Aloohaaa! Fi datang lagi nih membawa chapter 5! ^^ *ngacung-ngacungin chapter 5*

Seperti yang Fi bilang sebelumnya, chapter ini adalah chapter terakhir dari 'St. White's Day Romance'.. Chapter ini juga merupakan yang paling panjang dari yang sebelum-sebelumnya..

Oh iya, Fi minta maaf karena ada typo di chapter lalu, benar-benar kelewat dari penglihatan Fi tuh.. Maaf ya, semoga chapter ini lebih baik.. *bungkuk-bungkuk sampe kejeduk tanah*

Makasih banyak yang udah review di chapter 4, ini balesannya buat yang gak login:

Naruhina Lover: Ehehe makasih udah bilang bagus.. Maaf gak bisa apdet langsung sehari, tapi ini udah apdet kok.. Semoga menghibur.. Makasih udah RnR! RnR lagi? ^^

Kanhakura Haito: Hai juga Haito-san! Makasih dah datang lagi..^^ Syukur deh kalau feel-nya kerasa.. Hhe. Waduh jangan nangis dong, Fi jd sedih juga nih :,( *plaaak!* Iya maaf juga kalau ada kata2 Fi yg gak berkenan ya.. Ini udah apdet, semoga endingnya gak mengecewakan ya.. Makasih udah setia RnR! RnR lagi? ^^

Kurirana: Wah makasih pujiannya.. Siap lanjutkan! *hormat ala pemimpin upacara* Iya, 'kan Naruto lagi sakit ditambah stress.. Hhe. Iya, tamat di chapter ini. Makasih udah mau nunggu & ngasih semangat ya.. Moga2 endingnya gak mengecewakan.. Makasih udah RnR! RnR lagi? ^^

DraCool14: Wah makasih pujiannya.. Syukurlah kalau gak ngebosenin. Ini dia lanjutannya, langsung tamat lho! Semoga bisa ngobatin penasarannya, ya.. Makasih udah RnR! RnR lagi? ^^

Ice Cream Blueberry: Selamat datang kembali, Blueberry-chan ^^. Iya Fi juga sebenernya kasian ma Naruto, tp Fi gak ngerti bikin laporan jadi gak bisa bantuin deh X( *dzigh!* Yuph, soalnya pas bgt Naruto baru siuman. Ini udah apdet, moga2 gak mengecewakan ya.. Makasih udah setia RnR & ngasih semangat! RnR lagi? ^^

Zoroutecchi: Iya, Naru denger. Timingnya pas bgt Naru sadar, sih. Ini udah apdet, moga2 gak mengecewakan ya.. Makasih udah setia RnR! RnR lagi? ^^

Dy: Ehm, oh iya ya, Hhahaha. Iyaa, di chapter ini semuanya dijelasin.. Ini dia last apdetnya, moga2 gak mengecewakan ya.. Makasih udah setia RnR & repot2 ngebelain Fi! ^^ *cupcupmuach* RnR lagi? ^^

Ardymmmm: Wah makasih ya udah bilang bagus.. Hhe. Maaf apdetnya gak bisa cepet X| Tapi ini udah apdet kok, moga2 gak mengecewakan ya.. Makasih udah RnR! RnR lagi? ^^

Yang review login, cek inbox ya. ^^

Okay, tanpa menunggu lagi, inilah chapter terakhir.. Selamat membaca, semoga menghibur! ^^

Pesan Fi masih sama: Don't like, don't read, don't flame!

.

~St. White's Day Romance~

A Naruto Fanfic

Ide dan beberapa adegan terinspirasi dari DNAngel

Rated: T

Genre: Romance, Friendship

Pairing: Naruhina

Slight Narusaku, Sasohina, & Sasusaku

Warning: AU, OOC, Hinata di sini tidak terlalu pemalu, Cliche, Typo(s), dwwl (dan warning-warning lainnya)

Disclaimer: Naruto belongs to Kishimoto Masashi-sensei

DNAngel belongs to Sugisaki Yukiru-sensei

.

Happy Reading! ^^

.

.

Chapter 5

"Hinata..."

Hinata terpaku. Tanpa sadar ia telah menyatakan cintanya pada Naruto yang masih tak sadarkan diri. Namun... Sepertinya perkiraannya meleset. Ia tak menyadari bahwa Naruto sudah sadar perlahan-lahan. Ia terkejut mendengar suara Naruto yang memanggilnya tepat setelah pernyataan cintanya itu.

Perlahan, Hinata menyingkirkan tangannya dari wajahnya, berbalik menghadap ranjang. Di situ, Naruto setengah duduk di ranjangnya, memasang wajah terkejut yang bersemu merah.

"Barusan..." ucap Naruto tak percaya.

Mata Hinata membulat sempurna. Rona merah yang tadi hanya hinggap di wajahnya kini menyebar hingga ke telinga dan lehernya.

"A-a-apa... Na-Naruto-kun, sudah-sudah sa-sadar..." gagap Hinata, tak dapat mengucapkan kalimatnya dengan benar. Tanpa pikir panjang, gadis itu segera beranjak dari kursinya dan melesat keluar UKS. Ia terus berlari di sepanjang koridor sekolah, mengabaikan jantungnya yang serasa ingin melompat keluar dan juga suara Naruto yang terus memanggil namanya.

"Hinata! Kubilang tunggu!" teriak Naruto ketika akhirnya berhasil menggapai pergelangan tangan Hinata, menahannya agar tidak kabur lagi.

