. "Aku senang kau bersedia membantu. Baiklah, kupikir aku akan berangkat sekarang... aku harus mengatur strategi lain untuk menemukan pembunuh itu."
Naoto kecil tidak merespon kata-katanya, tetapi hanya memandang Souji dengan sedih. Souji menyadari hal itu, kemudian membungkuk dan membelai lembut rambut sang gadis kecil, merasakan helaian rambut halus itu menggelitik jari-jari tangannya. "Terima kasih telah berusaha membantuku, v gi do."
Sang gadis kecil seketika terlihat bingung. "...Apa?" Ia bertanya, dan Souji tahu apa yang dimaksudkan sang gadis kecil adalah kata terakhir yang diucapkan Souji. Sang pemuda hanya tersenyum penuh arti.
"'V gi do'. Kau akan tahu apa artinya." Souji kemudian berdiri tegak dan hendak meraih memory visor lepas dari matanya.
Tetapi suara sang gadis kecil menghentikannya.
"...Souji onii-chan..." gadis kecil itu memanggil Souji, dengan panggilan yang belum pernah digunakannya. Souji mengangkat alisnya bingung. Kali ini, sang gadis kecil yang tersenyum. "...Kau memanggilku 'V gi do', maka aku memanggilmu 'Souji onii-chan'. Apa boleh?" Gadis kecil itu tiba-tiba memancarkan sorot mata penuh arti, seperti baru saja menemukan ide baru setelah berpikir berjam-jam.
"Ya..." Souji masih menjawab ragu, "jadi... kau mengetahui arti kata itu, v gi do?"
Sang gadis kecil mengangguk antusias, kemudian melanjutkan. "A-aku... merasa senang ada yang memanggilku seperti itu." Gadis kecil itu tersenyum dan paras manisnya memerah. "Terima kasih, Souji onii-chan." Gadis kecil itu menghampiri Souji dan pemuda itu memberikan pelukan singkat.
"Tidak masalah... walaupun aku agak kaget kau mengetahui sesuatu tentang bahasa itu." Souji tersenyum, mengusap-usap punggung sang gadis kecil. Pemuda itu tersenyum heran, dan akhirnya mengerutkan dahi.
Ia telah memeluk gadis kecil itu tiga kali, dan untuk ketiga kalinya Souji kembali merasakan sesuatu yang ganjil. Awalnya Souji berpikir bahwa itu hanya perasaannya saja, tetapi kali ini kecurigaan sang pemuda nyaris meluap. Sambil memeluk sang gadis kecil, dan sementara gadis kecil itu masih memeluk Souji dengan perasaan sayang yang dirasakannya, sang pemuda sekali lagi mengusapkan tangannya perlahan di sekitar punggung Naoto kecil.
...Dan ia merasakan ada sesuatu yang basah... dan menonjol pada punggungnya.
Souji akhirnya berhasil bertanya, "Apa yang ada di punggungmu?"
Naoto kecil segera melepaskan pelukannya dan menatap Souji agak kebingungan. "...Punggung? Oh..." gadis kecil itu tiba-tiba meringis kesakitan, "...punggungku terasa sakit sekali... pe-perih... aku ti-tidak tahu sejak kapan. Semua yang terjadi barusan benar-benar mengalihkan perhatianku dari rasa sakit ini... tetapi..." gadis kecil itu terlihat gelisah, "ra-rasanya seperti ada yang menusuk... atau ingin menembus keluar dari punggungku..." Naoto kecil memejamkan mata dan nyaris menangis karena rasa sakit itu. Gadis kecil itu langsung terjatuh di atas lutut, dengan kedua tangan yang menopang tubuh.
"V gi do!" Souji merasa terkejut, rasa panik benar-benar nyaris menyelimutinya. "Kau tidak apa-a—"
Kalimat pemuda itu terputus tiba-tiba dan kedua bola mata peraknya melebar, terkejut dengan apa yang dilihatnya. Souji melihat sayap biru tajam yang timbul menembus pakaian putih gadis kecil itu yang telah ternodai darah dari punggungnya. Sementara kedua mata gadis kecil itu terpejam, Naoto kecil akhirnya jatuh lemas dan sepasang sayap biru itu semakin menembus keluar dengan kasar dan melukai punggung sang gadis kecil, menodai salju putih di sekitarnya menjadi berwarna merah.
