Disclaimer: DGM adalah milik saya dimasa depan *dilempar bata*

boong boong, DGM punya Hoshino Katsura-sensei nan caem muah :*

.

.

Welcome to Black Order Academy

.

.

.

3

.

.

Remember

.

.

"Ahhhh…. Sa-sakit, Bakanda!"

"Sudahlah…. Tenang Teme Moyashi. Kalau kau tidak tenang posisinya nggak akan pas."

"Ta-tapi…. Akh! Ini sakit!" Pemuda itu menggigit bibirnya. Kedua tangannya bertumpu pasrah pada tembok putih kusam didepannya.

"Sa….kit…." Pemuda itu mendesah keras. Tangannya menggaruk tembok dengan kasar.

"Che, berhentilah mengeluh…." Pemuda berambut panjang dibelakangnya melakukan sekali sentakan dan sukses membuat pemuda berkulit pucat dihadapannya berteriak.

"SAKIT BAKANDA! NGGAK USAH TERLALU KENCANG MASANG KORSETNYA!"

Pemuda yang dipanggil 'Bakanda' itu pun hanya mengikat tali korset si 'Teme Moyashi' dan menatapnya.

"Kau pikir aku suka disuruh memakaikan gaunmu? Andai saja kau perempuan aku tak perlu melakukan semua ini, bodoh."

Allen memandang pemuda itu marah. Namun kencangnya korset yang memeluk pinggangnya membuat ia sesak dan malas untuk adu mulut dengan orang itu.

Kanda melemparkan gaun berwarna thistle pada Allen.

"Pakai sendiri."

Tanpa kau suruh pun aku lebih baik memakainya sendiri!"

"Ya sudah."

Kanda duduk diatas kursi panjang yang ada diruang ganti dadakan tersebut. Ia menyeka keringat yang mengucur dari dahinya akibat panasnya siang itu. Ditambah lagi kostum bangsawan jaman Renaissance yang digunakannya membuatnya merasa gerah.

Allen menatap gaun didepannya.

Alisnya mengernyit.

"Gimana cara memakai nya?"

Sempat terlintas dalam pikirannya untuk meminta tolong pada Kanda, namun gengsinya membuatnya batal melakukan hal tersebut.

Ia pun mencoba menerka-nerka bagian-mana-yang-harus-dipakai-dimana dengan kemampuannya sendiri.

"Haaaaaaahhhhh, kenapa harus begini sihhh?"

_Flashback_

"Yak, jadi kalian sudah mengerti peran masing-masing kan? Sekarang kalian cepat ganti pakaian kalian dengan baju-baju yang telah kusiapkan. Untuk persiapan pemilihan baju mana yang akan kalian pakai saat pementasan nanti."

Tyki-sensei menunjukkan tiga kardus lumayan besar yang masing-masing berisi lima-set pakaian. Dua kardus berisi pakaian-pakaian pria dan satu kardus berisi pakaian-pakaian wanita.

Allen, Kanda, dan Lavi yang saat itu baru saja diberi pengarahan tentang jalan cerita drama, lagu-lagu yang harus dimainkan dan karakteristik peran masing-masing pun berdiri dan menatap kardus-kardus yang ditunjukkan oleh Tyki-sensei.

Allen, yang saat itu masih dalam keadaan setengah sadar karena shock akibat terpilihnya dia sebagai ratu kecantikan-plak-pemeran wanita utama dalam drama tersebut hanya menatap kardus dihadapannya dengan pandangan tolol.

"Tunggu apalagi? Cepat coba pakaian kalian." Tyki Sensei mendorong mereka menuju ruang ganti dadakan yang ia buat didalam ruang kelas yang sangat besar itu.

Tiba-tiba, Lenalee muncul dari balik pintu, ia nampak sangat manis dengan gaun putih sederhana yang ia kenakan. Ia berperan sebagai teman Freedert, Lucia.

"Lavi, bisa aku minta bantuanmu?" Gadis itu menghampiri Lavi dengan wajah agak kebingungan.

Lavi tersenyum.

"Tentu saja, bantuan untuk apa?"

