Haii semuaaa~ Saya kembali setelah sibuk berbagai macam hal! Hahahahaha! *curcol lagi* #dihajar
Aaah lupakan yang barusan =="" Karena ini adalah chapter terakhir, saya harap endingnya dapat memuaskan readers sekalian :""D Jangan lupa saya masih pemula! Kalau update cerita lama! Berbulan-bulan baru selesai satu cerita! Udah gitu abal pula! *pundung gara-gara diri sendiri(?)*
Karena saya tidak tahu human names Australia dan Wy, dalam imajinasi saya inilah human names mereka:
Australia = Ralph Campbell (panggilan = Ralph)
Wy = Madeline Campbell (panggilan = Madeline/Maddie)
Baiklah, tanpa berlama-lama lagi, selamat membaca! XD
Disclaimer : Axis Powers Hetalia/Hetalia World Series (c) Himaruya Hidekaz
OC female!Republik Indonesia/Kirana Kusnapaharani (c) koiyumu/Chinthya Anggraini
OC male!Malaysia/Ikhsan Baharudin (panggilan = Ikhsan) (c) Hetalia Lover
OC male!Brunei Darussalam/Ridwan Alamsyah (panggilan = Ridwan) (c) Hetalia Lover
OC female!Singapore/Clarisa Tian Mey (panggilan = Risa) (c) Hetalia Lover
OC female!Timor Leste/Laetitia Silva (panggilan = Titi) (c) Hetalia Lover
Warnings : Human name used, gaje, garing, ketahuan kalau ini fict pemula, sepertinya ada hints USUK, GerIta, SpaMano, PrusHung, NethereIndo, BruneiSingapore, SeaWy. Dan mungkin ada.. Typo
KIDNAPPED
Cerita sebelumnya : Tak ada kabar dari Gilbert dan kawan-kawan yang berusaha menyelamatkan gedung meeting itu. Padahal sudah lebih dari 10 menit. Khawatir, Arthur, Alfred, Ludwig, Antonio, Feliciano, Lovino, dan Roberto pergi menuju hotel tempat yang lainnya berada.
"Kita sudah sampai." ujar Ludwig keluar dari mobil M*rc*d*s B*nz besar hitam mengkilap seri terbaru buatannya sendiri itu. Namun, melepas fokus dari mobilnya, kelihatannya Ludwig tenang-tenang saja- atau berusaha terlihat tenang. Tak ada kabar dari kakak dan teman-temannya tentu membuatnya khawatir, bukan?
Sebenarnya yang khawatir tidak hanya pemuda kekar bermata biru langit itu saja, lima temannya juga merasa begitu. Roberto tentu tidak masuk hitungan, sang bos mafia itu sekarang hanya bisa terdiam memikirkan perbuatannya selama ini.
Dengan cepat mereka berjalan memasuki gedung hotel megah tersebut. Sesampainya di lobby, mata mereka tidak menangkap keberadaan teman-teman mereka. Di mana yang lainnya? Tunggu.. Itu Peter dan Madeline!
"Peter!" panggil Arthur pada adiknya itu.
"Arthur? Hei kau sudah kembali! Aku dan Maddie baru saja kembali dari jalan-jalan karena bosan menunggu kalian. Kalian tahu, saat kami masih di gedung world meeting, saat Gilbert-sok-awesome itu mengumumkan sesuatu, aku sedang berada di toilet. Maddie yang sedang mendengarkan lagu lewat earphone nya tidak mendengarkan pengumumannya. Tiba-tiba semuanya bergegas dan kami disuruh ikut ke hotel ini. Saat kami bertanya, mereka hanya bilang 'Turuti saja kata Gilbert tadi.' Ada apa sih? Bukannya Feliciano dan Lovino sudah selamat?" tanya Peter setelah penjelasannya yang panjang.
"Itu.. Biar nanti kujelaskan.." jawab Arthur. 'Jadi ia tidak tahu ada bom di gedung meeting?' pikirnya.
