Update chapter 2~ Terimakasih buat saran2 & reviewnya.. Okelah, mulai aja kali ya.
Disclaimer : Hetalia (c) Himaruya Hidekaz
OC Indonesia/Kirana Kusnapaharani (c) koiyumu/Chinthya Anggraini
Warning : Gaje, garing, bakal ada adegan tembak-tembakkannya, dan mungkin ada.. Typo
KIDNAPPED
Cerita sebelumnya : Feliciano & Lovino diculik mafia, dan para mafia itu meminta uang tebusan sebesar 10 juta US Dollar. Ini sangat mengejutkan negara - negara lainnya.
Alhasil, negara - negara itu sekarang sedang berunding.
"Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Arthur membuka pembicaraan.
"Rasanya... Tidak enak kalau harus mengikuti perintah para mafia itu." jawab Alfred.
"Tapi, kita harus menyelamatkan Feliciano dan Lovino!" kata Antonio.
"... Daripada gelisah begini, lebih baik kita segera pergi menyelamatkan mereka." kata Ludwig. Raut wajahnya jelas menujukkan kekhawatiran.
"Oke, susun rencana saja dulu." kata Kiku, sambil membawa kertas dan alat tulis.
Mereka menulis-nulis sambil sesekali berdebat. Ide demi ide sudah dibuat dan persiapan segera dilakukan.
"Semuanya, mohon perhatian!" kata Ludwig. Negara-negara yang tadinya sedang mengobrol atau sibuk melakukan aktivitasnya sendiri segera memalingkan perhatian mereka pada Ludwig.
"Jadi begini, aku dan Antonio pastinya harus pergi menyelamatkan mereka. Siapa yang bersedia ikut? Tapi tak perlu banyak orang, cukup dua orang lagi saja." jelas Ludwig.
"Aku ikut! Sebagai seorang HERO, aku harus menegakkan keadilan!" kata Amerika mantap.
"Ah, aku juga ikut! Aku khawatir dengan keadaan mereka!" kata Arthur. Ia memang khawatir pada Feliciano dan Lovino, namun sebenarnya ia lebih khawatir pada Alfred. Yah, dia tidak ingin Alfred membuat keributan di sana atau malah terluka.
"Apa benar kalian tidak apa-apa kalau hanya berempat? Aku takut kalian malah dilukai.. Ingat, yang kalian akan hadapi mafia lho..." tanya Kirana. Gadis Indonesia itu memang selalu lembut dan penuh perhatian.
"Iya, tak usah khawatir, kami pasti selamat!" jawab Arthur sambil menyiapkan senjata - senjata yang mereka perlukan semacam pistol dan lain-lain.
"Baiklah, ayo berangkat!" kata Antonio.
Sementara itu... Di tempat Feliciano dan Lovino..
"Feli, kamu nggak apa - apa kan?" tanya Lovino pada adik kembarnya itu. Feliciano hanya bisa mengangguk. Sebenarnya Lovino itu kakak yang baik, hanya saja sifat juteknya itu bisa membuat orang salah sangka. Buktinya, ia mengkhawatirkan adiknya.
"Hei! Siapa yang menyuruh kalian mengobrol?" hardik salah satu mafia itu. Kedua pemuda Italia itu hanya bisa diam. "Huh, ditanyain malah nggak jawab." gumam mafia itu,kesal.
"Aaaaah lama amat sih! Mereka tuh niat nggak sih nyelamatin ni orang dua?" keluh sang bos mafia itu. "Yo aku ora ngerti, pikiri dewek sono.." gumam salah satu mafia.
"Heh apa lu bilang? Udah berani sama gue lu Ha? Ha?" kata bos mafia itu sambil menembakkan peluru pistolnya. Untungnya nggak kena.
"Wuedeh nyari mati lu? Lain kali jangan gitu, bos sensitif lho." bisik seorang mafia yang lain pada mafia itu. "I-iya deh" jawab mafia itu dengan muka pucat. Hampir saja peluru itu merenggut nyawanya.
