Annyeonghaseyo (^o^)/
Gomawoyo buat readerdul sekalian yang mau dan bersedia menyembatkan waktu memarkirkan reviewnya di FF ini hiks..hiks… #terharu
Sekali lagi terima kasih banyak.
Ini part terakhir dari FF ini Mianhae kalau masih mengecewakan, tapi aku masih sangat-sangat berharap dengan Review readerdeul sekalian
Gomawoyo #hug reader atu-atu (:~_~
-KYUMIN FANFICTION- Shounen-ai
-Chocolate with Poem-
ORIGINAL CAST : KYUMIN
WARNING : BOYS LOVE BOYS, untuk penulisan masih jauh di atas rata-rata, bahasa NYELENEH..., typo(s) dan sejenisnya selalu mengiringi setiap kata di FF ini. #dimutilasi.
Ini FF Shounen-ai series pertamaku harap dimaklumi dengan kesalahan-kesalahan yang menggumpal dalam penyusunan bahasanya
DISCLAIMER : Semua ini hasil buah pikiran yang cetek milik sang author tak berbakat, semua nama cast hanya ketidak sengajaan author yang g tahu lagi mau di kasih nama siapa itu cast-nya
#plakkk.. Aku g bisa buat FF selain KYUMIN. Yang Nggak Suka MOHON
tinggalkan!, Tapi kalau masih NGEBET buat baca! Wajib RCL!#pemaksaan#
SUMMARY :
Tiada kata yang sanggup ku torehkan untukmu, hanya sebuah cokelat kecil yang bisa kupersembahkan dengan untaian kata cinta untukmu.
.
.
.
.
.
previous...
"Kalau kau sekali lagi berani mempermalukan Sungmin, aku bisa pastikan namamu masuk dalamm daftar nama yeoja paling menjijikkan di sekolah ini"
.
.
.
.
.
Namja mungil itu masih setia dengan selimut yang membungkus hangat dirinya, "Sungmin-ah bangun nak, ini sudah pagi!", teriakan itu kembali menggema untuk ke-3 kalinya pagi ini. Namun Sungmin sama sekali tidak mengindahkan panggilan itu.
'Sungmin oemma bilang bangun!", suara teriakan sang oemma semakin meninggi dari luar kamarnya.
"ne oemmaa~…", teriakan terakhir itu membuat Sungmin segera bangkit dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sebenarnya ini sama sekali bukan kebiasaan dari seorang Sungmin. Sungmin selalu terbiasa bangun tidur sebelum jam enam, mempersiapkan semuanya, tapi belakangan ini Sungmin bahkan harus dibangunkan dengan susah payah untuk bisa pergi sekolah.
.
.
.
Sungmin berjalan menapaki lantai putih di sepanjang koridor sekolah, semua mata tak surut menatapnya lekat-lekat. Padahal kejadian itu sudah lebih dari seminggu yang lalu terjadi, tapi kenapa tatapan menyudutkan itu masih terlihat dari mereka.
Namun Sungmin lebih bersikap tidak peduli kali ini, ia berjalan melewati pasang mata yang terus memperhatikannya, menuju loker miliknya.
"SUNGMIN!",teriakan Donghae menginterupsi langkah namja mungil itu.
Donghae mengembangkan senyuman diwajahnya dan menarik Sungmin bersama—sama menuju loker.
Riuh suara yeoja berbisik-bisik mulai terdengar, menandakan seseorang yang memiliki predikat popular sedang berjalan mendekat. Namja popular itu berjalan bersama yeoja yang diketahui sebagai kekasihnya.
Mereka berjalan tepat di belakang HaeMin, dengan tujuan yang sama —loker—. Sungmin sadar benar akan kehadiran namja itu, jangan anggap ia tidak bisa merasakan aura namja itu. Namun Sungmin memilih untuk tidak mempedulikan lagi kehadirannya.
Sungmin membuka lokernya dan ia mendapati sebuah kotak kecil berwarna merah disana yang tertutup rapat.
"Wah Min, kau mendapatkan cokelat lagi ne?", ucap Donghae sedikit meninggikan suaranya –sengaja–, agar seseorang yang berada tidak jauh dari Sungmin mencuri dengar ucapan Donghae.
"Wah sepertinya pengagummu kali ini benar-benar istimewa, dia memberimu cokelat setiap harinya, walaupun hari kasih sayang sudah lewat, kau benar-benar hebat!", cerocos Donghae berniat memanas-manasi namja 'itu'.
Sungmin memelototkan matanya pada Donghae, sebagai bentuk ancaman –marah–, agar Donghae segera menghentikan ucapan-ucapannya yang sangat mengganggu dan memekakan telinga.
"Ne…, Arraseoyo chagiya, ayo kita masuk ke kelas!", Donghae semakin menaikkan intensitas nada bicaranya, dan sesegeranya merangkul Sungmin membawanya ke kelas Sungmin, sebelum mendengar kemarahan dari sahabatnya itu.
Sosok yang berada 5 loker dari tempat loker Sungmin berada terpaku, matanya lurus menatap isi lokernya, dengan pandangan kosong. Wajahnya terkesan geram, melihat warna wajahnya yang berubah merah bersamaan dengan bunyi gemeletuk gigi yang saling bersahutan. Ia memegang gagang pintu loker sangat kuat.
"Chagiya~…", suara manja Yuna menginteruksi lamunannya. Ia segera menutup lokernya rapat-rapat.
"Aku sudah bosan denganmu, lebih baik kita putus!"
Ia berlalu meninggalkan yeoja yang sedari tadi setia berada disampingnya, yang sekarang tengah tercengang dengan keputusan tiba-tiba seorang Cho Kyuhyun.
oOoOoOoOoOOoOoOoOoOo
Mungkin ini yang terbaik bagi Sungmin melepas semua perasaan yang teramat dalam untuk Kyuhyun, sulit. Bahkan sangat teramat sulit, mengingat perasaan ini sudah sejak lama ia simpan dalam lubuk hatinya paling dalam.
"Ada kalanya gaya gravitasi yang jatuh memiliki ukuran––", songsaenim tetap pada tugasnya mmenerangkan pelajaran.
Sungmin mengenduskan nafasnya, mencoba mengatur pernafasannya. Jujur saja melihat punggung namja berwajah stoic itu, membuat jantungnya terus bergemuruh kencang. Walaupun Sungmin mencoba bersikap acuh padanya.
Sungmin merogoh laci miliknya dan mengeluarkan sebuah bingkisan –kotak– untuknya, bingkisan ini sudah ia dapatkan beberapa hari ini, beserta sebuah pesan puisi singkat yang selallu ia dapatkan di dalamnya.
Ia membuka kertas kecil itu.
Bilamana mulut bisa berdusta
Namun hati yang tahu
Aku menyayangimu.
Sungmin memejamkan matanya meresapi sedikit kalimat menyesakkan itu. Walau ia masih bingung siapa pengirim surat dan cokelat ini sebenarnya, namun Sungmin lebih memilih menerimanya. Sungmin kembali meletakkan kertas itu kedalam kotaknya dan memasukkan lagi ke dalam laci.
Sungmin sadar atau tidak, sepasang mata obsidian tadi tengah mencuri pandang ke arahny. Sungmin mengangkat tangannya segera.
"Ne", sahut songsaenim melihat Sungmin yang nampaknya mebutuhkan sesuatu. Semuapandangan terpusat padanya.
"Bolehkan saya izin songsaenim ?", tanya Sungmin takut-takut.
"Apa kau sakit Sungmin?"
"Ne…, hanya sedikit pusing"
Songsaenim mengangguk menyetujui permintaan Sungmin, dan Sungmin bergegas meninggalkan kelas. Namun sebelumnya seperti biasa Sungmin selalu membawa buku dan pulpen sebagai persediaannya dimanapun ia berada.
.
.
.
.
.