"Itu, piano di aula sedikit aneh. Sepertinya ada senar yang putus atau apa…."

"Oh, OK aku akan mengeceknya sekarang. Yuu, Allen, kalian ganti baju duluan ya. Nanti aku menyusul."

Pemuda berambut scarlet itu mengikuti Lenalee menuju aula tempat mereka latihan yang terletak satu lantai diatas kelas mereka.

Kanda mulai mengganti bajunya.

Namun berbeda dengan Allen, pemuda itu menatap bingung kepada korset berwarna krem yang ia pegang.

"Gimana cara memakai nya?"

Kanda menghampiri pemuda itu dan 'membantu' nya memasang olahan tulang ikan paus itu ditubuhnya.

_Flashback end_

Kanda menatap pemuda yang tengah bersusah payah memakai kostumnya itu.

Ia sendiri telah selesai memakai kostumnya dari tadi. Tentu saja karena kostumnya tidak serumit kostum Allen.

Ia pun berdiri dan melepaskan resleting dibagian belakang gaun itu.

"Puwaaaaahhh…." Kepala berambut silver itu menyembul dari bagian kerah gaun. Ia nampak ngos-ngosan.

Kanda tersenyum sinis.

"Bodoh."

"Urusai, Bakanda! Aku bukan perempuan, mana aku tahu cara untuk memakai baju seperti ini!"

Allen menatap pemuda bermata raven itu kesal. Kanda hanya menyeringai.

"Oh. Padahal kupikir kau itu perempuan."

Ia pun keluar dari ruang ganti. Meninggalkan Allen yang masih mencak-mencak tidak karuan.

.

Kanda menatap ke kejauhan. Dilihatnya lapangan sekolah yang dikelilingi oleh pohon-pohon flamboyant.

Angin sepoi-sepoi menyentuh wajahnya. Menerbangkan helaian rambut sewarna malam miliknya dengan gerakan anggun.

Ia menutup matanya sejenak.

Sebutir keringat dingin jatuh didahinya.

Pintu terkuak.

Seorang gadis berambut ivory memasuki ruangan.

"Yuu?"

Kanda menoleh. Dilihatnya Jeanne berjalan pelan ke arahnya. Gadis itu mengenakan gaun putih panjang yang Nampak simple namun memberikan kesan dewasa baginya. Jeanne memerankan Second Hand of Time. Roh dalam karya seni keramat bernama sama yang menjadi kunci cerita tersebut.

"Hm."

Gadis itu meraba-raba bagian depan kostum Kanda. Berusaha merasakan bahan kain yang digunakan pemuda tersebut dengan tangannya.

"Ah, lycra. Sepertinya itu kostum yang bagus. Kau pasti terlihat sangat tampan."

Kanda masih mempertahankan ekspresi stoic nya.

"Kau juga. Gaun itu tidak terlalu jelek."

Jeanne tersenyum tipis. Namun, ekspresi wajahnya agak berubah saat mendengar hembusan berat nafas Kanda.

"Kamu kenapa?" Tanya gadis itu pelan.

Tiba-tiba terdengar suara agak ramai. Lavi dan siswa-siswa yang lain masuk kedalam ruangan. Dibelakangnya, Tyki-sensei nampak mengikuti.

Sepertinya mereka akan istirahat.

Lavi menghampiri Kanda dan Jeanne.

"Hey hey hey, mana Allen?"

Kanda menunjuk ke ruang ganti dengan dagunya. Lavi nyengir.

"Allen-chan, ayo keluar! Kami ingin melihatmu!"

"Ah, tapi…."Terdengar balasan dari dalam bilik.

"Ayolah. Semua sudah tidak sabar." Lavi berjalan ke depan bilik itu dan menyingkap satu-satunya tirai yang menjadi pintu masuk atau keluar bilik.

"Eeeeeh!"

Semua orang ternganga.

Semua mata memandang kearah Allen yang berdiri dibelakang tirai yang disingkap Lavi.

Semuanya terpana pada apa yang mereka lihat.

Oh, tentu saja kecuali Jeanne yang hanya diam dan berusaha memahami apa yang sedang terjadi dihadapannya.

"A-apa?"

