Yuuhuuu.. Ketemu lagi sama Fi, si author kemarin sore (?) yang sedang mencoba peruntungan di FFN.. Fi datang membawa chapter 3! ^o^

Makasih banyak yaa buat para reviewers di chapter sebelumnya, ini dia balesan buat yg gak login..

Tantand: Aree.. Se... Senpai? O.O" Waduh Fi masih pemula bgt, blm pantes dipanggil senpai nih.. X(

Makasih pujiannya.. Makasih jg udah RnR yaa! RnR lagi? ^^

Kanhakura Haito: Makasih dah dtg lagi, Haito-san! (ehm.. Boleh panggil begitu?) Hehehe, syukurlah kalau tambah seru.. Moga2 chapter ini jg gak mengecewakan, ya.. Kalau soal dipanjangin, maaf ya Fi bingung mau bikin lanjutannya gimana lagi, dari awal udah dipikirin tamatnya sih.. X(

Makasih udah RnR! RnR lagi? ^^

Kitsune Murasaki is A Little Monster: Ehehehe iya Fi juga blushing pas ngetiknya, tapi scene itu emg butuh sih buat nambah feel-nya.. Hhe. Soal urusan Naruto & Sakura, nanti bakal dijelasin kok. Tunggu aja ya! ^^ Ehm, wah kamu ngasih Fi ide buat endingnya lho! Thanks ya! XD

Ini udah apdet, moga2 gak mengecewakan.. Makasih udah RnR! RnR lagi? ^^

Ice Cream Blueberry: Makasih udah dtg lagi, Blueberry-chan ^^. Wah syukurlah kalau makin seru.. Fi bakal berusaha! Naruto punya 2 pacar? Waduh.. Kayaknya nggak, deh O.O"

Makasih semangatnya! Ini udah apdet, moga2 gak mengecewakan.. Makasih udah RnR! RnR lagi? ^^

Benjiro H.: Ehehehe.. Namanya juga first kiss, jd gak berani lama2.. Hhe. Masalah Sakura di sini muncul lagi kok, tapi bakal lebih banyak di chapter depan.

Makasih udah RnR! RnR lagi? ^^

Rreyna: Halo juga.. Gak papa kok, yg penting review. ^^ Waduh jgn panggil senpai, Fi blm PD soalnya Fi masih pemula.. X(

Beneran nih so sweet? Thanks yaa.. Hhe. Masih donk! Ini udah apdet, moga2 gak mengecewakan.. Makasih udah RnR! RnR lagi? ^^

Dy: Wah syukurlah kalau makin seru.. Ikutin ceritanya terus ya! ^^ Yah Sasuke mah pendiem, ga niat ngelaporin segala.. Hha. Sasori emg gila! *diserang pake satetsu*

Ini lanjutannya, moga2 gak mengecewakan.. Makasih udah RnR! RnR lagi? ^^

Yg review login, Fi bales lewat message.

Baiklaah.. Ini dia! Selamat membaca chapter 3! ^^

Pesan Fi masih sama: Don't like, don't read, don't flame!

.

~St. White's Day Romance~

A Naruto Fanfic

Ide dan beberapa adegan terinspirasi dari DNAngel

Rated: T

Genre: Romance, Friendship

Pairing: Naruhina

Slight Narusaku, Kibahina, & Sasohina

Warning: AU, OOC, Hinata di sini tidak terlalu pemalu, Cliche, Typo(s), dwwl (dan warning-warning lainnya)

Disclaimer: Naruto belongs to Kishimoto Masashi-sensei

DNAngel belongs to Sugisaki Yukiru-sensei

Happy Reading! ^^

.

.

Chapter 3

Gedung sekolahan berpapan 'Konohagakuen High School' itu ramai oleh orang-orang yang datang untuk turut merayakan hari St. White. Ada banyak acara dan stand yang diadakan di sana, mulai dari café, pertunjukan drama, permainan, dan masih banyak lagi.

