Akhirnya update nih.
Saya sedang dikejar waktu…
Komputer rusak lagi…
RUGI SAYA NIH BELI VGA BARU….
Insecure
Disclaimer: KH bukanlah milik saya. Jika KH adalah milik saya, Roxas tidak akan bergabung dengan Sora melainkan kabur. Sora akan terbangun hanya dengan setengah jiwa dan kekuatan sehingga inti cerita akan berubah dari Sora mencari Riku menjadi Sora mencari Roxas. Dan Sora akan melawan Xemnas hanya dengan sebuah Kingdom Key!
Contains: Lemon
DON'T LIKE? SO WHY ARE YOU HERE?
Chapter 3
Matahari hendak menyembunyikan dirinya. Senja tiba begitu cepat. Setelah kabur dari percobaan "bukti cinta" Sora, aku hanya berjalan tanpa arah di jalanan kota. Leherku penuh bekas ciuman tapi untungnya aku memakai turtle neck sehingga dapat menyembunyikan bekas ciuman yang ada.
Tanpa sadar, aku melangkah ke Sharon Street. Axel tinggal disini. Mungkin dengan mengunjunginya, aku bisa bercerita sedikit. Dia sahabaku, tidak apa-apa jika aku bercerita mengenai hal tadi padanya.
Rumah Axel bernomor 206. Aku segera mengetuk pintunya dan memencet bel berkali-kali. Axel keluar setelah aku menunggu beberapa detik.
"Roxas? Aku pikir kau tidak akan datang kesini," katanya begitu tahu bahwa tamunya adalah aku.
"Err..begini.. Ada yang ingin kubicarakan."
Detik berikutnya, Axel membawaku masuk ke rumahnya. Aku duduk di sofa putih panjan bersama Axel. Dan aku pun mulai bercerita.
"Begini, ini tentang aku dan Sora."
"Oh, Sora kakakmu yang beringas itu. Aku lihat kalian jarang bicara di kelas." Axel menebak. Yah, itu benar. Axel datang ke sekolah untuk memulai penelitiannya seminggu yang lalu tepat di hari pertama Sora bertingkah aneh. "Dan aku ingat lebam di mata kiriku."
"Yah, aku tahu dia agak pesimis. Dia.."
"Kalian masih bertengkar?"
"Sepertinya tidak.." jawabku aneh.
"Kenapa 'sepertinya'?"
"Yah dia.. Umm.. Bagaimana ya.." tiba-tiba aku jadi sulit bicara. Uh, kenapa bisa begini. Aku menggaruk leherku, tanpa sengaja memperlihatkan sedikit bagian leher yang tadi dicium Sora. Oh, gawat.
"Apa itu?" tanyanya. Matanya mengarah pada leherku. Aku segera menutupi leher dengan tangan.
"Oh, apa?"
"Itu..." kulihat matanya menyipit. Wajahnya jadi terkesan kejam. Tiba-tiba tangannya mencengkeram bahuku kemudian dengan sangat cepat, menjatuhkanku.
"Aaakkhh!"
"Roxas.." kurasakan nafasnya panas di telingaku. Ada apa? Oh, jangan-jangan...
"A-Axel, ada apa denganmu?"
"Kau bercumbu dengan siapa, hah?" dari nada bicaranya, dia marah.
"S-siapa? B-bukan urusanmu..." aku meronta. Ada yang salah dengan Axel.
"Apa itu Sora?" suaranya keras, membuat telingaku sakit.
"L-lepaskan aku.." aku merintih. Cengkraman Axel semakin kuat. Tanpa kusangka, dia merobek jaket putih yang kukenakan. Matanya memperhatikan kulit lenganku kemudian menciumnya ganas. "Aaahh! Jangan!"
"Kau milikku, Roxas! Aku tidak akan menyerahkanmu pada orang lain termasuk kakakmu!"
"Tidak!" kakiku dapat kugerakan. Aku menendang perutnya hingga ia sedikit terpental sehingga aku bebas. Aku langsung berlari menjauh dari Axel yang bangkit dan hendak menangkapku. Dia berhasil menangkapku dengan mengunci gerakanku dalam pelukan kasar dari belakang.
"Kau ikut denganku!" katanya. Aku meronta.
"TIDAK!" aku berteriak. Dengan kedua siku, aku menyodok perutnya. Dia melepasku dan merintih kesakitan. Aku lanjut berlari dan akhirnya keluar dari rumah Axel. Dia ikut keluar namun tidak mengejarku karena ada banyak orang di trotoar.
