Halo~ Saya kembali setelah beberapa.. Err hari? Atau minggu? Atau bulan? O_O Ah sudahlah, maaf kalau saya lama update nya.. Banyak tugas, project, dan ujian dari sekolah. (Curcol? Maaf! #digampar) OTL. Di chapter ini Kirana Kusnapaharani a.k.a Indonesia (OC nya koiyumu-san) muncul lagi... Sekali lagi, saya sudah minta izin kok! XD
Oh iya, saya tidak tahu human name Netherlands dan Belgium, jadi, untuk memudahkan, berikut ini adalah human name karakter-karakter tersebut dalam imajinasi saya.
Netherlands = Jansens van Michiels (panggilan = Jan)
Belgium = Bella van Michiels (panggilan = Bella)
Disclaimer : Axis Powers Hetalia/Hetalia World Series (c) Himaruya Hidekaz
OC Republik Indonesia/Kirana Kusnapaharani (c) koiyumu/Chinthya Anggraini
Warning : Human name used, gaje, garing, ketahuan kalau ini fict pemula, sepertinya ada hints USxUK, GerIta, SpaMano, PrusHung, NetherexIndo. Dan mungkin ada.. Typo
KIDNAPPED
Cerita sebelumnya : Ada bom waktu yang siap meledak dalam 10 menit di gedung meeting! Apa yang harus Gilbert lakukan setelah mendengar ini?
"Cih, bagaimana ini?" pikir Gilbert. "Tak ada waktu untuk diam, pokoknya aku harus melakukan sesuatu!"
"Semuanya, mohon perhatian!" kata Gilbert. Semuanya mengalihkan perhatian mereka pada pria yang sedang berdiri di belakang sebuah meja itu. "Tadi mein bruder menelepon, katanya di gedung ini mafia itu telah memasang bom waktu yang akan meledak 10 menit lagi! Tolong tetap tenang, dan aku meminta kerjasama kalian semua." ujarnya. Keheningan langsung tergantikan oleh bisikan kekhawatiran di sana-sini.
"Oke, ehmm Roderich, Francis, Yao, Ivan, dan Kiku, bantu aku mencari bom itu.
"Aku juga ikut!" kata Elizaveta. "Jangan!" seru Gilbert.
"Kenapa?"
"Karena.. Karena.. Emm.. Eh, Elizaveta, bagaimana kalau kau bawa yang lain keluar menjauhi gedung ini- oh iya bawa saja mereka kembali ke hotel*, jelaskan juga pada cleaning service dan security gedung ini tentang apa yang terjadi di sini."
"Eh? Baiklah." sahut Elizaveta bingung.
"Aku ikut membantu kalian!" seru seorang gadis berambut hitam panjang. Ya, gadis berkulit langsat itu tak lain adalah Kirana Kusnapaharani, personifikasi Republik Indonesia.
Di sebelahnya, personifikasi Kerajaan Belanda berusaha menahannya.
"Jangan! Nanti kalau kau kenapa-napa.."
"Tidak apa-apa Jan! Aku pasti selamat! Lagipula, sejak kapan kau mengkhawatirkanku?"
Dengan wajah merona pemuda itu berkata, "Ehm, si-siapa yang khawatir? Sudahlah, aku dipanggil Bella! " serunya berlari kecil meninggalkan mantan jajahan kesayangannya itu.
"Dia memang tidak pernah berubah.." gumam Kirana.
Beruntunglah mereka hari itu adalah hari libur, sehingga orang-orang yang ada di gedung itu sedikit (dan memudahkan proses evakuasi), hanya mereka bersama beberapa cleaning service dan security. Beberapa security juga menawarkan bantuan untuk mencari bom itu di basement.
~(=,=)~
2 menit sudah berlalu..
