Bitter Winter
Pair :: Han Chul
Rate :: T
Warning :: Genderswitch!
"Heechul!" Suara panggilan terdengar lagi. Bola mata Heechul berhenti menatap sosok namja yang agak jauh. Namja yang ia kenal.
"Hankyung-ssi.." Dia mengusap matanya. Namja itu berjalan mendekat. Ini bukan mimpi? Hankyung yang memanggilnya? Mau apa dia?
Heechul dengan gugup mulai berjalan lagi. Dia tak mau menghiraukan Hankyung dan berusaha tak mendengarnya. Dia berjalan keluar dari kerumunan keramaian menuju taman yang sepi.
"Heechul-ssi… Chakambat!" Teriakan Hankyung terdengar lebih jelas ditelinga Heechul. Dia tetap berjalan bahkan mempercepat langkah kakinya.
GREP! Tangan Heechul seperti ditahan. Dia menghentikan langkahnya dan menelan ludah. Dia tau itu pasti Hankyung. Maka dari itu dia tak mau membalikkan badannya.
"Heechul-ah.." Gumamnya pelan dan sedikit terengah. "Boleh aku minta waktumu sedikit?"
Heechul tak menjawab. Dia tak mau memandangnya.
"Apa kau sama sekali tak mau melihatku?" Ujar Hankyung lemah.
'Aku.. ingin.. tapi tak bisa' Batin Heechul dengan begitu gelisah.
"Tolong… sebentar saja.. aku janji.." Ujar Hankyung memohon. Heechul akhirnya membalikkan badannya namun ia tak menatap mata Hankyung.
"Ada yang mau kukatakan. Maka aku mengejarmu kesini." Ujar Hankyung lagi. "Aku.. minta maaf karena telah menyakiti hatimu waktu itu… mungkin kau tak bisa memaafkanku. Tapi tak apa. Aku tau aku yang salah." Ujarnya sambil tersenyum tipis
Heechul tetap menunduk dan membisu
"Aku kesini.. hanya… mau pamit" Ujar Hankyung sedikit terbata.
Bola mata Heechul membulat. Pertanyaan mulai bersliweran dipikirannya. Pamit?
"besok, aku akan pindah ke Australia…" Ujarnya lagi. "Aku akan melanjutkan studi ku disana atas permintaan umma dan appa."
Heechul membuka mulutnya "Berapa lama?" Ucapnya pelan dan singkat
"Aku.. tak yakin akan kembali ke Seoul. Kurasa aku akan menetap di Australia…" Ujar Hankyung terbata bata
Nafas Heechul mendadak tercekat. Dia tak bisa bernapas. Air matanya tiba tiba menumpuk. Apa katanya? Tak akan kembali? Tak akan kembali? Dengan sekuat tenaga dia mengendalikan air matanya. Jangan sampai keluar… jangan sampai…
"Bolehkah aku melihat bola matamu… sekali ini saja.." Ujar Hankyung memohon.
Heechul benar benar tak ingin mendongakkan kepalanya karena pasti.. air matanya akan jatuh. Tapi ia tak mungkin kuasa menolak permintaan namja ini. Dia mendongakkan kepalanya. Memandang kedua bola mata yang hitam itu.
"Aku sangat senang bisa mengenalmu, Heechul-ssi." Ujar Hankyung tersenyum tipis. Heechul bisa melihat gurat kesedihan juga di wajah Hankyung. "Aku senang berada di sisimu.."
Heechul dengan penuh kekuatan menelan ludahnya yang terasa seperti duri.
Hankyung menarik tangan Heechul yang dari tadi di genggamnya. Hankyung memeluk Heechul dengan lembut. Heechul sedikit tersentak.
"Heechul-ah… kumohon… biarkan kita seperti ini.. hanya sebentar.." Ujar hankyung mendekap Heechul dalam.
Heechul merasakan kehangatan. Salju yang turun tak berarti apa apa. Tapi.. apakah ini pelukan yang terakhir? Apa aku tak akan melihat bola matanya lagi? Air mata Heechul menetes. Semakin ia menahannya semakin deras air matanya.
"Sebenarnya… Jika boleh… Aku tak akan melepaskan pelukan ini." Ujar Hankyung lembut. "Bolehkah aku bersikap egois padamu? Kali ini saja… Mianhae Jeongmal Mianhae jika saat ini aku membuatmu tak nyaman. Aku tak akan melakukan ini lagi besok besok."