Salah satu stand yang paling ramai dikunjungi adalah wahana Lorong Bintang di gedung olahraga sekolah itu. Oleh murid-murid Konohagakuen, gedung olahraga yang luas itu disulap menjadi sebuah labirin besar dengan satu pintu masuk dan satu pintu keluar. Ruangan itu dibuat gelap dengan tirai hitam yang menutupi jendela-jendelanya, dan sebagai gantinya sepanjang dinding labirin yang berliku-liku itu dipasangi lampu-lampu kecil, begitu juga dengan atap gedung, dipasangi lampu-lampu kecil yang membentuk berbagai rasi bintang. Sehingga orang yang berjalan di dalam labirin itu akan merasa bahwa ia sedang berjalan di sebuah 'lorong bintang'. Wahana itu tak urung mengundang banyak peminat, terbukti dengan hari yang sudah menjelang sore ini pun masih ada pengunjung yang ingin mencoba masuk ke dalam wahana tersebut.

"Huuff..." keluh seorang siswa berambut pirang acak-acakan namun berkesan keren itu sambil menatap lelah pada panel pengontrol listrik di hadapannya. Ya, ia bertugas sebagai teknisi yang mengawasi pencahayaan di wahana Lorong Bintang ini. Sudah dua jam ia berkutat dengan benda yang memusingkan itu, raut lelah dapat terlihat jelas di wajah tampannya.

'Hadoooh, semenit lagi saja aku di sini, aku bisa gila! Listrik oh listrik... Mengapa begitu memusingkan?' gerutunya dalam hati. Seolah batinnya itu dapat terdengar, tak lama bahunya ditepuk dari belakang oleh seseorang. Pemuda yang ditepuk itu menoleh, melihat sahabatnya tengah tersenyum tipis padanya.

"Naruto, gantian. Mulai dari sini adalah giliran shift-ku," ujar siswa berambut hitam itu. Pemuda yang dipanggil Naruto itu nyengir. Ternyata doanya akan dikabulkan secepat ini, God Almighty!

"Hehehe... Tahu saja kalau aku sudah lelah. Oke, selanjutnya aku serahkan padamu, Sasuke!" serunya riang lalu ber-tos dengan Sasuke, tanda ia menyerahkan pekerjaannya kepada sahabatnya itu. Ia pun lantas melenggang keluar dari ruang kontrol.

"Huff, beres juga kerjaanku... Tak kusangka menjadi panitia akan serepot ini," gumam pemuda berbadan tinggi itu, menyeka keringat di dahinya menggunakan punggung tangan kanannya. Jelas sekali pemuda itu kelelahan, seragam yang melekat di tubuhnya pun kini tak lagi bisa disebut rapi. Lengan kemeja panjangnya digulung sampai hampir ke siku, kancing atas kemejanya tak dikancingkan, scarf putih sebagai dasi yang terpasang di balik kerahnya juga sudah dilonggarkan. Kesimpulannya, ia sudah gerah.

"Naruto," panggil seseorang yang tak jauh darinya, membuat ia menghentikan aktivitas mengelap keringatnya dan menoleh ke arah si pemanggil. Seorang gadis berambut merah muda yang tengah tersenyum tertangkap di mata birunya.

"Sakura-chan," Naruto menyebut nama gadis itu, membalas senyumnya. "Ada apa?"

"Kerjaanmu sudah beres, 'kan? Apa kau mau ikut denganku? Ada yang ingin kubicarakan," tutur gadis berparas cantik yang pernah menarik hatinya itu.

Naruto yang sedari tadi hanya menoleh, kini membalikkan badannya menghadap lawan bicaranya tersebut. "Baiklah," jawabnya, dan langsung ditanggapi dengan senyuman manis gadis di hadapannya.

.

.

.

"Terima kasih banyak," ucap seorang siswi berambut panjang dengan pita putih di rambutnya sembari membungkuk sopan ke arah pengunjung terakhirnya. Setelah yakin bahwa pengunjungnya tadi telah cukup jauh, barulah gadis itu mengganti raut wajah ramahnya dengan raut wajah lelah yang kusut.

