Ini Dia Chapter 2
Tehehehee
Sepertinya saya udah ketahuan ya…
Ohohohohoo ^o^
Congratz Milosoya, Anda benar :D XD XD
Saya adalah si gaje penulis fic berjudul BROKEN
Yahahahahaaa
Ya, silakan baca kelanjutannya XDDD
INSECURE
KH is not ours. It is SE's
RATE: M
LEMON nih atau LIME atau STRAWBERRY yah?
PAIR: as always, SORA X ROXAS
Sho-ai
YAOI alert XDDD
DON'T LIKE, DON'T READ
ENJOY!
Pengisian angket selesai begitu pula dengan pelajaran pagi itu. Sekarang jam istirahat. Aku memilih untuk duduk di kelas dan mengeluh akan hidup ini. Axel menghampiriku dan aku ingat, Sora juga masih ada di kelas waktu itu.
"Hai, Roxanne."
"Berhenti memanggilku Roxanne. Namaku Roxas," cibirku, tanpa melihat wajahnya. Dasar aneh.
"Nanti malam kau mau datang ke pesta rumahku?"
"Tidak," jawabku cepat. Kalian tahu? Keluar rumah di malam hari akan membuatku menerima hukuman dari Sora. Dia akan mengikatku di kasur seperti korban pemerkosaan seperti yang ia lakukan beberapa hari yang lalu saat aku keluar bersama teman-teman untuk menghadiri konser sebuah band lokal.
Aku selalu pasrah pada semua yang Sora lakukan padaku. Apa dayaku. Aku hanya clone-nya yang gagal dan memuakkan. Begitulah Sora menyebutku setelah orang tua kami pergi ke luar negeri.
"Ouh, kenapa?" dia terdengar kecewa.
"Jangan tanya alasannya," balasku.
"Oke. Sampai jumpa besok." Axel melangkah keluar dari kelas. Aku menghela nafas lega namun, tiba-tiba nafasku tercekat begitu kurasa hembusan nafas hangat di leherku.
"Kau akrab sekali dengannya."
Aku masih menahan nafas.
"Dia masih menyukaimu, ya?"
Pupilku mengecil.
"Kau mau menjawab perasaannya?"
Aku mengerjap.
"Kau suka dia?"
Aku berusaha menggeleng.
"Dasar mata keranjang."
"Tidak..." akhirnya aku bicara. "Aku tidak menyukainya... Sora, ada apa denganmu?" kurasakan seluruh tubuhku gemetar.
Sora berdiri. "Hei, teman-teman!" dia berteriak. Sisa siswa di kelas segera melirik padanya.
"Ada apa, So-kun?" jawab salah seorang.
Sora menyunggingkan senyum licik padaku.
"Hei, dengar. Bocah ini!" dia menunjukku.
"Sora, apa-apaan kau ini?" kataku berusaha membela diri. Tapi Sora tidak menghiraukanku.
"Kalian tahu kenapa hanya dia yang ingat pada nama guru rambut merah yang sinting itu?"
"Kenapa?" balas yang lain.
"Karena mereka tidur bersama kemarin! Whore ini tidur bersama pria sinting itu!" seru Sora. Seisi kelas melotot tak percaya termasuk aku. Ya, Tuhan kenapa Sora tega berkata demikian pada adiknya sendiri? Aku tahu aku ini peniru. Aku memiliki wajah dan bentuk tubuhnya, aku meniru warna bola matanya, tapi aku masih manusia. Aku masih punya hati. Dan dia telah menyakiti hatiku.
"Astaga! Tak kusangka..." seisi kelas bergumam.
"Padahal kupikir dia anak baik-baik.."
"Tapi dia pasti telah tidur dengan orang lain juga. Dia kan gay."
"Orang seperti dia cuma akan mempermalukan kelas kita."
Aku merasa air mataku hampir tumpah. Rasanya seperti baru saja dijatuhkan dari tebing karang yang sangat tinggi.
"Itu tidak benar!" aku berteriak. Mereka menatapku jijik. "Aku..bukan seperti yang Sora katakan.. Dia bohong.. Selama ini dia bohong..."
"Apa?" seisi kelas kembali bergumam. Bel berbunyi dan tak ada yang melanjutkan perdebatan itu. Aku tidak bisa berkonsentrasi pada pelajaran hari itu. Aku sedih..dan takut.. Apa yang akan menimpaku setelah ini? Tak bisa kubayangkan.
Aku mencapai rumah setelah sekolah hari itu. Sora tak bicara denganku di sekolah. Dia menjauhiku - atau aku yang menjauhinya.
Aku masih tak bisa membencinya sepenuhnya..
Kami tanpa sengaja bertatap wajah di kamar. Sebenarnya aku tidak mau tapi, Sora memulai pembicaraan.
"Kau mau kencan dengan Axel nanti malam?"
