Say thanks to :

.

Hatake Liana

Vaneela

El Cierto

Merai Alixya Kudo

Rizu Hatake-hime

FidyDiscrimination

Shena BlitzRyuseiran

Kirisha Zwingli

ratoenandya

ZephyrAmfoter

Mystik Mutter a.k.a kei

Vytachi W.F

Ekha


A/N: sblm lnjut, cma mo blg... "GOMENNASAI!" -bungkuk mohon ampun- chap ini bkn hny pendek, tapi pendek bungeeeee.. #plak!

Yah, apa boleh buat? tai kambing bulat-bulat -?-

bulan ini saya kena flu 3 kali, k'rjinan diajakin nnton dvd horror ma tmn, ditambah virus aneh yg malas ngetik fic yg dlu'a udh kelar tapi ilang. Udah gtu, makin error aja cz ngetik chap ini pke alur lompat-lompat kodok -?- nlis bgian p'tma dlu, trus lompat ke bgian akhir n txta bgian tgh lgsg k'teteran cz author'a mesti pensiun nulis krna sakit wkwkwkw.. *ktwa nista* n b'hbg udh t'lnjur janji ma bbrpa org bwt updet hari ini, yah, t'pksa deh... cma apdet 40% dari yg author tulis cz g mgkn kn aq apdet bgian awal n akhir tapi ga ad tengah'a? *p'belaan diri ga mutu*

pkok'a, HONTOU NI GOMENNASAI NE.. mga di tahun m'dtg g t'jdi lgi T.T moga jg chap ini ga se'gaje chap-chap sblm'a.

So, enjoy this fic!

.

NARUTO

.

Disclaimer:

Masashi Kishimoto

.

Story:

Cielheart Ie'chan

.

Pairing:

KakaIno

NaruHina

.

Warning:

AU, OOC, typo, gaje, abal, ancur n sgla macam kejelekan.

.

Don't like, don't read


Bagian 4

.

.

It's time to make a new step

.

.

''Kau-''

Ino tidak sanggup bersuara lebih jauh. Terlalu dikuasai amarah hingga tanpa sadar sudah melayang kearah Kakashi, mencengkram setengah menarik kasar kemeja di bagian dada si pemilik bola mata heterokromia itu hingga tubuh di hadapannya ― yang memang tidak siap pada serangan dadakan ― langsung tertarik maju beberapa senti. Membuat jantung Ino mencelos sesaat menyadari posisi mereka yang (lagi-lagi) terlalu dekat. Untungnya gadis itu tidak sampai membiarkan otaknya teracuni lebih jauh. Memilih mengabaikan imajinasi anehnya yang seolah bisa melihat cahaya keperakan berpendar di sekeliling tubuh Kakashi yang membuat hati, tubuh dan otaknya harus bekerja keras agar tidak lupa diri.

''Minta maaf padaku!''Ino setengah berteriak, mendongak agar pandangannya langsung menghujam tepat dititik buta si rambut perak yang balas menunduk karena tubuhnya memang beberapa senti lebih tinggi. Aquamarine cerah yang melotot kesal dan sepasang bola teduh berlainan warna saling beradu. Membuat Ino semakin naik darah menyadiri pria 24 tahun di hadapannya terlalu sok tenang untuk ukuran seorang 'brengsek' -?-

Maklum, sedikit banyak Kakashi juga sudah memprediksi tingkah Ino bila melihat kepribadiannya yang meledak-ledak meski ia tidak menyangka gadis manis itu bertingkah sejauh ini.

'Meneriaki' seorang guru jelas cari penyakit, kan? Itu juga kalau Ino belum lupa sedang berhadapan dengan siapa karena sepertinya gadis itu sudah kehilangan akal sehat dan segala jurus pengendalian diri yang ia punya.

Kakashi menghela nafas keras. Mengganti gestur tubuhnya yang semula hanya berdiri santai menjadi memasukkan kedua tangannya di saku celana hingga terlihat seakan siap menangkis serangan lain apapun yang akan dilontarkan Ino dengan raut wajahnya yang selalu tenang dan tak terbaca lawan meski sebenarnya ia hanya diam menikmati wajah bersemu merah menahan marah di hadapannya yang justru terlihat lucu. Membuat Kakashi ingin tertawa, tapi juga merasa kasihan disaat yang bersamaan.

''HEH, KAU TULI, YA? KUBILANG MINTA MAAF PADAKU, SEN- sei?''

