Welcome to the Black Order Academy 2
Disclaimer: Hoshino Katsura itu pemilik DGM. Kalo DGM punya saya, saya yakin yang ada cuma kisah nya Yullen, Laven ato Lavikan.
.
.
.
.
"Cuit…. Cuit…."
Sinar matahari menembus celah-celah jendela kamar .
"Nghhhhh…."
Allen terbangun.
Dilihatnya Kanda sudah tidak ada.
Tiba-tiba ia teringat kejadian tadi malam.
Ia tidak mengerti kenapa tiba-tiba wajahnya memerah.
Ia mengucek-ngucek matanya dan bergegas kekamar mandi.
.
.
.
.
"Cklek." Allen mengunci kamarnya dengan kunci yang diberikan Kanda kemarin. Ia berjalan melintasi lorong-lorong. asrama itu. Diluar, ia bertemu Lavi. Pemuda tersenyum padanya.
"Bagaimana tidurmu semalam Allen? Nyenyak?"
"Lumayan."
"Ah ya hari ini nggak ada pelajaran. Kamu mau kemana Allen?"
"Lho? Kok nggak ada pelajaran?"
Lavi tersenyum.
"Setiap hari Jum'at dikhususkan untuk ekstrakurikuler. Setelah itu bebas deh."
"Ekstrakurikuler? Memangnya ada ekstra apa saja disekolah ini?"
"Banyak. Kalau Lenalee ikut Ikebana. Miranda kaligrafi. Yuu Kendo, dan aku sendiri ikut ektra melukis. Selain itu ada ektra yang lain juga sih. Mau lihat ruangan-ruangan latihannya?"
"Mau!" Jawabnya cepat. Ia sangat ingin menjelajahi sekolah ini.
"Oke. Ayo ikut aku!"
.
.
.
.
"Hahahaha."
Allen dan Lavi mengelilingi sekolah . Barusan ia dan Lavi menyelinap keruang klub Kaligrafi dan mencoret-coret salah satu karya milik Edgar, ketua klub Kaligrafi. Membuat pemuda itu marah-marah dan mengejar mereka.
"Ahahaha, menyenangkan sekali." Kata Allen sambil terus berlari, melintasi lorong-lorong sekolah itu.
"Iya, kan? Oh ya kita keruang klub ku yuk."
"Ok."
Ruang klub melukis tidak terlalu besar. Mungkin karena peminatnya sedikit. Allen melihat seorang pemuda berambut coklat tengah menggambar sesuatu diatas kanvas.
"Namanya Jack, dia dari kelas B."
Allen terkejut.
"Memang siapa yang nanya?"
"Hehe, pandanganmu kayanya penasaran gitu sih. Yuk kesini." Lavi menarik tangan Allen dan membawanya kesebuah pintu. Didalamnya,nampak Tiedoll-sensei yang tengah menggerak-gerakkan tangannya disebuah kertas gambar. Allen mendekatinya. Pria itu tersenyum dan memperlihatkan gambarnya pada Allen.
Allen terpesona.
Tiedoll sensei menggambar pemandangan sekolah dari tempatnya berada.
Gambarnya benar-benar bagus dan mirip aslinya.
"Ada apa kau kesini, Walker?"
"Ngg itu saya diajak Lavi, Tiedoll-sensei."
"Oh."
Lavi menepuk pundaknya dari belakang.
"Tiedoll sensei adalah penanggungjawab klub ini. Apa kau berminat untuk bergabung Allen?"
"Hmm… baiklah. Lagipula aku juga lumayan suka melukis."
Lavi tersenyum.
"Klub ini enak lho. Bebas banget. Kau bisa datang sesukamu. Kalau lagi males ekstra kau bisa bolos lho."
Tiedoll sensei tertawa.
"Hahahaha, jangan ajarkan yang jelek-jelek dong Lavi."
Allen tersenyum.
Lavi mengambil sebuah buku sketsa dan memberikannya pada Allen.
"Ayoooo!"
.
.
.
.
.
Lavi mengecek jam tangannya.
"Ah sudah jam segini. Pasti sudah mau dimulai."
"Apanya?" Tanya Allen bingung. Tangannya masih asyik menggambar. Ia tengah membuat wajah Kanda. Lavi menambahkan berbagai macam gambar aneh digambar itu. Membuat gambar itu menjadi aneh dan sangat tidak mirip dengan aslinya.
"Konser Yuu."
"Konser, Kanda?"
"Mau lihat nggak?"
"Aku..." Allen menatap gambar yang dibuatnya.
"Bagaimana? Mau ikut? Aku mau kesana." Kata Lavi sambil tersenyum.
Allen mengangguk.
"Iya deh."
Mereka keluar dari kompleks sekolah, menuju sebuah gedung besar didekat sekolah itu.
"Ini tempatnya?"
"Yap. Ini gedung Opera milik sekolah. Tapi terkadang dipakai juga sebagai ruang pertemuan. Tidak hanya opera, ditempat ini juga sering diadakan konser-konser lainnya."
"Oh..."
Mereka memasuki gedung itu lewat pintu belakang.
Kata Lavi, pintu depan hanya untuk tamu-tamu penting. Kalau siswa sih, masuk lewat pintu belakang.
Mereka mencari tempat duduk. Tiga perempat bangku digedung itu telah diisi oleh para tamu. Sementara sisanya, kursi-kursi dibelakang masih kosong. Allen melihat Lenalee duduk disalah satu bangku ditempat itu. Ia menghampiri.