Hening sesaat. Mereka hanya sibuk mengatur napas mereka yang memburu.

"Ma-maafkan aku..." ucap Hinata akhirnya, suaranya masih gemetar. Naruto menautkan kedua alisnya.

"Lu, lupakan saja apa yang kukatakan tadi! Anggap saja aku tak pernah mengucapkan suka padamu. Aku... Tak ingin menjadi orang ketiga di antara Naruto-kun dan Sakura-chan. Aku sudah mendengar pengakuan kalian, jadi tak usah pikirkan aku," lanjut Hinata tanpa membalikkan tubuhnya ke arah Naruto. Naruto mengernyitkan keningnya, lalu menggapai bahu Hinata, membalikkan tubuhnya dengan paksa.

"Apa maksudmu, Hinata? Pengakuan apa? Yang kemarin?" tanya Naruto tanpa melepas pegangannya di bahu Hinata.

Hinata menggigit bibir bawahnya. "A-aku sudah mengembalikan pita itu padamu, 'kan? Sudahlah, jangan pikirkan kata-kataku tadi. Kau bisa berbahagia dengan Sakura-chan," sahut Hinata tanpa menjawab pertanyaan Naruto. Ia menunduk, tak berani menatap kedua mata biru itu.

Naruto mengangkat alisnya, heran. "Hah? Apa sih yang kau bicarakan? Dengar Hinata, aku ini–" kata-kata Naruto terhenti dengan suara menyeramkan dari belakang mereka.

"U-ZU-MA-KI~~" panggil suara bernada rendah namun keras itu. Low frequency, high amplitudo.

Naruto dan Hinata terkesiap. Dengan gerakan patah-patah, mereka menoleh ke arah sumber suara. Di sana, tampak sang ketua OSIS, berdiri dengan tangan terkepal di sisi tubuhnya. Kedua matanya berkilat dengan horror, empat siku-siku muncul di pelipisnya. Aura gelap menguar beterbangan di sekitarnya.

Hinata dan Naruto menelan ludah.

"Aku sibuk mengurus hasil rapat OSIS, dan kau – di sini – bermesraan dengan Hyuuga..?" kata Sasori dengan nada mengintimidasi. Rupanya sedari tadi ia sudah menyaksikan adegan kejar-kejaran yang dramatis ala telenovela antara Naruto dan Hinata, dan adegan itu membuat dirinya yang baru ditolak Hinata kemarin naik darah.

"A, ah! Jangan salah paham, Sasori! Ini tidak seperti yang kau pikirkan!" bantah Naruto.

"Tak seperti yang kupikirkan katamu..? Lalu itu apa?" Sasori menunjuk tangan Naruto, membuat baik Naruto maupun Hinata turut mengikuti arah tunjukan Sasori hingga mereka menemukan kedua tangan Naruto yang belum melepaskan Hinata. Tangan kanan Naruto masih menahan tangan Hinata, sedangkan tangan kirinya masih setia bertengger di bahu Hinata. Sontak, Naruto pun menjauhkan dirinya dari gadis itu. Wajah mereka sudah memerah karena salah tingkah.

Sasori yang geram melihat pemandangan di hadapannya, segera mendekati dua juniornya itu dan menarik Naruto menjauh dengan kasar.

"Cepat ikut aku! Kau punya banyak tugas mengurus hasil rapat yang tidak kau ikuti tadi! Kau tak akan boleh pergi sampai urusan ini selesai, Uzumaki!" perintah Sasori kesal, menarik bagian belakang kerah baju Naruto seperti mengangkat seekor anak kucing yang buang air sembarangan.

Naruto hanya bisa mengeluarkan kata-kata protes, yang sama sekali tak digubris oleh ketua OSIS-nya itu. Akhirnya, ia hanya tertunduk pasrah membiarkan dirinya diseret ke ruang OSIS.

Hinata yang sedari tadi tak ikut berdebat, memandang kepergian Naruto dengan prihatin. Ia sebenarnya ingin menggantikan tugas Naruto agar pemuda itu bisa kembali beristirahat, namun keinginannya itu ia urungkan begitu ia membayangkan bagaimana Sasori akan mengamuk melihat ia perhatian pada Naruto. Akhirnya, ia hanya dapat menatap kepergian Naruto dalam diam.

Hinata menunduk kemudian menghela napasnya. Namun, belum semenit ia melamun...

"Hinata..."

Hinata terkejut mendengar suara yang dikenalnya itu. Ia menoleh ke arah sumber suara, dan sekujur tubuhnya serasa membeku melihat siapa yang memanggilnya. Di sana, di belokan koridor tak jauh dari posisinya saat ini, berdiri sahabatnya yang satu lagi, memandangnya dengan tatapan sedih.

"Sa-Sakura... chan..." gumam Hinata yang nyaris terdengar seperti sebuah bisikan. Hinata makin tegang tatkala Sakura perlahan berjalan menghampirinya.

"Aku... Sudah mendengar semuanya. Maaf, aku cuma kebetulan lewat," sahut Sakura tanpa mengubah ekspresinya.

Hinata serasa mendengar petir di siang bolong. Sakura mendengar semuanya? Apa yang harus ia lakukan?

