Hola hola..! Ketemu lagi nih sama Fi.. Gak kerasa udah weekend lagi, waktunya apdet chapter 4! ^o^
Makasih banyaaaak yg udah review di chapter sebelumnya.. Makasih juga yg mau fave fic pemula ini *terharu* TwT
Okay, Fi bales review yg gak login dulu ya..
Kurirana: Wah makasih pujiannya.. Makasih juga semangatnya! Ini udah apdet, moga2 gak mengecewakan ya.. Makasih udah RnR! RnR lagi? ^^
Cactus. mo: Makasih pujiannya.. Hhehe gak papa kok, yg penting akhirnya review. ^^ Fav? Wah makasiiih! Ini lanjutannya, moga2 gak mengecewakan. Makasih udah RnR! RnR lagi? ^^
Kanhakura Haito: Alohaa Haito-san, selamat datang kembali! ^o^ *lambai balik*
Wah syukurlah.. Makanya tetep sehat, tetep semangat, biar bisa tetep baca fic bersama Fi *disundul Pak Bondan*
Ini lanjutannya, moga2 gak mengecewakan.. Makasih udah RnR! RnR lagi? ^^
Kitsune Murasaki is A Little Monster: Ahahaha, iya itu Puppy Eyes No Jutsu punya Naruto. Beneran nih feel-nya dapet? Syukurlah kalau begitu.. ^^
Ini udah apdet, semoga bisa nyembuhin rasa penasaran Kitsune-san. Makasih udah RnR! RnR lagi? ^^
Dy: Se.. Selingkuh? 'Kan jadian aja belom.. Hha. Wuidih Dy gak ikutan menipedi? Hha. Makasih udah bilang seru.. Jadinya tamatnya di chapter 5. Ini udah apdet, moga2 gak mengecewakan ya.. Makasih udah RnR! RnR lagi? ^^
Dobe129BD: Makasih udah ngisi box review. Tapi sekali lagi, don't like, don't read, don't flame. Thanks ^^
DraCool14: Beneran nih keren? Makasih ya.. ^^ Ini udah lanjut, moga2 penasarannya bisa terobati.. Hhe. Makasih udah RnR! RnR lagi? ^^
Ice Cream Blueberry: Hai juga Blueberry-chan. Gak papa kok, yg penting review. ^^ Mereka belum pacaran, soalnya belum ada pengakuan.. Yah Hinata memang perlu dibikin kasian dulu biar feel-nya dapet, hhehe *plaaak!* Ini udah apdet, moga2 gak mengecewakan.. Makasih udah RnR! RnR lagi? ^^
Yg review login, cek inbox ya. ^^
Oke deh.. Selamat membaca chapter 4! ^^
Pesan Fi masih sama: Don't like, don't read, don't flame!
.
.
~St. White's Day Romance~
A Naruto Fanfic
Ide dan beberapa adegan terinspirasi dari DNAngel
Rated: T
Genre: Romance, Friendship
Pairing: Naruhina
Slight Narusaku, Kibahina, & Sasohina
Warning: AU, OOC, Hinata di sini tidak terlalu pemalu, Cliche, Typo(s), dwwl (dan warning-warning lainnya)
Disclaimer: Naruto belongs to Kishimoto Masashi-sensei
DNAngel belongs to Sugisaki Yukiru-sensei
.
Happy Reading! ^^
.
.
Chapter 4
Malam sudah mulai larut, sang rembulan memancarkan sinarnya yang lembut ke permukaan bumi. Malam itu bulan berbentuk bulat yang sempurna. Warnanya putih terang, memantulkan dengan sempurna sinar dari Sang Raja Siang yang kini telah bersembunyi untuk memberikan kesempatan pada Dewi Malam menjadi penguasa langit malam yang hitam.
Namun kendatipun menyadari hari tak lagi sore, Naruto masih tak melepas pandangannya dari komputer di hadapannya. Jari-jarinya menari-nari di atas keyboard, merangkai kata-kata penyusun laporan yang sedang dikerjakannya ini. Kedua alisnya bertaut, matanya memerah menandakan pemuda itu sudah cukup lama berkutat dengan benda elektronik pemberian ayahnya itu. Sejenak ia menghentikan gerakan jari-jemarinya, menggumam pelan tak jelas. Tak lama kemudian gumaman itu berganti dengan suara teriakannya sendiri.