Aku tersentak, "Kenapa kau berpikir demikian?"
"Aku dengar pembicaraan kalian tadi."
"Dengar, ya. Aku tidak pacaran dengannya ataupun tidur dengannya. Kenapa kau berkata seperti itu di kelas tadi?" tiba-tiba aku terpacu untuk marah. "Apa kau tidak tahu betapa malunya aku tadi? Kau telah mempermalukanku sejak ayah dan ibu pergi ke luar negeri. Aku tidak mengerti, Sora.. Aku tidak mengerti!" kurasakan air mataku menetes. Ugh, kenapa aku harus menangis di depannya? Dia pasti akan mengolokku.
Sora yang tadinya sedang duduk di kursi belajarnya, berdiri. "Roxas, kamu menangis?"
"Iya. Kenapa? Kau akan menjadikan ini berita terbaru di sekolah? Heck, si gay menangis karena tidak ada yang mau tidur dengannya? Atau apa? Apa? Apa yang akan kau lakukan lagi untuk menjatuhkan harga diriku, hah?" aku benar-benar hilang kendali. Air mataku semakin banyak, membasahi wajahku.
"Roxas, aku.." Sora melangkah mendekat. Aku mundur selangkah sebelum berlutut untuk menyembunyikan wajah.
"Kau jahat.. Kau jahat.."
"Roxas, maafkan aku.."
Dia minta maaf?
Tapi semua telah terlanjur.
Aku telah dicap sebagai pelacur dan tidak akan ada yang bisa mencabutnya selain orang yang telah menyebarkan berita itu sendiri, Sora.
"Roxas, aku.." dia berusaha menenangkanku. Sama seperti saat dia masih menjadi hero bagiku.
"Kenapa kau lakukan itu? Kenapa? Padahal..padahal kita bersaudara.. Padahal kita adalah satu jiwa dalam dua tubuh berbeda.. Kenapa, Sora? Kenapa?" aku masih menutupi wajah. Air mataku yang terlalu banyak, merembes melalui sela-sela jemariku.
"Roxas, itu karena aku...aku..."
"Kau tahu? Aku merindukan dirimu yang dulu.. Tapi kenapa sekarang kau..." kalimatku belum selesai karena Sora memotongku dengan kalimat yang membuatku tercegang setengah mati.
"Aku mencintaimu!"
Aku berhenti menangis, melepas tangan dari wajahku sehingga aku dapat melihat wajah Sora. Dia ada di depanku, berlutut dan wajahnya merah serta mata berair.
"A-apa?"
"Aku mencintaimu, Roxas. Lebih dari cinta kakak pada adiknya." wajah Sora semakin merah. Kurasakan wajahku memerah juga. Dia menarik bahuku sehingga dia dapat memelukku. "Akhirnya, aku bisa mengatakannya. Maaf, selama ini aku berlaku kasar padamu. Aku tidak tahu bagaimana menunjukkan rasa cinta pada seseorang.."
"Dasar bodoh. Kalau kau begitu, orang malah akan membencimu."
"Karena itu, aku minta maaf. Aku akan menghajar Riku setelah ini karena dia yang menghasutku agar berbuat kasar padamu supaya kau menyadari betapa besar rasa cintaku padamu." Sora memelukku makin erat. Aku merasa, dirinya yang dulu telah kembali. Aku senang.
"Kalian berdua memang bodoh.." kataku sedikit tertawa.
"Ya, aku tahu." Sora melepas pelukannya. Matanya menatap mataku lekat. "Aku mencintaimu. Apa kau mau jadi pacarku?"
DEG!
Jantungku berdebar kencang.
Pacar?
Tapi, kami kan bersaudara..
Saudara tidak boleh saling mencintai.
Dan lagi, kami sejenis.
"Roxas, aku mencintaimu. Jadilah pacarku! Aku tidak peduli walaupun kita sedarah dan sejenis, aku tetap mencintaimu!" kata Sora lagi. Matanya berapi-api. Dia serius. Aku harus bilang apa?
"Jika kau mau jadi pacarku, peluk aku. Tapi jika tidak, tampar aku." dia memohon sambil menggenggam tanganku. Aku gemetar, seketika suaraku hilang. Aku tidak tahu harus bilang apa. Aku memang mencintainya. Tapi hanya sebatas kakak dan adik. Tapi aku juga tidak membencinya walaupun dia telah berbuat kasar padaku. Jika aku menerimanya, aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Tapi jika aku menolaknya, dia akan hancur. Sangat hancur. Aku.. Sebagai adik, aku tidak bisa mengecewakannya. Aku harus menghormatinya dan aku...
Aku memeluk Sora.
Tanpa pemikiran lebih lanjut.
"Roxas? K-kau memelukku.. Itu berarti kau.." suara Sora agak bergetar.
