Say thank to:
.
Alegre541
Awan Hitam
Fitria -AlyssAmarylissJeevas
Merai Alixya Kudo
Hatake Liana
Yarai Yarai Chan
Vaneela
Rizu Hatake-Hime
Ichaa Hatake Youichi
Kirisha Zwingli
Minami22
.
Jg bwt s's'org yg ripiu tanpa nama. arigatou fic abal kyk gini udh di blg krn ^-^
NARUTO
.
Disclaimer:
Masashi Kishimoto
.
Story:
Cielheart Ie'chan
.
Pairing:
KakaIno
NaruHina
.
Warning:
AU, OOC, typo, gaje, abal, ancur n sgla macam kejelekan.
.
Don't like, don't read
Bagian 2
.
.
Yeah, they know who you are
.
.
''Te- telat?"
Hinata memasang raut memelas hampir menangis memandangi gerbang besi setinggi 2 meter yang tertutup rapat didepannya. Gadis berambut indigo panjang lurus sepinggang itu tidak menyangka ia akan berakhir telat bangun pagi hanya karena bergadang sampai pukul tiga pagi untuk mendengar celoteh kesal Ino yang merasa tidak adil dengan hidupnya dan dengan senang hati mengutuki pasangan Inoichi-Hisagi, kedua orangtuanya sendiri.
Hinata menghela nafas speechless. Mau bagaimana lagi, batinnya pasrah. Sedikit meneguk ludah ngeri mengingat ia tidak punya pilihan lain selain masuk dan pastinya akan di sambut tatapan horror Anko-sensei selaku konselor sekolah. Tidak ketinggalan pula imajinasi beberapa hal gila yang mungkin dipergunakan guru tomboy itu untuk menghukumnya. Dijemur mirip ikan asin di bawah terik matahari pukul 12 siang, membersihkan toilet pria yang bau pesingnya bikin semaput atau kalau beruntung, Hinata akan disuguhi kerja rodi seminggu mengurusi ular-ular derik peliharaan sekolah.
Tidak ada satu pun yang terdengar exciting. Meski begitu, Hinata yang pantang membolos justru dengan senang hati melangkahkan kaki agar semakin mendekati gerbang itu. Menatap nanar area elite dibalik jeruji besi yang kini ia pegang.
Di hadapan Hinata terpampang jelas 'Konoha Internasional High School' atau yang biasa di singkat 'Konoha IHS'.
Sekolah itu terbagi menjadi tiga bangunan besar dan luas. Dua saling berhadapan di sisi timur dan barat dengan empat lantai yang menjulang tinggi. Sementara satu bangunan lain yang meskipun hanya berlantai tiga, namun terlihat lebih megah dan panjang akibat pengaruh bagian tengahnya yang menyerupai menara dengan jam emas besar di dindingnya, berada tepat di tengah-tengah kedua bangunan lain. Berhadapan langsung dengan halaman luas berpasir tipis yang dipenuhi pohon cemara dan sebuah kolam ikan berbentuk lingkaran yang bagian tengahnya dihiasi patung peri bersayap dengan tongkat bintang yang setiap sudutnya dialiri air mancur.
Halaman itu terlihat kosong. Begitu pula area sekitarnya yang tampak hening karena jam pelajaran pertama sudah di mulai sekitar 15 menit lalu.
Hinata mengalihkan pandangan menatap pos satpam berukuran sedang di area kiri dalam gerbang. Gadis itu menautkan alis, merasa aneh mendapati tempat penting yang biasanya di huni tiga pria berpentungan dan seorang wanita yang selalu sibuk dibalik meja komputer kini tak terlihat di pos mereka. Hinata segera sadar kalau sekarang akhir bulan yang juga berarti hari 'breafing dan pelatihan massal' untuk 12 satpam dari 3 gerbang masuk yang menjaga Konoha IHS.
''Ka- kalau begini, bagaimana bisa... masuk?''
Kepala Hinata terkulai lemas menatap ujung sepatu hitamnya. Namun sejurus kemudian, kepala indigo itu kembali mendongak cepat. Memasang mimik tegas di wajah innocentnya yang selalu tampak ragu-ragu.
Gomen ne, sensei. Aku terpaksa melakukan ini, innernya penuh dosa seraya menumpukan kedua telapak tangan didepan wajah. Bergaya seolah memohon ampun.
Sedetik kemudian, Hinata kembali mengorbitkan mata ke segala arah. Termasuk meneliti dua pintu gerbang lain yang berjarak cukup jauh dan mengapit gerbang utama tempatnya berdiri. Berusaha memastikan tidak ada makhluk lain yang bisa melihat tindakan tak elite seorang souke yang akan ia lakukan. Setelah merasa 'aman', Hinata segera melempar tas selempang ungu mudanya ke balik gerbang yang terkunci rapat sebelum mengeratkan pegangan di antara
jeruji besi. Perlahan-lahan memanjati pagar setinggi 2 meter didepannya dan...
Hup!
Dalam sekali lompatan dari puncak gerbang yang berjeruji lancip mirip anak panah, gadis berambut indigo itu sukses mendarat dengan agak tidak mulus akibat kedua lututnya yang terantuk di lantai semen, di bagian dalam halaman sekolah yang membentuk sebuah jalan lebar yang diapit deretan pohon cemara di sisi kiri dan kanan badan jalan. Hinata meringis pelan sembari mengelus-elus kedua lututnya yang memerah perih meski tidak tergores. Sedetik kemudian, gadis itu dengan sigap memunguti tas selempang yang tergeletak tidak jauh dari kakinya sembari berlari setengah tergesa-gesa memotong halaman berumput luas di sisi kanan jalan masuk untuk segera sampai di bangunan sebelah Barat yang berfungsi sebagai 'kelas khusus' alias special class tanpa menyadari dua pasang mata yang sejak tadi lolos dari sensor lavendernya kini mengamati punggung gadis itu menjauh. Mereka baru menampakkan diri dari balik salah satu pohon cemara begitu Hinata menghilang ditelan gedung sekolah.
