A/N a.k.a INFO:

Di ending chap 2 kmrin ad bhsa Itali, kan? Hehe... gomen ne, wktu it author'a lg error jd lpa nlis arti klmt Kakashi.

So, ini dia arti'a: "Selamat datang di Konoha. Tidak kusangka, tempat ini lebih sempit dari yang kupikirkan."


Say thank to:

.

El Cierto

Shena BlitzRyuseiran

F-AlyssAmarylissJeevas

Merai Alixya Kudo

Hatake Liana

Yarai Yarai Chan

Vaneela

Rizu Hatake-Hime

Akarima Tsukichi

ZephyrAmfoter

ratoenindya

Fidy Discrimination

.

.

^Bls Ripiu^

Minami22: Iy, tuh! Author'a aj bru sdr klo porsi NejiIno t'llu byk ^-^v Btw, chap ini jg hncur. Gomeeen ne T.T


NARUTO

.

Disclaimer:

Masashi Kishimoto

.

Story:

Cielheart Ie'chan

.

Pairing:

KakaIno

NaruHina

.

Warning:

KHUSUS UNTUK CHAPTER INI, SUMPAH! GAJE BANGET! NGGAK ADA UNSUR KAKAINO OR NARUHINA, JADI SANGAT DISARANKAN UNTUK TIDAK MEMBACA DARIPADA TERKENA TEKANAN BATIN. TAPI KALAU TETAP NEKAT BACA, AUTHOR MEMBIARKAN ANDA MENYUMPAHI KOMPI WARNET YANG MENYEBABKAN FIC INI HILANG SETENGAH TAPI TETAP NEKAT DI PUBLISH KARENA UDAH KELAMAAN NGGAK UPDATE.

.

So, Don't like? don't read

.


.

Bagian 3

.

.
Who are you looking for?

.

.

''I- Ino-chan, kau harus... tenang.'' Hinata mengkerut gugup di ambang pintu toilet UKS sembari memainkan kedua jari telunjuknya untuk menghilangkan nervous. Berusaha menenangkan si pirang di depan wastafel yang nyaris berhenshin sebagai Medusa. Namun entah karena suara Hinata terlalu kecil atau karena Ino memang sudah lepas kontrol, gadis berambut indigo itu terpaksa harus pasrah mendapati dirinya seakan jadi makhluk invissible.

Hinata meringis tipis, menggigiti bibir bawahnya pelan. Gadis itu mulai prihatin menatap Ino yang terus-terusan mengomel, mengutuki entah siapa disela-sela kesibukannya berkumur-kumur sadis tanpa memperdulikan luberan air keran dalam kobokan wastafel yang bercipratan membasahi seragamnya.

Hinata masih mengingat dengan jelas kejadian beberapa menit lalu ketika Ino menghubunginya lewat ponsel, histeris mengatakan seseorang baru saja menggerayangi tubuhnya saat tidur yang membuat Hinata nyaris pingsan di tempat. Untungnya si pemilik lavender itu langsung sadar kalau cerita sang sepupu sudah dipermak habis agar mirip sinetron Indonesia hingga ia sedikit lebih tenang.

Yeah, meskipun tidak cukup tenang bila mengingat fakta lain bahwa Ino ternyata diungsikan seseorang dari taman belakang ke UKS saat tidur dan itu juga bisa berarti kalau tuduhannya tentang terkena 'tindakan asusila' memang benar.

'Seram sekali!' Hinata bergidik ngeri. Ia baru tahu, ternyata sekolahnya lebih mengerikan dari yang bisa ia bayangkan.

''Argh, rasanya aku ingin terjun dari menara Hokage karena kesal!'' Ino berteriak frustasi, setengah ingin menangis seraya menarik-narik ujung rambut pirangnya yang terurai di sekitar bahu.

Ino tidak habis pikir, bisa-bisanya di kota ini bermunculan pria sinting yang hobi 'mengerjai' anak gadis.

Ok, sebenarnya Ino tidak akan sekesal ini kalau saja ia baru mengalami tindakan irasional satu kali. Tapi ini sudah dua kali, lho!

Bayangkan, dua kali sebelum duapuluh empat jam.

Memangnya Ino apa?

Awalnya, Ino pikir si heterokromia di traffic light kemarin sudah gila karena menyentuh wajahnya ― wajah gadis yang jelas-jelas tidak ia kenal ―, tapi ternyata di sekolah ini ada yang lebih error lagi, toh? Ada yang dengan bodohnya mencium ia saat tidur? mencium ORANG ASING saat ia lengah?

