Because of Your Pheromone!
Chapter III : Intuition
by killinheaven
Disclaimer: Kuroshitsuji (c) Yana Toboso
Warning: Shounen Ai | OOC | AU
Rating: T—nyaris semi M /ngek
Pairing: Sebastian X Ciel | Claude X Alois
Rambut pirang pucat milik remaja lima belas tahun itu berderai ringan dengan irama teratur seiring dengan hembusan angin yang berasal dari jendela mobilnya yang ia buka sepertiganya. Sesekali pandangan remaja itu menurun pada layar ponselnya yang sedang aktif menunjukkan beberapa tracklist lagu dan telapak kakinya menghentak pelan mengiringi tempo si irama lagu, menemani pemandangan malam yang ia nikmati dari balik kaca mobil ini. Alois Trancy agak santai untuk keluar malam ini, mengingat ia memang masih belum merasakan kantuk, maka ia mau-mau saja saat Ciel meminta tolong untuk menjemputnya di apartemen Sebastian. Ngomong-ngomong, ia keluar rumah dengan mobil begini tentu saja membawa supir, ia tidak mau berurusan lebih jauh dengan polisi karena belum mendapat izin mengemudi karena belum memenuhi umur yang legal meskipun ia sudah patut berbangga hati bahwa ia sudah mahir mengemudikan mobilnya.
Sesekali remaja ini juga terkikik mendapat balasan pesan-pesan menggelikan dari Ciel yang sampai detik ini masih terhubung dengannya melalui ponsel. Ia senang sekali menggoda Ciel, entahlah, lucu saja. Terlebih pada momen ini, sudah beberapa kali Alois mengirim pesan yang mengatakan hal-hal yang tidak-tidak—misalnya mencium Sebastian saat tidur, tidak akan ada yang tahu kan? Padahal, kalau seandainya Alois saat ini sedang berada di posisi Ciel, sudah pasti Alois tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang lebih dari emas ini.
Trancy tunggal ini memang sekilas seperti tidak pernah mempunyai masalah dalam garis kehidupannya yang seakan selalu berjalan pada kelurusan, membentuk sifatnya yang terkesan santai dan selalu menikmati hidup serta senyumannya juga selalu terlihat riang. Padahal sebenarnya...
...
... tidak ada apa-apa sih, memang begitulah kenyataan hidup Alois Trancy.
"Ah, sepertinya di sini." Alois berujar pelan dan mobil pun terhenti sejentik jari kemudian, pandangannya mencocokkan nama jalan dan nama apartemennya di hadapannya ini dengan notes kecil di dalam ponselnya. "Sepertinya iya. Aku turun dulu ya. Tunggu sebentar."
Dalam satu gerakan Alois keluar dari mobilnya dan dalam hitungan singkan pun ia menutup kembali pintunya. Kepalanya menengadah dan bola mata biru jernihnya itu dengan teliti mengamati bangunan tinggi yang terpampang menjadi pemandangan epik di hadapannya, dan tanpa sadar satu senyuman berarti perlahan tersungging di wajah putihnya. Entah apa yang ada di dalam otak anak ini, entah membayangkan hal ngeres tentang Ciel di atas sana atau memang ia benar-benar sedang mengagumi kemegahan apartemen itu, hanya Tuhan yang tahu.
Buk
Remaja itu sedikit terkesiap, menyadari bahwa ia baru saja menabrak ringan seseorang dari belakang. Tidak sadar sih, daritadi matanya menatap ke atas terus.
"Em, maaf—" namun, dalam waktu satu detik pun matanya menyipit seperti sedang memeriksa belakang orang ini dari atas sampai bawah, dan beberapa saat setelahnya barulah ia sadar nalurinya sebagai... uhuk, fanboy, mulai berjalan. "... CLAUDE!"
See? Bahkan dari belakang pun saja Alois sudah tahu siapa orang ini.
Yang tadi baru saja terpanggil namanya pun menoleh singkat, memandang dengan kerutan dahi yang terkesan acuh. Alois menyadarinya, tentu. Namun ia tidak peduli, lagipula ia sudah tahu luar dalam sosok Claude Faustus itu bagaimana. Dari naluri saja sudah bisa ketahuan sih, yang namanya fans itu adalah sosok peramal idolanya yang paling hebat dari apapun juga.
"Alois Trancy. Juniormu, kelas sepuluh. Dan aku salah satu fans-mu, iya benar, yang kadang-kadang suka ikut bersorak-sorak di kerumunan untuk melihat kau saat pelajaran olahraga!"
Satu alis Claude sedikit menaik, heran.
"Tidak perlu memperkenalkan dirimu, senior Faustus. Aku sudah tahu dirimu lahir-batin kok." senyuman hangat dari Alois, dan nyaris diiringi dengan dua bola matanya yang tertutup saking ramahnya. Dan itu memang dari hati, untuk informasi.