"Fyuuh... Akhirnya pengunjung yang terakhir sudah pergi..." keluh gadis itu pelan tanpa sadar. Mata lavendernya sayu, menandakan bahwa ia benar-benar sudah lelah. Tak lama, sebuah suara tawa dari seorang laki-laki memecah lamunannya.

"Hahaha... Hebat juga kau bisa tahan memasang senyum terus-terusan selama 4 jam, Hinata!" seru pemuda yang tengah berjalan mendekati gadis yang bernama Hinata itu. Ia membawa teh hangat dalam dua gelas kertas di kedua tangannya.

"Kau tahu, sepertinya wahana ini jadi begini ramainya karena orang-orang tertarik pada senyumanmu," rayu pemuda berambut coklat itu, menyodorkan salah satu gelas di tangannya pada Hinata.

Hinata menerima gelas kertas itu dengan wajah yang merona. "Ja, jangan menggodaku, Kiba-kun!" protesnya malu. Sementara Kiba hanya tertawa lagi, gemas melihat wajah gadis di hadapannya yang semakin manis dengan rona merah di pipinya. Hinata perlahan menyeruput teh dari gelas yang ada di tangannya, berusaha mengusir rasa gugupnya.

Walaupun Kiba sudah bersikap biasa saja padanya, tampaknya Hinata masih merasa tidak enak pada pemuda yang sudah menyatakan cinta padanya pagi itu. Di luar dugaan Hinata, rupanya Kiba pun menyadari kecanggungan sikap Hinata padanya. Kiba lalu membuang napas.

"Hei, Hinata, bisakah kau bersikap biasa saja? Kau bersikap seolah-olah sedang menghadapi orang yang baru merebut ciuman pertamamu saja."

Hinata tersentak mendengar kata 'ciuman pertama', hampir saja ia tersedak teh yang sedang diminumnya. Tiba-tiba saja otaknya memutar ulang kejadian tadi pagi, dan sontak wajahnya memerah padam. Kiba yang tengah memalingkan wajahnya karena gugup, tidak melihat ekspresi Hinata ini. Lantas ia pun melanjutkan kalimatnya.

"Ehm... Aku memang mengatakan aku menyukaimu, tapi aku sudah mengerti perasaanmu kok. Aku tidak akan memaksamu untuk menjadi kekasihku. Kau tak perlu merasa tidak enak karena telah menolakku. Aku sudah cukup lega dengan mengutarakan perasaanku padamu. Karena itu, kita bisa tetap berteman baik, 'kan?" tutur Kiba, akhirnya menatap wajah Hinata dan tersenyum.

Hinata terperangah mendengar penjelasan Kiba. Ia pun mengangkat wajahnya, membalas tatapan Kiba padanya dan ia dapat melihat ketulusan di sorot mata pemuda itu. Perlahan, Hinata pun mengangkat ujung-ujung bibirnya, menyunggingkan senyum manis yang telah merebut hati Kiba.

"Ya... Tentu. Terima kasih... Kiba-kun..." ucapnya lembut.

Kiba tersenyum makin lebar mendengar jawaban Hinata. Gadis di hadapannya ini sungguh manis dan baik hati. Sungguh beruntung Naruto bisa memiliki sahabat seperti gadis ini, pikirnya. Omong-omong soal Naruto, sepertinya dari tadi ia tidak melihat pemuda berisik itu. Padahal acara perayaan St. White sudah selesai.

"Oh ya, di mana Naruto? Panitia 'kan mau kumpul untuk penutupan acara," tanya Kiba, menolehkan kepala ke kiri dan kanannya. Hinata yang tadi sempat rileks, kini kembali menegang mendengar nama itu disebut. Jantungnya berdetak kencang, wajahnya kembali memanas. Setelah beberapa saat menstabilkan detak jantungnya, barulah ia menjawab pertanyaan Kiba.

"Ehm, e-entahlah... Aku tidak tahu. O-oh iya, aku ke toilet dulu, ya," ujarnya tergagap. Setelah mendapat anggukan Kiba, gadis itu membuang gelas kertas kosongnya ke tempat sampah terdekat, lalu berlalu menuju toilet.