"Hai, Lenalee." Sapanya.
"Eh, hai Allen. Lavi."
Mereka segera duduk.
Ruangan itu menjadi gelap. Kanda muncul dari balik tirai.
Ditangannya, terdapat sebuah biola dengan hiasan yang sangat indah.
Ia membungkuk sekali.
"Konser kali ini bukan hanya Yuu sendiri. Tapi dia berkolaborasi dengan salah satu siswa lain sebagai penyanyinya." Kata Lavi sambil menaikkan sebelah kakinya keatas sebuah kursi didepan mereka.
"Lho, yang nyanyi bukan Lenalee?" Allen menoleh pada gadis berkuncir dua disebelahnya, gadis itu menggeleng.
"Bukan. Spesialisasiku Seriosa. Kalau Sopran, bukan aku yang nyanyi."
"Kalau begitu siapa?"
"Ssssttt...Mau dimulai." Kata Lavi sembari menempelkan telunjuknya pada bibirnya sendiri.
Allen terdiam.
Kanda mulai menggerakkan tangannya.
Nada- nada mulai terdengar.
Allen terpesona.
Tiba-tiba, tirai terbuka.
Seorang gadis berambut pirang panjang keluar dari sana.
Ia mulai menyanyi
"Win dain... a lotica...
En val turi, silota...
Fin dein, a loluca...
En dragua sei lan...
Vi va rules shutai am,
En riga lint...
Win chent a lotica,...
En val turi, silota...
Fin dein a loluca,
Sikatgura,... neuver...
Floreria... for chesti...
Si entina...
Lalalalalalala...
Lalalalala...
Fontina blue cent... des cravi esca letismo...
Lalalalalalala...
Lalalalala...
Des quantine la finde reve...
Win dain... a lotica...
En val turi, silota...
Fin dein a loluca...
En dragua sei lan..."
"Siapa gadis itu?" Tanya Allen pelan. Lenalee tersenyum padanya.
"Namanya Jeanne. Dia penyanyi sopran terbaik dari kelas kita."
"Benarkah?"
"Ya." Jawab Lavi. Ia menoleh pada Allen.
"Dialah pemilik kemampuan Photographic Memory yang sama denganku."
Ketika pertunjukkan itu selesai, Allen ikut bertepuk tangan.
Lavi berdiri, ia mengikuti.
"Sekarang kita mau kemana lagi?" Tanya pemuda bereyepatch itu. Allen menggeleng.
"Ngggg... aku mau ke toilet sebentar. "
"Baiklah, kalau begitu aku mau ke klub lagi. Nanti kau menyusul ya?"
Allen mengangguk.
Ia berlari menyusuri lorong-lorong sekolah. Saat kembali dari toilet, ia melihat seorang gadis yang tengah berjalan pelan di depannya. Gadis dengan rambut pirang panjang. Gadis yang bersama Kanda tadi. Ia menghampiri gadis itu.
"Eh, hai." Sapanya.
Gadis itu menoleh kearahnya dan tersenyum.
"Hai. Siapa namamu?"
"Namaku Allen Walker, aku murid baru disini. Kudengar kau berada dikelas yang sama denganku. Salam kenal ya." Kata Allen sambil menjulurkan tangannya. Beberapa kali tangan gadis itu meleset diudara sebelum akhirnya ia berhasil menggenggam tangan Allen.
"Ngg?" Tanya Allen bingung.
Gadis itu hanya tersenyum tipis.
"Maaf, aku tidak bisa melihat."
Allen terkejut.
Tidak bisa melihat?
Buta?
Padahal penampilan gadis itu terlihat biasa saja. Ia tidak nampak seperti orang yang tidak mampu melihat.
"Aku..."
"Tidak apa-apa kok." Gadis itu melepas tangan Allen dan tersenyum. Ia mendekat, tangan kanannya meraba wajah Allen.
"Yuu, sudah bercerita padaku tentang kamu. Sepertinya kamu orang yang menyenangkan."
"He, Kanda bercerita tentang aku?"
Jeanne mengangguk.
"Katanya kemarin kalian bertengkar ya?"
Allen menggaruk-garuk belakang kepalanya.
"Begitulah."
Allen jadi salah tingkah, ia merogoh sakunya dan menemukan sebuah lollipop rasa caramel. Ia menyodorkannya pada gadis itu.
"Mau?" Katanya menawarkan.
"Apa?" Tanya Jeanne.
"Permen."
Gadis itu tersenyum tipis dan menggeleng.
"Tidak. Terimakasih."
Mereka berbincang sesaat.
"Wah, wah, wah. Nona penunggu UKS udah masuk sekolah ya." Kata seseorang dari belakang mereka. Jeanne mengerutkan alis. Allen menoleh kebelakang, nampak dua orang berkulit hitam tengah berkacak pinggang dan bersender ditembok. Mereka menyeringai.
"Kenapa kamu sudah masuk Nona UKS? Bukankah lebih baik kamu kembali keranjangmu dan tidur?" Kata seorang dari mereka yang berambut pirang panjang.
"Mereka..." Allen ingin menghajar mereka tetapi tangan Jeanne mencegahnya.
"Tidak usah dipikirkan, Allen..." Kata Jeanne pelan. Namun Allen melihat wajah gadis itu pucat, tubuhnya sedikit gemetar.
Pemuda berambut panjang itu membisiki temannya yang berambut hitam. Mereka tertawa terbahak-bahak.
"Orang cacat kok bias-bisanya sekolah disini. " Kata pemuda berambut hitam.