"AAAAAAAARGH! Bagaimana sih cara menyusun kalimat formal? Kenapa aku harus mengerjakan ini sendirian malam ini juga? Dasar nenek kepala sekolah tak berperasaaaaaaaaan!" Naruto menjambak rambutnya frustasi, membayangkan kepala sekolah yang sudah berumur kepala lima namun tetap cantik dan jahil itu. Ia bahkan membela-belakan melewati makan malamnya, tak bergabung dengan ayah dan ibunya yang kini sedang menikmati makan malam di ruang makan, demi menyelesaikan laporan untuk kepala sekolahnya itu. Pertanyaan simpati dan khawatir dari kedua orangtuanya – yang heran karena seorang Naruto melewatkan makan malam – pun hanya ditanggapinya dengan pernyataan bahwa ia tidak lapar. Untunglah pasangan suami-istri muda itu langsung mengerti dan membiarkan anak semata wayang mereka itu berkutat dengan tugasnya.
GRUUUKRUYUUUUUK...
Yah, walaupun mulut bisa berbohong, tapi sepertinya perut tidak bisa.
Naruto mendesah panjang, duduk terbalik di kursinya dan menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi dengan lemas. Dari sela-sela matanya yang sayu karena lelah, ia menatap nanar handphone-nya yang tergeletak di atas meja belajar. Tak ada satupun pesan atau panggilan yang masuk.
'Hinata... Kenapa tidak menghubungiku, ya? Biasanya dia telepon dan menawarkan bantuan kalau aku mendapat tugas berat seperti ini...' pikirnya, masih menatap benda flip berwarna hitam itu. Terbersit sedikit rasa kecewa di dalam hatinya begitu sahabat yang biasa perhatian padanya itu kini tak menghubunginya sama sekali. Namun tak ingin berburuk sangka pada gadis itu, Naruto buru-buru memikirkan alasan yang agaknya bisa (sedikit) menenangkannya.
"Ah, hari ini 'kan sangat melelahkan... Pasti Hinata langsung tidur begitu sampai di rumahnya. Iya, pasti dia lelah!" ucapnya dengan semangat yang dipaksakan, kembali menegakkan badannya di kursi. Ia pun mengabaikan rasa laparnya, kembali menemfokuskan diri pada pekerjaannya, membuat laporan pertanggungjawaban untuk kepala sekolah.
"Huum... Kalau aku cepat, aku pasti bisa menyelesaikannya dengan sedikit begadang," ujar Naruto berusaha menyemangati dirinya sendiri. Sekonyong-konyong udara dingin membuat hidungnya terasa gatal, matanya mulai menyipit dengan aneh, ia menatap langit-langit kamar dan bersiap untuk–
"Ha... Haatsyiiiiiih!"
.
.
.
Hinata mengunyah makanannya tanpa ada semangat. Walaupun menu makan malamnya hari itu adalah kesukaannya – sup miso – nafsu makannya entah menghilang ke mana. Padahal biasanya, jika Hinata tahu menu makan malamnya adalah sup miso, ia akan melonjak kegirangan dan minta tambah dengan semangat. Tapi malam ini, ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya, membuat makanan kesukaannya itu bahkan seperti kehilangan cita rasa begitu memasuki mulutnya.
'Kenapa Naruto-kun memberikan pitanya padaku... Padahal jelas-jelas aku mendengar pengakuannya itu pada Sakura-chan...' kata-kata itulah yang terus terulang-ulang di otaknya, membuat kepalanya terasa berat dan hanya bisa menunduk menatap mangkuk nasinya dengan pandangan kosong.
'Sudah kuduga, Naruto-kun berbuat begitu padaku karena rasa keadilannya saja. Ia tak ingin berat sebelah hanya dengan memberikan pitanya pada Sakura-chan...' batinnya perih, '...Aku harus mengembalikan pita ini padanya.'