Mungkin disinilah tempat peraduan yang tepat bagi Lee Sungmin, duduk di bawah rindangnya pohon sebagai tempat perteduannya, ditemani oleh hijaunya rerumputan sebagai alas duduk untuknya.
"Heuhh...", Sungmin menghembuskan nafasanya secara teratur, mencoba menenangkan pikirannya dari segala kekalutan yang ada.
Setelah kejadian memalukan itu, Sungmin tidak pernah lagi, bahkan enggan berpapasan dengan Kyuhyun -menghindar-. Dan yang jauh lebih buruk daripada itu adalah semua teman-teman di sekolah menjadi -sedikit- peduli dengannya, bukan peduli dalam hal baik, tapi lebih kepada menjatuhkan.
Sungmin menyandarkan kepalanya pada kekarnya pohon, matanya sayu-sayu perlahan mulai membuatnya nyaman dengan situasi seperti ini hingga tertidur.
Wajah stoic itu berada tepat di depan Sungmin, senyumnya merekah sempurna -tulus- melihat Sungmin berada di depannya.
"Apa yang kau lakukan disini?", tanya Sungmin bingung.
Sosok itu mendekati Sungmin dan tepat berjongkok di depan Sungmin, tangannya perlahan mulai mengelus sayang rambut Sungmin, dan menatap lekat manik mata kelam milik Sungmin.
"Mianhae Sungmin-ah..."
Sungin terhenyak, matanya membulat penuh, sosok yang begitu dingin dan tak bersahabat dengannya kini tengah meminta maaf, dan itu semua terdengar tulus.
"Mianhae..., aku sudah membuatmu menangis karenaku, aku tidak bermaksud seperti itu Min-ah"
Perlahan air mata Sungmin menetes mendengar pernyataan namja bersuara bass itu.
Tangan itu menghapus jejak air mata yang jatuh di pipi Sungmin, mata obsidian miliknya semakin lekat menatap mata Sungmin, dan perlahan ia mendekatkan lagi jarak antaranya dan Sungmin hingga...
Chuuu~
Sungmin benar-benar terbengong akan semua ini, namun bibir yang terasa hangat baginya itu mulai melumat kecil bibir mungilnya. Sensasi kehangatan menjalar di tubuh Sungmin, pada akhirya Sungmin memejamkan kedua matanya, meresapi kenikmatan peraduan kedua bibir indah ini.
"Tuhan, biarkan aku menikmati mimpi indah ini", kira-kira seperti itulah pinta Sungmin dalam hati.
Pagutan bibir sosok itu semakin intens menyesapi m,anisnya bibir Sungmin, demi apapun yang pernah singgah dimimpi seseorang. Ini begitu nyata, dan bahkan tak terasa seperti mimpi.
Sungmin mulai mengerjapkan mata indahnya, sungguh ini terasa sampai ke alam sadarnya. Dan saat matanya terbuka penuh.
Sungmin berjengit kaget, melihat sosok yang ada di dalam mimpinya itu benar-benar berada di depannya dan sedang menciuminya dengan mata yang terpejam.
Sungmin mendorong tubuh jangkung itu "Apa yang kau lakukan?"
Kaget, Sugmin benar-benar kaget melihat sosok itu tengah menciuminya.
"heh...", sosok itu tersenyum sinis seraya menghapus sudut bibirny yang masih tersisa saliva.
Iapun berjalan dan meninggalkan Sungmin yang masih terpaku menunggu jawaban darinya.
"Sepertinya kau menikmatinya", ia pun berlalu hanya dengan mengucapkan hal itu.
Sungmin menatap nanar kepergian namja itu, hatinya benar-benar sakit, cukup rasanya dipermainkan bagai seonggok sampah oleh namja itu.
Ingin rasanya Sungmin menangis, namun air matanya tertahan mengingat janjinya untuk tidak menangis lagi kaena sosok itu.
Sungmin mengambil buku dan pulpen yang berada tepat disampingnya. Ia kembali menorehkan sebuah kata dalam kertas putih itu.
Aku berharap pada sebuah kekosonganIngin memilihmu,
Pengikat antara dua dunia telah terputus
Aku hanya perih, menyisakan puing-puing kehampaan
Tercekat dalam sebuah dilema
Harus atau sudahi?
Aku berhenti di persimpangan jalan,
Lelah arah tanpa tujuan
Namun ku sadar diri.
Aku berhenti tepat disini
Berharap semua tak terjadi.
Sungmin merunduk dalam meresapi sebuah puisi miliknya, yang terkesan. Sebuah keputus asaan.
"Selamat tinggal Kyu", lirihnya hampir tal terdengar.
Sungmin bangkit dri duduknya, dan berjalan meninggalkan taman.
Dari kejauhan mata obsidian itu tak lekang menatapnya.
Sungguh ia rindu saat-saat namja bertubuh mungil itu menguntitnya, namun ia malu untuk mengatakannya, lebih baik ia disini memperhatikan namja itu dari kejauhan.
"Mianhae Min, kau jangan sampai benar-benar membenciku ne…", ucapnya lirih, nyaris tak terdengar.
Kyuhyun tadi meminta izin sama dengan Sungmin, beralasan kepada songsaenim dirinya juga kurang sehat.
.
.
.
.
.
Tepat waktunya pulang sekolah, semua membenahi barang bawaannya amsing-massing, songsaenim segera membubarkan diri dan bergegas keluar. Namun sayangnya cuaca kurang bersahabat, hujan deras turut menggenangi bumi di siang hari.
Sungmin masih setia duduk di bangkunya menunggu satu per satu murid-murid lain keluar, paling tidak ada alasan Sungmin untuk tetap duduk, menunggu kehadiran Donghae. Ia menoleh pada kaca jendela yang berada disampingnya, melihat jelas ke arah luar kelas, dimana semua murid lainnya sedang sibuk berlarian kesana-kemari memilih berteduh diluar, bahkan rela membasahai tubuhnya untuk bergegas pulang.
Ternyata bukan hanya Sungmin yang berada di ruang kelas itu, melainkan Kyuhyun yang juga tetap duduk tenang di bangkunya.
Sungmin tersadar akan keberadaan Kyuhyun, ia menoleh sejenak ke arah Kyuhyun, tanpa disengajai mereka saling bertemu pandang. Namun Sungmin dengan segera membuang arah pandangnya, dan bergegas meninggalkan kelas.
Greebb
Kyuhyun menahan tangannya, saat Sungmin melintas tepat di sampingnya. Sungmin menggeliat mencoba melepaskan kungkungan tangan Kyuhyun dilengannya.
Tubuh Sungmin bergetar hebat, jantungnya kembali berdetak cepat tak beraturan.
"Lepaskan!", Sungmin melawan.
"…"
"Aku bilang lepaskan Cho Kyuhyun"
"…"
Kyuhyun yang tetap dengan posisi awalnya –duduk–, semakin mengeratkan genggamannya.
Plakkk
Sungmin menampar kembali pipi tirus milik Kyuhyun.
"Aku benar-benar sudah muak melihat sikapmu! Lepaskan aku!", Sungmin memberontak liar, membuat Kyuhyun akhirnya menoleh padanya dengan mata yang berkilat marah.
Kyuhyun menarik Sungmin, menciumi bibir cherry kemerahan milik Sungmin secara paksa. Tentu ciuman ini mendapatkan penolakan dari Sungmin, dan kali ini Kyuhyun mennciuminya dalam keadaan sadar-sesadar sadarnya.
"Hmmpth–", Sungmin terus memukul-mukuli lengan bahu serta dada Kyuhyun secara tak beraturan. Namun Kyuhyun semakin menekan dan menari dalam tenngkuk Sungmin.
"Hmmpth–"
Sungmin mendorong sekuat-kuatnya tubuh Kyuhyun dan…
-Braakk-
Kyuhyun terjerembab jatuh terduduk dikursinya. Sungmin mengatur nafasnya yang sempat tercekat karena ciuman –pemaksaan– dari Kyuhyun. Sungmin kembali ingin melayangkan tamparan kepada Kyuhyun namun dengan segera di tahan oleh tanngan kekar Kyuhyun.
