Hola MInna!
Saya kembali datang memenuhi fandom ini dengan karya saya yang luar biasa ancur ini. Mohon dimaklumi. Hehehehehehe
DISCLAIMER :TITE KUBO
RATE : M (For Safe)
WARNING : OOC, AU, MISSTYPO, Cerita Gak Menarik, Pasaran, Gaje!
.
.
.
Setelah mengenalkan diri pada Presiden Direkturnya itu, Rukia keluar dari ruangannya. Memang tidak mudah mendapatkan jabatan GM ini. Selama hampir 7 tahun, Rukia sudah berusaha untuk mencapai tahap ini. Berkat kepintarannya dan keahliannya, hal seperti ini bukan hal sulit. Karena di tempat lamanya juga dia punya prestasi yang bagus sebagai Manager. Jadi kemungkinan dia diterima di tempat ini adalah 100 persen!
Rukia menuju ke ruangan pribadinya yang sudah disiapkan sebelumnya. Baginya masuk ke dalam kantor ini adalah bagian dari rencananya sendiri. Dia tak tahu sampai kapan ini akan berlangsung. Dan sampai kapan dia bisa menghentikan ini. Lebih baik Rukia berusaha dulu. Paling tidak, dia harus menyusun rencana awal dulu.
Pagi ini, suasana kantor masih terbilang sepi. Banyak karyawan yang beraktivitas seperti biasa. Dan Rukia juga belum mendapat sekretaris dan karyawan untuknya. Mungkin belum di organisir atau orangnya yang belum datang. Lagipula dia juga tak terlalu peduli.
Rukia membuka laptop-nya dan memakai kacamata bacanya seperti biasa. Dia mulai memyusun jadwal dan mempelajari apa yang akan menjadi tugasnya nanti. Bahkan rapat bulan depan, sudah Rukia yang akan ambil ahli. Di usia yang masih terbilang nyaris tak muda lagi, yah masih 30 tahun juga, Rukia belum juga menemukan seseorang yang menjadi pendampingnya. Mungkin karena terlalu sibuk juga. Entah kenapa rasanya Rukia belum memikirkan hal itu. Mungkin juga dia takut memikirkan hal itu. Apa yang terjadi pada kakaknya dahulu adalah pelajaran berharga baginya. Bahwa tak mungkin semudah itu jatuh ke dalam pelukan laki-laki manapun. Rukia juga sedikit merasa kasihan pada kakak iparnya itu. Karena terlalu sibuk juga, dia tak sempat mencari pengganti kakaknya. Tapi hal itu tak pernah sekalipun dibahas. Mungkin juga, ada suatu pemikiran yang tak diketahui oleh Rukia sendiri. Dan entah itu apa.
Apalagi sekarang Senna sudah beranjak besar. Usia 17 tahun adalah usia yang rawan akan remaja nekat yang ingintahu. Rukia sudah sangat waspada pada umur Senna yang sekarang. Apalagi anak itu memang susah diatur. Entah siapa yang dia tiru sebenarnya.
Setelah membaca sedikit mengenai perusahaan ini dan berbagai kepentingan perusahaan, Rukia mengistirahatkan matanya sejenak. Rasanya lelah juga melihat layar laptop terus menerus tanpa henti. Bahkan dengan tulisan kecil seperti itu. Rukia melepas kacamatanya dan menatap ke luar jendela ruangannya. Ruangannya berada di lantai 4 dari tinggi gedung ini yang berada 6 lantai. Pemandangan Tokyo masih seperti biasa. Ramai dan sesak. Semuanya bisa terlihat dari sini. Bahkan Tokyo Tower sekalipun. Sudah lama rasanya Rukia tak pernah melihat pemandangan seperti ini.
Baru akan beranjak dari kursinya, ponselnya berdering nyaring. Rukia menghela nafasnya. Telepon di saat seperti ini? Orang mana yang menelponnya? Tapi begitu melihat nomornya tak asing, Rukia langsung membelalakan matanya selebar mungkin. Maksudnya... dia tidak salah lihat 'kan? Begitu mengangkat teleponnya Rukia semakin naik darah dan kesal. Dia harus buru-buru ke sana. Benar-benar bikin repot!
.
.
*KIN*
.
.
"Seorang siswi berprestasi pergi ke klub malam? Bukankah itu akan mencoreng nama sekolah juga? Anda sebagai walinya seharusnya memberikan pendidikan yang layak dan mengawasinya dengan baik. Bukankah itu tugas Anda dalam mendidiknya. Kalau siswi berprestasi seperti Kuchiki ini dibiarkan hidup seperti ini, sama saja bohong. Orang tidak akan percaya dia siswi pintar yang berprestasi."
Rukia berdenyut pusing. Rasanya dia kembali jadi siswa SMA yang kena omel gurunya karena tidak membuat PR, atau terlambat masuk kelas, atau memanjat pagar sekolah, atau bolos pelajaran. Apa-apaan ini! Rukia sudah 31 tahun! Astaga!