"Ma... Maafkan aku!" hanya kata-kata itu yang langsung dilontarkan oleh Hinata, seraya membungkukkan tubuhnya dalam-dalam. Kedua matanya ia pejamkan rapat-rapat. Ia tak kuasa menatap wajah sahabatnya ini, setelah semua yang disembunyikannya terbongkar justru oleh orang yang paling tak diinginkannya mengetahui semua ini. Ia tak siap melihat Sakura yang marah, atau bahkan menangis sebagai reaksinya.

Namun di luar dugaan Hinata, yang didengarnya adalah suara Sakura yang terkikik pelan.

"Kenapa minta maaf, Hinata? Kau tidak salah apapun," ujar Sakura, lalu kembali tertawa kecil. Hinata mengangkat kepalanya perlahan, menatap sahabatnya itu heran.

"Apa maksudmu, Sakura-chan? Kau... sudah mendengar semuanya, makanya aku minta maaf! Aku tak mau menjadi pegacau bagi kau dan Naruto-kun, jadi lupakan saja kata-kataku," ujar Hinata, memejamkan kedua matanya kuat-kuat.

Sakura menghentikan tawanya. "Hinata, dari tadi aku tak mengerti... Apa maksudmu menjadi pengganggu dan orang ketiga antara aku dan Naruto?"

Hinata menggigit bibir bawahnya, gugup. "Seperti yang Sakura-chan sudah dengar... Kemarin aku tak sengaja mendengar pengakuan kalian. Maaf," ujar Hinata pelan, bola matanya bergerak menghindari tatapan Sakura.

Sakura tersentak sesaat, lalu tersenyum seperti baru saja menyadari sesuatu. "Hinata, Hinata... Jadi yang kau maksud adalah pembicaraanku dengan Naruto di taman belakang kemarin?" tanya Sakura, yang direspon dengan sebuah anggukan gugup Hinata.

Sakura kembali tertawa pelan. "Aku yakin, setelah mendengar pengakuan itu kau pasti langsung pergi karena shock, bukan begitu?"

Hinata tak menjawab, ia hanya menatap bingung pada sahabatnya itu. Seolah dapat membaca pikiran Hinata, Sakura berujar kembali, "Karena kalau kau tetap di sana mendengarkan sampai selesai, kau tak akan galau seperti ini, Hinata."

.

-Flashback-

.

.

"Apa yang mau kau bicarakan, Sakura-chan?"

Sakura tak langsung menjawab. Ia masih memandang langit sore dengan mata sayunya, menikmati hembusan angin dingin yang membelai lembut rambut panjangnya. Sesaat kemudian, ia menghela napas panjang. Ia merogoh saku di seragam terusannya, mengeluarkan sehelai pita putih yang tak asing bagi pemuda yang menunggu jawaban darinya itu.

Sakura menatap lekat pita putih di tangannya itu, lalu pandangannya beralih pada Naruto yang berdiri di sebelahnya.

"Pita ini..." ucapnya menggantung, menghasilkan raut bingung di wajah imut Naruto. "...kurasa aku tak pantas menerimanya."

Naruto membelalakkan matanya, heran sekaligus kaget. "Ke, kenapa? Bukankah kau..." Naruto tak dapat meneruskan pertanyaannya. Namun, rupanya Sakura sudah mengerti.

"Ya... Jujur, aku memang mengharapkan kau memberikan pita ini padaku. Tapi..." Sakura melempar senyuman perih pada Naruto, "...Aku tak pernah mengharapkan kau memberikannya dengan terpaksa, Naruto."

Perlahan tapi pasti, mata Naruto membulat sempurna. Terpaksa? Bagaimana dia bisa tahu?

"Aku menyadarinya dengan melihat sikapmu saat memberikannya pagi tadi. Awalnya aku memang senang, tapi tak lama aku sadar. Selain kau tidak mengalungkannya di leherku, kau juga... Terlihat seperti menyembunyikan sesuatu. Dari situlah aku tahu, kau tak sungguh-sungguh berniat memberikannya untukku," terang Sakura, menatap nanar pita putih di genggamannya.

Naruto merasa hatinya sedang diremas-remas. Ia merasa bersalah karena ternyata Sakura menyadari sikapnya. Ia menundukkan kepalanya malu.

"Maafkan aku... Sakura-chan..."

Sakura tersenyum. "Kalau boleh kutebak... Hinata, ya..?"

"Eh...?"

"Kalau kau terpaksa, berarti ada orang yang menyuruhmu, 'kan... Hinata, ya?" tanya Sakura lagi, berusaha tersenyum lembut. Naruto masih memasang ekspresi terkejut, namun kemudian ia mengangguk.

"Hinata ingin kau senang. Aku pun begitu... Tapi ternyata aku tak bisa menyembunyikan perasaanku. Maaf, Sakura-chan..." ujar Naruto dengan perasaan bersalah.

Sakura yang mendengar permintaan maaf Naruto, merasa dirinya sudah ditolak saat itu juga. Hatinya nyeri, tapi ia merasa inilah saatnya dirinya mengungkapkan semua yang dirasakannya pada Naruto. Agar Naruto juga terlepas dari dilema yang menderanya...

"Tahukah kau, Naruto..?" mulai Sakura. Naruto mengangkat wajahnya, menatap gadis yang pernah disukainya itu.

"...Awalnya, waktu kau mendekatiku saat SMP dulu, aku merasa sangat terganggu," Sakura terkekeh kecil, mengakibatkan Naruto mendengus sebal. "Tapi..." air muka Sakura berubah seketika, menjadi begitu lembut dan menerawang.