'Mereka' juga dua orang siswa Konoha IHS. Seorang pria tampan berambut duren, berwajah manis dengan tiga garis tipis yang menyerupai kumis kucing di masing-masing pipinya dan seorang lagi pria berkepala nanas hitam dengan raut bosan hidup. Kedua orang itu baru saja melakukan tour dadakan mengelilingi area sekolah. Atau lebih tepatnya, Shikamaru Nara ― begitu sulaman emas nama yang tertera di bagian dada kanan blazer hitam dengan dalaman kemeja putih serta dasi merah si pria berwajah malas ― terpaksa menemani Naruto Namikaze, murid baru pindahan dari negeri Bulan atas perintah sang wali kelas 2-2.
''Sugee! Aku pikir gadis bertampang imut itu takut ketinggian?'' Naruto nyengir takjub tanpa mengalihkan pandangan dari tempat Hinata menghilang. Membiarkan bola mata sebiru langit cerahnya seakan mampu menembus gedung special class hingga bisa mendeteksi di kelas mana gadis penebar aura memukau tadi terdampar. Membuat 'si jenius' Nara yang berdiri disampingnya menguap bosan.
''Mendokusai!'' Shikamaru berkomentar malas sembari mengaitkan kedua tangan dibelakang kepala. ''Lebih baik jangan tertarik dengan gadis itu, Naruto. Levelnya terlalu tinggi untuk bisa kaudekati. Lagipula... sstttt.''
''Apa?'' Naruto bertanya aneh. Entah telinganya yang kurang fokus atau Shikamaru memang sengaja mengecilkan volume suaranya sampai tak terdengar, yang pasti pria berambut orange jabrik itu tidak bisa menangkap ujung kalimat teman barunya yang menurutnya sangat penting.
Shikamaru mengacuhkan pertanyaan Naruto. Ia justru melanjutkan langkahnya menuju gedung tengah yang dihuni para staff guru setelah tadi sempat tertunda akibat ulah Naruto yang tiba-tiba menariknya untuk bersembunyi.
''Hey, Shikamaru! Tadi kau bilang apa? Aku tidak dengar.'' Naruto menjejeri langkah Shikamaru. Meliriknya penasaran dengan telinga yang terpasang siaga, namun yang ia dapati hanya pria berwajah bosan yang menguap ngantuk di sela-sela lirikan malasnya menatap Naruto.
Kedua pria berseragam beda itu melewati kolam air mancur yang berada tepat di tengah-tengah ketiga gedung sekolah bercat orange. Semakin mendekati pintu ganda utama bangunan tengah bergaya eropa dengan deretan bunga asoka di depan gedung yang membuatnya tampak asri.
''Hei, Shikamaru! Kau dengar aku, tidak?'' Naruto belum menyerah.
''Kau berisik, Naruto!'' Shikamaru tidak peduli.
''Makanya beritahu aku, gadis itu kenapa?'' Naruto makin penasaran. Ia berinisiatif mempercepat gerakannya, lalu menghadang langkah Shikamaru yang hampir menapaki undakan tangga semen gedung didepannya yang membuat pria pemalas itu ikut menghentikan gerakannya.
''Merepotkan!'' Shikamaru menghela nafas lelah. Namun tidak sampai sedetik, air mukanya yang malas berubah serius. Mengantongi kedua tangan di saku celana hitamnya. ''Aku hanya akan mengatakannya sekali, Naruto. Jadi kau harus mendengarkan hal ini baik-baik demi ketenangan hidupmu selama di Konoha,'' ujarnya tenang, tapi dalam. Membuat Naruto ikut berwajah serius di depan Shikamaru meskipun sebenarnya ia kurang tanggap mendengar arah pembicaraan mereka yang serasa dipenuhi embel-embel 'pembicaraan tingkat tinggi dan rahasia'.
Naruto meneguk ludah pelan. Merasakan sesuatu yang aneh tiba-tiba bergejolak di perutnya. Ia penasaran, namun di saat bersamaan keheningan yang melanda sekitar mereka terasa mencekam dan membuatnya takut mendengar info sang pemuda Nara.
''Gadis itu...,'' Shikamaru kembali bersuara. Nyaris berbisik seakan tidak ingin orang lain mendengar suaranya meski tempat itu jelas-jelas sedang kosong karena jam pelajaran sudah di mulai sejak tadi. ''Hinata Hyuuga adalah 'jimat' Konoha. Lebih baik jangan tertarik pada segala hal tentangnya atau kau akan... mati!''
Wussshh...
Angin dingin di pertengahan musim gugur seakan menghantar embusan pengap yang menyesakkan dada.
Naruto kembali meneguk ludah nervous. Tadinya ia ingin menganggap kalimat Shikamaru hanya lelucon iseng pria berambut nanas itu, tetapi wajah serius dan titik-titik keringat dingin dipelipisnya seakan mewakili perasaan si pecinta shogi yang juga tidak kalah takut.
''Ma- maksudmu apa?''
.
.
^^BLOH^^
.
.
''Neji-niisan?''
Ino nyaris memekik begitu menapaki lantai rumah makan. Sport jantung dadakan di depan pintu dorong ganda saat melihat sang kakak sepupu berada di ruangan itu. Duduk bersila di belakang salah satu meja kayu pendek persegi dengan nampan berisi segelas ocha dan beberapa tumpuk sandwich di atas piring kecil berwarna hijau bening dihadapannya.
Si pria berambut hitam panjang yang merasa namanya disebut refleks menoleh. Memasang raut aneh di wajah tegasnya yang selalu datar hingga Ino semakin salah tingkah.
Sial! Kejadian ini tidak ada dalam daftar rencana dan... urgh, seharusnya aku tahu si 'Tuan Komentator' ini belum ke kampus, Ino mengumpat dalam hati seraya mengernyit nyeri melihat penampilannya sendiri. Piyama tipis terusan lima sentimeter di atas lutut. Bermotif kotak-kotak orange-putih dengan gambar beruang besar di area dada.
Aku dalam masalah, Ino meneguk ludah ngeri.
Merasa tidak bisa kabur, gadis berambut pirang yang tadinya pucat pasi itu tiba-tiba memasang senyum maut berlatar bunga-bunga di sekeliling tubuhnya yang semampai.
''Neji-niisan, ohayou! Lama tidak bertemu, ya?''
Ino melambaikan tangan riang. Mempercepat gerakan kakinya memasuki ruang makan besar berkarpet hijau lumut, berdinding kayu mahoni coklat dengan aksen beberapa jendela kaca besar, nyaris menyentuh plafon. Kaca-kaca di jendela itu agak tebal, buram dan berwarna-warni yang saling tumpang tindih. Masing-masing membentuk motif salah satu dari empat Shijin. Naga, macan, phoenix dan kura-kura.