Perlahan, Hankyung melepaskan pelukannya. Hankyung memandang Heechul. Air matanya mengalir. Matanya merah.
"Chullie… Kenapa kau mengangis untuk namja sepertia aku? Yang menyakitimu.." Hankyung mengayun tangan Heechul pelan.
"Aku paling tidak suka melihatmu menangis. Aku lebih suka melihatmu tersenyum." Hankyung tersenyum lebar "Maukah kau tersenyum untukku?"
Heechul mengusap air matanya. Namun itu tetap mengalir. Ia memandang Hankyung sejenak memaksakan senyumnya keluar. Sebisa mungkin. Dalam tangisnya, ia memberikan senyum termanis untuk namja di depannya ini.
"Jeongmal Kamsahamnida Heechul… Jeongmal Kamsahamnida…" Hankyung menyeka air mata Heechul dengan lembut. Ia mengadah kelangit sebentar. Menahan air matanya yang telah penuh di pelupuk mata.
Hankyung menatap Heechul lagi. "jika masih ada suatu kesempatan yang diberikan untukku… berapa lama pun itu… meski hanya semenit saja… Aku pasti menemuimu… Jika, masih ada…" Hankyung memaksakan senyumnya.
Heechul menggigit bibir bawahnya menahan isakannya. Ia… tak bisa melihat Hankyung lagi… Karena semakin ia menatap, Air matanya tak mungkin berhenti.
"Heechul-ah… " Hankyung mengangkat dagu Heechul keatas perlahan membuat yeoja itu kembali menatapnya. "Jaga dirimu baik baik… Aku… pasti merindukanmu…"
Hankyung mengusap lembut kepala Heechul. Usapan penuh kasih yang sudah lama sekali dirindukan Heechul. Apa ini yang terakhir? Heechul menggepalkan kedua tangannya kuat kuat. Isakannya nyaris keluar
Perlahan lahan… dengan lembut, Hankyung melepaskan tangannya dari tangan Heechul. Seperti sesuatu yang hilang bagi Heechul. "Annyeonghaseyo" Ujar Hankyung membungkuk sedikit lalu membalikkan badan dan melangkah.
Kedinginan kembali menerpanya. Kehangatan dari tangan Hankyung telah lenyap. Heechul memandangi punggung namja itu. Isakannya meluap. Tangannya menutup mulutnya menahan segala isakannya. Lututnya goyah. Dia terjatuh dan menangis hebat. Apa benar ini semua yang terakir?
Heart, I'm so sorry
You want to be loved too
I only give you heartache
Heart, I'm so sorry
I want to be with her always
But only separation comes out of it
Like an echo, I'm always a couple steps behind
Even if I tell you I love you
A thousand times
With the simple words of telling me to forget you
We part
I try to hate you,
Saying you're bad and that I'm going to erase you
But when I do that
My heart punishes me more
Mirror – Super Junior
0o0o0o0o0o
Waktu sudah berlalu cukup lama ketika saat itu, sekitar 2 bulan. Ada yang berbeda dari Heechul. Ia menjadi sedikit pendiam. Dia yang biasanya usil dan ceria menjadi sosok yang lebih feminim dan tenang. Jujur saja, Heechul tak akan bisa seharipun tanpa memikirkan Hankyung. Apa yang ia lakukan disana? Apa dia benar benar tak kembali ke Korea? Bagaimana kabarnya? Banyak pertanyaan yang tak terjawab dibenak Heechul. Entah kapan ia akan membuka hatinya untuk namja lain. Dia tidak bisa.
"Heechul-ah! Kesini sebentar. Ikut minum teh dengan umma mu.." umma Heechul yang sedang membaca majalah sambil minum teh mengajak Heechul bergabung dengannya
"Ne, umma" Ujar Heechul menurut dan duduk disamping Ummanya.
"Yah.. kurasa musim dingin akan segera berlalu.. taun ini musim dingin lebih lama dari biasanya" Ujar yeoja yang lebih tua 25 tahun dari Heechul itu sambil memandang jendela.
Heechul meminum tehnya lalu sedikit tersenyum dan menganggukan kepala mengiyakan.
Tiba tiba ketenangan mereka berdua terpecah oleh suara ponsel Heechul.
"Umma.. aku mengangkat ini sebentar.." Ujar Heechul menerima teleponnya.