"Ketika kita mulai bersahabat bertiga bersama Hinata, aku menemukan pribadimu yang begitu periang dan menyenangkan... Aku pun tak lagi merasa terganggu oleh kehadiranmu. Malah sebaliknya, aku merasa senang berada di dekatmu."

Naruto hanya terdiam mendengar curahan hati Sakura, ia tahu ke mana cerita ini akan berlanjut.

Sakura menarik napas, lalu kembali melanjutkan, "Lama kita bersama, aku mulai menyadari... Bahwa aku menyimpan perasaan suka padamu, Naruto..." aku Sakura dengan wajah yang memerah.

Walaupun Naruto sudah menyadari perasaan Sakura sebelumnya, ia tetap saja terkejut dengan pernyataan itu. Namun belum sempat ia menanggapi, Sakura sudah kembali berbicara.

"Tapi, aku tahu. Walaupun dulu kau berusaha mendekatiku, kini perasaanmu sudah berubah." Sakura menatap nanar wajah Naruto, lalu tersenyum. "Kau... Menyukai Hinata, 'kan..?"

Kata-kata Sakura menancap tepat di jantung Naruto. BINGO! Saking terkejutnya, Naruto hanya bisa diam dengan wajah merona merah. Bagaimana Sakura bisa mengetahui semua ini? Batinnya dalam hati.

Sakura mengerti, dari reaksi Naruto bahwa semua dugaannya tak ada yang meleset. Tentu saja hatinya sakit, tapi ia sudah memutuskan akan mengakhiri ini semua.

"Naruto..."

"Y-ya?"

"Bolehkah aku... memelukmu? Sekali ini saja... Setelah ini, aku berjanji akan melupakan perasaanku padamu. Bolehkah..?" tanya Sakura lirih, memaksakan untuk tersenyum walau hatinya hancur. Meski begitu, setetes air mata tetap memaksa untuk meluncur dari sudut matanya.

Naruto terhenyak menatap Sakura. Gadis yang dulu sempat ia puja-puja dan kejar-kejar, yang kini telah menjadi sahabatnya itu. Perlahan, Naruto menarik sudut-sudut bibirnya, membentuk sebuah senyuman tulus.

"Tentu."

Tanpa menunggu lagi, Sakura langsung menghambur ke pelukan Naruto. Tangisnya langsung pecah begitu Naruto melingkarkan kedua tangannya di tubuh Sakura, memeluknya erat. Sakura menumpahkan semua emosinya saat itu juga, mencengkram erat kemeja yang melapisi punggung Naruto dengan tangan yang gemetar. Naruto pun mengerti, Sakura pasti patah hati. Saat ini ia hanya butuh dirinya. Ia pun sedikit merasa bersalah pada gadis itu, tapi ini adalah keputusan yang telah dipilihnya. Maka untuk saat ini, biarlah Sakura menumpahkan semua luapan perasaannya. Setidaknya, inilah yang dapat ia lakukan sebagai seorang sahabat.

"Aku menyukaimu... Naruto..." aku Sakura yang terisak dalam pelukan Naruto dengan suara bergetar.

Naruto terdiam sesaat. Dia hanya mengusap bahu Sakura, berusaha meredakan isakan gadis itu. Namun tak lama, ia menutup matanya, menundukkan kepalanya ke arah pundak Sakura, lalu membuka suaranya.

"...Ya, aku tahu. Aku juga menyukaimu... Sakura-chan..." Naruto kembali membuka matanya, "...Tapi itu dulu... Saat kita SMP, ketika aku pertama kali melihatmu. Setelah aku mengejar-ngejar dan mendekatimu, sampai akhirnya kita bersahabat... Aku menyadarinya, bahwa aku salah mengartikan perasaanku padamu. Kau... Adalah orang kukagumi, bukan kucintai. Walaupun begitu, aku tetap suka padamu."

Sakura sedikit melonggarkan pelukannya pada Naruto lalu mendongak, menatap Naruto yang tengah tersenyum lembut padanya.

"Sampai saat ini pun, aku masih menyukai Sakura-chan... Sebagai sahabat terbaikku," ucap Naruto tanpa melepas senyumnya.

Sakura yang melihat senyuman itu, merasakan hatinya menghangat. Rasa kecewa yang sebelumnya memenuhi hatinya karena perasaannya tak bersambut, seolah sirna saat itu juga. Sakura menyeka air matanya, dan membalas senyuman Naruto dengan senyuman terbaiknya.

"Setelah ini pun... Kita tetap akan bersahabat baik, 'kan?"

"Kau ini bicara apa, sih? Itu 'kan sudah pasti! Sakura-chan adalah sahabatku yang paling baik!" sahut Naruto seraya memperlihatkan cengiran khasnya. Sakura terkekeh. Suasana di antara mereka serasa cair saat itu juga, membuat keduanya merasa lega.

"Terima kasih... Naruto..."

.

.

-End of Flashback-

.

Hinata terpaku mendengar penuturan Sakura yang menceritakan kejadian yang sebenarnya terjadi antara Naruto dan Sakura. Telinganya seakan sulit mempercayai apa yang baru saja ia dengar. Naruto menolak Sakura? Jadi... Selama ini ia hanya salah paham? Terlebih lagi, ternyata Naruto menyukai dirinya?

Hinata masih terperangah dengan kenyataan yang baru saja diketahuinya, sementara Sakura hanya geleng-geleng melihat reaksi sahabatnya yang sedari tadi diam itu.

