Disclaimer : Detective Conan/Case Closed © AOYAMA Gosho
No commercial advantage is gained by making this fanfic. So, this fanfis is just for fun.
Genre : Mistery/Friendship , and just a little bit of romance.
Please enjoy the story.
GIFT FOR CHRISTMAS, GIFT FROM CHRISTMAS
.
.
.
"Oh…," ujar Conan kemudian—lirih, "jadi begitu rupanya."
Sebuah seringai kemenangan pun dilayangkan sang bocah detektif.
"Kau … sudah tahu triknya?" tanya Aoko tak percaya, "Bohong!"
Conan hanya tersenyum polos, "Tapi, aku tetap butuh mencobanya sendiri." Mendadak, Conan membungkuk, mengambil sebuah batu kecil, dan menyerahkannya pada Aoko. "Maukah Kakak menyimpan ini di dalam tas Kakak dan kemudian Kakak mengulangi saat-saat Kakak di toilet tadi?"
"Eh?" Meski terkejut, toh Aoko menerima juga batu yang disodorkan Conan padanya.
"Berapa lama Kakak di toilet tadi?" tanya Conan kemudian sambil melirik ke arloji di tangan kirinya.
"Itu … sekitar … uhm … sepuluh menit?"
"Cukup. Jadi, bisa kita coba sekarang?"
"O-oh? Baiklah."
Aoko pun berjalan ke arah toilet. Sesaat, baik Kaito maupun Conan hanya memandang sosok sang gadis yang makin menjauh. Lalu, setelah sosok itu menghilang dari pandangan, Conan langsung menggerakkan kepalanya—menatap Kaito.
"Mari kita mulai pertunjukan analisisnya, Kakak Pelaku."
o-o-o-o-o
"Kaito~ ayo jelaskan! Apa yang terjadi? Terus, siapa pelakunya? Kenapa anak itu tidak memberitahu Aoko apa-apa? Dia malah bilang, percobaannya gagal?" rengek Aoko saat kedua remaja itu tengah berjalan pulang. Waktu sudah berjalan dan kini keduanya akan segera menghadapi saat-saat di mana matahari akan tenggelam.
"Huh? Kalau dia bilang gagal, ya, berarti analisisnya memang gagal, 'kan?" jawab Kaito santai. Meskipun demikian, saat itu sebuah senyum tersungging di bibirnya.
.
"Aku? Pelakunya? Hah! Bicara apa kau, Bocah?" ujar Kaito sambil mengacak-acak rambut anak SD di hadapannya tersebut.
"Tidak ada yang lain, hanya kau yang bisa."
"Konyol."
"Tidak konyol. Jika menggunakan…." Bocah itu menunjuk ke arah leher Kaito, "Bandul kalungmu."
.
"Sebenarnya percobaan apa, sih, yang kalian lakukan selama Aoko di dalam toilet?"
Kaito mengangkat bahu, masih menyunggingkan senyum khasnya yang terkesan jahil, "Entahlah. Aku tidak mengerti."
.
"Bandul kalungku? Menarik. Apa penjelasanmu, Dik?"
Bocah itu membetulkan posisi kacamatanya, "Kau menggunakan 'itu', 'kan?"
"Itu?"
"Daya magnet."
.
"Kaitoooo~ kau benar-benar tidak tahu?" desak Aoko lagi sambil menarik-narik jaket Kaito yang berwarna kehijauan. Begitu Kaito tidak merespons, Aoko menarik sebelah tangan pemuda itu yang tengah dimasukkan ke dalam saku jaketnya—memaksa pemuda itu untuk berhenti berjalan dan melihat ke arahnya. "Kaito!"
"He-hei! Hentikan!"
TRAK!
"Eh?"
Kaito pun menghela napas saat bungkusan yang mati-matian dijaganya itu meluncur jatuh dari kantong jaketnya dan menghantam tanah.
Semoga tidak rusak, batinnya.
.
"Daya magnet?"
"Kurasa Kakak pernah mempelajarinya, cara membuat magnet sederhana. Dengan melilitkan kabel tembaga pada benda logam, besi ataupun baja, yang kemudian dialiri listrik satu arah dari batu baterai. Peralatan yang tidak sulit didapat di daerah pertokoan. Bahkan kakak perempuan tadi sudah menyebutkannya, toko listrik dan mini-market. Sisanya, Kakak tinggal membuka sedikit resleting tas kakak perempuan tadi dan dengan daya magnet, bros beruang itu pun tertarik keluar, tanpa perlu memasukkan tangan Kakak ke dalam tas."