"Ada urusan apa kau di sini?"
Pertanyaan yang tidak nyambung dengan apa yang baru saja Alois katakan, baiklah. Tapi Alois bisa cukup bersabar.
"Aku mau menjemput temanku yang sekarang ada di kamar senior Michaelis. Tadi siang di sekolah dia pingsan dan karena ruang kesehatan tutup, senior Michaelis membawanya ke apartemen—"
Belum sempat seluruh kata-katanya habis untuk terlontar, orang yang ada di hadapannya ini mendadak membalikkan badannya dan kembali berjalan menjauhi. Karena bagi Claude, kalimat yang baru saja ia dengar itu sudah cukup untuk menjadi satu alasan yang ia mengerti. Alois pun juga terlihat mengerti, dua sudut bibirnya tertarik dan tak bosannya mengulas senyuman. Baginya, bagaimanapun Claude adalah sosok yang amat menarik, untuknya tentu saja.
"Kau mau ke kamar senior Michaelis juga, senior Faustus? Boleh aku ikut?"
Awalnya Alois kira ia hanya mendapat tanggapan kosong, namun beberapa detik kemudian ia spontan dua sudut bibirnya membentuk garis lengkung senyuman lebar ketika Claude menolehkan kepalanya dan menatap singkat dengan pandangan datarnya yang menurut Alois itu adalah satu bahasa nonverbal khas Claude Faustus untuk membolehkannya berjalan bersama. Segera saja tubuh kecilnya itu bergerak mengikuti Claude yang sudah terlebih dahulu masuk ke dalam lift. Beribu-ribu terima kasih akan Alois sampaikan pada Ciel nanti karena akhirnya ia bisa bertatap muka dan bicara dengan Claude, sumpah, ia janji.
"Ini sudah nyaris jam sepuluh malam, untuk apa senior ke sini?"
Krik.
Hening.
Bola mata Alois berpendar dan berhenti pada lembaran-lembaran kertas yang sedang tergenggam di tangan Claude, sejentik jari kemudian ia pun lagi-lagi tersenyum. Sepertinya akan ada diskusi kecil tentang musik, kumpulan lembaran-lembaran itu banyak terlihat tangga nada yang sama sekali tidak Alois mengerti maksudnya. Tapi bukannya Sebastian sekarang sedang tidur ya? Malah katanya Ciel, Sebastian sedang mabuk.
"Senior, akan ada lagu baru kah? Bukannya dua bulan lalu baru merilis single lagi? Kenapa tidak album dulu saja, ada beberapa lagu yang harus dimasukkan, senior! Aku mend—"
Decakan dari Claude, kecil, namun cukup untuk membungkam mulut Alois. Ya, pantas saja sih kalau seniornya itu merasa kesal. Alois bukan siapa-siapa, bahkan mereka baru saja bertemu, tapi Alois sudah bicara panjang lebar sok kenal meskipun memang itu sudah bawaan watak.
Lift terbuka, Alois pun masih tetap mengekori Claude karena ia sendiri pun masih belum tahu spesifiknya di mana kamar Sebastian itu. Beberapa derap langkah kemudian, Alois berhenti bergerak mengikuti Claude yang saat ini sedang berdiri di hadapan satu pintu dan mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu beberapa kali. Dan kali ini Alois hanya mengangkat alisnya heran, pemilik kamar ini kan sedang tidur.
"Senior Faustus, bukannya senior Michaelis sedang mabuk ya—eh.."
Claude sendiri yang mendengarnya bahkan baru ingat, namun satu hal yang membuat dahinya mengerut dan melemparkan tatapan heran pada Alois adalah bagaimana juniornya ini bisa tahu?
Seolah bisa membaca apa lekuk garis wajah Claude saat ini, Alois hanya bisa menundukkan kepala, "Temanku.. kata temanku yang ada di dalam.."
Pintu mendadak terbuka, bunyi deritannya sedikit mengagetkan dua makhluk yang sedang berinteraksi tipis ini. Namun yang menyembul keluar ternyata adalah seorang bocah berlabelkan Ciel Phantomhive, guratan wajahnya sedikit merasa agak heran kenapa Claude bisa ada di sini—dan yang terpenting, bersama Alois? Bayangkan, tiba-tiba Alois dan Claude yang ada di hadapannya adalah hal yang cukup aneh, mereka terlihat seperti dua pasangan yang sedang berkunjung. Tapi, dari mata Claude, ia jauh lebih aneh melihat satu junior ciliknya yang mendadak sudah ada di dalam apartemen Sebastian. Sungguh seperti sedang mengunjui kamar apartemen dari suami dan istri, meskipun ia sudah tahu alasan apa yang menyebabkan juniornya ini ada di sini.
"Ci.. Ciel Phantomhive." Dan yang Ciel bisa lakukan hanya ini, memperkenalkan diri. "Senior Michaelis.. sedang tidur."
