Akhirnya update juga

Tidak perlu curcol panjang-panjang

Lanjuuut~

INSECURE

KH is SE's

RATE: M

YAOI

SORA X ROXAS

Sora's POV

"Ke mana adikmu?" tanya anak yang duduk di depanku.

"Pasti menemui.. siapa itu? Akses? Aksel?" ucap anak yang duduk di sebelahnya.

"Axel, dasar bodoh."

"Oh, iya benar."

"Berarti dia memang benar-benar pelacur, hah?"

Aku yang dari tadi hanya diam saja menelan semua perkataan teman, oke, aku sudah tidak menganggap mereka teman lagi, melototkan mataku pada orang yang mengatakan Roxas adalah pelacur, aku berdiri, meremas kerah bajunya.

"JAGA UCAPANMU, BRENGSEK!"

"Sora!" teriak guru yang sekarang sedang mengajar di kelasku, Mr. Xemnas.

"Cih!" aku melepas kerah baju anak itu, lalu aku lari keluar kelas, mengacuhkan teriakan Mr. Xemnas yang menyuruhku untuk kembali, sekarang, aku hanya ingin menemukan Roxas.

"… ke kelas?" aku mendengar suara yang familiar tidak jauh dariku, suara Roxas. Aku mempercepat langkahku, setelah aku mencapai belokan lorong sekolah, aku melihat Roxas.. dengan seorang gadis. Wajah Roxas memerah, dia menggaruk kepalanya, persis seperti orang yang sedang berjalan berdua dengan kekasih mereka.

"Rox?" ucapku dengan suara kecil.

"So.. ra" sahutnya, Roxas dan gadis itu menatapku, aku mendekati mereka, dengan gesit aku menarik tangan Roxas dan membawanya ke manapun aku juga tidak tahu, yang pasti aku mencari kelas yang kosong. Setelah menemukan kelas yang tidak ada seorang pun di dalamnya, aku menghimpit tubuhku dengan Roxas di dinding, aku mengunci kedua tangannya di atas kepalanya dengan satu tanganku, tanganku yang satu lagi menyentuh dagunya, aku menaikkan kepalanya agar dia bisa melihatku.

"So-" kupotong ucapannya dengan ciuman, Roxas mengerang dan memberontak. "Unh.. nnggg" erangnya sambil menggerakkan tangannya, memintaku untuk melepaskan tangannya.

Aku hanya melepas ciumanku, aku masih tetap mengunci tangannya, aku menatap tajam matanya, "Ke mana saja kau dari tadi? Kenapa kau bersama anak itu? Apa saja yang kau lakukan tadi? Apa hubunganmu dengannya?" kuberikan hujan pertanyaan padanya. Dia membelalakkan matanya.

"S-Sora.. dengarkan aku.. tadi.. aku.."

"Diam." kucium lagi bibirnya, masih mengunci tangannya, tanganku yang sedang tidak ada kerjaan, turun ke celananya.

"Mmmnh!"

Aku menyusupkan lidahku ke dalam mulutnya, menjelajah seluruh mulutnya, tanganku menyentuh miliknya, dia memberontak lagi.

"Uh! Unnghh!" kulepas ciumanku karena kami berdua membutuhkan udara, kami memperbaiki nafas kami berdua, wajah Roxas memerah. Oh, benar-benar manis.

"Sora! Jangan!" teriaknya saat tanganku membuka resleting celananya dan menyusup ke dalam boxernya, kupijat miliknya, lidahku menjilat lehernya, tanganku yang satu lagi membuka kancing bajunya, setelah terbuka, kumainkan puting Roxas secara bergantian.

"Ooohh.. aaahh.. j-jangan.. aaahh.. Sora.. ja.. aaahh.. ooohh" aku menyeringai saat mendengar desahannya yang sangat kusukai.

"S-Sora.. ja.. aaah.. uuuuh.. nnnhh.. stop.. STOP!" kuhentikan tanganku, kulihat wajahnya yang sangat memerah itu.

"K-kita harus kembali ke kelas.. kan?" ucapnya dengan nafas yang kacau. Aku mengangguk, kurapikan lagi penampilan Roxas. Setelah itu, kami kembali ke kelas kami, sambil menyiapkan hati untuk menerima olokan dari anak sekelas.