Yang benar saja? Otak orang itu sudah tidak tertolong!

"Aduh, aku sudah tidak pantas jadi istri orang." Ino mulai mendramatisir. Sebenarnya gadis itu ingin menangis, tapi entah kenapa ia malah tertawa hambar tanpa tahu bagian mana dari isi kalimatnya yang lucu. ''Ah, sial! Rasanya akhir-akhir ini selera humorku menurun drastis karena banyak masalah. Bahkan cara tertawa saja, aku sudah lupa,'' lirihnya santai, setengah mencelus disela-sela kegiatannya menyisiri rambut pirangnya yang tetap terlihat rapi meski sudah berkali-kali diacak.

Tingkah Ino yang meneliti penampilannya di cermin wastafel itu otomatis terlihat seperti gadis tanpa masalah dan sukses membuat Hinata sweatdrop di tempat.

Bukannya apa-apa, hanya saja sampai sedetik lalu si rambut indigo itu berusaha keras untuk menenangkan sang sepupu. Tapi ternyata semua hal yang ia lakukan sama sekali tidak berguna jika melihat Ino bahkan bisa menata batinnya sendiri dalam waktu beberapa detik hanya dengan melihat refleksi wajah kusutnya di dalam cermin.

Maklum, si pemilik aquamarine bening itu memang tipe fashionable yang paling tidak tahan mendapati aliran chaos dalam penampilannya meski terkadang Ino juga bisa jadi orang paling awut-awutan di muka bumi bila masalah mulai menghantuinya.

'Yokatta na, Ino-chan,' Hinata tersenyum dalam diam. Menarik nafas lega saat menyadari masalah sang sepupu tidak seburuk dugaannya bila melihat si pirang yang masih sempat meneliti refleksi wajahnya di dalam cermin.

''Hei, Hinata!'' Ino yang sudah selesai memperbaiki dandanannya segera mematikan air keran, lalu berpaling menatap Hinata yang sedikit terkesiap di ambang pintu sebelum memfokuskan diri ke arahnya. ''Apa diwajahku ada tulisan 'tolong sentuh aku'?'' tanyanya aneh seraya berjalan dan berhenti tepat di depan gadis itu.

''Eh?''

''Tidak, aku hanya berfikir… kenapa sejak kemarin, semua orang asing yang kutemui selalu melihatku seperti magnet? Aneh sekali, kan?'' Ino melipat tangan di depan dada. Tampak berfikir keras dari banyaknya kerutan yang tercipta di dahi putihnya yang setengah tertutupi poni.

''Eh? So- soal itu... aku...'' Hinata bingung sendiri. Kembali memainkan jari-jari tangannya di depan dada. Agak gugup melihat Ino yang seakan memaksanya ikut berfikir sementara ia sendiri tidak tahu apa-apa. ''A- aku pikir... kau salah- paham, Ino-chan. O- orang yang... memindahkanmu, mungkin bermaksud... baik,'' sahutnya berfikir positif.

''Aku tidak mengerti maksudmu!'' Ino mendesis kesal.

"Mu- mungkin saja, orang itu cuma tidak mau kau masuk angin... tidur di taman, Ino-chan."

"Engg?" Ino menautkan sebelah alis. Sedikit mencondongkan wajah di depan Hinata yang justru reflek mundur selangkah dengan mimik gugup, namun tampak sangat yakin mendengar ucapannya sendiri. Membuat si pirang di hadapannya terpaksa menghela nafas keras seraya kembali menarik tubuhnya untuk berdiri tegak. "Hime, jadi orang jangan terlalu polos. Di dunia ini bukan hanya ada 'putih', jadi sekali-sekali kau juga harus berfikir negatif agar tidak tertipu orang lain. Kadangkala di sekitar kita terlalu banyak makhluk jahat yang hanya berniat mengambil keuntungan. Ya, termasuk si brengsek yang menyerangku itu! Walaupun kelihatannya sangat baik hati sampai rela menggendongku ke tempat aman, bukankah sebenarnya dia hanya bermaksud memindahkanku ke tempat sepi dan tertutup untuk menyerangku. Iya, kan?" todong Ino kejam.