Anggota keluarga Hyuuga lain yang juga sedang menyantap makan malam itu hanya menatap heran sikap Hinata yang tidak biasa. Hyuuga Hiashi – sang ayah – menoleh ke arah Neji dengan mengangkat sebelah alisnya. Mengerti maksud pamannya itu, Neji hanya mengangkat bahunya, sebagai ganti menjawab 'aku-tak-tahu-apa-yang-terjadi-pada-putri-sulungmu-itu'. Hiashi membuang napasnya. Akhirnya, si bungsu Hanabi-lah yang bertanya langsung.
"Kak Hinata, ada apa? Kok dari tadi melamun saja? Supnya enak, lho! Kakak nggak enak badan?" cerocos gadis kecil yang lima tahun lebih muda dari kakaknya itu. Hinata tersentak dari lamunannya, lalu menatap adik satu-satunya tersebut. Ia lantas tersenyum dan menggeleng perlahan.
"Tidak, aku baik-baik saja, kok. Baiklah, aku sudah selesai... Terima kasih untuk makanannya. Aku kembali ke kamar, ya," Hinata meletakkan sumpitnya di atas mengkuk nasinya, lalu beranjak dari meja makan menuju kamarnya. Trio Hyuuga yang masih menikmati makan malam itu hanya menatap kepergian Hinata dengan heran. Namun mereka ternyata memikirkan hal yang sama terhadap putri pertama Hyuuga itu.
'Huh... Dasar remaja.'
Lho, bukannya kau juga remaja, Neji?
.
.
.
Keesokan harinya...
"HAATSYIIIIH!"
Siswa berseragam Konohagakuen yang dilapisi dengan jaket berwarna hitam-oranye itu berjalan terhuyung-huyung. Ia mengusap-usap hidungnya yang terasa basah dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya mengusap pelan rambut pirangnya, seakan itu dapat mengusir rasa pening di kepalanya walau sedikit.
"Gawat... Aku flu... Sniff," pemuda itu mengeluh pelan sambil melanjutkan perjalanannya ke sekolah di pagi hari di musim dingin itu.
Kalau saja hari ini ia tak harus menyerahkan laporan yang diminta kepala sekolah, pasti saat ini ia sedang tertidur di balik selimut tebal di kamarnya, mungkin baru sejam lagi ia akan bangun dan menikmati bubur buatan ibundanya. Apalagi, hari ini 'kan tidak ada pelajaran di sekolah. Namun karena ia masih merasa bertanggung jawab sebagai seorang wakil ketua OSIS, ia memaksakan tetap berangkat sekolah untuk menyerahkan laporan yang baru diselesaikannya pukul 2.00 malam itu. Dalam hati ia merutuki laporan yang memaksanya untuk begadang di musim dingin – apalagi setelah acara St. White yang melelahkan – sehingga membuahkan invasi virus flu sebagai hadiah atas kerja kerasnya. Well, atau mungkin lebih tepatnya ia merutuki orang yang telah memaksanya untuk melakukan semua ini.
"HA-HAATSYIIIH!"
Oh, sepertinya virus-virus flu itu tidak mengizinkanmu lama-lama merutuk, Naruto.
.
.
.
Hinata berdiri di depan lokernya, melepas sepatunya dan hendak menggantinya dengan uwabaki – sepatu untuk di dalam sekolah. Ia baru saja akan membuka pintu lokernya ketika suara seseorang yang sudah ia kenal sangat baik menyapanya dari belakang.
"Selamat pagi, Hinata," sapa gadis berambut merah muda itu. Mata sewarna emeraldnya menyipit kala ia tersenyum manis.
"Ah... Pagi, Sakura-chan," balas Hinata, tak seceria biasanya. Jujur, hatinya langsung dilanda rasa cemburu dan gelisah begitu melihat Sakura. Ia tahu, Sakura tak salah apapun. Tapi tak dapat dipungkiri, begitu melihat Sakura, ingatannya tentang kejadian kemarin sore langsung terlintas dengan sendirinya, membuat perasaan tak enak berkecamuk dalam hatinya. 'Aneh, padahal seharusnya aku 'kan ikut bahagia untuk mereka,' pikirnya dalam hati.