"Yang lain ada di mana, kecil?" tanya Lovino. "Uuuh, jangan panggil aku kecil, maniak tomat! Yang lain ada di ruang serbaguna." jawab Peter sambil memprotes julukan yang ia tidak senangi itu.
'Anak ini kurang ajar sekali.' gerutu Lovino dalam hati. Agak takut juga ia didamprat Arthur kalau ia marah-marah pada Peter. Padahal Arthur kadang-kadang juga ingin memberi pelajaran pada adiknya yang usil, bandel, nakal, dan kurang ajar itu. Dia saja bingung kenapa Madeline bisa berteman dengan adiknya. =="
~(=,=)~
Dengan segera mereka memasuki ruang serbaguna, dan benar saja, yang lain ada di ruangan itu. Tapi mana tujuh orang yang tetap tinggal di gedung meeting itu? Jangan bilang..
"Hei! Kalian sudah kembali!" "Feliciano! Lovino!" "Astaga, kalian pasti lelah!" "Hmm? Siapa orang ini?" "Kalian bertarung dengan penculiknya ya?" "Ceritakan apa yang terjadi!"
"Kami tidak apa-apa, terima kasih." jawab Feliciano dan Lovino berbarengan menjawab rentetan pertanyaan itu.
"B-Bruder.. Dan yang lainnya.. Mana?" tanya Ludwig.
Tiba-tiba semuanya hening.
"Tak ada yang bisa menghubungi mereka. Selalu out of range atau masuk mailbox." kata Elizaveta dari ujung ruangan.
"Elizaveta-"
"Benar, sudah berkali-kali aku mencoba menelepon Kirana. Tidak dijawab." sahut Jansens yang sedang duduk di sebuah kursi besar.
"Apakah sejak kalian menunggu di sini terdengar bunyi.. Ledakan atau semacamnya?" tanya Antonio takut-takut.
"Tidak, tapi dari tadi di sini ribut sekali.. Sulit untuk mendengar bunyi-bunyi dari luar." jawab Bella.
"Ukh.."
"Hei, kita cek saja ke sana!" usul Alfred.
"Ve~ Iya, daripada begini terus, lebih baik kita pergi ke sana!" sahut Feliciano.
"Sebagian ikut, sebagian tinggal di sini kalau-kalau mereka kembali, dan sebagian bawa Roberto ke kantor polisi. " kata Lovino.
"Dan sebagian lagi tolong urus kawanan mafia yang sudah diborgol Alfred tadi di lantai 7 gedung bekas rumah sakit ujung jalan World Street ini. Maksudku, bawa mereka ke kantor polisi." jelas Arthur.
"Terbagi jadi empat tim ya." kata Antonio.
~(=,=)~
Akhirnya mereka ber-enam dan beberapa negara lain pergi menuju gedung meeting.
Begitu sampai di sana..
Gedung itu masih.. Utuh.
"Eh?"
"Ve~ Gedungnya masih utuh!" teriak Feliciano.
"Lalu, kenapa bruder dan kawan-kawan tidak bisa dihubungi?" tanya Ludwig.
"Kita cari saja mereka di dalam! Hero in action!" seru Alfred seraya berlari masuk.
"Hoi, tunggu!" sergah Arthur ikut berlari masuk. Semuanya ikut berlari masuk.
~(=,=)~
"Kiranaaaaaaa!" teriak Jansens.
"Kikuuuuuuuu!" teriak Heracles dan Sadiq berbarengan, seakan tidak mau kalah dari Jansens.. Walaupun pada akhirnya mereka malah berdebat memperebutkan siapa yang boleh mencari Kiku.
"Hei-hei, tolong jangan berdebat di sini!" tegur Arthur, yang sukses membuat Heracles dan Sadiq diam.
Mereka terus mencari dan menggeledah seluruh gedung itu, tanpa hasil. Sampai akhirnya..
"Eh? Ini kan.." gumam Ludwig menatap suatu benda di lantai. Ia mengambilnya, lalu memeriksanya.