Istirahat, Roxas segera pergi meninggalkanku, aku tidak tahu ke mana dia pergi, saat aku ingin menyusulnya.

"Hey, kamu sudah dengar gosip baru?"

"Hmm..? Apa?"

"Roxas berpacaran dengan Namine"

Aku terdiam mendengar kalimat tadi.

Roxas berpacaran dengan Namine

Bukankah Roxas itu pacarku?

"Benarkah? Lalu bagaimana dengan kakaknya?"

"Mungkin dia dikhianati?"

Roxas.. berkhianat

Aku merasakan wajahku memanas, aku menggigit bibir bawahku.

"Roxas" aku berlari, mencari keberadaan adik yang kucintai, meminta penjelasannya, apa benar dia berpacaran dengan Namine? Kalau iya, kenapa? Kenapa dia berkhianat? Bukankah kita saling mencintai? Atau.. hanya aku yang mencintainya? Roxas.

Aku melihat Roxas.. bersama gadis itu, Namine.. mereka berpelukan, setelah itu Roxas mencium pipi Namine, Namine balas mencium pipi Roxas.

Aku mengepalkan kedua tanganku, kurasakan darah naik ke kepalaku, panas.

Roxas menyadari keberadaanku, dia menjauhi Namine darinya, sebelum aku mendengar ribuan alasan yang hanya akan membuat aku muak, aku pergi dari tempat itu.

"Sora! T-tidak, Sora!" Roxas mengejarku, dia meraih tanganku, aku langsung menepis tangannya, kutatap matanya dengan tajam.

"Jangan lagi kau berani sentuh aku!" kataku dengan suara bergetar menahan amarah, kutinggalkan Roxas yang masih mematung di tempat.

Roxas's POV

Aku hanya bisa melihat punggung kakakku yang meninggalkan aku, tapi memang aku yang salah, akulah yang salah, aku..

"Roxas" Namine menghampiriku, dia menepuk pelan pundakku, kupeluk dia, aku menangis di tengah pelukan kami.

Aku mengkhianati cintanya

Sora membenciku

"Roxas.. kau kenapa?" tanya Namine bingung, tentu saja dia kebingungan, dia tidak tahu Sora mencintaiku, dia tidak tahu aku menerima cintanya, dia tidak tahu aku dan Sora sudah menjadi sepasang kekasih, dia tidak tahu aku dan Sora sudah melakukan seks, dia tidak tahu aku memacarinya dengan suatu alasan, meskipun aku memang menyukainya. Dia tidak tahu semuanya, dan dia tidak boleh mengetahuinya.

Saat pulang sekolah, Sora tidak menungguku, dia segera meninggalkanku.

Sekarang memang sudah tidak ada yang mengolok kami berdua, tapi hubungan kami berdua menjadi buruk.

Aku membuka pintu rumahku, gelap, mungkin Sora sedang keluar? Apa dia sedang menghindariku? Mungkin iya.


Sudah seminggu Sora tidak berbicara denganku, jangankan bicara, menatapku pun dia tidak mau. Gosip bahwa kami berpacaran sudah hilang, hubungan Sora dengan teman sekelas membaik, tapi hubunganku dengannya memburuk.

Selama seminggu ini, aku sama sekali tidak menikmati hidup.

Aku menolak ajakan Namine untuk keluar rumah, sekedar menyegarkan otak, tapi kutolak karena aku tidak mau pergi dari rumah, yang berarti aku harus meninggalkan Sora.

Aku jadi sering mendapat nilai yang kurang memuaskan, karena memikirkan hubunganku dengan Sora.

Aku melalaikan prku, karena Sora.

Sora, Sora, Sora

Otakku dipenuhi oleh Sora, aku merindukan kata-kata sayangnya padaku, aku merindukan genggaman tangannya, aku merindukan wanginya, aku merindukan hangat tubuhnya, bahkan aku merindukan ciumannya.

Apa itu berarti aku mulai mencintai Sora?

Entahlah

Yang pasti aku ingin hubungan kami menjadi seperti dulu.

TBC

Oke, di bagian saya, POV akan berubah-ubah *dor*

Review?