Warna biru bulu-bulu sayap itu diselingi warna-warna merah dari darah. Naoto kecil menjerit kesakitan sementara sepasang sayap itu menembus semakin besar hingga ukurannya nyaris sepanjang kepala hingga paha sang gadis kecil. "To-tolong! Sa-sakit sekali...! Souji onii-chan! Papa!" gadis kecil itu menangis.
Souji tidak dapat berkata apa-apa ataupun bertindak. Sepasang sayap biru dari punggung gadis kecil itu telah berhenti tumbuh, dan sayap biru itu mengembang di udara dengan percikan-percikan darah yang menghujam salju putih di sekitarnya.
Mulut Souji masih menganga melihat pemandangan yang tidak pernah disangkanya itu. "A-apa...?"
Naoto kecil telah berhenti menjerit, terengah-engah dan tampak kelelahan, tetapi tidak lagi terlihat kesakitan. "...Apa yang... terjadi...?" gadis kecil itu bertanya setelah ia berhasil kembali bangkit. Gadis kecil itu tampak kebingungan sesaat, kemudian ia menolehkan kepala ke belakang, terkejut mendapati sepasang sayap biru bernoda darah itu pada punggungnya.
Tiba-tiba gadis kecil itu terlihat panik. "...Ti-tidak... sekarang bukan saatnya bekerja..." ucapnya pelan, sementara tubuhnya mulai gemetaran.
Souji berhasil berbicara setelah terkejut begitu lama, "...Sa-sayap apa itu? Kenapa tiba-tiba—"
"So-Souji onii-chan," gadis kecil itu gemetar ketakutan. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan dan memandang Souji dengan sorotan mata gelisah, "...per-pergilah..."
"Pergi...?" Souji bertanya terkejut, sementara terlalu banyak pertanyaan saling bertumpukan dalam otaknya, "Apa maksudmu?"
"Pergilah!" Naoto kecil tiba-tiba berteriak keras, sementara tubuhnya semakin gemetaran dan air matanya mengalir semakin deras. "A-aku akan melukaimu... bahkan membunuhmu! Souji onii-chan, kumohon..."
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Souji nyaris meneriakkan pertanyaan itu.
"A-aku... aku..." Naoto kecil memejamkan matanya, "ji-jika sayap ini tumbuh... itu berarti... tu-tubuhku merasakan adanya ancaman..."
Souji hanya bisa tertegun selama beberapa saat, berusaha mencerna semua keanehan ini dalam otaknya. "Ancaman?"
"Tinggalkan aku sendiri!" Naoto kecil kembali berteriak, "Aku tidak akan se-sempat menjelaskan semua ini padamu, S-Souji onii-chan..." tubuh sang gadis kecil semakin gemetaran sementara satu tangannya mulai bergerak ke saku celana pendeknya. "T-tapi dalam wujud inilah... aku melakukan tu-tugasku. Dalam wujud inilah aku membunuh. Onii-chan, kumohon... aku tidak ingin melanggar janjiku... kauingat janji kita?" Naoto kecil menggelengkan kepala, "Tinggalkan aku... dan aku tidak akan melanggar janji itu ataupun menelan seribu jarum..." sementara Naoto kecil mengucapkan kalimat itu, satu tangannya yang dimasukkan ke dalam saku celana telah kembali keluar dengan sebilah belati tajam. Tangan mungil itu gemetaran, namun menggenggam belati itu dengan erat.
Janji itu kembali berputar dalam otak sang pemuda. Ia ingat kata-kata gadis kecil itu, yang diucapkan dengan lembut sambil mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Souji.
"Aku berjanji tidak akan membunuh orang lagi... jika aku membunuh, aku akan menelan seribu jarum."
"Hei, Nao-chan... kau cepat juga sampai di sini. Kau ingat tempat ini?"
Naoto masih terpaku pada sosok di hadapannya. Ia mengenali sosok itu sebagai Teddie, seseorang yang ia kenal di masa lalunya. Gadis itu menelan ludah. "...Teddie, apa yang kaulakukan di sini?"