Rukia memandang garang pada siswi berprestasi yang disebut oleh bapak tua dengan rambut putih di kepalanya itu yang tengah duduk diam sambil menunduk dalam di sebelahnya. Apakah ini salahnya? Yah... salahnya. Sudah seharusnya dia mengikat anak ini dengan rantai besar di dalam kamarnya dan tidak mengijinkan siapapun melihatnya.
"Maafkan saya. Lain kali saya akan mendidiknya dengan serius." Ujar Rukia sambil menunduk dalam. Dia memang bertugas sebagai walinya karena tak mungkin meminta ayahnya yang super sibuk itu untuk mengurus hal seperti ini.
Akhirnya, setelah ceramah panjang lebar, kedua orang itu keluar dari ruangan wakil kepala sekolah bagian kesiswaan itu. Rukia mencibir kesal pada siapapun yang melintas didepannya. Lalu menyuruh gadis itu mengikutinya ke taman sekolah. Gadis itu hanya berpura-pura tidak tahu dan menganggap angin lalu.
Rukia berbalik dengan ganas setelah sampai dan melotot pada gadis itu lagi.
"Ini sudah ketiga kalinya aku datang ke sekolah ini karena kelakuanmu yang tidak beres itu! Wajahku ini sudah seperti tembok menghadap bapak tua ubanan itu. Kenapa kau bisa ketahuan hah? Kau bodoh sekali bahkan sampai melibatkan aku lagi! Apa yang akan kau katakan pada Otoo-san-mu hah?" bentak Rukia sejadinya.
"Bukan aku! Tapi ada anak lain yang melihatku malam itu, mereka iri padaku makanya melaporkanku pada bapak itu. Oba-chan, ini bukan salahku. Aku juga sudah berhati-hati. Aku tidak mau memanggil Oba-chan, tapi bapak itu mengancamku akan datang menemui Otoo-chan. Oba-chan tahu kan kondisi Otoo-chan sedang tidak baik, ditambah lagi Otoo-chan harus mengurus segala macam apa itu namanya..."
"Kalau kau mengerti kondisi Otoo-sanmu, maka berhentilah melakukan hal yang seperti ini. Apa aku harus terus menerus memantaumu sampai kau menikah? Kenapa kau tidak pernah dewasa dan menyelesaikan masalahmu sendiri? Kenapa kau terus menerus menyusahkan orang? Aku bukan Okaa-sanmu Senna!"
Begitu kalimat terakhir terlontar dari mulut Rukia, Senna terdiam sambil membelalakan matanya. Rukia juga demikian. Dia menutup mulutnya dengan sebelah tangannya karena merasa sudah salah bicara. Dia emosi dan tidak bisa mengendalikan apa yang dai ucapkan.
"Senna... maksudku... aku―"
"Oba-chan benar. Aku tidak punya Kaa-san. Tidak ada yang bisa kuanggap Kaa-san. mulai sekarang aku tidak akan memanggil Oba-chan lagi. Maaf kalau aku sudah merepotkanmu." Senna menunduk dalam dan langsung melesat pergi meninggalkan Rukia. Disaat seperti ini dia malah harus emosi seperti itu. Rukia jadi merasa bersalah pada Senna. Dia jauh lebih menderita sebenarnya. Tapi fakta bahwa karena dialah kakaknya berakhir seperti ini membuatnya serba salah. Di satu sisi dia benci akan gadis itu, tapi di sisi lain dia juga kasihan pada gadis itu pada waktu bersamaan. Dia benar-benar kelewatan hari ini.
Rukia memutuskan akan pergi dari taman itu, tapi sebuah bola basket melompat ke arahnya bahkan hampir mengenai wajahnya. Untungnya Rukia punya sikap reflek yang baik. Kalau tidak wajahnya sudah pasti akan jadi santapan empuk bola sial itu. Begitu menangkap bola itu, Rukia jadi bertambah kesal. Orang bodoh mana yang melempar bola sampai ke sini?
"Oh! Kau yang semalam!" teriak seorang laki-laki. Yah Rukia yakin itu suara laki-laki. Dan ditambah lagi ada seorang bocah laki-laki datang mendekat padanya sambil tersenyum lebar. Warna rambutnya juga unik. Apakah itu salah satu tren anak muda masa kini? Kalau jaman Rukia dulu, rambut seperti itu sudah pasti dipangkas sampai botak oleh guru sadis di sekolahnya. Tapi Rukia tidak ingat siapa bocah ini.
"Hah? Kau tahu aku?" tanya Rukia bingung. Baiklah. Bocah ini sudah mendekat ke arahnya dan berdiri menjulang didepan Rukia yang mungil. Bocah ini berapa umurnya? Kenapa bisa begitu tinggi seperti ini? Rukia merasa begitu mungil dihadapannya. Sungguh pemandangan yang tidak enak.
"Kau... yang bersama Senna semalam 'kan? Apa yang kau lakukan disini? Mencari Senna?" tanyanya lagi.
Rukia mencoba menggali ingatan tentang bocah ini. Kalau semalam berarti... tapi kenapa Rukia tidak ingat? Dia tidak mabuk 'kan semalam? Lalu kenapa bisa lupa? Itu hal terlucu dalam hidupnya. Amnesia sesaat dan lupa semua orang yang pernah dia temui. Apakah ini efek umurnya? Tidak mungkin! Dia belum setua itu'kan? Meski memang sudah tua untuk umur seseorang yang belum menikah.