"Lepaskan!"
"Kau ingin menamparku lagi, tampar…tampar aku!", Kyuhyun mendaratkan sendiri tamparan tangan Sungmin di pipinya.
"LEPASKAN AKU CHO KYUHYUN!", Sungmin berteriak sekuat-kuatnya, emosinya sudah membuncah sampai urat syaraf kepalanya.
Untungnya suara derasnya hujan membendung kerasnya suara Sungmin, sehingga tidak menggema ke seluruh penjuru.
"heuh…", Kyuhyun mendengus sebal, dan melepaskan tangan Sungmin.
Sungmin segera keluar dari ruangan kelasnya dan berlari dii bawahnya derasnya hujan yang mengguyur tubuhnya.
Kyuhyun segera mengejar Sungmin, dan secepatnya ia bisa kemballi menarik tangan namja mungil itu.
"Berhenti bersikap acuh padaku hah!", teriak Kyuhyun, suaranya terdengar samar dengan derasnya hujan yang mengguyur tubuh mereka.
Sungmin menarik tangannya, entah sebuah keberanian apa yang membuatnya begitu berani menatap tajam mata obsidian namja yang begitu ia cintai.
"APA MAUMU?"
"Berhenti menngacuhkanku!", Kyuhyun semakin mendekati Sungmin, pandangan matanya semakin intens menatap mata kelam milik Sungmin.
Sungmin menatap lekat mata itu, mata yang begitu menyiksa hatinya, "Kau! Aku ini apa bagimu hah!"
"Kau membuatku seperti bonekamu! Mencampakkanku sesuka hatimu, mempermainkan perasaanku, dan sekarang kau memintaku jangan mengacuhkanmu!", Sungmin berusaha sekuat tenaga mengungkapkan isi hatinya,semua rasa bergemuruh tak menentu di hatinya. Darahnya berdesir hebat, saat melihat mata itu semakin lekat menatapnya.
Untungnya hujan sedikit memburamkan pandangan mereka masing-masing. Pandangan Kyuhyun berkilat marah.
"Kalau begitu pergilah, menjauh dari hidupku! Jangan pernah tunjukkan lagi wajahmu di depanku!", kata Kyuhyun sarkastik, ia menghempaskan tangan mungil Sungmin dan meninggalkannya begitu saja.
Seperti mendapatkan sebuah pukulan telak di hatinya, kakinyaseperti terpaku. Satu katapun tak sanggup ia ucapkan, bulir air mata mulai menggenang dipelupuk matanya, dan terjatuh bersamaan dengan tetesan hujan.
Selang beberapa waktu Donghae datang, mencoba menenangkan Sungmin.
Bahu Sungmin bergetar hebat, isakan keluar parau dari mulutnya, dengan segera Donghae mendekap tubuh mungil itu.
"Hei…, sudahlah…, sudah…, jangan menangis lagi ne…", Donghae menenangkan Sungmin yang semakin kuat terisak.
"Aku membencinya, hikss~…, aku membencinya Hae-ya!"
"Ne…Kau membencinya, sudah…sudah…"
Hanya hujanlah yang menjadi saksi tangisan Sungmin dan ucapan kebohongan perasaannya. Mengucapkan sesuatu yang tidak sesuai dengan hatinya.
"Hei…, sudahlah…, sudah…, jangan menangis lagi ne…", Donghae menenangkan Sungmin yang semakin kuat terisak.
Tidak jhauh dari tempat HaeMin berada, mata obsidian Kyuhyun masih lekat-lekat menatap Sungmin. Ia turut menangis bersama Sungmin, hatinya begitu sakit setiap kali melihat Donghaelah yang menjadi tempat bersandar Sungmin, Donghaelah yang dipilih menjadi tempat Sungmin mengadu.
Kyuhyun tertunduk lemah, rasa penyesalanlah yang sekarang tengah bergemelut dipikirannya. Kyuhyun merutuki dirinya sendiri.
"Dasar bodoh!", Kyuhyun memukul-mukul kepalanya, ada sejuta emosi dan beribu perasaan cinta yang beradu di dalam hatinya.
OoOoOoOoOoOOoOoOoOoOo
-3 Hari Kemudian-
"Huatchim…"
"Lebih baik kau istirahat saja, ne!", ucap sang oemma. Ia segera meletakkan kaih di dahi Sungmin. pengompres
Sungmin hanya mengangguk pelan dan kembali menutup matanya tertidur pulas di atas kasur empuk miliknya. Setelah kejadian beberapa hari yang lalu, ini sudah hari ke-3 Sungmin tidak masuk sekolah, tubuhnya tidak semakin membaik.
.
.
.
.
.
Kyuhyun berjalan tenang sendirian ke arah loker miliknya, ia membuka loker tersebut. Seperti biasanya lokernya selalu dipenuhi dengan bingkisan-bingkisan dan surat-surat. Kyuhyun melirik kea rah pintu loker ada memo disana.
Aku tunggu di taman kota, sepulang sekolah
-Donghae-
Kyuhyun menggeram, dan meremas kertas itu.
.
.
.
.
.
Suasana di kelas terdengar riuh, Kyuhyun tengah duduk di bangkunya, ia menoleh ke sebuah bangku yang sudah beberapa hari ini kosong –tak berpenghuni–. Ada gemelut rasa bersalah di hatinya, ia begitu merindukan si pemilik bangku itu.
"Kyuhyun-ah…", seorang yeoja lain, tiba-tiba datang dan menghampiri Kyuhyun.
Kyuhyun memandang tak suka kepada yeoja itu, padahal biasanya ia akan tersenyum ramah dengan yeoja-yeoja yang menggandrunginya. Namun tidak untuk kali ini.
"Waeyo?", tanya kyuhyun, seadanya.
"Hmm…", yeoja itu hannya menunduk malu sembari memainkan kancing kemeja miliknya, salah satu kakinya sengaja ia jinjitkan, seolah membuat kesan –imut– pada dirinya.
"Sudah cepat katakan saja…", kata Kyuhyun, malas-malasan.
"Maukah kau jadi pacarku Kyuhyun-ah, aku sudah lama menyu–"
'Shiroe"
Yeoja itu langsung mengangkat wajahnya, memandang bingung ke arah Kyuhyun.
"Kau tidak dengar, aku bilang shiroe, menjauhlah kau mengganggu pemandanganku!", nada bicara Kyuhyun terdengar sangat ketus, mungkin inilah caranya ia melampiaskan kegundahan hatinya.
Yeoja itu tak bergeming, semburat merah –malu– sudah terlihat diwajahnya, bagaimana tidak, ia dipermalukan di depan kelas seperti ini oleh seorang Cho Kyuhyun.
Kyuhyun beranjak meninggalkan yeoja itu.
"Kau menyukai Lee Sungmin namja aneh itu kan? Aku pernah melihatmu meletakkan cokelat di lokernya!", teriak yeoaj itu tak terima atas penolakan Kyuhyun. Ia membeberkan semua hal yang ia ketahui tentang Kyuhyun.
Semua mata terpusat pada Kyuhyun dan yeoja itu secara bergantian. Kyuhyun yang sudah berdiri di ambang pintu, membalikkan tubuhnya, menatap tajam ke arah yeoja itu.
"Itu bukan urusanmu yeoja murahan!", cibir Kyuhyun dan meninggalkan segera seisi kelas yang menatap bingung ke arahnya, bukankah Cho Kyuhyun yang selama ini dikenal adalah seorang namja yang sangat ramah.
OoOoOoOoOoOOoOoOoOoOo
Donghae berdiri bersandar, salah satu kakinya menapak pada tembok, tangannya sengaja ia sembunyikan di balik sakunya, sesekali pandangannya melirik ke arah depan, berharap sosok yang ia tunggu kehadirannya akan segera datang.