Sakura melepas senyumnya. "Kau kenapa, Hinata? Kok lesu begitu?" tanyanya, sedikit memiringkan wajahnya agar dapat melihat wajah Hinata lebih jelas. Hinata tersentak.
"Eh, tidak. Tak ada apa-apa, kok," Hinata buru-buru memasang kembali wajah cerianya, tapi Sakura masih bisa melihat pancaran gelisah di matanya. Ia berpikir sejenak, lalu tersadar akan sesuatu.
"Oh, aku tahu! Gara-gara kemarin, ya? Kudengar Kiba memberikan pita padamu. Apa kau bingung gara-gara hal itu?" tanya Sakura penasaran. Hinata membulatkan matanya. Sakura ternyata tidak tahu tentang Naruto yang memberikan pita padanya, buktinya ia langsung membahas Kiba, bukan Naruto.
Hinata tersenyum. Setidaknya dengan Sakura tidak mengetahui hal itu, Sakura tak akan menganggapnya sebagai pengganggu hubungan antara dirinya dengan Naruto.
"Tidak, kok. Kemarin Kiba-kun memang memberikannya padaku, tapi aku sudah bilang aku tak bisa menerimanya. Kiba-kun juga sudah mengerti, kok," jawab Hinata akhirnya. Sakura yang mendengarnya ber-oh ria, kemudian ia tampak berpikir. Raut wajahnya berubah lesu. Kali ini Hinatalah yang bertanya padanya.
"Kamu sendiri bagaimana, Sakura-chan? Kamu dikasih pita oleh Naruto-kun, 'kan?" tanya Hinata, menelan sakit hatinya sendiri ketika melontarkan pertanyaan itu. Tapi, sebagai sahabat kita harus perhatian, 'kan?
Sakura mengangkat wajahnya. "Ooh, itu ya? Kalau itu sih... Aku ragu, mungkin itu tidak berarti apa-apa, ya?" jawab Sakura, memasang senyum yang terkesan dipaksakan. Hinata mengernyitkan dahinya.
"Tidak berarti apa-apa? Maksudmu?" pancing Hinata. Sakura melihat ke arah lain, menggaruk pipinya yang sebenarnya tidak gatal.
"Yah, soalnya... Naruto tidak memasangkan pita itu di leherku. Dia hanya memberikannya begitu saja, bukankah itu berbeda dengan tradisi St. White?" terang Sakura.
Jantung Hinata seketika berdetak cepat mendengar penuturan Sakura. Ia mengingat Naruto memasangkan pita itu di lehernya. Ia melakukan itu pada dirinya, tapi tidak pada Sakura?
"Yah, tapi itu tak masalah, sih. Soal tradisi itu tidak penting, yang penting 'kan perasaan yang sesungguhnya. Iya 'kan, Hinata?"
Ucapan ceria Sakura itu serasa menusuk jantung Hinata. Benar juga, hampir saja ia melupakan hal sudah ia saksikan sendiri. Naruto memeluk Sakura. Sakura mengatakan ia menyukai Naruto. Naruto juga mengatakan ia menyukai Sakura. Semuanya sudah jelas.
Hinata tersenyum miris. 'Benar juga, ya... Perasaan yang sesungguhnya, ya...' batinnya perih, '...Aku benar-benar harus mengembalikan pita ini padanya. Aku tak berhak menerima kebaikannya seperti ini sementara ia sudah menyambut perasaan Sakura-chan...'
Kedua gadis itu hanya terdiam sambil mengganti sepatu mereka, sampai suara agak serak yang mereka kenal menyapa mereka, disertai suara langkah yang terseok-seok.
"Pagi... Hinata, Sakura-chan..." sapa pemuda pirang itu, tetap berusaha tersenyum lebar yang menjadi ciri khasnya meski matanya sayu. Hinata terdiam dengan wajah memerah yang menunduk, sementara Sakura menatap Naruto heran.
"Pagi, Naruto... Apa kau baik-baik saja? Mukamu agak pucat, lho," tanya Sakura, menatap Naruto khawatir.
