Disclaimer: Persona 3 & Persona 4 © ATLUS
Setiap objek yang dapat kulihat di sekelilingku dapat kusentuh. Ini adalah suatu fenomena baru yang tidak pernah kupikirkan sebelumnya. Memory visor seharusnya membawaku pada efek yang berlawanan. Aku tidak seharusnya menyentuh benda-benda itu.
Namun satu tekanan dari Pharos membuatku menjadi berbeda. Aku dan dia adalah sama sekarang. Mungkin Pharos mengubahku menjadi 'bagian' dari memory visor. Aku dapat menggunakan seluruh indraku untuk mencicipi setiap objek seperti salju, hembusan angin dan sebagainya yang ada dalam memory visor, layaknya 'program' di hadapanku sekarang.
Saat ini, aku berpendapat demikian. Tetapi siapa yang tahu kebenarannya?
"Souji onii-chan…"
Gadis kecil itu memanggil sekali lagi, dan pada akhirnya aku berhasil mengalihkan perhatianku padanya. Ia masih sama, tidak terlihat berbeda, tidak terlihat terkejut, hanya… biasa saja. Seperti tidak ada yang terjadi padaku.
'Aku dapat merasakan dan menyentuh setiap objek dalam visor ini sekarang, tidakkah kau terkejut?' Aku ingin menanyakan hal itu padanya, tetapi gadis kecil itu bertindak terlalu wajar. Ia bahkan tidak menghiraukan kebingunganku sekarang.
Di bawah langit malam yang berawan, aku dapat melihat senyuman tersungging di bibir mungilnya. Dengan 'sangat wajar'nya gadis kecil itu berkata, "Ayo kita membuat boneka salju…" dan gadis kecil itu meletakkan gumpalan salju dingin di tanganku seakan-akan dia memang sudah mengetahuinya dari awal bahwa aku dapat menyentuh apa yang tidak dapat kusentuh sebelumnya.
Aku mengedarkan pandangan ke sekelilingku, berusaha mencari-cari keberadaan bocah yang sepertinya bertanggung jawab atas semua keanehan ini. Tetapi bocah itu tidak terlihat di mana pun.
"Ada apa, Souji onii-chan? Kau terlihat seperti sedang mencari-cari sesuatu."
Aku mengalihkan pandanganku kembali pada gadis kecil itu, dan memanfaatkan kesempatan itu untuk bertanya. "Di mana bocah bernama Pharos itu?"
Gadis kecil itu terdiam, namun sorot matanya menunjukkan bahwa ia tengah tersenyum dalam hati.
"Oh… Pharos…?" jawab sang gadis kecil, "Dia sudah pulang. Tapi dia berjanji untuk selalu berkunjung lagi kemari. Kau juga seperti itu, kan, Souji onii-chan?"
Liebe und Rache
Chapter 14
:-:
Shadow in the Visor
"Dengar, dengan senang hati aku akan menemanimu membuat boneka salju, tetapi apa kau tidak merasakan ada sesuatu yang berbeda denganku?"
Naoto kecil mengerutkan dahinya sambil terus memperhatikan Souji. "…Tidak. Souji onii-chan, tingkahmu aneh. Apa kau tidak ingin membuat boneka salju—"
"Tolong, kesampingkan soal boneka salju…" tiba-tiba saja Souji merasa lelah. Pemuda itu meraih salah satu daun yang gugur dari pohon di dekat mereka dan meremasnya kuat menjadi serpihan. "Aku dapat menyentuh mereka, V gi do."
"Ya, kau bisa."
"Dan bukankah aku pernah bercerita padamu bahwa aku tidak dapat ikut membuat binatang-binatang dari daun karena aku tidak dapat menyentuh mereka?"
Gadis kecil itu mengangguk. "Ya."
Souji menangkap daun gugur yang lain, kemudian kembali meremas daun tersebut dan membuka tangannya, memperlihatkan pada sang gadis kecil bentuk daun yang hancur akibat diremas. "Namun sekarang tiba-tiba saja aku dapat menyentuh mereka."
"Benar." Sekali lagi, sang gadis kecil mengangguk.
"Jadi, apa yang salah denganku?"
"Kau dapat menyentuh benda di sekeliling kita padahal sebelumnya tidak." Sang gadis kecil mengutarakan jawabannya.
"Anak pintar. Dan bagaimana hal itu dapat terjadi?"
Gadis kecil itu terdiam, hingga ia akhirnya memiringkan sedikit kepala mungilnya sambil memperhatikan Souji dengan heran. "Itu pertanyaan yang aneh, Souji onii-chan. Tentu saja jawabannya jelas. Pharos membuatmu menjadi seperti itu."
Souji membelalakkan matanya. "Jadi kau tahu soal—"
"Aku yang memintanya," sang gadis kecil tersenyum lebar, "agar kita bisa bermain bersama." Gadis kecil itu menjawab ceria.
Untuk sesaat, Souji tidak mampu berkata-kata. "A-apa…?" ia akhirnya bersuara.
"Pharos membuatmu mampu menyentuh benda-benda di sekeliling kita." Sang gadis kecil masih tersenyum.
"Tunggu… siapa—atau mungkin 'apa', Pharos itu sebenarnya?" Sepertinya Souji memerlukan sedikit waktu untuk mencerna semuanya.
"Pharos itu temanku."
"Bukan itu yang kumaksud—"
"Kau tidak berbeda, Souji onii-chan…" gadis kecil itu berjalan mendekati Souji, kemudian memberinya pelukan hangat dengan tubuh mungilnya, "Pharos hanya menciptakan hubungan erat antara kau dengan dia."
