Masih belum bosen ...hehehehehe
ENJOY!
I Just Want My Brother Back
Chapter 6
Mata Sammy terbelalak dengan senangnya begitu ia dan pamannya memasuki toko besar yang dipenuhi dengan mainan-mainan. Tapi ia langsung mendongak ragu pada pamannya.
"Sammy boleh pilih yang mana?" tanyanya pelan.
Dean harus tersenyum, "Yang mana saja, yang Sammy mau," 'Ah, senangnya bisa menjawab itu.'
Sammy tersenyum dengan lebarnya, dan menarik tangan Dean menuju salah satu rak dengan mainan-mainan besar.
Sammy menunjuk mainan lego dengan gambar depan konstruksi bangunan berwarna-warni.
"Biar bisa main sama Dee, Dee suka main itu," Sammy menjelaskan tanpa diminta kenapa dia memilih mainan lego.
Kembali Dean terenyuh haru. Sampai mainan pun Sammy kecil tetap memikirkan kakaknya. Dulu memang ia sangat suka dengan Lego. Satu-satunya mainan lego yang ia punya adalah hadiah Natal dari Pastur Jim saat umurnya 5 tahun sebagai hadiah Natal pertama tanpa ibu mereka, dan Dean selalu memainkannya bersama Sammy, meski Sammy kecil yang masih 1 tahun, lebih sering merobohkan hasil karya Dean daripada membantunya. Tapi tetap, Sammy adalah partner yang mengasyikan untuk bermain.
Dean mengecup gemas adiknya. "Paman bangga, Sammy."
Sammy hanya tersenyum senang.
"Dah, mana lagi?"
Sammy terpaku kaget, "Boleh pilih lagi?"
"Boleh."
"Tapi kata daddy, nggak boleh beli mainan banyak-banyak. Sammy nggak boleh nakal, nanti dimarahain daddy," Sammy menunduk sedih.
Dean terkatup. Satu-satunya alas an kenapa nggak boleh beli mainan banyak-banyak, karena dulu mereka tidak punya uang banyak. Uang ayahnya harus dibagi-bagi untuk penginapan dan makan sehari-hari, dan bensin, tidak lebih.
Dean berlutut di hadapan adiknya yang masih berwajah sedih.
"Daddy nggak akan marah, sayang, Sammy boleh beli mainan lagi."
Tapi Sammy menggeleng.
Dean menghela nafas dan menggendongnya. "Paman pilihkan, dan paman janji, daddy nggak akan marah."
Sammy masih terdiam.
Dean menuju rak dengan mainan karakter tokoh kartun. Ia mencari satu set tokoh kartun kesukaannya, dan mudah-mudahan masih ada, berhubung sudah beda tahun. Dan Dean langsung tersenyum lega begitu tokoh kartun yang dimasud masih ada dan masih diproduksi.
"Lihat Sammy, Thundercat! Sammy mau?"
Sammy terbelalak, "THUNDECATSS!" pekiknya girang. "Sammy mau!" serunya tanpa malu-malu.
Dean harus tersenyum senang, dan mengambil kotak mainan lalu diberikannya pada Sammy. Sammy menerimanya dengan senang hati. Ia langsung tenggelam dengan memandangi detail tokoh favoritnya dengan seksama. Senyum singgung senang tergores indah di bibir kecil itu.
Dean menghela nafas penuh kebahagiaan.
Selanjutnya, Dean tanpa sadar mengambil beberapa mainan lagi untuk Sammy, hingga keranjang mereka penuh. Sam harus terbelalak dengan mata kecilnya yang membulat besar menggemaskan
"Buat Sammy semua?"
Dean mengangguk pasti, "Yup, buat Sammy semua."
"Daddy nggak akan marah?"
Dean menghela nafas, harus berapa kalikah, ia meyakinkan adiknya ini, bahwa daddy mereka tidak akan marah.
"Tidak akan, kiddo," dengan mencolek hidungnya kecilnya. Sam tersipu dengan manisnya.
Dirasa cukup dengan belanjaan mainan yang menumpuk, mereka pun segera ke kasir.
"Wah, ada yang ulang tahun, nih," gadis cantik di balik meja kasir, menggoda hangat Sam, dengan melihat banyaknya mainan di dalam keranjang.
"Sammy nggak ulang tahun…," sahutnya langsung.
Dean harus tersenyum, adiknya memang sudah pintar dari jaman dahulu kala.
"Siapa bilang, Sammy nggak ulang tahun. Sammy ulang tahun tiap hari!" seru Dean jenaka.
Sam terbelalak kaget menggemaskan, "Tiap hari, daddy?"