"Jadi maksudmu, bandul kalungku ini…." Kaito mengangkat kalungnya dan memperlihatkan bandul logam tersebut, "Yang menjadi mangnetnya?"
Tidak ada jawaban—bocah itu hanya tersenyum.
.
"Apa itu? Ng … apa aku merusaknya?" tanya Aoko takut-takut. Diraihnya bungkusan itu dan dilihat isinya. Begitu melihat isinya, Aoko hanya bisa mengernyitkan alis. Dengan jempol dan telunjuknya memegang bagian atas dan bawah benda tersebut, Aoko kemudian melihat ke arah Kaito. "Bros?"
Kaito melihat ke arah lain sembari menggaruk pipinya yang terasa menghangat.
"Kau suka pakai bros seperti ini? Heeee…," seringai Aoko sembari mengangkat bros berwarna biru—yang berbentuk seperti tetesan air dengan permata-permata kecil berwarna aquamarine mengelilingi bagian tengahnya—ke arah langit. Pantulan sinar langit yang mulai berubah warna menjadi kontras yang menambah keindahan kemilau dari permata-permata yang terpasang apik di bros tersebut.
"Bodoh!" seru Kaito sambil merebut bros tersebut. Lalu, tanpa peringatan apa pun, Kaito langsung menyematkan bros tersebut ke sekitar dada kiri Aoko yang tidak tertutupi oleh mantelnya. "Ini untukmu, tahu? Hadiah natal!"
.
"Hahahaha! Kau lucu sekali, Dik! Tapi … kenapa kau menuduhku pelakunya? Bisa saja pria yang menabrak bahu Aoko yang melakukannya, 'kan?" ujar Kaito sembari memainkan boneka Aoko yang didapatnya di game-center. Dilempar-lemparkannya boneka itu ke udara dan ditangkapnya segera—berulang kali.
"Tidak, dia menabrak Kak Aoko hanya sekilas, dia tidak akan punya waktu untuk itu. Dan jika ditilik dari gambaran yang diberikan Kak Aoko, pria itu bukanlah preman."
"Tapi kenapa dia sengaja menabrakkan diri ke Aoko? Padahal menurut Aoko, jalanan sangat lengan waktu itu."
"Kurasa dia tidak sengaja. Menurutku, pria itu hanyalah pria yang baru ditolak oleh seorang gadis tepat satu hari sebelum natal. Yah, Kak Aoko juga menggambarkannya sebagai pria yang rapi, 'kan? Mungkin dia sudah berdandan habis-habisan untuk bertemu pacarnya, tapi malah diputuskan. Lalu, Kakak juga pasti tahu, diputuskan di hari seperti ini, sama sekali bukan berita baik yang dapat membantu orang untuk lebih memerhatikan jalan."
"Heemh … bagaimana dengan pemilik toko? Dia juga mencurigakan, 'kan?"
"Tidak juga. Kurasa sebenarnya toko yang didatangi Kak Aoko itu memang sudah mau bangkrut, atau akan disita. Dan teriakan 'pergi kau' yang diucapkannya, jelas-jelas tidak mengarah pada kalian. Kurasa … dia berteriak demikian pada juru sita yang kebetulan datang setelah Kak Aoko."
Kaito terdiam. Tatapannya mengarah pada boneka yang ada di genggaman tangannya. Dan senyum—sama sekali tidak hilang.
.
Meskipun mentari mulai meninggalkan singgasananya, menarik semua benang cahaya yang memberi sedikit sentuhan biru pada langit siang, tetap saja rona merah itu tidak bisa disembunyikan dari wajah Aoko. Hangat, sungguh. Rasanya musim dingin ini jadi tidak begitu dingin kala itu.
"Ke-kenapa? Ini … untuk Aoko?" tanya Aoko sambil menarik sedikit baju rajutannya yang sudah mengenakan bros.
"Sudah kubilang, 'kan? Hadiah natal!" ujar Kaito sambil—lagi-lagi—mengalihkan wajahnya. "Jauh lebih bagus dibanding bros beruangmu, 'kan? Maksudku … biru (Ao) … lebih menggambarkan dirimu dibanding cokelat."
Aoko menatap Kaito nyaris tanpa kedip. Kaito semakin salah tingkah dan hanya bisa menggaruk kepalanya sambil sesekali melirik ke arah Aoko.
Lalu, sebuah senyum manis—sangat, sangat manis—terkembang di wajah Aoko.
"Arigatou, Kaito."
.