Cantik.
Terlebih lagi saat ini. Sinar matahari pagi sukses menerpa kaca-kaca itu. Memantulkan bias-bias warna yang membayang di setiap sudut ruangan asri tanpa perabotan itu.
Hanya ada sekat lipit putih berlukiskan padang bunga matahari setinggi 1 meter di belakang masing-masing meja makan kecil yang tertata rapi dan saling berhadapan dalam jarak cukup jauh, beserta zabuton putih polos di kolong meja. Di setiap sudut ruangan tampak pot besar pohon bonsai, sementara di bagian tengah ditempati kolam kecil berkerikil setinggi lantai, berbentuk persegi panjang dengan tiga undakan kecil berlubang-lubang di bagian tengah yang setiap lubangnya memercikkan air, membasahi undakan sebelum jatuh di dalam kolam yang selalu beriak.
Ino mendekati meja kecil di sebelah kanan yang bersisian dengan pintu masuk. Duduk santai tepat di depan Neji yang kini berhenti sarapan untuk sekedar memasang wajah tanpa ekspresi melihat gerak-geriknya.
''Yatto aeta, Neji-niisan! Kupikir hari ini kau juga sangat sibuk sampai tidak bisa kutemui?'' (Akhirnya aku melihatmu, Neji-niisan!) Ino bersorak senang. Memasang senyum lebar paling manis yang bisa ia usahakan saat ini. ''Kangennya! Kita sudah lama tidak bertemu, kan? Kudengar sekarang Neji-niisan mengurusi beberapa hotel berbintang atas perintah Obaa-sama, ya? Hebat! Padahal mahasiswa itu, kan banyak tugas. Tapi sepertinya hal itu bukan masalah untuk orang sejenius Niisan, ya?''
Ino sibuk sendiri. Memasang beberapa mimik berganti-ganti. Kadang terdengar ceria, sedikit kesal, jealous, lalu menghela nafas muram sembari menumpukan siku di atas meja. Bertopang dagu lesu dengan kedua telapak tangan.
''Huh, semua orang terdengar hebat. Hanya aku saja yang tidak berguna. Iya, kan, Neji-nii?''
Ino menghela nafas lagi. Panjang. Menatap Neji dengan aura memelas hampir menangis yang sedikit pun tidak berbuah belas kasih. Si pemilik kornea putih di depannya hanya memandangi Ino lekat-lekat beberapa saat, kemudian meraih ocha di cawan putih polos sembari menyeruputnya nikmat seolah tidak pernah mendengar ratapan gadis pirang itu. Hal ini jelas membuat dahi Ino berkedut sebal. Merasa pemuda yang lebih tua tiga tahun darinya itu benar-benar tidak punya hati.
Terlebih lagi, sejak dulu Ino memang tidak pernah bisa menebak isi kepala Hyuuga yang satu ini karena raut bak tundra bekunya. Berbanding terbalik dengan Hinata yang polos dan tertutup, tetapi memiliki air muka yang gampang di tebak atau Hanabi yang beraura ceria, hampir seperti copy dirinya hingga Ino selalu tahu isi cerberum bocah 13 tahun itu.
Ino terpaksa menegakkan punggungnya kembali seraya membuang raut memelasnya yang tidak berguna.
''Hallo, Neji-niisan! Kau tidak mendengarku, ya?'' Gadis itu memberi penekanan pada suaranya yang terdengar setengah berteriak. Melambai singkat di depan wajah Neji yang mulai mengunyah salah satu dari tumpukan sarapan paginya. Berusaha membuat pemuda itu menyadari keberadaannya yang sejak tadi di anggap invissible. ''Apa kisah sedih gadis cantik sepertiku benar-benar tidak menyentuh hatimu yang beku?'' tanyanya aneh dengan wajah polos. ''Wew, en quelque sorte, je suis désolé pour la fille qui accompagnera votre vie plus tard, Nii-san. Si quelque chose.'' (Wew, entah kenapa, aku jadi kasihan pada orang yang akan mendampingi hidupmu nanti, Nii-san. Itu pun kalau ada).
Ino melengos pelan, kemudian terkekeh geli mendengar leluconnya sendiri. Santai. Toh setahu Ino, Neji tidak mengerti bahasa prancis. Lagipula, kalau Neji tahu, memangnya kenapa? Paling ia akan disuguhi death glare gratis tanpa suara karena pria bermata pearl itu jelas bukan tipe yang suka mengomel. Dan semua orang bodoh juga tahu, sebuah 'death glare' tidak akan membunuh siapa pun meski 'death' berarti 'mati'.
Malas berkomentar, Neji hanya membiarkan dirinya sarapan dengan tenang. Kembali melahap habis potongan sandwichnya yang kedua sebelum menghabiskan isi ocha di dalam chawan. Namun tak pelak, suasana batin pemuda tampan itu jadi agak terganggu mendengar tawa Ino yang membuat pelipisnya berkedut sebal diikuti tatapan yang kira-kira berisi pesan, ''Untung kau berdarah Hyuuga, Ino. Kalau tidak, kau sudah jadi perkedel daging sejak tadi.''
''Kalau kau mengatakan itu untuk mengalihkan perhatianku dari pakaianmu, kurasa kau tidak akan berhasil.'' Akhirnya Neji bersuara. Datar.
Ok, sebenarnya terdengar kesal. Tetapi bagi Ino, wajah tampan itu tetap saja tanpa ekspresi. Tenang dengan raut tundra beku yang tak terbaca. Membuat tangan Ino gregatan ingin mencubiti wajah yang hanya berjarak sekitar 60 centimeter didepannya.
Huh, untung saja aku pernah melihat foto masa kecil Neji-niisan yang menangis didandani mirip wanita. Kalau tidak, aku pasti berfikir orang ini memang terlahir berwajah datar, batin Ino saklek.
Nah, lho! Pernah lihat bayi berwajah datar?
Mengerikan!
''Ck, ketahuan, ya? Tidak asyik!'' Ino mencelus bosan. Padahal ia sudah bersusah payah pasang tampang memelas agar sang kakak sepupu tidak sibuk memperhatikan hal lain selain wajahnya. Atau minimal, Ino sudah berbaik hati menebar kalimat menyebalkan agar orang didepannya menghilang karena kesal, tetapi ternyata tidak mempan.
