Disclaimer : Masashi Kishiomoto
Based On True Story
Di Dedikasikan untuk Chen Jian seorang korban gempa di China tahun 2008
XxX
Berjuang sampai akhir
Bulan Mei 2008 beberapa kota di negeri China tertimpa gempa yang menyebabkan kerusakan dan korban jiwa. Banyaknya korban yang menghilang dan banyak pula yang tertimbun reruntuhan membuat para anggota evakuasi harus bekerja keras.
Di sebuah jalan layang, seorang anggota tim evakuasi berambut kuning, Naruto, nampak melihat sekelilingnya. Terlihat reruntuhan bangunan dan puing-puing tiang penyanggah jalan layang berserakan akibat gempa bumi yang menghancurkan nyaris seluruh kota.
"Apa ada yang masih hidup?" Jerit Naruto seraya tetap mengawasi reruntuhan mencari-cari kalau ada yang tertimpa reruntuhan.
Hari telah larut tapi tak menyurutkan semangat pemuda ini untuk mencari para korban yang masih hidup. Panggilan hatinya sebagai anggota tim evakuasi untuk menyelamatkan para korban agar bisa kembali berkumpul dengan keluarga mereka membara di hati Naruto.
"Ad-ada orang disana? Kumohon bantu aku!" Terdengar samar-samar suara memecah keheningan.
Naruto memalingkan wajahnya sembari menajamkan telinganya, mencoba mencari sumber suara sampai akhirnya dia menemukan seorang pemuda berambut hitam, tertimbun dibawah tumpukan reruntuhan besi.
"Hei bung, kau tidak apa-apa?" tanya Naruto pada pria itu.
"Entahlah aku merasa akan kehilangan kesadaran."
Menyadari kondisi pria itu, Naruto berinisiatif untuk berbincang dengan pria itu, agar pria itu tetap tersadar sampai bantuan datang.
"Kau harus bertahan bung, kau pria yang kuat, aku sudah memanggil bantuan, mereka akan datang dua jam lagi."
"Tenang saja aku kuat kok, aku sudah tertimbun di sini dua hari tanpa makan dan minum, aku pasti masih bisa bertahan dua jam lagi."
"Ngomong-ngomong siapa namamu bung?" tanya Naruto.
"Uchiha, Sasuke Uchiha dan mungkin namaku akan dicatat sebagai orang paling lama bertahan dibawah papan plastik."
Naruto tersenyum getir, tak tega memberitahu Sasuke, bahwa pemuda berambut hitam itu sedang tertimbun segunung reruntuhan, "Hahahha, kau bisa saja bung, oh ya namaku Naruto."
Obrolan kecil berlangsung sampai Sasuke mulai kehabisan semangat akibat luka gencetan yang membuat dia kehilangan kesadaran.
"Aku harus kuat, istriku hamil, aku tidak mau anakku menjadi yatim."
Naruto kembali tersenyum getir mendengar ucapan Sasuke sampai akhirnya terdengar sirene pertanda tim evakuasi telah tiba.
"Hei! Cepat angkat timbunan besi ini!" jerit Naruto.
Para anggota tim mulai melaksanakan tugas mereka dengan cepat, menggunakan alat berat mereka mulai mengangkut timbunan yang menimpa Sasuke, namun gesekan dan gerakan yang timbul dari proses itu justru membuat Sasuke makin tersiksa.
"Ayolah Sasuke! Sedikit lagi, kau tidak boleh tertidur! Kau suka lagu apa? Cobalah untuk bernyanyi."
"Ak-aku tidak bisa bernyanyi, lebih baik aku berhitung saja." Ujar Sasuke seraya mulai berhitung.
"Satu, dua, tiga, empat, lima.." tiap kali Sasuke menyebut angka dia merasakan sakit akibat paru-parunya yang tergencet.
Dua jam kemudian, tim penyelamat akhirnya berhasil mengeluarkan Sasuke dari reruntuhan, di iringi dengan sorak sorai para anggota penyelamat.
Kemudian tim penyelamat segera menaikan Sasuke keatas tandu untuk bergegas membawanya ke rumah sakit.
Sasuke yang di tandu menatap Naruto, "Saat ini aku hanya mengingat tiga hal, aku terkubur selama dua hari, aku sudah menikah selama satu tahun, istriku sedang hamil tiga bulan."
Dan kemudian... mata Sasuke terpejam di iringi dengan kesunyian, menyadari bahwa korban yang mereka evakuasi sudah tiada isak tangis mulai terdengar dari para anggota tim penyelamat.
Naruto yang tampak paling terpukul, menangis terisak, "Brengsek! Kenapa kau menyerah! Kau sudah sampai sejauh ini!"
Delapan puluh jam dengan rasa sakit yang amat sangat, Sasuke merasa terlalu lelah, namun perlu diingat, dia berjuang sampai akhir.
Fin
A/N: Kisah ini di ambil dari kisah nyata, Chen Jian, seorang supir truk yang tertimpa reruntuhan sewaktu gempa di China pada tahun 2008, dia berjuang hidup selama 80 jam sebelum akhirnya wafat dan meninggalkan istrinya yang tengah hamil 3 bulan.
