Previous Chapter!

"Jina.."

Jaejoong menoleh ke arah Yunho yang sedang tersenyum kepadanya. Tersenyum manis. "Ada apa, Yunnie?"

"Aku ingin mengatakan sesuatu.." jawab Yunho serius.

Jaejoong menggelengkan kepalanya bingung. "Ada apa, Yun? Kau mau bicara apa?"

"Aku rasa.." Yunho menundukkan kepalanya. "Sepertinya aku.."

"Hmm?" Jaejoong terus dengan sabar menunggu perkataan Yunho sambil dalam hati menerka-nerka apa yang akan dikatakan oleh Yunho.

'Apa yang ingin kau katakan, Yun? Ayolah jangan buat aku penasaran~ eh—tunggu.. Apa jangan-jangan?'

Wajah Jaejoong berubah jadi pucat, ia panik. Bagaimana kalau Yunho.. Astaga. Jaejoong tidak bisa membayangkan hal itu.

"Aku.."

"Ne?"

"Aku menyukaimu, bolehkah aku menjadi pacarmu?"

.

.

Jaejoong's Revenge

Dong Bang Shin Ki / YunJae / Humor / Crack fanfiction

I don't own the character(s)

Summary : Kenistaan mengawali pertemuan Kim Jaejoong dan Jung Yunho. Si evil Jaejoong dan Yunho si playboy bodoh. Bagaimana mereka bisa menjalani hidup mereka-err-bersama?

Don't blame me because I post weird thingy like this ~

.

.

"Aku menyukaimu, bolehkah aku menjadi pacarmu?"

MATI SAJA KAU, KIM JAEJOONG!

Jaejoong memandang gelisah ke sekeliling, ia mencari-cari manusia di taman ini yang kira-kira utusan Tuhan dari atas sana untuk menyelamatkannya. Tapi sialnya tidak ada seorangpun yang ada di penglihataannya saat ini. Kemana perginya semua orang? Tadi 'kan ramai..

"Err.. A-aku.. Anu.."

Tuhan, aku mohon berikan aku malaikat penolong.. Setelah aku selamat dari situasi nista ini, aku janji akan mentraktir orang yang menyelamatkanku itu sampai orang itu puas. AKU JANJI BAKAL RAJIN KE GEREJA! GAK NGINTIPIN TETANGGA MANDI LAGI! JANJIIIIII! Batin Jaejoong frustasi.

"Jina, apa jawabanmu?" tanya Yunho lagi, kini dengan nada yang cukup mendesak. Wajahnya benar-benar menaruh harap pada Jaejoong sementara Jaejoong dalam keadaan hidup segan matipun tak mau.

"A-aku.." gagap Jaejoong, matanya masih melirik-lirik ke tempat lain. Menghindari kontak mata langsung dengan Yunho.

"Hmm?" si bodoh Yunho masih terus menunggu jawaban Kim Jina dengan sabar.

"WOY!" dan entah darimana asalnya suara garang ini...

"C-Changmin-ah!"

Yunho dan Jaejoong langsung berdiri begitu sosok tinggi Changmin sudah berada di hadapan mereka dengan wajah murka. Jaejoong memandang cengo dan Yunho tengah berpikir, sepertinya ia kenal sosok yang berada di hadapannya sekarang ini.

"Chagi! Kau sedang apa disini, hah?" tanya Changmin kepada Jina—Jaejoong dengan nada membentak, rahangnya mengeras dan wajahnya merah padam. Seperti seorang lelaki yang menangkap basah kekasihnya tengah berciuman dengan lelaki lain di bawah air mancur.

Jaejoong memandang pongo Changmin, seolah meminta penjelasan hal konyol apa lagi yang dilakukan sepupunya tersayang ini. Yunho memandang Jaejoong dan Changmin bergantian, apa yang terjadi?

"Changmin-ah, a-apa yang kau lakukan disini?" tanya Jaejoong tergagap-gagap, ia melirik Yunho yang ternyata tidak kalah cengo dari dirinya sendiri.

Well, Jaejoong saja tidak mengerti apalagi Yunho..

"Apa? Kau masih berani bertanya apa?" tanya Changmin dengan nada tinggi. "AKU BARU SAJA MEMERGOKI KEKASIHKU TENGAH BERCIUMAN DAN MESRA DENGAN LELAKI LAIN DI TAMAN KOTA DI BAWAH AIR MANCUR!"

Jaejoong cengo, Yunho kicep, rumput pun bergoyang.

