Update
Saya SVRV, mulai sekarang sampai tamat saya lah yang ambil alih cerita :D
Meskipun lebih muda dari CFS tapi saya tetap fujo akut
Semoga tulisan saya nggak rancu, kalaupun ada, maklum author baru *nunduk-nunduk*
Okay, mulai~
INSECURE
KH is not ours. It is SE's (kalau KH dibuat sama fujo, kasihan para cewek hanya jadi karakter minor)
RATE: M
PAIR: SORA x ROXAS
YAOI
Pulang sekolah, semua sudah meninggalkan kelas, kecuali aku dan Sora, Sora dengan malas memasukkan buku miliknya ke dalam tasnya, aku hanya menunggu, menunggu dan menunggu. Sampai akhirnya kesabaranku sudah mencapai batas.
"Sora, cepatlah, kita punya banyak pr" kataku pelan sambil menidurkan kepalaku di mejaku. Bukannya, mempercepat gerakannya, dia malah semakin memperlambat gerakannya. Kesal, aku pun berdiri.
"So-" belum selesai aku berbicara, Sora langsung menghimpit bibirnya dengan bibirku, ciuman yang singkat. Mata biru Sora menatap mataku yang sama birunya dengan miliknya. Senyum sinis menghiasi bibirnya.
"Hmm.. sekarang kita hanya berdua saja di sini." Sora melingkarkan tangannya di leherku, aku dapat merasakan nafasnya di leherku. Lalu, kurasakan bibirnya menempel di leherku.
"S-Sora.. jangan.. aaah..." sepertinya dia tidak mendengarku, karena dia masih melanjutkan aktifitasnya, sekarang tangannya membuka kancing seragamku, aku memprotesnya.
"Sora! Kita masih ada di sekolah!" kataku sedikit keras. Mata Sora memelas.
"Tapi Roxas, aku ingin sekarang..." dia menurunkan wajahnya ke leherku lagi, lalu dia menjilat lembut leherku, menggigitnya lembut juga. Ah, geli. Aku hampir berteriak. Tangannya masih bersikeras membuka kancing seragamku, setelah bajuku terbuka setengah, dia menurunkan wajahnya ke dadaku. Mulutnya menghisap dan menjilat putingku, tangan kirinya memiting puting satunya lagi. Tidak bisa menahan dengan apa yang dilakukan Sora, aku melepaskan desahan yang mungkin sudah ditunggunya dari tadi.
"Aaaah.. S-Sora.. uh..." aku meremas bajunya. Mungkin sebal, mungkin yang lain. "K-kalau.. oh.. ada yang melihat.. aaaah.. k-kita bisa mendapat.. nnmmm.. masalah.. uh.." dia menghentikan aktifitasnya, dia melihat wajahku yang memerah, lalu menyeringai.
"Kalau begitu, aku akan menyalahkanmu, karena kamu membuatku tergila-gila padamu seperti ini." dia mencium bibirku, penuh gairah, lidahnya meminta izin untuk masuk, kubiarkan mulutku terbuka supaya dia bisa bebas menjelajah mulutku.
10 menit sudah lewat, aku kembali mengancingkan bajuku yang terbuka dengan bantuan Sora. Setelah aku memakai bajuku dengan rapi dan seluruh buku Sora yang sudah masuk ke tasnya, kami berdua meninggalkan kelas, kupikir tadi tidak ada yang melihat apa yang kami lakukan, namun ternyata aku salah.
"Hey, apa kau tahu?" seorang gadis memulai pembicaraan sambil melihat kami berdua.
"Apa?" jawab teman yang di sampingnya.
"Tadi aku melihat hal yang.. well, tidak masuk akal"
"Apa? Kau melihat apa?"
"Saudara kembar yang bermesraan di kelas!"
DEG!
"Roxas," panggil Sora, aku menoleh padanya, Sora menatapku lekat, "Acuhkan saja mereka, ayo!" lalu dia menggandeng tanganku erat.
"Benarkah? Apa saja yang kau lihat?" tanyanya dengan nada yang jelas penasaran.
"Kurang jelas juga sih, tapi yang pasti kulihat sang kakak mengancingkan baju adiknya, dengan wajah mereka yang memerah, tanpa diberi tahu pun pasti sudah bisa ditebak apa yang baru saja mereka lakukan, bukan?"
"Wah, benarkah? Haha, itu menjijikkan."
Menjijikkan
"Heh! Jangan sembarangan bicara kalian! Apa salahnya kalau kami berdua tadi kepanasan dan membuka baju kami berdua, hah?" ucap Sora, alasan yang aneh.
"Ho, kamu merasa kami sedang membicarakan kalian berdua? Lagipula, kepanasan apa? Kepanasan ingin melakukan.. seks?" kata gadis itu dengan tampang yang menyebalkan.
"Kau.." lalu Sora terdiam, kehabisan kata-kata, tidak ingin mendengar caci maki lagi, aku segera melarikan diri.
"Roxas!" teriak Sora di belakangku, tapi aku tidak berhenti, aku terus berlari, "Roxas! Tunggu!" teriaknya lagi, dia mengejarku sambil terus meneriakkan namaku berkali-kali.
"Roxas!" ucapnya setelah dia berhasil meraih tanganku, aku membalikkan tubuhku, kulihat wajahnya dengan mataku yang sudah mengeluarkan air mata.
"Sora.. anak itu.. m-melihat kita.. a-aku.." sebelum aku menyelesaikan kata-kataku, Sora memberikan pelukannya yang hangat padaku, dia mengelus lembut punggung dan rambutku.