"Apakah kau... laki-laki yang kuminta menjemput Senna malam itu?"tebak Rukia akhirnya. Dia memang lupa. Tapi samar-samar dia ingat dia pernah bertengkar dengan bocah tengik yang sangat sombong. Tapi kalau dilihat sekarang dia tidak seperti itu.
"Ya. Baguslah kau ingat. Aku sudah gugup kalau kau lupa. Bisa malu aku menyapa orang yang tidak ingat padaku. Oh ya namaku―"
"Ichigo 'kan? Aku sudah dengar dari Senna. Sepertinya kau punya wajah yang cukup tampan untuk jadi idola di sekolahmu ya? Semalam aku tidak terlalu ingat wajahmu. Jadi... apakah kau orang yang melempar bola ini?" ujar Rukia sambil mengacungkan bola itu didepan wajah Ichigo. Laki-laki itu masih takjub karena dia langsung memanggil Ichigo dengan nama kecilnya. Kalau perempuan biasa tentu akan memanggil nama keluarganya dengan suara manja dan dibuat-buat. Dan ditambah lagi... barusan wanita ini mengatakan... tampan?
"Oh... ya, aku yang lempar... tapi... Apa Senna mengatakan sesuatu tentang diriku?" tanya Ichigo.
"Yah... kurang lebih seperti itu. Jangan sembarangan melempar bola, bocah. Kau bisa mengenai kepala orang. Kau harus memanggilku lebih sopan. Kau jauh lebih muda dariku." Kata Rukia sambil mengoper bola itu pada Ichigo. Ichigo menangkapnya dengan reflek lalu menatap wanita itu yang hendak berlalu.
"Lalu... aku harus memanggilmu apa? Aku tidak tahu namamu."
"Kuchiki Rukia. Namaku Kuchiki Rukia." Ujar Rukia sambil berlalu dan mulai mencari tempat parkir dimana dia memarkirkan mobilnya tadi.
Malam ini dia harus kembali bicara pada Senna apapun yang terjadi.
.
.
*KIN*
.
.
Malam ini Rukia selesai dengan pekerjaan awalnya. Membuat presentasi produk baru. Kebetulan dia bertemu dengan Presdirnya yang sedang berbincang sambil mengarah ke luar kantor dengan beberapa staff-nya. Rukia tersenyum manis dan menunduk begitu melewati rombongan Presdirnya. Ini baru awal. Tapi Rukia akan sesegera mungkin membuat balas dendam yang tak akan pernah pria brengsek itu lupakan.
Rukia tidak kembali ke apartemennya melainkan ke rumah kakak iparnya dulu. Dia cemas pada kondisi Senna tadi. Sepertinya dia terlalu kejam dengan mengatakan hal itu. Dia tidak sengaja dan reflek. Mungkin karena masih bawaan kesal. Gadis itu sudah pasti terluka dengan kata-kata Rukia tadi siang.
"Rukia? Ada apa malam-malam seperti ini?"
Rupanya kakak iparnya sedang berada di rumah. Sepertinya dia baru saja pulang karena pakaiannya masih lengkap. Terlihat raut lelah terukir di wajah pria itu.
"Oh, Nii-sama. Kau sudah pulang? Aku kemari mau menjenguk Senna. Tadi siang aku mengatakan hal buruk padanya." Jelas Rukia.
"Senna? Oh ya, aku belum melihatnya sejak tadi. Biasanya dia ada di ruang keluarga sambil menonton TV. Apa yang terjadi?"
"Bukan hal serius. Aku akan menemuinya di kamarnya." Sela Rukia dan langsung bergegas naik ke atas lantai rumah megah ini. Ada seorang pelayan yang bimbang berdiri didepan kamar gadis SMA itu.
"Ada apa?" tanya Rukia pada pelayan itu. Rupanya pelayan itu membawa sebuah nampan berisi makanan dan minuman.
"Nona Rukia... Nona Senna tidak mau keluar dari kamar semenjak tadi siang. Dia juga tidak makan apapun setelah pulang sekolah. Saya dengar tadi dia menangis." Jelas pelayan itu.
"Biarkan aku yang membujuknya. Serahkan saja padaku." Pinta Rukia sambil mengambil nampan berisi makanan itu dari tangan pelayan itu.
Sudah pasti Senna sangat kecewa dan terluka. Rukia hanya tidak tahu bagaimana perasaan gadis itu. Meski dia juga pernah merasakan hal yang sama seperti Senna, yah tidak punya Ibu dan orangtua memang berat. Setidaknya untuk seorang gadis remaja seperti Senna. Dia tentu butuh seorang wanita yang bisa dia panggil ibu untuk menjaga dan merawatnya. Sudah pasti ini bukan masalah sepele. Rukia hanya tidak merasakan apa yang Senna rasakan karena dia selalu menutupi semuanya dari Rukia. Tidak pernah sekalipun memberitahu Rukia betapa dia rindu sosok seorang Ibu.
