Hohohoho, langsung posting chapter 2 ya ..., biar nggak kelamaan nunggunya ...hehehehe ENJOY

I Just Want My Brother Back

Chapter 2

Dean masih tak lepas dari sosok kecil Sammy yang kini sudah tertidur pulas di tempat tidurnya. Setelah lama tadi Sammy menangis karena kesakitan dan mencari kakaknya dan ayahnya, akhirnya Sammy bisa tertidur pulas karena keletihan. Pakaiannya masih memakai kaos Sammy besar dengan selimut yang dilitkan di pinggangnya karena mereka tidak memiliki celana untuk usia 3 tahun!

Dean menarik nafas lega sekaligus gusar. Beberapa kali ia mengusap wajahnya sebelum akhirnya ia memanggil Castiel untuk sebuah penjelasan.

"Baiklah, Cas, sebaiknya kamu datang sekarang, atau kita nggak akan pernah berteman lagi!" seru Dean marah dengan menahan suaranya agar tidak terdengar Sammy yang tertidur.

"Aku di sini, Dean," Castiel menunjukkan wujudnya tepat di hadapan Dean bahkan sebelum Dean selesai menghela nafas penuh kekesalan.

Dean melotot semakin kesal jadinya. Entah berapa kali Castiel seperti ini, muncul tiba-tiba di hadapannya. Semakin sering ia melakukannya semakin tidak terbiasa Dean melihatnya.

"Okay! Bisa tolong dijelaskan dengan wujud Sammy sekarang?" seraya menujuk ke arah adiknya yang kecil mungil.

Castiel menengok ke arah Sammy kecil di tempat tidur dengan dinginnya.

"Dia imut dan kecil,"sahut Castiel dengan tenangnya.

Dean memutar bola matanya dengan kesal.

"Umur tiga tahun, Cas!" pekik Dean tertahan.

"Bagiamana kau tahu umurnya tiga tahun?"

Dean terbelalak, "Masak aku nggak hapal wujud adikku sendiri? Aku hapal pertumbuhan tubuhnya tahun demi tahun, dan itu adalah wujud Sammy umur tiga tahun!"

Castiel hanya mengangguk dengan dinginnya.

Bobby yang masih duduk di tempat tidur menemani Sammy, hanya diam mendengarkan.

Dean menunggu dengan tidak sabar penjelasan dari malaikat aneh sahabatnya ini.

"Kau mendapatkan apa yang kau inginkan, Dean…,"lanjut Castiel dengan tenangnya.

Dean terkatup tidak mengerti.

"Menjadikan Sammy ke umur tiga tahun, sama sekali bukan yang aku mau!" protes Dean kesal.

"Benar, tapi kau meng-inginkan Sam kembali polos, lucu, dan takut akan segala hal hingga membuatmu maju sebagai orang pertama yang melindungi Sam, ya kan?"

Dean terkatup tak percaya.

"Kau sudah mendapatkannya, Dean, Sammy kembali seperti yang kau inginkan, dan Sammy sudah memiliki kembali 'soul'nya yang hilang, kembali menjadi Sammy yang kau harapkan. Sepertinya ada yang menjawab permohonanmu."

"Siapa yang menjawab, Jeanny di dalam botol?" Dean dengan sewot.

Castiel membalas Dean dengan matanya yang dingin. "Aku tidak tahu."

Dean terdiam, dan memandang wujud Sammy.

"Tapi umur tiga tahun?"

"Umur tiga tahun, umur dia saat masih memiliki kepolosan itu, kau tentu juga tahu itu, Dean."

Dean benar-benar masih tidak ingin mempercayainya. Tapi bukan, bukan ini yang ia mau. Ia tidak mau mengembalikan Sammy ke umur tiga tahun, pelecehan namanya!

"Bagaimana aku bisa mengembalikan Sammy ke wujud semula?"

Castiel terdiam. "Aku tidak tahu"

Dean terbelalak, "Tidak tahu!"

"Tapi akan kucari tahu nanti."

Dean mendesah lega, "Bagus!

"Lalu, Sammy…?"

Castiel memandang wujud kecil Sam. "Sepertinya, untuk sementara Sam akan tetap seperti itu, hingga aku mendapatkan cara mengembalikan Sam kembali semua."

Dean terbelalak, "Nggak mungkin!"

"Maaf, tapi tidak ada jalan lain. Dan itu belum termasuk dengan jika Sam mengingat semua apa yang ia lakukan kemarin."