Sebuah Iron Cross yang sama persis dengan miliknya, hanya saja terkena sedikit percikan darah.
"Darah.." pikir Ludwig.
Dengan segera Ludwig menggenggam Iron Cross nya untuk memastikan miliknya masih terkalung di lehernya. Ada. Kalau miliknya masih ada, artinya.. Seperti dugaannya, ini Iron Cross milik kakaknya! Tapi darah siapa ini?
"Hei! Ada orang berbaju hitam pingsan di sini!" seru Antonio tak jauh dari tempat Ludwig menemukan Iron Cross itu. Ludwig begitu terpaku pada Iron Cross itu sampai tidak melihat keadaan sekitarnya.
"Sepertinya orang ini salah satu dari kawanan mafia itu." kata Lovino setelah melihat orang tak dikenal itu.
"Ve~ Mungkin dia yang memasang bom di sini!" jawab Feliciano.
"Iya-ya! Untuk jaga-jaga sebaiknya dia diborgol saja, lalu nanti kita bawa ke kantor polisi yang ada di dekat sini! Biar sang hero ini yang memborgolnya! HA HA HA HA HA!" seru Alfred memborgol orang itu.
"Nggak usah ketawa-ketawa!" bentak Arthur yang kakinya masih kesakitan gara-gara diinjak Alfred tadi.
Sementara itu, Ludwig masih berpikir keras. Apa yang terjadi pada kakaknya? Oh, jangan-jangan kakaknya bertemu dengan orang ini lalu memukulnya sampai pingsan? Tapi, orang itu sepertinya tidak terluka, artinya darah siapa yang ada di Iron Cross ini? Apakah kakaknya terluka? Semakin dipikir, semakin pusing saja Ludwig rasanya. Mungkin karena ia kelelahan memikirkan Feliciano tadi. Sungguh hari yang panjang untuk Ludwig.
"Hei, mungkin mereka sudah kembali ke hotel? Mungkin mereka menggunakan jalur yang lain karena itu tidak berpapasan dengan kita?" tanya Jansens.
"Benar juga! Tumben kau pintar." seru Antonio tersenyum senang. "Apa katamu?" kata Jansens dengan death glare nya.
"Ehm.. Lebih baik kita cepat kembali." ujar Ludwig sebelum terjadi kerusuhan di situ.
Mereka pun cepat-cepat kembali ke hotel setelah sebelumnya menyerahkan orang yang pingsan itu ke kantor polisi. Kantor polisi sepertinya sedang sibuk karena kawanan mafia yang lain, termasuk Roberto, diserahkan ke sana semua."Cepat juga kerja teman-teman nations yang lain," pikir Arthur.
Di luar dugaan(?), polisi Amerika bekerja dengan profesional.
"Lalu kenapa personifikasi negaranya ancur begini?" kata Arthur dalam hati menatap mantan koloninya itu.
"Hmm? What's wrong, Arthur?" tanya Alfred yang melihat tatapan Arthur itu.
"Nothing." jawab Arthur singkat.
~(=,=)~
Sesampainya di hotel, mereka berlari menuju ruang serbaguna.
BRUAKH! Pintu ditendang oleh Jansens. "Mana Kirana?" tanya pemuda Belanda itu.
"Broer, wees niettrappende deur!" tegur Bella.
"Mereka belum datang. Padahal dari tadi kami para cewek sudah menunggu di sini." jawab Elizaveta pelan.
Tanpa sadar Ludwig menggenggam erat Iron Cross milik kakaknya itu. Wajahnya semakin pucat.
"Ve~ Ludwig.." kata Feliciano sambil memegang tangan Ludwig dan menatap matanya.
Ia tidak berkata apapun, namun Ludwig tahu. Jangan khawatir, itulah yang ingin dikatakan Feliciano.
"Kakak.. Paling tidak balas smsku dong! Pelit pulsa amat sih! Katanya kaya, tapi beli pulsa aja suka minjem duit orang! Udah gitu gak dibalikin lagi!" omel Ikhsan, adik sekaligus tetangga Kirana yang dari tadi sibuk dengan handphone nya. Ikhsan mirip sekali dengan Kirana, hanya saja dia seorang laki-laki.