"Senna. Ini Oba-chan. Buka pintunya. Kalau kau tidak buka pintunya aku pasti akan mendobrak pintu ini sampai hancur!" ancam Rukia. Tapi tak ada sahutan apapun dari luar. Rukia mulai jengkel dengan sikap keras kepalanya ini. Rukia bersabar menunggu sampai 10 menit. Tapi tetap tidak ada jawaban apapun.
"Baiklah! Aku benar-benar akan mendobrak pintu ini! Satu... dua..."
Klek.
Suara kunci pintu yang diputar terdengar. Rukia tersenyum lega karena akhirnya keponakannya itu mau menurut. Yah ini adalah usaha Rukia dalam membujuknya. Dia'kan memang orang yang keras kepala. Kalau tidak seperti itu bagaimana lagi mau membujuknya.
Pintunya memang sudah dibuka. Tapi Senna sama sekali tidak memandang Rukia dan langsung kembali meringkuk di kasur mewahnya sambil menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tebal. Rukia tidak ingat kalau ini adalah musim dingin. Kenapa dia membungkus dirinya seperti itu.
"Kata pelayan kau belum makan sama sekali dari tadi siang. Apa yang kau mau? Tubuhmu sudah kering kerontang begitu. Kau mau jadi tulang bejalan apa? Makanlah. Aku akan menunggumu sampai piringmu kosong." Kata Rukia panjang lebar sambil meletakkan nampan makanan itu di meja kecil di samping kasurnya.
"Aku tidak mau makan! Oba-chan pulang saja!" rutuk Senna dari dalam selimutnya.
Rukia menghela nafas super panjang. Baiklah. Anak ini mulai merajuk. Rukia berusaha lembut kali ini. Ini memang jarang terjadi. Dan jika terjadi, akan jadi hal tersulit dalam hidupnya membujuk Kuchiki Senna. Dia benar-benar keras kepala dan tidak mau mendengarkan siapapun kecuali ayahnya. Dan jika Nii-sama-nya tahu, mungkin kakak iparnya itu juga akan terluka. Rukia mengambil tempat duduk di sebelah gadis remaja yang sedang merajuk dan bersembunyi di dalam selimut ungunya ini.
"Baiklah. Sebenarnya aku baru saja pulang dari kerja. Aku cemas padamu karena kata-kataku tadi siang. Maaf aku sudah membentakmu tadi siang dengan kata-kata yang menyakitkan. Aku tidak bermaksud bilang begitu. Bagaimana aku bisa menebus perbuatanku hari ini?" ujar Rukia lembut. Dia berusaha jadi bibi yang baik kali ini. Tidak marah-marah dan berkata sehalus malaikat. Walau Rukia setengah mati menahan rasa malunya bicara dengan begini lembut. Dia tak pernah begini lembut pada orang lain kecuali dalam keadaan tertentu!
Senna membuka selimutnya dan menggenggamnya didepan dadanya. Dia menatap bibinya dengan bibir dikerucutkan. Rukia tersenyum melihat keponakannya akhirnya bisa mengerti situasinya.
"Aku tahu. Oba-chan juga pasti kesal karena aku selalu menyusahkan Oba-chan. Aku juga minta maaf." Lirih Senna. Rukia tersenyum lebar lalu membantu Senna bangun dari tidurnya dan menyodorkan nampan itu padanya. Senna nampak tersenyum juga seakan mengatakan bahwa dia sudah memaafkan bibinya. Senna memang bukan tipe orang yang pendendam. Rukia yang mengajarkan hal itu. Tapi semua ajaran itu justru terbalik dengan keadaan Rukia sekarang.
"Oba-chan. Apa Oba-chan tahu... seperti apa Kaa-chan? Aku tak pernah dengar Otoo-chan membicarakan Kaa-chan. Tapi dia selalu memandangi foto Kaa-chan dimalam hari dengan wajah aneh. Aku ingin tahu seperti apa Kaa-chan..."
"Nee-san? Yah... dia adalah kakak yang baik, perhatian, lembut, penyayang, dan sangat peduli pada keluarganya. Dia juga pekerja keras dan pantang menyerah. Orangnya juga sedikit keras kepala. Mungkin ada sebagian sifat Nee-san yang ada padamu." Jelas Rukia.
"Ooh... selain cantik rupanya Kaa-chan begitu ya. Wajah Kaa-chan dan Oba-chan mirip. Tapi kenapa sifat kalian sangat beda jauh?" sindir Senna.
"Mungkin karena itulah kami bertentangan satu sama lain. Kalau persis sama'kan tidak seru."
Yah. Karena bertolak belakang itulah makanya terjadi hal seperti ini. Seandainya salah satu dari Rukia atau kakaknya memiliki sifat yang sama, tentu saja tidak akan berakhir seperti ini. Dan tentu saja... mungkin kakaknya masih bisa hidup sampai sekarang. Melihat Rukia tumbuh dewasa seperti ini. Rukia banyak menceritakan tentang kakaknya dulu. Betapa Rukia sangat menyayangi kakaknya. Betapa... tapi Rukia tak mau membahas itu. Rukia takut kalau nanti Senna merasa bersalah. Dan Rukia tak mau hal itu terjadi.