"Hehe..." Rasanya Hinata tidak mampu tertawa lebih garing dari ini karena innernya bahkan sudah sweatdrop sejak tadi. Mungkin setengah pernyataan Ino memang benar, tapi...

ini berlebihan, kan? 'Menyerang' gadis tak dikenal jelas bukan pilihan bagus untuk seorang pria yang bahkan tidak punya pacar sekalipun. Kecuali...

Lavender Hinata tiba-tiba membulat tidak percaya. Kemudian berganti mimik senang entah karena apa diselingi seulas senyum geli yang membuat sang penatapnya balas menyipitkan mata penuh selidik.

"Kau kenapa? Ada yang aneh?" Ino bertanya curiga disusul gelengan kepala si rambut indigo yang terpaksa membekap mulutnya sendiri agar tidak bersuara.

"Go- gomen... Aku hanya teringat hal lucu di kelas," terangnya berkelit.

"Ck! Entah kenapa, aku malah tidak percaya kata-katamu, Hime." Ino melengos santai. Meringsek maju sembari melewati Hinata yang sejak tadi berdiri di ambang pintu toilet. Memilih menghentikan obrolan tanpa ending mereka yang rasa-rasanya akan semakin ngawur bila diteruskan.

Sesaat kemudian, aquamarine Ino sudah disuguhi pemandangan sebuah ruangan cukup luas bernuansa orange cerah dengan dominasi coklat kayu dan putih dari lantai keramik serta benda-benda yang tertata rapi di dalamnya.

Hanya ada satu set sofa di seberang ruangan, bersisian dengan pintu masuk di bagian sudut yang kini tertutup rapat. Di sebelah kanan tampak lemari kaca besar yang dipenuhi botol-botol obat, sementara jauh di sebelah kiri menggantung sebuah tirai putih polos yang memisahkan ruang duduk dan ranjang di baliknya.

Setelah itu, kosong. Tidak ada foto, lukisan atau apapun yang menempel di dinding.

Ino melangkah santai kearah tirai berlipit-lipit yang berada agak jauh di sampingnya. Menyingkap kain pembatas itu hingga terlihat ruangan lain yang jauh lebih sempit dengan ranjang besi bersprei putih polos acak-acakan dan sebuah meja kecil tepat di sudut ruangan.

Di atas meja kayu itu tampak sebuah vas keramik putih kebiruan tanpa bunga, serta sebuah tas selempang hitam yang dibiarkan menggantung di salah satu sudut meja. Juga tak ketinggalan onggokan sepasang fantovel hitam di bawahnya.

Ino berjalan memutari kaki ranjang. Menyambar santai barang-barang miliknya, lalu kembali ke ruang duduk untuk mengambil posisi ternyaman di atas sofa sebelum berkutat dengan kaus kaki dan sepatu yang entah sejak kapan terlepas dari kaki jenjangnya.

Si pirang itu mengacuhkan Hinata yang sejak tadi mengekori langkahnya dan kini tertinggal dibalik tirai yang masih menutupi setengah badan ranjang bagian atas. Berbaik hati merapikan bekas amukan Ino setelah bangun tidur.

Si pemilik lavender itu meraih sebuah selimut putih tipis di atas tempat tidur. Melipatnya dengan sigap, lalu berpindah meluruskan kerutan-kerutan sprei serta memperbaiki letak bantal yang sebenarnya hanya tergeser beberapa mili dari kepala ranjang yang berdempetan dengan tembok.

Srukk...

''Ah...'' Hinata mendesah pelan merasakan sesuatu tertendang kaki kirinya yang bergerak membalikkan badan untuk kembali ke ruang depan. Membuat benda hijau seukuran buku note yang awalnya tergeletak nyaris di bawah ranjang kini melesak ke sisi tirai yang berjarak sekitar satu meter dari tempatnya berdiri.

Gadis itu mengorbitkan mata, mengernyit tipis memandangi sampul benda yang ia tendang. Hijau lumut dengan ornamen beberapa bentuk hati pink berukuran sedang. Juga gambar seorang pria yang tampak duduk berfikir di bagian tengah.

'Eeeh?'

Inner Hinata menjerit tidak percaya meski mulutnya hanya mampu membuka tanpa suara dengan mata yang sukses membulat ngeri hingga otot-otot di sekitar bola beningnya terasa perih.

Ia mengenali benda itu!

