Lanjuuuuuuttttt hahahahhaa

ENJOY!

I Just Want My Brother Back

Chapter 4

"DEEEEEEEEEEEE! TOLONG - IIIIIIIIIIINNNNNNNNNN" Sammy memekik sekencang-kencang

"SAMMY!" Dean membuka pintu dan menemukan Sammy memekik dengan kencang dengan histeris hingga wajahnya merah. Air matanya membasahi pipinya yang pucat pasi. Tubuh kecilnya bergetar. Dean langsung menghampiri Sammy dan menggendongnya di pelukannya, dengan pelukan kuat menenangkan Sammy. Dean pun merasakan celana Sammy basah. 'Bagus, Sammy ngompol, artinya mimpinya sangat buruk'. Dean mengumpat dalam hati.

"Nggak apa-apa, Sammy, Dee di sini, Dee tolongin Sammy," dengan mengusap-usap punggung Sammy. Hancur hatinya mendengar engahan nafas Sammy yang ketakutan dengan tubuh masih gemetar, dengan terus berucap, 'Dee, tolong-in…Dee..tolong-in Sammy..tolong-in Sammy…,'dengan tersengal-sengal.

"Iya, ya, Dee, di sini, jangan takut, Sammy, Dee di sini, tolongin Sammy," ucapnya terus. Di kepalanya hanya satu kemungkinan, Sammy melihat semuanya di dalam sana. Akhirnya dinding itu benar-benar runtuh. Dean terus mengumpat dalam hati. Ia menguatkan pelukannya. "Kamu aman, Sammy, Dee di sini, dan Dee nggak akan membiarkan terjadi apa-apa sama kamu. Tenanglah, Sam," hatinya benar-benar hancur.

Dean terus mendekapnya erat di dadanya dengan mengusap-usap punggung Sammy seraya menyanyikan lagu Hey Jude. Dulu dirinya selalu menyanyikan lagu Hey Jude, seperti ibunya lakukan padanya saat kecil dulu, dan Dean menerapkannya pada Sammy, agar ibunya senang dan mendekatkan Sammy dengan ibu, ibu yang hanya sebentar Sammy rasakan kasih sayangnya, dan biasanya langsung bisa menenangkannya..

Dean bertanya-tanya, apa yang Sammy lihat di sana. Kenapa Sam sampai memekik seperti ini? Apa yang membuat Sam histeris dan mengompol seperti ini?

Bobby memperhatikan Dean yang dengan sabar menenangkan Sam, dari pintu. Hatinya pun hancur melihat bocah kecil itu memekik dan menangis histeris. Wajahnya merah seperti kepiting rebus. Bobby seperti melihat kembali pemandangan 28 tahun yang lalu, saat Dean mengalami hal yang sama, terjebak dalam mimpi buruknya yang selalu menghantuinya selama beberapa bulan setelah peristiwa itu. Dean masih terkungkung dalam trauma peristiwa kebakaran di rumahnya yang merenggut ibundanya, dan Dean masih belum mau bicara saat itu. Bobby masih ingat bagaimana wajah hancur dan perihnya John saat melihat putranya sulungnya yang masih berumur 5 tahun menatap nanar penuh ketakutan sulit ditembus oleh suaranya sekalipun. Dan ini terjadi kembali. Sam terkungkung dalam mimpi buruknya. Bobby hanya berharap Sam tidak seperti Dean yang membisu untuk waktu yang lama akibat traumanya ini.

Sam kecil menatap horor lautan api di hadapannya. Ia terjebak dalam lautan api yang panas. Dan di luar sana, kakaknya berusaha memanggil-mangginya, mencoba untuk menyelamatkannya. Tapi tidak ada yang bisa Dean lakukan selain berteriak memanggil namanya, dan Sam pun memekik memanggil kakaknya sekencang-kencangnya dengan ketakutan meminta pertolongan seiring lautan api itu siap memakannya.