"Annyeonghaseyo.."
"Annyeong.. Ini Heechul-ssi kah?"
"Ne.. Nae Heechul imnida… Nuguseyo?" Heechul mengerutkan keningnya. Dia dapat mendengar suara berat dan parau seperti orang menangis disana
"Nae.. Hankyung umma.."
Mata Heechul membulat dan terkesikap berdiri dari duduknya membuat ummanya trkejut
"Ahh… Wae… Ajuhmma?" Ujar Heechul terbata
"Kau… ahh.. aku tahu ini sedikit gila.. tapi… kau bisa kesini sekarang… kumohon"Suara disebrang seperti benar benar kacau. Isakan mulai terdengar membuat Heechul gelisah.
"Waeyo? Apa yang terjadi?" Ujarnya keras. Umma Heechul mengalihkan perhatian menatap anaknya itu.
"Kami.. ada di Australia… Uri Hankyungie.. Dia kritis."
Seketika itu Heechul terjatuh. Ponsel terlepas dari tangannya. Air matanya mengalir begitu saja.
"Heechul-ah! Heechul! Wae?" Umma Heechul berusaha menahan tubuh Heechul yang bergetar.
Umma Heechul mengambil ponsel Heechul "Nuguseyo?"
"Ah! Mrs. Tan.. waeyo? Apa yang terjadi dengan Hankyung?"
"Akan kujelaskan nanti… kami… butuh Heechul disini… untuk Hankyung…"
"Ne.. ne.. arraseo.. " Ujar Umma Heechul yang juga gelisah
"Umma! Umma! Jebal! Kita berangkat!" Heechul mengguncang tangan Ummanya dengan histeris.
"Aku tutup teleponnya." Ujar Umma Heechul terbata bata sambil memutuskan sambungan. Tangannya langsung memeluk Heechul yang histeris.
"Ne.. kita akan segera berangkat… Kau tenanglah dulu chagya.." Ujar Umma Heechul mencium kening putrinya. Heechul terkulai lemas dengan air mata yang masih mengalir.
0o0o0o0o0o
Keesokan harinya Heechul dan Ummanya langsung berangkat ke Australia. Semalam Heechul tak bisa tidur, matanya terbuka dan terus mengalirkan air. Perasaannya benar benar kacau. Ini pertama kalinya Heechul menginjakan kaki di Australia namun ia tak ingin jalan jalan sama sekali. Sampai di Australia, tanpa check in hotel mereka langsung menuju ke rumah sakit yang telah diberitahukan oleh Umma Hankyung. Heechul berjalan dengan cepat mencari sosok Mrs. Tan dan Mr. Tan.
"Itu.. mereka.." Ujar Mr. Tan lemah menunjuk pada Heechul dan Ummanya yang berlari menuju ke arah mereka.
"Ajuhmma…. Ajuhssi… Annyeonghaseyo" Ujar Heechul cepat. "Dimana Hankyung oppa?" yeoja itu berkaca kaca dan terengah engah.
"Tunggulah sebentar, chagy… Dokter sedang memeriksanya.." Mrs. Tan terkulai lemas. Wajahnya sangat pucat.
"Mrs. Kim, Heechul-ah… duduklah disini dulu.." Mr. Tan mempersilahkan mereka berdua
Heechul duduk dengan cepat di sebelah Mrs Tan. "Ajuhmma… tolong… jelaskan padaku apa yang terjadi pada Hankyung oppa… Kumohon.." Heechul memandang yeoja itu dengan penuh harap
Mrs. Tan menghela napas tak menjawab. Air matanya sudah kering dan habis.
"Kau tak akan membiarkanku penasaran sampai mati nanti kan?" Heechul melontarkan kata kata seadanya. Dia penasaran setengah mati.
"Ne… Uri Hankyungie… Dia… sudah lama mengidap leukimia akut…" Mrs Tan bercerita dengan terbata bata.
Heechul membulatkan bola matanya. "Mwoya? Le.. Leukimia? Sudah lama?" Air matanya kembali menetes.