"Argh! Di mana sih bom waktu gila ini?" gerutu Francis. "Baru dua menit Francis, kau mau gedung ini hancur? Di gedung ini banyak data-data rahasia dan penting yang tidak ada di tempat lain! Jadi, kalau gedung ini hancur, akan terjadi masalah yang gawat!" tegur Gilbert. "Maaf.. Aku cuma.. Panik.." kata Francis lemah dan agak tertegun, jarang dia melihat Gilbert serius. "Sudahlah, lanjutkan saja pencariannya!" kata Kirana.
3 menit sudah berlalu..
"Tinggal lima menit lagi. Apakah kita mau keluar sekarang?" tanya Roderich. "Jangan, kita keluar saat tinggal tiga menit tersisa saja." jawab Gilbert yang sedang memeriksa di balik gorden. "Benar, jangan menyerah sampai akhir, aru!" sahut Yao.
"Teman-teman! Jangan-jangan itu bomnya!" teriak Kirana menunjuk sebuah tas berwarna hitam. Mereka segera berlari menghampiri tas itu, dan Gilbert memeriksa isinya. Ternyata benar, di dalamnya terdapat sebuah bom waktu.
"Ketemu kau, bom bandel." gumam Gilbert, menyeringai.
~(=,=)~
3 menit sebelumnya...
"Eh, aku mau mengobati lukanya Ludwig dulu, ve~ Untung di sini ada kotak obat~" kata Feliciano. Tentu saja ada, sebab gedung itu adalah gedung bekas rumah sakit.
"Memang obatnya belum kadaluarsa? Mungkin itu hanya sisa-sisa yang tidak dibutuhkan saja, karena itu ditinggal di sini." kata Arthur.
"Ah, tidak! Lihat, tanggal kadaluarsanya tahun 2015! Masih lama sekali, old man!" sahut Alfred setelah memeriksanya.
"Hei, umurku masih dua puluh tiga tahun!" sergah Arthur.
"Iya, tapi sebagai negara, usiamu sudah ribuan tahun, jauuuuuh lebih tua dariku! HA HA HA HA HA!" sahut Alfred.
"Cih."
Arthur hanya bisa menggerutu dan mengumpat dalam hati. Kelihatan dari wajahnya kalau dia ingin sekali mengeluarkan kata-kata khas 'true British gentleman' nya itu. Daripada memarahi 'hamburger freak' satu ini, pikirnya, lebih baik membantu Feliciano mengobati luka Ludwig.
~(=,=)~
"Tinggal lima menit lagi! Kenapa belum ada kabar?" tanya Lovino khawatir. "Handphone ku rusak pula! Feliciano, coba pakai punyamu!" lanjutnya.
"Handphone ku juga rusak, fratello.. Entah sejak kapan bagian dalamnya jadi hancur begini.." jawab Feliciano sedih.
"Ah, anak buahku yang merusaknya tadi, supaya kalian tidak bisa berhubungan dengan dunia luar." kata Roberto.
"Maledizione!" seru Lovino, hampir membanting handphone nya seandainya tidak ditahan oleh Antonio.
"Whoa, está en calma, mi tomate~ Nanti ku belikan handphone yang baru deh!" kata Antonio berusaha menenangkan Lovino, dengan senyum manisnya.
"A-ap- Si-Siapa yang kau panggil tomat! Aku ini personifikasi negara Italia bagian Selatan! Namaku Italia Romano, human name ku Lovino Vargas! La-lalu, aku tidak butuh handphone darimu! Aku bisa beli sendiri kok!" sergah Lovino panjang lebar, jelas sekali berusaha menutupi rasa malunya.
"Ve~ Tapi muka fratello benar-benar merah kayak tomat lhoo~~" kata Feliciano ceria.
"Apa kau bilang?" tanya Romano dengan death glare nya.
"E-eh, tadi Feliciano bilang, 'muka fratello benar-benar muka khas Italia lho~~'. " sahut Ludwig asal, demi menyelamatkan sahabatnya itu dari 'terkaman' sang kakak yang- yah kalau sudah marah bisa lebih kejam dari mafia!
"Terserahlah." sahut Lovino.
"Jadi? Lovi mau iPh*n*, S*ms*ng, N*ki*, atau yang lain? Kalau untuk Lovi, apa aja boleh!" tanya Antonio menggombal(?) dengan senyum sumringah nya.