Ujung kalimat Ino yang seharusnya marah, tiba-tiba melempem tanpa emosi. Lebih terdengar sebagai pertanyaan daripada pernyataan yang membuat Kakashi menyipitkan mata, menyadari si pirang di hadapannya berhasil menemukan akal sehatnya kembali. Ingat sedang berhadapan dengan siapa.

Seorang sensei.

Orang yang resmi menjadi gurunya sejak ia dengan terpaksa -?- menyerahkan formulir pendaftarannya sebagai siswa baru pada Anko, si cupid gagal yang sudah membuatnya terdampar di kelas ini.

'Sial! Kenapa aku bisa lupa?' Ino meradang frustasi. Nyaris jatuh lemas mengingat ia baru saja melakukan kesalahan fatal yang membuat status murid barunya terancam bahaya.

Sebenarnya bukan apa-apa, sih. Ino bahkan tidak takut di DO bila mengingat obaa-samanya akan dengan senang hati mencarikan ia sekolah baru yang tidak kalah bergengsi agar Ino tidak mempermalukan nama baik klan Hyuuga. Hanya saja... demi Tuhan, Ino tidak sanggup mendengar ceramah gratis tentang sopan santun dari para tetua di rumah induk yang akan membuat telinganya berdengung.

Masalah DO di Suna saja belum selesai. Masa dia 'minta' di DO lagi?

'Bisa-bisa aku di gantung Neji-niisan,' inner Ino bergidik ngeri. Masih mengingat jelas wanti-wanti sang kakak sepupu yang 'memerintah'nya agar tidak berbuat ulah. 'Tapi mau bagaimana lagi? Sudah terlanjur! Lagipula bukan aku yang mulai, kan? Hah, kecantikan itu memang dosa,' batinnya lagi antara pasrah, cuek, membela diri, narsis dan entah apa lagi.

Harga diri Ino yang lebih tinggi dari X-Seed 4000® yang dibangun untuk memperingati kelahirannya belum mengijinkan ia untuk mengalah pada seseorang. Apalagi hanya untuk berandalan iseng tanpa sopan santun yang sukses berkamuflase menjadi seorang guru.

''Trop mauvais. Vos avez tort adversaire choix, sensei." (Sayang sekali. Kau salah pilih mangsa, sensei)

Mengatur 'strategi tempur' ulang dengan cepat, Ino tersenyum sinis setengah mendesis untuk dirinya sendiri. Melepas cengkraman tangan kanannya di kemeja bagian dada Kakashi dengan santai sembari membiarkan jari-jarinya bergerak iseng meluruskan kerutan-kerutan dipakaian berwarna putih polos itu sebelum mundur selangkah. Berusaha mengambil jarak hanya agar indra penciumannya tak terkontaminasi wangi mint samar yang menguar dari tubuh si rambut perak yang ia yakini bisa melumpuhkan fungsi saraf pusat.

Sesaat kemudian, Ino kembali mendongak. Memamerkan seulas senyum polos nan ceria spesial untuk Kakashi yang bukannya senang malah sweatdrop di tempat melihat perubahan mimik Ino yang jelas sekali berniat mengintimidasinya dengan cara halus.

'Gadis ini ngotot sekali,' pikir Kakashi lelah. 'Memangnya tidak bisa pura-pura tidak mengenalku saja, ya?'

''Wah, kita bertemu lagi, ya, sensei? Tidak disangka, ternyata Konoha lebih kecil dari dugaanmu.'' Ino berseru sok takjub. Semakin melebarkan senyum dengan wajah innocent dan aquamarine yang bukan hanya sekedar menatap objek, tapi juga berusaha mengamati ekspresi apapun yang dipamerkan wajah tampan di depannya. Sayang, Ino tidak menemukan apa-apa selain ketenangan sempurna yang berbaur bosan hingga ia tidak bisa menebak isi kepala Kakashi dengan mudah. ''Sebenarnya aku ingin sekali bernostalgia tentang kejadian kemarin sore, sensei. Tapi sayang, mulutku sedang malas berbasa-basi, jadi...'' Ino menggantung kalimatnya. Secepat kilat mengubah raut polos nan memelasnya menjadi sinis. Membiarkan bola mata seumpama samudra luasnya berkilat aneh dengan kedua tangan yang berkacak pinggang. Angkuh. ''Minta maaflah padaku, sensei. Dan aku akan menganggap masalah kita selesai,'' desisnya yang berlanjut dengan keisengan lain. ''Yah, kecuali kalau kau ingin terikat benang merah denganku, sih?''

