Setelah lama nggak update
Btw, sebentar lagi tamat nih 8D
INSECURE
KH is SE's
RATE: M
YAOI
SORA X ROXAS
Aku membuka pintu rumahku, seperti biasa, gelap, Sora pasti langsung keluar lagi.
Aku membuka kancing bajuku, sebelum aku menuju kamarku, bel rumahku berbunyi.
TING TONG
Apakah itu Sora? Tapi kalau benar Sora, ngapain dia membunyikan bel?
Aku melangkah ke pintu rumahku, kubuka pintu itu, kulihat tamu yang berdiri tegak di depan pintu, Axel.
"Hai, Rox-" sebelum dia menyelesaikan kata-katanya, buru-buru aku menutup pintu, sialnya dia terlalu cepat, dia langsung menghentikan laju pintu dengan tangannya.
"Mau apa kamu ke sini? Pergi!" teriakku dengan suara yang melengking.
"Hey, hey, tenang Roxas, aku hanya ingin berkunjung" ucapnya.
Bagaimana aku bisa tenang setelah dia pernah mencoba memperkosaku?
Aku duduk di sampingnya, sebisa mungkin aku menjaga jarak dengannya, aku merasa canggung karena aku merasa diperhatikan terus.
"Di mana Sora?" katanya memulai pembicaraan. Kenapa dia harus menanyakan Sora sih?
"Tidak tahu" sahutku ketus.
"Oh"
Entah sudah berapa menit lewat, Axel semakin mendekatiku, dia menyentuh leherku.
"Tanda ini.. jadi semakin banyak.. apa Sora melakukannya lagi padamu?" tanyanya.
"Bukan urusanmu" sahutku sambil menutupi leherku dengan tanganku.
"Tentu saja itu urusanku, karena aku menyukaimu"
Tanpa sadar keringat dingin mengucur di keningku, aku merasa tidak enak dengan suasana yang hening ini.
Tiba-tiba Axel mendorongku, dia menindih tubuhnya denganku, aku memberontak dengan seluruh tenaga yang aku punya.
"Axel! Jangan sampai kau.. AH!" aku bodoh karena belum mengancingkan bajuku, Axel dengan mudahnya memainkan putingku.
"Ax.. ja.. aaa"
KREEEK
Suara pintu rumah terdengar, aku melihat Sora berdiri di depan pintu. Cahaya mataku seolah memohon pertolongan dia, tapi dia mengacuhkanku, dia berjalan santai, hatiku perih, dia sama sekali tidak terlihat ada niat untuk menolongku.
"Heh, kau kenapa Sora? Kau tidak peduli adikmu kubeginikan?" Axel kembali menyentuh dadaku.
"Haaaa" erangku. Sora tidak menjawabnya, bahkan dia berjalan seakan tidak ada aku dan Axel di rumah itu. Saat Sora hampir melewatiku, aku mengeluarkan air mataku, "S-Sora" ucapku lirih.
Tiba-tiba Sora meremas kerah Axel, dia meninju wajah Axel sampai mulutnya mengeluarkan darah, dia mendekatkan wajahnya ke wajah Axel dengan pandangan memburu seakan siap membunuh Axel kapan saja.
"JANGAN SEKALI LAGI KAU BERANI MENGINJAKKAN KAKI KE RUMAH INI LAGI, BAJINGAN!" lalu dia membawa Axel ke pintu rumah dan melemparnya keluar dengan kasar, kemudian dia mendobrak keras pintu rumah kami.
"Dasar si rambut merah brengsek" lanjutnya.
Aku melihat punggung Sora dengan air mata yang masih terus mengalir. Dia membalikkan tubuhnya, tanpa melihatku, dia melewatiku.
"Jangan salah paham, aku menolongmu karena aku masih ada tanggung jawab sebagai kakakmu" ucapnya dingin.
Seharusnya aku senang dia sudah menolongku, adiknya
Seharusnya aku senang dia sudah menganggapku hanya sebagai adiknya
Seharusnya.. aku tidak sakit hati seperti ini saat mendengar kalimat itu
Kupeluk dia sebelum dia pergi meninggalkanku, dia kaget dan segera melepaskan tanganku dari tubuhnya.
"Sudah kubilang, jangan sentuh aku lagi!" teriaknya. Tidak mempedulikan ucapannya, kupeluk dia lagi, kali ini lebih erat dari yang tadi.