"Ya. Aku lupa itu." Claude mendesah pelan, berjalan beberapa langkah dan menaruh lembaran-lembaran partitur itu di atas meja sebelum ia kembali berjalan ke arah pintu. "Aku akan pulang lagi sekarang."
Alois dan Ciel hanya masih bisa menatap.
"Mau ikut?" akhirnya, satu keramahan dari Claude, akhirnya.
Kepala Alois menggeleng, membuat rambut pirangnya itu berkibas ringan. "Tidak usah, aku bawa mobil, senior. Tapi terima kasih sekali ya!"
Satu tatapan kembali sebelum Ciel bergerak mundur dan Claude menutup pintu apartemen Sebastian. Claude sendiri pun sudah mulai bergerak menjauh dan menaiki lift, sementara Alois dan Ciel hanya menatap punggung dari laki-laki menawan itu.
"Senior! Aku tidak peduli apakah kau mau tersenyum atau tidak, aku tetap menyukaimu!"
Ciel yang mendengar teriakan heboh dari Alois itu tadi hanya bisa berjengit dan menatap Alois dengan nanar, nyaris tidak percaya. Namun orang yang dikhawatirkan Ciel hanya senyum-senyum saja, bahkan saat Claude sudah berbalik dan menyempatkan beberapa detik untuk menatap remaja pirang itu, Alois masih tersenyum.
"Kau agresif, Alois!" Ciel setengah menjerit tertahan ketika sosok seniornya itu sudah menghilang dibawa kembali oleh lift, "Nanti senior Faustus bisa—"
"Untuk apa berpura-pura menahan perasaan, Ciel? Aku bukan orang yang munafik kok."
Ciel hanya menatap geram, temannya ini sedang menyindirnya kah?
"Bukan menyindirmu, Ciel. Itu kan watakmu. Kalau aku yang memang selalu blak-blakan begini rasanya aneh kalau tidak agresif. Iya, kan?" Alois nyengir, menepuk pundak kecil temannya itu. "Untuk menyukai seseorang jangan pernah merubah diri menjadi orang lain~"
Dua sisi bibir Ciel hanya bisa terkatup, sirkuit otaknya tidak bisa lagi berputar dengan baik sehingga ia tidak menemukan kalimat balasan yang pantas.
"Sudah ah, ayo pulang."
~000~
Suatu kelas yang dalam keadaan suasana ribut dikarenakan jam masih menunjukkan jam istirahat mendadak makin bertambah luar biasa ribut dan memekakkan telinga dikarenakan kehadiran seseorang dengan rambut hitamnya serta iris mata merah namun menenangkan—singkatnya, kedatangan Sebastian Michaelis ke dalam salam satu kelas dengan tingkat sepuluh sungguh membuat ribut seisi kelas, teriakan-teriakan spontan membahana. Namun dua eksistensi yang sedang terduduk hadap-hadapan dengan satu earphone yang mereka bagi berdua, hanya bisa tercengang dan selama beberapa detik tubuh mereka mendadak membeku di tempat. Apalagi tepat ketika Sebastian berhenti di depan meja mereka, nyaris mata mereka keluar dari tempatnya saking kagetnya.
"Senior Michaelis!" satu dari remaja itu, Alois Trancy, nyengir lebar. "Ciel menunggumu daritadi!"
Tatapan mematikan dari Ciel sontak saja langsung menusuk temannya yang masih cengar-cengir dengan wajah tanpa dosanya itu. Siapa yang sedang menunggu Sebastian coba? Namun Sebastian memang ramah, jadi seniornya itu hanya balas tersenyum dan tidak ambil pusing.
Namun akhirnya Ciel memilih untuk tidak ambil pusing akan kelakuan Alois, "Ada apa kau ke sini, senior?"
"Maafkan aku, tadi malam. Aku lupa. Seharusnya aku mengantarmu pulang."
"Aku sudah meninggalkan pesan tadi malam, kan? Bahwa aku pulang dengan temanku ini." Ciel menjawab pelan—sebenarnya menahan malu—sembari mengedik ke arah remaja pirang di sampingnya ini. "Tidak apa-apa, senior Michaelis."
Sebastian hanya tersenyum canggung, mendadak suasana jadi semakin aneh. "Phantomhive, bisa ikut sebentar denganku?"
Mati.
Alois yang dengan bego-nya pun malah masih senyum-senyum dengan lebar seperti anak idiot, lupa bahwa Ciel kemarin mimisan dan parahnya sampai pingsan hanya karena Sebastian. Dan sekarang, Ciel juga tidak bisa berkata apa-apa lagi karena Sebastian sudah pergi terlebih dahulu tanpa mendengarkan jawaban juniornya itu. Mau tidak mau Ciel mengikuti langkah-langkah panjang seniornya itu, tidak lucu juga nanti kalau Sebastian menoleh tahu-tahu tidak ada orang.