Huh, memangnya actingku seburuk itu?
''Lain kali jangan berkeliaran di luar kediamanmu dengan piyama.'' Neji kembali bersuara. Mengabaikan protes Ino yang membuat gadis itu memutar bola mata bosan meski tidak berani protes.
Kalian belum mengenal Neji Hyuuga, sih. Meski tenang-tenang begitu, ia bisa menjadi orang paling mengerikan setelah Miroku Hyuuga bila kalimatnya berani dibantah. Makanya jangan heran kalau Ino langsung manggut-manggut ― entah setuju atau malah takut ― bak anak kucing.
''Hai, Neji-sama. Hamba akan berusaha,'' jawabnya cepat sembari menempelken kedua telapak tangan di depan wajah. Tegas nan penuh sopan santun, tetapi tetap saja bermakna rancu yang membuat sang kakak sepupu malas berkomentar lebih lanjut dan memilih beranjak dari atas zabuton yang ia duduki.
Ino hanya berdiam diri. Kembali menumpukan salah satu siku di atas meja sebagai penopang kepalanya yang mendongak santai, mengamati setiap gerak-gerik pemuda berambut hitam lurus di seberang meja sembari mulut dan tangannya yang bebas sibuk berduet untuk menganiaya sekerat sandwich.
''Neji-niisan, kau mau ke kampus?'' tanyanya sambil lalu.
Bukan pertanyaan penting. Jawabannya apalagi.
Hanya dengan melihat pakaian Neji saja, Ino sudah tahu si pemilik mata seputih mutiara itu akan bepergian keluar rumah. Ia tidak memakai hakama seperti yang seharusnya ia lakukan saat berada di rumah induk, tetapi mengenakan kemeja putih lengan pendek beserta rompi tebal berwarna senada, namun lebih buram dengan aksen beberapa strip hitam di sekitar kancing. Juga long trousers gelap yang membuat Neji semakin terlihat keren di aquamarine Ino.
Hah... Kami-sama memang kejam. Kalau sudah begini, aku jadi semakin menyesal terlahir sebagai Hyuuga, kan? innernya error disusul kikikan geli yang mati-matian ia tahan agar tidak di anggap gila.
Mendengar suara Ino, Neji yang sudah berjalan dua langkah dan hampir menghilang tanpa suara, terpaksa menoleh pada si pirang di belakangnya. Bermaksud menjawab pertanyaan gadis itu.
''Tidak. Aku ingin ke hotel di Kiri sebentar. Ada sedikit masalah. Tapi sebelum itu, aku akan mengantarmu ke sekolah karena ternyata kau tidak pergi dengan Hinata.''
Uhukh!
Jawaban Neji sukses membuat Ino tersedak sarapan paginya. Padahal kalau boleh jujur, setelah ini, tadinya Ino berniat kembali tidur untuk me-recharge tenaganya yang terkuras setelah bergadang semalaman. Ditambah lagi, tadi pagi Ino sudah sengaja merengek pada Hinata agar si pemilik mata lavender itu membiarkannya santai untuk hari ini. Toh, Ino belum terdaftar sebagai murid resmi Konoha IHS meski Obaa-samanya sudah berbaik hati berbicara langsung pada pengurus tertinggi sekolah itu.
Dan, ayo lihat sisi baiknya. Sekarang tambah satu lagi alasan kenapa Ino benci rumah induk.
Neji Hyuuga menyebalkan.
Ok, ralat! Sebenarnya bagi Ino, semua orang yang bermarga Hyuuga sangat menyebalkan. Hanya saja khusus untuk Obaa-sama dan kakak sepupu didepannya ini, Ino membuat nama mereka berada di urutan blacklist pertama dan kedua.
Well! Apakah itu berarti Hinata dan Hanabi juga termasuk? Mereka juga bermarga Hyuuga, kan?
Jawabannya 'iya' meski hanya sedikit.
Ino benci Hinata yang terlalu baik hati hingga terkadang hanya tersenyum atau menangis diam-diam saat orang lain terang-terangan menyakitinya karena iri meski Ino yang jadi penonton serasa ingin membunuh seseorang sebagai pelampiasan. Berbanding terbalik dengan sifat blak-blakan Hanabi yang selalu membuat Ino berimajinasi menyumpali mulut gadis kecil itu dengan sepatu. Maklum, umur Hanabi yang masih 13 tahun berhasil menjadikan Hyuuga termuda itu gadis hiperaktif yang selalu ingin tahu urusan orang.
Hah, untung margaku bukan Hyuuga. Kalau tidak, aku akan membenci diriku sendiri karena terlahir sebagai gadis cantik paling malang sedunia, batin Ino saklek. Entah sedang memuji atau mengutuki dirinya sendiri.
.
.
^^BLOH^^
.
.
''Sudah sampai.''
Neji bersuara dari balik kemudi evolution hitam yang ia supiri. Melirik Ino yang duduk disampingnya. Tenang tanpa gerak dengan headset dari i-pod yang dibiarkan menyumpali gendang telinganya agar tak terkontaminasi dunia luar. Menutup mata sembari bersandar santai di jok mobil yang dibiarkan dalam posisi 'tidur'. Tampak tidak tertarik pada pemandangan hijau pohon oak yang menjulang tinggi dan berjejer rapi di kiri-kanan jalan masuk area khusus yang hanya di peruntukkan untuk Konoha Internasional High School.
Sesaat kemudian, Neji memelankan laju kendaraannya dan berhenti tepat di depan gerbang tengah yang merupakan gerbang utama sekolah itu. Melepas seatbelt sebelum kembali menatap Ino yang tetap tenang dalam pose agungnya.
''Ino, sudah sampai.'' Neji menarik lepas salah satu headset Ino agar si pirang disampingnya bisa mendengar dengan jelas.
Terang saja hal itu membuat Ino membuka mata sebal menatap sang sepupu. Hampir membuka mulut untuk memaki, tetapi segera mengatup bibirnya kembali setelah sadar sedang berhadapan dengan siapa. Prajurit nomor satu Miroku Hyuuga.
Gadis bermata aquamarine itu terpaksa menyusun kalimat lain yang lebih lembut dan 'agak' penuh sopan santun di antara cerberum otaknya yang mendidih.