"Sora.. aku.. a-aku.. ingin dirimu.. k-kumohon.. peluklah aku.. cium aku.. katakan kamu cinta padaku.. jangan tinggalkan aku.. kumohon.. bercintalah lagi denganku.. aku sangat mencintaimu"
Sora's POV
Bercintalah lagi denganku
Aku mematung saat dia mengatakan kalimat itu, dia bilang dia ingin aku mencumbunya lagi? Padahal dia berpacaran dengan Namine. Padahal dia sudah mengkhianatiku.
"Huh.. kamu ingin aku bercinta lagi denganmu? Kamu yang sudah meninggalkanku? Kamu yang sudah mengkhianatiku? Dasar pelacur" ucapku dingin tanpa menoleh sedikitpun ke arahnya.
"Terserah kamu ingin mengataiku pelacur, karena aku memang pelacurmu" setelah mengatakan itu, dia menangkap bibirku, dia menjilat bibir bawahku.
Dia ingin lebih.
Aku mendiamkan bibirku, belum ingin menerima ajakannya. Dia masih terus menjilat bibirku sambil membuka kancing bajuku, dia menyentuh dadaku.
Sudah 9 menit kami berciuman sambil berdiri, dia melepas ciumannya hanya untuk mengambil udara, setelah itu dia kembali menciumku, saat dia hendak membuka resleting celanaku, aku menangkap tangannya.
Kucium dia penuh nafsu, penuh gairah.
Kuraba dadanya.
Kugendong dia secara bridal style sambil terus menciumnya, kubawa dia ke kamar kami berdua, kubaringkan dia ke kasurnya, kudekatkan bibirku ke telinganya dan berbisik.
"Kamu ingin aku mencumbumu lagi?"
"Iya"
"Kamu janji tidak akan meninggalkanku lagi?"
"Iya"
"Kamu janji tidak akan mengkhianatiku lagi?"
"Iya"
"Kamu janji akan selalu bersamaku?"
"Iya"
"Kamu mencintaiku?"
"Sangat mencintaimu" lalu dia menciumku singkat.
"Cium aku.. peluk aku.. cumbu aku.. lakukan apa saja yang kamu mau padaku.. aku cinta kamu.. aku milikmu"
"Jika itu yang kamu mau, aku juga cinta kamu sayangku" balasku dengan seringai, kulepaskan baju yang dia kenakan, kubuka resleting celananya dengan gigiku, dia mengerang pelan. Kulepaskan celana sekaligus boxernya dengan tanganku. Aku mengendus di dekat miliknya, hanya untuk menggodanya.
"Uh.. aaaahh.. S-Sora.. cepat.. kumohon.. jangan menggodaku.. ooohh" katanya memohon.
Kulepas semua pakaian yang kukenakan, sebelum aku melepas celanaku, Roxas menciumku, ciuman yang bernafsu. Kulepas celanaku sembari menciumnya, setelah itu, aku menghentikan ciuman kami, kutindih tubuhnya dengan tubuhku.
Kumulai dengan menjilat lehernya yang berwarna putih pucat itu, tanganku memainkan puting dan alat vitalnya.
"Aaaaahhh.. hhhaaaa.. S-Soraaa" erangnya, kedua tangannya melingkar di leherku. Aku menjilat dari leher Roxas ke dadanya, kulakukan berulang kali sampai aku berhenti di puting Roxas. Aku menjilat, menghisap dan menggigit kecil puting Roxas, lalu aku menurunkan tanganku dari milik Roxas ke lubangnya. Dengan kesabaran yang minim aku langsung memasukkan 3 jariku.
"AAAHH!" teriaknya, aku segera mengunci mulutnya dengan bibirku, aku menyusupkan lidahku, mengajak lidah Roxas untuk berdansa. Setelah beberapa menit, kusudahi ciuman kami, aku menatap matanya.
"Kalau kamu terlalu berisik, tetangga kita bisa mendengarnya, Roxas sayang" bisikku nakal, aku menjilat saliva yang mengalir di sisi mulut Roxas. Aku mulai menggerakkan ketiga jariku. Roxas menangis, mendesah dan meraung.