Dean terkaget dengan Sammy memanggilnya Daddy. Benarkah Sammy baru saja memanggilnya daddy? Tapi mata binar Sam tidak berbohong.
Dean menarik nafas emngatur emosinya, dan mengangguk dengan tersenyum, "Yup, tiap hari,"mengacak rambut Sammy.
"Kami baru mengalami peristiwa buruk, Sammy kehilangan semuanya, dan saya hanya ingin mengembalikan semuanya sebelum peristiwa terjadi," Dean mencari alasan yang masuk akal pada gadis kasir cantik itu.
"Oh, saya turut simpati," gadis kasir itu menujukkan rasa simpatinya.
Dean tersenyum hangat, ia sempat melihat nama sang gadis kasir, "Terima kasih, Angel, kami baik-baik saja, kami pasti bisa melaluinya."
Angel mengangguk tersenyum simpati, dan menghitung semuanya.
"Nah, ini, ada hadiah kecil untukmu, sayang," Angel memberikan sebuah robot kecil pada Sammy, setelah selesai menghitung semuanya.
Sammy tertegun, dan sempat mendongak ke arah Dean meminta persetujuan, dan Dean mengangguk tersenyum, Dengan malu-malu Sammy menerimanya, "Terima kasih."
"Sama-sama, sayang."
Dean tersenyum, lalu membayar belanjaannya.
Dean menggendong Sammy, dan dengan satu tangan lainnya, membawa semua belanjaannya.
"Terima kasih banyak."
Angel hanya mengangguk, dan melihat ayah dan anak itu keluar dari toko mainan. Sebersit ada kekaguman di sana melihat seorang ayah muda tampan dengan putranya yang masih balita, yang mengalami peristiwa buruk, tetap bersemangat dan mencoba untuk semuanya kembali normal, meski ia tidak tahu peristiwa itu.
SPSNSPNSPSN
Dean menurunkan Sammy, "Diam di tempat ya, jangan kemana-mana"
Sammy mengangguk menurut.
Dean tersenyum dan memasukkan masukkan belanjaannya ke dalam bagasi.
Sammy memperhatikan pamannya memasukkan barang-barang itu semua ke dalam bagasi. Semuanya mainan untuknya. Tiba-Tiba matanya menangkap seekor kucing kecil berjalan pelan menyebrang jalan.
"Kitty!" serunya girang.
Dean mendengar seruan Sammy dan menengok pada Sammy yang sudah tidak ada di tempat awal, melainkan sudah berjalan menuju kucing kecil di tengah jalan.
"Sammy, jangan ke tengah!" sudut mata kiri Dean menangkap sebuah mobil berkecepatan sedang, akan melintas, dan Sammy tetap di tengah jalan. Jantung Dean berhenti seketika.
"SAMMMMY!" Adrenalinnya langsung bergerak cepat.
CIIIIIIIEEEEETTTTTTTT
BRUK
HUWAAAAAAAAA!
Semuanya terjadi begitu cepat, dalam hitungan detik.
Dean tersadar dengan suara pekik tangisan Sammy di pelukannya, dan posisinya sudah terduduk di tepi jalan, pantatnya terasa sakit karena membentur aspal dengan keras. Tapi tak ada yang melegakannya dengan suara Sammy di pelukannya. Dean lemas seketika, penuh kelegaan; ia berhasil menarik tubuh Sammy ke pinggir.
Mobil itu berhenti tepat di posisi kucing kecil itu berada tadi. Kucingnya sendiri, entah sudah lari kemana.
Tiba-tiba amarahnya langsung memuncak, Dean melepaskan pelukannya,
"Sammy, jangan pernah lakukan itu lagi! Sudah dibilang diam di tempat, diam di tempat!"
Sam semakin mengkeret ketakutan, setelah tadi shock, sekarang melihat paman kesayangannya marah besar, dan mengeraskan tangisannya, "Ma…aaaf."
Dean langsung luluh dan memeluk erat Sam, "Oh, Sammy, maafkan aku juga…, ya Tuhan, aku hampir kehilanganmu" dengan mengecup-ngecup kepala Sammy. "Terima kasih, Tuhan."
"Sammy, ada bubu nggak?" langsung memeriksa detil tubuh Sammy, mungkin ada yang terluka. Dean ingat, dulu Sammy memakai istilah 'bubu' bila ada yang terasa sakit atau luka.
Sam menggeleng di tengah isak tangisnya, dan kembali memeluk erat pamannya.
"Oh, Maafkan saya!" suara panik dan rasa bersalah masuk diantara mereka. Dean mendongak dan melihat wanita paruh baya menujukkan rasa khawatirnya. Ia pun menyadari beberapa orang sudah mengelilingi mereka menunjukkan simpati.