''Neji-niisan, aku masih ngantuk. Memangnya tidak bisa masuk sekolah besok saja, ya?'' Ino menghela nafas berat. Sedikit melirik jam bermotif butiran-butiran mutiara orange transparan di pergelangan tangan kanannya. ''Lagipula, sekarang hampir jam sembilan. Memangnya tidak apa-apa, ya murid baru sepertiku menghancurkan image di hari pertama sekolah? Padahal masuk besok juga bisa, kan?'' katanya berusaha protes dengan tampang paling memelas yang bisa ia usahakan.
''Tidak. Nanti pelajaranmu ketinggalan.''
Neji membuka pintu mobil cepat sembari turun dari sana sebagai tanda kalau ia tidak ingin di bantah lebih lanjut. Membuat Ino memutar bola mata bosan.
''Hah, ce que les gens de la famille Hyuuga de sang-froid?" (Hah, apa semua orang di keluarga Hyuuga berdarah dingin?) Ino melengos sebal dengan mulut setengah terbuka, tidak percaya. Mengamati gerakan Neji yang berjalan memutari bagian depan mobil untuk berpindah ke sisi lain yang langsung berhadapan dengan gerbang Konoha IHS. ''En quelque sorte, je suis devenu méfiant. De peur que je enfant en foyer nourricier?'' (Entah kenapa, aku jadi curiga. Jangan-jangan aku ini anak pungut?) desisnya lirih sembari ikut turun dari mobil tanpa menutup pintunya kembali.
Neji yang melihat evolution hitam nan kerennya teraniaya jelas mengernyit tidak suka. Namun tetap diam sembari mendorong pintu itu kembali keposisinya semula. Lalu saat ia berbalik, Ino yang sedetik lalu masih berdiri disampingnya sudah menghilang entah kemana. Membuat pemuda 19 tahun itu otomatis celingukan mencari sang sepupu.
''Neji-niisan, kotchi! Boku moo naka ni imashita.'' (Neji-niisan, di sini! Aku sudah di dalam). Teriakan Ino terdengar dari arah depan. Dan benar saja, Neji langsung mendapati seorang gadis berseragam hitam garis emas, terusan lima centimeter di bawah lutut sedang melambai iseng dari balik jeruji gerbang Konoha IHS yang tertutup rapat.
Neji otomatis mengerutkan dahi tipis. Anak itu lewat mana? batinnya aneh seraya berjalan santai mendekati pagar besi dengan dua pilar beton berbentuk persegi yang masing-masing sisi depannya bertuliskan 'Konoha Internasional High School' dengan huruf latin berwarna emas yang nampak berkilauan tertimpa cahaya matahari.
''Lewat mana?'' tanyanya penasaran.
''Tuh!'' Ino memberi kode mata. Mendongak sekilas menatap ujung gerbang yang membentuk lengkungan panjang dari sisi satu ke sisi lain yang setiap ujung jerujinya membentuk anak panah. ''Pos satpamnya kosong,'' katanya lagi saat kembali menatap Neji yang sweatdrop di luar pagar.
''Tolong jangan melakukan hal yang membuatku mengadu pada Obaa-sama, Ino,'' sahutnya menghela nafas.
''Haaaaii...'' Ino nyengir usil. Sedikit merapikan bagian bawah seragamnya yang bermotif lipit mengembang agar tidak kusut di tiup angin yang lumayan kencang hingga berhasil menggerakkan dahan-dahan cemara yang berbaris rapi di sisi kiri dan kanan halaman yang membentuk sebuah jalan lebah hingga mencapai kolam peri.
Entah kenapa, kelopak aquamarine Ino tiba-tiba terasa berat akibat angin yang berembus sejuk. Membuat gadis itu menguap lebar sembari menutup mulut dengan sebelah telapak tangan.
''Neji-niisan, sudah, ya? Aku masuk.'' Ino menguap lagi, cepat-cepat memutar badan agar tidak berlama-lama mendengar suara datar Neji yang akan membuatnya semakin ingin tidur.
''Ino...''
''Tidak perlu. Aku bisa mencari ruang guru sendirian,'' potongnya cepat sembari mulai melangkah. Ino sama sekali tidak berminat diantar seperti anak TK.
''Padahal aku hanya ingin bilang, jangan membuat ulah.''
Dug!
Kepala Ino serasa dijatuhi bongkahan batu besar.
Ia refleks berbalik menghadap Neji dengan alis yang hampir keriting. ''Mou, Neji-niisan! Kau benar-benar membuatku khawatir dengan hidupmu yang dipenuhi aura dingin itu!'' sindirnya berkacak pinggang.
''Tidak perlu mengkhawatirkan orang lain, Ino. Khawatirkan saja hidupmu sendiri,'' balas Neji datar. Mengangkat tangan sekilas sebelum berbalik menuju evo hitamnya yang terparkir gagah di pinggir jalan beraspal mulus nan lenggang. Terlihat agak berkilauan di bagian kaca dan bumper depan akibat tertimpa cahaya matahari pagi yang masih merangkak naik ke atas kepala.
Pria itu menekan klakson sekali sebagai tanda pamit sebelum memutar mobilnya agar kembali ke jalur utama. Membiarkan Ino menungguinya menghilang sembari sibuk mengucek-ngucek kelopak mata yang mulai berair terserang kantuk.
''Sial! Aku butuh tempat tidur.'' Ino menguap lebar di sela-sela kegiatannya mengamati sekeliling area Konoha IHS. Otak gadis pirang itu sudah terserang virus 'tempat tidur' sampai ia benar-benar melupakan tujuan awalnya berada di sekolah ini.
Masih ada hari esok. Lagipula, aku tidak sudi merusak imageku di sekolah baru, batin Ino yakin sembari melangkah asal sesuai keinginan kakinya.
Ino berjalan lurus menuju gedung orange berlantai 3 yang ada di bagian tengah. Melewati kolam air mancur berisi ikan koi yang terkadang melompat-lompat di atas permukaan air hingga menimbul bunyi kecipak-kecipak di antara riak air. Lalu sedikit memotong jalan, bukan mendekati pintu utama gedung yang menyerupai menara jam, tetapi menyusuri bagian samping kiri hingga terlihat empat jembatan beton yang melintang panjang di setiap lantai sebagai penghubung gedung tengah dan gedung berlantai empat di sebelah kiri bangunan itu.