Souji mengerutkan dahinya. "…'Dia'?"
Sang gadis kecil melepas pelukannya dan memandang Souji dengan ceria. "Dia yang menonton kita sedari tadi," ucap sang gadis kecil, kemudian bersandar pada pohon di belakangnya. "Pohon besar ini…"
Souji membuka mulutnya, tetapi tidak satu suara pun keluar. Ia kembali menutup mulutnya ketika ia menyadari bahwa sang gadis kecil ingin melanjutkan perkataannya.
"Pohon besar ini lahir di suatu tempat yang sangat indah. Tanahnya tidak pernah kering. Bunga-bunga, pepohonan, rerumputan dan tumbuh-tumbuhan lain menikmati lingkungan mereka. Temperatur udaranya sempurna bagi mereka. Musim yang silih berganti memberikan warna dan pesona yang berbeda-beda. Dan satu hal yang pasti, semuanya cantik." Ia tiba-tiba bercerita, memejamkan matanya dan membiarkan semilir angin menyusuri sela-sela rambutnya dan mengelus kedua belah pipinya.
Sang gadis kecil menarik napasnya perlahan, kemudian kembali melanjutkan. "Kau tidak akan percaya bagaimana pohon ini ketika lahir. Sekarang ia adalah pohon yang sangat kokoh, tumbuh tinggi besar dan berumur panjang. Tetapi dulu, ia hanyalah individu kecil yang lemah dan sakit. Ia tumbuh lunglai dan batangnya tidak kuat, tidak seperti pohon-pohon di sekitarnya. Suatu hari, Papa menemukan pohon yang sakit ini."
Souji mengangkat alis matanya. "…Pohon ini dulu sakit? Lalu bagaimana 'Papa'mu itu bisa—"
Kalimat sang pemuda terputus ketika ia melihat sang gadis kecil tiba-tiba saja membuka matanya, seakan-akan dikejutkan oleh sesuatu yang muncul tiba-tiba.
"Ada apa…?" Souji bertanya hati-hati, tetapi untuk beberapa detik Naoto kecil tidak langsung menjawab.
"…Mereka tiba…" ucapnya perlahan, tidak ditujukan pada siapa pun.
Souji mengernyit bingung. "'Mereka'? Siapa?"
"Souji onii-chan!" tiba-tiba saja sang gadis kecil kembali mengalihkan pandangan padanya dan memanggil sang pemuda dengan nada yang terlalu dibuat-buat.
"Eh…?"
"Aku yakin kau pasti lelah sekarang? Astaga, aku tidak menyangka waktu telah menunjukkan pukul dua belas malam!" ucapnya dengan nada yang terlalu ceria. "Baiklah, aku tidak akan mengganggumu lagi. Selamat istirahat."
Mau tidak mau, sang pemuda hanya mampu menganga sesaat melihat perubahan sikap gadis kecil itu. "Kenapa tiba-tiba…?"
"Kau pasti lelah! Ayolah! Pulang, lalu tidur!" ucap gadis kecil itu lebih tegas dan mendorong Souji mundur. "Kuharap kau tidak bosan untuk menemuiku lagi. Selamat tidur."
"Tunggu—"
"Tidak ada kata 'tunggu', atau 'tapi', atau kata-kata yang menyiratkan maksud yang sama. Cepat pergi tidur!" Kali ini, sang gadis kecil nyaris berteriak. "Tinggalkan aku sendiri! Cepat pergi!"
Souji mengumpat dengan sangat pelan, kemudian tangannya bergerak melepas memory visor dari matanya. Sementara memory visor itu perlahan-lahan mulai terlepas, ia dapat melihat sosok samar sang gadis kecil yang perlahan-lahan menghilang dari pandangan. Sosok itu langsung berbalik membelakanginya, dan sebelum pandangan Souji kembali pada dunia nyata seutuhnya, Souji kembali melihat sayap biru itu.
Souji memperhatikan langit-langit kamar yang gelap. Lampu telah dimatikan, dan salju masih menggesek udara dingin di sekitar mereka dengan lembut sebelum mendarat dengan mulus ke permukaan bumi. Di balik jendela kamarnya dan Junpei yang tertutup, pemuda itu dapat melihat bulan penuh yang bersinar terang.
Sang pemuda memperhatikan sekelilingnya. Ia dapat melihat Junpei yang tengah tertidur, tubuhnya terbungkus selimut dan dengkurannya berkumandang ke penjuru ruangan.
Sambil menghela napas, sang pemuda kembali memperhatikan visor di tangannya sebelum meletakkan benda itu di dalam laci samping ranjang. Pemuda itu kemudian memejamkan matanya di bawah sinar samar rembulan yang menembus jendela kamar mereka.
Gadis kecil itu bertingkah aneh… dan Souji tahu ada sesuatu yang tidak beres.
Ia kembali membuka matanya dan melirik jam digital yang berdiri di atas lacinya.
00.02 A.M.
Naoto kecil berdiri di depan pohon besar itu. Helai-helai sayap birunya berterbangan ke berbagai arah. Beberapa ikut menari bersama angin dan daun-daun yang berguguran.
Kedua mata gadis kecil itu tampak tajam dan menusuk di bawah sinar rembulan, satu tangannya berada di dalam saku celana, siap menarik benda yang ada di dalam. Darah menetes-netes tak terkendali dari punggung dan sayap birunya yang kaku.