"Tidak apa-apa, Roxas.. kita akan terus bersama.. aku selalu bersamamu.. jangan khawatir" aku hanya mengangguk kecil, Sora mencium keningku lembut.
Apa yang akan terjadi besok?
Apakah kami berdua akan di skors? Aku tidak begitu yakin dengan itu.
Apakah orang tua kami akan dipanggil? Mungkin saja.
Apakah gosip akan menyebar dan kami berdua akan diolok-olok? Pasti.
Aku takut menghadapi hari esok, tidak akan seperti saat Sora menyebarkan fitnah, kali ini ada saksi yang benar-benar melihat apa yang sudah kami lakukan.
"Gay". Itulah kata pertama yang aku dan Sora terima saat sampai di sekolah.
"Menjijikkan."
"Kalian ngomong apa sih?"
"Ya ampun~ kamu belum tahu? Mereka berdua melakukan hal yang oh my god nggak pantas dilakukan."
"Apa itu?"
"Seks y'know.. seks."
"Wha? Kamu tahu dari mana?"
"Dari tadi kamu ke mana saja sih? Tadi pagi seluruh sekolah membicarakan.. mereka" ucap anak itu sambil melihat kami berdua.
"Huh? Mereka yang digosipkan berpacaran itu?"
"Bukan gosip lagi, tapi mereka memang pacaran, kemarin ada yang melihat mereka sedang bermesraan di kelas mereka."
Sora mempererat genggaman tangannya denganku dan mempercepat langkahnya, membuatku harus menyesuaikan langkahnya. Saat kami sampai di kelas kami, olok-olok semakin menggila.
"Sora gay."
"Roxas gay."
"Si kembar gay."
"Kalian sudah melakukan seks pagi ini?"
"Oh, pasti kalian akan melakukannya pulang sekolah nanti, iya kan?"
"Pantas kalian tidak ikut orang tua kalian, agar kalian bisa seks sesuka kalian di rumah kalian, kan?"
"DIAM!" teriakku sambil menggebrak mejaku, telingaku panas mendengar olokan mereka, aku lari dari kelas, meninggalkan Sora sendiri di kelas yang sekarang bagaikan neraka, mengacuhkan bel yang sudah berbunyi, masa bodoh dengan pelajaran.
"Roxas?" suara bagai bidadari melesat di telingaku, aku menghentikan langkahku dan membalikkan tubuhku, aku melihat gadis dengan rambutnya yang pirang, kulit putih yang cantik dan bola mata biru yang sangat indah, Namine.
"N-Namine? S-sedang apa kamu? Sekarang sudah m-masuk.. kan?" ucapku terbata-bata, dia tersenyum, ya tuhan, senyumannya manis sekali.
"Aku malas berada di kelas, dari pagi teman-teman membicarakan kamu dan kakak kembarmu" jawabnya sambil mendekatiku, "Roxas, apa benar kau berpacaran dengan Sora?"
"E-eh?" aku bingung, aku harus menjawab apa? Kalau aku bilang iya, nanti dia pasti akan menjauhiku, kalau aku bilang tidak, Sora…
"K-kenapa kamu menanyakan itu?" aku balik bertanya padanya, karena aku tidak tahu harus menjawab apa.
"Entahlah, aku.. merasa sedih saat tahu kamu menyukai orang lain.. terlebih lagi orang itu laki-laki," jawabnya dengan tawa kecil, suara yang imut sekali.
"Kau.. cemburu?" ucapku tanpa kusadari, aku menutup mulutku dengan tanganku, apa yang baru saja kukatakan? Namine menatapku, lalu tersenyum.
"Kalau, iya.. bagaimana?" dari nada bicaranya aku sudah tahu dia pasti menggodaku, tapi bolehkah aku berharap?
Aku menyukainya.
Tapi kalau aku meminta dia untuk menjadi pacarku,
dengan alasan agar aku bisa menghindari olokan murid di sekolah
Apakah Sora akan membenciku?
Statusku sekarang adalah sebagai pacar Sora
Meskipun aku tidak mencintainya, aku tidak boleh mengkhianatinya
Tapi…
"Apa.. kamu mau berpacaran.. denganku?" mata Namine membelalak, jelas sekali dia kaget dengan ucapanku, tapi dia menghilangkan jarak tubuh kami, dia segera memelukku.
"Kau.. menyukaiku juga?" tanyanya sambil terus memelukku.
"T-tentu saja! Karena itu aku memintamu untuk j-jadi pacarku!" jawabku salah tingkah.
"Bukankah kamu berpacaran dengan kakakmu?"
"I-itu.." aku membisu. Namine menghela nafasnya, hendak melepas pelukannya dariku.
Jangan!
Aku memeluk tubuhnya dengan sangat erat, "R-Rox.. as?" ucapnya.
"K-kami tidak berpacaran! K-kakakku hanya.. terlalu menyayangiku.. kemarin, karena aku kepanasan, dia membantuku u-untuk.."
"Sudahlah, tidak perlu kau beri tahu alasan kesalah pahaman itu" dia tertawa kecil melihat tingkahku. Sepertinya dia mempercayai ucapanku.
"J-jadi? Kau mau…"
"Dengan senang hati" jawabnya. Aku merasa terhempas oleh angin setelah mendengar jawaban yang keluar dari bibirnya yang berwarna pink itu, bibir yang cantik, tanpa ragu aku mencium bibir itu.
Sora, maaf.
TBC
Ukh, lagi masa-masa LKS, pas pulang capek banget, MOS part 2 *prang*
Lanjutannya setelah LKS sudah selesai DX
Review?