"Paling nyogok."
Jeanne terduduk lemas. Tubuhnya gemetaran.
Kemarahan Allen memuncak. Saat ia ingin menghajar mereka, sebuah bakutou melayang disamping kepalanya dan menancap tepat didinding tempat dua orang itu bersandar.
Ia kaget dan menoleh kebelakang.
"BaKanda?"
Kanda berjalan melewatinya dan menghampiri dua orang itu. Mereka nampak ketakutan.
"Wah,wah,wah. Ayam petok-petok yang main alat musik aja masih nggak becus malah ngeremehin orang lain..."
Ia mencabut bakutounya yang menancap tepat ditembok itu. Diarahkannya bakutou itu pada leher mereka.
"... Sekali lagi kudengar kokokan tidak berguna kalian..."
Ia berlagak memotong leher mereka dengan bakutounya.
"...Kusembelih kalian..."
"Hiii! Maaf Kanda-sama!" mereka berlari dan menuruni tangga dengan tergesa-gesa.
Allen terpaku menatap kejadian itu. Beberapa murid yang kebetulan juga berada ditempat itu bergegas pergi. Kanda mendekati Jeanne dan membantunya bangun.
"Dasar Bakahina, sudah kubilang kalau sakit kau harus langsung ke kamarmu. Bukannya istirahat, malah jalan-jalan. Dasar bodoh!"
"Yuu..."
"Sudah, ayo bangun. Obatmu habis, kan? Aku sudah memintanya pada Anita-sensei. Cepat kembali kekamar!"
Kanda memapah gadis itu pergi. Sebelum pergi, pandangannya bertemu dengan Allen. Sekilas mulutnya seakan berkata.
"Terimakasih..."
Mereka menghilang dari pandangan.
"Allennnn!"
Allen menoleh, Lavi menghampirinya.
"Kamu nggak apa-apa kan?" Tanya pemuda itu.
"Yah, nggak kok."
"Syukurlah. Aku dengar dari Krory kalau Jasdevi berulah lagi. Hah, kukira kau berkelahi lagi."
"Hampir,sih. Memangnya siapa mereka?"
"Mereka Jasdevi. Jasdero dan Devit. Mereka memang sering membuat ulah. Sebaiknya kau tidak terlibat dengan mereka, Allen."
Allen menggerutu.
"Kenapa sih mereka bisa diterima disini. Nggak ada tampang jenius-jeniusnya."
"Hahaha. Aku juga sempat berpikiran begitu. Makanya aku nanya sama Cross-sama. 'Kenapa mereka bisa diterima disini?'. Cross-sama malah ketawa..."
"Kenapa?"
"Katanya, 'Kalau cuma tokoh Protagonis semua, nggak seru dong'. Begitulah..."
Allen tidak dapat mengerti jalan pikiran orang itu.
"Ah, Allen. Kita ke ruangan klub lagi aja yuk."
"Ok."
.
.
.
.
Kanda menatap gadis yang tengah tertidur itu. Rupanya pengaruh obat yang ia minum telah bekerja. Ia membetulkan letak selimut gadis itu dan pergi keluar.
"Bagaimana keadaan Jeanne?"
Kanda menoleh kesamping. Lavi menatapnya.
"Biasa. Dia telat minum obat karena terlalu semangat konser."
Kanda berjalan pergi.
"Apa kau mau selamanya seperti ini, Kanda?" Tanyanya serius. Bahkan ia memanggil pemuda itu 'Kanda' bukan 'Yuu' seperti yang biasa ia lakukan.
Kanda berhenti berjalan. Ia menatap Lavi tajam.
"Apa maksudmu, Bookman?"
"Apa kau mau, selamanya seperti ini, Yuu Kanda?"
"Mungkin. Kalau dengan begitu aku bisa menebus kesalahanku padanya."
"Walau kau tidak akan pernah bahagia?"
Kanda berbalik dan menarik kerah baju pemuda itu.
"APA PEDULIKU PADA KEBAHAGIAAN KU SENDIRI SEMENTARA IA SUDAH TIDAK BISA BAHAGIA LAGI KARENA AKU?" Bentaknya pada Lavi. Pemuda itu hanya mengerutkan alisnya.
"Yuu..."
Kanda melepas cengkramannya dan pergi.
"Jangan pernah... kau mencampuri urusanku lagi, Bookman..."
Lavi hanya memandang punggung pemuda itu dari belakang. Ia menghela napas dan menggaruk-garuk kepalanya dengan tampang frustasi.
"Hahhhh, dasar keras kepala."
.
.
.
.
Allen memandang keluar jendela. Nampaknya hari ini tidak akan hujan.
Allen teringat akan gadis tadi. Entah mengapa, ia merasa tidak enak. Ia menatap tempat tidur Kanda yang masih rapi. Sejak kejadian tadi siang, ia tidak melihat Kanda lagi. Pemuda itu menghilang begitu saja dan tidak kembali bahkan sampai jam makan malam berakhir.
"Kenapa kamu bengong, Allen?"
Allen terperanjat. Lavi telah berada didalam kamarnya dan entah mengapa , pemuda itu muncul dari dalam lemari pakaiannya.
"Lavi? Kenapa kamu bisa masuk kesini?" Tanya Allen heran. Seingatnya, ia telah mengunci pintu kamarnya tadi.
"Hehehe." Lavi tidak menjawab dan malah tidur-tiduran diranjang Kanda.