Gadis kecil itu kemudian menarik sebuah benda padat berbentuk balok kecil dari sakunya, kemudian menarik besi tajam berupa pisau dari sisi balok itu. Bagian bawah balok tersebut membuka dan sang gadis kecil menarik rantai panjang dari balok itu.
"Majulah…" ucapnya pelan, nyaris berupa bisikan.
Bayangan-bayangan hitam mulai bermunculan di sekitar sang gadis kecil. Bayangan hitam misterius itu kemudian mulai merubah bentuknya menjadi sosok-sosok aneh. Beberapa berupa tangan hitam yang cair, memegang sebuah topeng biru sebagai kepala dan tangan-tangan lainnya menggenggam pisau-pisau tajam. Beberapa dari bayangan itu berwujud seperti boneka kembar dengan topeng yang sama dan memakai jubah coklat. Kedua bayangan itu disatukan oleh jarum raksasa yang menusuk mereka dari samping.
"…Shadow…" bisik gadis kecil itu pelan, "…tidak akan mampu merusak apa yang aku dan Papa jaga bersama."
Makhluk-makhluk yang terbentuk dari bayangan itu mulai menghampiri sang gadis kecil, bersiap menyerangnya. Naoto kecil melemparkan pisaunya ke depan, tepat mengenai bagian dahi topeng berwarna biru yang digenggam salah satu tangan hitam itu, dan memainkan rantai yang digenggamnya untuk membelah topeng itu menjadi dua dengan pisaunya.
Gadis kecil itu mengayunkan pisaunya, memutar senjata itu berlawanan dengan arah jarum jam dan membentuk lingkaran. Pisau itu membelah shadow-shadow di sekeliling sang gadis kecil. Satu shadow melompat ke arahnya dari atas dan hendak menusukkan pisaunya ke tubuh gadis kecil itu. Naoto kecil yang belum sempat menengadahkan kepalanya ke atas, membiarkan satu sayap biru di punggungnya untuk membentang tegak ke atas, menusuk shadow itu hingga menembus tubuhnya.
Gadis kecil itu tersenyum. "Kau harus berhati-hati. Kalian selalu tahu sayap ini sama tajamnya dengan pisauku…"
Shadow yang tertusuk sayap di atas tubuh sang gadis kecil itu akhirnya hancur, menyisakan kepingan-kepingan hitam yang berjatuhan mengotori keputihan salju di bawah mereka.
"Sayap ini bukan mainan…" ucap gadis kecil itu pelan, "tidak ada yang boleh meremehkan sayap ini. Sayap ini berguna. Dia pelindungku, teman bertarungku. Dia bukan hiasan semata…" suaranya perlahan-lahan semakin keras, "…karena itu, aku bukan produk gagal."
Sang gadis kecil berjalan menghampiri satu shadow yang tersisa. Shadow itu menghampiri sang gadis kecil dengan cepat sambil memainkan pisau-pisaunya. Namun sebelum shadow itu berada dalam jarak yang cukup dekat dengan sang gadis kecil, Naoto kecil menangkap tiga helai sayapnya yang gugur dan melemparkan sayap itu ke arah shadow tersebut, menancap tajam tepat mengenai topengnya dan kedua helai yang lain meluncur di udara dan menembus tubuhnya yang cair.
Shadow itu mulai hancur dan mencair di tanah bersalju. Gadis kecil itu berjalan mendekati shadow yang hancur itu dan menginjakkan kakinya pada salju yang menghitam.
"Aku tidak suka sisa-sisa shadow…" ucapnya pelan, "sungguh menodai keputihan salju yang indah di sini. Selain itu…" ia memperhatikan pakaian sederhananya yang hitam oleh sisa-sisa shadow tersebut, "Papa tidak suka melihatku kotor seperti ini."
Tiba-tiba, satu shadow muncul di belakangnya dan berhasil menusukkan pisau tajamnya tepat di punggung sang gadis kecil hingga nyaris menembus perutnya dari depan. Kedua mata gadis kecil membelalak kaget.
"…Agh…" Naoto kecil terpaku di tempat, sementara darah mulai mengalir dari tubuhnya. Tetesan-tetesan darah mulai berjatuhan dari mulutnya.
Gadis kecil itu mempertahankan kakinya untuk tetap berdiri, kemudian memejamkan matanya menahan sakit. "A-aku… bukan produk gagal…" ucapnya dengan susah payah, "aku bisa menangani ini…"
Gadis kecil itu menarik paksa pisau itu dari tubuhnya. Ia kemudian berbalik dan memotong shadow itu menjadi serpihan-serpihan kecil dengan pisaunya. "Aku tidak akan gagal. Aku mampu melindungi pohon itu. Aku tidak akan membiarkan kalian menyentuhnya, walaupun itu berarti aku harus mati."
Ia kembali memejamkan matanya dan menekan bekas luka di perutnya itu dengan satu tangan, berusaha menahan darah untuk mengalir lebih banyak. Gadis kecil itu jatuh ke tanah di atas lututnya dan terbatuk, memuntahkan darah dari mulutnya. Air mata mulai mengaliri pipinya.
"Aku bukan anak yang lemah… aku tidak akan membuat Papa malu… tidak akan—"
Ia kembali memuntahkan darah. Sambil menutup mulutnya dengan satu tangan, sang gadis kecil bergerak perlahan ke belakang dan bersandar pada pohon raksasa itu.
"Aku… tidak yakin sanggup melakukan ini terus menerus…" ucapnya perlahan pada diri sendiri. "Shadow itu tidak pernah habis, bagaimanapun aku berusaha menghancurkan mereka."