"Biar kutambahkan," ujar Conan sambil membalas senyum Kaito, "hal yang semakin menguatkanku kalau Kakak memang pelakunya adalah kesaksian Kak Aoko yang mengatakan bahwa ia tanpa sadar menggerakkan tangan dan tidak sengaja memukul tangan Kakak. Saat itu, daya magnet dari bandul kalung Kakak, masih cukup kuat, hingga tangan kiri Kak Aoko yang pada dasarnya tidak begitu jauh dari letak bandul yang saat itu Kakak gunakan untuk menarik brosnya, jadi ikut tertarik."
"Hahahaha! Luar biasa! Kau bilang magnet bisa menarik tangan manusia?" Kaito tertawa mengejek. "Hei, Dik—"
"Oh, maaf. Maksudku bukan tangan, tapi … jam tangan yang terpasang di tangan kirinya," jelas Conan sambil memperlihatkan arlojinya sendiri. "Beberapa bagian dari jam tangan Kak Aoko adalah logam seperti jam tangan Kakak, 'kan? Dan itulah … yang tidak sengaja tertarik oleh magnet bandul kalung Kakak."
Kaito terdiam kali ini. wajahnya sudah memancarkan keseriusan.
"Lalu, dengan dijatuhkannya bandul kalung itu, daya magnet akan melemah, dan jika dibiarkan beberapa saat, daya magnetnya juga akan segera hilang." Conan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana panjangnya. "Bagaimana? Apa aku salah?"
.
"Haaah~ tapi dipikir-pikir, sayang juga, ya, bros beruang Aoko?" ujar Aoko saat keduanya telah kembali berjalan. Saat itu, keduanya sudah kembali ke daerah pertokoan. Beberapa lampu sudah mulai dinyalakan. Orang-orang terlihat makin padat. Ya, satu hari sebelum natal—tepatnya malam natal—akan menjadi saat yang sibuk bagi warga di kota tempat mereka tinggal.
"Sudahlah," ujar Kaito sambil menepuk kepala Aoko, "bukankah kau sudah dapat bros yang lebih bagus, heh?"
"Lebih bagus, sih, iya! Tapi memangnya bros ini lebih mahal?"
"Heeei! Bros itu tidak sebanding dengan bros beruangmu, tahu! Tsk! Dasar!"
"Hehehe. Bercanda, sekali lihat pun Aoko tahu, kok, kalau ini bros mahal."
"Heeemh."
"Tapi gawat, nih, kali ini Aoko lupa menyiapkan hadiah natal untuk Kaito. Gimana, ya?" ujar Aoko sambil menunduk dan menyentuh bibirnya dengan jari-jarinya yang tertekuk.
Kaito terdiam. Tangan dalam sakunya kemudian memegang erat sebuah benda.
.
"Tujuannya?"
"Eh?"
"Apa tujuanku mencuri bros Aoko?"
"Wah … itu, sih…."
.
"Tidak perlu," jawab Kaito sambil tersenyum dengan mata yang terpejam sesaat, "aku sudah mendapatkan hadiah natal darimu."
"Eh? Apa?"
Kaito melirik ke arah Aoko dan kemudian menyeringai.
"Ra-ha-si-a!"
"Heh?"
"Sudahlah! Ayo kita makan! Aku lapaaaar!" ujar Kaito sambil berlari meninggalkan Aoko.
"E-eh? Kaito curaaang~! KAITOOO! Chotto matte~!"
Dan sepasang anak manusia itu pun menghabiskan malam natal mereka dengan penuh canda tawa. Tanpa beban dan semua yang mengganjal pun terlupakan.
Malam natal—malam yang identik dengan luapan kasih. Malam di mana semua emosi seolah menguap, malam di mana rasa persaingan itu ditangguhkan sementara.
Karena itulah, saat ini ia masih bisa menikmati indahnya malam menjelang natal—ditemani kekasih dan kerlipan warna-warni lampu yang menghiasi di sepanjang jalan.
.
"Kau tahu banyak sekali, ya, Dik? Luar biasa," jawab Kaito sambil bertepuk tangan. "Lalu? Apa kau mau menangkapku?"
Conan menggaruk pipinya.
"Seharusnya, tidak ada bedanya antara hari ini dan hari lainnya. Tapi … karena ini malam natal…."
"Hah? Jadi, kau mau melepaskanku? Tidak salah, eh?" cibir Kaito dengan senyumnya yang menyebalkan.
"Hanya sekali ini," jawab Conan tegas, "saat kita bertemu lagi nanti dan kau tidak juga jera, aku akan segera mengirimmu ke penjara, Kakak."
Kaito terbelalak. "Dari ucapanmu, kurasa kau tahu kalau aku…."