Sungguh, Hinata tidak perlu membaca sampul buku untuk tahu apa judul dan siapa pemilik novel itu. Ia bahkan tidak perlu memeras otak untuk berfikir dan menuduh bahwa orang itulah yang memindahkan Ino dari taman ke UKS, lalu seenaknya... kisu?

''...''

Hening!

Hinata reflek memegangi kedua pipinya yang terasa dijalari hawa panas berkat otaknya yang entah kenapa malah teracuni adegan rated semi M versi sang sepupu yang sejak tadi meneriakkan kalimat, 'Tubuhku digerayangi orang!'

Te- ternyata dugaanku saat di toilet... benar? Kalau begitu...

''Mereka bertemu lebih cepat, ya?'' Hinata berdesis lirih sembari menggigiti kuku jempolnya. Tampak tidak tenang meski terbesit rasa senang.

"Hime, cepat sedikit! Kau sedang apa, sih?"

Deg!

Hinata terkesiap. Rasanya ia hampir terkena serangan jantung mendapati Ino tahu-tahu sudah berdiri di samping tirai yang sengaja ia singkap hingga ruang duduk dan ranjang kini tanpa pembatas. Nyaris menginjak Icha-icha tactics yang teronggok hanya beberapa sentimeter dari kaki kanannya hingga sang sepupu dialiri bulir-bulir keringat dingin. Bertampang seolah ia baru saja melihat hantu.

Yup! Biar bagaimanapun juga, Hinata jelas tidak berencana mengatakan pada Ino bahwa ia sudah mengetahui sosok perusak harinya.

''Hime, Kau kenapa? Wajahmu pucat.'' Ino kembali bersuara. Menautkan alis aneh menatap wajah polos tidak jauh di depannya yang kini tampak seputih mayat.

Gadis pirang itu bermaksud melangkah lebih dekat, namun Hinata sudah lebih dulu meringsek maju. Menahan lengan Ino agar tetap berdiri di tempatnya sembari mengamankan si buku hijau di lantai dengan kaki. Menginjaknya cepat, lalu kembali menyodok pelan benda itu hingga kembali ke bawah ranjang tanpa menimbulkan bunyi.

''Aah, I- Ino-chan! Sepertinya aku... engg, itu... lupa mengerjakan PR. Ba- bagaimana, ya?'' Hinata meringis tipis di sela-sela gumaman linglungnya yang membuat Ino mengangkat sebelah alis. Seingatnya, adik sepupunya yang satu ini bukan tipe yang bisa melupakan hal sepenting itu meskipun ia cukup ceroboh.

''Tumben sekali?'' balasnya aneh sembari menyipitkan mata, menyadari Hinata mulai memainkan kedua jari telunjuknya dengan gugup. Menolak beradu pandang dengan si pemilik aquamarine yang kini menyeringai tipis sembari berkacak pinggang. ''Kau bohong, ya, Hime?'' todongnya penuh penekanan yang sukses membuat Hinata terkesiap.

'Hii, langsung ketahuan, ya?' innernya ngeri sendiri.

Hinata jadi merasa bodoh karena melupakan hal penting bahwa Ino terkadang bisa menebak pikiran orang hanya dengan memperhatikan tingkah laku dan mimik lawan bicaranya.

''Jadi, apa yang kau sembunyikan dariku, Hime?'' Ino mengangkat sebelah alis. Santai, namun diliputi aura penuh intimidasi agar lawan bicaranya semakin tidak berkutik.

''Ti- tidak... aku... ah, Anko-sensei?'' Mimik pucat Hinata berganti ceria begitu lavendernya berhasil mendeteksi keberadaan makhluk lain diambang pintu ruang UKS yang kini terbuka lebar. Merasa ia baru saja menemukan dewi penolong di saat-saat genting meski sebenarnya guru muda itu bahkan dijuluki medusa oleh para siswa karena tingkahnya yang lebih mirip preman.

Hening!

Anko Mitarashi ― begitu nama lengkapnya ― hanya melirik Hinata sesaat, lalu berpindah menatap Ino yang kini membalikkan badan penasaran dan balas menatapnya dengan kening yang saling bertaut aneh memandangi wanita berambut hitam pendek itu hanya mengenakan t-shirt hitam dipadu rok ketat lima sentimeter di atas lutut berwarna senada dibalik raglan coklat mudanya yang sengaja tak dikancing. Semakin mengerutkan dahi begitu menyadari tatapan guru muda di hadapannya berubah intens, meneliti penampilan Ino dari atas sampai diiringi sebuah seringai bercampur dengusan sebal yang menghiasi bibir polos tanpa polesannya.