"I-iya. A-aku mau j-jadi.. P-p-pacarmu, Sora..." suaraku tersendat. Astaga, apa yang baru saja kukatakan? Ya, ampun.. Aku baru saja setuju jadi pacar Sora? Kakakku sendiri?
"Terima kasih, Roxas." Sora melepas pelukanku. Dia mengangkat wajahku. "Sekarang, kita resmi sebagai sepasang kekasih." dia memainkan ibu jari kanannya di bibirku. "Itu berarti, aku boleh menciummu kan?" dia mendekatkan wajahnya pada wajahku. Aku tidak bisa berkata, memejamkan mata. Sora menempelkan bibirnya pada bibirku. Rasanya hangat. Dia menghisap bibirku dengan semangat. Lalu sesuatu membasahi bibir atasku. Aku tahu itu lidah. Agar dia tak kecewa, kubiarkan bibir atas dan bawahku memisah. Lidahnya masuk. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku hanya membiarkan lidah Sora bertarung dengan lidahku dan lalu dia menggelitik langit-langit mulutku dengan lidahnya.
Tangan Sora mengusap kepala bagian belakangku, mengacak rambutku yang memang sudah acak-acakan. Tangan kirinya menyelip di bawah bajuku, meraba setiap senti lapisan epitel yang ada.
Oh, Tuhan.. Ini pertama kalinya aku mendapat ciuman panas yang sudah hampir empat menit tak dilepaskan. Aku hampir kehabisan nafas. Oh, Sora.. Aku butuh udara..
Seolah membaca pikiranku, Sora menyudahi ciuman pertama kami. Wajah kami sangat merah, nafas menggebu, keinginan yang lebih, hasrat yang meluap. Aku dapat melihatnya pada mata Sora.
"Roxas," katanya kemudian. Dia membantuku berdiri kemudian memelukku. "aku ingin bukti cinta darimu."
Bukti cinta?
"A-apa itu?" kataku canggung. Aku masih merasakan sensasi dicium tadi.
"Kau tidak tahu?" dia mengusap punggungku.
"T-tidak.."
"Aku akan mengajarimu, sayang." dia berhenti mengusap punggungku, melepasku sejenak untuk mencium keningku kemudian memelukku lagi. Dia menggiringku ke belakang. Perlahan tapi pasti. Hingga kemudian aku tersandung sesuatu dan Sora menjatuhkanku ke..kasur di belakangku.
"Bukti cinta yang terkuat."
Aku hanya menatap matanya. Mata itu sangat menghanyutkan, indah.
"Sora..."
"Aku sangat mencintaimu." Sora mencium keningku. "Sejak dulu," lanjutnya kemudian mencium pipi kiriku. "Aku sudah mencintaimu." dia mencium ujung hidungku. "Kau sangat cantik, Roxas." kemudian mencium bibirku. "Cintaku padamu," tambahnya lagi, kali ini mencium daguku. "sangatlah besar," katanya sambil turun ke leherku. Dia mencium leherku. Ah! Rasanya geli dan basah.
"Oh, S-Sora.." aku mendesah. Sora menyusuri seluruh kulit leherku dengan bibirnya, mencium setiap bagian yang ia anggap perlu dicium. "Oohh.." aku mendesah lagi. Sora berhenti mencium kemudian menatapku dari dadaku.
"Mari kita bercinta."
Aku benar-benar tersentak dengan kalimatnya. Bercinta? Oh, tidak.. Kami baru jadian dan Sora langsung ingin bercinta?
Sora memulai aksinya. Perlahan, ia melepas resleting di baju turtle neck-ku, mengendus kulitku dan mencium dadaku.
"T-tunggu, Sora.." aku merintih.
"Ada apa, sayangku?" katanya sambil mengendus nipple kiriku.
"S-sepertinya.. Ukh.." aku mengeram karena Sora memasukan nipple-ku ke mulutnya. "Aah.. J-jangan.."
Sora melepas nipple-ku, "Kenapa, sayang? Bukankah kita saling mencintai?"
Aku menelan ludah, "B-bukan begitu... A-aku.." tanganku tanpa sadar mendorong Sora menjauh sehingga ada ruang bagiku untuk bangkit. Aku segera berdiri kemudian lari ke luar ruangan dan berteriak, "Aku akan kembali!" sambil menaikan resleting di bajuku. Aku tahu Sora kecewa tapi aku tidak ingin keperawananku diambil sekarang.. Atau sejujurnya, aku takut..
Aku tidak benar-benar mencintainya sebagaimana dia mencintaiku.
Aku setuju jadi pacarnya karena aku tak ingin membuatnya kecewa.
Itu saja.
Maaf, aku telah membohongimu Sora.
Maafkan aku.
TBC
Telur Bebek Cina
*slap* apaan sih?
Sekian doeloe ya… TT^TT
Saya mau tidur dulu…
Koneksi cacat…
Komputer membusuk…
TT^TT
Terima kasih XD