Pemuda pirang itu menyunggingkan senyum penuh arti. "Tidakkah kau bisa menebak?"
"...Kau yang mengirimkan ancaman itu?" Naoto bertanya sambil mendesah, "Dengar, Teddie... ancaman seperti itu bukan main-main."
"Tentu saja ini bukan main-main, ini bagian dari rencana!" Teddie memotong. Ia kemudian memperhatikan Naoto sambil tersenyum. "...Kau belum menjawab pertanyaanku sebelumnya. Apa kau mengingat sesuatu tentang tempat ini?"
Naoto merespon dengan memperhatikan sekitar mereka. "...Aku ingat."
Senyum Teddie semakin melebar. "...Kenangan baik, atau buruk?"
"Kedua-duanya."
Souji berusaha menghindar, tetapi untuk ke sekian kalinya, ia tidak berhasil. Pemuda itu meringis kesakitan ketika ujung belati itu berayun kencang dan mengiris lengannya.
Gadis kecil itu mengeluarkan belati, bukan lagi cutter. Dan yang membuat Souji lebih terkejut, pegangan belati itu membuka dan sang gadis kecil menarik rantai panjang dari belati tersebut. Souji tidak dapat mempercayai betapa lincah setiap gerakan gadis kecil itu yang tengah berusaha membunuhnya. Ini sama sekali berbeda dibanding saat pertama kali mereka bertemu dan Souji dengan mudah menangkap pergelangan tangan gadis kecil itu dan mematahkannya. Sekarang sang gadis kecil tidak tertawa atau tampak menikmati semua ini, tetapi ia bergerak dengan mata tajam bagai pemangsa, dan gerakan tubuhnya bukan gerakan asal.
Naoto kecil menarik belatinya dengan rantai dan dengan cepat kembali mengayunkan ujungnya mengarah pada Souji. Pemuda itu berhasil menghindar, dengan lengan yang tidak terluka telah mencengkeram pistolnya. Gadis kecil itu segera menarik kembali rantainya dan mengayunkan belati hingga memutar. Salju putih di bawah mereka semakin ternodai dengan darah Souji maupun percikan darah dari sayap biru gadis kecil itu.
Satu-satunya yang membuat Souji mampu bertahan selama beberapa lama menahan dan menghindari serangan gadis kecil itu hanyalah hasil latihan tempur yang rutin dilakukannya. Orang-orang biasa yang tidak terlatih mungkin telah tewas dengan belati tersebut menghujam salah satu bagian vital tubuhnya dalam hitungan detik.
Souji menggertakkan gigi. Jadi seperti ini caranya gadis kecil itu menghabisi delapan orang?
Tiba-tiba, sang gadis kecil menarik kembali belatinya dengan rantai, kemudian menggenggam ujung belati itu. Tangannya gemetar dan ia terengah-engah. Di sela-sela napasnya, ia berhasil berkata, "Onii-chan… pergilah… cepat… aku—kalau kau menginginkan sebuah lokasi untuk informasi itu—"
Souji mencengkeram pistolnya lebih erat. Gadis kecil ini masih memikirkan untuk berbagi informasi yang ia ketahui di tengah-tengah tubuhnya yang kehilangan kendali?
"—aku ingat satu tempat—dimana sayap ini biasanya menembus keluar dan darahku serasa meluap-luap dengan keinginan membunuh…" Tubuh gadis kecil itu gemetaran. Souji menduga sang gadis kecil berusaha menahan hasratnya dengan melingkarkan rantai itu di sekitar kedua lengan bawahnya, untuk mempertipis kemungkinan gerakan.
Tetapi gadis kecil itu tampaknya tidak puas, dan di luar dugaan Souji, Naoto kecil menggenggam belatinya lebih erat dan menusukkan belati itu pada satu lengannya dengan kasar, menyebabkan darah mengalir deras dari lengannya. Gadis kecil itu melanjutkan, "Tempat itu penuh darah—darah dari mangsa-mangsa kami… Papa menyebutnya Bloody Ground."
"…Bloody Ground?" Souji menggigit bibirnya. Gadis kecil itu tampak menderita. Naoto kecil telah berkorban dengan melukai dirinya sendiri, menancapkan belati itu ke lengannya sendiri untuk mencegah lengan itu kembali mengendalikan senjata dan melukai Souji.