.

.

.

Suara air terdengar dari kamar toilet yang baru ditinggalkan Hinata. Gadis itu kemudian mencuci tangannya di wastafel, lalu terdiam sesaat menatap pantulan wajahnya di cermin.

'Huuff... Sejak kejadian tadi pagi, aku belum bertatap muka lagi dengan Naruto-kun... Apa yang harus kukatakan padanya kalau bertemu nanti?' batinnya, seketika wajahnya kembali memerah mengingat pemuda bermata biru cerah itu. Setelah agak tenang, ia melangkah meninggalkan toilet, menghirup udara sore dalam-dalam ketika sudah berada di luar. Sore ini cerah, walaupun suhunya tetap dingin. Yah, bagaimanapun ini adalah musim dingin. Hinata pun memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar sekolah untuk sekedar melepas penat. Seharian menjaga stand sudah pasti melelahkan, bukan?

Hinata memperlambat langkahnya ketika melewati koridor yang berbatasan langsung dengan halaman belakang sekolah, menikmati keindahan tatanan taman dan pohon-pohon di sana. Namun pandangannya tiba-tiba terhenti pada satu - atau dua - objek, dan matanya melebar ketika ia mengenali objek itu. Seorang pemuda berambut pirang dan seorang gadis berambut merah muda. Kedua orang berwarna rambut mencolok itu tengah berpelukan di halaman belakang. Wajah sang gadis terbenam di dada bidang sang pemuda, sementara tangan pemuda itu mengelus-elus bahu sang gadis yang bergetar.

Hinata yang melihat kedua sahabatnya tengah berpelukan, sontak menutup mulutnya yang terbuka menggunakan kedua tangannya. Pemandangan ini memaksanya menelan pil pahit bernama kekecewaan, di mana pria yang tadi pagi membuat hatinya melayang tinggi ke langit, kini menampilkan adegan yang membuat tubuhnya bagaikan jatuh bebas dari langit. Namun apa yang akan didengarnya kemudian, akan semakin menyakitkan bagi dirinya.

"Aku menyukaimu... Naruto..." aku Sakura yang terisak dalam pelukan Naruto dengan suara bergetar. Hinata yang mendengarnya, matanya membulat sempurna. Hatinya terasa seperti sedang diiris dengan pisau tajam.

Naruto terdiam sesaat. Dia hanya mengusap bahu Sakura, berusaha meredakan isakan gadis itu. Namun tak lama, ia menutup matanya, menundukkan kepalanya ke arah pundak Sakura, lalu membuka suaranya.

"...Ya, aku tahu. Aku juga menyukaimu... Sakura-chan..."

Hancur sudah hati Hinata. Tak kuat untuk mendengar percakapan mereka selanjutnya, gadis itu segera membalikkan tubuhnya, berlari menjauhi tempat itu. Ia tak mau hatinya lebih sakit lagi dengan menyaksikan mereka lebih lama. Tanpa ia sadari, air mata yang menggenang di mata lavendernya mengalir turun ke pipinya. Membuat pandangannya buram dan mempersulitnya melihat lantai koridor yang tengah ia lalui. Namun Hinata tidak peduli. Yang ia pedulikan sekarang ialah jauh-jauh dari tempat itu, jauh-jauh dari tempat bermesraan kedua sahabatnya.

'Ke-kenapa...' batin Hinata tanpa menghentikan larinya, 'Kenapa aku menangis? Bukankah seharusnya ini yang kuinginkan? Aku yang meminta Naruto-kun memberikan pita itu pada Sakura-chan, 'kan? Aku yang ingin mempersatukan mereka dari awal, 'kan? Tapi kenapa..?' setelah dirasa ia cukup jauh dari halaman belakang sekolah, ia menghentikan langkahnya, tangan kirinya menahan berat tubuhnya pada dinding di sebelahnya, sementara tangan kanannya mencengkeram baju di bagian dadanya yang terasa sakit.