"Hei, jangan tidur disitu. Nanti Kanda marah." Kata Allen menceramahi. Ia teringat kata-kata Kanda kemarin. Kalau ia tidak boleh membuat tempat itu berantakan.
Lavi tertawa pelan.
"Tidak apa-apa. Dia nggak bakal marah kok."
"Terserah kamu deh." Allen duduk ditempat tidurnya sendiri.
"Hei, Lavi kamu tahu Kanda kemana?" Tanyanya pelan.
Lavi bangkit dan duduk dipinggir tempat tidur.
"Kenapa? Kamu khawatir?"
Allen menggeleng.
"Tidak. Masa udah segede itu masih dikhawatirin?"
"Hehe. Tenang aja. Dia memang biasa nggak balik-balik ke kamar sampai pagi. Dia suka keluyuran didalam sekolah. Bahkan kadang-kadang ada murid yang ngira dia hantu..."
"Oh... Hahaha..." Allen tertawa pelan.
Lavi menatapnya.
"Kenapa?" Tanya pemuda bereyepatch itu.
"Eh?"
"Apa yang sedang kamu pikirkan?"
Allen tersentak. Kenapa Lavi seolah bisa membaca pikirannya?
"Tidak, itu..."
"Tentang Jeanne kan?"
"Kenapa kau bisa tahu?" Tanyanya penasaran. Memang itulah yang sedang ia pikirkan.
"Aku paling ahli... dalam hal seperti itu..." Katanya sembari melempar-lempar bantal guling Kanda.
Allen menatap Lavi serius.
"Memangnya, Jeanne itu siapa? Kenapa dia buta? Apa hubungannya dengan Kanda?" Tanyanya beruntun.
"Jeanne ya Jeanne. Salah satu murid dari kelas kita. 10 tahun yang lalu , kedua orangtuanya dan orangtua Yuu meninggal pada saat yang sama karena kecelakaan pesawat. Saat itu semua penumpang termasuk pilotnya meninggal. Hanya mereka yang selamat."
"Karena itukah, dia buta?"
"Tidak. Ia menjadi seperti itu semenjak beberapa tahun yang lalu. Sebelumnya ia adalah orang yang normal, sama seperti kita. Tapi, karena suatu kejadian, saat berumur 12 tahun ia kehilangan penglihatannya, indera perasanya dan juga hidupnya..."
"Hidupnya? Dia masih hidup kan?"
"Hahahaha, bukan itu yang kumaksudkan Allen-chan. Dulu, Jeanne itu pianis berbakat. Karena kejadian itu, tangannya cedera dan ia tak bisa bermain piano lagi. Ia juga jadi tak bisa melihat dan merasakan rasa apapun lagi..."
"Tidak bisa, merasakan...?"
"Yap. Makanan apapun yang masuk ke mulutnya tidak akan mampu ia rasakan. Bahkan kalau kau mencampurkan satu kilogram garam ke makanannya ia takkan tahu."
Allen termenung. Itukah sebabnya Jeanne menolak permen yang ia berikan tadi?
"Kau tidak pernah membayangkannya kan, Allen? Hidup tanpa bisa merasakan apapun yang masuk kemulutmu. Hidup tanpa rasa. Hidup yang hambar..." Lavi berdiri dan menghampiri Allen. Ia duduk disebelah pemuda berambut putih itu.
Allen memandang Lavi.
"Lalu, apa hubungannya dengan Kanda? Apa mereka bersaudara?"
"Tidak. Mereka tidak ada hubungan darah sama sekali. Hanya saja, ketika kedua orangtua Yuu meninggal, Jeanne yang mengambil Yuu dan mengurusnya. Hahahaha... bisa dibilang dia itu pengasuh Yuu waktu kecil."
"Dia lebih tua?"
"Hanya satu tahun."
Allen terdiam.
"Sebenarnya ini rahasia, hanya Yuu, Jeanne dan aku yang tahu. Jangan bilang siapa-siapa ya , Allen. Kalau Yuu tahu, aku bisa dibunuh. Soalnya ini rahasianya yang paling besar. Ia tidak ingin orang lain tahu."
"Ng ... baiklah ... Ah, kenapa kau bisa tahu hal itu? Bukannya kau bilang dia merahasiakannnya?"
Lavi tersenyum.
"Aku tahu hampir semua informasi disekolah ini. Orang-orang memanggilku Bookman. Aku menjual dan membeli berbagai macam informasi dari semua orang disekolah ini."
"Menjual, dan membeli informasi? Apa maksudnya?"
"Artinya, kalau ada seseorang yang ingin membeli informasi dariku, dia harus menjual informasi yang sama 'harganya' dengan informasi yang kuberikan. Begitulah, hahaha..."
"Eh, aku sudah menanyakan sesuatu padamu. Berarti aku harus bayar dong?"
"Tentu saja." Lavi nyengir.
"Apa bayarannya?"
"Beritahu aku masa lalu mu."
Allen terpaku sejenak. Memberitahu masa lalu nya pada orang lain adalah hal terakhir yang ingin ia lakukan.
"Aku sudah memberimu informasi yang sangat berharga, jadi kau harus membayarnya dengan harga yang setimpal bukan?"
Allen tertawa.
"Benar juga. Baiklah. Kurasa ini bukan cerita yang bagus untuk pengantar tidur, tapi karena kau memintaku untuk menceritakannya ya sudah."
Lavi memasang pose sok serius.
"Telingaku berfungsi dengan sangat baik untuk mendengarkan."
Allen tersenyum.