"Lain kali kalau kau menguping, dengarkanlah sampai selesai, Hinata," ujar Sakura seraya menjitak pelan kepala Hinata, berniat menyadarkan gadis itu dari lamunannya yang tak berkesudahan. Hinata mengaduh pelan.

"Eng... Maafkan aku... Sakura-chan..." Hinata tertunduk malu, wajahnya kembali memerah seperti buah tomat masak. Sakura tersenyum lembut, lalu meraih kedua tangan Hinata.

"Kenapa sih kamu selalu minta maaf, Hinata? Justru akulah yang seharusnya minta maaf padamu... Karena tidak menyadari perasaanmu pada Naruto sejak awal," ujar Sakura lembut, menggenggam kedua tangan sahabatnya itu. Hinata pun mengangkat wajahnya perlahan.

"Sudahlah, yang penting sekarang kau sudah tahu yang sebenarnya. Selanjutnya... Jaga Naruto, ya! Aku tak akan merelakan Naruto dengan cewek lain. Hanya kamu yang aku percaya lho, karena kamu adalah sahabatku!" riang Sakura sambil mengedipkan sebelah matanya. Ucapan itu membuat Hinata tersipu, namun kemudian ia tersenyum tulus.

"Ya... Terima kasih, Sakura-chan!"

.

.

.

Naruto keluar dari ruang OSIS sambil memukul-mukul sebelah bahunya yang terasa pegal. Entah sudah berapa lama ia berada di dalam ruangan pengurus organisasi sekolah itu untuk mengurus hasil rapat OSIS siang tadi, Naruto sampai tak memperhatikan waktu lagi. Pemuda pirang itu berjalan gontai dan memijit kedua pelipisnya, berusaha menghilangkan rasa pusing di kepalanya. Selama berjalan ia tak berhenti menggerutu dan merutuki sang 'ketua OSIS sinting' yang mengurungnya dan dengan sadis tak memperbolehkan dirinya keluar sampai dokumen OSIS itu selesai. Padahal, dia 'kan masih flu.

'Geez, kalau dia sebegitu cemburunya karena Hinata, kenapa repot-repot menyiksa orang lain? Kenapa sih tak langsung menunjukkan kebaikannya saja pada Hinata? Psycho!' umpat Naruto kesal dalam hati.

Naruto memperlambat langkahnya ketika melewati halaman belakang sekolah. Ia mendongak, melihat langit yang mulai berwarna oranye dari perbatasan koridor dan halaman itu.

"Rupanya sudah sore..."

Warna langit yang tak lagi biru, namun mulai menyatu dengan warna keemasan surya yang hendak kembali pada peraduannya itu, menyita perhatian Naruto hingga ia menghentikan langkahnya, sejenak mengagumi lukisan alam karya Sang Pencipta. Awan tebal yang bergumpal pun turut memantulkan pancaran sinar surya yang mulai melembut, membuatnya tak lagi berwarna putih bersih melainkan gradasi cantik antara merah muda dan oranye. Sungguh perpaduan warna yang mengagumkan dan menenangkan. Segala kekesalan dan rasa lelah Naruto pun rasanya sirna saat itu juga.

Naruto memejamkan matanya, menikmati hembusan angin dingin yang mampu mendinginkan kepala dan pikirannya. Setelah menarik dan menghembuskan napas panjang, ia kembali membuka kedua matanya, dan barulah ia menyadari bahwa bukan hanya dirinya sendiri yang tengah menikmati sore hari di taman belakang itu. Sosok seorang gadis yang membelakanginya dengan rambut panjang tertiup angin sepoi-sepoi tertangkap di mata birunya. Seseorang yang ia kenal, sangat ia kenal.

"Hinata..?"

Gadis itu sedikit terkejut begitu Naruto memanggil namanya, lalu berbalik. Mempertemukan tatapannya dengan tatapan Naruto padanya. Naruto dapat melihat semburat merah tipis yang muncul di kedua pipi putih gadis itu.

"Na... Naruto-kun? Kenapa ada di sini? Mana Sasori-senpai?" tanya Hinata sedikit tergagap.

Naruto memutar bola matanya. "Dia duluan untuk membantu teman-temannya beres-beres kelas. Haah, orang itu... Entah apa yang ada di pikirannya, tega sekali membiarkanku mengurus dokumen-dokumen rapat itu seorang diri... Untung saja sekarang sudah selesai," gerutu Naruto, mengingat-ingat perlakuan Sasori padanya. Hinata tertawa pelan.

"Kamu sendiri bagaimana, Hinata? Kenapa di sini? Kok belum pulang?"

"Ehm... Aku... Aku hanya istirahat sejenak setelah beres-beres. Itu saja, kok," jawab Hinata sekenanya, tak mungkin ia bilang bahwa sebenarnya ia menunggu Naruto menyelesaikan tugasnya, tapi terlalu gugup untuk menyusul ke ruang OSIS.

"Oh."

"..."

"..."

"A... Ano... Naruto-kun..." panggil Hinata gugup, memecah keheningan di antara mereka.

"Hm?"

Hinata menelan ludah. Entah kenapa ia merasa sangat gugup berada di hadapan Naruto kali ini. "Ma... Maafkan aku..."

Naruto mengalihkan wajahnya yang sedari tadi memandangi langit sore, akhirnya menatap wajah Hinata yang tertunduk. "Untuk apa?"