Tetapi sepertinya Souji telah mendapatkan informasi yang ia perlukan. Apa ia harus meninggalkannya?
"Pergilah…! Pergilah! Souji onii-chan, tinggalkan aku sendiri!" Naoto kecil berteriak, "Aku tidak ingin melanggar janjiku… aku tidak ingin—"
Suara sang gadis kecil semakin terdengar tidak jelas ketika Souji dengan cepat meraih memory visor dan melepasnya, meninggalkan gadis kecil itu sendiri dengan sayap berdarah dan senjata yang ia gunakan untuk melukai dirinya sendiri.
Banyak kemungkinan-kemungkinan yang bisa menjadi jawaban atas pesan singkat itu.
Apa yang tertera dalam balon itu bahkan bukan sebuah kalimat. Tetapi hanya satu kata. Kata itu dibentuk oleh empat huruf besar. Huruf pertama terlihat seperti huruf 'C' besar, atau mungkin 'G', huruf kedua terlihat seperti huruf 'V' dengan garis lengkung pada kedua ujungnya. Garis lengkung sebelah kanan sedikit lebih panjang dibanding yang kiri. Huruf ketiga mirip dengan huruf 'W', dan huruf terakhir terlihat seperti huruf 'S', dengan dua garis pendek ke kanan pada bagian atas dan tengah huruf tersebut.
Pria itu mengerutkan dahi, kemudian menoleh pada Naoto yang masih belum menunjukkan ekspresi lebih lanjut ketika mereka berhasil menyusun satu kata itu. Apa mereka salah menyusunnya?
"Naoto-sama..." ia akhirnya bersuara, "...sepertinya saya membacanya sebagai 'CVWS'. Apa pun kepanjangan dari singkatan itu."
"...Bukan." Naoto langsung menjawab pelan. "...Huruf ini membentuk satu kata, bukan singkatan." Ia kemudian berdiri, dan menghadap petugas itu. "...Masuk dalam WCM kalian masing-masing... sepertinya kita harus siap bertempur."
Petugas itu, dengan beberapa pria lain, langsung mengangguk dan lari meninggalkan Naoto, bergegas ke posisinya masing-masing.
Naoto masih terdiam memandangi kumpulan pecahan balon itu. Ia kembali teringat masa lalu. Satu kata yang tertulis di balon tersebut sudah cukup untuk membuat memori itu kembali menguasai otaknya.
Gadis itu mendesah, kemudian menyadari bahwa masih ada huruf samar lain pada pecahan balon itu. Itu adalah huruf-huruf samar yang dibentuk oleh cakaran pada bagian belakang satu kata barusan.
Naoto mulai membaca kata-kata itu dengan hati-hati.
"'Dari Teddie,
Bloody Ground
Kepada Naoto,
National Theater Verstannia'"
Tanpa pikir panjang, Naoto langsung meraih alat komunikasinya dan menghubungi beberapa prajurit. "Kurasa... sebagian dari kalian harus segera meninggalkan gedung ini, dan pergi ke suatu tempat lain. Sementara sebagian lagi... tetaplah berjaga-jaga di gedung ini."
Souji melepaskan memory visor dan kembali membuka mata. Ia masih berada dalam WCM di Verstannia. Pemuda itu harus bergegas ke Bloody Ground, hanya itu satu-satunya petunjuk yang ia dapatkan.
Bluebird… Souji menduga yang dimaksud adalah sayap biru yang tumbuh di punggung gadis kecil itu barusan. Itu adalah sayap bluebird… dan bagaimana sayap itu ada…
…Satu-satunya hal yang memungkinkan hal tersebut adalah Dark Technology.
Bagaimana sayap itu tumbuh tidak seperti yang sering Souji lihat dalam film-film yang pernah ia tonton di masa kecilnya—dimana pemilik sayap itu dengan mudah membentangkan sayap putih indahnya dan terbang menikmati semilir angin. Sayap biru milik gadis kecil itu tumbuh dengan mengerikan, seakan memaksa keluar dari punggung sang gadis kecil, merobek kulit dan mengiris daging gadis kecil itu dengan tulang-tulang sayap yang tajam. Sayap itu basah dan penuh darah, bukannya mulus dan bersih.