Tidak menunggu jarum detik jam untuk berputar banyak ke kiri bagi mereka untuk menghentikan langkahnya. Mereka ada di taman sekolah yang tidak terlalu sepi dan tidak terlalu ramai, sengaja Sebastian memilih tempat yang tidak terlalu ramai karena seperti yang ia tahu banyak fans wanita ababil yang bertebaran di mana-mana, namun ia juga tidak mau memilih tempat yang sepi karena ia tidak mau disangka akan melakukan hal yang macam-macam terhadap adik kelasnya ini. Sementara Ciel tidak peduli mau dibawa ke mana, ia masih sibuk menahan diri dan sekuat tenaga mencegah hal kemarin terulang kembali.
"Phantomhive." Sebastian berujar, telapak tangannya menepuk bangku kosong di sebelahnya secara nonverbal menyuruh adik kelasnya ini untuk ikut duduk di sampingnya.
"Err, Ciel saja, senior." Ragu-ragu, namun perlahan Ciel akhirnya menempatkan dirinya di samping seniornya itu.
Sebastian mengulas senyum yang sadar atau tidak membuat wajah sempurnanya bertambah nilai plus, "Kalau begitu, panggil aku Sebastian."
Ciel hanya tersenyum tipis, malu, terlalu bingung untuk menjawab.
"Ciel, aku hanya ingin tahu.. tadi malam ketika aku pulang..."
Spontan, wajah remaja itu langsung mengeras. "Dengan laki-laki serba merah itu, Sebastian?"
"Damn."
"Aku tahu kau mabuk waktu itu, kok. Dan aku akan membungkam mulut, tidak akan kuceritakan pada siapa-siapa." Untuk pertama kali akhirnya Ciel menoleh ke arah Sebastian dan tersenyum, manis. Dengan ibu jari dan telunjuknya yang bersatu dan menelusuri garis lengkung bibirnya seperti menutup kunci restleting. "Tapi tadi malam itu kau seperti benar-benar menikmatinya. Hehe." Tawa garing, sejujurnya, padahal Ciel nyaris ingin membakar apartemen itu saking shock dan marahnya ketika melihat pemandangan yang tadi malam itu.
Sebastian berdecak, "Aku menyesal kau harus melihatnya. Itu buruk sekali."
"Tidak apa-apa kok."
Hening.
Suasana mendadak kembali menjadi canggung.
"Tapi..." Ciel pun perlahan kembali bersuara, mengingat daritadi ada yang mengganjal di otaknya. ".. siapa sih orang itu? Pacarmu?"
Sebastian sontak tertawa, membuat dua alis spontan Ciel menyatu dalam kebingungan. "Dia temanku sejak kecil, Ciel. Grell Sutcliff namanya, manager kami juga. Mungkin dia memang agak aneh kalau kau melihatnya, entah sejak kapan ia jadi seperti itu, tapi ia sebenarnya sangat baik."
Ciel hanya mengangguk-angguk mendengar kalimat-kalimat Sebastian yang mengalir melalui genda telinganya, "Kelihatannya dia menyayangimu loh, Sebastian." Tak ayal pun bayangan Grell tadi malam yang tersenyum tulus pun mendadak terefleksikan kembali di otak Ciel. Sebenarnya kalau orang yang namanya Grell Sutcliff itu tidak berkelakuan dan berpenampilan aneh-aneh sebenarnya akan menjadi seorang laki-laki yang tampan, Ciel mengakuinya dengan berat hati.
"Kami teman, tentu saja."
"Tapi serius, tadi malam dia—"
"Sudahlah, Ciel. Kau lama-lama terdengar seperti cemburu."
Sungguh tepat mengenai sasaran.
Namun Ciel hanya kembali bungkam, takut-takut salah mengeluarkan kalimat lagi.
"Ngomong-ngomong, Sebastian." Ciel kembali bersuara, satu senyuman melengkung di wajah mungilnya, "Alois itu, sangat menyukai Claude. Kau tidak lihat tingkahnya tadi malam sih."
Sebastian menolehkan kepalanya, garis wajahnya mendadak terasa tidak begitu nyaman, "Claude?"
"Aku tahu apa yang di pikiranmu, Sebastian. Kau takut Alois akan sakit hati, kan? Tapi Alois sudah tahu betul sifat Claude, aku yakin apapun yang Claude lakukan, Alois tidak akan peduli dan tetap akan menyukainya." Ciel tertawa kecil tanpa sadar, "Aku selama ini merasa sifat dia selalu seenaknya dan terlalu kekanakan, tapi sebenarnya dia jauh lebih dewasa dariku. Dia jujur, tidak pernah tertutup. Dan konyolnya aku merasa bangga mengetahui dia tidak akan pernah berhenti menyukai Claude apapun yang terjadi."