Gadis kecil itu duduk meringkuk dan memejamkan matanya. "Aku tidak tahan…" ucapnya dengan bibir gemetar, "aku sudah jera. Kumohon hentikan ini… keluarkan aku dari tempat ini…" ia mulai menangis. "Maafkan aku, Papa. Aku tidak tahu apa yang salah pada diriku hingga kau harus terus mengurungku di dalam sini. Datanglah kembali dan jelaskan padaku…"
Air mata gadis kecil itu mengalir semakin deras. "Kalau kau tidak menjelaskan apa kesalahanku, hukumanmu tidak akan berakhir. Aku tidak ingin terjebak di tempat ini dan terus membunuh shadow-shadow itu berulang kali dan selamanya…"
Sang gadis kecil kemudian memejamkan matanya, bersiap untuk mengistirahatkan dirinya.
"…Aku membunuh lagi… apa itu berarti aku harus menelan seribu jarum…?"
Seusai membereskan kamarnya yang sederhana, Souji berencana untuk membantu pekerjaan ibunya di bawah. Anak laki-laki itu berjalan menuruni tangga dan mencari-cari keberadaan ibunya, tetapi tepat pada saat ia menemukan ibunya tengah menyiram tanaman di halaman rumah, sahabat-sahabat Souji memanggilnya dari luar rumah.
Souji berlari ke luar rumah untuk menemui mereka.
"Hei, Souji. Ayo kita bermain bersama hari ini," ajak salah satu sahabatnya yang energetik. Teman-temannya yang lain memperhatikan Souji, menunggu persetujuan dari anak lelaki itu.
"Hari ini aku berencana untuk membantu ibuku…" jawab Souji, "sayang sekali."
"Souji, kita cukup jarang mendapatkan hari libur dari sekolah seperti ini. Tapi jangan menyebut hari Minggu. Itu perkecualian." Ia menyengir.
"Ah… tapi…" Souji terlihat ragu sesaat.
"Sou-chan, pergilah bermain bersama teman-temanmu." Tiba-tiba suara ibunya menyela dari belakang. "Ibu mengizinkanmu. Bersenang-senanglah, jangan terlalu memikirkan Ibu. Asal jangan pulang terlalu malam. Batasmu sampai jam empat sore."
Souji tertegun. "Terima kasih, Ibu!" balasnya ke belakang. Kemudian ia kembali memperhatikan sahabat-sahabatnya yang tampak antusias.
"Jam empat sore." Souji memperingatkan mereka, kemudian mereka mengangguk.
"Ayo! Untuk hari ini, aku tahu permainan menarik." Salah satu sahabat Souji yang paling jahil mengangkat suaranya.
"Apa itu?" tanya Souji perlahan. Ia selalu berpikir hal yang dianggap anak itu 'menarik' biasanya sesuatu yang bersifat negatif.
"Lihat saja. Pokoknya ikut aku!" ia kemudian berlari, diikuti teman-temannya yang lain.
Sesampainya mereka di tempat tujuan, Souji tertegun untuk beberapa saat ketika ia akhirnya mengetahui apa yang dimaksud temannya sebagai hal 'menarik'.
"Psst…" temannya memperingatkan mereka untuk diam. Mereka kemudian merangkak perlahan-lahan dan bersembunyi di balik semak-semak lebar yang juga tertutupi oleh pohon-pohon rindang.
Anak lelaki usil itu kemudian memberi isyarat pada teman-temannya untuk melirik perlahan-lahan dari balik semak-semak ke arah bangku taman biasanya berdiri. Souji mengangkat sedikit kepalanya dan mengintip.
Ia mendapati seorang anak laki-laki yang terlihat familiar sedang duduk di bangku taman. Ia tidak mengetahui nama anak lelaki itu, tetapi ia digosipkan 'aneh' dan 'mengerikan'. Menurut teman-temannya, tingkah anak lelaki itu mungkin membuatnya mirip seperti obat nyamuk. Keberadaannya di sana saja sudah membuat orang-orang menjauhinya.
Menurut kesimpulan yang ditarik Souji sendiri, 'aneh' yang dimaksud orang-orang adalah ia anak laki-laki, tetapi selalu sibuk menjahit kain dan bahkan boneka-boneka yang manis. Anak lelaki itu kira-kira berusia tiga tahun lebih tua dibanding Souji.
"Kalian sering melihat anak laki-laki aneh itu kan? Dilihat dari bekas luka di pelipisnya dan matanya yang menyiratkan ia terlahir seperti preman, ia pasti sering berkelahi. Tapi lihat boneka itu, sangat 'manis'," bisiknya pelan, menekankan kata 'manis.'
"Aku tidak menyukai apa yang kaumaksud…" Souji menyela, tetapi temannya itu tidak menghiraukan dia.
Anak lelaki jahil itu meraih salah satu buah yang jatuh dari pohon, kemudian melemparkan buah itu tepat mengenai kepala anak lelaki 'aneh' yang tengah menjahit boneka.
"ARGH! Siapa yang melakukan ini? Kau ingin merasakan tinjuku, hah?" ucapnya kasar sambil berdiri dari bangku taman, meletakkan boneka dan peralatan menjahitnya di atas bangku.
Anak lelaki jahil itu dan beberapa temannya mulai terkikik. "Dia tidak bisa melihat kita," bisiknya. "Ayo kita ganggu lagi."
"Sudahlah…" Souji berbisik sambil menarik napas.
"Kau menonton saja, Souji," balasnya sambil kembali meraih buah di tanah dan bersiap melemparkan buah itu.