Allen menunjukkan wajah kesal bercampur malu. Wajahnya memerah.

Ia mengenakan gaun thistle yang dipilihkan Kanda tadi. Selain itu, ia juga memakai wig berwarna serupa dengan rambutnya. Wig panjang yang ia biarkan terurai menutupi punggungnya yang terbuka.

"Alamak…." Mata Lavi membulat.

"Kenapa?" Balas Allen.

"CANTIK BANGEEEEETTTTT!" Semua orang ditempat itu serentak menyuarakan ketakjuban mereka pada mahluk Tuhan paling seksi (?) yang berdiri mematung dihadapan mereka semua. Membuat Allen menjadi salah tingkah.

"Ap-apa? Aku nggak cantik!" Bantahnya kasar. Ia sendiri tidak mengetahui bagaimana penampilannya saat ini karena ia belum berkaca tadi.

Tiba-tiba Krory membawa sebuah cermin rias besar dan meletakkannya dihadapan Allen.

"Eh? Ini aku?" Tanyanya tak percaya sembari menatap bayangannya sendiri dicermin. Ia menyentuh permukaan cermin itu dengan tangan kirinya yang ditutupi oleh lengan gaun yang panjang.

Lavi cengengesan.

"Wah, nampaknya kita nggak salah pilih, nih."

Semua orang menjadi sangat bersemangat untuk latihan, apalagi setelah melihat pemeran utama dari drama mereka adalah 'gadis' super-cantik seperti ini.

.

.

.

"CUT!"

Tyki-Mikk menghampiri Allen yang tengah membawakan dialog Freedert.

Pria itu memukul kepala Allen menggunakan gulungan naskah yang ia bawa.

"Aduuuhh! Sakit Sensei…."

"Sudah aku bilang, kau harus menampakkan wajah malu-malu. Seperti Freedert yang tersipu saat bertemu dengan Elliot."

"Mungkin saja bisa, kalau saja lawan mainku bukan si Bakanda menyebalkan ini."

Kanda menaikkan satu alisnya.

"Memangnya, menurutmu aku senang mendapatkan peran ini? Lebih baik aku menjadi pohon daripada harus memerankan kekasih 'gadis' kasar sepertimu."

"Apa kau bilang? Bakanda!"

"Cerewet! Teme Moyashi!"

"DUAAAK!"

Lenalee melemparkan keranjang roti yang sedari tadi ia pegang kepada dua orang itu sampai-sampai mereka terjatuh.

"Kalian latihan yang serius dong! Yang lain aja serius!"

Allen dan Kanda bangkit dengan wajah marah. Allen melepas wig yang ia pakai.

"Aku nggak bakal bisa meranin Freedert dengan baik kalau Eliotnya kayak kamu!"

"Oh, tidak bisa berakting karena aku atau jangan-jangan kau memang tidak bisa berakting?" Kanda menyunggingkan senyum kemenangan.

Allen menelan ludah.

"Aku bisa!" Balasnya kasar.

"Sudahlah Allen-chan, istirahat saja dulu. Nanti latihan lagi. Sepertinya kamu udah kecapean." Lavi menghampiri mereka dan tersenyum pada Allen. Sebaliknya Allen justru merasa tersudutkan.

"Wah, ternyata pemeran utama perempuannya nggak bisa akting. Gimana nih?" Kanda menyeringai dan memanas-manasi Allen. Pemuda itu berteriak kesal.

"AKU BISA, BAKANDA!"

Ia memakai kembali wignya dengan sembarang.

'Gadis' itu menutup matanya.

"Kau bisa Allen. Kau bisa. Jadilah Freedert. Gadis yang manis dan ceria…. Gadis yang mencintai Elliot…."

Ucapnya dalam hati. Berusaha men-sugesti dirinya sendiri.

'Gadis' itu membuka mata dan tersenyum lembut.

Ia membuang kertas naskahnya kelantai.

"Maafkan aku, Elliot…. Aku tahu, kau harus pergi…. Aku tahu…."

Lavi dan Lenalee terdiam. Terpukau oleh aura aneh yang dipancarkan oleh Allen.

Kanda tertegun.