"Aku baik-baik saja, Sakura-chan! Cuma agak flu, kok," Naruto nyengir seperti biasa, walaupun tidak sesemangat biasanya. Ia terdiam sejenak, lalu teringat sesuatu. "Ng... Oh ya Sakura-chan, maaf ya kemarin aku tidak mengantarmu pulang. Yah, kau tahu aku 'kan harus cepat pulang dan segera membuat laporan itu..." tuturnya sambil mengusap belakang kepalanya.
"Ah, iya... Tidak apa-apa, kok. Aku mengerti kamu sibuk... Makanya, jangan memaksakan diri dong, Naruto! Sampai sakit begini," ujar Sakura, menepuk pelan lengan Naruto. Sementara Naruto hanya nyengir kuda.
Hinata hanya melihat percakapan mereka dalam diam. Hatinya kembali miris dan terasa sakit, lagi-lagi ia harus menyaksikan keakraban antara mereka berdua tanpa bisa ikut bergabung di dalamnya. Entahlah, setelah kejadian kemarin, Hinata menjadi merasa ia tak bisa bebas bergabung bersama mereka.
Hinata masih tenggelam dalam pikirannya sendiri sampai suara Kiba terdengar.
"Yo, pagi semua! Apa kalian sudah siap? Hari ini kita beres-beres besar, lho! Ayo ke kelas!" ajak Kiba pada tiga sahabat itu, yang langsung ditanggapi dengan anggukan semangat Sakura. Kiba dan Sakura kemudian berjalan ke kelas, diikuti dengan Naruto. Baru saja Naruto akan mengambil langkah ketiga, suara lembut Hinata segera menghentikan gerakannya.
"Naruto-kun," panggil Hinata lembut, membuat Naruto menoleh ke belakang. Naruto dapat melihat kedua mata lavender Hinata menatap lurus ke arahnya. "Nanti aku mau bicara..." sambung Hinata dengan wajah serius. Mata Naruto membulat, seketika ia menjadi gugup. Ia hanya bisa mengangguk pelan, sebelum kembali berbalik dan berjalan ke kelasnya – kelas mereka.
.
.
.
"Terima kasih, permisi," ucap Naruto sambil membungkuk sopan, lalu menutup pintu dengan papan bertuliskan 'Ruang Kepala Sekolah' itu. Tepat setelah pintu tertutup rapat, Naruto menghela napas lega. Laporan sudah diserahkan pada Tsunade-sensei, kepala sekolah iseng tapi cantik itu. Untuk sekarang tugasnya sebagai wakil ketua OSIS sudah selesai, begitu pikirnya.
Kendatipun tugasnya sudah beres, Naruto belum bisa merasa tenang. Perkataan Hinata yang mengatakan ingin bicara padanya tadi pagi membuatnya gelisah dan bertanya-tanya dalam hati. Dilihat dari raut wajah Hinata sewaktu mengatakannya, tampaknya apapun yang akan dikatakan Hinata bukanlah merupakan kabar bagus. Selama beres-beres di kelas tadi pun, Naruto sesekali melirik gadis itu, namun yang didapatkannya hanya sosok siswi yang tengah menyapu dengan wajah serius, walaupun pandangannya tidak fokus pada objek yang disapu. Naruto menyadarinya. Hinata memikirkan sesuatu. Apa yang ingin dikatakannya? Naruto sama sekali tak mengerti. Selama berada di ruang kepala sekolah pun, Naruto hanya terdiam tanpa menyimak apa yang dikatakan Tsunade-sensei.
Setelah agak lama terdiam di depan ruang kerja pemimpin sekolah itu, Naruto berlalu menuju atap sekolah dengan terhuyung-huyung. Langkahnya tak bisa membentuk garis lurus. Tampaknya terlalu banyak pikiran telah membuat demamnya meninggi. Ia menaiki tangga satu per satu dengan perlahan menuju tempat di mana Hinata menunggunya tersebut. Ya, sebelum Naruto pergi menemui kepala sekolah, Hinata mengatakan bahwa ia akan menunggunya di atap. Semakin dekat dengan pintu yang membatasi tangga dan atap, semakin keras pula debaran jantung Naruto. Digenggamnya kenop pintu dengan tangan gemetar, memejamkan mata sejenak, menghembuskan napas panjang, lalu memutar kenop pintu itu. Di sana, ia melihat punggung Hinata yang tengah menatap langit.