"Jadi kau gadis Yamanaka itu? Ck, pantas saja Kakashi sialan itu seenaknya memerintahku.''

Anko bersungut-sungut, Hinata kembali sport jantung mendengar nama Kakashi disebut-sebut, sementara Ino terpaksa memasang tanda tanya besar diwajahnya. Merasa aneh karena guru berambut pendek dikuncir itu menyebut marganya dengan benar. Padahal kalau dipikir-pikir, ia 'kan belum resmi terdaftar sebagai murid di Konoha IHS. Si pemilik aquamarine itu bahkan masih menyimpan rapi formulir pendaftarannya di dalam tas. Lalu, bagaimana guru itu bisa mengenalnya?

Aneh sekali!

Lalu, apa tadi katanya? Diperintah Kakashi?

Memangnya orang itu siapa?

Sebenarnya Ino ingin bertanya, tapi tampaknya guru di depannya bukan tipe yang bisa diajak mengobrol santai. Terlebih lagi sebelum Ino membuka mulut, Anko sudah lebih dulu mendominasi percakapan.

"Hei, kau! Ikut aku ke kelas barumu. Dan kau, Hyuuga! Cepat kembali ke kelasmu. Apa kau tidak dengar suara bel?"

.

.

^^BLoH^^

.

.

Ino mengedarkan pandangan kesegala arah. Tampak lebih asyik meneliti setiap jengkal koridor lantai dua gedung general class yang ia lewati daripada memperhatikan langkah Anko-sensei yang berjalan nyaris satu meter di depannya meski wanita itu sesekali menoleh ke belakang. Mengirim sinyal tangan diiringi tatapan tajam yang berisi pesan bahwa ia harus melangkah lebih cepat karena jam pelajaran sudah dimulai sejak tadi dan ia jelas tidak sudi berlama-lama memandu siswi baru yang bukan hanya datang terlambat, tapi juga... emh, mungkin bisa dibilang melupakan kewajibannya menghadap pihak sekolah hingga Anko-lah yang harus bersusah payah mencarinya.

Lucu sekali!

Memangnya sejak kapan murid baru harus dijemput guru? Apalagi perintah itu langsung dari mulut Kaka...

''Ah,'' Anko terkesiap. Reflek menghentikan langkah dengan mimik yang tampak berfikir keras, lalu tiba-tiba menoleh ke belakang. Kembali memperhatikan Ino yang terlalu asyik memandangi halaman sekolah berhias deretan cemara yang melambai tertiup angin di kejauhan dari balik bingkai-bingkai jendela kaca yang ia lewati. ''Hei, Yamanaka!'' panggilnya santai yang membuat Ino reflek menoleh. Segera memfokuskan diri menatapnya. ''Apa hubunganmu dengan Kakashi?''

''Engg?'' Ino sukses menyipitkan mata. Kakashi? ''Bukannya dia kenalan sensei?'' Gadis itu menautkan alis. Seingatnya, justru Anko-lah yang menyebut-nyebut nama orang itu di UKS. Lalu kenapa bertanya padanya?

"Yah, memang kenalanku. Tapi kupikir kau juga kenal."

"Sama sekali tidak." Ino mengangkat bahu cuek.

''Kalau Hatake?'' Sepertinya Anko masih belum menyerah. "Kau kenal orang yang bermarga Hatake?"

''Emm, sepertinya tidak. Memangnya kenapa, sensei?'' Ino memberanikan diri untuk bertanya. Segera mendekati Anko begitu sang guru memberi isyarat tangan agar ia mendekat untuk bisa berjalan bersisian menyusuri koridor di hadapan mereka yang masih saja terasa panjang dan sepi.

Hening!

Anko tampak berfikir keras yang membuat Ino terpaksa menghela nafas. Pasrah mendapati pertanyaannya mengambang tanpa jawaban. Namun sejurus kemudian, guru muda itu kembali menoleh kearahnya, menyeringai tipis entah karena apa.

''Apa hubunganmu dengan klan Hyuuga? Kalau tidak salah, yang mendaftarkanmu di sekolah ini Miroku Hyuuga, kan?''

Ino tidak langsung menjawab. Lagi-lagi ia hanya mampu menautkan alis sebagai bukti kalau si pirang itu semakin tidak mengerti mengenai arah pembicaraan sang guru.