Souji berusaha mengenyahkan ingatan itu—sekaligus ekspresi sang gadis kecil yang tersiksa dengan rasa sakit luar biasa.
Souji kemudian menyalakan mesin WCM sementara otaknya masih terus berpikir. Ia kembali mengingat sayap biru itu. Sang gadis kecil mengatakan bahwa sayap itu akan tumbuh ketika tubuhnya merasakan ada ancaman. Satu-satunya yang bisa Souji simpulkan adalah Naoto kecil merasa terancam ketika Souji berpura-pura hendak membunuhnya dengan tongkat itu.
WCM pemuda itu mulai terbang menjauhi hutan kecil, kemudian melesat sangat cepat ke tempat tujuannya. Sambil mengemudikan WCM miliknya, Souji meraih ponsel dan berusaha menghubungi Junpei.
Tetapi tidak ada satu pun jawaban.
Pemuda itu mengumpat pelan. Ada di mana Junpei sebenarnya? Apa dia terlibat masalah? Souji telah mencoba menghubungi berkali-kali, tetapi ia tidak menjawab. Pemuda itu akhirnya memutuskan untuk meninggalkan pesan suara.
"Junpei, kau ada di mana? Dengar... usahakan tetap berjaga-jaga di gedung itu. Aku akan ke tempat lain... jika kau ingin tahu kemana aku pergi, aku akan memberitahumu. Tapi ingat, jangan menyusulku. Berjaga-jagalah di teater itu. Aku akan ke Bloody Ground."
Aragaki Shinjiro duduk di depan sebuah meja dengan dokumen dan kertas-kertas bertebaran. Ia mengangkat satu tangan dan melepaskan topi musim dinginnya, meletakkan benda itu di atas meja. Pria itu terdiam sejenak, kemudian meraih salah satu kertas putih dan sebuah pena. Dan ia mulai menulis, menggoreskan tinta pena itu membentuk kumpulan huruf-huruf dan angka.
Ia akan menulis surat itu dengan tangannya sendiri. Maka Mitsuru akan lebih mudah mengidentifikasi siapa penulisnya. Wanita itu telah mengenal tulisan Shinjiro yang tidak jauh berubah sejak masa remaja mereka.
Mitsuru... hanya Mitsuru.
'Jangan sampaikan surat ini pada Aki sebelum kau membacanya,' Shinjiro menulis, 'Jangan sampai surat ini dibaca orang lain selain kalian berdua.'
Pintu di ruangan itu tiba-tiba membuka, dan Shinjiro segera menghentikan pekerjaannya dan melipat kertas surat itu. Yamagishi Fuuka berjalan ke arahnya dengan setumpukan kertas yang didekapnya. Wanita muda itu menunggu Shinjiro mengangguk, dan ketika pria itu melakukannya, Fuuka segera meletakkan kertas-kertas itu di atas meja, bergabung dengan tumpukan-tumpukan kertas yang lain.
"Ini tentang Dark Technology..." Fuuka berkata pelan, "beberapa senjata ciptaan mereka masih tersisa di dunia ini. Aku baru mendapatkan sesuatu yang baru... angka yang kita duga selama ini keliru. Jumlah senjata yang tersisa bukan tiga... tapi tujuh."
"Peningkatan yang pesat..." Shinjiro membalas singkat.
Sang gadis kecil duduk meringkuk dengan darah yang terus mengalir dari lengan dan punggungnya. Senjatanya telah terbaring di hamparan salju merah. Tubuh mungilnya gemetar dan ia terisak. Sayap birunya terlipat lemas di belakang punggung.
Gadis kecil itu kemudian mengangkat lengannya yang tidak terluka untuk menghapus air mata yang terus membanjir keluar. Ia menengadah, kemudian merentangkan lengan kanannya yang tidak terluka dan memutarnya sedikit ke kanan. Anak itu memperhatikan dengan sedih sebuah tanda seperti tattoo membentuk setengah lingkaran yang menghiasi bagian bawah lengan atasnya.