Mrs Tan hanya menganggukkan kepala pelan tak memandang Heechul
"Kenapa? Kenapa dia, maupun ajuhmma tak memberitahukan apapun padaku?" Heechul membenahi posisi duduknya lebih dekat pada Mrs Tan
"Karena dia meminta untuk itu…. Aku telah berjanji padanya untuk tak memberitahukan padamu… " Ujarnya sembari menghembuskan nafas dengan berat. "Tapi aku terpaksa memberitahukan padamu.. terpaksa mengingkari janjiku pada anakku sendiri…"
Heechul memandang Mrs Tan. Yeoja itu akhirnya mengangkat kepalanya dan menatap Heechul.
"Dia menunggumu… Aku yakin…" Mrs Tan menggenggam tangan Heechul.
"Me… menunggu? Aku?" Heechul mengerjap ngerjapkan matanya menghentikan air matanya
"Dia… pernah bilang padaku… ingin melihatmu lagi…" Mrs Tan berkata pelan memandang Heechul penuh arti
Seorang namja tinggi berpakaian putih keluar dari ruangan itu.
"Bagaimana? Bagaimana keadaannya?" Mr Tan langsung berdiri menghampiri dokter. Mrs Tan, Heechul, serta Mrs kim juga bangkit dan mendekat.
"Maaf… Kami pihak rumah sakit tak bisa berbuat apa apa…Kita tinggal menunggu waktu saja…" Dokter itu berkata lemah.
Mrs Tan membekap mulutnya dan mulai menangis. Mr Tan terlihat begitu sedih dan depresi.
"kau… kau harus menyelamatkannya… dokter.. kumohon… apa yang dia butuhkan?" Heechul menggenggam tangan dokter itu kencang. Air matanya mengalir. Dia menjadi histeris.
"Heechul… sudah… tenanglah.." Mrs Kim memegang pundak Heechul kuat dan berusaha menariknya
"Saya benar benar minta maaf nona… Sebenarnya sejak 2 bulan lalu, tuan Hankyung membutuhkan donor sumsum tulang karena sumsum tulangnya telah terinfeksi. Tapi kami tak berhasil menemukan pendonor yang cocok. Dia telah koma selama 1 minggu dan ini tak biasa." Ujar dokter itu menerangkan
"Hah? Sumsum tulang? Ambil saja punyaku…. Aku bersedia mendonorkannya.." Heechul tetap bersikeras
"Tak semudah itu… Karena ini sudah terlambat.." Dokter itu melepaskan tangan Heechul dari tangannya. "Maaf.." Dokter itu membungkuk sedikit lalu berjalan pergi.
Heechul mematung. Air matanya terus mengalir.
"Chullie…" Mrs Kim memegang pundak putrinya lembut. Ia menegetahui apa yang dirasakan putrinya.
Isakan Heechul pecah. Lututnya goyah. Dia terjatuh dilantai. Mrs Tan, Mrs Kim, maupun Mr Tan mengangkat Heechul pelan dan mendudukkannya di kursi.
Heechul menyandarkan kepalanya di pundak ibunya sambil terus menangis. Mrs Kim mengelus rambut putrinya lemah. Air matanya juga mengalir.
"Permisi, jika anda keluarganya mau menjenguk tuan Hankyung, anda bisa menjenguknya sekarang." Seorang suster yang baru saja keluar dari ruang itu mendekati mereka.
"Heechul-ah… kau boleh masuk…" Mrs Tan memegang lembut pundak Heechul.
"A..Ani…" Ujar Heechul menolak masih terisak.
"Ani? Wae?" Mrs Kim memandang Heechul yang masih dalam dekapannya.
Heechul mengangkat kepalanya dari pundak ummanya tanpa menjawab.
"Hankyung… menunggu kedatanganmu… Waeyo chagya?" Mrs Tan mengelus rambut Heechul pelan.
"Aku…. Aku takut…" Ujar Heechul menundukkan kepalanya membuat aira matanya semakin lancar mengalir.
"Takut? Wae?" Mrs Tan mendekatkan diri pada Heechul.
"Ajuhmma bilang…. Dia menungguku kan?" Heechul mengangkat kepalanya lagi.
Mrs Tan hanya mengangguk pelan.
"Apakah… Apakah jika aku masuk… dan menemuinya… apa yang terjadi?" Mulut Heechul bergetar. Dia menggigit bibir bawahnya
Mrs Tan terdiam tak membuka mulut. Dia menundukkan kepalanya mengusap air mata.