"Sudah kubilang, untuk sekali ini saja, aku tidak tahu apa-apa." Conan pun berbalik, siap beranjak pergi. "Tapi tidak ada istilah lain kali…."
.
Dan karena ini malam natal … ya, sudahlah.
o-o-o-o-o
"Hoo? Jadi ada kasus seperti itu?" ujar Ai tampak tak berminat. Jari-jarinya masih menari di atas keyboard yang terhubung dengan sebuah komputer. "Dan kau membiarkannya?"
"Yah … cowok itu berjanji akan mengembalikan bros ceweknya besok, walaupun aku tidak tahu, sejauh mana ucapannya bisa dipercaya."
"Oh? Baik hati sekali. Melepaskan seorang pencuri karena ini adalah malam natal."
"Sudahlah, setidaknya dia juga berjanji akan memberikan bros lain pada cewek itu," ujar Conan sambil melihat-lihat seisi ruang kerja sang gadis berambut kemerahan, "walaupun menurutku konyol memang. Hanya karena hadiah natal yang sudah disiapkannya adalah bros, ia sampai tega mencuri bros ceweknya agar hadiah natal pemberiannya tidak tersaingi oleh bros yang dibeli sendiri oleh ceweknya."
"Lho? Kurasa idenya bagus juga. Dengan adanya pencurian ini, hadiah natal dari cowok itu pasti akan menjadi lebih berkesan bagi ceweknya," jawab Ai cuek. Tidak sedikit pun tatapannya berpindah dari layar di hadapannya. "Lagipula, bukankah sama saja?"
"Ng?"
"Maksudku," ujar Ai sembari memutar kursinya sedikit, "dengan ini, secara tidak langsung cowok itu sudah mendapat hadiah dari ceweknya, 'kan? Seperti tukar kado saja." Ai menghentikan penjelasannya dengan sebuah tarikan kecil di bahunya. "Daripada mengurusi orang, bagaimana hadiah untuk pacarmu sendiri? Sudah kaubeli?"
"Ah? Untuk Ran, ya? Yah … aku memberikannya sebuah jam tangan."
Ai menyeringai sinis, "Jam tangan?"
"Berbeda dengan seseorang, Ran tidak menyukai perhiasan," jelas Conan sambil tersenyum salah tingkah, "jam tangan akan lebih pantas untuknya."
Ai menatap Conan sesaat sebelum ia kembali berputar menghadap layar, "Sudah kubilang, kau tidak perlu bantuanku untuk itu."
"Tidak juga," jawab Conan singkat. Namun, entah mengapa, terdapat suatu makna tersembunyi di balik kata-kata itu. Ai tidak mengerti. "Ah, ini aku taruh sini, ya? Dan … hem, aku harus segera kembali ke tempat Paman. Ran mengadakan pesta kecil-kecilan hari ini dan dia pasti sudah menungguku. Yah, aku memang mengatakan padanya bahwa aku hanya akan pergi sebentar, sih."
"Kalau gitu, tunggu apa lagi? Sana. Jangan salahkan aku kalau nanti pacarmu menangis karena kau tidak kunjung datang."
"Itu, sih … sudah, kan?" jawab Conan lirih.
"Ng?"
"Ah, tidak. Sudah, ya, Haibara. Jaa!"
Suara pintu tertutup dan ruangan pun kembali menjadi hening. Ai termangu beberapa saat, entah mengapa pikirannya menjadi sedikit kosong kala itu.
"Sedih … karena kau tidak kunjung datang, eh?" gumam Ai. "Ia hanya tidak tahu, kalau kau selalu ada di sampingnya."
Ai menghela napas berat. Ai pun turun dari kursinya, hendak beranjak ke ruang depan. Sudah seharusnya di malam natal ini ia merelaksasikan pikirannya sedikit—tidak terus tenggelam dalam pekerjaannya. Yah, menonton mungkin akan membuat perasaannya lebih baik.
Tapi … apa itu?
Matanya tertuju pada sebuah bingkisan yang terletak mencolok di atas suatu meja kecil di pojok ruangan.
Kaki mungil gadis itu pun bergerak mendekat. Diraihnya bungkusan berwarna soft-pink yang diikat dengan sebuah pita sederhana berwarna emas. Pertama, yang terlihat oleh mata Ai adalah sebuah kartu.
Dibukanya kartu itu dan dibacanya dalam hati.
Merry Christmas.
Maaf, tadi aku tidak mengacuhkanmu karena lebih tertarik dengan kasus. Oh, ya, saat membeli hadiah untuk Ran, aku menemukan benda yang kukira cocok denganmu. Kuharap kau suka.