Ia mengernyitkan alisnya dan menyelipkan kertas naskah miliknya di saku celana kostumnya.

"Aku tak bisa, Freedert…. Pergi berperang dan meninggalkanmu sendiri? Aku takkan sanggup…."

Beberapa orang yang masih latihan di aula itu menghentikan aktivitas mereka. Pandangan mereka tersita oleh akting dua orang pemeran utama drama itu.

Jeanne menghentikan nyanyiannya, telinganya terfokus pada suara-suara yang dikeluarkan oleh dua orang yang diketahuinya sebagai Allen dan Kanda.

Allen tersenyum sedih. Ia bergerak maju mendekati Kanda dan menggenggam jemari dingin pemuda itu.

"Kau mencintaiku bukan? Ayahanda hanya akan mengijinkan kita menikah apabila kau menjadi seorang satria yang gagah berani dan mampu menjagaku selamanya. Kau tahu itu kan, Elliot?"

Kanda menatap wajah 'gadis' yang menggenggam jemarinya itu. Ia merasa ada yang berbeda pada diri Allen. Ia benar-benar bertransformasi menjadi Freedert. Kanda seakan dibawa ke alam kisah tersebut dan menjadi Eliot yang sebenarnya.

"Aku tahu, Freedert…. Maafkan aku yang menjadi lemah seperti ini…. Aku hanya ingin bersamamu, aku terlalu takut meninggalkanmu."

Allen tersenyum. Matanya berkaca-kaca.

"Jangan khawatir. Ada Kyle disini. aku tidak akan apa-apa selama kau pergi. Aku akan setia menunggumu kembali…."

Kanda merengkuh Allen lembut. Membiarkan kepala 'gadis' itu bersandar di dadanya.

Semua orang ditempat itu mulai meneteskan airmata.

Krory dan Chao-zi bahkan sudah menangis saking terharunya pada adegan tersebut.

"Freedert…." Kanda menatap wajah Allen sendu.

"Iya, Elliot…." Allen balas menatap wajah Kanda.

Wajah mereka saling mendekat. Beberapa gadis terpekik pelan.

Saat jarak antara wajah mereka sudah tinggal beberapa senti lagi…..

"YAK, CUT! LUAR BIASA!" Tyki-sensei tersenyum senang.

Sontak Allen dan Kanda menjauhkan wajah mereka secara spontan. Terdengar beberapa suara yang nampak kecewa terhadap dipotongnya adegan romantis itu.

"Kita lanjutkan latihan ini besok. Allen, Kanda, kalau kalian bisa mempertahankan akting kalian yang tadi aku jamin kelas kita pasti menjadi yang paling hebat diantara yang lain." Tyki-sensei melemparkan dua buah handuk pada Allen dan Kanda.

Allen hanya menutupi wajahnya dengan handuk itu. Berusaha menghilangkan bayangan wajah Kanda yang sangat dekat tadi.

Sebaliknya,Kanda bergegas pergi dari tempat itu menuju kelasnya untuk mengganti kostumnya dan kembali ke asrama.

Allen melepas handuk dari wajahnya dan menatap punggung pemuda itu.

"Kanda?"

.

.

.

Kanda menatap bayangannya sendiri didepan cermin kamarnya.

Ditatapnya tato bercorak tribal yang menghiasi dada sebelah kirinya.

Angannya beralih kemasa beberapa tahun yang lalu.

.

"Yuu?"

Seorang gadis kecil memasuki kamar Kanda.

Kanda, yang saat itu masih berusia tujuh tahun, menoleh pada gadis itu.

"Kenapa?"

Jeanne mendekati Kanda. Bibir mungilnya tersenyum.

"Apa yang sedang kau lakukan Yuu?"

"Tidak ada."

Jeanne memperhatikan Kanda yang tengah memakai bajunya. Dilihatnya bekas luka didada anak itu.

"Kau melihat bekas lukamu lagi?"

Kanda mengeryitkan alisnya.

"Tidak."

Jeanne termenung sejenak. Kemudian ia tersenyum.

"Ayo ikut aku!"

"Eh?"