.
.
*KIN*
.
.
Rukia keluar sambil membawa nampan kosong ditangannya. Senna sudah tertidur pulas setelah Rukia menceritakan banyak hal padanya. Kalau dipiki-pikir, sejak Rukia sudah mulai bekerja, Rukia mulai jarang menceritakan apapun lagi pada Senna. Sewaktu kecil, Rukia rajin membacakan buku untuk Senna. Dan sekarang karena sudah beranjak besar hal itu tak pernah lagi dia lakukan. Rukia turun dari lantai itu menuju dapur. Tapi kebetulan dia bertemu dengan pelayan lain dan menyuruhnya membawa nampan kosong itu. Rukia hendak pulang karena sepertinya sudah terlalu malam dan dia tidak mau kesiangan untuk besok.
"Kau mau pulang Rukia?"
Ternyata kakak iparnya melihatnya akan keluar pintu. Dan Byakuya baru saja keluar dari kamar utamanya. Rukia menghampiri kakak iparnya itu dan menunduk hormat padanya.
"Ya Nii-sama. Aku harus bekerja besok."
"Menginap saja di sini. Kalau kau keluar di malam hari seperti ini sangat berbahaya'kan? Apa yang kau lakukan di kamar Senna?"
"Oh. Nii-sama benar. Tidak ada. Aku hanya membicarakan tentang Nee-san padanya. Karena Nii-sama terlalu sibuk, kurasa Senna merasa kesepian saat ini. Jadi aku menemaninya sampai dia tidur."
"Maaf kalau aku merepotkanmu."
"Hmm... tidak kok. Aku 'kan sudah bilang, Senna sudah seperti adik bagiku. Tidak apa-apa Nii-sama."
Sejenak mereka terdiam. Lalu tanpa sengaja Rukia melihat kakak iparnya melihat ke arah foto besar yang dipajang di ruang tengah. Foto kakaknya. Kuchiki Hisana. Wajahnya terlihat cantik di foto itu. Selalu cantik. Dan tidak berubah sedikitpun. Selalu tersenyum. Rukia begitu rindu kakaknya. Tapi tak bisa mengungkapkannya dengan jelas. Akan jadi luka lama yang terbuka kembali kalau sampai Rukia bertindak cengeng.
"Nii-sama. Ada yang ingin kutanyakan padamu." Ujar Rukia tiba-tiba.
"Katakan saja." Jawab Byakuya datar.
"Kenapa Nii-sama tidak menikah lagi sampai sekarang? Senna sudah besar. Nii-sama sudah pasti memerlukan orang untuk mendampingi Nii-sama bukan? Ditambah lagi... Nee-san sudah lama pergi. Apa alasan Nii-sama tidak menikah sampai sekarang?"
Byakuya mengalihkan pandangannya dari foto besar itu ke wajah Rukia. Mereka memang sama. Tapi sifat yang bertolak belakang. Hisana lebih kepada pendiam dan penurut. Sedangkan Rukia lebih blak-blakan dan selalu membantah.
"Kalau bisa kulakukan, aku pasti sudah melakukannya sejak dulu. Bahkan ketika Senna sangat membutuhkan seorang Ibu. Satu-satunya alasan kenapa aku belum menikah kembali... karena aku tidak bisa. Mungkin karena aku terlalu mencintai kakakmu."
Rukia diam mendengar pernyataan itu. Ada seorang pria yang mencintainya begitu tulus tanpa pamrih. Setia sampai akhir. Rukia tak pernah menyangka bahwa itulah alasan mengapa kakak iparnya tidak menikah lagi sampai sekarang. Kakaknya sungguh beruntung. Tapi... hidupnya yang tidak beruntung. Kalau saja... kalau saja bukan karena pria itu. Kalau saja...
.
.
*KIN*
.
.
"Astaga! Kenapa Oba-chan disini?" Senna terlonjak kaget begitu tiba di meja makannya pagi ini dan menemukan bibinya sedang asyik menyesap teh panas bersama ayahnya.
"Kenapa? Tidak boleh? Ini 'kan juga masih rumahku." Balas Rukia.
"Oba-chan selalu begitu. Otoo-chan, ayo pergi sekarang, nanti aku terlambat." Kata Senna beralih pada ayahnya yang sedang membaca koran pagi.
"Kau tidak sarapan lagi?" tanya Byakuya.
"Ahh~ itu bukan masalah. Aku bisa sarapan di sekolah."
"Nii-sama. Hari ini aku saja yang mengantar bocah ini. Aku ingin memastikan kalau dia tidak membuat masalah hari ini." Kata Rukia sambil mendelik sinis pada Senna.
"Hah?"
Mau tak mau Senna akhirnya menurut pada perintah Rukia. Senna pikir semalam bibinya ini sudah berubah sedikit. Yah sedikit sih. Tapi rupanya masih sama saja seperti biasa. Tidak ada yang berubah sedikit. Benar-benar tidak seru.
Sepertinya bibinya ini tidak berganti pakaian. Dia masih mengenakan pakaian yang kemarin. Tapi Senna tak berkomentar banyak. Sudah pasti ayahnya yang menyuruh bibinya untuk menginap semalam. Ayahnya begitu perhatian dengan bibinya. Yah mungkin karena faktor bahwa bibinya mengingatkan ayahnya pada ibunya dulu.