Mendengarnya, Kakashi tidak sanggup menahan senyum. Awalnya hanya tipis, namun lama-kelamaan menjadi tawa geli yang berusaha dibuat sepelan mungkin. Bukan karena sindiran ini yang terdengar seperti lelucon, tapi lebih karena gadis itu berhasil membuatnya terpesona oleh sejuta ekspresi yang sejak tadi ia tunjukkan.

Tenang, marah, bingung, kesal, takut, ceria, sinis, angkuh, dingin. Semua seolah dilakukan dalam sekali helaan nafas hingga Kakashi nyaris tidak bisa berkedip. Ah, ralat! Bukan 'tidak bisa', tapi tidak ingin berkedip. Merasa si rambut pirang itu pastilah tipe yang pintar memanfaatkan pesona agar 'stage' selalu berpihak padanya.

'Interessante,' (Menarik) batin Kakashi begitu tawanya kembali berganti senyum simpul. Diam-diam mengamati si pemilik tubuh mungil di hadapannya yang lagi-lagi mengubah ekspresi. Menggelembungkan pipi dengan mata yang menyipit berbahaya. Lebih mirip balita yang tidak ingin berbagi permen daripada seorang 'lady' yang protes ditertawakan.

''Kalau kau punya waktu untuk tertawa, kenapa tidak kau pergunakan untuk minta maaf saja? Très ennuyeux!'' (Menyebalkan sekali!) Ino mendesis sinis. Gagal menahan emosi yang sedari tadi ia acuhkan meski setengah lobus frontalis-nya masih menyempatkan diri untuk berfikir waras memilih bahasa prancis sebagai sarana penyamaran kata-kata kasarnya pada Kakashi. Berharap pria itu tidak mengerti ucapannya agar ia lolos ― minimal ― dari DO di depan mata. ''Kuberitahu padamu, ya, sensei... I PAS PEUR DE PERSONNE! Si- '' (AKU TIDAK TAKUT PADA SIAPAPUN! Jadi-)

Jepret!

Engg?

Ino diam sesaat.

Dihinggapi perasaan tidak nyaman mendengar suara samar yang tertangkap gendang telinganya, gadis itu reflek memutar badan. Mencari asal suara diikuti Kakashi yang juga sama penasarannya dan mendapati hampir seluruh siswa kini berkerumun di empat deretan bangku paling depan. Asyik menjadikan mereka tontonan gratis di siang hari yang sukses membuat Kakashi dan Ino sweatdrop di tempat.

Mereka benar-benar lupa ada di dalam kelas. Diawasi berpasang-pasang mata dan telinga yang selalu ingin tahu urusan orang.

Lebih dari itu, pandangan Ino langsung terfokus pada benda yang dipegang sesosok gadis berambut pink lurus sebahu yang duduk di deretan bangku tengah paling depan. Benda yang reflek ia sembunyikan di laci meja sembari meringis salah tingkah begitu kedua 'objek'nya menoleh.

Ponsel!

Dan Ino yakin sekali kalau benda itulah penghasil suara mengganggu tadi.

'Ck, dasar Pinky sialan!' Ino Jelas naik pitam. Merasa gadis itu sungguh kurang kerjaan sampai harus mengganggu proses intimidasinya yang sakral.

Ino reflek bergerak maju. Hampir melayang ke arah si gadis kembang gula untuk sekedar memberi omelan gratis tentang sopan santun kalau saja gerakannya tidak ditahan seseorang. Menggantikan si pirang bersuara sebelum terdengar caci maki di dalam kelas.

''Sakura, berikan ponselmu.''

Kakashi mengambil alih situasi. Datar dan tenang, namun berhasil membuat si rambut pink memberenggut tak rela meski terpaksa bangkit dari kursi diikuti pergerakan hampir seluruh siswa yang langsung menyebar, kembali ke bangku masing-masing setelah cukup lama berdiri berdempetan di bangku depan. Takut kalau mereka dihadiahi tatapan horror meski tampaknya sang guru hanya berminat pada isi folder foto si pemilik marga Haruno yang kini sengaja melambatkan gerak supaya tak cepat sampai di depan kelas agar sang ponsel tidak berpindah tangan meski yang ia lakukan jelas percuma.

Sesaat kemudian, ruangan luas bercat orange cerah itu segera dihiasi grasak-grusuk bangku tergeser diselingi gerutuan tidak puas dari 34 siswa ― minus lima orang yang memilih tidur tenang, ngemil atau sekedar pasang tampang cool di kursi masing-masing ― yang merasa keasyikan mereka berakhir dengan cepat dan akan berganti pelajaran bahasa inggris yang membosankan.