Tiga dari empat sisi jembatan itu dipagari jeruji besi setinggi pinggang. Sementara jembatan paling bawah hanya dihiasi deretan pot-pot kecil bunga anyelir di beberapa sudut agar tak menghalangi akses masuk dan keluar dari dua pintu ganda kayu di masing-masing gedung.
Ino berjalan memotong di atas jembatan. Sengaja menyusuri celah antar gedung yang lumayan lebar, lalu berhenti saat menemukan pemandangan bernuansa hijau taman belakang gedung tengah ― tetapi taman samping untuk gedung kiri.
Asri!
Sejauh mata memandang, yang tertangkap oleh aquamarine Ino hanya hijau rerumputan yang beradu indah dengan jejeran asoka berbunga merah yang tersebar asal, namun terawat dan membentuk persegi panjang di beberapa sudut.
Banyaknya pohon walnut berdaun lebat yang menghalau sinar matahari agar tak sepenuhnya menyentuh bumi juga ikut menambah kesejukan di taman itu hingga Ino yang kembali mengucek mata mulai tidak sabar untuk berguling di atas rumput.
''Wah, sepertinya aku akan tidur nyenyak, nih?'' Ino menyeringai setengah meringis. Belum apa-apa, penyakit susah diaturnya kumat lagi. Tapi mau bagaimana lagi? Menahan kantuk itu bisa jadi penyakit, kan? batin Ino membela diri.
Ia mengacungkan tangan tinggi-tinggi untuk melemaskan otot, lalu mulai menjelajah untuk mencari tempat aman, tenang dan agak tersembunyi agar ia bisa tidur tanpa gangguan murid lain.
Biar bagaimana pun, Ino belum lupa kalau ia newbie tak dikenal dan bisa saja dianggap mencurigakan karena tertidur di halaman sekolah orang dengan seragam berlabel Suna IHS, sementara ia sendiri belum terdaftar secara resmi sebagai murid Konoha IHS.
.
.
^^BLOH^^
.
.
''Ah, leganya...''
Naruto bersorak senang begitu keluar dari toilet sembari meluruskan lipatan lengan kemeja putihnya yang sesaat lalu ia gulung asal setinggi siku agar tidak terciprat air, tanpa mengenakan kembali blazer biru tuanya yang sejak tadi ia ikat di pinggang.
Naruto mengacak-acak rambut orangenya pelan dengan sebelah tangan. ''Harusnya aku tidak penasaran mendengar cerita Shikamaru yang membuatku ingin pipis,'' gumamnya sebal seraya memasukkan tangan di saku celana. Mulai menjejakkan kaki melewati lorong kecil pendek yang merupakan satu-satunya jalan masuk dan keluar dari dua toilet (pria dan wanita) yang saling berhadapan di tempat itu.
Naruto sedikit berfikir, apa ucapan Shikamaru tidak berlebihan? Walaupun dengan gampangnya bisa memanjati pagar, tetapi gadis itu, kan tetap saja terlihat lemah.
Lalu bagaimana mungkin orang seperti itu bisa...
''Argh, lupakan! Kalau diingat terus, aku bisa kencing di celana.'' Naruto mengacak-acak rambut frustasi sembari menghentikan langkah. Namun sedetik kemudian gerakan tangannya terhenti begitu saja, terkulai lemas di samping tubuh.
Wajah tan itu terlihat tenang. Tersenyum lembut saat lobus frontalis otaknya mereplay ulang adegan seorang gadis berwajah innocent, meringis menahan sakit berkat lututnya yang tergores lantai semen. Ringkih, namun ketegaran itu tampak jelas di tubuh mungilnya.
''Hemm... sepertinya aku akan betah di sini.'' Naruto nyengir lima jari seraya mengaitkan tangan di belakang kepala. Kembali berjalan melewati lorong toilet yang sepi. Sebuah tekat yang diselipi segunung rasa penasaran baru saja melintas diotak pria 17 tahun itu dan membuatnya tersenyum disepanjang jalan.
Setelah melewati lorong kecil tadi, Naruto sampai di ujung lorong lain dan segera disuguhi pemandangan koridor utama lantai dua 'kelas biasa' ― atau yang sering sok di-inggris-kan menjadi 'general class' oleh para siswa ― yang panjang dan lebar, berlapis keramik putih licin tanpa debu.
Di sebelah kanan tampak tembok kelas berwarna orange cerah tanpa jendela bercampur pahatan coklat kayu yang menutupi seperempat bagian tembok atas dan bawah. Juga dominasi serba putih dari setiap pintu kelas. Terlihat artistik berkat tabrak warna yang terkesan 'wah'. Sementara tembok sebelah kiri yang berhadapan langsung dengan lima deretan kelas itu justru hampir seluruh bagiannya dihiasi jendela besar berkaca bening polos, nyaris menyentuh plafon dengan sisi atas yang membentuk kubah. Juga sebuah pintu ganda kayu besar yang berfungsi sebagai penghubung antar gedung.
Naruto tidak menyusuri lorong kelas untuk kembali ke kelas barunya di 2-2 yang terletak nyaris di ujung koridor lain meski sekarang masih jam pelajaran. Ia justru mendorong salah satu sisi pintu ganda kayu berwarna coklat polos disampingnya agar terbuka. Menampakkan jembatan lumayan panjang dan lebar dengan pagar pembatas besi berjeruji setinggi pinggang yang menghubungkan gedung general class dan gedung staff yang berdiri angkuh saling berdampingan.
Naruto berdiri di sisi salah satu pagar pembatas yang mengarah ke belakang gedung. Asyik memandangi sebuah taman berumput hijau yang ditumbuhi bunga asoka, juga puluhan pohon walnut yang dahan-dahannya tampak bergoyang ditiup angin.
''Wah, cuaca sedang bagus.'' Naruto mendongak memandang langit yang didominasi warna putih awan cumulus dengan gurat-gurat biru tipis yang hampir sepenuhnya tertutupi.
Cantik.
Matahari bersinar terik, namun udara musim gugur yang lembab dan berangin, juga banyaknya pepohonan telah berhasil menjadikan suasana pagi itu tampak lebih sejuk dari yang seharusnya. Apalagi jembatan tempat Naruto berdiri memang diapit dua gedung besar yang mampu menghalau sinar matahari langsung hingga area itu sangat pas untuk bersantai.