"Aku melihatmu, sialan!"
Tiba-tiba, sang penjahit boneka berteriak keras pada mereka. Ia berhasil menemukan mereka di balik semak-semak. Souji menelan ludah.
"Apa kubilang…" ucapnya lemah.
"Agh, kabur!" teman-temannya mulai berlarian ke sana kemari untuk menghindari serangan dari si penjahit boneka yang terlihat sangat sangar. Souji membelalakkan matanya.
"T-tunggu!" teriak Souji sambil berusaha menyusul salah satu temannya. Ia dapat melihat anak lelaki itu tengah berlari ke arahnya dengan nafsu menerjang seekor banteng.
"Kau yang melemparkan buah itu padaku!" teriakannya menggelegar.
"Bukan!" Souji balas berteriak sambil terus berusaha berlari. "Bukan aku! Aku tidak melakukan apa-apa! Kau salah orang!"
Seakan-akan tuli, sang anak lelaki 'aneh' justru mempercepat larinya dan tampak tidak sabar untuk menghajar Souji.
Souji merasa mentalnya semakin ciut.
"Kemarilah…!" tiba-tiba terdengar suara berbisik kepadanya dari arah sebelah kiri. Belum sempat Souji menoleh, tangannya ditarik kuat oleh seseorang dan mereka bersembunyi di balik pohon yang cukup besar dan tertutup semak-semak.
Si penjahit boneka menoleh ke sana kemari, masih berusaha mencari keberadaan Souji maupun teman-temannya, dan berlari meninggalkan pohon itu tanpa memeriksa bagian belakang pohon tersebut.
"Dia pergi… syukurlah…" orang yang menarik Souji itu menghela napas lega.
"Ini gara-gara kau…" ucap Souji kesal pada Si Jahil yang menariknya.
Temannya itu hanya mengangkat bahu.
Dalam waktu sekitar setengah jam, Souji bersama teman-temannya akhirnya berkumpul kembali. Mereka memutuskan untuk tidak lagi mengganggu sang anak lelaki 'aneh' tersebut untuk menghindari resiko mengalami luka-luka serius. Sisa-sisa jam hari itu mereka gunakan untuk bermain berbagai macam permainan dan olahraga, termasuk memancing bersama.
"Sudah larut…" ujar Souji kaget ketika ia melihat bulan telah duduk di tahta langit. Ia dan teman-temannya baru berjalan keluar dari Game Center di kota mereka. "Ini sudah jauh melebihi jam empat sore. Kita lupa waktu… Ibu akan memarahiku, tidak salah lagi…" ucapnya sambil menghela napas. "Pukul berapa sekarang?"
"…11.55," jawab salah satu temannya. "…Wow…"
Souji membelalak kaget. "Kau bercanda…" ia kemudian meraih jam tangan temannya itu untuk memastikan waktu. "…Kau benar. Aku harus segera kembali kalau begitu!" teriaknya sambil berlari meninggalkan teman-temannya di sana.
Anak lelaki itu masih terus berlari melawan sapuan angin malam ketika jam raksasa kota itu berdentang menunjukkan pukul dua belas malam. "Ibu akan mengamuk… Ayah akan menghukumku…" ucap anak lelaki itu pelan pada dirinya sendiri. Ia menghela napas.
Namun tiba-tiba saja ia teringat bahwa ia menitipkan kunci rumahnya pada salah satu temannya ketika mereka bermain olahraga tadi siang. Souji menitipkan kunci rumah itu karena ia khawatir tanpa ia sadari, kunci rumahnya akan terjatuh ketika ia bermain.
Ia harus segera kembali untuk meminta kunci rumahnya itu.
Souji memutar arah, berlari ke arah Game Center dengan harapan teman-temannya masih berada di sana. Sekitar empat menit kemudian, ia berhasil sampai di Game Center tersebut dan mendapati tidak ada seorang pun di sana.
"…Sayang sekali…" ia menarik napasnya yang tidak teratur akibat berlari. "Sepertinya aku harus mengganggu Ayah dan Ibu yang mungkin sudah tidur—"
"…Sou…"
Tiba-tiba, sebuah suara menghentikan langkahnya.
Souji menoleh ke sekelilingnya, tetapi tidak mendapati siapa-siapa di sana. "…Ada yang memanggilku barusan…?"
"Sou…ji… tolong…"
Criiing.
Souji melihat kunci rumahnya terjatuh ke tanah.
"Kunci rumahku? Bagaimana bisa—"
Kalimat anak lelaki itu terputus dan ia membelalakkan matanya. "A-apa…?"
Ia melihat sosok-sosok hitam yang jumlahnya kurang satu dibanding jumlah teman-temannya. Beberapa sosok itu berbentuk cair. Warna mereka sangat gelap.
"Souji…!"
Souji berhasil menoleh ke arah sumber suara, dan tersentak mundur hingga terjatuh ke tanah ketika ia melihat sosok temannya yang telah menjadi setengah makhluk hitam yang sama dengan yang berada di hadapannya.
"A-ah…" Souji merasa tubuhnya mati rasa, gemetar dan terpaku pada posisinya.
"Tolong… tolong…! AAARGH!"
Sosok itu terjatuh ke tanah dan menjadi sama dengan yang lain—mencair di tanah dalam wujud cairan pekat hitam seperti tinta.
Makhluk-makhluk itu kemudian mulai berbalik ke arah Souji dan mengerumuni anak lelaki itu.
Souji berteriak keras.
.
.
"AGH!"