Jeanne memanggil Albert, salah seorang pengasuh dipanti asuhan miliknya, dan menyuruh laki-laki setengah baya itu untuk mengantar dirinya dan Kanda menuju suatu tempat yang tidak diketahui oleh Kanda.

"Kita mau kemana?" Tanya Kanda pelan.

Jeanne tersenyum lebar.

"Kita akan membuatkan tato untukmu."

Mata Kanda membulat.

"Tato? Bukankah itu akan sangat sakit?"

Jeanne menggeleng.

"Aku tidak tahu, tapi itu bisa menutupi bekas luka itu. Lagipula tato lebih murah daripada operasi plastik." Balasnya dengan wajah polos.

Kanda hanya terdiam.

Sesampainya ditempat yang diminta Jeanne, Albert memimpin masuk kedalam.

Seorang pemuda dengan piercing menyapa mereka.

"Maaf pak, tapi disini dilarang membawa anak kecil." Sapa orang itu ramah.

"Hm, tapi yang ingin di tato adalah anak ini, bukan saya." Kata Albert sembari menepuk pundak Kanda.

Pemuda itu memiringkan kepalanya.

"Anak ini?"

Kanda menatapnya tajam.

"Cerewet. Memangnya kenapa?"

Pemuda bernama Bak itu tertawa. Ia mulai mengerti kenapa anak sekecil itu sudah berani menghiasi tubuhnya dengan tato.

"Baiklah baiklah, tapi aku tidak mau kau menjerit ya. Mungkin akan agak sakit sih."

Kanda membuang muka.

"Che, aku tidak akan menjerit."

Bak tersenyum simpul.

"OK, motif apa yang kau inginkan? Dan dimana mau ditatonya adik kecil?"

"Motif tribal yang itu, didada sebelah kirinya." Kali ini Jeanne yang menjawab. Rupanya sedari tadi ia memperhatikan jenis-jenis tato yang tertempel didinding.

Bak melihat gambar yang ditunjuk Jeanne sejenak dan mengangguk. Ia menyentuh pundak Kanda dan mengajaknya ketempat pembuatan tato.

.

"Nah bagaimana?"

Jeanne berdiri dibelakang punggung Kanda.

Kanda, yang tengah menatap cermin besar dikamarnya hanya diam.

Beberapa detik kemudian, bibir tipisnya membentuk sebuah senyuman.

"Bagus, terimakasih."

Jeanne tersenyum lebar.

"Sama-sama, Yuu."

.

Pemuda itu menyentuh tatonya, tato yang diukir untuk menutupi kenangannya.

'Nyuuut…'

Kanda menggigit bibirnya.

Mata ravennya nampak berkilat tertimpa cahaya lampu.

Keringat dingin membanjiri kening dan lehernya.

"Sial…. Kenapa aku malah sakit disaat seperti ini?" Bisiknya pada diri sendiri.

Tiba-tiba, kepalanya terasa sangat pusing.

Ia memegang ujung tempat tidurnya, meletakkan seluruh massa tubuhnya disana.

Pandangannya memudar.

'Bruuk.'

Ia terjatuh.

.

.

.

"Ah…. Aku pingsan lagi…."

Pemuda itu memandang hamparan putih disekitarnya.

Kepalanya begitu pening.

"Dulu, kalau aku sakit seperti ini pasti Alma akan bolak-balik ke kamarku sampai-sampai aku tidak bisa tidur. Lalu sewaktu di panti, Jeanne pasti terus menjagaku seharian…."

Pemuda itu tersenyum tipis.

"Kini, aku tidak punya tempat bergantung lagi. Tak ada orang yang bisa aku andalkan lagi. Alma sudah tak ada…. Dan aku tidak mungkin merepotkan Jeanne…."

"Kanda!"

"Siapa itu?"

"Kanda?"

"Siapa itu?"

"Kanda? Kau bisa bangun?"

"Siapa kau? Alma? Jeanne?"

"Kanda? Ah dia pingsan."

"Iya aku pingsan. Siapa kau?"

Kanda merasakan pandangannya mulai berwarna.

Dilihatnya sekilas bayangan silver dihadapannya.

"Siapa…."

Kanda merasa pandangan semakin buram.