Dean terkatup pucat,

"Apa!" Dean dan Bobby bersamaan.

"Umurnya tiga tahun, Cas!"protes Bobby yang sekarang bersuara karena melihat kemungkinan yang masih terjadi pada Sam.

"Tidak peduli sosok umur berapa Sam sekarang, saat 'soul'nya kembali, dinding itu masih berkemungkinan runtuh, dan Sam harus bisa menerimanya."

Dean terbelalak, "Umurnya masih tiga tahun, bagaimana mungkin Sammy bisa menanggungnya?"

"Itu yang harus kalian hadapi, dan juga ingat, di luar sana banyak orang yang mengejar Sam karena ulahnya kemarin bersama Samuel,"

Dean semakin pucat. Ditengokknya adiknya yang begitu bersih dan polos, "Oh, Sammy…"

"Maaf, aku harus pergi, aku akan segera kembali begitu aku tahu caranya." Dan dengan sekedip mata sosok malaikat jadi-jadian itu hilang dari hadapan mereka.

Dean dan Bobby menahan nafas begitu Castiel pergi, dan sama-sama memandangi sosok kecil tak berdosa di tempat tidur.

"Ow, Sammy, tak bisakah kau istirahat sebentar dari kekacauan ini…," desah Dean perih, tapi iapun ingat tidak lepas dari keinginan terdalamnya. "Maafkan aku, Sam, tapi aku hanya ingin adikku kembali, aku ingin kau kembali seperti dulu lagi," penuh penyesalan. "Maafkan aku, Sam. Tapi aku janji akan segera membereskannya, kau akan kembali semula, Sam" dengan mengecup kening adik bayinya, dan merapatkan tubuhnya memeluk tubuh kecil itu.

Bobby menghela nafas melihat kegundahan hati Dean. "Aku akan di luar, jika kau membutuhkanku, Dean."

Dean hanya mengangguk dan membiarkan pria tua yang sudah ia anggap sebagai ayah kedua baginya, keluar kamar dan meninggalkan mereka berdua.

Dengan memeluk Sammy, kepala Dean masih belum berhenti berpikir dan percaya kenapa ini harus terjadi. Dia hanya menginginkan Sammy kembali seperti dulu, yang masih bersih dan polos, tapi bukan berarti harus merubahnya menjadi bocah umur tiga tahun. dan jika Sam harus kembali ke usia tiga tahun, akan menjadi masa-masa berat Dean, karena usia tiga tahun adalah umur Sam dia memulai semuanya dengan pertanyaan. Dean ingat, bagaimana hari-harinya dihujani dengan pertanyaan-pertanyaan menggelitik dan cerdas dari anak umur tiga tahun yang baru mengenal dunia dan bertanya tentang segala hal. Dan jika memang Sam benar-benar kembali ke usia tiga tahun, berarti Dean harus melewati masa-masa itu lagi. Tapi tidak apa, paling tidak itu lebih baik, dibandingkan jika Sammy harus tersiksa dengan ingatan-ingatan tentang apa yang ia lakukan dengan Samuel. Mudah-mudah tidak terjadi, dan perkirana Castiel, salah. Dean tidak akan bisa menghadapinya, jika harus melihat sammy tersiksa dengan perasaan itu, terlebih dalam wujud anak berumur tiga tahun.

"Jangan takut, Sam,semua akan baik-baik saja, aku di sini bersama kamu, kamu akan baik-baik saja, tidak akan terjadi apa-apa, aku akan selalu melindungi seperti biasanya. Aku janji, Sam," dengan mengusap-usap rambut coklat Sammy yang halus, lalu mengecup keningnya erat-erat.

Bobby masuk kembali kamar untuk memeriksa keadaan Sammy. Ia harus tersenyum haru dengan posisi Dean memeluk Sam. Begitu damainya. Sampai kapanpun, Dean akan selalu begitu terhadap Sam, adik satu-satunya yang amat dicintainya dan penjadi pusat kehidupan Dean, tidak peduli berapapun umur Sam.