Bukankah sebagai murid baru, Anko-sensei seharusnya bertanya tentang nilai akademis, tingkah laku, alasan ia pindah atau pembicaraan apapun yang berhubungan dengan sekolah. Tapi ini...

kenapa pembicaraan mereka jadi melenceng jauh?

Aneh!

Namun entah kenapa, Ino malah dengan senang hati menjawab pertanyaan sang guru yang kini memasang tampang penasaran.

''Aku sepupu Hinata.'' Ino menjawab santai.

''Sepupu?'' Anko sedikit terkesiap. Kembali mengamati gadis di sampingnya dari atas sampai bawah dengan raut yang seolah menimang-nimang sesuatu disusul tawa geli yang segera saja menghiasi lorong itu. Saling beradu nyaring dengan derap langkah kaki mereka, juga suara-suara samar manusia lain yang mendekam di dalam setiap kelas yang mereka lewati.

Pelipis Ino langsung dihiasi sebuah perempatan. Merasa Anko-sensei sedang mencela betapa dirinya tidak pantas dialiri darah Hyuuga.

Menyebalkan sekali!

Ino memutar bola mata bosan. Harusnya ia sudah tahu, tidak ada seorangpun yang akan mempercayai ucapannya bila mengingat ia dan Hinata bagaikan bulan dan matahari.

''Ah, sial! Aku kelepasan.'' Anko mengumpat pelan, reflek menghentikan tawa begitu menyadari si pirang di sampingnya hampir 'terbakar' akibat salah kaprah. ''Maaf, jangan salah paham. Aku tidak menertawakanmu, tapi menertawakan si mesum yang kukenal,'' terangnya cepat yang membuat Ino hanya mampu tersenyum setengah meringis. Tidak menyangka mimik wajahnya tertebak dengan mudah. Yeah, walaupun tadi ia memang tidak bermaksud menyembunyikan kekesalannya.

''Ah, maksud sensei orang itu... Kakashi?'' Ino kembali serius. Entah kenapa, ia jadi penasaran karena sejak tadi ia selalu dihubung-hubungkan dengan nama itu.

Kakashi? Ino melafalkan nama itu di dalam hati. Rasanya ia pernah mendengar nama itu sebelum di UKS. tapi di mana, ya? batinnya bertanya-tanya.

''Tapi... apa hubungannya dengan klan Hyuuga?'' Ino melirik bingung kearah sang guru yang ternyata balas menatapnya diiringi seulas senyum usil.

''Nanti kau juga tahu,'' katanya sok misterius seraya mempercepat langkah. Berjalan mendahului Ino sebelum gadis itu meminta penjelasan lebih lanjut.

Tidak sampai beberapa menit kemudian, Anko sudah berdiri di depan sebuah pintu dorong putih berplang besi kecil bertuliskan angka 2-2 yang menggantung di sudut kiri tembok bagian atas pintu.

''Mulai sekarang, ini adalah kelasmu,'' ujarnya sambil lalu pada Ino yang bahkan tak menyahut. Terlanjur asyik mengamati sekeliling koridor yang hanya dihiasi lantai keramik putih, tembok bercat orange dengan dominasi coklat dari pahatan kayu serta halaman luas nan asri yang terpampang jelas dari masing-masing jendela berbingkai kayu tinggi, nyaris menyentuh plafon di seberang pintu kelas tempatnya berdiri.

''Yamanaka!''

Panggilan Anko Mitarashi menggema di belakangnya. Membuat Ino hampir berbalik saat tahu-tahu seseorang berhasil mencengkram lengan kanannya dari belakang. Menarik si pirang masuk ke dalam kelas tanpa aba-aba, kemudian seenaknya mendorong punggung gadis itu hingga terhuyung ke depan dan...

Bukk!

Ino sukses menabrak seseorang yang ia yakini adalah seorang guru yang kemudian reflek melingkarkan sebelah tangan di pinggangnya, sementara sebelah tangan lagi menahan bahu kiri Ino. Menyangga tubuh gadis itu agar tak terpental ke belakang bila melihat ukuran tubuhnya yang memang tergolong kecil dibandingkan orang yang ia tabrak, sekaligus ikut mengamankan diri agar meraka tidak jatuh terjengkang di lantai keramik dingin yang pastinya tidak empuk.

...

...

...

Sunyi senyap!

