Three Demons Guard

Summary : Pengedar obat-obatan terlarang, Penjual senjata api ilegal, dan... Pecandu sex bebas. Sanggupkah Hinata seorang detektif amatir menangani tiga pemuda bermasalah yang super tampan ini. AU, Typo, OOC, Gaje, DON'T LIKE DON'T READ !

Pairing : ...? x Hinata

Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

Genre : Romance/Humor

Rated : T+ ...Zura polos gak bisa buat yang M *digampar* XD

Menampilkan : Jreng...jreng...jreng...Artis kita !

Hyuuga, Uchiha, Sabaku dan Namikaze

Hinata : 21 tahun

Sasuke : 22 tahun

Gaara : 22 tahun

Naruto : 22 tahun

Sisanya menyesuaikan ^^

Let's Read

.

.

.

"Jika kau melaporkan kami kepada polisi-polisi bodoh itu, kau sendiri juga yang nantinya akan terkena masalah. Menyembunyikan seorang... akh, bukan tapi tiga orang buronan berbahaya dirumahmu!" ucap Gaara dengan wajah coolnya.

"Hahh, jadi apa mau kalian?" pasrah Hinata.

"Kami mau tinggaal dirumahmu sementara Hinata-chan!" seru Naruto dengan cengiran lebarnya. "Kemana aura dinginnya tadi?" heran Hinata.

"Jadi?" tanya Gaara.

"Baiklah, selama kalian tidak membuatku dalam masalah kalian boleh tinggal dirumahku!" ujar Hinata dengan wajah tertunduk.

"Ayolah Hinata, kau seharusnya bahagia ada kami disini!" Ucap Naruto sebari merangkul Hinata, sayangnya ia tak melihat dua aura panas yang berada dibelakangnya.

"Bagaimana aku bisa tersenyum, mengingat ada tiga buronan kelas kakap berada didalam RUMAHKU dan BERSAMAKU! Nyawaku bisa tiba-tiba terancam!" jerit Hinata yang mencoba memaksakan bibirnya melengkungkan sebuah senyuman kepada ketiga pemuda yang nantinya akan tinggal dirumahnya itu.

.

.

Chapter 2

.

.

Keringat dingin mulai membasahi pelipis Hyuuga Hinata, matanya tertutup namun terbuka lagi mencoba memasuki alam bawah sadarnya dan gagal untuk sekian kalinya. Diliriknya waktu menunjukkan pukul tengah malam. Bagaimana gadis ini bisa tidur dengan nyenyak sementara ketiga buronan paling dicari berada di dalam rumahnya saat ini. Rasanya udara segar perlu ia hirup untuk malam ini untuk sekedar menenangkan diri saja.

"Kaa-san, lindungilah aku!" ucapnya setelah beranjak dari tempat tidurnya kemudian berjalan menuju taman belakang rumahnya.

Langkah kecil menggiringi kaki mungil gadis berambut indigo saat menelusuri taman belakang rumahnya yang tidak terlalu besar namun cukup baginya untuk menenangkan dirinya disana. Sayangnya telinga gadis itu menangkap suatu pembicaraan yang tak seharusnya ia dengar.

"BRENGSEK KAU...!" Hinata menajamkan pendengarannya, mencoba mengenali suara yang entah sedang berbicara dengan siapa itu.

"POKOKNYA AKU TIDAK MAU LAGI...!"

"Suara itu... Akh, itu suara Naruto-kun!" ujarnya pelan.

))))000((((

Sesosok pria tampan berambut pirang tengah bersandar pada sebuah batang pohon sebari menatap kelangit melihat sejuta keindahan buatan tuhan itu. Terlelap, matanya tertutup perlahan namun sebuah getaran di sakunya membuat mata sebiru laut lepas itu terbuka kembali.

Diambilnya telpon genggam berwarna hitam kelam yang bergetar di dalam sakunya, kemudian diliriknya sekilas melihat siapa gerangan yang mengganggu malamnya itu. Tiba-tiba saja pandangan matanya berubah menjadi sayu, matanya memancarkan kekecewaan yang mendalam. Dengan ragu ia mencoba menekan tombol yes dan memulai pembicaraan.

"Heh, kau lama sekali Naru-Naru!" ucap pemuda disana lantang.

"Maaf. Aku sedang sibuk, bisakah lain kali saja kau menelponku?" Namikaze muda ini hanya menanggapinya dengan nada datar.

"Hey. Sesibuk apa dirimu hingga menganggat telpon dariku saja kau tak mau?" tanyanya.

"Sudahlah jangan berbasa-basi, cepat katakan apa maumu!" ungkap Naruto masih dengan nada datarnya.

"Mauku. Khe... khe... khe, 'barang titipanku' akan segera sampai ke tanganmu jalam jangka waktu dua hari lagi. Seperti biasa aku ingin kau mengantarkan 'barang titipanku' itu dengan selamat sampai ketangan pemiliknya!" Namikaze muda ini mati-matian menahan emosi mendengar ucapan pemuda lain yang menelponnya itu.

"Aku tidak bisa. 'Barang titipanmu' itu hanya akan menyusahkanku saja!"

"Kau tak punya pilihan Naru-Naru, atau taruhannya dua nyawa yang kau sayangi!" Naruto yakin pemuda itu pasti tengah menyeringai di seberang sana.