"Sudah kubilang aku tidak butuh handphone darimu!" sahut Lovino. Ups, wajahnya kembali memerah.
"Ve~ Aku juga mau~~" kata Feliciano.
"Hmm, nanti kubelikan deh." kata Ludwig, dengan pipi sedikit memerah.
"Ve? Benarkah! Wuaaah! Aku sayang Ludwig!" seru Feliciano sambil memeluk Ludwig.
"He-hei! Tidak usah memeluk!" seru Ludwig dengan wajah merah sekarang.
"Woi kau potato freak! Jangan peluk-peluk adikku!" teriak Lovino menunjuk-nunjuk mereka dengan marah.
"Lovi~ Yang memeluk duluan Ita-chan tahu~" kata Antonio. "Bagaimana kalau kita berpelukan juga!" lanjutnya, membuat wajah Lovino lebih merah dari tomat.
"Sembarangan! Siapa yang ma- Huaaa!"
Kalimat Lovino terpotong karena Antonio sudah lebih dulu memeluknya dari belakang. Walaupun Lovino meronta-ronta, tetap saja ia tidak bisa lepas dari pelukan mantan motherland nya itu. Akhirnya, ia pasrah saja.
"HA HA HA HA HA! Menarik sekali! Fabulous!" teriak Alfred sambil bertepuk tangan dan berlompat-lompat. Tanpa sadar ia menginjak kaki Arthur.
"OUCH! Sakit, you git! Sudah teriak-teriak di telinga orang, injak-injak kaki pula! Tch! Udah tahu kaki segede tronton! Dasar kau !~#$%^&*()_+." teriak Arthur akhirnya mengeluarkan bahasa 'true British gentleman' nya itu.
"Heee~ I'm sorry Arthur~" sahut Alfred dengan muka tak berdosa dan mata bersinar-sinar. Arthur hanya bisa terpesona- err terdiam melihatnya, teringat masa-masa saat Alfred masih kecil dulu. Ah, masa yang benar-benar ia rindukan.. Sejak kapan anak kecil yang imut dan polos, yang ia didik dan rawat dulu.. Menjadi gila hamburger dan maniak superhero begini?
Alfred dan Arthur akhirnya mengambil kursi yang ada di ruangan itu lalu duduk memperhatikan empat kawan mereka yang sedang asyik ribut sendiri itu. Mau tak mau akhirnya Arthur tersenyum juga.
"You know, Alfred.." gumam pria bekas pirate itu pada mantan koloninya.
"Hmm?"
"Friendship sometimes can be better than human himself."
"Yeah, you're right, Arthur.." jawab Alfred tersenyum.
"Hayo hayooo kok berdua romantis gini siih~~" kata Antonio tiba-tiba muncul di belakang mereka.
"WHUAA! HANTUUU! HANTUNYA MIRIP ANTONIO!" teriak Alfred sekencang-kencangnya tepat di telinga Arthur lagi.
"ITU MEMANG ANTONIO, ALFRED YOU GIT! BLOODY HELL! SUDAH KUBILANG JANGAN TERIAK-TERIAK DI TELINGA ORANG! TELINGAKU BUDEG NIH!" balas Arthur balas meneriaki si pemuda Amerika yang sudah merinding disko itu.
"Tolong kau jangan berteriak juga, Arthur.." ujar Ludwig sweatdropped melihat kelakuan dua orang itu.
"Ah, maaf Ludwig." kata Arthur tiba-tiba dengan gaya 'true British gentleman' nya kembali.
Riing riing riing
"Ve~ Handphone mu berbunyi Ludwig~" seru Feliciano yang sedang bergelantungan di leher Ludwig dengan riang.
"SMS.. Dari Elizaveta." kata Ludwig sambil membuka SMS yang ditujukan untuknya itu.
Tiba-tiba ekspresi Ludwig berubah.
"Ada apa potato freak?" tanya Lovino.