"Um... Untuk semuanya. Maaf karena aku seenaknya menyuruhmu memberikan pita itu... Maaf karena pengakuanku yang tiba-tiba... Maaf karena aku berpikir tanpa mengetahui yang sebenarnya... Dan maaf... Karena tak mengetahui perasaanmu yang sesungguhnya," tutur Hinata sambil menggenggam tangannya sendiri erat-erat, berusaha mengusir rasa gugupnya. Rasa gugupnya kian bertambah, saat ia tak mendapati respon apapun dari Naruto. Perlahan, Hinata mengangkat wajahnya, dan ia melihat Naruto yang menatapnya datar. Hinata semakin was-was, takut Naruto akan marah padanya.

"Kau tahu?" mulai Naruto, membuat Hinata sedikit berjengit, "Tak seharusnya kau seenaknya menyimpulkan sesuatu tanpa mengetahui yang sebenarnya dengan pasti."

Hinata kembali menundukkan wajahnya, rasa takut memenuhi hatinya mendengar nada bicara Naruto yang rendah dan datar itu. Karena setahunya, Naruto hanya mengeluarkan nada seperti ini kalau mood-nya sedang buruk.

"Terlebih lagi, kenapa kau sama sekali tak mau memberikan aku kesempatan untuk menjelaskan, Hinata? Kau selalu memotong kata-kataku seolah-olah kaulah yang paling mengetahui yang sebenarnya! Aku juga punya hak untuk bicara, Hinata! Apa kau tak mengerti?" ujar Naruto yang mulai meninggikan nada suaranya satu oktaf. Suaranya pun agak bergetar. Tampaknya ia sudah frustasi, dan kini ia mengeluarkan semua yang membebani pikirannya selama ini.

Hinata semakin tak berkutik mendengar ucapan Naruto. Ia merasa benar-benar bersalah karena terlalu cepat menyimpulkan seenaknya, mengambil keputusan secara sepihak tanpa memahami perasaan Naruto. Bahunya bergetar, dan ia membalikkan tubuhnya perlahan, menyembunyikan genangan air yang menggantung di pelupuk matanya.

"I-Iya... Makanya aku minta maaf, Naruto-kun... Aku memang sok tahu. Maaf aku sudah membuatmu marah... Aku terlalu egois sehingga mengambil keputusan sesukaku. Ini salahku... Salahku, kalau sampai persahabatan kita berakhir," lirih Hinata, hatinya terasa begitu sakit mengucapkan kalimat yang terakhir. Tapi ia tahu, ia harus menanggung semuanya. Air mata yang sedari tadi dibendungnya kini terjatuh dari kedua sudut matanya.

Naruto terdiam sejenak, hanya memandang punggung Hinata yang tak jauh berada di depannya.

"...Ini bukan salahmu. Tapi kau benar, persahabatan kita akan berakhir," ucap Naruto masih dengan nada datar. Kata-kata itu langsung menghujam hati Hinata sampai retak, membuat kedua mata lavendernya membelalak sempurna. Hatinya serasa hancur, dan air matanya meluncur lebih deras tanpa suara. Selama beberapa saat, hanya suara isak tangis yang keluar dari mulutnya.

"Tak ada satupun dari kita yang menginginkan persahabatan ini..." ucap Naruto masih dengan intonasi datar, perlahan mulai melangkah maju mendekati Hinata yang masih terisak. Segera setelah Naruto tepat berada di belakang Hinata, ia melemparkan kedua tangannya melingkari tubuh mungil Hinata, memeluknya dari belakang dan membuat gadis itu membeku seketika.

"...Karena kita berdua... Menginginkan lebih dari itu..." lanjut Naruto lembut tepat di samping telinga Hinata. Kedua mata Hinata membulat, air matanya berhenti menuruni kedua pipinya. Jantungnya berdegup kencang kala Naruto semakin mengeratkan pelukannya, dan mengeluarkan suara lembut yang hampir menyerupai bisikan di telinga kanannya.

"Aku suka... sama Hinata..."

Dan air mata pun kembali menetes turun dari kedua lavender gadis itu. Namun kali ini, tak lagi rasa nyeri ia rasakan di hatinya seraya air mata itu jatuh, melainkan sebuah perasaan hangat di hatinya yang langsung menyebar ke seluruh tubuhnya, memunculkan rona merah tipis di pipinya yang basah oleh air mata.

Hinata membalikkan tubuhnya perlahan, sangat perlahan. Hingga pada akhirnya, ia dapat menatap wajah Naruto yang begitu dekat, tersenyum lembut padanya. Senyum terindah yang pernah ia lihat dari seorang Uzumaki Naruto.

"...Sangat suka," lanjut Naruto lagi. Hinata menangis sejadi-jadinya. Ia tak menyangka, walaupun ia sudah lebih dulu mengetahui perasaan Naruto melalui Sakura, perasaannya akan melambung setinggi ini ketika mendengarnya langsung dari mulut Naruto.

"A... Aku juga... Sangat suka pada Naruto-kun..." ucap Hinata setelah dapat mengumpulkan tenaganya untuk bersuara. Naruto terkekeh kecil.

"Ya, aku tahu. Kamu 'kan sudah mengatakannya di UKS tadi, Hinata," ucap Naruto, yang membuat Hinata kembali menunduk karena malu. Naruto kembali terkekeh sejenak, lalu meraih wajah Hinata untuk menyeka air mata di sudut mata gadis itu.