"Kau. MEREKA ITU ORANG TUAMU KYUUU...!" geram Naruto.

"So...?"

"Kau tak akan sanggup membunuh mereka!"

Pemuda bernama lengkap Namikaze Kyuubi itu tertawa sinis mendengar ucapan adik semata wayangnya itu.

"Kau pikir aku hanya menggertakmu?" Naruto terdiam "Aku bisa kapan saja menyuruh anak buahku manculik mereka kemudian membunuh mereka dan mayatnya ku jadikan sarapan pagi anjing-anjingku...hahahaha!" lanjut Kyuubi.

"BRENGSEK KAU...!" geram Naruto entah iblis apa yang merasuki tubuh kakaknya ini, atau mungkin kakaknya sendirilah iblis yang menyerupai manusia.

"Hey. Aku ini kakakmu bersikaplah sedikit lebih sopan!" ucapnya sebari menyeringai.

"POKOKNYA AKU TIDAK MAU LAGi...!" teriak Naruto prustasi. "Dan kau bukan kakakku! KAKAKKU YANG DULU SUDAH MATI !" teriaknya sebari menjambak rambut pirangnya.

"Khe... khe... khe, aku tentunya akan mati, tapi setelah melihatmu tersiksa lebih dalam lagi !"

Deg...

Deg...

Deg...

"GRRAHHH... KAU IBLIS, APA SALAHKU KYUU? KUMOHON KEMBALIKAN KAKAKKU YANG DULU LAGI !" lautan biru itu tumpah saat sederet kata-kata panas yang keluar dari mulut seseorang yang dulu sangat-sangat ia banggakan, ia kagumi dan ia sayangi meluncur begitu saja tanpa beban, tanpa perduli akan perasaannya.

"Baiklah Naru-Naru. Lain kali akan kutelpon lagi, kau ini atur emosimu jangan gampang ngambek dari dulu sampai sekarang tak pernah berubah!" ucapan Kyuubi membekukan Naruto seketika.

"Kyuu...

"Jaaa...!"

))))000((((

Entah mengapa mata Hinata memanas melihat Naruto begitu tersiksa, ingin sekali rasanya ia memeluk Naruto mencoba menenangkannya, sayangnya ia terlalu takut berada didekat Naruto.

"Kau. Tidak baik menguping pembicaraan orang lain!" Mata keperakan Hinata membulat seketika saat sebuah suara mengangetkannya, dan saat ia membalikkan badannya.

"Kyaaaaaa... Hmmmp...!" pemuda berambut raven itu langsung saja menutup mulut Hinata sebelum teriakannya itu didengar oleh Naruto kemudian membawa *paksa* Hinata menuju sisi kolam hias yang jaraknya lumayan jauh dari taman belakang.

Setelah sampai dikolam pemuda itu menarik kembali tangannya dari Hinata.

"Kyaaaaaaaaaaaaaa... mesummmmmmm!" Hinata berteriak histeris saat melihat pemuda itu kembali.

"Kau ini berisik sekali!" ucap pemuda yang ternyata Uchiha Sasuke.

"Ta... tapi, ano... Sasuke-kun!" gagap Hinata.

"Ano, ano apaan?"

"PAKAI DULU BAJUMU SEBELUM BERKELIARAN DI DALAM RUMAHKU SASUKE-KUNNNNN...!" kesal Hinata yang langsung memalingkan wajahnya kemana saja asal ia tidak melihat Sasuke dalam keadaan bertelanjang dada itu.

Sasuke yang melihat wajah Hinata bersemu merah menarik lebar-lebar seringainya saat sebuah ide melintasi otaknya.

Di tariknya Hinata kedalam pelukannya membuat wajah Hinata membentur dada bidang milik Sasuke. "Kau ingat Hinata-chan, saat kita masih kecil dulu?" tanya Sasuke.

Dengan wajah memerah Hinata menjawab. "Ya. Sasuke-kun... A, aku ing..in kau kembali seperti Sa..Sasuke-kun yang aku kenal dulu!" wajahnya kembali memanas saat dirasakan Sasuke mengeratkan pelukannya.

"Aku tidak bisa Hinata-chan!" napas berat Sasuke membuat Hinata kesulitan untuk bernapas. "Aku tidak bisa, sebelum aku membunuhnya!" Hinata membeku seketika mendengar nada datar yang Sasuke keluarkan, ia juga dapat merasakan aura membunuh yang berterbangan mengitari dirinya dan juga Sasuke.

Sasuke mempererat pelukannya merasakan kehangatan yang sudah lama sekali tidak ia rasakan. Sedangkan Hinata, tubuhnya bergetar dalam pelukan Sasuke. Bukan karena takut pada Sasuke, namun yang ia takutkan sasuatu akan terjadi dikemudian hari antara Sasuke dengan orang yang sudah ia anggap sebagai pengganti kakaknya itu dan itu akan berakhir buruk.

-Bersambung-

.

.

04-09-2011

.

.

"Maaf yah... Zura nunggak dua bulan Y.Y soalnya gak sempet mulu *bungkuk-bungkuk*

Jadi pokoknya Zura minta reviewnya aja yah... Gomawo buat yang udah mau baca... ^^

PLEASE REVIEW

KRITIK

AND

SARAN