Tak lama kemudian, Senna sudah tiba di sekolahnya. Gadis itu melompat keluar dari mobil bibinya. Sebelum pergi terlalu jauh, Rukia memanggilnya dari dalam mobil dengan menurunkan kaca jendela mobilnya.
"Hei! Jangan buat masalah lagi ya..." ujar Rukia.
"Tenang saja! Tidak akan! Oba-chan jangan datang lagi ya..."
"Huh kau ini!"
Setelah melambai singkat pada bibinya, akhirnya mobil bibinya itu melaju pergi. Tapi ketika melewati gerbang sekolahnya, mobil bibinya berpapasan dengan sebuah sepeda putih. Reflek pengendara sepeda itu terpaku ketika berpapasan dengan pengendara mobil itu. Tapi sepertinya yang punya mobil tak terlalu memperhatikan.
"Oh... itu Ichigo..." gumam Senna karena tanpa sengaja pemilik sepeda putih itu adalah Ichigo. Senna berteriak memanggil Ichigo yang masih berhenti di depan gerbang setelah melihat mobil ungu gelap itu menjauh. Ichigo menoleh ketika melihat Senna berlari kecil menghampirinya. Ichigo turun dari sepedanya dan mendorong sepedanya agar bisa berjalan berdampingan dengan Senna.
"Kelihatannya kau tidak diantar Ayahmu." Ujar Ichigo.
"Yah. Itu Oba-chan. Semalam dia buat kegaduhan." tanya Senna.
"Oh, yang pernah menjemputmu waktu di klub itu 'kan?"
Senna menempelkan telunjuknya di bibirnya. Mengisyaratkan supaya pemuda itu diam.
"Jangan keras-keras. Kalau ada yang dengar aku bisa dapat masalah lagi. Dan Nenek Seram itu akan mengomeliku sepanjang hari. Oh ya, kenapa kau selalu pakai sepeda kalau ke sekolah? Bukankah kau punya mobil?" tanya Senna.
"Biar lebih praktis. Kalau mobil 'kan parkirnya repot. Kalau begitu aku duluan ya. Kau duluan saja masuk kelasnya."
Senna melambai manja pada Ichigo dan bergegas masuk ke kelas. Kenapa setiap kali melihat wanita itu ada perasaan aneh. Ichigo ingin mengenalnya lebih dekat. Tapi... bukankah dia jauh lebih tua dari Ichigo? Apa Ichigo penyuka tante-tante? Rasanya tidak begitu. Dia suka gadis muda dan cantik seperti Senna. Dia normal. Dia remaja normal!
Ada yang aneh. Seharusnya dia berkonsultansi dengan dokter kejiwaan.
.
.
*KIN*
.
.
Sampai siang ini Rukia masiih merasa baik-baik saja. Sepertinya Senna tak lagi membuat masalah. Setiap hari, Rukia merasa sedang mengurus anak sendiri. Takut-takut kalau ada yang terjadi padanya. Apalagi pasca kemarin. Dia memang benci dengan bocah itu. Tapi dia tak bisa tidak peduli padanya. Hari sudah beranjak siang. Sudah waktunya untuk makan siang. Huff... dia jadi lupa diri kalau sudah bekerja.
Akhirnya Rukia beranjak dari ruangannya dan turun kebawah untuk makan di kantin perusahaan. Kalau makan di restoran dan sendirian rasanya tidak begitu nyaman. Rukia tak pernah suka makan sendirian, tapi paling tidak hari ini dia harus bersosialisasi 'kan? Kalau dia diam-diam saja, pasti akan dianggap orang sombong.
Rukia masuk ke dalam lift sendirian. Sudah pasti banyak orang yang akan makan bersama teman-teman mereka. Tapi begitu pintu lift terbuka, didalamnya malah ada seseorang yang sudah berada disana. Sendirian pula.
Mereka saling bertatapan satu sama lain. Dan akhirnya setelah berpikir sebentar Rukia masuk kedalam lift itu setelah memberikan salam dengan menundukkan kepalanya.
"Kau sendirian?" sapanya.
"Ya Presdir. Karena masih baru, jadi masih cukup sulit untuk mencari teman makan siang." Jawab Rukia sopan. Dan maksudnya setengah bercanda.
"Kalau begitu sama. Aku juga sendirian. Bagaimana kalau kita makan siang bersama?" tawar Presdirnya.
"Ya? Tapi... makan bersama dengan Presdir... rasanya..."
"Tidak apa-apa. Kau bukan orang lain tapi bawahanku. Bukan hal aneh seorang bos mengajak makan bersama anak buahnya 'kan? Atau kau... menolaknya?"
"Oh tidak! Bagaimana mungkin aku bisa menolak Presdir. Tapi..."
"Anggap saja meeting khusus denganku. Aku juga ingin tahu bagaimana perkembanganmu selama disini."