Pandangan Naruto tak lepas dari kedua iris mata Hinata, tanpa sadar kedua tangannya yang semula menyeka air mata itu kini beralih menangkup kedua belah pipi kemerahan sang gadis Hyuuga. Entah sejak kapan isakan Hinata berhenti, dan kini ia pun turut menatap kedua mata biru di hadapannya dalam-dalam.

Walau mulut tak bersuara, namun tatapan matalah yang mengatakan segalanya. Mengerti akan bahasa tubuh masing-masing, kedua remaja itu kini saling mengeliminasi jarak antara mereka. Setelah merasa cukup dekat, mereka menutup mata, bersiap untuk merasakan hal yang mereka bayangkan sampai–

"HAATSYIIIIIH!"

–Naruto bersin dengan kuatnya.

"Aduh..." setelah menggosok-gosok hidungnya sesaat, Naruto segera melihat ke hadapannya dan menemukan Hinata yang mematung, mata terbuka, dan wajah yang... basah. Sontak Naruto panik, dengan segera ia mengambil saputangan dari saku celananya dan membersihkan wajah Hinata.

"A... Aduh, maafkan aku, Hinata! Mau nyium kok malah... Nyembur," ujar Naruto dengan suara yang semakin mengecil mendekati akhir kalimatnya, sembari mengusapkan saputangan ke wajah Hinata dengan kikuk. Hinata segera sadar dari rasa kecewanya, lalu tertawa kecil dan membuat wajah Naruto memerah padam karena malu.

"Hihihi, tidak apa-apa, kok, Naruto-kun... Daripada itu, kamu tak apa-apa? Kamu masih flu, 'kan? Masih pusing?" raut wajah Hinata berubah khawatir.

"Hehehe, jangan khawatir. Pusingku sudah hilang begitu melihatmu," jawab Naruto sambil menunjukkan cengiran khasnya. Hal ini sukses membuat Hinata kembali tersipu malu.

"Go... Gombal," gumam Hinata dengan wajah yang memerah. Naruto nyengir.

Melihat wajah imut gadis yang sudah berstatus sebagai 'mantan-sahabat-yang-sudah-naik-pangkat' itu, cengiran Naruto berganti menjadi senyuman lembut. Ia mengangkat tangan kanannya, mengelus pelan kepala gadis itu. Hinata mendongak untuk membiarkan dirinya kembali terpana oleh tatapan dan senyum Naruto. Detik berikutnya, yang dirasakan Hinata adalah Naruto meletakkan bibirnya di dahi miliknya, mengecupnya lembut. Rasa hangat menjalar dari ciuman itu, dan Hinata hanya memejamkan matanya untuk menikmati momen itu.

"Sekarang di sini dulu saja, ya... Biar kamu nggak ketularan," bisik Naruto setelah melepaskan ciumannya, lalu menarik Hinata ke dalam pelukannya. Hinata yang matanya masih setengah terbuka, hanya dapat mendengar suara debaran jantung yang keras selain suara bisikan Naruto tersebut. Bahkan ia pun tak dapat menentukan debaran siapakah yang didengarnya itu, entah debaran Naruto atau debarannya sendiri.

Hinata membawa kedua lengannya melingkari tubuh Naruto, membalas pelukannya. "Ya..." jawab Hinata pelan, tak ayal bibirnya melengkung membentuk senyuman terbaik yang ia punya. Rasa bahagia memenuhi hati keduanya, mereka ingin saat ini waktu bisa berhenti agar mereka bisa terus menikmati momen ini.

Kedua remaja pasangan baru itu terlalu tenggelam dalam dunia mereka, dan tidak menyadari dua pasang mata yang memperhatikan mereka dari koridor sekolah. Salah satu dari pemilik sepasang mata itu tersenyum lembut, sedangkan yang lainnya hanya memasang wajah datar.

"Kau baik-baik saja? Bukankah kau juga menyukai si Dobe itu?" tanya seorang yang berwajah datar, melirik gadis berambut merah muda di sebelahnya.

"Ya. Aku tak apa-apa, kok. Aku sudah merelakan Naruto dan memutuskan akan selalu mendukung mereka berdua. Lagipula, sejak awal mereka memang sudah saling menyukai," jawab gadis itu tanpa melepas senyumnya dan pandangannya pada dua insan yang tengah berpelukan itu. Pemuda berambut hitam di sebelahnya menatapnya sejenak, lalu kembali membuang muka dan menghela napasnya. Kemudian ia menepuk pelan puncak kepala gadis yang tengah menjinjing tempat sampah kosong itu.

"Tenang saja. Kau pasti akan menemukan pria lain yang akan mencintaimu dengan tulus," ujar pemuda keturunan Uchiha itu dengan wajah datarnya, melemparkan pandangannya ke arah lain. Sakura yang mendengar kalimat itu terpaku sesaat, sebelum akhirnya menoleh untuk melihat wajah stoic pemuda itu dari samping. Ia berpikir sejenak.

"Seperti... Kamu misalnya..?" tanya Sakura dengan memasang wajah polos dan penasaran, yang berhasil membuat Sasuke tersentak dan segera membalikkan badannya ke arah ujung koridor.