"Apa…. Dia akan berhenti… untuk…. Menunggu?" Heechul memandang Mrs Tan sebentar Lalu memejamkan matanya dan mengusap air matanya
Badan Mrs Tan bergetar lagi. Dia menangis lagi. Mr Tan hanya memandang sayu kearah istrinya dan juga Heechul lalu menenangkan istrinya yang terisak
"Chulie chagya… Apa kau menyayangi Hankyung?" Mrs Kim ganti membuka mulut
Heechul mengangguk lemah. "jeongmal…" Ujarnya
"Seseorang tak akan membiarkan orang yang dicintainya menunggu.." Mrs Kim dengan lembut mengusap yeoja cantik itu yang kini memandangnya.
"Tapi… Umma…" Heechul tak bisa mengatakan itu lagi. Dia tak sanggup mengahadapi kenyataan yang ada di depan mata.
"Kau tak kasihan pada Hankyung? Dia berusaha sekuat tenaga…. Antara hidup dan mati… Hanya menunggumu…" Mrs Kim membelai rambut Heechul berulang ulang
Heechul hanya menunduk menghela nafasnya
"Jika dia terus seperti ini… dia akan lebih menderita… Dia sakit Heechul… Kau tak boleh membiarkan dia seperti ini terus….Kau harus rela…" Heechul berusaha menelan ludahnya. Dia tahu keadaan Hankyung seperti itu.
"Kau tak boleh egois chagy… Pikirkan dia juga… Masuklah" Mrs Kim membujuk Heechul untuk masuk.
"Heechul-ah… kami tahu ini berat… untuk kau, Hankyung dan kami semua… Tapi… kita harus ikhlas menerima yang terburuk… yang diinginkan dan dibutuhkannya sekarang hanya kau… kumohon… masuklah" Mr Tan memohon pada Heechul sembari mendekap istrinya.
Dengan begitu berat Heechul melangkahkan kakinya berdiri dan berjalan menuju ke pintu ruangan itu. Dia menarik nafas dalam dalam dan menyeka semua air matanya. Dia memegang daun pintu yang sedingin es itu dan menekannya kebawah pelan pelan. Angin dingin menerpa tubuhnya mulai dari kakinya. Dia mengenakan pakaian khusus masuk ke ruang yang lebih dalam dan steril dimana hanya ada Hankyung disitu.
Bau tak enak menusuk hidungnya meskipun dia mengenakan masker. Dia berjalan pelan mengumpulkan semua tenaganya untuk menguatkan tubuhnya agar tetap berdiri dan menahan air matanya. Dia tak akan menangis di depan namja ini meskipun hatinya telah banjir tangisan.
Dapat dilihat di depan matanya sekarang. Namja itu tertidur. Pulas sekali. Banyak kabel kabel dan selang yang ada di tubuhnya. Rambutnya tipis. Heechul menelan ludahnya dan duduk di kursi sebelah tempat tidur Hankyung. Namja itu biasanya tersenyum ceria dan menggodanya bagaimana dia seperti ini.
Keheningan sementara melanda ruangan itu. Dan terpecah begitu Heechul membuka mulutnya
"Kau… Menungguku?" Ujar Heechul pelan. Dia memaksakan seulas senyumannya.
"Kau tahu? Aku sedang tersenyum sekarang… Apakah kau tak mau melihatnya?" Hankyung tak bereaksi apapun
"Kau ini… bagaimana kau bisa seperti ini? Oppa pabboya…" Heechul mengelus tangan namja itu pelan
"Hei… Kau tak bereaksi apapun? Aku jauh jauh kesini menemuimu…" Heechul menelan ludahnya untuk yang kesekian kali
"Aku tak menyangka berkesempatan melihatmu lagi… tapi kenapa kau seperti ini.." Heechul bergumam pelan dan menundukkan kepalanya sejenak
"Oppa… Aku ingin main ice skating lagi denganmu… berjalan jalan keliling kota… bermain salju ataupun menghitung bintang… Aku.. ingin…"
"Kau.. pernah memohon untuk egois kan? Bolehkan aku egois sekarang. Memintamu tetap bersamaku?... Hah.. Kim Heechul Pabbo.. mana ada seperti itu.. " Heechul bergumam sendiri dan memaksakan senyumnya lagi
Tes… air matanya menetes di tangan Hankyung. Sial… kenapa menangis disini.. Heechul dengan cepat menghapus air matanya dan mendongakkan kepalanya Sekuat tenaga ia menahan air mata itu supaya tak keluar lagi
"Mian oppa…" Ujar Heechul menghapus air matanya dari tangan Hnakyung dan memegangnya namun tak erat.