Kesadarannya perlahan pudar kembali.

.

.

.

Kanda membuka matanya.

Kepalanya masih terasa pening, namun panas tubuhnya sudah mulai menurun.

Ia merasakan ada sesuatu yang dingin diatas keningnya.

"Siapa yang meletakkan kompres ini dikepalaku?"

Pintu terbuka.

Seorang pemuda berambut silver memasuki kamar.

Ia membawa sebuah nampan berisi semangkuk bubur dan segelas air putih. Tak hanya itu, sebuah plastik kecil berisi obat nampak disudut nampan.

"Ah, kau sudah bangun?" Allen menghampiri Kanda dan menaruh nampannya diatas meja kecil disamping ranjang Kanda.

"Kau yang mengangkatku ke tempat tidur?"

Allen mengangguk.

"Iya, berterimakasihlah. Kau berat tahu."

Kanda hanya terdiam.

Tak lama kemudian ia berbisik.

"Terimakasih."

Allen tersenyum.

"Sama-sama."

Mereka terdiam. Allen melepas sepatunya, sepertinya ia belum sempat berganti baju sejak tadi.

"Kenapa kau bisa tahu?"

Allen menoleh. Ditatapnya pemuda berambut raven disebelahnya.

"Soalnya tadi mukamu merah. Kukira kamu sakit jadinya aku kesini." Balas pemuda itu polos.

Kanda hanya ber-oh-ria.

Suasana kembali hening.

Allen merasa tidak nyaman dengan suasana itu, ia mendekati ranjang Kanda dan duduk dipinggir ranjang pemuda itu.

"Makan dong. Susah-susah aku bawain bubur dari kafetaria kok nggak kamu makan? Itu, aku juga sudah minta obat penurun demam pada Anita –sensei. Sehabis makan kamu harus langsung meminum obat itu."

Kanda menatap mangkuk bubur di sebelahnya dengan tidak berselera.

"Nanti saja."

Allen merengut.

"Ya sudah kalau kamu mau tetap sakit."

Kanda menatap mata kelabu milik Allen. Mencoba masuk ke relung hati pemuda berdarah Inggris itu.

"Aku…."

"Atau kau mau kusuapi?"

Kanda terhenyak.

Ia mengerutkan alisnya.

"Nggak."

"Terus?"

"Nanti saja makannya."

Allen menjadi jengkel. Ia mengambil mangkuk bubur yang telah agak dingin itu dan menyendoknya.

"Makan!" Katanya sembari menyodorkan sendok itu kemulut Kanda.

Kanda membuang mukanya. Disuapi? Jangan bercanda! Itu hanya terjadi saat ia masih kecil!

"Tidak mau."

"Ayolah, bubur ini enak lho." Allen berusah membujuk pemuda berdarah Jepang itu dengan bujukan yang sering digunakan oleh ibu-ibu untuk anak mereka. Tentu saja ini membuat Kanda makin merasa kesal.

"Aku bukan anak kecil lagi, moyashi!"

"Kalau begitu makan dong."

"Aku sudah bilang nanti."

Allen menatap pemuda itu sendu. Ia tidak ingin orang yang telah ia anggap sahabat, karena sering bertengkar, itu sakit. Entah mengapa ia benci melihat Kanda, orang yang ia anggap rival, atau saingannya atau apalah namanya itu begitu tak berdaya seperti tadi.

Ia takut apabila terjadi hal yang buruk pada Kanda.

Kanda menjadi tidak enak sendiri.

Allen seperti tengah melakukan 'Puppy Eyes no Jutsu' padanya.

"Errrrr…."

Allen tersenyum senang. Sekali lagi ia menyodorkan sendok berisi bubur itu pada Kanda.

Kali ini, dengan enggan Kanda membuka mulutnya dan memakan bubur itu.

"Nah, kan bagus kalau kau mau makan."

"Che." Balas Kanda disela-sela kunyahannya.

Sebenarnya Kanda bisa saja mengambil mangkuk bubur dan sendok itu dari Allen dan memakannya dengan tangan sendiri. Tapi entah mengapa terlintas pikiran jahil diotaknya untuk terus merepotkan si Moyashi. Hm, benar. Moyashi-nya.