Mendengar suara pintu terbuka, Hinata membalikkan tubuhnya. Naruto semakin gugup, menelan ludahnya sendiri yang entah kenapa terasa pahit. Perlahan, ia berjalan mendekat.
"Ehm... Hinata, maaf menunggu. Kau mau bicara apa..?" mulainya gugup. Keringat dingin mulai menetes dari pelipisnya. Hinata menggigit bibir bawahnya, lalu mengulurkan tangannya yang menggenggam sehelai pita putih.
"Ini..."
Naruto mengangkat sebelah alisnya, tidak mengerti. "Eh?"
"Maaf, tapi... Aku harus mengembalikan pita ini padamu," jelas Hinata, menjawab ketidakmengertian Naruto. Tapi bukannya mengerti, Naruto malah semakin mengernyitkan dahinya.
"Apa maksudmu?"
"Aku sungguh minta maaf, Naruto-kun... Aku tidak bisa menyimpannya," Hinata menundukkan kepalanya. Ia lalu berjalan melewati Naruto yang mematung. Naruto menggigit bibir bawahnya.
"Tu-tunggu, Hinata!" Naruto berbalik, Hinata pun berhenti sejenak.
"Naruto-kun..." Hinata menoleh perlahan, "Setelah ini, berikanlah itu pada Sakura-chan dengan cara yang benar, ya! 'Kan kasihan, kalau perasaan sudah disampaikan tapi malah melakukan tradisi St. White dengan orang lain. Mentang-mentang aku juga sahabatmu, jangan lantas aku juga diberi, dong! Terlalu adil juga bisa menyakiti orang, Naruto-kun! Hehehe..." Hinata tertawa, walaupun dalam hatinya sangat perih. Merasa air matanya sudah hampir tumpah, Hinata segera berbalik dan berlari menjauh.
Naruto yang masih mematung, menyadari bulir air mata yang ikut terhempas seraya Hinata berbalik. Naruto pun menguatkan dirinya, berusaha berlari mengejar Hinata. Namun apa daya, baru beberapa langkah saja ia ambil, kepalanya serasa melayang, pandangannya pun mengabur, sedikit demi sedikit, hingga akhirnya menjadi gelap. Ia jatuh pingsan.
Suara benda jatuh membuat Hinata segera melihat ke belakang, dan ia melihat tubuh Naruto yang sudah tergeletak di lantai. Sontak Hinata terbelalak, ia segera mendekati tubuh Naruto. Disentuhnya dahi Naruto yang tertutup poni pirangnya. Panas. Diguncang-guncangkannya bahu pemuda itu, namun tak ada hasilnya.
"Na-Naruto-kun! Naruto-kun, kamu kenapa? Sadarlah!"
.
.
.
Ruang UKS...
Hinata membuka pintu perlahan, memasuki ruangan serba putih tersebut. Di sana, ia melihat Naruto yang masih tak sadarkan diri tengah berbaring di ranjang. Hinata menghela napasnya.
Untung saja saat Naruto pingsan di atap tadi, Hinata yang panik menemukan Sasuke sedang berjalan menaiki tangga, dan langsung meminta pemuda stoic itu untuk membawa Naruto ke UKS. Setelah Naruto dipindahkan ke UKS, Sasuke bercerita bahwa sebenarnya ia sedang mencari Hinata dan Naruto untuk menghadiri rapat OSIS. Maka dengan berat hati, setelah memastikan bahwa Naruto benar-benar nyaman dan kompresnya terpasang dengan baik, Hinata meninggalkan UKS menuju ruang OSIS.
Selama berada dalam rapat OSIS pun, Hinata sama sekali tidak bisa tenang. Pikirannya terus tertuju pada Naruto. Ia merasa bersalah, karena secara tidak langsung dialah yang membuat Naruto menjadi seperti ini. Naruto menghajar ketua OSIS hingga pingsan untuk menyelamatkan dirinya. Naruto jadi harus mengerjakan laporan pertanggungjawaban karena ketua OSIS tak kunjung sadarkan diri. Naruto begadang mengerjakan laporan itu seorang diri sampai jatuh sakit karena Hinata tak membantunya. Dan akhirnya, kondisi Naruto memburuk karena dirinya terus menerus memberikan beban pikiran pada Naruto. Hinata merasa benar-benar tak berguna setelah ia sadar apa yang telah ia lakukan.