Tubuhnya gemetar dan ia berusaha untuk bernafas, saat tiba-tiba sebuah pelukan menyelamatkannya. Ia yakin ia mendengar suara yang dikenalnya, belum berapa lama ia mengenal suara itu, tapi begitu menenangkan mendengar suara itu, suaranya mirip suara daddy. Daddykah? Tapi kenapa ia tidak mengerti apa yang daddy ucapkan? Tiba-tiba, ia merasakan tubuhnya diangkat oleh lengan yang nyaman dan nyanyian yang begitu dikenalnya, menenangkan di telinganya. Deanie selalu menyanyikannya lagu ini setiap dia gelisah. Apakah ini Deanie...? Ketakutannya perlahan menghilang dengan terus mendengarkannya. Dia aman, dia sudah ditolong, dia sudah berada di pelukan seseorang, di pelukan Deanie…. Dia dapat merasakan ketegangannya dan perlahan mengendur saat dirasakan sentuhan aman yang menenangkannya menguat. Dan karena kelelahan Sam dengan cepat tertidur di pelukan yang penuh cinta itu.

Dean menghela nafas lega, saat merasakan ketegangan tubuh Sammy mengendur dan perlahan tertidur di pundaknya. Ditengoknya Bobby yang memandangnya penuh empati dan sedih.

"Nggak seharusnya aku tinggalin dia, Bobby," ucap Dean perih.

Bobby hanya mengangguk.

Dean menghela nafas perih dan dikecupnya kepala Sam erat-erat, sekaligus untuk menenangkan hatinya.

Tak lama Dean merasakan Sammy sudah tertidur pulas di pundaknya dengan ritme nafasnya yang beraturan.

Dean masih menimang Sammy dan mengayunkannya untuk beberapa menit sebelum menaruhnya kembali ke tempat tidur, dan kesempatannya untuk mengganti celana Sammy yang basah.

Agak canggung juga Dean melakukannya, karena sudah lama sejak ia terakhir kali menggantikan celana Sammy yang tertidur.

"Harus beli pampers buat jaga-jaga," batin Dean saat menggantikan celana Sammy. Dan selama menggantinya, Sammy tidak terbangun. Bahkan sampai Dean selesai menggantikannya, Sammy masih terlelap tidur. 'Anak pintar', mendesah lega.

Ditengoknya Bobby dan tersenyum tipis. Bobby hanya mengangguk kagum.

Dean merebahkan tubuhnya di samping Sammy, karena ia tahu, ia tidak akan berani lagi meninggalkan Sammy tidur seorang diri, seperti ini. Diposisikannya Mr Teddy di pelukan Sammy. Dean pun harus tersenyum saat melihat Sammy langsung memeluk Mr. Teddy dan menarik jempol kecilnya masuk ke dalam mulutnya dan menghisapnya nyaman.

"Ow, Sammy...," Dean tersenyum terenyuh dengan menyeka air matanya. Sammy sudah melepaskan kebiasaan menghisap jempolnya di umur empat tahun, jadi Dean terheran akan melihat Sammy menghisap jempolnya di umurnya sekarang. 'Untung saja, daddy nggak lihat ini, Sam,' dengan tertawa geli, kemudian dikecupnya sekali lagi Sammy. "Jangan takut Sam, aku di sini menemanimu, nggak akan sedetik pun kamu kutinggalkan sendirian."

Bobby masih melihat dua kakak beradik itu saling menenangkan diri. Saat ia memastikan Dean telah terpulas tidur dengan memeluk adik kecilnya, ia memutuskan keluar dari kamar tanpa bersuara dan menutup pintunya, Dean membutuhkan privasi bersama adiknya. Mereka hanya akan tenang bila mereka bersama, tidak peduli berapapun umur Sammy atau Dean.

...

"Deeee," suara rengekan kecil langsung membangunkan Dean dari setengah tidur lelapnya. Alam bawah sadarnya sudah terprogram untuk tidur setengah pulas jika berada dekat dengan Sam. Dia tidak boleh tertidur pulas dan lengah meski pada saat tidur. Dan Dean cukup lega Sammy tidak terbangun lagi setelah kejadian semalam dan dapat tertidur pulas.

Dean terbangun dan melihat Sammy bangun dengan mencari abangnya.

"Hey, squirt, sudah bangun?" Dean menyambutnya dengan suara bangun tidur.

Sammy sempat terdiam dengan sosok dewasa di sampingnya. Butuh beberapa saat untuk Sammy mengenal siapa dia.

"Dee?"