Setelah buburnya habis, Allen menyerahkan sebutir obat dan segelas air pada Kanda.

"Minum sendiri, atau aku juga harus meminumkannya untukmu?"

"Che, tidak perlu."

Kanda mengambil air dan obat yang diserahkan Allen padanya dan meminum obat itu.

Allen membereskan mangkuk dan juga gelas yang dipakai Kanda tadi dan bergegas membawanya kembali ke kafetaria.

Sebelum menghilang dari balik pintu, sekali lagi ia menoleh pada Kanda.

"Take a rest, and get well soon." (Beristirahatlah, dan lekas sembuh ya.) ucapnya dengan logat Inggrisnya yang khas.

Kanda mengangguk.

"Ha'i." Ia membalas dengan bahasa ibu nya.

Allen menutup pintu kamar dan pergi.

Setelah derap sandal Allen tak terdengar lagi, Kanda membaringkan dirinya dengan nyaman kembali ditempat tidurnya. Ia menutup matanya, bibir tipisnya tersenyum.

"Ternyata, masih ada…. Tempatku untuk bergantung…. Arigatou Aren Waka…."

.

"Allen?"

Pemuda berambut silver itu menoleh.

Dilihatnya Lavi berjalan kearahnya sambil tersenyum.

"Ada apa, Lavi?"

"Tidak ada apa-apa. Oh, kau habis makan bubur?" Tanya Lavi heran sambil menatap ke nampan yang dibawa Allen. Tidak biasanya pemuda itu makan makanan yang begitu sederhana seperti itu.

"Tidak, ini BaKanda yang makan. Dia sakit."

"Lalu kau menyuapinya?" Tebak Lavi dengan nada menyelidik.

Allen hanya mengangguk.

"Ya begitulah. Habisnya dia nggak mau makan." Allen nyengir kuda.

"Ohhh…."

"Engh, sudah ya. Aku harus mengembalikan semua ini ke dapur. Bisa-bisa Jerry ngamuk kalau barang-barang didapurnya ada yang kurang. Daagh~"

Allen menuruni tangga asrama dan berjalan cepat-cepat menuju kafetaria.

Lavi menatap kearah deretan kamar ditempat itu.

Ia tersenyum. Senyum yang lebih mirip dengan seringaian.

"Hmmmm…. Begitu rupanya…."

.

TBC


Bales review nyok~

KoroKorolo
Tentu aja pasti lanjutXDD

Thx buat reviewnya :D

Keiji Wolf

Makasi :DDD

Akachii: Gapapa :D

Yah bisa dibilang Jeanne itu adalah 'merica' disini XD

Owh, buat adegan yullen tentu aja ADA! XDD

Dan PASTI ada! XDD

Thx for rnr :D

Aoi Sora:

Kenapa sama?

Karena authornya juga sama! XDD

#authorsableng

Makanya dibwahnya mii isiin author note:D

Thx uda review ya ^^

Ejey Series

XDD

Bisa disearch di mabah gugel kok senpai XDD (kena pengaruh gambar2 transgender Allen)

Iya T^T

Yg bisa mii pake itu Lenalee n Road aja T^T

Sama kok XDD ketahuan malesnya

N skarang mii udah SMK! w #lempar2 granat (?)

Thx reviewnya,senpai :D

Lalalu: Iya donk :3

Itu mii ambill dari mangan DN Angel =w=

Karena ceritanya pas ya udah mii pake :D

Thx buat reviewnya ya :3


Ah akhirnya fic ini apdet juga -w-

Allen: Woy kelamaan tau! kasian readers ampe jamuran nunggunya! ==

Kanda: author sableng.

Mii: Nyeh, mii baru bangkit dari kubur tahu! setelah mengalami masa2 penerimaan (penggojlokan) #sfx: glek , jadi OSIS, akhirnya liburan tiba dan mii bisa mengetik lagi! XDD

Lenalee: Tapi lama . bilang aja kamu buntu ide ._.

Mii: ah lena kok gitu sih? DX

Komui: Yah intinya...

All: Review please?