Donghae melirik tajam pada jam tangan yang ia kenakan, sudah dua jam lebih ia menunngu kehadiran sosok tersebut.
Donghae kembali menatap lurus ke arah depan,dan...
Tepat, sosok itu tengah jalan mendekatinya dengan langkah yang terlihat santai. Donghae berdiri tegak saat sosok itu datang, matanya berkilat marah saat melihat sosok itu terlihat santai -tanpa rasa bersalah-.
"Kau!"
Donghae menunjuk kasar ke arahnya, saat sosok itu sudah berdiri tepat di depannya.
Sosok itu tersenyum sinis, tanpa ada rasa bersalah ia menurunkkan tangan Donghae yang berada di depan wajahnya.
"Kau tidak perlu emosi" ucapnya tenang.
Donghae benar-benar sudah tidak sabaran, ingin rasanya ia memukul kembali sosok berwajah stoic itu.
"heuuhh...", dengus Donghae sebal.
"Kau tahu karena kau semua menjadi seperti ini!", Donghae berbicara dengan gemeletuk gig yang saling bersahutan.
Sosok itu masih setia dengan ketidak peduliaannya, ia membuang arah pandangnya sejenak,
"Apa lagi masalahnya sekarang?", tanyanya santai.
Donghae benar-benar sudah tidak tahan dengan sikapnya, Donghae menarik kerah baju miliknya, menariknya tepat di depan wajah Donghae.
"Karena kau Sungmin pergi ke Jepang arra!", Donghae menghempaskan cengkramannya.
"Apa peduliku?", sosok itu masih saja bersikap santai, padahal saat ini jantungnya berderu cepat saat mendengar kabar itu.
"Sebenarnya apa masalahmu Cho Kyuhyun? Kenapa kau begitu membenci Sungmin ooeh?"
"Apa itu urusanmu?"
"Kau!", emosi di kepala Donghae sudah membuncah ingin segera dilampiaskan, darahnya sudah mendidih menahan amarah yang semakin tersulut.
"Kau tahu Kyuhyun-ssi , aku berharap waktu berputar dan Sungmin tidak pernah bertemu denganmu"
Kyuhyun menatap tajam ke arah Donghae, tatapannya menyiratkan ketidak sukaannya pada ucapan Donghae.
"Jaga ucpanmu!"
"Ne…, aku berkata jujur, Sungmin itu terlalu baik untukmu, terlalu baik sehingga kau dengan gampangnya menyakitinya!", mata mereka saling beradu –berkilat marah–.
"Kau yang merebutnya dariku!"
"MWO…?", Donghae terlihhat bingung dengan ucapan Kyuhyun.
"Apa maksudmu? sigh … bahkan kau menyalahkan orang lain karena kesalahanmu sendiri, Aku tidak pernah merebut Sungmin darimu bahkan samppai sekarang aku tidak merebut Sungmin babo!", jelas Donghae.
Kyuhyun mendengus tak puas atas jawaban itu, "Kau kira aku ini anak kecil oeh! Semua orang juga bisa melihatnya kau menyukai Sungmin!"
Donghae memelototkan matanya –kaget– mendengar pernyataan Kyuhyun.
"Dasar gila!", cibir Donghae tak senang.
"Aku ini kekasih namdongsaengnya Sungmin, babo!"
Sekarang berganti Kyuhyun yang terlihat terkejut mendengar pernyataan Donghae.
"MWO…? Kau jangan berbohong Sungmin tidak punya adik!"
-Pletakkk-
Jitakan telak mendarat di kepala Kyuhyun, "HYAA! Apa-apaan kau?"
Donghae menautkan kedua alisnya, " Kau ini memang babo, kalau kau memang mencintainya seharusnya kau percaya padanya babo!"
"Ah sudahlah percuma aku terlalu banyak bicara padamu, besok sore Sungmin akan pergi ke Jepang, terserah kau, kau mau terus membohongi perasaanmu, atau mengejar cintamu, aku hanya ingin melihat Sungmin bahagia, jangan sampai kau menyesal Cho Kyuhyun, aku tahu kau mencintainya, sampai-sampai kau rajin mengiriminya cokelat belakangan ini, jangan kau pikir aku tidak tahu semua itu!"
Impuls Kyuhyun terkejut, matanya membelut kaget. "Darimana kau tahu itu?"
Donghae tersenyum sinis ke arah Kyuhyun,"Kau pikir aku tidak tahu itu semua, sudahlah tidak penting aku tahu darimana, yang pasti Sungmin akan berangkat besok, semua pilihan ada di tanganmu"
Donghae berlalu meninggalkan Kyuhyun yang masih terpaku berdiri menatap kepergiannya.
OoOoOoOoOoOOoOoOoOoOo
Kyuhyun merebahkan tubuhnya di atas kasur emouk miliknya, ucapan Donghae masih senantiasa berputar-putar di kepalanya.
Selama ini yang ada di pikirannya, Donghae sangat menyukai Sungmin-nya. Hei, sejak kapan Sungmin menjadi Sungmin'nya'.
Kyuhyun mendudukkan dirinya, matanya menerawang jauh mengingat-ingat kesalahan yang sudah ia perbuat, tapi sungguh hatinya masih sakit melihat kejadian yang dulu sempat terjadi.
"Apa yang harus ku lakukan?", lirihnya.
Kyuhyun mengambil kertas-kertas yang ada di dalam laci meja belajarnya. Ia kembali membuka lembar demi lembar isi kertas tersebut.
Aku memujamu setulus hatiku
Sungguh sebuah kesetian perasaan selalu kujaga untukmu
Merangkul pada dinding-dinding pengikat namamu
Aku ingin berlari menjauh
Namun aku tak sanggup tanpamu
Dikala tubuhku melemah
Aku memujamu
Kau cahaya untukku
Tes…
Airmata Kyuhyun jatuh menggenangi kertasnya, ia menangis karena menyadari kebodohannya sendiri.
Kyuhyun masih setia berkutat dengan kertas-kertas puisi pemberian Sungmin. Bodohnya, ia baru menyadari semuanya sekarang, tapi masih ada satu hal yang janggal di hatinya. Kejadian saat itu masih 'kental' ada dipikirannya.
Tercetus ide, Kyuhyun segera beranjak meninggalkan kamarnya –kertas-kertas itu ia tinggalkan di atas kasur miliknya. Ia mendekati meja yang ada di ruang keluarga. Kyuhyun mencari buku daftar telepon, mencoba mencari di urutan 'L', dan akhirnya dapat.
Kyuhyun segera menekan digit, dan menghubungi seseorang yang ia yakini tahu akan memberikan jawaban keresahan hatinya selama ini.
Panggilan terhubung…
"yeoboseyo…, benar ini kediaman keluarga Lee?", tanyanya memastikan, maklum saja ini pertama kalinya setelah bertahun-tahun ia tidak menghubungi keluarga itu.
"ne…, saya Nyonya Lee, anda siapa?"
"Ah…, aku temannya Lee Sungmin, bisa aku bicara dengannya?"
"hm…, mianhae…, Sungmin sedang sakit, bagaimana kalu kau hubungi saja ponselnya ?", usul Nyonya Lee.
Kyuhyun tampak berpikir, bagaimana bisa ia mennghubungi ponsel Sungmin, bahkan nomornya saja ia tidak punya. Kalau minta dengan Nyonya Lee, pasti Nyonya Lee akan berpikiran aneh padanya, teman macam apa yang tidak punya nomor ponsel temannya sendiri.
"hmm…, aku akan berkunjung saja Nyonya Lee, sekalian untuk menjenguknya, gomawo Nyonya Lee…"
"Ah ne…"
Panggilan segera terputus, Kyuhyun meletakkan gagang teleponnya bersamaan mendenguskan nafasnya. Mungkin sudah saatnya ia bicara langsung dengan Sungmin dan meminta kejelasan kepada namja mungil itu.