Memergoki? Kekasih? Berciuman? Mesra? Jaejoong? Changmin? Yunho? WHAT?

"A-aku.."

"DAN KAU!" teriak Changmin emosi sambil menunjuk Yunho tepat di hidung. "Kau pikir kau siapa bisa mengajak pacar orang kencan seenaknya? HAH? Udah ganteng emang?"

"Ta-tapi aku.." Yunho melirik Jaejoong kecewa. "Jina.. Kau.. Setelah apa yang kita lalui seharian ini, ternyata kau punya pacar? Kenapa kau membohongiku.."

Jaejoong kembali cengo, dan Changmin tidak kalah pongo. Kenapa Yunho jadi melankolis begini?

"A-aku, sebenarnya aku mau bilang kepadamu.. Aku sudah punya pacar, Yunnie—"

"JANGAN PANGGIL AKU YUNNIE!" teriak Yunho tiba-tiba, berhasil mengagetkan Jaejoong dan Changmin. Yunho menangis! Mwo?

'Bagaimana ini? Dia menangis..' kalau diartikan begitulah maksud pandangan Jaejoong pada Changmin saat ini.

Changmin hanya mengangkat bahu tidak peduli. 'Salahmu sendiri, aku gak mau beliin balon!'

What the..

"Jina, aku tulus mencintaimu. Semenjak pertama kali melihatmu, aku sudah jatuh cinta padamu. Rasanya aku sudah kenal lama denganmu padahal kita baru bertemu tadi pagi. Konyol? Tapi lebih konyol lagi kau! Aku benar-benar menyukaimu dan ini balasannya..?" tanya Yunho lirih. Ia tertunduk dan kedua tangannya mengepal.

"..kau ini cinta pertamaku, Jina. Selama ini memang aku dekat dengan banyak wanita, tapi hanya kau yang bisa memberikan aku arti cinta yang sebenarnya.." lanjut Yunho, suaranya bergetar.

Changmin dan Jaejoong saling berpandangan.

"Setelah seharian ini kita bersama.. Boo dan Yunnie.. Jalan-jalan dan bermain di Lotte World.. Ternyata.." dan berakhir dengan isakan Yunho.

KENAPA JADI BEGINI, YA TUHAN! Batin Jaejoong horor. Ia tidak pernah melihat lelaki yang labil dan galau macam Yunho seperti ini, apalagi ia galau karena... Laki-laki..

"Aku.. Terima kasih sudah membuat hatiku sakit, Jina." Ujar Yunho sambil memandang lurus Jaejoong. "Aku tidak mau mengenalmu lagi, selamat tinggal."

Yunho pergi, Jaejoong diam tidak bergerak, angin berhembus sepoi-sepoi.

"Hyung.. Kau baik-baik saja?" tanya Changmin setelah lima menit berlalu dan Jaejoong tidak juga bergerak satu inci pun dari tempatnya.

"A-pa.."

Changmin memandang horor wajah Jaejoong yang kini menghadap padanya. Wajah-wajah para penghuni masa depan yang suram dan kelam.

"BERHENTI SEPERTI ITU, HYUNG! KAU MENAKUTIKU!" teriak Changmin sambil menggeplak wajah Jaejoong hingga Jaejoong kehilangan keseimbangan dan...

BYURRRRRRR

Nyemplung di air mancur belakangnya.

"PUAHHHH!" Jaejoong tiba-tiba muncul dari dasar kolam, memandang Changmin penuh dendam. "APA YANG KAU LAKUKAN, BODOH?"

"AKU TIDAK SENGAJA, HYUNG!"

"CIH!"

Jaejoong berdiri dan melepas wig panjangnya dengan emosi, dahinya berkedut ketika menyadari kalau seisi taman sekarang sedang terpusat pada dirinya. Sudut matanya menangkap ibu-ibu yang menutup mata anaknya, gadis-gadis yang menjerit histeris dan anak-anak kecil yang menertawainya.

"APA YANG KALIAN LIHAT DISANA?" teriak Jaejoong emosi, semuanya terdiam. "KENAPA KALIAN MASIH DIAM DISANA? BUBAR SEMUA BUBAR!"

Dan saat itu juga taman tersebut kosong, tersisa Changmin dan Jaejoong.

"APA YANG KAU LIHAT?" teriak Jaejoong pada Changmin. Ia keluar dari dalam kolam sambil terus memandang Changmin penuh dendam.