"Dulu... aku hidup berdua dengan ayahku, Mana Walker. Ibuku telah meninggal sejak aku masih bayi. Kami hidup miskin tapi aku bahagia karena ayah selalu menghiburku dengan pertunjukkan badutnya. Ah aku belum bilang kalau kami bekerja sebagai penghibur jalanan ya? Kami hidup mengembara. Tapi tiga tahun yang lalu..."
Tiga tahun lalu...
"Ah, hujan..." Allen menadahkan tangannya. Tetesan air hujan membasahi telapak tangannya yang kecil.
Mana menatap ke langit yang gelap.
"Lebih baik kita segera mencari tempat berlindung."
Mereka berjalan menyusuri pinggiran jalan raya itu. Allen bernyanyi-nyanyi kecil. Tiba-tiba, dari arah jalan raya, sebuah truk besar kehilangan kendali karena jalan yang licin. Truk itu mengarah langsung pada tubuh kecil Allen.
"ALLEN!"
Mana mendorongnya sehingga ia terlentang jatuh. Truk itu melewati tubuh kecilnya dengan mudah dan menabrak Mana.
.
.
.
Allen berusaha bangkit. Air keras dari dalam mesin mobil itu mengenai tangannya. Membuat tangan kirinya mengalami luka bakar yang sangat parah. Begitu pula dengan mata kirinya. Ia berusaha mencari sosok sang ayah. Ia benar-benar terperanjat tatkala melihat bahwa ayahnya telah tergeletak bersimbah darah.
Mati.
Mana Walker telah tiada.
Hujan turun semakin deras. Kilat menyambar-nyambar. Allen menangis sambil mengguncang-guncang tubuh yang sudah kosong itu.
"AYAHHHHHHHH!"
.
.
.
Lavi terbengong-bengong mendengar cerita Allen itu. Sekarang ia mengerti kenapa Allen nampak selalu tidak ingin membicarakan tentang dirinya sendiri.
Allen tersenyum.
"Setelah itu aku hidup sendiri. Yah, dua bulan pertamanya sih susah banget. Aku hampir mati kelaparan karena belum bisa bekerja dengan benar. Aku bahkan tidak mengerti bagaimana kemudian aku bisa hidup sampai selanjutnya..."
Lavi tidur-tiduran di atas tempat tidur Allen.
"Kau memberikan informasi yang sangat berharga untukku Allen-chan. Tenanglah, akan kujual informasi ini semahal mungkin."
Allen tertawa.
"Usahakan lebih mahal daripada informasi Kanda ya."
Lavi tersenyum tipis.
"Wah, bagaimana ya? Informasi dari Kanda tidak hanya sampai segitu saja. Harga informasinya secara keseluruhan jauh lebih mahal daripada informasimu Allen."
"Memangnya, informasi apa saja yang Kanda berikan padamu?"
"RA-HA-SI-A."
"Uhhhh..." Allen menggembungkan pipinya.
"Hahahaha, lebih baik sekarang kau tidur. Sudah malam lho!"
"Iya iya, aku akan tidur. Kau sendiri kembali kekamarmu sana!"
"Malas ah. Malam ini aku menginap disini ya, Allen."
"Eh?"
"Boleh ya? Masa kamu nggak ngasih sih? Yuu aja ngasih..."
"Berarti kamu sering kesini dong?"
"Yah, kalau lagi nggak bisa tidur. Aku bakal minta dikeloni Yuu."
"Bhuh!" Allen menahan tawa. Kanda ngeloni orang? Hahahaha.
Ia seakan lupa kalau ia mengalaminya sendiri kemarin.
Lavi tertawa.
"Yah, aku diusir terus sih. Tapi aku tetap bandel."
Allen ikut berbaring disamping pemuda itu. Lavi tersenyum padanya.
"Yuu itu, punya sihir. Sihir yang bisa menenangkan, sekaligus membuat orang ketakutan."
"Seperti tadi siang?"
"Ya. Itu sih sihir Raja Iblis nya dia. Kalau yang satunya itu sihir malaikat. Sihir yang bisa bikin kamu ngantuk kurang dari sepuluh detik."
Allen tersenyum. Benar juga.
Lavi menepuk kepala Allen.
"Sudah cepat tidur, ya."
Allen menutup matanya.
"Oyasuminasai, Lavi."
"Oyasuminasai."
.
.
.
Lavi tersenyum tipis saat melihat wajah Allen yang tertidur itu.
"Rahasia Yuu. Adalah Informasi termahal yang aku punya. Dan aku telah berjanji, tidak akan pernah mengatakannya pada siapapun tanpa seijin Yuu. Sekalipun orang itu memberikan informasi yang sangat mahal untukku. Maaf ya Allen."
.
.
.
.
Kanda menyenderkan punggungnya ditembok.
Suasana begitu sunyi.
Tak seorang pun yang memperhatikan sosoknya yang seolah tersembunyi dalam gelapnya malam itu.
Ia mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
Sebuah jam pasir dengan sebuah teratai imitasi didalamnya.
Ia menatap jam itu.
"Yuu!"
"Ada apa lagi Alma?" Tanyanya dengan kesal.
"Ini, hadiah untuk ulang tahunmu. Happy Birthday ya!"
Alma menyerahkan sebuah kotak kado padanya.
Kanda membuka kotak itu.
Didalamnya, ia melihat sebuah jam pasir yang berisi bunga teratai imitasi namun sangat mirip dengan aslinya.
Alma tersenyum.
"Aku beli dengan uang tabunganku sendiri lho."