Pemuda bertubuh jangkung itu pun akhirnya mengulas senyum hangat ditambah dengan mata sayu-nya, tanpa sadar ia hanya menikmati dan menyukai bagaimana gerak-gerik juniornya ini dalam mengekspresikan ceritanya.
"Aku hanya ingin kau tahu bahwa temanmu itu mempunyai penggemar yang sangat hebat, Sebastian." Ciel kembali berujar, "Claude beruntung."
Sebastian menepuk pelan kepala Ciel dengan masih tidak melepas lengkungan senyumnya, membuat Ciel hanya bisa terperangah dalam diam. Ia tidak tahu pasti kenapa seniornya itu menyentuh rambut lurus kelabunya dan ia juga tidak mau tahu. Yang pasti, ia bersyukur karena yang ia rasakan saat ini bukan kinerja jantungnya yang melebihi cara kerja maksimal sehingga mau pecah, tapi ia senang karena kali ini ia bisa merasakan hal yang lebih condong pada rasa yang disebut dengan kenyamanan.
Dan mereka masih tetep statis di sana masih dengan posisi mereka, tidak bergeming sampai akhirnya dentang bel yang membangunkan mereka untuk kembali pada realita.
~000~
Dua tangannya bersedekap lengkap dengan dua kakinya yang bergerak-gerak karena tidak menapak tanah, Alois pun masih tidak bosan-bosannya menggunakan iris biru cerahnya itu untuk menonton pemandangan di hadapannya itu, sesekali menyunggingkan cengiran puas dan penuh akan kebahagiaan sampai akhirnya suara-suara gumaman tawa kecil pun terdengar. Sebastian dan Ciel ternyata sangat manis sekali kalau sedang berdua seperti itu, sungguh. Entahlah, kalau boleh jujur dari awal melihat mereka saja Alois sudah mulai mengira bahwa mereka sedari dulu memang ditakdirkan untuk bersama. Lihat lah chemistry mereka yang sangat menonjol, pokoknya Alois suka. Dan bel yang mendadak berdentang itu pun menyebabkan satu decakan sebal terlontar dari Alois, dengan ogah-ogahan ia pun bangkit berdiri dan berniat untuk kembali ke kelasnya.
Dan satu senyuman lebar pun terukir secara spontan pada pahatan wajah pucat sempurnanya ketika Alois melihat sosok yang baginya tidak akan pernah pudar pesonanya itu.
"Siang, senior Faustus."
Hanya mendapat balasan dengan satu tatapan yang biasa dari Claude saja Alois sudah puas, dan Alois sama sekali tidak pernah berharap lebih.
Tidak pernah.
~000~
Malam hari itu si Phantomhive muda ini hanya terkurung bebas di dalam kediaman rumahnya. Orang tuanya sedang pergi untuk mengurus urusan yang sama sekali Ciel tidak mau tahu, dan Ciel juga tidak pernah ambil pusing akan hal itu. Dan aktivitasnya malam ini juga hanya mengerjakan pekerjaan rumah yang sudah selesai dengan cepat, ia kembali menelepon Alois untuk menghilangkan rasa jenuh sembari memutar lagu-lagu favorite-nya—tentu saja lagu-lagu milik dua seniornya di sekolah itu, apa lagi?
Kadar kenistaan mereka untuk menjadi fans Kill In Heaven sedikit berkurang, mengingat mereka juga tidak terlalu asing lagi dengan orang-orangnya. Paling-paling hanya ada kekaguman dalam diam atau paling parah kalau meu berteriak flailing juga dalam hati, tidak ada kenistaan lagi. Menguntungkan bagi Ciel, tentu saja.
Remaja itu masih tertawa-tawa kecil dengan ponsel yang menempel di daun telinganya, mengobrol dengan Alois memang tidak pernah mengenal kata bosan.
"Ciel, tahu tidak? Aku merasa kau sedikit berubah akhir-akhir ini, setelah kau dengan lancar bisa berteman dengan senior Michaelis dua minggu yang lalu." Alois berujar dengan nada yang sedikit terdengar seolah remaja pirang itu sedang tersenyum bahagia.
"Eh?"
"Iya, Ciel. Kau menjadi sedikit kalem dan tidak pernah bermuka masam lagi. Kau menjadi anak maniiiis. Hehe."
Remaja itu yang kebetulan sedang berdiri di dekat sebuah cermin pun bergerak sedikit untuk menampilkan refleksi bayangan dirinya. "Kenapa kau tertawa, Alois?"
"Eh? Kenapa? Aku suka dengan sikapmu yang seperti ini kok!"
"Kau sendiri yang mengatakan bahwa jika kita menyukai seseorang, jangan merubah dirimu menjadi orang lain."