"Apa dia terluka?".
Dean menggeleng, "Sepertinya tidak ada."
"Maaf, dia tiba-tiba muncul di tengah jalan."
"Iya, tidak apa-apa, terima kasih," karena memang bukan salah wanita itu dirinya yang tidak menjaga Sammy dengan benar. Ia mencoba berdiri, dan Sammy semakin mempererat pelukannya di lehernya.
Dean mengatur emosinya juga jantungnya yang masih memburu. Ia masih shock, tapi sudah pasti, Sammy pasti lebih shock lagi. Mereka butuh penenang.
"Sammy mau es krim, nggak?"
Sam mengangguk lirih di dalam leher pamannya.
Dean hanya mengangguk, dan mengucapkan maaf lalu berpamitan padaorang-orang yang sudah berkumpul mengelilingi mereka.
Dean masih mendengar 'hampir saja…' , 'untung saja…' di belakangnya saat ia berlalu menuju McDonald. Ia semakin mempererat gendongan Sammy, ya, hampir saja … maafkan aku, Sam.
Dean memutuskan untuk tidak pergi ke McDonal, dan menggantinya ke Pancake House. Dean tidak mau mengambil resiko Sammy bertemu Ronald McDonal dalam segala bentuk ataupun gambar dari badut maskot restoran cepat saji itu. Dean tidak mau menambah stress, Sammy.
Sesampainya di Pancake house, Dean memilih kotak kursi yang sedikit memojok, jauh dari keramaian.
Dean langsung membuka buku menunya, dan langsung pada menu penutup alias es krim.
"Sammy mau apa?"
Mata kecil Sammy memilih-milih beraneka macam es krim yang tersedia di menu.
"Hello, boys..., mau pesan apa ?"
Dean mendongak dan melihat pelayan cantik bernama Grace (dari nama pengenalnya) siap dengan buku pesanannya.
"Dua pancake strawberry, juice anggur, root beer, dan...," Dean kembali pada Sammy yang masih bingung memilih. "Sammy...?"
"Sammy mau ini" telunjuk kecilnya menunjuk pada gambar eskrim tiga rasam; coklat, vanila, dan strawberry dengan hiasan marshamallow warna-warni yang mengundang selera.
Dean harus tersenyum, "Pilihan yang bagus, Sammy," dengan mengucek rambut Sam. Ia mendongak, "dan ini..., nona," memberikan senyum mautnya pada gadis cantik itu.
Sang pelayan muda tersenyum sipu, "Segera diantarkan," dan segera berlalu dari mereka.
Dean menarik nafas, dan menoleh pada Sammy. Jantungnya maslih berdebar jika mengingat tadi. Kecerobohannya, hampir saja mencelekakan Sammy. 'God, aku bahkan hampir nggak bisa melindungimu Sammy, maafkan aku, Sam, maafkan aku'.
Dean langsung memangku Sammy, dan mencium ubun-ubun adiknya erat-erat.
Sammy mendongak dan memberikan senyum polosnya. Dean terenyuh melihatnya, Sammy terlihat sudah tidak mengingat lagi kejadian tadi. Baguslah. 'Ow, Sammy...," dikecupnya sekali lagi kepala kecil itu penuh gemas.
"Pesanannya, Tuan...," dunia Dean berdua dengan Sam, tersadarkan dengan datangnya pesanan mereka.
"Es krim punya Sammy!" sorak Sammy kegirangan, langsung berdiri di atas kursi.
Dean tertawa geli.
Dan mereka pun segera menikmati makan siang mereka.
Dean tak hentinya memperhatikan Sam yang asyik dengan eskrimnya, sesekali menyelipkannya dengan pancake ke mulut kecilnya. Pipi kecil tembemnya juga tangannya, belepotan dengan eskrim dan sirup strawberry, Dean tersenyum melihatnya. Ia membersihkannya dan kembali pada makan siangnya.
Tiba-tiba, seseorang datang dan duduk di kotak kursi mereka berhadapan dengan Dean.
"Selamat siang, Nak."
Dean mendongak dengan kagetnya, begitunya juga dengan Sammy.
"Samuel?" Dean langsung siaga dan emosi, tangannya refleks memegang pistol yang terselip di belakang celananya. Belum selesai Dean terkaget dengan munculnya satu orang ini, Sammy memekik dengan traumanya...
"Orang jahat!" dan langsung naik ke pangkuan Dean dan menenggelamkan kepala di leher Dean, ketakutan.
TBC
Soooo ? what happened next ? Reviews please ... thenk you!