Naruto menarik nafas dalam-dalam. Mengisi rongga dadanya dengan udara segar hasil buangan oksigen para tumbuhan sembari meletakkan tangan di atas jeruji pagar. Sedikit menyeringai, entah karena apa. Yang pasti pemuda berambut seumpama langit senja itu jadi tahu kenapa kota ini di beri nama 'Konoha'.
Pasti karena banyak tumbuhan, batinnya yakin seolah jawaban 'hebat' itu bahkan tidak bisa diketahui otak jenius Shikamaru.
''Sedang apa kau di tempat ini?''
Suara bariton seseorang berhasil membuat Naruto menoleh sigap ke arah pintu gedung staff dan mendapati sesosok pria berambut perak kini berdiri diambang salah satu daun pintu yang terbuka lebar. Memakai long sleeves shirt putih dengan lengan baju yang dibiarkan tergulung seperempat bagian, serta long trousers biru gelap, hampir menyerupai hitam.
Naruto mengernyitkan dahi. Bukan karena ia takut di hukum setelah ketahuan bersantai di jam pelajaran atau karena ia tidak mengenali orang itu sebagai wali kelasnya di 2-2. Hanya saja, Naruto merasa aneh juga sedikit kesal menatap pria berusia sekitar 24 tahun yang berdiri agak jauh didepannya. Orang itu bukan memperhatikan Naruto yang jelas-jelas ia tegur, tetapi tampak asyik menekuni buku bersampul hijau lumut seukuran agenda di tangan kanannya yang bersarung tangan balap.
Orang ini benar-benar guru, ya? Mencurigakan sekali. Terutama cara berpakaiannya, Naruto menyipitkan mata dalam diam. Pura-pura atau memang sudah lupa kalau tadi pagi Shikamaru sempat mengatakan Kakashi Hatake ― begitu nama lengkap pria berambut perak yang berdiri agak jauh didepannya ― hanya guru pengganti Kurenai sensei yang cuti melahirkan meski sebenarnya ia sendiri adalah pewaris resmi Konoha IHS bila mengingat sang Ayah adalah satu-satunya pendiri sekolah bertaraf internasional itu.
Hening!
Untuk beberapa saat, Naruto hanya terdiam sembari menyipitkan mata memandangi betapa santainya sang wali kelas. Membiarkan pria berambut perak itu larut dalam deretan huruf yang tercetak di dalam buku tanpa komentar. Namun karena ia tidak melihat tanda-tanda Kakashi akan menutup buku yang tampaknya sangat seru karena hanya tersisa beberapa lembar sebelum ending itu, Naruto yang hampir-hampir terkena darah tinggi di anggap invissible reflek mundur teratur ke arah pintu ganda general class dibelakangnya. Memilih menghilang daripada harus menunggu dan berujung pada ceramah gratis di pagi hari menjelang siang yang terik.
Kakashi yang tetap tenang di ambang pintu lain bukannya tidak sadar oleh tingkah pemuda itu, hanya saja ia memang agak malas mengalihkan perhatian dari sang buku ditangannya. Terlebih lagi, Kakashi bukan tipe yang suka memusingkan diri pada hal-hal remeh. Makanya ia diam saja, membiarkan Naruto menghilang tanpa permisi agar ia juga bisa lebih berkonsentrasi pada Icha-icha Tactics kesayangannya.
Tenang!
Pria berbadan tegap itu masih larut dalam dunianya. Namun kali ini ― mungkin karena bosan berdiri di depan pintu ―, Kakashi berjalan santai tanpa mengalihkan pandangan dari sang buku untuk mencapai salah satu sisi pagar pembatas yang tadi sempat di huni Naruto. Membaca di sana dan terhenti setelah menemukan tulisan 'owari' di akhir halaman.
''Lho, sudah selesai?'' Kakashi menggaruk bagian belakang kepalanya pelan. Sedikit aneh mengingat ia baru mengulang buku itu untuk yang ke-29 kalinya pagi ini dan sekarang sudah habis lagi. Padahal Kakashi benar-benar berharap volume 4 Icha-Icha Tactics ditangannya bisa sedikit lebih tebal agar ia bisa berlama-lama kencan dengan buku itu dan bukan di buat penasaran oleh ending yang menggantung karena sang buku memang berseri.
Dan kalau sudah begini, guru pengganti itu hanya bisa melakukan satu hal yang menurut author kurang kerjaan. #Plakk!
''Nanti akan kubaca ulang.'' Kakashi bergumam yakin seolah buku ditangannya tidak akan pernah membosankan meski di baca ratusan kali.
Sedetik kemudian, pria itu sudah menyelipkan benda kesayangannya di balik punggung. Berganti objek memandangi taman luas dikejauhan dengan pupil yang perlahan-lahan menyipit menyadari sesuatu yang ganjil baru saja tertangkap kedua onix beningnya.
"Ada orang?" Kakashi bergumam tidak yakin. Merasa seseorang sedang bersembunyi di area taman didepannya bila melihat sesuatu yang menurutnya adalah sebuah tas selempang hitam kini sedikit menyembul dari balik salah satu rimbunan bunga asoka yang berjejer rapi. Pria berambut perak itu kontan menghela nafas lelah sembari menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal. Kebiasaannya saat harus melakukan sesuatu yang baginya tidak menarik. "Hah.. kenapa siswa jaman sekarang senang bolos?" gumamnya aneh. Terpaksa meninggalkan jembatan itu hanya untuk mengecek isi taman belakang sekolah.
.
.
^^BLOH^^
.
.
Ino masih tertidur di rerumputan. Tenang. Berbaring menyamping, memunggungi deretan bunga asoka setinggi pinggang, tepat dibelakangnya. Gadis itu tampak nyaman dalam buaian semilir angin sejuk di musim gugur yang menerpa pelan tubuh mungilnya. Memainkan beberapa helai rambut pirang Ino hingga meliuk-liuk tidak teratur di udara, jatuh menutupi wajah ber-make up minimalisnya, kemudian kembali melambai-lambai tergantung frekuensi angin. Juga sedikit mengibarkan bagian bawah berlipit-lipit seragam sailor terusan hitam Ino hingga 'lumayan' meng-ekspos paha putih mulus gadis itu.
Tapi siapa yang peduli?
Toh, di tempat ini tidak ada orang lain, kan? Lobus frontalis Ino masih menyempatkan diri untuk bertahta di sela-sela pikirannya yang mengambang antara dunia nyata dan alam mimpi.