Setelah kurasa cukup, aku mengeluarkan ketiga jariku, aku menaikkan kaki Roxas ke pundakku, lalu aku mengarahkan penisku ke lubang Roxas, "Roxas, kamu siap?" tanyaku.
"C-cepat lakukan.. S-Sora" sahutnya dengan nafas yang memburu.
Setelah dia mengatakan itu, aku langsung menyentak masuk dengan keras.
"AAAAAHHH! S-SOR.. AAAAAHHH!" aku terus memaju-mundurkan pinggulku, mengacuhkan rasa sakit dari kuku Roxas yang menusuk punggungku. Aku terus bergerak sampai aku menemukan titik yang membuat Roxas melihat bintang-bintang.
"Oh.. sayang.. kau yakin ini bukan seks pertama kita? Kau seperti virgin.. uh" kataku sambil terus mendorong, wajah Roxas memerah.
"S-Sora.. l-lebih cepat! Aaaahh.. ooohh!" aku mempercepat gerakanku sesuai keinginannya.
"L-lebih dalam! NnggAaaaah.. uuuh.. aaaahh!" aku lakukan lagi yang dia katakan.
"Ah, ah, ah.. lebih keras! Aahhh.. ya, terus seperti itu! Aahhhh.. ya.. ya! Oh, SorAaaaaah.. ooohh.. aaaahhh.. hhaaaaAaaaahhh!" desahan Roxas yang terdengar seperti melodi terindah membuatku semakin menggila.
Oh, Roxas.. kamu tidak tahu betapa aku menyukai suara desahanmu.
Aku menggunakan satu tanganku yang sedang menganggur untuk memijat penis Roxas. Desahan Roxas semakin kuat. Mendengar desahannya membuatku berkabut, ingin mendengarnya lagi.
"Oooohhh.. Soraaa, lakukan itu lagi! Oh, oh, aaaah!" kulakukan lagi yang dia minta tanpa protes sedikitpun.
Kuhisap lagi puting Roxas sambil terus memainkan penisnya, sekarang aku menghisap putingnya tanpa ampun, Roxas menangis karena nikmat.
"Sora.. Sora.. So.. ra.. oooh.. Sora.. aaaahh!" aku semakin bernafsu saat mendengar dia memanggil namaku berkali-kali. Aku mendorong lagi penisku masuk ke rektum Roxas lebih dalam, lebih keras dan lebih cepat. Aku menyentuh -dengan agak kasar- prostat Roxas berulang-ulang, membuat tangisan nikmat Roxas semakin menjadi-jadi.
"S-Soraaaa.. aaahhnnn.. a-aku.. hhaaaah.. a-akan.. aaaahhh!" sepertinya dia sudah mencapai batas.
"T-tunggu sayang.. aku juga.. t-tunggu sebentar lagi.. o-oke?" lalu kulumat bibir Roxas-ku yang sudah sangat basah oleh saliva itu.
"S-Soraaaa.. a-aku.. aaaaahhh.. t-tidak bisa.. mmmmmnn.. menahan.. oh, oh, ooooohhh! AAAAHH! SORAAA!" sperma Roxas memuncrat ke perut dan dadanya, "Ah, ah.. AAAAH! ROXAS!" disusul olehku yang mengeluarkannya di dalam Roxas.
Aku ambruk di atas Roxas, kami sama-sama memperbaiki nafas kami berdua yang terengah-engah.
"J-jadi..? Apa sekarang kita.. berpacaran lagi?" tanyaku pada Roxas, Roxas melihatku dengan bibirnya yang manyun.
"Kamu pikir ngapain aku memintamu bercinta lagi denganku, hah? Tentu saja, mulai sekarang kita sepasang kekasih lagi!" Roxas cemberut, mungkin dia agak kesal dengan pertanyaanku, aku terkekeh pelan.
"Kalau begitu sayang, ciumlah aku" aku menutup mataku, kuarahkan bibirku padanya. Sedetik kemudian, aku merasakan sesuatu yang basah menyentuh bibirku.
"Hey, aku bilang cium aku, bukan jilat bibirku" kataku jengkel.
"Aku sangat mencintaimu Sora" ucapnya dengan senyum seperti tanpa dosa. Lalu, dia langsung menciumku.
TBC
Oke, ini pertama kalinya saya bikin adegan lemon
Vulgar kan? *nangisgaje*
Review?