"HEH SEMBARANGAN! EMANGNYA KAMU HAH SUKA NYONGKEL CELENGAN ORANG?"
Suara itu..
Semuanya refleks menoleh ke arah pintu masuk. Dan di sana berdiri Kirana, Kiku, Francis, Roderich, Yao, dan Ivan! Yang berteriak tadi tentunya Kirana.
"Kirana!" Jansens langsung berlari dan memeluk gadis itu.
"He-hei Jansens?" Kirana memerah mukanya karena tiba-tiba dipeluk seperti itu.
"Oh, maaf." gumam Jansens cepat-cepat melepaskannya dengan muka memerah juga. Dia sendiri bingung kenapa dia berani berbuat seperti itu. Sepertinya negara tulip itu tidak sadar kalau dia sedang dipelototi dengan garang oleh Ralph dan Ikhsan.
"Kau tidak apa-apa kan?" tanya Ralph sambil mendorong Jansens ke pinggir.
"Eh? Ah iya.. Terimakasih." jawab Kirana yang masih bingung.
"KAKAAAK!" teriak Ikhsan, Ridwan, Clarisa, dan Laetitia sambil ramai-ramai menyerbu kakak sulung mereka itu.
"Astaga, kalian ini mau bikin kakak kalian budek ya? Lagipula Ikhsan, sejak kapan ya kakak minjam uang kamu buat beli pulsa? Bukannya kamu yang waktu itu nyongkel celengan kakak buat beli pulsa?" protes Kirana dengan sebal menatap adik tertuanya.
Belum sempat ia menjawab, Ludwig bertanya, "Mana bruder? Lalu bagaimana kalian bisa menyelamatkan gedung itu dari bom waktu?"
"Oh iya,aru! Begini ceritanya, aru!" jawab Yao.
-Flashback-
"Ketemu kau, bom bandel." gumam Gilbert, menyeringai.
"Lalu, kita apakan bom waktu ini? Tinggal 5 menit lagi!" seru Francis.
"Apa kita bongkar dan potong kabelnya seperti di film-film?" tanya Kirana.
"Ini bukan film, Kirana.. Lagipula kita tidak tahu kabel mana yang harus dipotong!" jawab Gilbert.
".. Di belakang gedung ini ada danau kan?" tanya Kiku.
Semuanya terdiam sejenak.
"Hei! Kita lempar saja ke danau,aru!" seru Yao.
"Benar juga! Mana pintu yang menuju ke danau?" tanya Gilbert memegang bom tersebut.
"Aku tahu! Ikuti aku! Pintunya ada di dekat ruang piano!" kata Roderich.
Mereka berlari sekencang-kencangnya mengikuti Roderich ke tempat yang dimaksud.
"Ini dia!" seru Roderich di depan pintu kaca tersebut.
"Terkunci!" teriak Kirana yang sedang berusaha membukanya.
"Minggir." kata Ivan mengeluarkan pipa air yang biasa ia bawa itu.
"Awas!" teriak Gilbert menarik Kirana.
PRAANG!
Alhasil, pintu kaca itu pecah.
"Ayo cepat,aru!" teriak Yao.
"Tinggal 1 menit lagi!" teriak Kirana terengah-engah.
"Apa yang kau tunggu? Cepat lempar!" seru Roderich pada Gilbert.
"Belum!" teriak Gilbert. Jaraknya dari danau memang masih agak jauh.
Mereka terus berlari mendekati danau.
10,9,8,7,6..
"Gilbert!"
Dan Gilbert pun melempar.
BYUR! Bom itu masuk ke danau.
3,2,1,0.
...
"Kenapa tidak terjadi apa-apa?" tanya Kiku.
"Kita capek-capek ternyata itu bukan bom asli?" ujar Gilbert.