Rukia terpaku diam didalam lift itu. Bahkan tanpa dia berusaha lebih jauh mangsa sudah mendekat padanya. Rukia berpikir cukup lama tentang ini. Apakah... awalnya juga seperti ini? Tanpa sadar memperlakukan bawahan seperti biasa. Lalu menjerumuskannya.
Setelah pintu lift terbuka, Rukia mengikuti kemana arah Presdirnya itu. Setuju saja dengan acara makan siang yang mendadak ini. Presdirnya mungkin akan mengira ini adalah makan siang biasa. Tapi tidak untuk Rukia. Ini adalah awalnya. Awal dari segalanya.
.
.
*KIN*
.
.
Setelah makan siang yang cukup menyenangkan itu, karena ternyata Presdirnya begitu senang bicara dengan Rukia sambil membahas proyek lanjutan perusahaan itu, mereka tiba-tiba jadi cukup dekat. Bahkan Presdirnya menawarkan untuk makan siang selanjutnya. Rukia tahu bagi orang lain, dia hanya seorang GM. Dan mendapat perlakuan istimewa itu adalah hal yang tidak biasa. Tapi bagi Rukia, ini adalah kesempatan.
Karena begitu sampai di kantor ternyata sudah ada meeting yang ditunggu, Presdirnya meninggalkan Rukia di hall utama kantor dan mengikuti anak buahnya yang membimbingnya menuju tempat rapat sambil menjelaskan rapat itu secara singkat. Rukia masih terpaku disana. Melihat dari jauh kepergian Presdirnya itu. Lihat saja.
"Oh, Kuchiki 'kan?"
Rukia menoleh kala ada yang memanggil nama keluarganya. Sudah pasti memanggil dia 'kan? Masa memanggil orang lain. Itu tidak lucu. Tapi begitu menoleh dan mendapati orang itu berlarian mengejar ke tempatnya berdiri, Rukia jadi terbelalak kaget.
"Kau...?" Rukia sampai tidak bisa bicara banyak.
"Orang bilang perusahaan kedatangan GM wanita yang baru. Begitu mendengar namamu kupikir itu kau. Tapi... aku jadi ragu. Tapi setelah bertemu ternyata itu memang kau! Wah kau sudah jadi wanita cantik yang hebat ya... apa kabarmu selama ini? Kita jarang bertemu setelah lulus ya..."
Shiba Kaien. Kakak kelasnya sewaktu di SMA. Mereka hanya berbeda satu tahun. Dulu waktu SMA, Shiba Kaien selalu menggoda Rukia dan teman-teman Rukia. Tapi Rukia banyak belajar dari kakak kelasnya yang terbilang pintar ini. Meskipun amburadul dan tidak karuan, tapi dia adalah penerima beasiswa tetap dan juara umum di sekolah. Tidak ada yang bisa menandingi kehebatannya saat itu. Di satu sisi Rukia kagum dengan kakak kelasnya ini. Ternyata tidak berubah. Masih ramah dan baik. Rukia menunduk malu melihat kakak kelasnya yang bertambah tampan ini.
"Senpai... rasanya sudah lama juga ya. Apa yang Senpai lakukan disini?" tanya Rukia malu-malu.
"Kau tak tahu? Aku bosmu langsung. Aku direktur di perusahaan ini."
Rukia membelalakan matanya selebar mungkin. Masa kebetulan seperti ini? Tidak mungkin.
"Hah? Serius Senpai?"
"Hmm! Tentu saja. Wah, aku jadi semakin bersemangat masuk kerja nih. Tapi... apa kau sudah menikah?"
"Senpai..." wajah Rukia bertambah merah karena Kaien langsung bertanya telak seperti itu padanya.
"Loh... kenapa? Aku'kan Cuma bertanya. Jadi... apa kau sudah menikah? Mengingat dulu saja banyak yang tergila-gila padamu. Tapi kau begitu dingin dan mengabaikan mereka semua."
"Belum. Aku... belum menikah..." jawab Rukia malu-malu.
"Hah? Kau serius? Kalau begitu aku punya kesempatan bukan? Aku juga belum menikah Kuchiki!" jawab Kaien semangat.
Rukia mendongak menatap kakak kelasnya itu. Masih tersenyum lebar seperti biasa dan mengacak rambut Rukia seperti dulu. Ini benar-benar kakak kelasnya dulu.
"Kaien Nii-san?"
Mereka berdua sama-sama menoleh karena suara itu. Rukia terbelalak sekali lagi dengan kenyataan baru. Barusan... pemuda berseragam ini memanggilnya... Nii-san?
"Oh Ichigo! Kau sudah datang?"
"Ya... karena kau menyuruhku datang kemari... tapi... Nii-san kenal wanita ini?" tunjuk Ichigo pada wanita yang berdiri di sebelah Kaien itu dengan wajah bingung. Sama halnya dengan Rukia. Wajahnya tak kalau bingung melihat 2 pria ini berpandangan padanya.
"Oh, dia? Dia adik kelasnya waktu SMA. Kenalkan. Dia Kuchiki Rukia. Cantik'kan?" ujar Kaien sambil merangkul bahu wanita itu.
Ichigo melihat sekilas wajah kakaknya yang sumringah sekali melihat wanita ini dan mengenalkan padanya. Ichigo tak pernah tahu bahwa kakaknya ini ternyata...