Souji tidak pernah memperhatikan tattoo itu. Tanda itu tersembunyi cukup baik dan sang pemuda tidak pernah benar-benar memperhatikan lengan sang gadis kecil. Gadis kecil itu bergumam pelan, "…Empat kali pelanggaran… maka mereka akan memotongnya…"
Ia melemaskan lengannya hingga bergerak turun ke samping tubuhnya. Sang gadis kecil kembali membenamkan wajahnya di kedua lututnya yang ditekuk. "…Aku sama sekali tidak bisa sepertimu—Kanji-kun…"
"…Nao-chan…"
Mendengar suara itu, sang gadis kecil langsung mengangkat kepalanya dan mencari sumber suara. Dan di sanalah ia melihatnya. Seorang anak lelaki yang memandangnya lembut dan berjalan pelan ke arahnya. Berbeda dengan Souji, Naoto kecil tidak merasakan adanya hasrat untuk membunuh anak lelaki itu meskipun sayapnya telah menembus keluar dan senjatanya telah siap di dekatnya.
Anak lelaki itu kemudian berdiri di depannya, membuat Naoto kecil menengadah. Ia menyunggingkan senyumannya yang khas dan mata biru indah itu masih menatap Naoto kecil dengan lembut. "Kau terluka lagi."
"—Aku tidak apa-apa…" sang gadis kecil langsung menjawab dengan suara parau dan seperti tercekik.
"Tenangkan dirimu, Nao-chan. Pikirkan papamu ada di sampingmu, membelai rambutmu halus sebelum kau tidur."
Sang gadis kecil menuruti kata-kata anak lelaki itu, dan seketika ia mulai merasa lebih nyaman meskipun tubuhnya masih terasa sakit.
"…Tarik napas pelan, dan kembali simpan sayap itu dalam punggungmu…"
Gadis kecil itu menarik napas, memejamkan mata, dan sayap biru itu melipat pelan dan masuk kembali dalam punggungnya. Bagian belakang pakaiannya robek akibat sayap yang tumbuh itu. Naoto kecil membuka mata dan mendapati anak lelaki itu masih tersenyum.
"Aku akan mengobatimu…" ujar anak lelaki itu. "Ini hasil dari perbuatanmu sendiri, bukan?"
"…Ya."
"Lebih parah dibanding saat pria itu mematahkan pergelangan tanganmu. Syukurlah aku berhasil mengobatinya."
Naoto kecil tersenyum, tetapi kemudian senyuman itu segera menghilang dan ia kembali menangis. "…Aku nyaris membunuh Souji onii-chan…"
"Tidak apa-apa… dan aku yakin pria itu juga memaafkanmu. Kemarilah…" anak lelaki itu menunduk dan membiarkan sang gadis kecil masuk dalam pelukannya.
Gadis kecil itu terisak pelan. "…Maafkan aku…"
Sang anak lelaki membelai lembut rambut gadis kecil itu. "Tenanglah… tumpahkan semua air matamu, kemudian coba kembali untuk tertawa."
Naoto kecil memejamkan matanya dalam pelukan itu. "Terima kasih… Pharos…" ia berbisik pelan, kemudian sekali lagi memanggil lembut nama itu, "…Pharos… kau tidak akan meninggalkan aku sendiri, bukan?"
"…Tidak akan, Nao…"
"Apa aku hanya program?" Sekali lagi, sang gadis kecil bertanya.
"Bukan. Kau bukan program." Jawaban itu begitu lembut dan menenangkan, hingga membuat sang gadis kecil nyaris percaya.
Souji tahu tentang Bloody Ground di Verstannia.
Mereka menjulukinya demikian... tidak lain adalah karena tanah itu dulunya adalah salah satu arena pertumpahan darah dan pembunuhan massal. Sekarang tidak banyak orang yang berani menginjakkan kakinya di tempat itu.
Beberapa bangunan di tempat itu telah ternodai catnya dengan darah. Bekas-bekas telapak tangan merah menghiasi sisi-sisi beberapa bangunan. Ini adalah arena dimana banyak orang terbunuh dan tersiksa. Ketika seseorang menginjakkan kakinya di tempat ini, ada sesuatu yang mampu membuat orang itu takut dan merasa waspada, menarik imajinasi-imajinasi tentang keberadaan pembunuh tanpa suara di tempat itu.