Alois terdiam sebentar, seulas senyum yang tidak pernah Ciel lihat pun tercelat di garis wajah remaja pirang itu. "Kalau yang kulihat, kau bukan merubah dirimu menjadi orang lain. Aku malah merasa kau kembali menjadi dirimu yang sebenarnya, menjadi anak yang baik dan manis. Cemoohan-cemoohanmu dan kata-kata menyebalkan yang seringkali terlontar dari mulutmu itu hanyalah ketidakseimbangan fase remaja menurutku, Ciel."
Remaja berambut kelabu itu hanya bisa mengacak rambutnya, tanda sedikit kebingungan akan kenyataan. Bukan Ciel tidak mengerti apa maksud temannya satu itu, tapi tidak mengerti akan Alois yang benar-benar seperti seorang konsultan.
"Begitu ya.."
Ia menggumam pelan sembari menciptakan langkah-langkah kecilnya mendekat pada dapur, beberapa detik kemudian satu tangannya bergerak membuka kulkas dan spontan satu alisnya menaik ketika menyadari satu minuman yang ia incar ternyata sudah habis daritadi pagi... ia lupa beli.
"Eh, Alois, nanti aku sambung lagi ya. Aku mau pergi sebentar beli sesuatu."
Di ujung telepon sana malah membalas dengan tawaan dengan volume yang cukup kecil namun nadanya aneh, "Mau beli susu ya, Ciel? Biar cepat tinggi~"
Ergh. Alois ini kenapa selalu tahu sih. "Memang kenapa, hah? Kupalu besok kau biar tahu rasanya jadi anak pendek. Sudah ah. Dah."
Bahkan gaungan tawa Alois serasa masih menempel di gendang telinganya meskipun ia sudah memutus sambungan teleponnya, sialan. Ciel melempar kecil si ponsel ke dalam saku celananya sebelum membuka kenop pintu dan keluar dari rumah, mengunci pintu dengan baik sebelum akhirnya benar-benar melangkahkan kakinya menjauh. Remaja itu berjalan dengan derap langkah pelan, santai sekaligus menikmati angin malam yang jarang-jarang ia rasakan untuk menyentuh kulih putih pucatnya. Ia biasa malas untuk keluar malam, meskipun sebenarnya kalau dipaksakan juga pasti sangat nikmat udaranya.
Beberapa derap langkah yang ia lakukan, matanya menyipit ketika melihat seseorang yang sedang amat sangat ia kenali sedang terduduk dengan dua tangannya yang menahan beban tubuhnya ke belakang, pandangannya terlihat sayu dan guratan wajahnya seperti sedang tanpa tujuan. Sebastian, sungguh kebetulan yang cukup membuat hatinya bekerja lebih aktif dari biasanya. Lokasi di sekitar rumah Ciel memang dekat dengan taman di pusat London, tempat favorite masyarakat sekitar. Namun entah kenapa malam ini terlihat sedikit sepi sampai ia bisa melihat sosok Sebastian di luasnya taman kota itu. Ciel kembali menatap singkat seniornya itu dengan pandangan yang bearti sebelum ia akhirnya memasuki minimarket, memenuhi tujuannya semula.
.
.
.
"Baik-baik saja, Claude." Sebastian menjawab pelan, mekipun tampangnya pemuda ini sedang diam, namun ia sedang terhubung dengan temannya di ujung telepon sana. Earphone yang tersembunyi di balik rambut hitam depannya yang dibiarkannya menjuntai, dan juga tersembunyi oleh jaket hitamnya. "Yeah, sudah kucoba mainkan sedikit-sedikit lagumu itu kemarin, aku pribadi menyukainya namun aku juga punya usul di beberapa bagian. Besok saja kita bicarakan lagi dengan yang lain."
"Baiklah. Ngomong-ngomong, kau sedang tidak di apartemen?"
"Hm. Tidak."
Jeda.
"Sebastian. Aku hanya merasa tidak peduli berapa banyak orang di sekitarmu, kau selalu merasa... kesepian."
Pemuda itu hanya bisa tersenyum geli kemudian, "Peduli apa juga kau, Claude?" dan yang ditanya tidak menjawab dalam waktu selanjutnya, hal itu hanya membuat Sebastian kembali tertawa kecil. "Lebih baik kau pedulikan saja junior kita si Trancy yang manis itu, sepertinya dia satu-satunya orang yang memerhatikanmu dengan tulus."
"Jangan mengalihkan pembicaraan, Michaelis." Nada menyeramkan yang mendadak terdengar dari Claude, cukup membuat Sebastian tahu bahwa emosi kawannya satu itu sedang menaik.
Jeda yang sama kembali terulang, Claude yang biasanya mengalah jika terjadi jeda seperti ini pun kali ini tetap tidak mengeluarkan sepatah suara pun. Membuat Sebastian akhirnya menghembuskan nafas panjang sebelum membuka dua sisi bibirnya untuk bersuara.