'Kenapa... Naruto-kun memberikan pitanya padaku juga? Kenapa ia menciumku... Kenapa ia memberikan harapan padaku...? Kalau memang... Ia menyukai Sakura-chan...' batinnya lagi, sebelum tubuhnya merosot ke bawah dan tenggelam dalam tangisannya.

.

.

.

"CHEERS!" teriak Kiba semangat, mengacungkan gelas berisi cola dingin ke udara. Aksinya itu ditanggapi teman-temannya dengan teriakan 'cheers' yang jauh lebih semangat darinya, semua ikut mengacungkan gelasnya ke udara.

Mereka – para panitia perayaan St. White Konohagakuen – tengah merayakan penutupan acara mereka di café dekat sekolah mereka. Well, tampaknya tak semua dari mereka merupakan panitia. Seorang gadis berambut merah muda yang mengangkat gelasnya dengan malu-malu itu bukan merupakan anggota OSIS, atau panitia acara akbar ini.

"Ehm... Apa tidak apa-apa aku ikut bergabung dengan kalian? Aku kan bukan panitia..." ucap gadis itu malu-malu.

"Ahaha... Tentu saja tak apa, Sakura-chan! Kau 'kan juga ikut sibuk dalam acara ini! Iya 'kan, teman-teman?" ujar Naruto ceria, lalu menatap teman-temannya satu per satu, meminta persetujuan. Teman-temannya menanggapi dengan anggukan.

"Yup, benar kata Naruto. Lagipula pesta penutupan kecil-kecilan ini tidak tertutup hanya untuk anggota OSIS, kok," timpal Kiba. Naruto yang mendengarnya nyengir, sementara Sakura tersenyum lega. "Lagian, kau juga tiba-tiba mengajak Sakura, sih, Naruto. Yah, walaupun bukan masalah juga, sih," lanjut Kiba. Naruto berhenti menyeruput cola-nya.

"Habis, 'kan kasihan kalau Sakura-chan tidak diajak. Dia 'kan sahabat kita juga! Iya 'kan, Hinata?" terang Naruto semangat, lalu menoleh pada gadis berambut panjang di kursi pojok yang tengah menunduk. Melihat tak ada respon dari gadis itu, raut ceria Naruto luntur dan berubah heran. "Hinata..?" panggilnya lagi. Masih tak ada respon.

"Hinata... Kau baik-baik saja?" kali ini Kiba yang duduk di sebelah Hinata yang memanggilnya, disertai sebuah tepukan lembut di bahu gadis itu. Hinata tersentak kaget, dan langsung mengangkat wajahnya ke samping, melihat ekspresi khawatir Kiba.

"Ah, Ki-Kiba-kun... Ada apa?" tanya Hinata, menatap Kiba. Kiba dapat melihat mata Hinata sayu dan sembab, menandakan gadis itu sempat menangis. Lebih dari itu, entah pikiran gadis itu melayang ke mana, karena tampaknya sedari tadi ia sama sekali tak bergabung dalam keramaian teman-temannya ini.

"Apa kau tak apa-apa? Mau kuantar pulang?" Kiba memegang bahu Hinata, raut cemas sangat terlihat di wajahnya. Hinata yang sadar bahwa Kiba mengkhawatirkan dirinya, sontak menggeleng dan sebisa mungkin tersenyum manis, menyembunyikan kesedihannya.

"Tidak, aku baik-baik saja, kok," jawab Hinata tenang, meskipun dalam hati ia masih terpukul, apalagi setelah mengetahui Naruto mengajak Sakura untuk ikut bersamanya sepulang dari sekolah tadi.

"Kau yakin? Kalau kelelahan, aku bisa mengantarkanmu pulang."

"Ya... Aku tak apa-apa, kok. Terima kasih, Kiba-kun."

Kiba menghela napas lega. "Baiklah. Tapi kalau kamu mau pulang, bilang saja padaku. Aku akan mengantarmu," ujar Kiba, nada khawatirnya kini sudah hilang. Hinata mengangguk.