Dean harus tersenyum perih, "Maaf, Sammy, nggak ada Deee, hanya ada aku, Paman Dean..,"

Sammy terkatup kecewa. Raut wajahnya kemudian berubah dan memeriksa bagian bawahnya, kemudian melihatnya dengan ragu.

"Basah…," ucap Sammy ketakutan.

Dean langsung teringat Sammy mengompol semalam, tapi apa Sam mengompol lagi. Ia langsung memeriksa celana Sammy, tapi tidak basah, hanya memang kasurnya basah sisa semalam, ia lupa untuk mengalaskannya dengan kain kering, 'bodohnya kamu, Dean'. Tapi untunglah tidak mengenai baju atas Sammy hingga tidak ada kemungkinan Sammy akan masuk angin karena kedinginan.

"Sammy ngompol tadi malam," Dean mencoba menjelaskan dengan tersenyum geli.

Sammy terdiam dan semakin ketakutan, "Maaf…,"dan siap menerima marah dari paman barunya ini.

Dean langsung menggeleng dengan tersenyum, "Nggak pa-pa, Sam," dan memangkunya hangat. "Jangan takut, paman nggak akan marah kalau Sammy ngompol," ucapnya halus, membuatnya berpikir, mencoba mengingat, apakah dulu ayahnya akan marah kalau Sammy ngompol? Tapi seingatnya tidak, terlebih jika dikarenakan mimpi buruk. Dean jadi ingat dan kembali bertanya-tanya, mimpi apa Sammy semalam, sampai membuat histeris seperti itu.

"Nggak marah?" tanya Sam masih takut.

Dean menggeleng pasti dengan tersenyum, "Nggak marah. Tapi mungkin kita harus beli pampers untuk jaga-jaga, gimana?"

Sam langsung menggeleng, "Sammy nggak pake pampers…, sudah besar, nggak boleh ngompol…,"

Den harus tersenyum geli, "Iya, tapi untuk jaga-jaga, kalau malam Sammy ngompol lagi, ya…

Sammy terdiam sesaat, "Tapi nggak bilang Deanie, ya …,"

Dean menggeleng, "Nggak bilang Deanie…," dengan tersenyum kulum, Sammy sudah punya rasa malu.

"Nggak bilang daddy?"

Dean menggeleng pasti, "Nggak bilang daddy," tekan Dean sambil menyimbolkan isyarat bersumpah dengan jarinya.

Senyum Sam merekah, namun segera berubah dan terdiam. "Kenapa Sammy ngompol?"

Giliran Dean yang terdiam…apakah harus mengingatkan Sammy kalau Sam mimpi buruk semalam?'

"Sammy mimpi buruk tadi malam," ucapnya pelan mengambil resiko.

Dan langsung membuat Sammy pucat kembali, dan spontan menenggelamkan kepalanya di dada Dean…

Dean terkaget dengan reaksi Sam, dan mengumpat dalam hati. Dipeluknya langsung Sammy erat-erat, "Ssh…, jangan takut, cuma mimpi, Sam, jangan takut cuma mimpi, dan paman di sini, nggak ada yang akan menyakiti Sam…., shs…," segala daya upaya Dean kerahkan untuk menenangkan Sammy, dan terus mengumpat dalam hati, tidak seharusnya ia mengingatkannya.

Tangan kecil Sam mengalung kuat di leher Dean, dan tak mau lepas, terus menenggelamkan kepalanya di dada Dean.

Dean menarik nafas penuh penyesalan.

"Hey, Sam, gimana kalau kita ke taman bermain," ajak Dean mencoba mengalihkan perhatian. "Sammy bisa main apa saja di sana. "Atau kita ke toko mainan, Sammy boleh beli mainan apa saja."

"Mainan apa saja?" Sammy mengangkat kepalanya terpancing, dan memandang paman barunya yang baik hati ini.

Dean tersenyum dan mengangguk, "Iya, apa saja yang Sammy mau,"

"Daddy nggak akan marah?" tanyanya takut.

Dean menggeleng pasti, "Daddy nggak akan marah, paman janji. Gimana, Sammy mau?"

Sesaat Sammy mengangguk lirih.

Dean tersenyum lega. "kalau begitu kita mandi sekarang, ya."

Dan Sammy mengangguk lagi.

Dean mengangguk lega dan membawanya ke kamar mandi.

TBC

You know what you have to do, guys... reviews ...hehehehehe thenk you!