"Gimana sih? Bikin khawatir saja." Kirana mengeluarkan handphone nya. 17 SMS dari Ikhsan, dan 22 miscall dari Jansens.
Tiba-tiba..
BRRUAAAASSHH
Air dari danau tersebut muncrat ke atas, seperti air mancur yang besar, membasahi seluruh benda yang ada di sekelilingnya. Termasuk tujuh nations yang ada di tepi danau.
".. Bom nya asli, aru." gumam Yao.
"Dan sekarang kita basah. Yah, padahal ini baju baru~" sahut Francis.
"AAAAAARGHH! HAPE GUEEE!" teriak Kirana histeris melihat handphone nya yang sudah tidak berfungsi berkat air tadi.
"Ehm.. Tenanglah, Kirana-san." kata Kiku menenangkannya.
"AAAAAARGHH!" teriak Gilbert.
"Kenapa lagi sih?" tanya Roderich sebal.
"Maaf, kalian kembali saja duluan! Iron Cross ku hilang! Sepertinya terjatuh di suatu tempat." jelas Gilbert berlari ke dalam gedung.
-End of Flashback-
"Oh, begitu.." kata Arthur mengangguk-angguk setelah mendengarkan cerita Yao dan kawan-kawan tadi.
"Lalu saat kami ke sini, kami membersihkan badan dan ganti baju dulu di kamar kami masing-masing. Kan tidak enak basah-basah~" kata Francis dengan tebaran bunga mawar(?).
"Tapi, Iron Cross bruder kutemukan tadi di dalam gedung itu, di dekat orang yang pingsan tadi! Lihat, ada berkas percikan darah. Memangnya bruder terluka?" tanya Ludwig.
"Eh? Orang pingsan,aru? Kami tidak tahu soal itu, sebab kami keluar dari sana menggunakan pintu belakang, bukan pintu utama,aru!" jelas Yao.
"Tentu saja orang itu pingsan, karena aku yang awesome ini yang memukulnya."
Ludwig terbelalak. Dengan segera ia melihat ke belakang. Dan di sana, ada kakaknya!
"Bruder!" Ludwig segera berlari mendatangi kakaknya.
"Es tut mir leid West, verlor ich mein Eisernes Kreuz.." kata Gilbert meminta maaf pada adiknya karena telah kehilangan Iron Cross berharga kenang-kenangan mereka berdua itu.
"Bruder, dein Eisernes Kreuz ist hier." jawab Ludwig tersenyum tipis sambil menyerahkan Iron Cross itu pada kakaknya.
"Ich-Es .. Wo siehst dues gefunden? Danke, West.." ujar Gilbert berterima kasih pada adiknya itu.
"Hoi Gilbert! Kau terluka?" tanya Elizaveta mendekatinya.
"Oh ini.. Iya, tadi saat aku yang awesome ini sedang mencari Iron Cross ku, lenganku sedikit terserempet peluru yang ditembakkan orang nggak jelas yang tiba-tiba muncul itu. Mungkin dia salah satu dari kawanan penculik Feli &Lovino yang memasang bom itu. Tch, beraninya menyerang saat orang sendirian. Tapi akhirnya aku yang awesome memukulnya dan dia pingsan! Kutinggalkan saja dia di situ dan cepat-cepat ke sini. Aku melakukan pertolongan pertama pada luka di lenganku ini dan mengganti baju. Lalu aku ke sini dan mendengar kalian berbicara." jelas Gilbert panjang-lebar.
"Ve~ Luka Gilbert sama dengan lukanya Ludwig~" kata Feliciano.
"Eh? West, bist du verletzt?" tanya Gilbert memperhatikan lengan Ludwig.
"Jaein wenig,aber es ist okay." jawab Ludwig menenangkan kakaknya.
"Yang pasti, sekarang semuanya kembali seperti biasa!" teriak Antonio sambil memeluk Lovino.
"Lepaskan aku, maledizione!" ronta Lovino dengan muka memerah.
"Iya! Kesimpulannya, Feliciano dan Lovino selamat berkat sang HERO!" teriak Alfred, lagi-lagi tepat ke telinga Arthur.