Ino membiarkan telinganya disuguhi melodi indah gemerisik dedaunan dari pohon walnut di sekeliling taman yang beradu dengan angin, juga selingan samar cicit burung-entah-apa di kejauhan.
Damai.
Membuat pikiran Ino semakin menghilang di telan utopia fana.
Cerberum otak gadis itu mulai kacau. Tidak bisa membedakan realita dan khayalan meski secuil kesadaran masih bergelayut di otaknya.
Gelap.
Ino mulai berhalusinasi sesuatu berada di sekitarnya. Menebarkan aroma mint menusuk hidung yang membuat kesadaran Ino semakin menipis dan terbuai. Lalu perlahan tapi pasti, ia merasakan tubuhnya melayang di udara. Terayun-ayun sesaat sebelum punggungnya menyentuh sesuatu yang lembut.
''Enggg...'' Ino mengeliat tidak nyaman. Merasa terganggu pada perubahan kontras tempat tidurnya.
Tidak ada suara daun, kicau burung, desau angin, bahkan bau khas tanah bercampur rerumputan.
Yang ia dapati justru embusan hangat yang menerpa pelan area pipi kirinya, semakin mengiris hidung Ino akan bau mint. Di susul elusan lembut ― sangat lembut dan pelan, nyaris tak menyentuh kulit ― dari pelipis, turun ke dagu Ino, lalu merambat di bibirnya. Membuat tubuh si pirang itu bereaksi tanpa sadar, menegang cepat diiringi aliran panas yang menjalar di sekujur tubuh.
''Hah... apa tidak ada yang memberitahumu sekolah ini seperti hutan rimba saat kau tidak siaga? Dan tidur di tempat terbuka jelas pilihan yang buruk untuk wajah 'mengundang'mu itu, Ino.''
Nada samar yang terdengar frustasi menggema di gendang telinga Ino.
Ada orang!
Ino semakin tidak tenang. Ia benci perasaan aneh yang menggelitik indranya. Mengantar sinyal bahaya dalam kamus otaknya.
Gadis itu terpaksa memanggil keping-keping kesadarannya yang tercerai-berai di dunia lain. Berusaha loading meski kelopak aquamarinenya yang masih mengatup sangat sulit diajak kompromi. Lagipula akal sehat Ino tidak sepenuhnya bertahta karena pemikiran aneh, 'Ini hanya mimpi'.
Tahu sendiri, kan, orang tidur terkadang merasakan halusinasi aneh yang terasa nyata, namun sebenarnya hanya sebuah mimpi yang terlalu jelas hingga tubuh ikut bereaksi pada alam bawah sadar otak.
Hening sesaat.
Sekali lagi sebuah aliran panas yang semakin mendekat terasa menerpa wajah Ino. Membuat syaraf motorik gadis itu bereaksi cepat, mencengkram lantai empuk dibawahnya. Lalu...
Hangat!
Sesuatu yang lembut menempel di bibir Ino. Perlahan dan hati-hati menekan gumpalan mungil berlipgloss rasa jeruk itu hingga menimbulkan sensasi aneh yang melilit erat di bagian perut. Panas, tapi terasa nyaman. Lalu bercampur sesak hingga Ino melenguh pelan dan membuat 'sesuatu' itu menjauh di iringi desisan lirih nan aneh di telinga Ino.
''Benvenuti a Konoha. A quanto pare questo posto è più stretto di quanto mi aspettasi.''
Hah?
Ino terkesiap. Kelopak aquamarinenya membuka cepat diiringi gerakan tubuhnya yang reflek terduduk di tempat. Ngos-ngosan, mencengkram seragamnya di area dada dengan sebelah tangan, sementara tangan yang satu lagi bertumpu lemas di samping tubuh. Berusaha menopang bagian atas badannya yang sedikit membungkuk di bantu oleh lututnya yang menekuk sehingga paha dan perut saling bersentuhan.
Ino merasakan empat bilik jantungnya berpacu cepat, berdentum keras tanpa aturan sampai ia nekat mengklaim alat pemompa darah itu sebentar lagi akan meledak karena terlalu banyak berdetak. Makanya sebisa mungkin Ino berusaha menenangkan diri, menegakkan punggung agar bisa menghirup udara dalam-dalam sembari terus-terusan berdesis lirih untuk meyakinkan diri.
''Hanya mimpi... itu hanya mimpi... yang tadi tidak nyata...''
Tapi ngomong-ngomong, mimpiku seram sekali.
Bermodalkan pikiran itu, Ino yang mulai tenang otomatis menghembuskan nafas gerah campur lesu. Kembali menjatuhkan tubuhnya agar berbaring terlentang. Memandangi...
''Plafon?''
Ino nyaris memekik. Melebarkan bola mata menyadari tubuhnya berpindah lokasi. Bukan di taman samping gedung, tetapi di sebuah ruangan bercat orange. Dan sekarang Ino tidak melihat jejeran pohon walnut yang menjulang tinggi dan rimbun, melainkan sebuah langit-langit kamar orange, berornamen coklat gelap dari kayu yang membentuk bingkai-bingkai kecil persegi di beberapa tempat. Bagian tengah bingkai itu tampak berlubang dan dijadikan tempat bohlam, yang kemudian ditutupi kaca bening.
''Lho, ini... di mana?'' Ino reflek bangkit dari lantai empuk ― yang ternyata adalah sebuah ranjang berseprai putih polos ― sekali lagi sembari mengedarkan pandangan ke segala arah.
Perasaannya tidak enak. Gadis pirang itu merasa sesuatu yang penting telah terlewat dari sensor otaknya dan lebih dari itu...
''Harusnya aku tidur di taman belakang, kan?''
.
.
*Tsuzuku*
.
.
Huweeee, acak-acakan kan? hikz.. saya tau kok! tapi mdh-mdhan g ad yg menyesal udah bca chap ini..
sbnr'a g mo m'bela diri sih tapi... flashdisk sya t'srg virus saat saya mau publish tggl 1 kmrin. stlh it sya flu prah n t'pksa nlis ulang dgn otak eror krna g tega berlambat-lambat ria T.T jdi gomennasai ne klo fic'a ancur *bgkuk* ini aj, sya msh flu tapi nekat nerobos mlm dingin hmpir hjn demi ke warnet #ga ush curcol.
So, review please!