Pemuda berambut abu-abu itu terbangun dalam posisi terduduk di atas ranjang. Tubuhnya berkeringat dan napasnya terengah-engah.
"…M-mimpi…?" ia menghela napas. Jantungnya berdegup kencang.
Pemuda itu mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ia berada di ranjang kamarnya di UFoND base, dengan Junpei yang tertidur pulas dan mendengkur keras di samping ranjangnya.
Souji menghembuskan napas dan berusaha untuk mengaturnya agar teratur, kemudian kembali membaringkan tubuhnya di ranjang dan memejamkan mata.
'Mengapa aku bermimpi seperti itu…?' batinnya dalam hati. Ia ingat kejadian itu dari awal hingga ia bermain seharian. Tetapi tidak selarut itu dan tidak ada kejadian aneh seperti teman-temannya yang tiba-tiba berubah wujud menjadi makhluk aneh.
"…Ada-ada saja…" gerutunya pelan sebelum kembali mencari posisi yang nyaman untuk kembali tidur. Jika kembali diingat baik-baik, anak lelaki 'aneh' itu sepertinya familiar…
Souji kembali membuka matanya. "…Tatsumi Kanji…" ia akhirnya berkata. "Jadi dia…?" pemuda itu menghela napas.
Pemuda itu kembali memejamkan matanya. "Aku bermimpi aneh…" ia mengerutkan dahinya, "kuharap mimpiku yang selanjutnya tidak seperti ini…"
Dan ia mulai kembali ke dunia mimpi.
"Bangun… bangun… Malas… Lapor pada Fuuka."
Souji menutupi tubuhnya dengan selimut. Matanya terasa sangat berat.
"Hee-ho. Ternyata mereka tidak ingin bangun, hee-ho. Bufu!"
"ARGH!"
Untuk ke sekian kalinya dan nyaris setiap pagi, Souji tahu itu suara Junpei.
"Robot keparat—"
"Penggunaan kata-kata kasar, Hee-ho. Lapor pada—"
Souji menutup telinganya. Ia terlalu bosan dengan skenario yang terjadi nyaris setiap pagi seperti ini.
Setelah keributan mereka mulai mereda dan terdengar langkah Jack Frost yang keluar dari ruangan, Souji membuka matanya dan memaksakan diri untuk duduk.
"Robot itu akan merasakan akibatnya nanti..." gerutu Junpei yang gemetar kedinginan. Ia memperhatikan ranjang Souji yang kering tanpa salju. "...Mengapa robot itu tidak mengganggumu?"
Souji mengangkat bahu. "Mungkin dia tahu tidak ada gunanya melakukan itu. Aku sudah siap bangun."
"Di mana topiku...?" Junpei bergerak ke laci yang berada di tengah antara ranjangnya dengan Souji dan membukanya. "Ini dia." Ia mendesah, tetapi tiba-tiba pandangannya terpaku pada bagian dalam laci.
"Ada apa...?" tanya Souji sambil menguap.
"Memory visor itu... kau selalu menyimpannya di sini kan? Di mana benda itu?"
"Apa?" Souji bertanya heran. Pemuda itu ikut mengintip ke dalam laci dan tidak menemukan benda yang dicarinya. "Tunggu... tidak mungkin. Aku selalu meletakkannya di dalam."
"Apa kau lupa menaruhnya di dalam semalam?" tanya Junpei perlahan.
"Aku yakin aku meletakkannya di dalam. Apa ada yang mengambilnya?" Sedikit rasa panik mulai menghantui Souji.
"Siapa pula yang akan mengambil benda itu? Tanyakan saja pada Shinjiro atau Fuuka nanti. Mungkin salah satu dari mereka mengambilnya semalam." Junpei berpendapat.
"Tanpa memberitahu kita?"
"Kita tertidur. Mungkin mereka tidak ingin membangunkan kita."
"Memory visor? Tidak... kami tidak mengambilnya." Fuuka menjawab saat mereka menyantap sarapan bersama di ruang makan.
"Kau yakin...?" tanya Souji sambil mengernyit.
Fuuka memperhatikan anggota-anggota lainnya, termasuk Shinjiro. "Apa ada dari kalian yang mengambilnya?"
"Tentu saja tidak. Untuk apa aku mengambilnya?" tanya Chie sambil terus melahap waffle-nya.
"Begitu juga aku..." jawab Kanji, memasukkan potongan besar waffle ke dalam mulutnya.
"Aku tidak memiliki alasan untuk mengambilnya secara diam-diam untuk sementara..." jawab Shinjiro sambil meneguk kopinya, membiarkan cairan hangat itu mengaliri tenggorokannya.
"Lalu siapa...?" Souji bergumam, kemudian pandangannya beralih pada Teddie. Begitu juga yang lainnya.
Teddie yang sedang sibuk melahap hampir semua jenis makanan di atas meja menghentikan aktivitasnya untuk sementara. "Kenapa kalian semua melihat Teddie, kuma? Teddie tidak salah apa-apaaa! Teddie tidak mengambil benda itu!" jawab anak lelaki pirang itu sambil membelalakkan matanya.
"Tingkahmu yang paling mencurigakan di sini," cetus Junpei.
"Apaaa? Itu tidak adil, kuma!" Teddie menjawab tidak setuju. "Apa alasan Teddie untuk—"
"Teddie?" Chidori tiba-tiba memasuki ruang makan.
Junpei seketika terperanjat dan rona merah mulai mewarnai pipinya tanpa ia sadari. "C-Chidori...! Ehm... kau tidak makan bersama kami?"