Souji telah sampai di tanah itu. Ia melambatkan kecepatan WCM miliknya. Jadi ini salah satu tempat gadis kecil itu bekerja? Membunuh orang-orang?
Saat ini, Souji berpikir bahwa dunia ini semakin gila. Usia tidak tampak seperti suatu penghambat seseorang untuk membunuh dan dibunuh. 'Membunuh secara membabi buta, tidak menghargai nyawa... membunuh demi keuntungannya sendiri. Apa yang membedakan kalian dari binatang?' Souji berseru keras dalam hatinya.
Pandangan Souji seketika teralih ketika ia melihat beberapa mesin tempur terbang di depannya. Sedang terjadi pertempuran di sini?
Yang membuat Souji terkejut adalah ia melihat dua WPM yang familiar, dan satu WPM yang masih asing baginya. Sedangkan satu lagi... Souji tidak yakin apakah itu WPM atau WCM. Dua WPM yang familiar itu Souji kenali sebagai Hermes dan Jiraiya. Satu WPM lagi berbentuk bulat seperti bola dan berwarna merah. WPM itu memiliki sepasang tangan dan kaki dan mengenakan jubah biru yang berkibar di bahunya seperti jubah pahlawan. Kedua tangannya yang agak pendek mengangkat tinggi sesuatu yang tampak seperti roket atau misil. Sedangkan yang satu lagi tidak Souji kenali. Tidak tampak seperti WPM pada umumnya, tetapi juga terlihat lebih canggih dibanding semua WCM yang pernah dilihatnya. Tetapi untuk sementara Souji menyimpulkannya sebagai WCM.
Souji juga melihat beberapa WCM lain yang menembakkan laser dan misil mereka. Terlihat sangat jelas Hermes sedang bertempur serius dengan Jiraiya yang dibantu beberapa WCM. Sedangkan target WPM merah bulat itu sepertinya adalah WCM spesial itu.
Seketika, gerakan WPM merah bulat itu terhenti dan mesin raksasa itu menghadap WCM milik Souji. Souji tiba-tiba mendengar alat komunikasi sederhana dalam WCM miliknya berbunyi dan berkedip-kedip. Souji menekan salah satu dari sekian banyak tombol dalam WCM itu untuk menerima kontak.
Muncul sosok seorang yang tidak pernah ia lihat sebelumnya pada sudut kanan bawah layar di hadapannya. Sosok itu adalah seorang anak remaja berambut pirang dan mata biru, tersenyum begitu lebar dan terlihat senang.
"Nah! Kau benar-benar lama! Ini sudah lebih dari tujuh puluh menit, kumaaa! Aku akan memberimu nilai minus!"
Souji mengernyit bingung. Siapa dia?
"April Mop! Kau tertipu, kuma!" Remaja itu tertawa senang, "Tentu saja sekarang bukan bulan April, kuma!"
"..." Souji tidak mampu berkata-kata, dan ia tidak menyadari bahwa mulutnya menganga sejak tadi.
"Namaku Teddie! Senang berkenalan denganmu! Nah, Seta Souji, selamat berjuang!"
"Be-berjuang...?" Souji akhirnya berhasil berbicara.
"Whoops! Menghindarlah!"
"Eh...?" Souji dikejutkan dengan tembakan laser tiba-tiba yang sangat cepat melintas udara dan mengarah padanya. Pemuda itu tidak sempat bereaksi apa-apa ketika laser itu menghantam salah satu kaki WCM miliknya dan membuat Souji memejamkan mata menahan guncangan. Souji kembali membuka matanya dan menyadari tembakan barusan berasal dari WCM spesial itu. WCM itu berwarna putih dengan sedikit hiasan emas. Kedua tangan WCM itu menggenggam erat sebuah senapan raksasa yang diarahkan padanya. Beberapa WCM yang lebih kecil mengelilingi WCM besar itu.