"Kau benar, Claude. Tidak peduli berapa banyak orang di sekitarku, aku selalu merasa tetap sendiri."
Derap langkah kecil mendadak mengalir gesit ke dalam telinga Sebastian, membuat kepalanya menoleh pada si sumber suara. Iris mata merahnya terlihat mengiringi pupilnya yang sedikit membesar ketika melihat seseorang yang familiar dengannya itu. Seseorang yang tidak pernah ia sangka bahwa bisa bertemu dengannya di tempat ini.
Ciel Phantomhive mengangkat tangannya beberapa derajat sebagai gerakan penyapa mengiringi senyumannya yang tanpa gigi.
"Claude, kusambung nanti."
Sebastian balas tersenyum pada remaja itu ketika jemarinya memutus sambungan. Sesaat pemuda itu sempat terpaku melihat remaja itu pertama kali dengan pakaian nonformalnya yang hanya mengenakan shirt putih simple dengan jeans yang cukup fashionable. Ditambah lagi dengan iris biru pekatnya dan rambut kelabunya itu sangat cocok untuk dipadukan dengan cahaya bulan yang sedikit mengenai sosok mungil tersebut, membuat Ciel menjadi jauh lebih cantik dari yang pernah Sebastian lihat sebelumnya.
"Aku tidak tahu kau sering ke sini, Sebastian. Rumahku dekat dari sini." Ciel menunjuk salah satu bangunan rumah luas sederhana tidak jauh dari posisi mereka saat ini. "Kau mau?" dan kali ini Ciel menyuguhkan satu kaleng softdrink ringan pada seniornya itu.
Sebastian menerima kaleng tersebut dengan gumaman terima kasih kecil dan menawari remaja itu untuk duduk di sebelahnya. Ciel menyeruput susu coklatnya melewati sedotan yang akhirnya berhasil ia beli tadi sembari mengambil tempat duduk yang Sebastian tawarkan sebelumnya.
"Sebastian, tadi aku dengar. Maaf ya."
"Hm? Tidak apa-apa. Bukan sesuatu yang besar."
Ciel sedikit bermain menggigit sedotannya sebelum akhirnya ia bersuara pelan, "Sayang ya. Padahal banyak sekali orang yang peduli padamu, fans-mu banyak. Tapi untuk selalu tetap merasa kesepian itu sesuatu yang buruk. Aku sendiri juga tidak suka kesepian."
"Fans terkadang hanya menyukai output, Ciel. Mereka tidak tahu siapa sebenarnya—"
"Tidak semua. Aku fans-mu kok." Dan entah kenapa Ciel mulai nekat membongkar aibnya yang selama ini sengaja tidak ia ceritakan semenjak perkenalan resminya dengan Sebastian. Ia mengamit ponselnya dan memperlihatkan Sebastian puluhan tracklist yang ternyata adalah lagu-lagu dari grup seniornya satu ini, dan spontan saja membuat Sebastian sedikit terperangah. "Aku... menyukai apapun dari dirimu. Apapun. Bukan hanya output. Alois juga fans Claude, dan kau tahu sendiri bagaimana sikap Alois pada Claude, kan? Tidak semua fans itu brutal kok."
Sebastian hanya bisa menanggapi kalimat-kalimat juniornya itu dengan satu tatapan berarti, yang entah bagaimana caranya tidak bisa ia lontarkan dengan satu kalimat.
"Aku tahu apa yang terjadi pada keluargamu, dan mengapa kau memilih tinggal di apartemen. Alois yang mengulik—kau tahu sendiri dia itu kalau sudah suka pasti bakat stalker-nya itu muncul."
Pemuda itu tersenyum tipis. "Masalah klasik, Ciel. Aku tidak terlalu memikirkannya."
"Hm. Ya sudah."
Tidak ada yang perlu mengetahuinya, sudah cukup dengan terbongkarnya kenyataan bahwa ia selalu tidak pernah merasa ada kehadiran seseorang teman. Sudah cukup kenyataan yang terbongkar bahwa ia memang selalu merasa sendiri. Hah. Ini semua hanya karena kenyataan mengesalkan untuknya semenjak ia ditinggal oleh ibunya dan si ayah yang lalu setiap harinya bersikap seolah Sebastian hanyalah manusia yang tidak terlihat. Menjengkelkan, bukan? Tidak ada yang peduli padanya sewaktu itu. Dan hanya karena hal mengesalkan itu, ia jadi merasa selalu sendiri hingga sekarang. Meskipun jujur saja bahwa ia sama sekali tidak pernah merasa terganggu akan perasaan itu, namun tetap saja ada kalanya ia sedikit merasa jengah akan kesendirian dan memilih untuk berjalan-jalan seperti apa yang sedang ia lakukan pada malam ini.
Dan jujur saja, ini bukan masalah yang begitu besar.