Heechul memperhatikan wajah Hankyung… Ada yang mengalir… Hankyung menangis! Air mata Heechul semakin tak terbendung. Dia mendekatkan wajahnya ke arah Hankyung
"Oppa… kau mendengarku.. oppa… " Ujar Heechul sambil berdiri
Perlahan Heechul merasakan ada yang meremas tangannya. Dia mengalihkan pandangannya ke arah tangannya. Hankyung menggenggam tangannya erat. Tangisan Heechul semakin menjadi jadi.
"Oppa… Oppa" Panggilnya berkali kali. Tak ada respon dari Hankyung selain air matanya yang masih mengalir dan tangannya yang menggenggam tangan Heechul.
"Oppa… Baik.. Aku tak akan memaksamu membuka mata, tapi, tolong jangan menangis lagi…" Ujar Heechul menyeka air mata Hankyung menggunakan tangan kirinya
Hankyung tak merespon apapun. Air matanya pun tak berhenti. Heechul duduk kembali di kursinya. Dia masih menangis. Dia memandang tangan kanannya yang digenggam begitu erat oleh Hankyung
Saat seorang namja menggenggam tangan yeoja dan memberikan rasa hangat itu artinya dia mengatakan 'saranghae' dan Yeoja harus membalasnya
Tiba tiba kata kata itu terngiang di ingatan Heechul. Heechul menggenggam tangan Hankyung dengan erat juga. Air matanya semakin deras lagi. Genggaman hankyung semakin kuat. Heechul tersenyum. Senyum manis yang tulus ditengah tangisnya. Hankyung menyunggingkan senyum kecil. Mungkin tak terlihat bagi orang lain. Tapi Heechul tahu Hankyung tersenyum.
Perlahan lahan genggaman tangan Hankyung melemah. Semakin lama Hankyung tak menggenggam tangan Heechul lagi.
Ketika salah satu dari mereka melepaskan genggamannya, artinya mereka mempercayakan cinta mereka pada pasangan mereka. Dan saat aku melepaskan genggaman ini, kau harus tetap tersenyum.
Heechul juga perlahan melemahkan genggamannya dan menahan senyumnya. Dia tetap tersenyum. Namun tangan Hankyung begitu lemah. Tiba tiba dengungan terdengar. Heechul menolehkan kepalanya ke arah monitor detak jantung. Hanya ada garis lurus disana. Berbondong bondong orang orang berbaju putih datang. Mr Tan menarik Heechul dari kerumunan dokter itu.
Heechul beralih ke dekapan Mrs Kim sedangkan Mr Tan memeluk Mrs Tan. Heechul masih sangat shock. Dia menangis hebat dalam pelukan ummanya.
"Ani… Umma.. Dia baru saja menggenggam tanganku.. Andwae.." Heechul melepaskan pelukan ummanya berusaha masuk ke ruangan itu lagi.
"Chullie.." Mrs Kim menahan putrinya yang bersikeras masuk lagi.
Heechul melihat kerumunan dokter itu melepas semua kabel dan selang yang melekat di badan Hankyung.
"Stop!" Heechul berusaha menghentikan dokter dokter itu. Heechul jatuh terduduk Mrs Tan menarik Heechul dan mendekapnya.
"Sudah Heechul.. relakan dia… dia tak akan senang melihatmu seperti ini… Dia berkata padaku untuk menganggapmu sebagai anakku… menjagamu juga…" Mrs Tan mendekap kuat Heechul
Heechul menumnpahkan semua tangisan, isakan, rasa sakitnya pada pundak umma namja yang dicintainya itu.
Aku berjanji… akan menjaga seluruh cinta yang kau percayakan padaku… Aku janji… Akan selalu mencintaimu… dan merindukanmu…
Although the world may all leave
Will it take the sadness along with it
I miss it
You calling me again
Only the pain in my heart will be left behind
Swallowing back the tears I threw up
Around then will I finally know
Hold my hand
Don't leave
Timeless – Jang Ri In ft. Xiah Jun Su
Update lama ya? (Pake nanya)
Yang minta Happy Ending..
Jeongmal Jeongmal Mianhae
Saya miskin ide kalo soal Happy Ending XP
Kamsahamnida ^^