"You git! Stop yelling at my ear!" teriak Arthur.
"Mon chere, yang penting abang Francis sudah di sini untukmu~" ujar Francis mendayu-dayu.
"Siapa yang butuh! Dasar kau #!$%^&" teriak Arthur mengeluarkan kata-kata manisnya itu.
"Semuanya, ingin bersatu denganku, da?" tanya Ivan.
"Tidak, terimakasih, aru." jawab Yao sweatdropped.
"Oi, oi Gilbert! Ceritakan bagaimana kau menghajar orang itu!" "Feliciano! Lovino! Ceritakan pengalaman kalian!" "Jadi, kau menembaknya, Alfred? Arthur?" "Kirana kamu tidak diapa-apain cowok-cowok itu kan?" ".. Kau menggunakan pipa air itu untuk memecahkan kaca, Ivan?" "Luar biasa!"
Ya, akhirnya suasana kembali seperti semula. Kawanan mafia itu diadili dan dipenjara, sedangkan Roberto sepertinya terus memikirkan perbuatannya di balik jeruji besi. Luka Gilbert dan Ludwig sembuh dengan cepat, berhubung tubuh mereka berdua sangat sehat. Kirana, Feliciano, dan Lovino akhirnya membeli handphone baru..
Dan, yang pasti.. Kejadian kali ini tidak akan mereka lupakan seumur hidup, terutama Feliciano dan Lovino yang semakin memperhatikan sekitarnya.
-THE END-
OMAKE
Arthur : "Kayaknya, ada yang kelupaan deh.."
Alfred : "Apaan? Gilbert udah balik kan?"
Feliciano : "Ve~ Iya, kayaknya kita lupa sesuatu."
Lovino : "Apaan sih? Kalau nggak ingat artinya bukan sesuatu yang penting!"
Ludwig : "Benar juga, apa ya? Iron Cross? Tapi sudah kuberikan ke kakak.."
Gilbert : "Ke awesome –an ku nggak hilang kok."
Elizaveta : "Ge-er amat sih!"
Kirana : "Memang sih, dari tadi ada aura-aura aneh.."
Antonio : "Sudah-sudah, lupakan! Kita makan tomat saja!"
Nun jauh di sudut ruangan, seseorang sedang duduk mengawasi mereka semua..
Canada : "... Kapan ya giliranku bicara tiba?"
Kumajirou : "Dare?"
Canada : "Canada da yo.."
Note:
- Broer, wees niet trappen de deur! : Kakak, jangan tendang-tendang pintu!
- Es tut mir leid West, verlor ich mein Eisernes Kreuz.. : Maaf West, aku kehilangan Iron Cross ku..
- Bruder, dein Eisernes Kreuz ist hier. : Kakak, Iron Cross mu ada di sini.
- Ich-Es .. Wo siehst du es gefunden? Danke, West.. : I-Ini.. Di mana kau menemukannya? Terima kasih, West.
- Eh? West, bist du verletzt? : Eh? West, kau terluka?
- Ja ein wenig, aber es ist okay. : Ya sedikit, tapi tidak apa-apa.
- Maledizione : Sialan
- Mon chere : My dear
Akhirnya tamat jugaaa :"D Maafkan atas keleletan saya, dan maaf kalau ceritanya abalan begini =w=" Maaf kalau bahasa Jerman nya kebanyakan, untuk lebih menjiwai saja(ea) dan terimakasih untuk Google Translate yang sudah sangat banyak membantu saya~ ^^
Untuk Yuu Yurino-san, sedikit hint PrussiaxFem!Indonesia nya udah kerasa belum? Saya memang memberi banyak hint berbagai pairing, tinggal pembaca yang menentukan, mau fokus ke pairing mana hehe :D
Terimakasih sudah membaca dan saya selalu menunggu review pembaca sekalian.. Ehm, tapi jangan flame yang kasar yaa Saran-saran yang membangun selalu saya terima XD