Naruto yang sedari tadi hanya bisa diam, memasang tatapan tidak suka melihat keakraban Kiba dan Hinata. Apa hubungan mereka menjadi sedekat ini setelah Kiba mengatakan perasaannya? Pertanyaan itu hanya bisa lewat di pikirannya, tanpa bisa ia lontarkan secara langsung. Lamunannya tiba-tiba harus terputus ketika mendengar suara menguap dari Shikamaru.

"Haah... Sekarang saja kita bisa berpesta seperti ini, dan besok kita akan sibuk membereskan sekolah dari dekorasi dan sampah-sampah bekas perayaan... Huh, merepotkan saja," keluh pemuda berambut nanas itu, menjadikan kedua tangannya sebagai alas kepala di atas meja. Keluhannya ini berbuah sebuah jitakan di kepalanya. Shikamaru mengaduh, lalu melirik malas pada pelaku penjitak kepalanya, Temari.

"Dasar pemalas! Beres-beres sehari setelah perayaan itu sudah jadi agenda sekolah setiap ada perayaan, tahu!" kesal gadis berkuncir empat itu, masih mengepalkan tangannya yang siap melayang kapan saja. Shikamaru yang mendengarnya hanya mendelik, lalu kembali menguap dan menenggelamkan kepala berisi otak jeniusnya itu di balik kedua tangannya. Temari sweatdropped.

"Sudahlah, Temari-senpai. Wajarkan saja tingkah bendahara OSIS kita yang pemalas itu," ujar sang sekretaris, Ino. Ia mengibas-ngibaskan tangannya untuk menenangkan seniornya itu. "Oh ya Sasuke-kun, urusan sponsor sudah kau urus? Kepala sekolah meminta laporannya besok," lanjut gadis pirang yang dikuncir menyerupai ekor kuda itu, kali ini berbicara pada pemuda berambut hitam yang sedari tadi hanya diam menikmati cola-nya.

"Hn. Semua tugasku sebagai humas sudah beres. Selanjutnya tinggal minta ketua OSIS membuat laporannya saja, tapi berhubung sang ketua kita masih tak sadarkan diri sejak tadi pagi, jadi sepertinya tugasnya harus 'dihibahkan' pada seseorang," tutur Sasuke tenang, pada bagian terakhir kalimatnya ia melirik pemuda di sebelahnya yang langsung tersentak.

"Tu-tunggu dulu! Maksudmu aku harus membuat laporan itu malam ini juga karena ketua brengsek itu belum sadarkan diri?" pekik Naruto dengan mata membulat, menunjuk hidungnya sendiri. Teman-temannya yang mendengar panggilan 'ketua brengsek' dari Naruto mengangkat alisnya heran. Sementara Sasuke yang sudah mengerti, hanya tertawa tertahan.

"Hn. Seharusnya kau sudah tahu tugasmu kalau ketua itu kenapa-kenapa, 'kan? Wakil ketua?" serang Sasuke tenang, menyunggingkan sebuah seringai mengejek yang entah kenapa sangat dibenci Naruto. Naruto mendecih sebal. Ia merutuki tindakannya tadi pagi yang membuat Sasori tak sadarkan diri sampai sekarang. Tapi kalau tadi pagi ia tak menghajar Sasori, Hinata pasti akan...

"AAAAAARGH!" geram Naruto frustasi, mengacak-acak rambutnya yang memang sudah berantakan. Namun sesaat kemudian ia menghela napas panjang.

"Baiklah, baiklah, akan kukerjakan," ucapnya pasrah. Ia kemudian menoleh pada Ino yang tengah tersenyum senang. "Hei Ino, tak bisakah kau membantuku? Kau sekretaris, 'kan?" mohon Naruto, matanya kini berbinar seperti anak anjing yang ingin mengatakan 'tolong pungut aku' berkali-kali. Ino hanya mengibas-ngibaskan tangannya, tak terpengaruh dengan jurus Naruto.