Kanda tersenyum tipis.
"Terimakasih, Alma."
"Eh tahu nggak Yuu. Kata penjaga tokonya, benda ini punya kekuatan lho."
"Kekuatan untuk apa?"
"Katanya, kalau kita punya permohonan dan mengatakannya pada jam itu, maka jam itu akan membantu kita menyampaikan doa kita pada Tuhan."
"Paling kamu hanya dibohongi olehnya."
"Ihhhh. Kamu coba aja deh, Yuu. Ayo dong!"
"Iya iya dasar cerewet."
Kanda berpikir sejenak. Kemudian ia tersenyum dan menutup matanya.
Alma menunggu sampai Kanda membuka kedua matanya.
"Apa permohonanmu?"
"Supaya kita berhasil bikin band."
Alma tersenyum.
"Semoga permohonanmu dikabulkan, Yuu."
.
.
.
.
Kanda menimang-nimang benda itu sejenak. Cahaya bulan terpantul dari permukaan licin benda itu.
.
.
.
.
"Yuu, ayo cepat. Sebentar lagi pesawatnya take off!"
"Sabar dong Alma! "
"Aku duluan aja ya?"
"Iya iya cerewet! Sana pergi!"
Kanda keluar dari toilet. Dilihatnya Alma tengah berlari-lari jauh didepannya. Ia berusaha mengejar, namun ia menabrak sesuatu.
Lebih tepat nya seseorang.
Ia berusaha bangkit.
"Maaf, kau tidak apa-apa?"
Kanda mendongak. Seorang gadis kecil berambut pirang pendek tersenyum padanya. Gadis itu mengulurkan tangan kanannya. Kanda menerima uluran tangan itu dan bangkit.
"Terimakasih." Katanya pelan.
"Sama-sama. Eh siapa namamu? Kamu mau pergi kemana?"
"Nggg…. Namaku Yuu Kanda. Aku dan keluarga ku akan berlibur ke Paris."
"Ohhh.. namaku Jeanne van Heinkell. Aku dan keluargaku juga mau liburan ke Paris! Wah pesawat kita sama ya?"
Kanda mengangguk.
"Mungkin."
"Jeanne!" Seorang pemuda melambaikan tangannya. Gadis itu menoleh dan tersenyum.
"Kakakku memanggil. Sampai jumpa lagi, Yuu."
Gadis itu berlari meninggalkannya. Kanda pun pergi ketempat Alma dan kedua orangtuanya yang telah menunggu.
.
.
.
.
Saat diatas pesawat, Kanda melihat gadis itu duduk dua kursi didepannya. Ia tertawa-tawa senang. Pemuda disebelahnya hanya tersenyum tipis dan sesekali mengusap-usap kepala gadis kecil itu.
Beberapa jam kemudian, terjadi keanehan.
Tubuh pesawat seakan oleng. Para penumpang terlihat panik. Apalagi saat menyadari bahwa api muncul dari bagian sayap pesawat. Alma menggenggam erat tangan Kanda. Kanda hanya dapat berdoa dalam hatinya. Tiba-tiba, pesawat itu meluncur dengan kecepatan yang luar biasa.
Jatuh.
"AAAAAAAAAAA!"
.
.
.
.
Kanda membuka matanya, ia memegang kepalanya yang berdarah. Perih.
Pecahan-pecahan kaca jendela pesawat berhamburan dan melukai tubuhnya. Menancap dibeberapa tempat ditubuh mungilnya itu.
"A… Almaa…?" Kanda meraba-raba sekitarnya. Berusaha mencari keberadaan sang adik.
"Yuu…." Sebuah suara terdengar dari bawah kursi pesawat yang terguling.
"Alma!" Kanda berusaha menyingkirkan kursi itu. Ketika berhasil, ia melihat sosok adiknya yang terluka sangat parah. Darah membasahi tubuh anak itu.
"Alma…. Kamu nggak apa-apa kan?" Ia sangat panik. Apalagi saat ia menyadari bahwa kedua orangtuanya telah tak bernyawa lagi, tak jauh dari tempat mereka.
Alma tersenyum tipis.
"Maaf…. Ya, Yuu…. Kayaknya…. Kita nggak bakal…. Bisa bikin…. Band….. maaf, Yuu…."
"Alma! Alma! Hei bertahanlah! Seseorang tolonggg!" Jeritnya, namun ia sendirian disana. Diantara mayat-mayat para penumpang yang telah tewas itu.
Alma menggenggam tangan Kanda erat.
"Maaf Yuu… Selamat…. Tinggal…." Anak itu menutup matanya.
"Alma! Almaaaaaaa!"
Kanda menangis.
Alma telah mati.
Saat itu sebuah jeritan lain terdengar.
Suara seorang gadis kecil. Gadis itu menangis dengan kencang. Dihadapannya nampak sesosok tubuh seorang pemuda.
Hari itu, sebuah benang tragedi telah terjalin.
Perlahan membentuk sebuah ikatan.
Ikatan yang akan terus membentuk untaian nasib.
Yang takkan pernah terputus.
Yang akan terus membentuk simpul lain,
Dan membentuk jalinan takdir...
.
.
.
.
Kanda terduduk diam diatas ranjang rumah sakit. Tangannya menggenggam sebuah benda.
Jam pasir dengan bunga teratai imitasi didalamnya.
Tiba-tiba, pintu bangsal itu terbuka.
Seorang gadis kecil dengan rambut pirang pendek menghampirinya.