Ruangan yang tadinya ramai oleh celotehan siswa itu segera diliputi keheningan total berbumbu sesak berkat ketololan para penghuninya yang sibuk menahan nafas dengan berbagai macam ekspresi. Berdebar-debar sendiri menunggu lanjutan adegan live action tepat di depan kelas mereka hingga Anko yang juga 'menonton' di ambang pintu justru terkekeh dalam diam. Tampak tidak berdosa telah membuat kekacauan kecil -?- di kelas 2-2.

Hiburan yang bagus! Jarang-jarang, kan bisa seperti ini? innernya usil.

Sementara itu...

Ino membeku di tempat. Membiarkan rona merah perlahan-lahan merambati area di sekitar pipinya begitu menyadari posisi tubuhnya terlalu riskan dan nyaris menempeli tubuh makhluk lain di depannya kalau saja sebelah telapak tangan gadis itu tidak segera bertumpu di dada bidang si penyebar wangit mint yang masih melingkarkan sebelah tangan di pinggangnya.

Aksi penyelamatan yang 'sempat' membuat Ino bernafas lega karena tak harus membiarkan tubuhnya berakhir telak menjadi sasaran keisengan Anko yang entah kenapa tiba-tiba gila. Namun sejurus kemudian, tindakan reflek itu seakan menjadi bumerang yang membuat Ino tak berkutik.

Bayangkan saja, telapak tangan si pemilik aquamarine itu tepat menekan tubuh kokoh di depannya. Membuat saraf jari-jari Ino segera disuguhi debaran jantung yang berdetak rancu. Cepat, lalu seakan dipaksa melambat hingga 'milik'nya ikut bersinkronisasi tanpa sadar. Memompa darah lebih cepat ke seluruh tubuh hingga hawa panas terasa menyerang sel-sel saraf. Menghasilkan bulir-bulir keringat dingin yang perlahan-lahan merembesi punggung seragam hitam gadis itu.

Ino langsung lupa cara bernafas hingga dadanya mulai sesak dan tercekat, sampai tubuhnya ikut bergetar pelan disertai tubuh yang hampir jatuh lemas.

Yeah, hanya 'hampir'. Karena, toh Ino bukan gadis bodoh yang akan menjatuhkan harga diri hanya karena hal sepele semacam... debaran jantung? Meski ia akui, otaknya terserang virus akut yang agak susah diremove.

''Kau baik-baik saja?''

Nada tegas nan tenang mengalun di atas kepala Ino. Memaksa otaknya kembali bekerja keras dengan tangan yang reflek mendorong kasar tubuh di depannya agar menjauh. Membuat makhluk asing itu mundur dua langkah. Bukan karena dorongan Ino yang sebenarnya tak bertenaga, tapi murni karena ia memang ingin melepaskan diri dari gadis itu. Si pirang yang bahkan tidak melirik wajahnya ataupun berterima kasih, tapi kontan membalikkan badan sebal menatapi ambang pintu tempat Anko berdiri sembari menyandarkan bahu kanan di sisi tembok.

''Sensei, apa yang kau lakukan?'' Ino berteriak protes. Mati-matian menahan diri agar cerberumnya tetap waras di sela-sela keinginannya mencakari wajah sok innocent sang guru yang kini memamerkan sebuah cengiran usil kearahnya ― atau lebih tepatnya, kearah mereka. Kearah pria berambut perak yang juga berdiri di sebelah kiri belakang Ino sembari menatap sang rekan kerja dengan mimik bosan.

''Wah, rupanya kau tipe yang sensitif, ya, Yamanaka? Padahal aku tidak sengaja.'' Anko mengangkat bahu cuek yang sukses membuat Ino mengepalkan tangan gregetan dengan mulut yang membuka tidak percaya.

Hoo, apa tadi katanya? Tidak sengaja? Ino hampir mencium lantai, bukan hal yang disengaja? Yang benar saja! Lalu yang terencana itu seperti apa?

'Mendorongku dari lantai empat? Hah, orang ini sudah gila!' Ino menjatuhkan putusan telak.

Sebenarnya ia masih ingin protes, tapi begitu menyadari makhluk di depannya masih berstatus guru dan ia hanya seorang murid baru, mau tidak mau, Ino terpaksa menenangkan diri.

'Ingat, Ino! Hari pertama! Hari pertama! Jangan biarkan dirimu di DO di hari pertama sekolah,' batinnya mengingatkan seraya mengelus-elus dada.