"Payah! Padahal yang tadi hampir klimaks.''

''Sudah kubilang, pakai modus silent. Suara HP-mu jadi terdengar, kan?''

''Ck, harusnya tadi kaurekam saja, Sakura!''

''Huh, dia memang tidak berguna!''

''Cerewet! Ini, kan salah kalian yang terlalu berisik di belakangku!''

''Jelas-jelas kau yang bodoh!''

''Biar saja!''

''...''

Aquamarine Ino langsung menyipit tajam. 'Apa-apaan kelas ini? Menyebalkan sekali!' batinnya tidak suka. Sedikit frustasi menyadari ia tidak akan bisa bertingkah 'manis' seperti kemauan obaa-samanya dan Neji bila orang-orang yang sekelas dengannya adalah sekumpulan makhluk kelebihan hormon.

''Kore!''

Entah sejak kapan, Sakura sudah berhasil mencapai tempat Kakashi dan Ino berdiri. Berusaha tidak cemberut saat mengangsurkan ponsel kesayangannya pada sang guru yang langsung mengantongi benda merah marun berhias strap kupu-kupu hitam-putih dengan dua kerincing kecil itu di saku celana.

''Nanti ambil di ruanganku.'' Kakashi bersuara datar yang di balas gumaman dan anggukan singkat gadis di hadapannya.

Dengan ini, pembicaraan selesai!

Harusnya, sih begitu. Namun entah kenapa, Sakura tidak langsung menjauh. Ia hanya menggeser tubuh agar berhadapan langsung dengan Ino yang memilih diam mengawasi gerak-geriknya. Tersenyum manis seolah tidak pernah terjadi apa-apa yang membuat gadis itu mengibarkan bendera perang.

''Syukurlah, Ino... Kupikir kau tidak akan sekolah di sini. Ternyata cuma datang telat, ya? Membuatku khawatir saja.''

Sakura mulai sok akrab. Bertingkah seolah ia mengenali Ino bertahun-tahun lalu meski nyatanya gadis itu mulai mengerutkan dahi. Bingung, kenapa lagi-lagi orang yang ia temui seakan mengenalnya meski Ino yakin sekali kalau ia tidak mengenal siapa-siapa.

Maklum saja, walaupun si pemilik aquamarine itu berlibur setiap tahun di Konoha berkat sifat over protektif orangtuanya, namun sebenarnya yang Ino lakukan hanya mendekam di dalam rumah. Nyaris mati bosan karena gerombolan sepupunya yang tersebar di negara lain tidak kunjung datang, sementara tiga orang yang serumah dengannya justru sibuk sendiri. Menjadikan waktu liburan sebagai sarana memperaus otak hanya karena mereka seorang Souke dan berada dalam pengawasan langsung Miroku Hyuuga.

''Oh, ya! Kau datang kemarin, kan?''

"Eh?" Ino sedikit terkesiap. Sadar diri kalau ia baru saja melamun hal yang tidak perlu. ''Memangnya aku mengenalmu?'' balasnya ketus tanpa memperdulikan pertanyaan Sakura. Masih memasang 'tembok' invissible hanya karena si rambut pink di hadapannya terlanjur membuat ia tidak nyaman.

''Tidak, tapi aku yang mengenalmu. Maksudku, aku tahu tentangmu dari Sakumo-jiisan. Nee, Kakashi-sensei?'' Ujung kalimat Sakura terdengar penuh semangat. Membiarkan sepasang emerald beningnya mengerling iseng, menatap Kakashi sembari melebarkan senyum yang terlihat menyeringai. Membuat sang pemilik nama yang menyadari makna tersembunyi di balik senyuman itu reflek menyipitkan mata dengan pandangan yang seolah berkata, ''Bisakah kau diam saja?''

''Hai un appuntamento, a destra, Sakura? Non iniziare!'' (Kau sudah janji, kan, Sakura? Jangan mulai!) sahutnya tenang, mengingatkan. Sengaja memakai bahasa itali untuk jaga-jaga dari Ino yang ia sadari mulai bertampang menyelidik di sisi kanan mereka.

''Con una condizione, non cancellare le foto sul mio cellulare!'' (Dengan syarat, jangan hapus foto di ponselku!) Sakura berusaha menawar.

''Finché lo puoi tenere lontano da me.'' (Asal kau bisa menjauhkan dia dariku.)

''Borsa Prada in cambio?'' (Dengan imbalan tas Prada?)

''...'' Kakashi langsung menghela nafas berat. Tidak menyangka, konsekuensi agar si rambut pirang menjauh beberapa saat malah berujung pemerasan. ''Dimentica.'' (Lupakan saja) ujarnya tidak setuju.