Dipandanginya Sam yang masih tertidur dengan memandangi wajah kecil itu yang benar-benar seperti malaikat kecil di dalam pelukan Dean. Tidak heran Dean sangat menginginkan wajah ini kembali pada Sam, Dean menginginkan Sam kembali menjadi malaikat kecil yang selalu menggemaskan bagi semua orang. Wajah malaikat kecil itu selalu dapat menyihir semua orang yang melihatnya akan dengan sennag hati melakukan apapun untuknya. Bobby harus tersenyum, ia tidak akan pernah lupa dengan wajah kecil dan imut Sammy yang langsung mencuri hatinya sejak pertama kali John membawa kedua putranya yang masih kecil-kecil ke rumahnya. Sammy masih berumur delapan bulan dan Dean baru menginjak umur 5 tahun. Dean masih belum mau berbicara saat itu akibat trauma yang dideritanya, dan Sammy yang sering sekali rewel, dan hanya akan diam bila di dekat kakaknya, dengan Dean yang selalu ada untuk Sammy dan super over protective terhadap adiknya, tidak boleh ada yang menyakiti dan membuat Sammy menangis. Keluarga kecil itu baru saja melalui sebuah tragedi yang merenggut satu-satunya wanita yang mereka sayang dan cintai; ratu di hati mereka; Mary, istri John, ibu kedua anak malang ini. John membutuhkan bantuan untuk mengejar apa yang merenggut istrinya dan menjadikan dirinya menjadi pemburu makhluk yang membunuh istrinya. Dan sejak itu John akan selalu datang padanya jika harus menitipkan kedua putranya saat harus melakukan pekerjaan yang diperkirakan akan membahayakan kedua putranya. Tidak dapat diragukan, kehadiran dua bocah kecil ini dalam rumahnya sangat memberi pengaruh dalam hidup Bobby. Setelah ia dengan terpaksa membunuh istrinya yang terasuki iblis, Bobby sempat mengira hidupnya ini akan hampa dan tidak berarti selain mengejar makhluk-makhluk laknat itu. Tapi Dean dan Sammy merubahnya dengan begitu saja, dan memberinya nafas kehidupan yang baru bagi Bobby. Ia merasakan rasa sayang untuk kedua bocah malang itu yang dengan terpaksa hidup di jalan bersama ayahnya dan dilatih seperti seorang prajurit seperti ayah mereka dulu. Bobby menyayangi mereka berdua seperti putranya sendiri, dan akan selalu ada untuk mereka.

Bobby menghela nafas dan teringat, Sammy tidak memiliki baju ganti, dan mereka juga sama sekali tidak memiliki perlengkapan keperluan balita umur tiga tahun. Kapan terakhir kali ada balita di rumah ini? 25 tahun yang lalu, saat Sam masih berumur 5 tahun! Bobby tahu, Dean tentunya tidak akan mau meninggalkan Sam, terlebih dengan Sam yang seperti ini, jadi dirinya yang harus pergi.

"Dean, aku akan ke kota membeli keperluan Sam, kita tidak punya apa-apa untuknya."

Dean terbangun dan menoleh lemah, kalimat Bobby menyentaknya seakan mengingatkannya. Bodohnya ia melupakan itu. Sammy adalah tanggung jawabnnya, dia yang harus menyiapkan semua keperluan Sammy.

"Jangan, biar aku saja yang membelinya," seranya perlahan melepaskan sammy dari pelukannya dan mengembalikannya ke tempat tidur.

"Nggak, Dean biar aku saja, kau harus menemani Sam di sini,"

Dean menggeleng, "Sammy tidak mengenalku, yang dia kenal hanya kau, Bobby, jadi kau yang harus di sini, jaga-jaga kalau dia bangun. Dia akan menangis kalau bangun tidak menemukan orang yang dikenalnya."

Bobby terdiam. "Kau yakin?" Bobby bisa merasakan beratnya Dean meninggalkan Sam.

"Yea, tentu saja," Dean memaksa tersenyum dan meraih jaket kulitnya. "Kau di sini saja, jaga Sammy baik-baik," sedikit dengan nada memerintah.

"Yow, jaga nadamu, nak, siapa yang menjaga kalian saat kalian masih balita dulu?" protes Bobby.

Dean langsung tergelak geli. "Maaf, Bobby, cuma bercanda. Tentu saja aku tahu, kemampuanmu sebagai seorang baby sitter tidak perlu diragukan lagi, betul, kan, Sam?" Dean merunduk dan mengecup kening Sammy. "Baik-baik sama Paman Bobby, ya, aku akan segera kembali."

Bobby hanya tersenyum. "Jangan takut, Sammy akan baik-baik saja."

Dean tersenyum mengangguk pasti, dan melenggang keluar kamar.