BRUGH!

"Aaaww!"

"Kau baik-baik saja, hyung?" tanya Changmin sambil membantu Jaejoong untuk berdiri. Sebenarnya Changmin ingin sekali tertawa, tapi ia masih sayang nyawa.

"Sakit sekali.." keluh Jaejoong sambil mengusap-usap bokongnya, terpeleset setelah berenang sebentar di kolam air mancur taman dan kemudian menjadi bahan tontonan satu kota bukanlah hal yang mudah untuk Kim Jaejoong. "Sakit!"

Changmin diam, matanya terus mengamati tubuh Jaejoong, seperti ada yang mengganjal. "Hyung, di dadamu itu apa yang bergerak-gerak?"

"Hah?" Jaejoong langsung mengintip dari sela kerahnya dan mendapati sebuah ikan mas yang sudah menggelepar kekurangan air di dalam dadanya. Jaejoong memungutnya penuh rasa jijik, memandang nista ikan tersebut dan kemudian membuangnya ke sembarang arah. "AAAAAAAA!"

"Kau kenapa, hyung?" tanya Changmin polos. Padahal dalam hati dia sudah tertawa sampai kehabisan kotak tawa (?).

"KAU MASIH TANYA KENAPA? TANYA SAMA BUYUTNYA PRESIDEN PERTAMA AMERIKA SANA!" sembur Jaejoong sambil melempar high heels-nya. "Aku tidak mau tahu, sekarang antarkan aku pulang!"

"Hyung manja."

"CEPAT!"

.

.

12.30 PM

Korea Central Mall, Starbucks Coffee

"Hah? HAHAHAHAHAHAHAHAHA! Lalu lalu, Jaejoong-hyung nyemplung ke kolam air mancur lalu tergelincir? Lalu, ada ikan yang masuk di bra-nya? HA—HAHAHAHA!"

Jaejoong menempeleng kepala Junsu yang sibuk me-review ulang hasil dongeng Changmin sampai kepalanya terbentur meja.

"KAU BISA TIDAK SIH NGGAK PAKE TERIAK-TERIAK SEGALA?" teriak Jaejoong murka sambil menjitak kepala Junsu dari hati. Sementara Junsu sambil terisak memilih untuk pindah duduk di samping Changmin—depan Jaejoong.

Mereka sedang berada di sebuah kafe di sebuah mal terkemuka di Seoul setelah beberapa hari kasus Jaejoong's Revenge tersebut. Setelah kepulangan Junsu dari Amerika, Changmin yang tidak tahan untuk memendam cerita ini sendirian langsung membagikannya kepada Junsu dan hasilnya, ya seperti tadi.

"Sumpah itu hal paling nista yang pernah ada yang pernah kudengar!" lanjut Junsu sambil tertawa sekencang mungkin, Changmin yang memperhatikannya juga ikut tertawa, dan Jaejoong yang sedang dinistai hanya bisa cemberut, bertopang dagu dan mengalihkan pandangannya.

"Terus terus, si Jung Yunho itu tahu tidak kalau sebenarnya Kim Jina itu adalah laki-laki?" tanya Junsu setelah tawanya reda.

Changmin dan Jaejoong saling berpandangan.

"Ayo jawab~"

"Err, sebenarnya.."

.

.

12. 40 PM

Jung Residence, Jung Yunho's room.

"APA?" jerit Yunho horor. "JADI WAKTU ITU YANG AKU CIUM DAN AKU TEMBAK ITU ADALAH LAKI-LAKI?"

Yoochun hanya tertunduk diam, tidak bisa berkata apa-apa lagi kalau Yunho sudah ngamuk seperti itu. Daripada dia salah ngomong, lebih baik diam.

Sebenarnya Yoochun paham betul perasaan Yunho sekarang ini. Yunho menyukai seorang wanita cantik, mereka jalan bersama seharian, di hari pertama Yunho sudah dilabrak oleh pacar dari wanita cantik tersebut, tidak mau keluar kamar sampai berhari-hari, dan ternyata wanita cantik itu adalah LAKI-LAKI!

Sakit, 'kan?

"JADI CINTA PERTAMAKU ITU..."

Yoochun hanya memasang tampang abstrak sementara Yunho kini sedang menjambak rambutnya kuat-kuat dan berguling-guling frustasi.

"LIHAT PEMBALASANKU, KIM JAEJOONG!"

.

.

THE END!

I'm so sorry for the late update! Hope y'all like it, readers!