OoOoOoOoOoOOoOoOoOoOo
TOK…TOK…
"IYA SEBENTAR!", teriak seseorang dari dalam.
-CKLEKK-
"Annyeonghaseyo ahjumma…, Apa Sungmin ada di rumah ?", sapa Kyuhyun seraya membungkuk sopan, di tangannya ia sudah menyiapkan sebuah bingkisan khusus untuk Sungmin.
"Ah ne…, silahkan masuk", wanita paruh baya sedikit menggeser badannya, mengizinkan Kyuhyun masuk ke dalam rumah.
Kyuhyun berjalan mengikuti wanita paruh baya itu, matanya sibuk menyusuri semua dinding-dinding yang di penuhi dengan foto-foto keluarga Sungmin, banyak yang berubah, sejak terakhir kali Kyuhyun datang kerumah ini –berkisar lima tahun yang lalu.
Wanita paruh baya yang tak lain adalah Nyonya Lee, terus membawa Kyuhyun menaiki lantai dua, dimana kamar Sungmin berada.
"Kebetulan Sungmin sedang tidak enak badan, lebih baik kau langsung menjenguknya di kamar ne…", ucap Nyonya Lee, mempersilahkan.
Kyuhyun mencoba menghembuskan nafasnya secara teratur, yang sejak tadi tercekat. Kyuhyun terus-menerus memantapkan hatinya untuk meminta kejelasan semua ini pada Sungmin.
TOK…TOK…
"Sungmin-ah ada temanmu datang?", panggil Nyonya Lee dari balik pintu kamar Sungmin.
Sedangkan Sungmin yang –berada di dalam kamarnya, sedang terbaring lemah di atas kasur empuk miliknya. Tidurnya sedikit terganggu mendengar panggilan sang oemma. Sungmin mengerjapkan mata foxy-nya mengumpulkan kesadarannya.
"Suruh masuk saja oemma!", teriaknya, dengan suara seadanya. Matanya sayu-sayu mulai terpejam kembali, sakit di bagian kepalanya masih terasa nyeri, mengingat hantaman derasnya hujan yang membasahi tubuhnya.
–CKLEKK–
Sungmin tidak begitu mempedulikan kehadiran orang yang disebut sang oemma sebagai teman. Sungmin mengira Donghaelah yang datang menjenguknya.
Kyuhyun terkesiap melihat isi kamar Sungmin, dinding-dindingnya dipenuhi dengan kertas-kertas puisi buatan Sungmin. Rasanya Kyuhyun ingin menangis mengingat kebodohan akan sikapnya yang sudah salah menilai. Sadar, kertas-kertas itu dibuat untuknya. Kyuhyun meletakkan bungkusannya di meja belajar Minnie yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.
"Tutup lagi pintunya Hae…", ucap Sungmin, memerintah.
Kyuhyun menuruti perintah Sungmin, walau bukan namanya yang disebut. Ia masih men-stabil-kan detak jantungnya, sampai-sampai bibirnya terasa keluh untuk sekedar menyapa Sungmin.
"Ada apa kau kesini?", tanya Sungmin yang masih belum menyadari bahwa itu bukan Donghae. Matanya masih setia terpejam dengan tubuh yang masih diselimuti bed cover pink miliknya.
Mulut Kyuhyun sudah bersiap untuk berbicara, namun suaranya seakan tercekat untuk keluar. Sungmin membuka matanya perlahan, merasa 'teman'-nya yang tidak menjawab pertanyaan darinya. Sungmin mencoba duduk dan bersandar di punggung kasur. Kyuhyun yang melihat Sungmin sedikit kesulitan mendekati dan memapah tubuh mungil itu. Sungmin sadar saat sebuah tangan mencoba membantunya.
"Kau!", matanya melotot –kaget–, tangannya langsung menepis kasar tangan Kyuhyun yang sedang mencoba membantunya, membuat Kyuhyun terlonjak kaget dan menjaga jarak dengan Sungmin
"Apa yang kau lakukan disini?", tanya Sungmin, tak senang.
Kyuhyun diam, sangat sulit baginya berbicara dengan Sungmin. Ia memutar pandangannya, menggaruk tengkuk lehernya. Kyuhyun gugup.
Sungmin mengeratkan giginya –tidak senang, matanya berkilat marah melihat Kyuhyun yang ada di depannya saat ini. Terang saja kejadian memalukan kemarin masih 'kental' terbayang diingatannya.
"Aku…Aku kesini ingin menanyakan sesuatu Min?", akhirnya Kyuhyun memberanikan diri, ia mulai mendekat kembali.
Diam, hanya itu yang Sungmin lakukan. Sungmin menunggu namja berwajah stoic itu langsung menanyakan hal yang dipperlukan. Jujur saja, saat ini batin Sungmin seperti melonjak kegirangan melihat Kyuhyun berada di kamarnya. Namun, rasa sakit yang sudah ditorehkan Kyuhyun, sudah berbanding sama dengan rasa cintanya untuk Kyuhyun.
Kyuhyun mendengus, Sungmin tetap tidak mau berbicara, akhirnya ia langsung memberikan pertanyaannya, "Kenapa waktu itu kau tidak mau mendengarkan penjelasanku terlebih dahulu?", tanya Kyuhyun selembut mungkin.
Kyuhyun menatap intens wajah yang terlihat pucat itu, ia tidak tega melihat Sungmin yang seperti itu. Dan sadar ini semua kesalahannya.
Sungmin diam, matanya membalas pandangan Kyuhyun dengan tatapan yang terkesan dingin
"kumohon jawab aku Min!"
"Apa pedulimu?"
"Min…", wajah Kyuhyun terlihat memelas pada Sungmin.
Tanpa disadari Sungmin sendiri, ia menangis, menangis mengingat sikap Kyuhyun yang selalu acuh padanya, menangis mengingat seberapa besar kebencian Kyuhyun yang tanpa dasar untuknya.
"Bukankah kau yang tidak menerima permintaan maafku oeh! Aku sering memberikanmu bingkisan cokelat, mengantarkannya pagi-pagi ke dalam kotak suratmu, tapi kau… kau membuangnya seperti seonggok sampah tak berharga, apa kau sadar kau sudah menyakitiku Kyu?", suara Sungmin tergugu bersamaan dengan lirihan isak tangis yang terdengar.
Kyuhyun merunduk –menyesal, "Aku melakukan itu, karena kau Min!"
Sungmin mengerutkan dahinya, masih sempatnya Kyuhyun melampiaskan semua kesalahan ini padanya.
"Aku…, apa salahku Kyu? Aku sudah meminta maaf karena sudah salah paham padamu, bahkan sampai sebesar ini, aku tidak mendapatkan maaf itu darimu, sekarang kau menyalahkan semuanya padaku, sshh…", jelas Sungmin, nyeri dibagian kepala Sungmin kembali ia rasakan. Sungmin memijit lembut pelipisnya.
Kyuhyun sudah ingin mendekat dengan Sungmin, tapi satu tangann Sungmin sudah memberi tanda pada Kyuhyun agar tidak mendekat padanya.
"Kau anggap apa aku ini bagimu Kyu?", tanya Sungmin, suaranya terdengar sayu, Sungmin terus-menerus menangis, mengibakan dirinya yang tidak dianggap ada oleh orang yang sangat ia cintai selama ini.
Kyuhyun benar-benar sulit berbicara, matanya sudah ingin menangis. Ia benar-benar sadar sekarang Sungmin mencintainya, yeah hanya dia. Sungmin sudah tak bertenaga, tubuhnya kembali lemah, dengan segera Sungmin kembali menidurkan dirinya.
"Mianhae…", hanya kata lirih ini yang terucap dari bibir Kyuhyun.
'Pulanglah Kyu…, aku ingin istirahat", ucap Sungmin kembali menyelimuti dirinya, dan memejamkan matanya.