Chidori berjalan menghampiri Teddie tanpa menjawab pertanyaan Junpei. "Aku menemukan ini di dalam kostum beruangmu," ucapnya sambil menyerahkan memory visor pada Teddie.
Souji menajamkan tatapannya. "...Jadi ada yang berbohong di sini...?"
Teddie menelan ludah. "Eh... aku... duluan!" ucapnya keras dengan makanan di mulutnya, kemudian dengan terburu-buru meraih memory visor itu dari tangan Chidori dan berlari melesat keluar ruangan.
"Hentikan dia...!" Souji berdiri dari tempat duduknya dan mulai mengejar Teddie.
"Tunggu! Serahkan padaku, Souji!" Chie ikut bangkit dengan garpu yang menusuk potongan waffle, kemudian ikut berlari keluar melewati Souji.
Beberapa saat kemudian, bunyi pukulan yang keras dan terdengar menyakitkan terdengar, disusul teriakan kesakitan yang mereka kenali sebagai suara Teddie.
Souji berlari menyusul mereka dan menemukan Chie yang tengah berdiri di dekat Teddie yang terbaring di lantai. Anak lelaki pirang itu meringis kesakitan.
"S-seorang lady seharusnya tidak boleh kasar seperti ini..." ucap Teddie susah payah. Paras Chie memerah.
"A-apa...? Tentu saja boleh!" Chie menentang.
"Ted..." panggil Souji pelan, menghampiri Teddie. "Mengapa kau mengambil memory visor itu? Kalau kau ingin meminjamnya, kau harus mendapatkan izin dari Shinjiro. Kau tahu itu kan?"
Teddie berusaha untuk duduk. "Ehm... aku belum meminta izin, tapi seharusnya tidak masalah, kuma." Ia berbicara perlahan, kemudian memperhatikan Souji. "Kau sendiri! Mengapa kau diperbolehkan memegang memory visor itu, kuma?"
Souji membiarkan otaknya berputar untuk berpikir selama beberapa saat. "...Itu dikarenakan suatu alasan."
"Alasan apa?"
"Bukan urusanmu..." Souji menjawab.
"Tentu saja urusanku! Ini menyangkut hubunganku dengan Nao-chan, kumaaa!"
Souji mengangkat alis matanya. "Apa katamu...?"
"Nao-chan...? Siapa itu?" Chie akhirnya menyela setelah mendengarkan percakapan mereka sedari tadi.
"Kau bisa melihat gadis kecil itu?" tanya Souji tidak percaya.
Kali ini, Teddie-lah yang membelalakkan matanya. "Maksudmu... kau juga bisa melihat Nao-chan? Maksudku, tidak hanya melihat. Kau bisa berinteraksi dengannya, kuma? Jadi benar kau?"
Souji terdiam sesaat. "Jangan katakan padaku bahwa kau juga..."
"Di luar dugaan..." mulut Teddie menganga. "Kukira 'Onii-chan' yang ia maksud adalah Shinji. Tapi ternyata kau, kumaaa!"
Souji merasa kepalanya terasa sedikit sakit. "Tunggu dulu... maksudmu Shinjiro juga bisa melihat gadis kecil itu?"
Teddie tampak nyaris tersinggung. "Shinji tidak hanya bisa melihat Nao-chan kecil, kumaaa! Hubungan mereka termasuk intim, kumaaa!"
"Halo...?" Chie kembali menyela. "Aku semakin tidak mengerti apa yang kalian bicarakan. Bisa tolong pelan-pelan saja?"
Untuk kedua kalinya, Souji maupun Teddie tidak menghiraukan selaan Chie. Pemuda itu terdiam sesaat. "Jadi tidak hanya aku... Kalian mengenal anak itu."
"Hm hm..." Teddie mengangguk, "bahkan kami mengenal Nao kecil lebih dulu dibanding kau."
Souji merasa teka-teki yang harus ia pecahkan semakin menumpuk. "...Baiklah. Sepertinya aku harus bicara pada anak itu atau pada Shinjiro-san. Sekarang... kembalikan visor itu."
Teddie memandang Souji dengan tatapan yang menyiratkan ketidaksetujuan. "Nao-chan kecil sedang dalam masalah. Aku tidak yakin kau orang yang tepat untuk ia temui sekarang, kuma."
"Masalah apa?" tanya Souji serius.
Teddie membuka mulutnya perlahan. "...Shadow... mereka kembali berdatangan semalam, dan tidak akan berhenti mengganggu Nao-chan kecil hingga hati Nao-chan kecil berubah, kumaaa."
Souji mendesah. "...Shadow? Apa itu? Mengganggu gadis kecil itu? Lalu apa maksudmu dengan hati yang berubah?"
Teddie menajamkan pandangannya pada Souji dan tampak lebih serius. "Itu adalah hukuman untuknya..." ucap Teddie semakin perlahan, "sampai sesuatu dalam diri Nao-chan kecil berubah sesuai apa yang mereka inginkan, mereka akan mengganggu Nao-chan kecil terus dan terus hingga gadis kecil itu mati."
Hari telah gelap. Souji dan Chie menghabiskan hari itu berjalan-jalan keliling kota kecil tempat UfoND base berdiri. Chie sangat bersemangat hari itu untuk membeli perlengkapan dan bersiap-siap pergi berlibur, meminta Fuuka menemaninya. Karena hari itu Fuuka sibuk berdiskusi dan menyiapkan 'hal-hal penting seputar perang', Souji diminta untuk menggantikannya.
"Chie..." panggil Souji perlahan sambil menguap. Ia merasa lebih mengantuk dibanding biasanya.