"Aku selamat.." nafasku terpotong-potong. Bersandar di balik pintu rumah setelah berlari sangat jauh. Hampir saja aku...
"Roxas?"
Aku menatap lurus. "Sora..."
Dia berjalan mendekat. Oh, gawat. Jika dia tahu tadi aku hampir diperkosa, dia pasti akan sangat marah. Apalagi jika dia tahu pelakunya adalah Axel. Aku segera membenahi pakaianku yang lusuh. Tapi tetap saja, aku tidak bisa menyembunyikan kerah jaket yang robek.
"Kau kenapa? Kau dari mana? Kenapa kau terlihat sangat lelah?" Sora mengelus pipiku dengan punggung tangan kirinya. Aku merasa geli tapi nyaman.
"A-aku.. Aku.."
Mata Sora menangkap bagian kerah jaket yang robek.
"Apa yang terjadi?"
"Sora...aku...tadi... Axel..."
"Axel? Kau pergi menemui Axel? Padahal kau sudah punya pacar, kan?" dia marah. Sambil berteriak, dia mengambil kerah jaketku dengan kedua tangan.
"Ma-maafkan aku..." aku memejamkan mata.
"Apa yang telah dia lakukan padamu?" tiba-tiba suaranya kembali tenang. Dia melepas cengkramannya. Simply, dia kembali mengelus pipiku.
"T-tidak. Tidak ada apa-apa.." aku berbohong.
"Dia tidak melukaimu, kan?"
"Tidak..."
"Kalau begitu." dia menatapku dengan tatapan aneh. Kemudian tiba-tiba membungkuk dan...
"Waahh!" aku spontan berteriak karena Sora menggendongku secara bridal style dengan kedua tangannya. "S-Sora..." wajahku memerah bukan main. Sora tersenyum padaku.
"Ayo kita lanjutkan yang tadi." dia mengedipkan satu mata. Aku sadar pada keinginannya dan aku pasrah.
Sora membawaku ke kamar kami. Dia membaringkanku di kasurnya.
"It'll be fun, hon," bisiknya menggoda. Dia mengelus pipiku, menciumi wajahku, kemudian melepas bajuku. Aku hanya mengerang dan meremas seprai saat dia mencium dadaku, memainkan masing-masing nipple-ku dengan lidahnya. Ini pertama kalinya aku melakukan ini. Rasanya aneh namun entah kenapa, aku menikmatinya.
Sora melepas bajunya sendiri kemudian menggesek dadanya pada dadaku. Dia mencium bibirku sekali lagi sebelum menelanjangiku dan dirinya sendiri.
Dia melakukannya.
Ah, rasanya sakit saat dia memasukannya untuk pertama kalinya.
Namun semakin sering ia mendorong, rasa sakit itu berubah menjadi nikmat.
Ah, sungguh nikmat.
"Bagaimana Roxas?" Sora bertanya di sela dorongan-dorongannya.
"Ah! Ah..ah..aaahh! Sora...lakukan lagi..." aku mengerang, memohon. Rasa nikmat ini sangat sayang jika dilewatkan. Sora menggerakan pinggulnya maju dan mundur. Dia memasukan seluruh bendanya kemudian menariknya hingga tinggal gland-nya yang ada di dalam, kemudian mendorongnya masuk dengan kekuatan lebih. Setiap kali dia menyentuh sesuatu di dalam rektumku, aku merasakan kenikmatan lebih besar.
Selain kenikmatan itu, aku juga merasa sesuatu meleleh keluar dari lubangku. Kental dan hangat. Ah, aku tidak tahu apa itu..yang penting, Sora senang.
"Kau tahu?" kata Sora masih bergerak.
"Aah apa?"
"Aku sangat senang!"
"Benarkah?"
"Tentu saja, my little virgin blondie."
"Oh.. Ah.. Aku.. Ah..ahh..oohh.."
Sora tertawa lirih, "Bagus, mengeranglah untukku. Menangislah, memohonlah. Roxas, aku sangat mencintaimu!"
"Aku...juga."
Itulah malam pertama kami. Kami bercinta sebagai sepasang kekasih. Sora telah mendapatkan keperawananku dan aku harap dia senang.
Sebagai seorang adik, aku senang jika kakakku senang.
TBC
Review iyah~~
Hohoohoo…