Kanda menatapnya dengan wajah datar.
"Mau apa…. Kau kesini….?"
Gadis itu tersenyum tipis.
"Kau…. Akan kemana setelah ini….?" Tanya gadis itu pelan.
Kanda menggeleng.
"Aku tidak tahu. Mungkin mereka akan membawaku ke panti asuhan."
Gadis itu menggenggam tangan Kanda yang terbalut perban.
"Tinggallah bersamaku... Yuu. Setidaknya dengan begitu…. Kau tidak akan sendirian…."
Kanda menatap gadis itu hampa.
Tak lama kemudian ia mengangguk.
Gadis itu tersenyum.
Senyum yang takkan bisa menyembunyikan kesedihan dari wajah manisnya.
"Aku berjanji. Aku akan melindungimu."
.
.
.
.
Gonggongan anjing liar mengagetkan pemuda itu. Ia terdiam sejenak dan memasukkan kembali benda itu kedalam tasnya. Perlahan, ia bangkit dan pergi dari tempat itu.
.
.
.
.
.
"Nghhh?" Allen membalik posisinya dan membuka mata.
Lavi tersenyum.
"Ohayou Allen-chan."
.
.
.
.
"Aduh... harusnya kamu nggak sekasar itu dong, Allen..." Lavi mengusap-usap pipi kanannya yang membiru. Allen tersenyum bersalah..
"Maaf, Lavi. Kamu sih tiba-tiba nongol didepanku sambil senyum-senyum. Aku kan kaget." Katanya membela diri.
"Ukhhh..."
Tiba-tiba Timcanpy Allen keluar dari dalam coatnya. Begitu pula dengan Golem milik Lavi. Kedua benda itu melayang-layang didepan mereka.
"Ada apa?" Tanya Allen heran. Ia menangkap Timcanpy miliknya.
"Mungkin pengumuman..."
Kedua Golem itu bergemerisik dan terdengarlah sebuah suara yang dalam dan tenang.
Tyki Mikk sensei.
"Perhatian, kepada seluruh siswa Class A. diharapkan segera datang ke ruang kelas. Pemberitahuan lainnya akan diberitahukan langsung disana. Terimakasih."
Allen bengong.
"Bukannya hari ini kita libur?"
Lavi mengangkat bahunya.
"Sebaiknya kita segera pergi."
Mereka berjalan menuju kelas. Sesekali mereka berpapasan dengan murid lainnya yang juga tengah menuju kelas.
.
.
.
.
"Sudah berkumpul semuanya?" Tyki Mikk sensei meneliti satu-persatu murid didalam kelas itu.
"Baiklah, sebelumnya aku hanya ingin memberitahukan, Proyek akhir tahun ajaran kita akan dilaksanakan dua minggu lagi. Jadi kita harus membuat proyek yang sangat mengesankan. Untuk mengalahkan kelas sebelah..." Tyki Mikk sensei menekankan kata 'kelas sebelah'dalam ucapannya.
"Bagaimana kalau Opera? " Tanya Lenalee sambil mengangkat tangannya. Tyki Mikk menggeleng.
"Kelas B sudah memilihnya."
"Kalau begitu apa?" Tanya Chao Zi.
Tyki –sensei berjalan pelan didepan kelas. Ia mengambil setumpuk kertas print-out dari atas mejanya.
"Drama Musikal. Aku pikir itu lebih bagus."
"Wawww..."
Beberapa murid perempuan terlihat senang. Mereka mengharapkan untuk mendapat pemeran utama wanitanya.
"Aku sudah memilih cerita, yang pastinya cocok dengan konsep kita sekarang. Tapi aku belum menentukan pemerannya. Ada yang bisa memberikan usul?"
"Lenalee sebagai pemeran wanitanya saja Tyki-Sensei!" Kata Miranda. Lenalee tersipu-sipu.
"Ah kalau begitu saja tidak seru, bagaimana kalau kita undi saja pemerannya?" Usul Edgar.
Tyki Sensei mengangguk-ngangguk.
"Boleh juga. Baiklah kita undi saja pemerannya."
Tyki sensei segera menyuruh beberapa murid untuk menyiapkan potongan-potongan kertas yang sudah diberi nama. Ia memasukkan kertas-kertas yang sudah digulung-gulung sedemikian rupa itu kedalam topinya.
"Siapa yang mau mengambilnya?"
Terjadi keributan sejenak. Masing-masing ingin maju untuk mengambil kertas itu. Akhirnya diputuskan bahwa Jeanne yang akan mengambilnya. Tentu saja, ia tidak mungkin bisa curang.
Ia maju dan mengambil sebuah gulungan kertas dari dalam topi itu dan menyerahkannya pada Tyki Sensei.
"Hmmm... yang pertama, pemeran antagonis prianya... Lavi..."
Beberapa murid bersuit-suit. Lavi tersenyum lebar.
"Antagonis? Nggak apa-apa deh."
Jeanne mengambil selembar kertas lagi.
"Pemeran utama prianya... Yuu Kanda..."
Murid-murid wanita terpekik pelan. Kanda memasang ekspresi cueknya seperti biasa.
Jeanne memasukkan tangannya sekali lagi kedalam topi itu.
"Baiklah pemeran utama wanitanya..."
Para murid perempuan dalam kelas itu berdoa dalam hati. Tentu saja mereka berharap mendapat pemeran utama wanita dan didampingi oleh Lavi dan Kanda. Duo Pangeran dari kelas mereka.
"...Allen Walker..."