"Min aku—"
"Pulanglah…", Sungmin kali ini benar-benar serius.
Kyuhyun mulai melangkah meninggalkan Sungmin, langkahnya terhenti tepat saat ingin membuka kenop pintu putih itu.
"Aku ingin bertanya satu hal terakhir, aku janji ini yang terakhir!", ucap Kyuhyun, ekor matanya melirik kecil ke arah Sungmin yang sedang tertidur miring.
Sungmin menggeliat kecil di dalam selimutnya, ia membuka matanya, menerima pertanyaan Kyuhyun, "ne…"
"Setelah kejadian di lapangan itu, aku selau mencoba menghubungimu, tapi kau tidak pernah mengangkatnya—"
Belum selesai Kyuhyun menjelaskan, Sungmin menyela ucapannya, "Aku sibuk saat itu, banyak yang harus ku pikirkan saat itu", Sungmin membuka matanya dan menatap Kyuhyun yang sedang melihat dengan tatapan bingung ke arahnya.
"Adikku…, mungkin kau tidak mengenalnya, selama ini dia tidak tinggal dengan kami di Korea dia menetap di Jepang!"
Kyuhyun tidak menjawab, ia menunggu Sungmin melanjutkan ceritanya, agar semuanya jelas. Dan agar kesalah-pahamannya selama ini, dapat terjawab.
"Aku saat itu sedang mengurusi kepergian oemma ke Jepang, karena Hyukkie sedang sakit parah disana", Sungmin masih tetap tertidur di atas kasurnya, suaranya terdengar parau.
Kyuhyun terkesiap, hatinya semakin bergemuruh tak menentu. Begitu konyolnya dia, cemburu denngan alasan yang tidak tepat sama sekali.
"Kau tahu Kyu, saat itu aku membutuhkan seorang teman, seseorang yang bisa menjadi pendampingku selama oemma pergi, dan ternyata Donghae yang kebetulan berada di Korea, diusulkan Hyukkie untuk menemaniku disini." jelas Sungmin iar mata makin tak terbendung menetes, kenangannya dengan Kyuhyun sangat sulit ia lupakan..
"Kau dimana saat itu hmm…? Uggh~, kau dimana Kyu?", airmata Sungmin benar-benar tak terbendung, begitu menyakitkan baginya, disaat ia membutuhkan 'orang itu', tapi nyatanya orang yang sangat ia butuhkan itu mengacuhkannya.
Kyuhyun berjalan, ia ingin mendekati Sungmin, rasa bersalah dihatinya semakin besar, ia tidak menyangka selama ini Sungmin-lah orang yang paling tersakiti.
Namun Sungmin segera menaikkan selimutnya menutupi kepalanya, "Pulanglah Kyu…, aku butuh istirahat…"
"Mianhae Min-ah…, cheongmal mianhae…", sesal Kyuhyun, airmatanya juga terjatuh membasahi wajahnya. Melihat Sungmin yang menolak kehadirannya, itu cukup menyakitkan untuknya. Kyuhyun beranjak dari meninggalkan Sungmin.
Kamar itu begitu senyap, hanya sementara suara-suara pertengkaran kecil itu terdengar. Namun, sekarang suara isakan lirih seseorang jauh mendominasi ruangan ini, suara isakan yang terdengar dari balik selimut pink.
OoOoOoOoOoOOoOoOoOoOo
Kyuhyun tengah duduk termangu, kedua kakinya saling menekuk, menjadikan teman penyanggah untuk wajahnya. Betapa menyesalnya ia, sungguh semua ini kebodohannya.
Kenapa saat itu dia bisa begitu mudahnya menyalahkan Sungmin tanpa bertanya terlebih dahulu dengan Sungmin. Kyuhyun lebih mengutamakan keegoisan hatinya, ketimbang perasaannya sendiri.
Apa yang harus ia lakukan sekarang, apalagi sekarang Sungmin begitu membencinya.
Kyuhyun terus meratapi kebodohannya, besok Sungmin akan pergi ke Jepang, tappi percuma saja melihat sikap Sungmin yang begitu kesal dengannya. Pasti Sungmin tidak akan mau membatalkan kepergiannya.
"Coklat!", tiba-tiba terbesit dipikirannya tentang sesuatu yang mungkin bisa membantunya dalam menyelesaikan masalahnya.
Kyuhyun mulia bergegas menuju dapur, dan menyiapkan semua bahan-bahan yang ia perlukan, masih ada waktu untuk membuat semua itu.
.
.
.
.
.
Sungmin membuka selimut yang membungkus tubuhnya, kakinya memijak pada lantai kamrnya, berjalan tertatih menuju kamar mandi. Namun, Sungmin melihat sebuah bingkisan kecil yang berada di meja belajarnya, bukankah bingkisan itu pemberian Kyuhyun tadi?
Sungmin mengeluarkan kotak yang berada di dalam paper bag pink itu, alisnya saling bertautan saat menyadari bentuk kotak yang sama persis yang ia dapatkan belakangan ini. Sungmin membuka isi kotak tersebut, dan benar dugaannya, isinya sama persis dengan yang ia dapatkan sebelumnya –coklat dan secarik kertas, tapi kali ini kertas yang ia dapatkan lebih besar.
Sungmin menggeser bangku yang berada di meja belajarnya. Ia membuka kertas itu.
Annyeong Sungmin-ah…
Aku tahu kau pasti membaca suratku ini, yeah kau benar. Aku lah yang belakangan ini mengirimimu cokelat ini.
Aku benar-benar minta maaf atas kejadian kemarin Min-ah. Aku menyesal sudah membuatmu seperti itu. Dan untuk semua kejadian yang selama ini terjadi tentunya.
Aku ingin jujur padamu Min, mungkin aku akan sulit jika mengatakannya langsung padamu.
Aku mencintaimu Min…
Sungmin menyeka airmatanya, ia tersenyum membaca kata yang sangat bermakna itu.
"Nado Kyu…, nado saranghae…", kertas itu ia peluk seerat mungkin, seakan ia memeluk si penulis surat erat-erat.
Jujur saja, hatinya benar-benar masih mencintai namja itu, tapi Sungmin benar-benar butuh menenangkan diri saat ini, kejadian kemaren benar-benar menjadi pukulan telak di hatinya.
-CKLEEKK-
"Sungmin kau sudah baikan nak?", tanya Nyonya Lee, mendekati Sungmin, ia meletakkan punggung tangannya di dahi Sungmin.
Sungmin mengangguk lemah.
"Kalau begitu kemasi barang-barangmu ne…, besok kita akan berangkat dengan penerbangan pagi", Nyonya Lee mengusap lembut rambut Sungmin, sembari menunjukkan senyum termanisnya kepada sang putra. Nyonya Lee berlalu dan meninggalkan Sungmin.
Sungmin segera mengambil kertas dan pulpen yang ada di meja belajarnya, ia menuliskan sebuah pesan untuk Kyuhyun nantinya, sebelum ia berangkat.
Paling tidak ini yang bisa ia lakukan sebagai salamperpisahan untuk Kyuhyun.
OoOoOoOoOoOOoOoOoOoOo
"Oemma aku pergiii!", Kyuhyun bergegas meninggalkan rumahnya, senyumnya merekah membentuk lengkungan sabit di wajahnya.
Semua sudah sangat 'mantap' ia persiapkan, paling tidak ini bisa menjadi kado terakhirnya sebelum Sungmin berangkat ke Jepang. Kyuhyun sudah menyiapkan ini sampai-sampai ia rela mengganti waktu tidurnya untuk membuat semua ini.
Kyuhyun mengeluarkan sepeda motor miliknya, dan segera menggunakan helm, bergegas menuju rumah Sungmin.
.
.
.
Sebenarnya ini masih terlalu pagi, tapi mau bagaimana lagi, Sungmin dan Nyonya Lee memilih penerbangan pertama dan harus segera melakukan check in 2 jam sebelum keberangkatan.