Dari warna-warna WCM itu, Souji mampu menebak sementara bahwa semua mesin itu milik Letzvetrie, dan itu berarti—
"Seta Souji..." terdengar suara lain—kali ini suara yang familiar—dari alat komunikasi Souji. "Aku tidak tahu apa tujuanmu, tapi aku tidak akan menyimpulkan sesuatu yang menguntungkan Letzvetrie dari itu. Kami akan menghancurkanmu."
"Shirogane Naoto..." Souji menjawab pelan, "jadi kau yang ada dalam WCM spesial itu...? Baiklah kalau itu keinginanmu..." Souji kemudian mengalihkan perhatiannya sejenak pada Hermes yang masih terlibat pertempuran serius dengan Jiraiya. 'Begitu... mungkin sejak tadi Junpei mematikan alat komunikasi miliknya dan milik Jiraiya dengan spesialisasi WPM-nya?' batin Souji pelan. 'Mengapa ia melakukan itu?'
Tetapi Souji segera memfokuskan perhatiannya pada Naoto. WCM raksasa itu terbang mundur dan memisahkan mereka lebih jauh beberapa meter, dan kembali mengarahkan senapannya pada WCM milik Souji.
Sang pemuda refleks menghindar ketika senapan itu kembali ditembakkan. Tetapi sesuatu yang mengejutkan Souji, meskipun ia merasa telah menghindar, laser itu masih mengenai WCM miliknya dan berhasil merusak satu kakinya hingga tidak lagi berfungsi. 'Apa-apaan...?'
"Souji! Seta Souji!" kembali terdengar suara Teddie yang sosoknya masih menyengir lebar dalam layar itu. "Hati-hatilah! Nao-chan memiliki kelincahan dan akurasi yang mengerikan, kuma! Dalam pertempuran jarak jauh, Nao-chan seperti monster, kuma!"
"Sebenarnya, kau ini siapa dan apa tujuan semua ini?" Souji akhirnya menjawab keras sambil berusaha menggerakkan satu kaki WCM-nya, tetapi ia akhirnya tahu bahwa kaki itu telah rusak. Apa ia harus mengganti rugi lagi nantinya?
"Ini ujian untukmu, kuma!" Teddie menjawab ceria, "One on one battle, ditambah WCM-WCM kurang berarti sebagai lawan tambahan. Selamat menjalani ujian terakhirmu untuk mendapatkan WPM!"
A/N:
Halo! Maaf agak telat apdet XD
Eh ya... kalo menurut kalian chapter sebelumnya gajelas, mungkin ini makin gajelas aja orz
Mungkin masih banyak sesuatu yang kurang jelas di chapter ini ataupun sebelumnya, tetapi tidak perlu dikhawatirkan karena semuanya disimpan di chapter" ke depan! *jduak* Kayak misalnya peran Rise dan Kou, dan blah blah pertanyaan lainnya XD tapi kalo masih ada satu-dua detail yang kayaknya emang gaje dan terlewat, sampaikan saja ;D (apaan coba maksudnya?)
Lalu... tentang 'v gi do', kalian yang udah tau apa artinya, congrats~ XDD bagi yang belom tau apa artinya, di chapter ke depan juga akan keliatan kok XD ah ya, berhubung saya orangnya pelupa (orz) jadinya kalo kalian melihat ada teknologi baru yang kira" udah saatnya ato perlu dijelaskan lebih mendetail tentang fungsi, sejarah dan lain-lainnya, boleh disampaikan juga kok! :D saya akan mencatatnya dalam 'tech data'. Oh... dan Bloody Ground ini seinget saya ada juga daerah yang disebut Bloody Ground, walopun alasan dan sejarahnya beda dengan yang di fic ini jelasnya *ditimpuk*
Tambahan lagi (kelupaan lagi orz) selamat buat mereka yang beberapa tebakannya dalam chapter ini ternyata benar ;D
Well, makasih banyak buat pembaca! Special thanks for the reviewers: toganeshiro-chan, Noir est Beau, Hayato Arisato, namieh, heylalaa, MelzZz, neraraaa- XDD makasih banyak buat reviewnya :'D tanpa review kalian... aku ga yakin kuat lanjut
Hm... kayak biasa, mohon reviewnya untuk fic yang masih banyak kekurangan ini! Will be appreciated!
Thank you, till the next chap, and enjoy your day! :D
-Snow Jou