Chie yang sedang sibuk mengatur barang-barang apa yang akan dia bawa untuk liburan menjawab tanpa menolehkan kepalanya. "Apa?"
"Ayo kita ke Letzvetrie."
Kalimat itu menghentikan aktivitas Chie. Ia akhirnya menatap Souji dengan mulut menganga. "...Kau bilang kau sibuk..."
"Waktu itu aku mengatakan bahwa aku belum tahu apa yang akan kulakukan dan akan kupikirkan terlebih dahulu, tetapi sekarang terpikir olehku bahwa aku ingin mengunjungi negara itu."
"Kenapa tiba-tiba?" tanya Chie heran.
Souji terdiam sesaat, kemudian ia berjalan meninggalkan Chie. "Aku akan kembali ke kamarku. Kalau kau berencana untuk pergi ke tempat lain, tidak masalah. Tapi aku... akan tetap ke negara itu. Apapun kondisinya."
Souji berjalan memasuki kamarnya. Junpei belum kembali ke kamar mereka. Ia tidak tahu di mana Junpei berada. Pertemuan terakhir mereka adalah pada saat sarapan bersama di pagi hari.
Pemuda itu berjalan menghampiri ranjangnya dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuk itu. Teddie telah mengembalikan memory visor yang di'curi'nya setelah Souji berjanji untuk tidak mengenakannya untuk sementara waktu. Saat Souji bertanya mengapa, Teddie tidak memberikan penjelasan lebih lanjut.
Souji mendesah. Walaupun ia sangat penasaran dengan apa yang dimaksudkan Teddie dan ia sangat ingin mengenakan memory visor itu untuk mendapatkan suatu 'kebenaran', ia tidak ingin melanggar janjinya.
Satu-satunya tempat yang ia percayai akan memberinya petunjuk adalah Letzvetrie, di mana taman beserta pepohonan yang mirip dengan apa yang ada dalam memory visor juga ada di sana, termasuk pohon raksasa yang selalu dianggap gadis kecil itu 'spesial'.
Setelah mengunjungi tempat itu, Souji harus mendapatkan minimal satu saja kebenaran tentang segala hal yang ia lihat dan sentuh dalam memory visor. Souji memutuskan untuk beristirahat malam itu tanpa menunggu Junpei dan ia hendak bersiap-siap tidur.
Tiba-tiba, suara ketukan pintu terdengar.
Dengan enggan, pemuda itu mendudukkan dirinya di atas ranjang dan menyentuhkan telapak kakinya pada lantai dingin. Ia berjalan perlahan menuju pintu sambil mengusap matanya.
Souji membukanya dan mendapati Fuuka berada di sana.
"Hai, Souji-kun. Maaf mengganggu. Kau terlihat lelah." Fuuka menyapa dengan sopan. Souji menyunggingkan senyum.
"Tidak masalah." Souji menjawab singkat.
"Aku ingin memberitahumu sesuatu..." Fuuka membalas senyuman Souji, "WPM milikmu telah siap."
Seketika itu juga, rasa kantuk Souji menguap lenyap. "...Cepat sekali." Souji berkomentar, terkejut akan pengumuman itu.
Wajah Fuuka tiba-tiba merona kemerahan. "Sebenarnya... WPM milikmu sudah lama disiapkan. Bahkan sebelum tes dan ujianmu tiba."
"Apa?" Kedua mata Souji melebar. "Bagaimana bisa? Kau mengatakan tanpa tes, tidak akan ada dasar untuk pembuatan WPM—"
"Tentu saja tidak akan ada dasar," Fuuka memutus kata-kata Souji. "Tapi kau... sesungguhnya telah layak mendapatkan WPM itu sejak dulu. Dan WPM itu telah dibuat berdasarkan 'persona' yang ada dalam dirimu sejak bertahun-tahun yang lalu."
"Bagaimana mungkin? Aku tidak pernah menjalani tes WPM dan semacamnya dulu. Tes itu hanya sekali kulakukan baru-baru ini. Dan apa yang kau maksud dengan... 'persona' dalam diriku...?"
Untuk sesaat, Fuuka tidak menjawab pertanyaan Souji, tetapi gadis itu akhirnya membuka mulutnya. "Jawabannya... ada pada apa yang dapat kaulihat dalam memory visor."
Souji hanya mampu menganga.
"Nama WPM-mu... Izanagi, persona yang lahir dalam dirimu bertahun-tahun yang lalu." Fuuka mengulurkan tangannya. "Walaupun terlambat, selamat atas keberhasilanmu mengontrol shadow."
A/N:
Terima kasih banyak buat pembaca yang masih mau membuka fic dan chapter ini walopun sebelumnya (lagi", maaf... kali ini aku akan lebih rajin dan lebih rutin) aku onggokin lama di sini dengan 2 fic lainnya... dan mohon maaf untuk itu... *dihajar*
Makasih banyak untuk yang mau membacanya sampai chapter ini dan special thanks untuk para reviewer (sekaligus teman-temanku yang baik): Togane Shiro, Kuro (yang... aku paling kangen.. ^^a), heylalaa, dan neraraaa- :D
Review reply akan berbarengan dengan fic lainnya. Selain itu, mohon maaf karena chapter ini sepertinya terkesan berantakan dan mungkin nge-flow terlalu cepat... (_ _") bagi yang merasa demikian, boleh beritahu.
Akhir kata, mohon kritik, saran, komentar dan kawan-kawannya yang dapat kalian sampaikan lewat review.
-Shinomiya Kaede a.k.a Snow Jou