Sungmin mendorong koper pink miliknya, ia mengatur langkah yang tidak pasti, Sungmin menatap sayu rumahnya, masih ada kebimbangan dihatinya untuk meninggalkan semua ini.
"Sungmin ayo cepat!", perintah Nyonya Lee, membuat lamunan Sungmin buyar
"Oemmaa~…"
Nyonya Lee menghampiri Sungmin, ia mengerti dan sangat memahami anak kesayangannya ini.
"Sungmin, kita harus pindah ke Jepang…, oemma mengerti perasaanmu nak, tapi kau harus bisa mengerti kondisi keluarga kita ne…", jelas nyonya Lee, lembut.
Sungmin mengangguk lemah tanda menyetujui ucapan nyonya Lee, yeah Nyonya Lee adalah satu-satunya tulang punggung dalam keluarga Lee, mengingat Tuan Lee yang sudah lama tiada. Nyonya Lee berusaha membesarkan kedua anaknya, walau salah satunya, ia titipkan pada keluarganya di Jepang, Hyukkie.
Sungmin segera memasukkan koper miliknya ke dalam bagasi mobil, dan menaiki mobil. Namja mungil ini masih belum menunjukkan senyumnya sedari tadi, mungkin ia belum benar-benar merelakan pergi dari tempat ini, mengingat cintanya masih ada disini.
Selama dalam perjalanan, tidak ada ucapan apapun yang keluar dari mulutnya, pandangannya terus mengarah keluar jendela, mengingat –mungkin– ini yang terakhir kali baginya memandangi pagi di kota ini. Sesekali ia mendenguskan nafasnya, masih ada satu hall yang harus ia lakukan sebelum pergi. Namun, waktu tidak memberikannya kesempatan untuk hal itu.
Mereka sudah tiba di bandara, Sungmin menurunkan semua koper-koper miliknya dan Nyonya Lee. Ternyata disana Donghae sudah tiba terlebih dahulu, sebelum Sungmin tiba.
Donghae membungkuk hormat kepada Nyonya Lee, dan ikut membantu Sungmin membawa koper-koper itu, dan meletakkannya di trolli yang sudah disiapkan disana.
"Tsk~! Aku pasti akan sangat kehilanganmu Min-ah…", kata Donghae.
Sungmin tersenyum tipis mendengarnya, seolah Donghae tidak akan bertemu dengannya lagi. Padahal nantinya Donghae juga akan ke Jepang, hanya berbeda beberapa hari saja dengan Sungmin.
"Hmmm Hae-ya! Apa aku bisa meminta bantuanmu?", tanya Sungmin, ragu-ragu.
"Tentu"
OoOoOoOoOoOOoOoOoOoOo
Kyuhyun melihat dari celah pagar hitam besar, rumah itu begitu sepi seperti tidak berpenghuni.
"Apa mungkin mereka sudah berangkat?", tanyanya dalam hati, Kyuhyun masih belum yakin.
Kyuhyun masih mengintip, terus mencoba mencari keberadaan penghuni rumah itu.
"Hei, kau mencari keluarga Lee, mereka sudah pergi pagi-pagi sekali!", seorang wanita paruh baya yang kebetulan melintas, memberitahukan kepada Kyuhyun.
"Pagi-pagi sekali? Sudah lama ahjumma?", tanya Kyuhyun terselip kepanikan disana.
"Ehmm…, mereka pergi dengan pesawat pagi!", jelas wanita itu, dan berlalu –melanjutkan perjalanannya.
Kyuhyun segera menaiki sepeda motornya, menggunakan helm, dan melajukan sepeda motornya dalam kecepatan maksimal. Apa mungkin masih sempat, mengingat pesan ahjumma itu.
"mereka sudah pergi pagi-pagi sekali!"
.
.
.
Kyuhyun berlari tidak peduli sudah berapa orang yang menjadi sasaran tabrakan(?)nya, matanya terus mencari Sungmin, paling tidak ini yang bisa ia lakukan untuk menebus kesalahannya pada Sungmin.
"Oh Tuhan kuharap dia belum pergi…", pinta Kyuhyun, dalam hati.
Kyuhyun terus mencari diantara banyaknya kerumunan yang menjajal di bandara. Mungkin benar, Kyuhyun terlambat, padahal ia sudah diingatkan sebelumnya oleh ahjumma itu, tapi Kyuhyun berharap masih bisa melihat Sungmin untuk terakhir kalinya.
"KYUHYUUUUNN!", seorang namja berteriak, ia mulai mendekat kearah Kyuhyun.
"Donghae…", ucap Kyuhyn, pelan.
Donghae mengatur nafasnya cukup lelah juga, ia berlari-lari mencari Kyuhyun.
"Ini…", Donghae menyerahkan sebuah surat kepada Kyuhyun, yang sempat dititipkan Sungmin dsebelumnya padanya.
Kyuhyun segera mengambil surat tersebut dan membukanya secepat mungkin.
Annyeong Kyuhyun…
Mianhae,aku pergi tidak pamit sebelumnya padamu. Heh, aku hanya takut, aku tidak akan jadi pergi setelah melihatmu. Kyuhyun-ah…, aku tidak tahu sebenarnya selama ini apa yang membuatmu begitu membenciku.
Tapi, aku ingin kau tahu satu hal Kyuhyun-ah. Aku mencintaimu walau kau membenciku. Aku melihatmu walau kau tidak menganggapku. Aku menyapamu dalam diamku karena aku tidak sanggup berbicara dennganmu.
Mungkin terlalu aneh menurutmu, tapi jujur saja, aku sudah mulai menyukaimu sejak kecil. Sejak kita masih menjadi teman sepermainan. Kau begitu perhatian padaku, hal itu yang membuatku mengagumimu sampai sekarang.
Aku selalu membuatkanmu "Chocolate with Poem" buatanku untukmu, hanya untukmu, bahkan aku tidak pernah membuatkannya untuk siapapun, termasuk Donghae.
Kyuhyun-ah, aku tidak memaksakanmu, untuk mennyukaiku atau membalas perasaanku ini. Walau kau sudah mengirimiku surat itu, tapi aku masih merasa kau bukan sepenuhnya milikku. ^_^
Aku harap kau bahagia disini Kyuhyun-ah, dan menemukan orang yang benar-benar mencintaimu, seandainya suatu hari kita berpapasan, jangan pernah lupakan aku ne…, tegurlah aku untuk pertama kalinya.
Aku mencintaimu Kyuhyun-ah, mianhae…
Dan ah satu lagi, carilah pasangan yang akan membuatkanmu cokelat setiap kali kau mau, aku masih ingat kau bilang kau sangat-sangat menyukai cokelat.
Saranghae Kyuhyun-ah…
Cheongmal Saranghae…
Cahayaku Kyuhyun.
Ternyata masih ada satu kertas yang tersisa dan isinya sebuah puisi dari Sungmin.
Saat sebuah pengharapan menghilang'
Aku termangu dalam ketenangan
Kelemahanku akan sebuah perasaan
Menjadikanku bisu dalam sebuah ungkapan
Mengagumi sosokmu, menyadari keberadaanmu
Itulah dunia yang kujalani
Aku berpijak pada satu tumpuan
Namun kakiku seakan lemah, saat melihat keangkuhan merajaimu
Kau hidupku...
Kau selalu mewarnai hidupku
Bahagiamu adalah bahagiaku
Bahagialah cahayaku...
Aku mencintaimu...
Kyuhyun menangis bersamaan dengan berakhirnya surat yang ia baca, airmatanya benar-benar jatuh tak terbendung lagi, isakan kuat keluar dari mulutnya, walau ia sudah mencoba menutupinya dengan tangan. Namun, isakan itu masih tetap terdengar. Donghae menenangkan Kyuhyun, memukul-mukul lembut bahu Kyuhyun.