Ai mengernyitkan alis. Memang, nama pengirimnya tidak tertera jelas, tapi Ai bukanlah gadis yang sebodoh itu sampai ia tidak bisa menebaknya.
Disingkirkannya kertas ucapan tersebut dan ditariknya tali yang melingkari bagian atas bingkisan. Dan—
—sebuah bros berbentuk hati kecil berwarna merah kini sudah berada di tangannya.
Kedua mata Ai terbelalak.
" … Belikan saja dia bros atau anting atau perhiasan apa pun, pasti dia akan senang."
.
"Berbeda dengan seseorang, Ran tidak menyukai perhiasan."
.
Sebuah senyum kemudian terkembang di wajah Ai. Dipejamkan matanya sesaat sembari mendekatkan bros tersebut ke dadanya.
Setelah itu, Ai pun keluar dari ruangan kerjanya tersebut. Suatu perasaan ringan kini terasa memenuhi rongga dadanya.
Arigatou, Kudou-kun.
Itulah keajaiban malam natal yang pertama kali Ai kecap setelah lama ia mendekam dalam kegelapan, tanpa sedikit pun harapan akan kebahagiaan.
Dan ini … menjadi malam natal yang paling berkesan di hatinya.
***FIN****
Uhyeeeah! Akhirnya beres juga fic natal versi conan ini~ X3
Ya, ya, saya tahu, mungkin bakal ada yang tanya; emang bisa dipraktekin triknya? Jawabannya: saya juga nggak tahu. Trik ini murni rekaan dan soal bisa nggaknya, saya nggak pernah nyoba. :P Tapi soal pembuatan magnet dengan cara itu, sih, beneran ada. Haha. Tapi mungkin (lagi), trik itu cuma akan sukses di tangan Kaito, jadi mending jangan coba-coba, ya, minna ;))
Sedikit penjelasan, Aoko itu secara harfiah berarti 'anak biru' jadi si Kaito ngasih dia kado bros warna biru. Prinsip yang sama untuk Ai, yang secara harfiah berarti 'cinta', jadi dikasih bros bentuk hati, deh *maksa*
Bagian yang diitalic itu flashback pembicaraan Conan dan Kaito waktu Conan mengungkap analisisnya, tentu aja Aoko nggak tau. Ya, moga-moga nggak membingungkan. Terus, karena ini semi-canon, saya buat si Conan tahu identitas Kaito. Yang jelas, di canon-nya kalau ampe identitas Kaito ketahuan mah sama aja dengan tertangkapnya KID. Jadi itu termasuk impossible terjadi dalam waktu dekat. Haha.
By the way, saya bales review di sini, yup?
Aya Akita: makasih banyaaaak X3 ini chapter 2-nya, douzo.
Air Mata Bebek: sekarang udah nggak penasaran lagi, kan? ;)) thanks udah r&r.
Thi3x: namanya juga kasus sebelum natal, jangan berat-berat, dong, ah~ Ne, semua pertanyaan kamu kaenya udah kejawab di sini, deh. hahaha. Btw, thanks udah r&r.
Nitha chaniago: makasiiih~ X3 nyahahaha~ nih, udah terjawab semua, kan? Tenang, Conan jadi anak baik, kok, sekarang :D:D:D
twenty seven zhg: jiaaah, dasar Dhi-chan. Hihihi. Anyway, thanks dah r&r.
chocovic-chu: haha, silakan baca bagian penjelasannya ;)) Dan soal jam tangan, sepasang gak berarti harus dipakai di tangan kanan-kiri, kok. Kan jam tangan mah dipakainya sesuai kebiasaan aja. Atau vic ada maksud lain? *author lemot ._.a Soal boneka, iya, yg dari game-center. Anyway, thanks dah r&r.
Dr. Kimchie: hahahay~ gimana? Cocok nggak ama analisis kamu? ;)) Tenang, malam natal, semua berbahagiaaa~ Anyway, thanks udah r&r.
Special thanks to Masahiro 'Night' Seiran buat jadi first reader ane X3 *hug*
Oke, akhir kata, saya tahu fic ini masih jauh dari sempurna, karena itu, bersediakah minna-san memberikan pesan, kesan, saran, kritik, yang dapat saya gunakan untuk perbaikan ke depan? Arigatou sebelumnya.
I'll be waiting.
Regards,
Sukie 'Suu' Foxie
~Thanks for reading~
MERRY CHRISTMAS BUAT SEMUA YANG MERAYAKAN~!
May this Christmas brings you joy, love, and peace.