"Oh ya... cantik. Dia cantik." Jawab Ichigo.
Rukia bingung dengan sikap pemuda itu. Dia mengatakan Rukia cantik? Dan mereka berlagak seakan baru kenal hari ini?
"Kuchiki... dia adikku yang cerewet. Namanya Ichigo. Oh, aku hanya ingat namamu memang seperti itu'kan?"
"Nii-san. Aku sudah tahu dia. Ternyata... kau bekerja disini ya?" tanya Ichigo pada Rukia yang sejak tadi masih diam saja.
"Heh? Kau sudah mengenalnya? Kalian kenal dimana? Wah... ini kejutan luar biasa." Ujar Kaien.
"Maaf Senpai. Aku masih ada urusan. Lain kali kita bertemu lagi."
"Baiklah. Sampai nanti Kuchiki."
Rukia meninggalkan dua pria itu. Di satu sisi dia senang bertemu kembali dengan kakak kelasnya. Tapi... entah kenapa... Rukia merasa pertemuannya kali ini dengan mereka berdua terasa... tidak baik?
.
.
*KIN*
.
.
TBC
.
.
Naa Minna! saya lagi semangat update fic saya. semoha responnya bagus. ohohohoho. ternyata update malem tuh leleeeeeeeeeeeeeeeet banget. saya sampe kesal sendiri deh. huh.
mulai chap depan saya akan membahas gimana Ichigo PDKT ama Rukia. sekarang sih dia belum suka. tapi masih penasaran aja. yaa namanya juga cowok remaja... hehehehe oh ya bayangkan rambut pendek Rukia yang sekarang yaa... saya ngerasa model rambut Rukia sekarang jauh lebih anggun dari rambutnya dulu. walo saya suka keduanya. hehehe
judul fic ini dari judul lagu ost Koreanya Queen of Reversal loh... hehehe saya suka banget tuh film. keren dah... makanya mungkin sedikit inspirasi datang dari sana juga. oh ya, mulai senen nanti ada Sungkyunkwan Scandal... *!* SongJoongKi oppa! saranghae...
loh... kok jadi promosi gini ya? *abaikan*
ok deh balas review dululah...
snow : makasih udah review. kan Rukia dendam ada Isshin tuh. secara garis besar sih cerita fic ini mudah ketebak. tapi saya emang dari dulu pengen publish nih fic, karena mengingatkan saya sendiri... soalnya... akhir-akhir ini saya lagi seneng liat adek tingkat saya... hehehe
JOe : makasih udah review... iya nih dilanjut bang... hehehe
rieka kuchiki : makasih udah review. syukur deh ditanggap positif. hehehehe makasih banyak yaa..
ichigo4rukia : makasih udah review. hehehe maaf kalo penjelasan saya kurang dimengerti. tapi kan ini fic yang mudah ketebak senpai... hehehe kakak Rukia 'kan mati gara-gara ngelahirin Senna loh... hehehehe Rukia tuh udah pengalaman senpai. makanya langsung diangkat GM.. hohoho
corvusraven : makasih udah review senpai... hehehe Rukia dendam ama Isshin tuh... hehehehe
xiah julli g log in : makasiih senpai... hohoho tebakan yang bener tuh.. hehee... nggak kok. Rukia waktu Senna lahir baru 13 tahun. jadi umurnya baru 30 dong sekarang... hehehe gak tega kalo dibikin tua banget. jadi gak enak lagi dong ngeliatnya... hehehe
Voidy : makasih senpai. hehehehe iya syukur deh emang mudah ketebak. saya lagi males emang bikin fic yang rumit *bilangajagakahli* hehehe Byakuya saya ambil karakternya kayak yang di anime asli tuh. kan yang di anime asli aja dia mau nyariin adiknya Hisana walo Hisana udah meninggal. *hiks* makanya saya juga bikin begitu disini. hehehe semoga aja ya senpai... saya cari inspirasi dulu *ngilangkegua*
Purple and Blue : makasih udah review... iya nih... heheh jauh banget ya? gak papa kan? yang di anime malah lebih jauh lagi tuh... hehehe
nenk rukiakate : makasih udah review... hehe iya pasti pada di update kok. yang Prickly Rose kan udah tamat cin... nih mau bikin yang baru lagi. hohoh
Bad Girl : makasih udah review senpai... walo gak niat... heheehehe saya usahain supaya gak pasaran, tapi kayaknya sulit. jadi saya usahain mudah ketebak aja yaa... hehehe lemon? well itu pasti ada. kan udah rate m? hehehe *mesum*
Wakamiya Hikaru : makasih udah review... iya nih udah lanjut tuh... jangan lupa review ya kalo baca... hehe
Miki : makasih udah review... hehe nii udah update...
nah udah semua kan?
jadi... saya mohon banget reviewnya. jadi saya tahu ternyata fic ini bukan fic sia-sia karena reviewnya gak ada... *hiks*
karena sebuah review aja dari senpai adalah suntikan cinta kasih sayang buat saya melanjutkan fic ini *lebai*
heheheeh
Jaa Nee!