Selama satu jam rapat itu, raga Hinata berada di sana namun jiwanya entah berada di mana. Ia sama sekali tak menyimak topik yang dibahas saat itu. Ia pun tak menghiraukan tatapan khawatir dari Kiba, tatapan kecewa dari Sasori, dan tatapan heran dari anggota OSIS lainnya. Yang ia pedulikan adalah kapan rapat ini akan berakhir, sehingga ia dapat langsung kembali ke UKS dan menjaga Naruto di sana.
Maka di sinilah dirinya sekarang, duduk di kursi di samping ranjang tempat Naruto terbaring tak sadarkan diri. Gadis itu mengambil kompres di dahi Naruto, meletakkan tangan kanannya di sana sebagai penggantinya.
'Syukurlah, panasnya sudah turun,' Hinata menghela napas lega. Tak ayal senyum di wajahnya terkembang sesaat. Ya, hanya sesaat, karena kegalauan di hatinya kembali muncul tatkala ia menatap wajah yang terlelap itu.
"Naruto-kun..." panggil gadis itu pelan, menyentuh helaian rambut halus Naruto sekilas sebelum meetakkan kedua tangannya di pangkuannya.
"Maafkan aku..." Hinata menggigit bibir bawahnya. "...Kau tahu, sesungguhnya aku sangat bahagia kau memberikan pita itu padaku," ia mulai berkata jujur walaupun ia tahu Naruto tak akan bisa mendengarnya. Ia tak peduli walau ia tengah berbicara dengan orang yang tak sadarkan diri. Yang ia tahu adalah ia ingin mengutarakan perasaannya saat ini juga. Gejolak di hatinya terasa begitu menyesakkan, dan Hinata ingin segera mengeluarkan semuanya.
"Tapi, aku sadar aku hanya orang ketiga di antara kau dan Sakura-chan... Aku tanpa sengaja mendengar kalian saling mengatakan 'suka' di taman sekolah kemarin. Maafkan aku," lanjutnya. Hinata menunduk dalam, menggenggam ujung rok seragamnya erat-erat. Poni ratanya menutupi wajahnya yang tertunduk. Ia tenggelam dalam pikirannya sendiri saat ini, sehingga ia tak melihat tangan kanan Naruto yang berada di samping tubuhnya yang terbaring mulai bergerak perlahan. Ia juga tak menyadari Naruto mulai usik dan mengerjap-ngerjapkan kedua matanya, kembali memperlihatkan mata sewarna biru langitnya itu kepada dunia.
"Kalau bisa, aku pun ingin terus menyimpan pita putih itu sebagai barang berhargaku... Karena..." ujar Hinata pelan, genggamannya pada ujung roknya semakin erat sampai buku-buku tangannya memutih.
"...Aku... Menyukaimu, Naruto-kun..."
Seketika wajah Hinata memerah setelah sadar apa yang baru saja dikatakannya. Dengan cepat ia berbalik ke samping, kedua belah tangannya menutupi wajahnya yang serasa terbakar.
"A, aduh... Apa yang kukatakan, sih! Padahal dia masih pingsan," gumam Hinata pada dirinya sendiri, berusaha menetralkan detak jantungnya yang berpacu di atas normal.
"Hinata..."
Hinata membeku. Suara itu...
.
.
.
TBC
.
A/N: Wah, gak kerasa ni fic udah mau tamat.. Chapter depan bakal jadi chapter terakhir, doakan Fi biar bisa selesai tepat waktu ya.. Soalnya liburan 'kan udah habis, mulai Senin back to routines deh! Hhe.
Fi nggak bosan-bosannya berterima kasih buat para reviewers dan readers, kalianlah sumber semangat Fi! ^^
Akhir kata.. Review without flame please.. ^^
Sign,
Fi ^^