"Tak bisa, tak bisa! Tugas sekretaris sudah selesai sampai membuat proposal, laporan seperti ini sudah jadi tanggung jawab ketua dan wakil ketua OSIS!" tuturnya ringan, tapi semakin membuat bahu Naruto terasa berat.

"Begitu, ya... Ya sudah, apa boleh buat," keluh Naruto. Ia menggantungkan kepalanya lemas, menyerah pada nasibnya.

Hinata menatap Naruto dengan perasaan miris. Ia ingin membantu Naruto, tapi niat itu cepat-cepat diurungkannya begitu menyadari keberadaan Sakura. 'Benar, Naruto-kun 'kan sudah punya Sakura-chan... Ada Sakura-chan yang akan membantu dan menyemangati Naruto-kun...' hatinya kembali sakit memikirkan hal itu, Naruto sudah bersama Sakura. Ia kembali menundukkan kepalanya, menahan sekuat tenaga agar air matanya tidak jatuh lagi.

.

.

.

Suara 'grasak-grusuk' terdengar di dalam sebuah kamar bercat ungu muda. Suara itu berasal dari kegiatan seorang gadis yang tengah mengacak-acak isi tasnya, mencari sesuatu. Mata lavendernya bergerak liar menyapu isi tas sekolahnya itu.

"Mana sih handphone-ku... Aku yakin tadi menyimpannya di dalam sini, kok," gumam gadis itu entah pada siapa, sembari terus mengeluarkan isi tasnya. Setelah sebagian isi tasnya berpindah ke luar, barulah ia dapat melihat benda kotak tipis berwarna hitam yang ia cari terjepit di bawah buku. Wajahnya berubah sumringah, akhirnya handphone-nya ketemu juga. Gadis bernama Hinata itu mengambil handphone-nya, meletakkannya di meja belajar, lalu kembali memasukkan isi tas yang tadi dikeluarkannya.

SRET...

Sehelai pita putih bersih meluncur mulus dari dalam salah satu bukunya, mendarat tanpa suara di lantai yang dingin. Hinata mengambilnya, menatap lekat pita halus yang kini berada di tangannya itu. Memorinya membawa kembali pada pagi tadi, dimana Naruto memberikan pita ini padanya. Seulas senyum tersungging di bibir tipisnya, tak urung sebersit kebahagiaan yang hangat merasuk ke dalam hatinya.

'Naruto-kun...' semburat merah merona hinggap di pipi putihnya hanya dengan mengingat nama pemuda itu. Namun itu tak berlangsung lama, begitu ia mengingat kejadian yang tak sengaja ia saksikan di halaman belakang sekolah sore tadi. Rasa hangat di hatinya perlahan menghilang, wajahnya berubah murung.

"Kak Hinata, makan dulu, yuk! Makanan sudah siap tuh," ajak Hanabi, adik perempuan Hinata dari luar kamar sambil mengetuk pintu kamar kakaknya. Hinata cepat-cepat mengembalikan pita itu ke dalam tasnya, lalu menjawab ajakan Hanabi.

"Iya, sebentar lagi aku akan turun, Hanabi-chan," ucap Hinata sedikit keras agar bisa terdengar oleh adiknya. Hinata menghela napas. Ia tersadar dari lamunannya yang hanya sesaat itu.

'Mungkin... Kebahagiaan ini juga hanya untuk sesaat...'

.

.

.

TBC

.

A/N: Fyuuuh.. Beres juga chapter 3. Fic ini semakin dekat dengan tamat, makasih banyak buat para reviewers dan readers yg senantiasa menjadi sumber semangat Fi untuk apdet fic ini.. ^^

Untuk chapter selanjutnya, Fi nggak yakin bisa apdet tepat waktu, soalnya Fi masih bingung mau ditamatin di chapter 4 atau 5. Endingnya pun masih Fi kerjakan sampai sekarang.. Tapi Fi bakal berusaha untuk apdet secepatnya. Makasih buat yg menunggu apdetan cerita ini yaa! ^^

Akhir kata.. Review without flame please.. ^^

Sign,

Fi ^^