Dean menuju supermarket terdekat dan langsung menyambar keranjang di pintu masuk.

Yang pertama ia tuju ada rak-rak pakaian-pakaian balita. Dean langsung memilih baju-baju yang sekiranya ukurannya cukup untuk Sammy, dan dengan gambar yang pastinya harus disukai Sammy. Dean ingat, Sammy tidak menyukai tokoh kartun, Sammy menyukai gambar dinasaurus dan mobil, terlebih jika mobil Impala seperti milik ayahnya. Akhirnya Dean memilih kaos bergambar mobil jip berwarna hitam, dan bergambar dinasaurus berwarna biru muda. Sebenarnya mudah, Sammy akan memakai motif yang sama dengan motif apa yang kakaknya pakai, hingga pernah ayahnya terpaksa membuatkan kaos dengan gambar yang sama dengan ukuran yang berbed, dan Sam akan jauh lebih bangga jika ia memakai kaos bergambar band rock AC/DC, seperti yang sering Dean pakai dulu, meski umurnya masih 5 tahun! Dean mengambil beberapa kaos dengan celana panjang jeans berwarna biru, juga beberapa pasang piyama, karena Dean tidak tahu, berapa lama Sammy akan bersosok tiga tahun. Tak lupa juga dengan baju-baju dalamnya.

Setelah dari bagian pakaian, Dean beralih pada bagian makanan dan susu. Dean harus memutar kembali ingatannya, makanan dan minuman apa yang menjadi favorit sammy dulu. Hanya satu yang tidak pernah terlupakan oleh Dean adalah Sammy adalah penggemar nomor satu sereal Lucky Charms, yah, karena dulu Dean juga menyukaianya, dan sering berebut untuk bisa sarapan dengan sereal yang menurut mereka paling lezat di seluruh dunia, tapi tetap Dean akan selalu mengalah untuk Sammy.

Susu, sereal, dan biskuit favorit Sammy sudah masuk ke dalam keranjang. Dean pun tak lupa membeli obat penurun panas anak, untuk berjaga-jaga Sammy demam, dan obat batuk pilek, juga untuk berjaga-jaga.

Saat ia melewati rak-rak popok balita, Dean harus berpikir, perlukan Sammy memakai popok, bukankah seingatnya Sammy sudah tidak tidak mengompol sejak usia 2 tahun? Tidak perlu, Sammy sudah besar, tidak perlu popok. Dean hanya mengambil minyak hangat, dan talc untuk Sammy.

Setelah itu Dean beralih pada rak buku dan mainan. Buku adalah satu-satunya barang yang disukai Sammy, tidak peduli berapapun umur Sam. Juga Mr. Teddy Bear; satu-satunya binatang yang boleh tidur bersamanya selain Dean tentunya. Dean ingat dulu ia sempat menggoda Sam karena sampai umur 5 tahun Sam belum bisa lepas dari boneka kesayangannya, dengan menyembunyikannya di atas lemari. Akibatnya Sam tidak bisa tidur dan terjaga sepanjang malam, lalu sakit di pagi harinya hingga harus dirawat di rumah sakit. Dean menyesalnya berhari-hari, dan tidak pernah lagi berani menyembunyikan atau bahkan menjauhkannya dari Mr. Teddy.

Begitu semua perlengkapan dirasa cukup, tak lupa Dean mengambil kursi Sammy untuk di mobil. Itu sebuah kewajiban untuk bisa membawa Sammy kemana-mana bersamanya.

Dean memandangi keranjang belanjaannya, dan hampir tidak mempercayai apa yang ia beli, keperluan balita, dan semuanya untuk Sammy, dan yang membanggakan, ia masih mengingatnya semua, semua yang menjadi kesukaan dan kebutuhan Sam! Dean tersenyum bangga plus perih,

'Ya, Tuhan...cepatlah semuanya kembali normal...' Dean menghela nafas perih, sebelum menuju kasir.

Dengan cepat Dean membayar semua barang belanjaan dan menuju mobil, ia tidak ingin berlama-lama meninggalkan Sammy. Bukan ia tidak percaya pada Bobby, hanya perasaannya tidak pernah tenang jika harus meninggalkan sammy, jauh dari pandangan matanya, jauh mata penjagaannya. Sammy adalah tanggung jawabnya seumur hidup.

TBC

So, still like it guys? Review please ... Thenkyou !