Anko yang menyadari tingkahnya hanya menyeringai lebar, lalu berpindah mengamati gerak-gerik pemuda berambut perak yang berdiri di sebelah kiri, selangkah di belakang Ino. Tersenyum samar dengan kelopak yang mengatup sejenak, sedikit geli memperhatikan si pirang yang sepertinya sibuk sendiri.

'Lho, ternyata dugaanku benar, ya?' Anko agak terkejut. Membiarkan pandangannya berganti-ganti mengamati kedua spesies yang berjarak sekitar dua meter di depannya disertai dengusan kecil. 'Ck, Hatake dan turunan Hyuuga, ya? Sebentar lagi mereka akan membuat sekolah ini tidak tenang.'

''Kakashi!'' Volume suara Anko sedikit meninggi, meminta perhatian si pria berambut perak yang segera terfokus menatapnya. ''Kau masih ada urusan denganku? Kalau tidak, aku pergi,'' lanjutnya datar.

''Ah, iya. Terima kasih, Anko.'' Kakashi menyunggingkan seulas senyum tipis. Sedikit menggaruk bagian belakang kepalanya, agak tidak nyaman karena ia seenaknya memerintah wanita itu. ''Maaf sudah merepotkanmu,'' lanjutnya.

''Ya, tidak masalah. Menyenangkan sekali mengetahui rahasiamu, Kakashi.'' Anko menyeringai usil yang sukses membuat Kakashi sweatdrop di tempat. Puas berbincang dengan rekannya, si konselor sekolah itu kembali beralih pada Ino. ''Ah, Yamanaka! Kalau kau butuh bantuan dan ingin bertanya sesuatu, datang saja padaku. Jaa...''

Anko melambaikan tangan sekilas. Segera membalikkan badan keluar kelas seraya menutup pintunya kembali tanpa menunggu jawaban Ino yang justru mengerutkan dahi menatap kepergiannya. Merasa aneh karena guru yang ia anggap menyebalkan itu ternyata baik hati.

''Yamanaka?''

'engg?'

Ino terkesiap pelan menyadari seseorang menegur tepat di belakangnya. Membuat gadis pirang itu kontan membalikkan badan penasaran. Terlebih lagi setelah Ino menyadari... jangankan berterima kasih, Ino bahkan belum sempat bertatapan langsung dengan sensei yang sudah berbaik hati menjadi temboknya hingga Ino tidak perlu merasakan kerasnya lantai.

Sepertinya aku juga harus berterima kasih karena sensasi pelukannya membuatku meleleh, inner Ino ngawur diselingi senyum usil.

''Ah, sensei! Ariga-''

Deg!

Ino membeku di tempat begitu aquamarinenya berhasil mendeteksi sosok guru yang hanya berjarak sekitar satu meter di depannya. Bukan karena pria itu terlalu tampan dalam balutan kemeja putih lengan panjangnya yang dibiarkan tergulung seperempat bagian atau karena Ino bahkan belum pernah melihat 'pendidik' yang justru bergaya bak berandalan berkat sarung tangan balap hitam dengan ruas-ruas jari bolong yang ia pakai, tapi lebih karena cerberum otak Ino berhasil memutar ulang seluruh kejadian yang ia alami kemarin sore di traffic light.

Orang ini...

Ino mengepalkan tinju. Ia tidak mungkin melupakan fakta bahwa orang inilah yang mempermainkan kepolosannya di perempatan. Menyentuh wajahnya, mengelus bibirnya, bahkan hampir menciumnya kalau saja Ino tidak menghindar. Oh, iya! Jangan lupakan kalo si brengsek itu juga menertawakan ketololannya.

"Yo, Yamanaka! Lei sembra felice di vedermi, eh?'' (Sepertinya kau senang bertemu denganku, ya?) Kakashi mengangkat tangan sekilas. Menyunggingkan seulas senyum manis menatap si pirang yang seakan ingin melumatnya hidup-hidup.

.

.

.

^Tzusuku^

(dgn author yg mnangis drh)

.

.

.


SO?

APAKAH SANGAT HANCUR?

SANGAT GAJE?

SANGAT ANEH?

ARGHHHHH! #Autor terjun dari menara Hokage

nb to El Cierto: Huweeee, gomen ne eli-chan! Jadi'a sgni doank.. cma 3000 word lbh, pdhl asli'a mpe 8000 stlh bca, lo blh deh maki2 gw lwt sms #bletak