DHUARRR!
Serentak semua murid dikelas itu menoleh pada Allen. Allen sendiri hanya terbengong-bengong shock.
"A... apa...?"
Lavi tertawa.
"Selamat ya, Allen-hime."
Murid-murid wanita merutuk kesal. Tapi apa daya? Nasi telah menjadi bubur, tak ada teknologi yang bisa mengubah bubur menjadi nasi kembali.
"Baiklah, pemeran figuran lainnya akan ditentukan nanti. Sekarang para pemeran utama ambil naskah masing-masing." Kata Tyki Mikk sembari menyodorkan lembaran-lembaran kertas naskah.
Lenalee mengangkat tangannya lagi.
"Maaf sebelumnya Tyki-sensei. Memangnya drama apa yang akan kita mainkan?"
Tyki sensei tersenyum.
Lebih tepatnya menyeringai.
"Ice anda Dark. Second Hand of Time..."
TBC
Wah akhirnya chap dua apdet juga minna!
Seneng deh seneng!
Lha, kenapa mii masukin oc kesini?
Begini ceritanya...
Pada suatu hari, seorang gadis smp gaje nan aneh tengah mengkhayal didalam kamarnya. Didalam otaknya yang biasanya terisi hal-hal gaib dan tidak normal, tercetus sebuah ide untuk membuat sebuah cerita. Ia telah memikirkan berbagai hal tentang cerita itu dan akhirnya dengan semangat mengetiknya. Namun, ketika ia sedang asyik-asyiknya menuangkan idenya, ia menyadari sesuatu.
Pemeran wanitanya tidak ada.
Gadis itu shock saat sadar bahwa ia hanya memikirkan hubungan antara pemeran pria satu dengan pemeran pria lainnya. (Dengan kata lain, cerita yang ia buat adalah cerita Boys Love)
Ia benar-benar bingung.
Ketika itu terlintas wajah seorang tokoh wanita dari anime tersebut.
Seorang wanita yang selalu tersenyum lembut.
Si gadis segera mencari identitas wanita yang memang tidak pernah diketahuinya itu.
Betapa kecewanya dia ketika menyadari, bahwa tak ada satupun informasi yang bisa ia dapatkan.
Ia tersudut dan berpikir.
Bagaimana caranya agar cerita ini tetap berjalan sesuai dengan konsep awal ceritanya?
Dan ia pun memutuskan, walaupun dengan takut-takut, akhirnya ia mengambil keputusan.
Gadis itu membuat sebuah OC, yang tidak pernah terpikir sebelumnya oleh otaknya itu.
Seorang OC dengan watak yang sangat pas dengan jalan cerita.
Lalu...
Udah ah!
Hehehe, sebenernya konsep awal ceriata ini Mii mau make si cewek yang selalu dibayang-banyangin sama Kanda itu. Tapi ...
NGGAK KETEMU! NAMANYA SIAPA?
Mii penasaran ampe sekarang SIAPA CEWE ITU!
Karena Lenalee udah terlanjur kepake, jadi nggak bisa mii pake lagi...T^T
Mii kira kalo mii menelusuri Google lebih jauh, mii bakal nemuin nama cewe misterius itu tapi ternyata NGGAK DAPET!
Itu adalah salah satu kendala update nya fanfic ini.
Jadi mii bingung...
Mau make siapa?
Dan akhirnya mii masukin OC deh T^T...
Nggak apa-apa kan?
Tapi tetep aja...
INI YULLEN~
(Ngibarin bendera Yullen)
Yah bisa dibilang Jeanne itu adalah tokoh antagonis di fanfict ini ^^
Eh, antagonis itu harus jahat ya?
Wahahahaha...
Entah bagaimana jadinya nanti fanfict ini...
Jangan pernah berharap mii akan membuat pair Kanda x Alma ya ^=^!
Kanda: Teme Otaku, sadarlah. Kau sudah memakai dua lembar Ms Word untuk mengetik koment tidak berguna dan SANGAT panjang ini.
Mii: Ah maaf Bakanda
Kanda: What? Kamu manggil aku apa?
Mii: BAKANDA!
Allen: Lho, tumben kamu kasar sama Kanda? Biasanya juga jadi pemuja nya dia?
Mii: Hmmmm... emememmmmm... itu gara-gara... CEWE YANG KANDA SELALU BAYANGIN! Huweeeeeeeeeee! LAVIIIIII! (NGacir ke Lavi)
Lavi: (Sweat drop) Cupcupcup, kenapa adikku? Kamu ditolak yuu lagi ya?
Mii: iya lavi-nii! Huwweeeeee!
Kanda & Allen: ==
Mii: Oh iya, mii ada berita buruk nih...
Allen: Apa?
Mii: Emmm... kayanya mii bakal hiatus deh...
READERS + TOKOH2: WHATTTTT? FANFIC INI AJAH BELUM SELESE! (ngelempar tomat busuk)
Mii: Kyaaaaa! (Sembunyi dibalik pintu)
GOMENNNNN! Soalnya mii uda kelas tigaaa! Tugas-tugas mulai numpuk dan berbagai ujian mulai datang! Huweeeee (meratapi nasib)
Kanda: Berarti fic ini bakal DISCONTINUED dong?
Mi: ENGGAK LAH BAKANDA! Mii akan berusaha unrtuk mengapdet fic ini sampe selesai! Sebelum ujian2 datang! Tapi kalo nggak bisa dan fic ini terpaksa hiatus, gomen ya...
Ah review pleaseeee!