"Kau selalu merasa sendiri, tapi kadang perasaan tidak selamanya benar, kadangkali itu hanya satu emosi yang tidak stabil." Ciel berkomentar pelan, entah sejak kapan ia jadi ketularan Alois begini.
Sebastian hanya bisa tersenyum sembari menggelengkan kepalanya, tidak menyangka juniornya akan menghiburnya seperti ini, "Ya. Terima kasih, Ciel."
Ciel hanya mengangkat bahu dan alisnya, mengulas senyum tipis sebelum menenggelamkan dirinya pada sandaran kursi di belakangnya. Entahlah, ia merasa hanya sedikit malu saja setelah menyadari bahwa ia ternyata lumayan banyak bicara kali ini dan parahnya terdengar sok tua.
Suasana masih terasa seperti tidak bersuara bagi mereka, detik jarum jam yang terus berputar dan mengiringi si bulan yang sudah memasuki setengah masa kerjanya. Ciel kemudian sedikit terkesiap, merasakan jemari lembut itu kembali berada di atas kepalanya seperti apa yang dilakukan seniornya itu tadi siang, bedanya jemari itu sekarang bermain-main dengan helaian rambut halus kelabunya. Dan ketika ia menoleh, serta merta wajah Ciel merah padam ketika ia baru melihat dan menyadari bahwa ternyata sedaritadi Sebastian juga sedang memerhatikannya, entah memerhatikan Ciel bagian mana yang pasti ia hanya bisa terdiam membatu.
Sungguh, pemuda ini luar biasa tampan. Sangat. Ciel tidak bisa melakukan apa-apa lagi selain memertemukan sepasang kelereng safir langitnya dengan sepasang kelereng rubi merah delima tersebut, seolah terbius begitu saja tanpa ampun. Jemari Sebastian dirasanya berpindah posisi pada belakang kepalanya, perlahan dengan halus mendorong kepalanya ke depan sampai ia merasakan satu ciuman lembut dari pemuda itu mendarat di dahinya. Kedua bola matanya ia putuskan untuk tertutup, merasakan dinginnya bibir pemuda itu yang masih bertahan di sana beberapa lama.
"Sebastian.." hela nafas remaja itu merebak di tengkuk si pemuda, pemilihan waktu yang salah, hal ini hanya akan membuat Sebastian semakin intens dengan hangatnya nafas Ciel yang masih terasa panas di lehernya.
Bibir itu kemudian perlahan berpindah pada pelipis Ciel, mengecupnya perlahan sebelum akhirnya kembali bergeser pada bibir mungil Ciel dan menyapunya dengan lembut di sana dalam beberapa saat. Ciel sendiri, tidak kuasa untuk menahan dan perlahan mulai membalas ciuman itu dengan tak kalah lembutnya. Lengan Ciel yang pendek dan masih diam hanya bisa melingkari pinggang Sebastian, membuat badan mereka mendekat dan nyaris menjadi satu.
Merasa apa yang dilakukannya sudah nyaris kelewat batas, Sebastian akhirnya melepaskannya beberapa saat kemudian, dan kembali mereka hanya bertatapan dalam diam.
Kemudian dua senyuman hangat pun terulas mengikuti naluri yang entah darimana datangnya.
TBC
K-k-kenapa jadi mepet-mepet ke rating M begini, ya ampun, maaf T-T Iya saya otak mesum ya jadi nggak tahan dan... aaargh, beginilah *cakar2 rambut*
Btw meskipun bawa2 boyband, ini bukan fanfic komedi ya DX
chiko-silver lady: salam kenal juga! :D Saya juga author baru namun reader baru di sini ._. Ehehe, hal yang tak terduga? xD Bisa aja. Makasih banyak udah baca ya :D
Earl Yumi Trancy: aduh, makasih banyak, sayangku *peluk* tapi ada typo-nya kok, nggak serapi dan sebegitu apa yang anda katakan ._. Tapi makasih banyak udah baca ya:D
ariefyana Fuji Lestari: ahahah, ciel-nya nistaiin dikit lah, sebastian kan terlalu hot. Hehe. Eh, boleeh, makasih banyaaaak :D Dan makasih lagi udah baca :D
Keikoku Yuki: Gahaha, saia masih eternally ship SebaCiel kok xDDD Alois dan Ciel emang aw kalo dijadiin sahabatan, hehe. Makasih banyaaaak udah mampir, Yuki-chan :D
Kojiyama Michiyo: kaing~ kaing~ SebasGrell gila-gilaan berarti yang ini yang baru di-update apa namanya ya ._. Iya OOC, kan udah ada warning itu ehehehe. Claude sama Will belum dibikin senyum, belum bisa, masih aneh saya-nya :( biarlah jadi bahan tawaan aja karena muka mereka yang flat tanpa henti itu DX makasih banyak udah baca :D
Minta review boleh nggak? DX