Feliciano dan Lovino tak bersuara. Jantung mereka seperti mau copot rasanya. Mereka hanya mengharapkan satu : Bebas dari para mafia itu. Mereka pun sepertinya agak menyesal..
Mengapa tadi mereka hanya memperdebatkan hal yang tidak penting, sementara mereka tidak menyadari kalau mereka diikuti? Nasi sudah menjadi bubur. Mereka hanya dapat menunggu pertolongan datang.
Di mobil Ludwig..
"Ludwig, apa mobil ini tak bisa lebih cepat lagi?" tanya Antonio. Nada suaranya jelas menunjukkan kekhawatiran.
"Ini sudah kecepatan maksimal." jawab Ludwig mencoba untuk tenang, namun tak bisa.
"Itu gedungnya!" seru Alfred. Ya, mereka sudah sampai. Mobil itu diparkirkan, dan 4 pria datang dengan satu tujuan, yaitu menyelamatkan teman mereka.
Arthur membawa sebuah tas, yang kemungkinan berisi uang tebusan. Masing- masing dari mereka menyembunyikan sebuah pistol. Dan dengan segera, mereka berlari menuju gedung itu.
"Lantai berapa?" tanya Arthur. "Kemungkinan di lantai 7, tadi kulihat ada bayangan orang di sana." jawab Ludwig.
"Aduh, lift nya rusak pula!" kata Antonio setelah melihat lift. "Ya sudah, satu-satunya cara, pakai tangga!" kata Alfred.
Mereka berlari menaiki tangga sampai ke lantai 7.
BRAAAK!
Terdengar suara bantingan pintu yang tak lain disebabkan oleh Alfred. Suara itu membuat kaget 8 orang yang ada di dalam ruangan itu.
"Huh, pintunya rusak. Ah sudahlah. Akhirnya kalian datang juga.. Mana uang tebusannya?" tanya bos mafia itu dengan senyumannya yang mengerikan.
"Ini." kata Arthur sambil menyerahkan tas yang dari tadi ia bawa.
"Bagus." kata bos mafia itu sambil menyerahkan tas itu pada salah satu anak buahnya.
"Sekarang!" teriak bos mafia itu. Bunyi serentetan tembakan terdengar di ruangan itu. "Hei! Ini tidak adil! Curang! Lepaskan Feliciano dan Lovino dulu!" kata Ludwig sambil berusaha menghindari tembakan.
"Siapa suruh percaya pada mafia? Ha ha ha ha ha!" jawab bos mafia itu.
"Cih, licik sekali!" pikir Lovino. Ia marah sekali. Bahkan, ia pun melihat bahwa Feliciano menahan amarahnya. Tak biasanya Feliciano marah.
"Ludwig, awaass!" teriak Antonio. Ludwig tidak menyadari, ada seorang mafia yang bersiap-siap menembakkan peluru pistolnya. Dan saat Ludwig menoleh..
DOR!-
-To Be Continued-
OMAKE
(Saat mereka memutuskan siapa saja yang pergi menyelamatkan Feliciano dan Lovino..)
Arthur : "Ah, aku juga ikut! Aku tak akan membiarkan Alfred ku tercinta terpisah dariku! *blush*"
Alfred : "Oh, honey, kamu itu benar-benar imut sekali~ *peluk Arthur"
Arthur : "Uwaaaaaaa~ *blush(again)*"
Elizaveta : "Kiku, itu di negaramu namanya Shonen-Ai kan? *nunjuk TKP*"
Kiku : "Iya.. *senyum-senyum gaje*"
-End of OMAKE Kidnapped Chapter 2-
Note : Yo aku ora ngerti, pikiri dewek sono.. = Ya aku nggak ngerti, pikir sendiri sana..
Gimana gimana? Tolong kasih saran lewat Review nya yaaaa~~ Saya masih baru, masih butuh banyak saran.. Maaf kalau tidak memuaskan
Special thanks buat Rein 'Natha' Beilschmidt yang udah ngetranslate bahasa Indonesia ke bahasa Jawa nya.. ^^