"Feliciano tolong bacakan." kata Ludwig datar, menyerahkan handphone nya pada Feliciano.
Feliciano membacakan SMS dari Elizaveta itu yang berbunyi :
"Ludwig, kakakmu beserta Roderich, Francis, Yao, Ivan, Kiku, dan Kirana tetap tinggal di gedung meeting untuk mencari bom waktu itu. Aku sendiri ada bersama negara-negara lain di lobby hotel. Sepuluh menit sudah lewat, dan aku sudah mencoba menghubungi orang-orang yang ada di sana. Namun, tak ada yang menjawab. Apakah kau sudah mencoba menghubungi kakakmu? Aku khawatir sekali, jangan-jangan terjadi sesuatu padanya- maksudku pada mereka semua."
"Eh? Kenapa mereka tinggal di sana? Nekad sekali!" seru Antonio.
"Tidak, jika aku ada di sana, pasti aku akan melakukan hal yang sama. Kita semua tahu, jika gedung itu hancur, akan terjadi masalah yang gawat." jawab Ludwig. Wajahnya sudah memucat sekarang.
"Ve~ Ludwig, wajahmu pucat.. Emm, tenanglah, me-mereka pasti selamat. Jangan berpikir yang buruk-buruk dulu." kata Feliciano berusaha menenangkan sahabatnya itu, meskipun suaranya juga sedikit bergetar.
"He-hei, lebih baik kita juga ke hotel saja, tidak usah berlama-lama di sini." usul Alfred. Tumben sekali ia tahu situasi.
"Baiklah. Ayo cepat berangkat." sahut Arthur.
"Kau juga ikut." kata Lovino pada Roberto.
Roberto hanya diam, mengangguk pelan.
"Fratello, bagaimana dengan anak buahnya?" tanya Feliciano.
"Nanti saja diurusnya, lagipula mereka semua masih tidak sadarkan diri setelah Antonio, Ludwig, Arthur, dan Alfred hajar tadi. " jawab Lovino. "Yang penting bawa bos nya dulu." lanjutnya.
Mereka berlima akhirnya berangkat menuju hotel tempat negara-negara lain berada. Ada apa sebenarnya ini? Kenapa tak ada kabar dari Gilbert dan yang lainnya?
-To Be Continued-
OMAKE
Antonio : *peluk-peluk Lovino*
Lovino : *berontak* *pasrah*
Feliciano : *peluk-peluk Ludwig*
Ludwig : *protes* *pasrah*
Alfred & Arthur : *teriak-teriakan* *diem berduaan*
Roberto : *cengo* Akhirnya ada adegan peluk-pelukan! Ada yang berduaan pula! Shonen-ai alert!(?)
Author(?) : Yeaaah! Kamera-kamera! *jepret-jepret* Kiku! Elizaveta! Kalian pasti suka ini! HA HA HA HA HA! Ketularan Alfred
6 nations stress(?) : Wooi! Author! Jangan sekali-kali kasih itu foto ke Kiku atau Elizaveta! Nyampe mereka berdua pasti nyebar! Lagian lu kenapa muncul di sini ha! XO
Author : *muka imut (failed) mode on* Terserah dong kapan saya mau muncul *disiksa*
Note :
*hotel = Para nations tersebut melakukan meeting nya di tempatnya Amerika, karena itu mereka menginap rame-rame di sebuah hotel yang lumayan jauh dari sana.
- Mein Bruder : Adikku
- Fratello : Kakak/adik/saudara laki-laki
- Maledizione : Sialan
- Está en calma, mi tomate : Tenanglah, tomatku
Huaaaaah, akhirnya chapter ini selesai juga! Maaf kalau kepanjangan dan membosankan. =,="" Ngomong-ngomong apakah ada yang nyadar di chapter ini saya memakai kata 'true British gentleman' sebanyak tiga kali? :D #gakpenting
Okeee, supaya saya bisa menyelesaikan chapter selanjutnya silahkan review yaaa! Saya akan selalu menerima saran-saran dari readers semua!