"Ugh, kenapa jadi membahas hal seperti ini? Ayo cepat, kita harus mengembalikan tempat sampah ini ke kelas!" protes Sasuke sambil mulai berjalan kembali menyusuri koridor. Walau sekilas, Sakura bersumpah ia melihat semburat merah tipis di wajah Sasuke. Sakura mematung sesaat, sebelum akhirnya tersenyum senang dan berlari kecil untuk menyusul Sasuke.

"Lho, bukannya kamu yang duluan membahas hal ini, iya 'kan Sasuke-kun?" tanya Sakura riang.

"Hn."

"Makanya yang tadi dijawab, dong! Iya atau tidak?"

"Hn."

"Kok 'Hn' sih, Sasuke-kun?"

"Hn."

"Sasuke-kuuuuuuun~~!"

.

.

.

"Haaah... Tiba juga waktunya pulang..." ujar Naruto sambil terus berjalan, melipat kedua tangannya di belakang kepala dengan santai. Hinata yang berjalan di sebelahnya tersenyum, senang melihat kondisi Naruto yang sudah jauh lebih baik. Saat ini mereka tengah berjalan menyusuri koridor menuju gerbang sekolah, hendak pulang bersama setelah serangkaian acara beres-beres besar.

"Hari ini sangat melelahkan, Naruto-kun. Nanti begitu sampai rumah, kamu harus langsung makan dan istirahat, jangan sampai demam lagi, ya," timpal Hinata tanpa melepas senyumnya. Naruto menanggapi nasihat kekasih barunya itu dengan cengiran lebar.

"Tenang saja, Hinata! Kalau aku sakit lagi, cukup dengan melihatmu saja, lalu aku akan sembuh! Percaya, deh!"

Wajah Hinata kembali memerah mendengar Naruto menggombal untuk kedua kalinya. Naruto tersenyum, lalu melempar pandangannya lurus ke depan. "Bukan cuma hari ini..." mulai Naruto, membuat Hinata menoleh ke arahnya.

"Saat perayaan hari St. White kemarin, saat persiapan perayaan sebelumnya, bahkan sejak kita terlibat dilema persahabatan dan cinta ini dulu... Sudah banyak hari-hari melelahkan yang kita alami. Bagaimana kita berjuang demi sahabat, tetapi di sisi lain kita juga ingin memperjuangkan diri kita sendiri... Kita sudah melewati itu semua," tutur Naruto menerawang tanpa melepas senyumnya. Hinata terdiam, kembali teringat akan masa-masa sulitnya.

"Tapi... Aku lega sudah menghadapi semua yang berat itu, karena hadiah yang kudapat sangat sesuai dengan apa yang kuinginkan," lanjut Naruto, kini memindahkan pandangannya pada Hinata.

"Eh?"

Naruto tersenyum. "Ya, kau benar-benar hadiah yang terbaik untukku, Hinata," ucap Naruto lembut. Salah satu tangannya meraih tangan Hinata yang tak digunakan untuk menjinjing tas, menggandengnya. Mau tak mau wajah Hinata kembali memanas, lalu ia pun turut mengembangkan senyum manisnya.

"Bagiku juga... Naruto-kun adalah hadiah yang terbaik," ucap Hinata, seraya membalas genggaman tangan Naruto dalam gandengannya.

Kedua remaja itu saling bertukar senyuman bahagia, saling bergandengan seolah tak ingin melepaskan satu sama lain. Dengan kebersamaan mereka sebagai akhir dari dilema persahabatan, maka dimulailah lembaran baru kisah mereka. Naruto dan Hinata yakin, dengan dukungan dari sahabat dekat dan sahabat-sahabat lain yang kini telah mendukung mereka, segala hal yang menanti di depan sana pasti akan dapat mereka hadapi. Tentu saja, selama mereka tetap bersama.

"U-ZU-MA-KIIIIIIIIIIIIIIIIII~~~!"

Uh-oh, sepertinya ketua OSIS yang tengah memperhatikan dengan kepala merahnya itu adalah pengecualian. Berjuanglah, Naruto!

.

.

.

OWARI

.

A/N: Yoosh, akhirnya fic pertama Fi ini berlabelkan 'complete'! Ehm, sebenernya Fi bingung banget lho waktu masukin romance di bagian akhirnya itu.. Jadi maaf ya, kalau romancenya gak kerasa.. Hontou ni gomennasai X(

Banyak-banyak terima kasih buat para reviewer yang selalu menjadi sumber semangat Fi buat terus meng-apdet fic ini.. Fic ini gak akan bisa tamat tanpa kalian semua, beneran deh! ^^ Makasih buat yang udah berbaik hati memberikan review di chapter-chapter sebelumnya: Benjro Hirotaka, Dy, Hoshi no Nimarmine, Aojiru no Sekai, Nakazawa Ayumu, Kitsune Murasaki is A Little Monster, Ice Crem Blueberry, Ritardando Stanza Quint, Dani no Baka, Kanhakura Haito, Zoroutecchi, Ghifia Kuraudo, Uprut, QiesZyeiN, Tantand, Kuronekomaru, Rreyna, Ame Kuroyuki, Kurirana, Cactus. mo, DraCool14, Solid Gears, Namikaze Resta, Ability X, Naruhina Lover, Hikari Shourai, dan Ardymmmm.

Dan juga para silent readers yang udah menyempatkan membaca fic ini, terima kasiiiiiih! ^^

Baiklah, sampai ketemu di kesempatan lain..

Akhir kata, review without flame please.. ^^

Domo Arigatou Gozaimashita

Sign,

Fi ^^