''Avaro!'' (Pelit!)

Sementara itu, Ino hanya mampu berdiam diri. Sedikit kesal dianggap invissible dan jelas-jelas sedang dilecehkan bila mengingat kemampuan bahasa itali-nya yang payah dan terpaksa membuatnya bingung sendiri berada di antara makhluk planet. Namun entah kenapa, Ino tidak berminat mempersoalkan masalah itu meski ia merasa dua orang di dekatnya sengaja mengobrol dalam bahasa asing untuk memanipulasi pendengarannya.

Si pemilik bola mata aquamarine itu lebih tertarik pada perasaan aneh yang tiba-tiba menyerangnya. Perasaan yang seolah ditarik menjauh oleh kedekatan Sakura dan Kakashi yang terasa janggal hingga ia sibuk bertanya-tanya jenis hubungan mereka.

Sebatas guru dan murid?

Ino tidak yakin!

Walapun ia tidak mengerti isi pembicaraan keduanya, namun si rambut pirang itu meyakini instingnya yang mengatakan pembicaran mereka terlalu jauh dari kata penting dan serius. Lebih terlihat sebagai sepasang kekasih yang...

Matte!

'Sepasang kekasih?'

Perut Ino langsung melilit panas entah karena apa, namun ia mengasumsikan hal itu sebagai bentuk protes atas tindakan tidak senonoh yang terjadi dalam kelas ini.

'Biar bagaimana pun juga, seorang guru tidak boleh mengencani muridnya sendiri, kan?' innernya berusaha protes meski belum tentu juga yang ia pikirkan adalah fakta (alias Ino hanya seenak-udelnya mengklaim status orang). Namun sejurus kemudian, gadis itu menggeleng kuat-kuat. Menganggap Sakura mungkin saja tertarik pada sang sensei bila melihat... well, Kakashi memang terlalu 'hot' untuk mata kaum hawa. Tapi Ino tidak yakin pria berambut perak itu ― orang dewasa sepertinya tertarik pada gadis kecil berusia 16 tahun yang mungkin saja tidak tahu apa itu kondom.

'Tidak bisa diharapkan. Kecuali...'

Sampai di situ, aquamarine ino kontan melebar tak percaya. Bukti bahwa cerberum otaknya kembali dihiasi pikiran gila lain yang terasa masuk akal.

''Aaah, harusnya aku tahu dari awal... KAU ITU SEORANG PHEDOFILIA, KAN, SENSEI?'' Ino menjatuhkan putusan telak. Mulai histeris menyimpulkan alasan utama Kakashi menyentuh wajahnya di traffic light pastilah karena pria itu mengidap kelainan jiwa. Tertarik pada anak kecil, gadis polos yang bisa ia tipu dengan wajah tampan. Dan.. oh, shitt! Untuk beberapa kali, Ino sempat terbuai meski selalu berhasil mengendalikan diri. "ARGHH, MENYEBALKAN SEKALI! BISA-BISANYA ORANG SEPERTIMU MENODAI KEPOLOSANKU?"

Hening sesaat!

Lalu...

"Mulai hari ini, kau dihukum membersihkan toilet wanita selama seminggu."

Well, jangan salahkan Kakashi. Ia hanya bermaksud melindungi harga dirinya yang sejak tadi selalu nyaris dijatuhkan Ino. Dan tidak ada salahnya, kan kalau ia membalas? Setidaknya gadis di pirang itu jadi tahu kalau tempat ini adalah daerah kekuasaannya.

.

.

.T

.

.

®X-Seed 4000 = gedung pencakar langit setinggi 4.000 meter yang rencananya akan dibangun mengambang di teluk Tokyo pada tahun 2030. Di desain berbentuk gunung dengan kapasitas satu juta orang dan lengkap fasilitas ^-^v #lgsg jth cinta ma bangunan ini stlh bca bku, mka'a gw msukin sbg tnda kelahiran Ino. Lmyn kn, bgi-bgi info? sXan doa-in author yg mskin ini spy kya di thn 2030 biar punya apartemen di X-Seed 4000 nyehehe.. #plak! *ditampol rame-rame*

.

.

Ok, author tau bgt klo chap ini rancu n g mutu lg. *alur cerita'a bahkan kuganti m'dadak di warnet biar g bingung baca seiprit* tapi bersediakah anda me-ripiu mski untuk caci maki *b'hrp kritik bisa m'tampar otak error-ku*

T.T

= chap 4: 2.356 word