Tidak peduli beribu pasang mata memperhatikannya, mengatainya cengeng atau sebagainya. Ia benar-benar tidak menyangka Sungmin begitu mencintainya, tapi semua terlambat disadari olehnya, karena keegoisannya sendiri.
-END-
#dipelototin…
OoOoOoOoOoOOoOoOoOoOo
-10 years later-
-Chocolate House-
14th February 2022
Toko ini begitu ramai pengunjung, apalagi pengunjung saat valentine's seperti ini, bahkan mereka rela mengantri untuk mendapatkan beragam cokelat pilihan mereka.
Sang pemilik sangat handal dalam menangani masalah cokelat, segala jenis cokelat berbentuk apapun sangat mudah di dapatkan di tokonya. Lee Sungmin nama ppemilik toko tersebut. Usahanya kini semakin besar, semua orang di Jepang sangat menyukai cokelat buatan dari toko Sungmin.
Di tokonya ini, Sungmin juga menyediakan teh cokelat panas, semua makanan yang berbau cokelat, bisa dinikmati di tempat itu sendiri.
Pagi ini Sungmin datang dengan menggunakan kemeja biru dengan dandanan yang sangat match –formal, ada orang yang ingin bertemu Sungmin, menurut kabar dari pelayannya, client ini ingin mengajak kerja sama toko Sungmin dengan miliknya.
Sungmin memasuki tokonya dengan senyum ramah, menyapa setiap pengunjung yang datang.
"Ehm tuan, orang yang mencari anda ada di atas…, dia meminta anda membuatkannya Chocolate with Poem", ucap sang pelayan.
Sungmin mengernyitkan dahinya, bingung. "Kenapa kau tidak menyuruhnya menunggu di ruanganku?"
"Dia bilang udaranya sangat panas, jadi dia ingin menikmati cokelat dengan hembusan angin katanya"
Sungmin menggeleeng, mendengar pernyataan 'konyol' dari pegawainya, tapi ada satu kata yang membuatnya penasaran dengan orang yang dimaksud Chocolate with Poem.
Sungmin segera meninggalkan pelayannya dan bergegas menyusuri anak tangga, melihat kehadiran seseorang disana.
Sungmin membuka pintu loteng tokonya, memang disana juga disediakan bangku untuk menikmati pemandangan kota sakura ini, tapi biasanya itu tidak diperuntukkan untuk tamu.
Sungmin menyipitkan matanya, rasa penasarannya semakin tinggi saat melihat punggung namja yang sedang bergaya cool –menyembunyikan tangannya dalam saku celananya. Stelan jas namja itu benar-benar kelihatan rapi dan menawan, padahal sosok itu masih memunggunginya. Namun, postur tubuhnya sudah sangat meyakinkan Sungmin.
"Maaf , apa anda Tuan Marcus?"
Namja itu membalikkan tubuhnya, dan itu membuat Sungmin berjengit –kaget.
"Oh Tuhan apa aku sedang bermimpi?", tanya Sungmin dalam hati, matanya membulat shock mendapati sosok itu berada di depannya sekarang.
"Ne…, aku Tuan Marcus, Tuan Lee! Apa anda melupakanku?", tanyanya seraya memamerkan smirk andalannya.
Sungmin seakan membatu, ia benar-benar masih tidak percaya mellihat sosok itu kini berada didepannya.
Tuan Marcus mendekati Sungmin, ia sedikit membungkukkan tubuhnya, dan mensejajarkan wajahnya dengan Sungmin.
"Kau yang memintaku untuk menyapamu saat melihatmu, sekarang saat aku menyapamu kenapa kau tidak membalasnya Sungmin-ssi…", Kyuhyun memiringkan wajahnya, matanya menatap intens manik mata Sungmin yang tengah membulat dan sesekali mengerjap pelan. Oh, demi apapun itu sangat imut, dan membuat Tuan Marcus tidak tahan akan sikap itu.
Kyuhyun menarik kedua tangannya, menangkupkan wajah Sungmin.
"Kau sepertinya sedang terpesona melihat ketampananku Sungmin-ssi…, apa kau sudah membuatkanku Chocolate with Poem?"
Sungmin hanya menggeleng dalam lamunannya, matanya masih setia menatap mata Tuan Marcus. Tuan Marcus tersenyum melihat sikap namja imut itu, dan wajahnya sama sekali belum berubah, masih terlihat –sama– imut.
Tuan Marcus mengecup kelopak mata Sungmin kanan dan kiri secara bergantian, mencoba menyadarkan namja itu dalam dunia lamunannya, dan nampaknya cara itu berhasil.
"A-Apa yang kau lakukan disini Kyuhyun?", tanyanya, tergagap.
Tuan Marcus yang bernama aslikan Kyuhyun itu tersenyum menyeringai ke arah Sungmin.
"Kau sendiri yang bilang aku harus mencari pasangan yang bisa membuatkanku cokelat, disaat aku menginginkannya, dan aku rasa aku menemukan kekasihku itu, makanya aku datang kesini, aku ingin meminta cokelat darinya", jelas Kyuhyun.
Sungmin masih tidak percaya dengan ini semua. Namun, ia menyadarkan dirinya dan mengatur detak jantungnya yang mulai tidak beraturan melihat namja bernama Kyuhyun itu.
"Kau jangan bercanda Kyu?", Sungmin masih tidak percaya dengan ucapan Kyuhyun, walau hatinya tengah terlonjak girang, tapi ia harus lebih meyakinkan lagi ucapan namja berwajah stoic itu.
Kyuhyun menarik Sungmin dalam pelukannya dan mendekatkan wajahnya dengan Sungmin.
"Tatap mataku, dan lihatlah! Apa aku seperti orang yang sedang bercanda dengan perasaannya?"
Sungmin terdiam, matanya menatap lekat mata Kyuhyunn mencoba mencari celah kebohongan disana. Namun nihil, sorot mata Kyuhyun menampakkan kejujuran.
'Sekarang kau tidak boleh pergi dariku lagi arra, mulai hari ini dan seterusnya kau adalah kekasihku", ucap Kyuhyun, lembut.
Sungmin merunduk menyembunyikan rasa malunya, wajahnya sudah merona merah hingga ke telinganya, ia begitu gugup mendengar langsung ungkapan cinta Kyuhyun untuknya.
Kyuhyun menarik wajah Sungmin, melihatnya secara intens, perlahan ia melepas jarak anataranya dan Sungmin dan…
Chuuu~
KKyuhyun mendaratkan ciuman manis di bibir cherry kemerahan milik Sungmin, memberikan lumatan-lumatan kecil disana, dan ini tidak dalam keadaan terpaksa.
Sungmin mulai memejamkan matanya, meresapi kehangatan ciuman yang begitu terasa manis untuknya, dan Sungmin mulai membalas melumat bibir Kyuhyun lembut. Sungmin mulai mengalungkan tangannya, menghapitnya agar memperdalam ciuman manis itu
Ciuman terhenti, Kyuhyun menyandarkan dahinya pada dahi mungil milik Sungmin, senyumnya merekah melihat wajah merah merona Sungmin. Kyuhyun menoel(?) hidung tegas Sungmin, dan menggesekgesekkan kedua hidung itu secara bersamaan.
"Saranghae Sungmin-ah, cheongmal saranghae…", ungkapnya mengeratkan pelukannya, dan membawa wajah imut itu bersandar pada dada bisangnya.
"Nado Kyuhyun-ah…",Sungminpun ikut mengeratkan pelukannya, senyumnya merekah mengingat namja ini membalas cintanya.
"Sekarang buatkan aku Chocolate with Poem, aku sudah sangat rindu dengan cokelatmu itu…", rengek Kyuhyun.
"Bisakah kau tudak merusak moment ini Kyu! Biarkan seperti ini dulu…"
"Ne…arraseo chagiya…"
-END-
Kalo ini beneran END, dan jangan minta SEQUEL atau semacamnya(?)
Cukup sekian dan terima kasih...
Parkirkan Review anda...
\(^o^)/
